October 29, 2025

Kalong Watansoppeng: Identitas Kota, Identitas Warga

 

Watansoppeng, sebuah daerah di Sulawesi Selatan, dikenal luas sebagai Kota Kalong. Julukan itu bukan sekadar sebutan, tetapi mencerminkan kehidupan nyata masyarakat yang berdampingan dengan ribuan kalong yang menggantung di pepohonan di sekitar pusat kota. Bagi warga Soppeng, kalong bukan sekadar hewan nokturnal, melainkan bagian dari identitas dan simbol keseimbangan antara manusia dan alam. Keberadaannya diyakini membawa perlindungan, keberkahan, dan kesejukan bagi kota yang berhawa tenang itu.

Di kompleks bekas Istana Kerajaan Soppeng berdiri bola ridie—rumah berwarna kuning yang kini menjadi tempat penyimpanan benda-benda pusaka kerajaan. Di rumah bersejarah inilah seorang bissu, penjaga tradisi dan spiritual kerajaan, menceritakan kembali kisah-kisah lama yang masih hidup di ingatan masyarakat. Dalam sebuah wawancara, sang bissu menuturkan bagaimana tradisi memanggil kalong dilakukan ketika hewan itu tiba-tiba menghilang dari langit Soppeng beberapa hari lamanya.

Menurutnya, pernah terjadi peristiwa ketika ribuan kalong pergi meninggalkan kota karena marah. Saat itu, pemerintah berencana menebang pohon asam tua di sekitar Gedung Pertemuan (Lapangan Gasis), tempat favorit kalong bergelantungan. Kejadian itu membuat warga gelisah. Kota seolah kehilangan ruhnya, karena tanpa kalong, Watansoppeng tidak lagi seperti Watansoppeng.

Kabar menghilangnya kalong sampai ke telinga bupati yang menjabat saat itu. Menurut penuturan sang bissu, sang bupati memutuskan pergi “menjemput” atau memanggil pulang kalong di perbatasan antara Bone dan Soppeng. Sementara di istana, para bissu memanjatkan doa agar usaha memanggil kalong itu berhasil. Dalam keyakinan masyarakat, doa bissu memiliki kekuatan spiritual yang mampu menenangkan amarah makhluk-makhluk alam. Benar saja, tak lama kemudian, langit Soppeng kembali dipenuhi kalong yang pulang bergelantungan di pohon-pohon tua di pusat kota.

Kisah itu menjadi legenda yang diceritakan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Hingga kini, kalong tetap setia menghuni langit Soppeng, terutama di sekitar taman kota yang dikenal dengan nama Taman Kalong. Saat senja tiba, ribuan kalong terbang serentak dari pepohonan, membentuk gugus hitam di langit jingga—pemandangan yang sudah menjadi bagian dari ritme harian kota.

Namun bukan hanya kehadiran ribuan kalong yang menarik. Di bola ridie tersimpan sebuah foto tua yang menjadi misteri bagi banyak orang. Foto itu, seperti yang ditunjukkan oleh sang bissu, bukan lukisan, melainkan potret asli seekor kalong putih. Warga meyakini kalong putih itu adalah raja kalong, makhluk langit yang hanya menampakkan diri pada peristiwa-peristiwa penting di Soppeng.

Sang bissu berkisah, kalong putih itu terakhir kali terlihat ketika penyanyi Selfi, putri daerah Soppeng, pulang ke kampung halaman setelah menjuarai ajang Liga Dangdut Indonesia. Saat ribuan warga memadati lapangan untuk menyambutnya, seekor kalong putih terlihat melintas di langit sore. “Bersamaan adanya Selfi di lapangan, muncul juga raja kalong putih. Ada fotonya,” ujar sang bissu. Sebagian warga menganggap kemunculan itu sebagai pertanda gembira—seolah para kalong turut merayakan kebahagiaan warga Soppeng.

Misteri kalong putih masih menjadi cerita yang mengundang rasa ingin tahu. Apakah benar ia raja kalong yang menandai momen penting bagi kota ini? Atau hanya fenomena alam yang kebetulan muncul pada waktu yang tepat? Tidak ada jawaban pasti. Seperti halnya banyak tradisi lisan, kisah ini berada di persimpangan antara mitos, keyakinan, dan kenyataan. Namun justru di situlah keindahan Soppeng: masyarakatnya hidup dalam keseimbangan antara rasionalitas dan spiritualitas, antara alam dan manusia.

Watansoppeng bukan hanya kota kecil yang tenang, tetapi juga ruang hidup yang menampung warisan budaya Bugis yang kaya. Selain daya magis kalong, kota ini memiliki peninggalan sejarah berupa istana kerajaan, pemandian air panas Lejja, perbukitan hijau yang indah, dan kuliner tradisional yang menggoda selera. Semua itu menjadikan Soppeng bukan sekadar destinasi wisata, tetapi tempat untuk memahami bagaimana manusia Bugis menjaga harmoni dengan alam dan leluhurnya.

Kisah-kisah tentang kalong, bissu, dan keseharian masyarakat Soppeng terangkum dalam buku Kalong Watansoppeng: Identitas Kota, Identitas Warga yang dapat diakses melalui Bintang Pusnas. Buku ini menelusuri bagaimana hubungan manusia dengan alam membentuk identitas kolektif warga Soppeng, serta bagaimana simbol kalong menjadi cermin dari nilai-nilai kearifan lokal. Melalui pendekatan budaya, penulis menghadirkan perpaduan antara catatan sejarah, wawancara dengan tokoh adat, dan refleksi sosial yang menggugah kesadaran tentang pentingnya menjaga keseimbangan antara kemajuan dan tradisi.


KALONG WATANSOPPENG
Identitas Kota, Identitas Warga

Penulis: Fitrawan Umar
Editor: Abdullah, Kaesthi Wiraningtyas
Penerbit: Perpusnas Press
Tempat Terbit: Jakarta
Tahun Terbit: 2023
ISBN PDF: 978-623-117-052-1

October 28, 2025

Fort Rotterdam, Benteng di Simpang Masa


Judul:                           Fort Rotterdam, Benteng di Simpang Masa

Penulis:                         Tim Balai Pelestarian Cagar Budaya Provinsi Sulawesi Selatan

Editor:                           Iwan Sumantri

Penerbit:                      Balai Pelestarian Cagar Budaya Provinsi Sulawesi Selatan

Tahun Terbit:              2021

Jumlah Halaman:     xvii + 312

ISBN:                            9786239909208

Penulis Resensi:        Suharman, S.S., MIM.

