Watansoppeng, sebuah daerah di Sulawesi Selatan, dikenal luas sebagai Kota Kalong. Julukan itu bukan sekadar sebutan, tetapi mencerminkan kehidupan nyata masyarakat yang berdampingan dengan ribuan kalong yang menggantung di pepohonan di sekitar pusat kota. Bagi warga Soppeng, kalong bukan sekadar hewan nokturnal, melainkan bagian dari identitas dan simbol keseimbangan antara manusia dan alam. Keberadaannya diyakini membawa perlindungan, keberkahan, dan kesejukan bagi kota yang berhawa tenang itu.
Di kompleks bekas Istana Kerajaan Soppeng berdiri bola ridie—rumah berwarna kuning yang kini menjadi tempat penyimpanan benda-benda pusaka kerajaan. Di rumah bersejarah inilah seorang bissu, penjaga tradisi dan spiritual kerajaan, menceritakan kembali kisah-kisah lama yang masih hidup di ingatan masyarakat. Dalam sebuah wawancara, sang bissu menuturkan bagaimana tradisi memanggil kalong dilakukan ketika hewan itu tiba-tiba menghilang dari langit Soppeng beberapa hari lamanya.
Menurutnya, pernah terjadi peristiwa ketika ribuan kalong pergi meninggalkan kota karena marah. Saat itu, pemerintah berencana menebang pohon asam tua di sekitar Gedung Pertemuan (Lapangan Gasis), tempat favorit kalong bergelantungan. Kejadian itu membuat warga gelisah. Kota seolah kehilangan ruhnya, karena tanpa kalong, Watansoppeng tidak lagi seperti Watansoppeng.
Kabar menghilangnya kalong sampai ke telinga bupati yang menjabat saat itu. Menurut penuturan sang bissu, sang bupati memutuskan pergi “menjemput” atau memanggil pulang kalong di perbatasan antara Bone dan Soppeng. Sementara di istana, para bissu memanjatkan doa agar usaha memanggil kalong itu berhasil. Dalam keyakinan masyarakat, doa bissu memiliki kekuatan spiritual yang mampu menenangkan amarah makhluk-makhluk alam. Benar saja, tak lama kemudian, langit Soppeng kembali dipenuhi kalong yang pulang bergelantungan di pohon-pohon tua di pusat kota.
Kisah itu menjadi legenda yang diceritakan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Hingga kini, kalong tetap setia menghuni langit Soppeng, terutama di sekitar taman kota yang dikenal dengan nama Taman Kalong. Saat senja tiba, ribuan kalong terbang serentak dari pepohonan, membentuk gugus hitam di langit jingga—pemandangan yang sudah menjadi bagian dari ritme harian kota.
Namun bukan hanya kehadiran ribuan kalong yang menarik. Di bola ridie tersimpan sebuah foto tua yang menjadi misteri bagi banyak orang. Foto itu, seperti yang ditunjukkan oleh sang bissu, bukan lukisan, melainkan potret asli seekor kalong putih. Warga meyakini kalong putih itu adalah raja kalong, makhluk langit yang hanya menampakkan diri pada peristiwa-peristiwa penting di Soppeng.
Sang bissu berkisah, kalong putih itu terakhir kali terlihat ketika penyanyi Selfi, putri daerah Soppeng, pulang ke kampung halaman setelah menjuarai ajang Liga Dangdut Indonesia. Saat ribuan warga memadati lapangan untuk menyambutnya, seekor kalong putih terlihat melintas di langit sore. “Bersamaan adanya Selfi di lapangan, muncul juga raja kalong putih. Ada fotonya,” ujar sang bissu. Sebagian warga menganggap kemunculan itu sebagai pertanda gembira—seolah para kalong turut merayakan kebahagiaan warga Soppeng.
Misteri kalong putih masih menjadi cerita yang mengundang rasa ingin tahu. Apakah benar ia raja kalong yang menandai momen penting bagi kota ini? Atau hanya fenomena alam yang kebetulan muncul pada waktu yang tepat? Tidak ada jawaban pasti. Seperti halnya banyak tradisi lisan, kisah ini berada di persimpangan antara mitos, keyakinan, dan kenyataan. Namun justru di situlah keindahan Soppeng: masyarakatnya hidup dalam keseimbangan antara rasionalitas dan spiritualitas, antara alam dan manusia.
Watansoppeng bukan hanya kota kecil yang tenang, tetapi juga ruang hidup yang menampung warisan budaya Bugis yang kaya. Selain daya magis kalong, kota ini memiliki peninggalan sejarah berupa istana kerajaan, pemandian air panas Lejja, perbukitan hijau yang indah, dan kuliner tradisional yang menggoda selera. Semua itu menjadikan Soppeng bukan sekadar destinasi wisata, tetapi tempat untuk memahami bagaimana manusia Bugis menjaga harmoni dengan alam dan leluhurnya.
Kisah-kisah tentang kalong, bissu, dan keseharian masyarakat Soppeng terangkum dalam buku Kalong Watansoppeng: Identitas Kota, Identitas Warga yang dapat diakses melalui Bintang Pusnas. Buku ini menelusuri bagaimana hubungan manusia dengan alam membentuk identitas kolektif warga Soppeng, serta bagaimana simbol kalong menjadi cermin dari nilai-nilai kearifan lokal. Melalui pendekatan budaya, penulis menghadirkan perpaduan antara catatan sejarah, wawancara dengan tokoh adat, dan refleksi sosial yang menggugah kesadaran tentang pentingnya menjaga keseimbangan antara kemajuan dan tradisi.
Identitas Kota, Identitas Warga
Penulis: Fitrawan Umar
Editor: Abdullah, Kaesthi Wiraningtyas
Penerbit: Perpusnas Press
Tempat Terbit: Jakarta
Tahun Terbit: 2023
ISBN PDF: 978-623-117-052-1