Benteng Fort Rotterdam atau biasa juga disebut Benteng Ujungpandang adalah salah satu cagar budaya di kota Makassar yang berperingkat Nasional. Fort Rotterdam adalah benteng di simpang masa, antara masa lalu dan masa kini, simpang antara arsitektur Nusantara dan Eropa, simpang politik kolonial dan Indonesia, dan simpang fungsi pertahanan, politik, ekonomi dan budaya.

Buku ini merupakan kumpulan tulisan atau bunga rampai yang membahas tentang benteng Fort Rotterdam dari berbagai aspeknya, mulai dari sejarah, fungsi, cagar budaya, arsitektur, tata ruang sampai pengelolaannya.

Ada sebelas judul tulisan dalam buku ini diawali dengan tulisan Iwan Sumantri yang berjudul ‘Fort Rotterdam Undercover’ yang berkisah tentang bagaimana masa kecil penulis yang sering berkunjung dan bermain main di Fort Rotterdam, dan juga kutipan sejarah Fort Rotterdam. Misalnya, Arung Palakka pernah dilantik sebagai Raja di Fort Rotterdam, namun tidak memilihnya sebagai istananya. Speelman juga pernah berkantor di benteng ini. Ada juga kisah horor yang diungkap dalam tulisannya.

Prof. Muhlis Hadrawi menulis tentang serba serbi Benteng Ujungpandang dalam Narasi Lontara. Pembahasannya antara lain, istilah ‘benteng’ dalam bahasa Makassar dan Bugis, benteng dalam sumber sumber lokal dan gagasan pendirian benteng benteng di Makassar dan lain lain. Yang menarik, banyak foto lama benteng Fort Rotterdam dalam tulisan ini.

Tulisan lainnya adalah ‘Kawasan Benteng Rotterdam sebagai “Urban Heritage’’‘ oleh La Ode Muhammad Aksa, ‘Peranan dan Penamaan benteng Ujungpandang dari masa ke masa’ oleh Muhammad Ramli, ‘Bermula dari Benteng Ujungpandang: Telisik Nilai Penting dibalik Fort Rotterdam’ oleh Yadi Mulyadi, ‘Fort Rotterdam: Pelabuhan Terakhir Sang Pangeran Diponegoro’ oleh Nusriat, ‘Sistem Penataan Ruang Situs Cagar Budaya benteng Rotterdam Kota Makassar Provinsi Sulawesi Selatan’ oleh Iswadi, ‘Arsitektur Fort Rotterdam’ oleh Adang Sujana dan Nafsiah Aswawi, ‘Vandalisme di benteng Rotterdam: Eksistensi Keliru Generasi Muda’ oleh Yusriana, ‘Pengelolaan Benteng Ujungpandang dimasa Mendatang’ oleh Andini Perdana, dan terakhir tulisan berjudul ‘Benteng Rotterdam sebagai Public Space’ oleh Anggi Purnamasari.

Buku ini membahas benteng Fort Rotterdam dari berbagai aspek dan persfektif, sehingga pembaca dapat memahami seluk beluk benteng secara menyeluruh. Buku ini juga dilengkapi dengan dokumentasi foto, baik foto lama maupun yang baru, ada foto hitam-putih dan adapula yang berwarna.

Karena buku ini diterbitkan oleh lembaga pemerintah yaitu Balai Pelestarian Cagar Budaya Provinsi Sulawesi Selatan, maka kemungkinan besar pembaca diluar Sulawesi Selatan akan kesulitan dalam mengakses buku ini. Buku ini juga tercetak dengan jumlah terbatas, sehingga hanya di Perpustakaan tertentu yang memiliki koleksi buku ini.

Pada Festival Literasi yang dilaksanakan oleh Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan, 21-22 Oktober 2025, pada Stand Pameran Balai Pelestarian Cagar Budaya, buku juga di pajang, namun informasi yang didapatkan bahwa buku ini belum diterbitkan ulang atau dicetak ulang.  

Buku ini koleksi Deposit, Bidang Perpustakaan, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Sulawesi Selatan.





Mr. Crack dari Parepare

 


Judul:                           Mr. Crack Dari Parepare, Dari Ilmuwan ke Negarawan sampai Minandito

Penulis:                        A. Makmur Makka

Editor:                          Muh. Iqbal Santosa

Penerbit:                     Republika Penerbit, Jakarta

Tahun Terbit:             2018

Jumlah Halaman:    xxii + 493

ISBN:                            9786020822914

Penulis Resensi:        Suharman, S.S., MIM.

Buku ini adalah biografi Bacharuddin Jusuf Habibie atau yang akrab disebut BJ Habibie. Beliau adalah mantan Presiden ke-3 Republik Indonesia. Seorang ilmuwan, dan negarawan yang lahir di Parepare, Sulawesi Selatan pada 25 Juni 1936. Kedua orangtuanya bernama Alwi Abdul Djalil Habibie dan R.A. Tuti Marini Puspowardojo. Oleh penulisnya (A. Makmur Makka) buku ini diberi judul “Mr. Crack” karena beliaulah orang pertama di dunia yang memperlihatkan kepada dunia ilmu pengetahuan bagaimana menghitung crack propagation on random sampai ke atom-atomnya.

Diakui sendiri oleh BJ Habibie bahwa buku ini adalah yang biografi terlengkap tentang BJ Habibie, dimana penulisannya semua berdasarkan fakta dan sumber sumber rujukan yang jelas dan terpercaya, bukan hasil rekayasa.

Terbagi menjadi 5 bagian utama, buku ini diawali dengan Prolog, Hanya Memberi Getaran antara Parepare dan Aachen (Jerman), Kembali untuk Kembangkan Teknologi, Ujian Kenegaraan, Kodrat Sang Kapiten Laut, dan Eyang yang Tak Pernah Berhenti Mengabdi. Setiap bagian ini terbagi lagi menjadi beberapa sub bagian.

Bagian pertama lebih fokus pada kehidupan pribadi BJ Habibie. Mulai dari orangtuanya yang berasal dari daerah yang berbeda. Ayahnya dari Gorontalo dan ibunya berasal dari Yogyakarta. Nama ayahnya Alwi Abdul Djalil Habibie diabadikan namanya sebagai nama Jalan di kota Parepare, kesukaannya belajar ilmu fisika, sampai pada pengalaman pribadinya selama studi di Jerman.

Bagian lainnya membahas tentang pengembangan teknologi termasuk diantaranya industri pesawat terbang yang merupakan industri strategis pasca reformasi. Dibahas pula sekilas tentang lahirnya organisasi Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI), termasuk juga pelarangan terbit majalah Tempo, dan keterlibatan BJ Habibie dalam politik di Indonesia.

Karir politiknya sebagai Wakil Presiden ke-7 dan kemudian menjadi Presiden ke-3 Republik Indonesia diuraikan pada bagian lain. Krisis ekonomi dan masalah Timor Timur diawal peerintahannya sebagai Presiden, juga disebutkan dalam bagian ini. Masa masa akhir pengabdiannya termasuk hubungannya dengan Suharto, dan kematian istri tercinta (Ainun Habibie) dibahas pada bagian akhir buku ini.

Buku ini sangat informatif dan perlu dibaca bagi siapa saja karena membahas seorang tokoh  besar yang dikenal sebagai ilmuwan  dan sekaligus negarawan. Buku ini dapat menjadi sumber motivasi khususnya bagi pembaca yang tertarik pada bidang teknologi dan kepemimpinan, serta kebangsaan.

Buku ini sangat memiliki kelebihan yaitu biografi BJ Habibie yang paling lengkap, sumber rujukan jelas dan tidak ada rekayasa sehingga sangat kredibel dan terpercaya. Cakupan penulisan juga sangat lengkap, karena mulai dari masa kelahiran dan masa kecil BJ Habibie sampai beliau ke Jerman untuk belajar dan kembali ke Indonesia menjadi ilmuwan dan negarawan pemimpin bangsa.

Sebagaimana buku biografi pada umumnya, ada kecenderungan subyektivitas, yaitu kecenderungan memuji tokoh secara berlebihan oleh penulisnya. Hal ini kemungkinan akan mengakibatkan pembaca kurang puas karena tidak ada sudut pandang yang mengkritik. Buku ini juga cukup tebal karena lebih dari 500 halaman, sehingga pembaca generasi muda mungkin merasa berat membacanya. Dari segi teknis, buku ini tanpa ‘indeks’ meskipun jumlah halamannya lebih dari 500. Hal ini akan menyulitkan pembaca yang ingin mencari topik tertentu

Buku ini koleksi Deposit, Bidang Perpustakaan, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Sulawesi Selatan.





Migrasi & Orang Bugis


 

Judul:                          Migrasi & Orang Bugis

Penulis:                       Andi Ima Kesuma

Editor:                          Nursam

Penerbit:                     Ombak

Tahun Terbit:             2004

Jumlah Halaman:   xviii + 170

ISBN:                           9793472227

Penulis Resensi:      Suharman, S.S., MIM.

Pembahasan utama buku ini adalah bagaimana migrasi yang dilakukan oleh orang orang dari Sulawesi Selatan pada umumnya, dan khususnya orang Bugis. Selain suku Bugis, suku Makassar, Mandar dan Toraja juga melakukan migrasi sejak zaman dahulu kala. Bagi orang Bugis jiwa pelaut dan penjelajah mereka telah mengakar kuat, dan mengantarkan mereka menjelajah samudra, baik di dalam kawasan Nusantara maupun di luar Nusantara.

Diungkapkan dalam buku ini bahwa ada beberapa penyebab perpindahan (migrasi) orang orang Bugis ke daerah lain, selain jiwa penjelajahan mereka, juga karena faktor ekonomi (perdagangan), faktor geopolitik dan juga bencana alam. Diuraikan dalam buku ini pula, bahwa orang Bugis, jika merasa hidupnya tidak tentram karena adanya perang, maka beramai ramai mereka akan meninggalkan kampung halaman dan mencari penghidupan di negeri lain yang lebih aman, damai dan sejahtera.

Ada juga penjelasan tentang salah seorang tokoh Bugis yang bermigrasi ke Johor, Malaysia yaitu Opu Daeng Rilakka yang merupakan keturunan Datu Luwu, We Tenrileleang. Disebutkan bahwa tahun 1861 orang orang Bugis telah membuka Negeri Kuala Selangor dan Kuala Kelang. Opu Daeng Rilakka adalah yang menjadi perintis pembukaan negeri yang kemudian dilanjutkan oleh kelima putranya.

Buku ini terdiri dari 5 bab, diawali dengan pendahuluan yang membahas : pengantar, permasalahan dan pendekatan, serta pokok bahasan.  Selanjutnya diuraikan pula makna sejarah, perihal perang, masalah migrasi dan sekilas informasi tentang Wajo. Keadaan Nusantara pada abad ke-16 sampai abad ke-18 juga dibahas diantaranya tentang bagaimana persaingan antar imperium, perang VOC – Makassar, Revans pada Wajo dan pelayaran Nusantara. Pembahasan terakhir adalah bagaimana migrasi orang orang Bugis ke Johor, Malaysia. Pada bagian ini diulas tentang gelombang migrasi, Johor pada abad ke-15 sampai abad ke-18, bagaimana pembauran oleh orang Bugis di tempat kehidupan baru dan tentan meretas wawasan Nusantara.

Dalam buku ini juga dijelaskan tentang istilah istilah bahasa Bugis yang terkait dengan migrasi, misalnya istilah ‘mallakke dapureng’ (memindahkan dapur) yang dimaksudkan sebagai perpindahan habitasi yang disebabkan sesuatu prinsip dasar yang menjadi acuan dalam mempertahankan nilai nilai yang telah menjadi suatu pandangan hidup orang Bugis yaitu ‘siri’’ (harga diri, malu, harkat). Istilah lainnya misalnya ‘sompe’ (berlayar) yang dimaksudkan sebagai merantau karena ingin memperbaiki nasib di negeri lain dan akan kembali ke kampung pada suatu saat nanti.

Buku ini cukup lengkap membahas tentang migrasi orang Bugis khususnya Bugis dari daerah Wajo, salah satu kabupaten di provinsi Sulawesi Selatan sekarang ini. Selain memberikan contoh keberadaan Opu Daeng Rilakka yaitu orang Bugis yang bermigrasi ke Johor Malaysia beberapa abad lalu, juga menjelaskan bahwa migrasi orang Bugis bukan semata mata karena faktor ekonomi. Buku ini juga banyak mengulas tentang istilah istilah bahasa Bugis yang terkait migrasi. Keunggulan lain buku ini adalah adanya indeks, yang dapat memudahkan pembaca untuk mencari dan menemukan topik topik tertentu yang dibutuhkannya.

Pembahasan dalam buku ini hanya pada satu daerah tempat migrasi orang Bugis yaitu di Johor, Malaysia, padahal migrasi orang Bugis hampir ke seluruh daerah di Indonesia bahkan di kawasan Nusantara. Buku ini juga dicetak secara terbatas sehingga kemungkinan masyarakat umum akan kesulitan untuk membeli dan memilikinya. Tidak semua perpustakaan memiliki buku ini dalam koleksinya.

 Buku koleksi Referensi, UPT Perpustakaan, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan.





Revolusi Ketatanegaraan Indonesia, Menuju Persaudaraan Manusia


 

Judul:                           Revolusi Ketatanegaraan Indonesia, Menuju Persaudaraan Manusia

Penulis:                        Abdul Qahhar Mudzakkar

Editor:                          Armin Mustamin Toputiri

Penerbit:                     toACCAe

Tahun Terbit:             2005

Jumlah Halaman:   172

ISBN:                            9799897211

Penulis Resensi:        Suharman, S.S., MIM.

Buku yang membahas tokoh Abdul Qahhar Mudzakkar cukup banyak tersedia di berbagai perpustakaan baik perpustakaan kabupaten/kota, provinsi maupun nasional. Namun kali ini, buku yang akan dibahas adalah yang ditulis oleh Abdul Qahhar Mudzakkar, atau yang akrab disebut Kahar Muzakkar.  Menurut Ir. Andi Mudzakkar, seorang putra Kahar Muzakkar pada pengantar buku ini, bahwa Kahar Muzakkar banyak menulis buku selama masa masa bergerilya beliau di Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara dan Sulawesi Barat. Salah satu buku yang ditulisnya adalah buku ini yang diberi judul “Revolusi Ketatanegaraan Indonesia, Menuju Persaudaraan Manusia”.

Oleh penulisnya, buku ini dipersembahkan dan diwasiatkan kepada anak keturunan beliau dan kepada para pejuang kemerdekaan Indonesia. Buku ini diawali dengan kata pengantar dari penerbit, sambutan dari keluarga penulis, pengantar dari editor, dan isi pokok bahasan buku yang terdiri dari 8 bab. Abdul Qahhar Mudzakkar juga memberikan pengantar pada buku ini yang masih menggunakan ejaan lama.

Pada bagian awal diuraikan tentang bagaimana pemberontakan PRRI-PERMESTA yang bagaikan api yang mudah menyala, namun dengan mudah pula dipadamkan. Pemberontakan itu terjadi di Sumatra, Sulawesi Utara dan Maluku Utara dari tahun 1956 – 1958. Penulis menyamakan peristiwa sebagai api yang tidak berasap, karena dengan mudah menyala (melakukan pemberontakan) tetapi dengan mudahnya mati tak berasap. Mati disini diartikan dengan ‘menyerah kepada TNI atau kembali kepangkuan Republik Indonesia’.

Penulis juga mencantumkan surat surat pribadinya yang dikirim kepada para pimpinan ‘pemberontak’ dan juga kepada Sukarno dan ke Muhammad Jusuf. Surat pribadinya kepada Sukarno cukup panjang di ‘tembuskan’ kepada Jenderal A.H. Nasution.

Perjuangan pembebasan Irian Barat (Papua) juga diungkapkan dalam buku ini. Abdul Qahhar Mudzakkar mengungkapkan kesulitan kesulitan yang dihadapi  dalam persoalan Irian Barat, juga dicantumkan pula isi Piagam Penyerahan Kedaulatan. Pada salah satu bagian, penulis juga menjelaskan tentang terjadinya Revolusi Prancis 1789, sebelum menguraikan tentang hakikat revolusi kemerdekaan Indonesia. Ada perbandingan watak Napoleon Bonaparte dengan Sukarno yang sama sama rakus dan tamak kekuasaan. Ada pula seruan kepada seluruh umat Islam bangsa Indonesia. Seruan itu berupa penjelasan ajaran Tatanegara Islam yang ada dalam Al-Quran.

Ada istilah “Ichwatunisme” atau “Ihwatunisme” yang dijelaskan dalam buku ini oleh penulis. Dijelaskan bahwa ‘ichwatunisme’ adalah bahwa orang orang yang beriman kepada Tuhan adalah ‘bersaudara’. Dari istilah inilah dikembangkan oleh penulis bahwa cita cita persaudaraan manusia tidak saja menjadi ‘roh’ kebangsaan Islam, tetapi juga menjadi tujuan hidup Islam, dan tujuan hidup manusia.

Buku ini merupakan isi hati dan pernyataan jujur dari penulisnya (Abdul Qahhar Mudzakkar) yang tujuan utamanya adalah mengungkapkan kebenaran dalam rangka usaha perjuangannya dan usahanya menggalang Persatuan Bangsa Indonesia dalam bentuk pesaudaraan masyarakat sejati.

Kekurangan buku ini adalah pokok bahasan utamanya masih menggunakan ejaan lama, dimana kemungkinan besar anak anak generasi muda khususnya Gen-Z akan sulit membaca dan memahaminya. Hanya pada kata pengantar saja yang menggunakan Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) yang sekarang ini lazim digunakan dalam penulisan resmi.

Buku ini juga dicetak secara terbatas, sehingga kemungkinan akan sulit bagi masyarakat yang ingin memilikinya. Kemungkinan bisa diakses di layanan perpustakaan, tapi tidak semua perpustakaan memiliki buku ini dalam koleksi mereka.

Buku koleksi Deposit, Bidang Perpustakaan, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan.




October 27, 2025

Catatan To Marilaleng Bone (1808-1813)


Sebuah naskah kuno berjudul Lontara’ Bilang dengan kode koleksi ADD 12350 mengungkap jejak literasi dan kehidupan sosial politik Kerajaan Bone pada awal abad ke-19. Naskah ini merupakan catatan harian (diary) yang ditulis pada masa pemerintahan La Tenritappu (Raja Bone ke-23) dan La Mappatunru’ (Raja Bone ke-24), antara tahun 1808 hingga 1813.

Catatan tersebut disusun oleh To Marilalengngé, seorang bangsawan sekaligus pejabat kerajaan Bone yang dikenal tekun menulis berbagai peristiwa penting di lingkaran istana. Setelah ia berhenti menulis pada Agustus 1810, catatan itu dilanjutkan oleh La Mappatunru’, putra La Tenritappu yang kelak naik takhta sebagai Raja Bone ke-24. Tradisi menulis ini menjadi bukti bahwa kegiatan literasi telah menjadi bagian dari budaya kepemimpinan Bugis sejak masa lampau.

Bahasa yang digunakan dalam naskah ini adalah bahasa Bugis dengan dua sistem penulisan, yakni aksara Lontara’ dan aksara Arab-Sérang. Aksara Arab digunakan terutama untuk menuliskan nama-nama orang, hari, dan bulan. Hal ini memperlihatkan bagaimana unsur keislaman dan kebudayaan lokal berpadu dalam tradisi tulis masyarakat Bugis pada masa itu.

Naskah Lontara’ Bilang terdiri atas 43 halaman yang memuat catatan peristiwa antara Januari 1808 hingga Juli 1813. Selama lima tahun penulisan, catatan paling lengkap ditemukan pada tiga tahun pertama, yaitu 1808, 1809, dan 1810. Sementara itu, pada tahun 1811 hingga 1813, catatan yang tersisa hanya mencakup beberapa bulan saja. Meskipun demikian, setiap lembar naskah tetap memiliki nilai penting karena memuat hitungan waktu berdasarkan sistem tradisional Bugis, seperti tahun ‘amaria, siklus sembilan hari, dan perhitungan pasaran mingguan.

Isi naskah ini menggambarkan kehidupan masyarakat dan istana yang sangat teratur, religius, dan penuh kegiatan sosial. Penulis mencatat beragam peristiwa, mulai dari perjalanan dan kunjungan pejabat kerajaan, perkawinan bangsawan, kelahiran dan kematian, hingga transaksi jual beli. Catatan lain berhubungan dengan kegiatan keagamaan seperti shalat Jumat, puasa Ramadan, sedekah, serta perayaan hari besar Islam seperti Idulfitri, Maulid Nabi, dan Asyura.

Selain mencatat peristiwa umum, naskah ini juga berisi hal-hal pribadi yang menunjukkan sisi manusiawi sang penulis. Di antaranya tentang usia, masa jabatan di kerajaan, hingga catatan sederhana mengenai tanggal gigi ke-19 dan ke-20 yang tanggal. Rincian seperti ini memperlihatkan betapa dekatnya penulis dengan kehidupan sehari-hari, sekaligus menegaskan bahwa Lontara’ Bilang tidak hanya merekam sejarah politik, tetapi juga jejak kehidupan personal seorang bangsawan Bugis.

Dalam naskah ini tercatat pula beberapa peristiwa besar di lingkungan kerajaan Bone. Di antaranya pelantikan To Marajaé La Bera Pabera pada 16 Mei 1808, sakitnya Raja La Tenritappu pada 9 Juli 1812, serta wafatnya sang raja pada 22 Agustus 1812. Pada hari yang sama, La Mappatunru’ diangkat menjadi pengganti ayahandanya sebagai Raja Bone ke-24. Catatan tentang transisi kekuasaan ini menjadi salah satu sumber primer yang sangat berharga bagi sejarah Sulawesi Selatan.

Dari sudut pandang sejarah dan filologi, Lontara’ Bilang ADD 12350 memiliki nilai luar biasa. Naskah ini tidak hanya menyimpan data peristiwa, tetapi juga memperlihatkan pola pikir masyarakat Bugis terhadap waktu, keagamaan, dan kekuasaan. Catatan yang teratur dari tahun ke tahun menunjukkan adanya sistem administrasi dan dokumentasi yang maju, bahkan sebelum masa modern.

Buku Alih Aksara Lontara' Bilang ADD 12350: Catatan To Marilaleng Bone (1808-1813) dapat diakses pada Bintang Pusnas merupakan bukti nyata bahwa literasi dan kesadaran historis telah hidup di kalangan elit Bugis sejak berabad-abad lalu. Seorang raja atau bangsawan tidak hanya memerintah, tetapi juga merekam perjalanan rakyat dan kerajaan melalui tulisan tangan. Dalam konteks budaya lokal, hal ini menegaskan bahwa tradisi menulis bukan sekadar kegiatan ilmiah, melainkan bagian dari tanggung jawab moral seorang pemimpin.


Alih Aksara
Lontara' Bilang ADD 12350
Catatan To Marilaleng Bone (1808-1813)

Pengalih Aksara Basiah
Penerbit: Perpusnas PRESS Anggota IKAPI
Tempat Terbit: Jakarta
Tahun Terbit: 2023
ISBN: 978-623-313-699-0 (PDF)

October 7, 2025

Senjata Pusaka Bugis, Pamor dan Landasan Spiritual

 


Judul:                               Senjata Pusaka Bugis, Pamor dan Landasan Spiritual

Penulis:                            Ahmad Ubbe, Andi M. Irvan Zulfikar & Dray V. Senewe

Editor:                              Jimmy S. Harianto

Penerbit:                         PT. Gramedia Pustaka Utama

Tahun Terbit:                 2011

Jumlah Halaman:        366

ISBN:                                978-979-22-7729-6

Penulis Resensi:            Suharman, S.S., MIM.

Bagi orang Bugis, badik memiliki makna yang sangat dalam. Masyarakat Bugis menganggap badik bukan sekedar senjata, namun juga menjadi simbol kehormatan, identitas dan harga diri (siri’). Orang Bugis zaman dulu membawa badik kemana pun mereka pergi, terutama jika melakukan perjalanan jauh. Selain untuk melindungi diri dari ancaman dan bahaya, juga biasanya dijadikan alat ‘penegak’ kehormatan jika merasa harga dirinya dilecehkan. 

Buku ini secara lengkap membahas tentang senjata pusaka tradisional Bugis, yang biasa disebut polo bessi. Segala hal yang berkaitan dengan senjata pusaka Bugis dibahas dalam buku ini, misalnya hubungannya dengan kebudayaan, strata sosial di masyarakat, masa kini, dan kekuatan dan landasan spritualnya.

Selain itu dijelaskan pula tentang pamor senjata pusaka tradisional Bugis, yaitu bentuk dasar, motif dan pola pola pamornya. Diuraikan juga dalam buku ini bahwa, gajang di terjemahkan sebagai ‘keris’,  kawali = badik, bessie = tombak, alameng = kelewang. Semua senjata tradisional ini juga lazim digunakan oleh ke empat suku bangsa di Sulawesi Selatan, yaitu Bugis, Makassar, Mandar dan Toraja. Setidaknya keempat suku ini memiliki kesamaan pada bilah senjata tradisionalnya.

Penelitian dan penyusunan buku ini juga menjadikan naskah Lontara sebagai bahan rujukan. Disebutkan dalam Lontara tentang tanda baik dan buruknya (sisi’) keris, badik, pedang dan parang.

Ternyata pada senjata tradisional Bugis terdapat corak atau motif yang disebut ‘pamor’. Disebutkan dalam Lontara nama dan arti Pamor pada keris, badik, pedang, dan parang. Misalnya kalau pamornya ‘La Ulengtepu’ (si bulan purnama) artinya ‘panjang umur’. Sedangkan yang pamornya ‘La Te’keana’ (si mandul) artinya ‘pemakainya tidak berketurunan’. Adapun pamor ‘Rakkapeng ri Ponna’ (anai anai di ujung bilah) artinya ‘berumur panjang’.

Buku ini dihiasi dengan ilustrasi foto foto yang sangat indah. Foto dokumentasi ini merupakan koleksi The Bugis Makassar Polo Bessi Club. Daftar Pustaka yang menjadi bahan rujukan penulisan buku ini juga sangat lengkap, mulai dari buku dengan penulis lokal Sulawesi Selatan seperti Mattulada, Fahruddin Ambo Enre, Abu Hamid, Halilintar Lathif, dan lain lain. Ada juga Penulis berskala nasional sampai penulis luar negeri juga ada seperti Leonard Andaya, Anthony Reid, Roger Toll, David van Duurens, Christian Pelras dan lain lain. Selain buku, ada naskah Lontara yang dijadikan bahan referensi. Koran juga dijadikan bahan rujukan, dan untuk memperkuat data wawancara dengan tokoh kebudayaan juga dilakukan.

Buku ini mengulas secara detail berbagai aspek senjata pusaka Bugis (Polo Bessi) mulai dari sejarah pembuatan, teknik pembuatan, pamor, jenis jenis senjata tradisional, termasuk juga aspek spiritual dan sosial budayanya. Foto foto dokumentasinya juga sangat jelas sehingga membantu pembaca memahami berbagai macam pamor pada senjata pusaka Bugis.

Meskipun buku ini ada kata Bugis pada judulnya, namun pada dasarnya senjata tradisional yang dibahas memiliki kesamaan pada empat suku yang ada di Sulawesi Selatan. Bahkan sebagian foto yang dijadikan ilustrasi buku adalah foto dari istana kerajaan Gowa (suku Makassar). Buku ini juga tebal, berat, hardcover (sampul tebal) dan ‘mewah’ sehingga mungkin masyarakat biasa mungkin akan kesulitan untuk memilikinya. Indeks tidak tersedia dalam buku ini sehingga pembaca mungkin kesulitan jika membutuhkan informasi topik tertentu.

Buku ini koleksi Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Sulawesi Selatan.



Appaddekko: Tradisi Budaya Lokal Berbasis Karakter Abbulo Sibatang

 

Salah satu tradisi pertanian tertua di Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan, yakni Appaddekko, berakar dari kegiatan menumbuk padi menggunakan alu dan lesung sebagai bentuk rasa syukur masyarakat petani atas hasil panen yang melimpah. Dari kebiasaan sederhana itu, lahir ritual tahunan yang sarat makna sosial, spiritual, dan kearifan lokal.

Tradisi ini diwariskan secara turun-temurun dan masih dijalankan hingga kini. Bagi masyarakat Takalar, kegiatan ini bukan hanya bagian dari proses pertanian, tetapi juga wujud rasa syukur sekaligus sarana mempererat kebersamaan. Dalam pelaksanaannya, perempuan dewasa menumbuk padi dengan irama teratur, diiringi tabuhan gendang dan tiupan seruling tradisional (pui-pui). Suara alu dan lesung yang berpadu menghasilkan irama khas yang menggambarkan kerja sama dan semangat gotong royong masyarakat agraris.

Ritual Appaddekko dipimpin oleh tokoh adat yang disebut pinati atau panrita, yang menentukan waktu dan tata cara pelaksanaan. Sebelum kegiatan dimulai, masyarakat menggelar doa bersama sebagai bentuk permohonan keselamatan dan ungkapan syukur atas panen yang diperoleh. Para perempuan penumbuk dan pengiring mengenakan pakaian adat seperti baju bodo dan sarung sutra, sementara laki-laki memainkan alat musik pengiring dan menjaga ritme tumbukan. Tradisi ini menjadi ajang kebersamaan warga, tempat nilai kekeluargaan dan kerja sama diwujudkan secara nyata.

Dalam perkembangan zaman, Appaddekko tidak lagi hanya menjadi ritual adat, tetapi juga berkembang menjadi kesenian rakyat. Gerakan menumbuk padi kini dipadukan dengan tarian dan musik tradisional yang kerap ditampilkan pada berbagai festival budaya. Pemerintah Kabupaten Takalar bahkan berhasil mencatatkan tradisi ini di Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) pada tahun 2018 sebagai kegiatan penumbukan padi tradisional terbanyak di Indonesia. Penghargaan ini menjadi bentuk pengakuan bahwa Appaddekko adalah salah satu kekayaan budaya nasional yang patut dijaga dan dilestarikan.

Tradisi Appaddekko juga mencerminkan nilai-nilai kehidupan masyarakat Bugis-Makassar yang dikenal dengan falsafah Abbulo Sibatang, yang berarti “bersatu seperti sebatang kayu yang kokoh.” Falsafah ini menekankan pentingnya kebersamaan, persatuan, dan solidaritas sosial. Nilai-nilai tersebut tampak dalam seluruh proses Appaddekko, mulai dari persiapan hingga pelaksanaannya. Semua warga berpartisipasi tanpa membedakan status sosial. Gerakan menumbuk padi yang dilakukan bergantian dan berirama seirama menjadi simbol kerja sama dan persatuan dalam kehidupan sehari-hari.

Appaddekko juga mengandung nilai-nilai moral yang sejalan dengan prinsip Pancasila, seperti religiusitas, kemanusiaan, dan keadilan sosial. Tradisi ini mengajarkan pentingnya kerja keras, rasa syukur, serta tanggung jawab terhadap sesama dan alam sekitar. Di tengah arus modernisasi, Appaddekko menjadi pengingat bahwa budaya lokal menyimpan nilai-nilai luhur yang tetap relevan untuk membangun karakter masyarakat yang tangguh dan berakar pada tradisi.

Pelestarian Appaddekko terus dilakukan oleh masyarakat dan pemerintah daerah melalui berbagai kegiatan kebudayaan, pendidikan muatan lokal, serta festival desa. Upaya ini juga didukung oleh pengembangan desa wisata berbasis budaya, yang memungkinkan generasi muda dan wisatawan ikut menyaksikan serta memahami nilai-nilai di balik tradisi ini. Dengan cara itu, Appaddekko tetap hidup dan diwariskan sebagai bagian dari identitas masyarakat Takalar.

Buku Appaddekko: Tradisi Budaya Lokal dapat diakses melalui Bintang Pusnas yang memuat empat bagian utama yang menguraikan sejarah, proses pelaksanaan, nilai-nilai kearifan lokal, dan upaya pelestarian Appaddekko. Melalui uraian yang sistematis, pembaca diajak memahami bahwa tradisi ini bukan sekadar peninggalan masa lalu, melainkan warisan budaya yang mengandung nilai persatuan, gotong royong, dan rasa syukur. Buku ini juga menegaskan hubungan antara Appaddekko dan falsafah Abbulo Sibatang, yang menempatkan kebersamaan dan solidaritas sosial sebagai inti kehidupan bermasyarakat.

Buku ini juga mengulas secara mendalam nilai-nilai budaya, filosofi, dan karakter masyarakat Takalar yang tumbuh dari tradisi menumbuk padi bersama. Melalui tulisan ini, pembaca diajak memahami bahwa di balik bunyi alu dan lesung yang berpadu ritmis, tersimpan pesan abadi tentang kerja keras, persatuan, dan rasa syukur. Appaddekko menjadi simbol kehidupan yang selaras antara manusia dan alam, antara tradisi dan kemajuan, antara masa lalu yang diwarisi dan masa depan yang terus dijaga.

Buku Appaddekko: Tradisi Budaya Lokal Kehadiran buku ini menjadi upaya nyata dalam mendokumentasikan dan melestarikan warisan budaya Takalar, agar generasi muda dapat belajar dan memahami makna penting Appaddekko sebagai bagian dari jati diri dan kebanggaan masyarakat Sulawesi Selatan.


Appaddekko: Tradisi Budaya Lokal Berbasis Karakter Abbulo Sibatang
Penulis: Abdul Jalil
Editor: Hartoyo Darmawan
Penerbit: Perpusnas Press
Tempat Terbit: Jakarta
Tahun Terbit 2021
ISBN PDF: 978-623-131-358-6

October 6, 2025

Glosarium Petuah Leluhur Bugis

 


Judul:                             Glosarium Petuah Leluhur Bugis

Penulis:                          Faisal, Arisal & Syamsul Rijal

Editor:                            Muhlis Hadrawi

Penerbit:                       Ininnawa, Makassar

Tahun Terbit:               2022

Jumlah Halaman:      xviii + 181

ISBN:                              9786026176998

Penulis Resensi:          Suharman, S.S., MIM.

Suku bangsa Bugis di Sulawesi Selatan termasuk salah satu suku / ethnis yang memiliki kekayaan tradisi budaya lisan. Tradisi lisan ini termasuk diantaranya adalah petuah petuah leluhur atau pesan pesan (ppsE), ungkapan, peribahasa dan pepatah dari nenek moyang suku Bugis dari masa silam. Sebagian terekam dalam naskah Lontara, sebagian lagi dituturkan secara oral dari generasi ke generasi.

Balai Pelestarian Nilai Budaya Provinsi Sulawesi Selatan berusaha mengumpulkan dan melestarikan nilai nilai budaya ini. Petuah petuah leluhur ini kemudian didokumentasikan dalam bentuk buku. Buku inilah yang menjadi wujud akhir dari upaya pelestarian nilai budaya Bugis tersebut.

Buku ini diawali dengan kata pengantar dari Kepala Balai Pelestarian Nilai Budaya Provinsi Sulawesi Selatan, kemudian kata pengantar dari Penulis dan Editor serta pendahuluan. Selanjutnya isi pokok pembahasan yaitu kumpulan petuah, pepatah, pesan pesan dari leluhur Bugis di masa lampau, yang diurutkan sesuai abjad, mulai dari “A” sampai “Y”. Dalam buku ini, tidak ada entri untuk F, H, Q, V, W, X dan Z.

Ada ratusan petuah, ungkapan, dan pesan pesan leluhur Bugis yang berhasil dikumpulkan oleh tim, yang berhasil di kumpulkan dalam buku ini. Petuah dan ungkapan tersebut disusun secara alfabetis sesuai huruf awal petuah atau ungkapan tersebut. Misalnya entri awal dibawah huruf “A” adalah ‘Ada-adatta’mi nariasekki tahu’ ( adadtmi nriasEki tahu ) yang artinya dalam bahasa Indonesia ‘hanya berdasarkan perkataan seseorang dapat disebut manusia’. Jumlah entri untuk “A” ini yang paling banyak dibanding dengan entri “B”, “C” dan seterusnya. Selain petuah, ada juga banyak larangan atau hal hal yang tidak boleh dilaksanakan dalam suatu komunitas yang tercantum dalam entri “A” ini.

Petuah petuah ini ditulis atau dicetak dalam aksara Lontara Bugis, kemudian alih-aksara ke dalam aksara Latin untuk cara bacanya, kemudian artinya dalam bahasa Indonesia dan terakhir penjelasan tentang petuah, atau pesan pesan tersebut.

Penjelasan setiap entri petuah atau ungkapan ini sangat membantu pembaca dalam memahami arti sebenarnya petuah atau ungkapan Bugis tersebut. Bahkan orang asli Bugis pun, terutama generasi muda kemungkinan besar tidak mengerti dan tidak memahami arti setiap petuah dan ungkapan yang ada dalam buku ini. Bagian ‘penjelasan’ inilah yang diperlukan oleh pembaca agar mampu memahaminya.

Buku yang memuat ratusan petuah dan ungkapan Bugis ini menggunakan bahasa Bugis yang dapat mudah dipahami oleh orang orang Bugis dari daerah manapun. Meskipun bahasa Bugis itu sendiri memiliki beberapa varian yang berbeda untuk kosa kata tertentu, tergantung dari daerah mana berasal. Misalnya ada daerah yang menyebut “ogi” ada juga yang menyebut “ugi” untuk kata “Bugis”. Ada juga yang menyebut “Ceddi” dan yang lain menyebut “seddi” untuk angka 1. Namun dalam percakapan sehari hari semua saling memahami satu sama lainnya.

Kekurangan buku ini adalah tidak adanya nomor untuk setiap entri. Buku ini juga tanpa illustrasi, gambar atau foto foto yang bisa menambah daya tarik suatu buku. Akan lebih memudahkan lagi bagi pembaca seandainya ada Indeks pada buku ini. Indeks memudahkan pembaca dalam mencari topik tertentu yang ingin dibaca.

Buku ini koleksi Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Sulawesi Selatan.



October 2, 2025

CERITA HOROR DI PERPUSTAKAAN


Perpustakaan biasanya dipandang sebagai ruang hening untuk belajar, membaca, dan menyelami ilmu pengetahuan. Namun, di balik kesunyian itu tersimpan kisah-kisah menegangkan yang tak kalah menyeramkan dibanding cerita horor di tempat angker lainnya. Buku Cerita Horor di Perpustakaan menghadirkan kumpulan pengalaman nyata dari berbagai penjaga, pustakawan, dan pengunjung, yang mengaku bersinggungan dengan dunia gaib di ruang-ruang perpustakaan.

Kisah-kisah yang dituturkan begitu beragam, mulai dari penampakan klasik hingga fenomena aneh yang sulit dijelaskan logika:

  • Hantu Kebaya Ungu di Perpustakaan
    Seorang penjaga sekolah bersaksi melihat sosok perempuan berkebaya ungu keluar dari perpustakaan lalu menuju pohon mangga. Sosok itu bahkan tampak duduk bergelantungan di dahan, seolah memperlihatkan diri. Penjaga perpustakaan pun kerap melihatnya di siang hari, menambah kesan angker ruangan tersebut.

  • Perpustakaan SMP
    Sekelompok siswa yang berlatih di perpustakaan mengalami gangguan aneh: buku yang jatuh sendiri, mesin jahit yang bergerak tanpa disentuh, hingga musik yang berhenti tiba-tiba. Suasana mencekam itu membuat mereka yakin ada “penghuni lain” yang ikut hadir.

  • Perpustakaan dan Cerita Horor
    Pustakawan menuturkan bagaimana suasana kotor, redup, dan sepi membuat perpustakaan sering dianggap berhantu. Ia merefleksikan pentingnya mengubah tata ruang, kebersihan, dan pencahayaan agar perpustakaan tak lagi menakutkan, melainkan ramah dan nyaman bagi pengunjung.

  • Lho, Mereka Juga (Suka) Baca?
    Kisah unik sekaligus mengejutkan: makhluk astral ternyata gemar membaca buku dan surat kabar! Mereka mampu menyerap isi bacaan tanpa membuka halaman, bahkan memberi kritik tentang kehidupan manusia. Beberapa di antaranya iri pada manusia karena tidak bisa bersekolah atau berkarya seperti layaknya manusia hidup.

  • Pengunjung Tak Kasat Mata
    Petugas perpustakaan kerap menemui sosok pengunjung misterius yang meminta ditunjukkan jalan, tetapi menghilang begitu saja sebelum sampai tujuan. Cerita ini menambah daftar panjang kehadiran “pengunjung lain” di perpustakaan.

  • Misteri Hantu Usil di Pojok Gedung
    Diceritakan ada sosok iseng yang kerap menjahili mahasiswa. Dari suara buku jatuh hingga gangguan di lorong-lorong gelap, hantu ini seakan menikmati ketakutan orang-orang.

  • Misteri Perpustakaan Tua
    Sebuah perpustakaan tua yang sepi menghadirkan aura menyeramkan. Dari sosok wanita pucat yang tekun membaca, hingga “hantu muka rata” yang muncul di lorong, semuanya memperkuat keyakinan bahwa bangunan tua menyimpan banyak misteri.

Buku Cerita Horor Di Perpustakaan dapat diakses melalui Bintang Pusnas, platform digital Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Buku ini tidak hanya mengisahkan kengerian, tapi juga menghadirkan refleksi: mengapa perpustakaan sering dikaitkan dengan horor? Apakah karena kondisi ruang yang sepi dan gelap, atau karena memang ada makhluk lain yang turut mendiami?. Dengan gaya narasi yang memadukan pengalaman personal, kesaksian nyata, dan renungan pustakawan, Cerita Horor di Perpustakaan mengajak pembaca melihat sisi lain perpustakaan: bukan hanya ruang ilmu, tapi juga ruang misteri.


CERITA HOROR DI PERPUSTAKAAN
Seri Memorabibilia 03

Penulis: Malik Ibnu Zaman, dkk
Editor: Hariyah, Dhian, Ashry Noviana Fajry
Penerbit: Perpusnas Press Anggota IKAPI
Tempat Terbit: Jakarta
Tahun Terbit: 2022
ISBN : 978-623-117-135-1(pdf)