Showing posts with label Pappaseng To Riolo. Show all posts
Showing posts with label Pappaseng To Riolo. Show all posts

October 6, 2025

Glosarium Petuah Leluhur Bugis

 


Judul:                             Glosarium Petuah Leluhur Bugis

Penulis:                          Faisal, Arisal & Syamsul Rijal

Editor:                            Muhlis Hadrawi

Penerbit:                       Ininnawa, Makassar

Tahun Terbit:               2022

Jumlah Halaman:      xviii + 181

ISBN:                              9786026176998

Penulis Resensi:          Suharman, S.S., MIM.

Suku bangsa Bugis di Sulawesi Selatan termasuk salah satu suku / ethnis yang memiliki kekayaan tradisi budaya lisan. Tradisi lisan ini termasuk diantaranya adalah petuah petuah leluhur atau pesan pesan (ppsE), ungkapan, peribahasa dan pepatah dari nenek moyang suku Bugis dari masa silam. Sebagian terekam dalam naskah Lontara, sebagian lagi dituturkan secara oral dari generasi ke generasi.

Balai Pelestarian Nilai Budaya Provinsi Sulawesi Selatan berusaha mengumpulkan dan melestarikan nilai nilai budaya ini. Petuah petuah leluhur ini kemudian didokumentasikan dalam bentuk buku. Buku inilah yang menjadi wujud akhir dari upaya pelestarian nilai budaya Bugis tersebut.

Buku ini diawali dengan kata pengantar dari Kepala Balai Pelestarian Nilai Budaya Provinsi Sulawesi Selatan, kemudian kata pengantar dari Penulis dan Editor serta pendahuluan. Selanjutnya isi pokok pembahasan yaitu kumpulan petuah, pepatah, pesan pesan dari leluhur Bugis di masa lampau, yang diurutkan sesuai abjad, mulai dari “A” sampai “Y”. Dalam buku ini, tidak ada entri untuk F, H, Q, V, W, X dan Z.

Ada ratusan petuah, ungkapan, dan pesan pesan leluhur Bugis yang berhasil dikumpulkan oleh tim, yang berhasil di kumpulkan dalam buku ini. Petuah dan ungkapan tersebut disusun secara alfabetis sesuai huruf awal petuah atau ungkapan tersebut. Misalnya entri awal dibawah huruf “A” adalah ‘Ada-adatta’mi nariasekki tahu’ ( adadtmi nriasEki tahu ) yang artinya dalam bahasa Indonesia ‘hanya berdasarkan perkataan seseorang dapat disebut manusia’. Jumlah entri untuk “A” ini yang paling banyak dibanding dengan entri “B”, “C” dan seterusnya. Selain petuah, ada juga banyak larangan atau hal hal yang tidak boleh dilaksanakan dalam suatu komunitas yang tercantum dalam entri “A” ini.

Petuah petuah ini ditulis atau dicetak dalam aksara Lontara Bugis, kemudian alih-aksara ke dalam aksara Latin untuk cara bacanya, kemudian artinya dalam bahasa Indonesia dan terakhir penjelasan tentang petuah, atau pesan pesan tersebut.

Penjelasan setiap entri petuah atau ungkapan ini sangat membantu pembaca dalam memahami arti sebenarnya petuah atau ungkapan Bugis tersebut. Bahkan orang asli Bugis pun, terutama generasi muda kemungkinan besar tidak mengerti dan tidak memahami arti setiap petuah dan ungkapan yang ada dalam buku ini. Bagian ‘penjelasan’ inilah yang diperlukan oleh pembaca agar mampu memahaminya.

Buku yang memuat ratusan petuah dan ungkapan Bugis ini menggunakan bahasa Bugis yang dapat mudah dipahami oleh orang orang Bugis dari daerah manapun. Meskipun bahasa Bugis itu sendiri memiliki beberapa varian yang berbeda untuk kosa kata tertentu, tergantung dari daerah mana berasal. Misalnya ada daerah yang menyebut “ogi” ada juga yang menyebut “ugi” untuk kata “Bugis”. Ada juga yang menyebut “Ceddi” dan yang lain menyebut “seddi” untuk angka 1. Namun dalam percakapan sehari hari semua saling memahami satu sama lainnya.

Kekurangan buku ini adalah tidak adanya nomor untuk setiap entri. Buku ini juga tanpa illustrasi, gambar atau foto foto yang bisa menambah daya tarik suatu buku. Akan lebih memudahkan lagi bagi pembaca seandainya ada Indeks pada buku ini. Indeks memudahkan pembaca dalam mencari topik tertentu yang ingin dibaca.

Buku ini koleksi Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Sulawesi Selatan.



July 22, 2020

PESAN-PESAN TRADISIONAL (PAPPASENG TO RIOLO)



Kata pappaseng terdiri dari kata dasar “paseng” yang berarti “pesan” yang harus dipegang teguh sebagai amanah, bahkan ia merupakan “wasiat” yang perlu dipatuhi dan diindahkan.

Setelah mendapat imbuhan “pa” (pap) berupa awalan, maka ia menjadi lebih konkrit lagi sebagai “peringatan yang harus ditaati”, agar yang menerima wasiat itu, benar-benar memperlakukan dengan penuh rasa tanggung jawab.

Apabila ia ingkar, maka ia akan mendapatkan peringatan dari Yang Maha Kuasa, (dalam bahasa kuno disebut “dewata”) berupa kesulitan hidup, bahkan sering berwujud malapetaka  yang sulit dielakkan.

Jadi, tegasnya”pappaseng” itu adalah wasiat orang tua kepada anak cucunya, (orang banyak)  yang harus selalu diingat sebagai amanah yang perlu dipatuhi dan dilaksanakan atas dasar percaya diri sendiri disertai rasa tanggung jawab.

Begitu yakinnya orang dahulu akan hikmat dari “pappaseng” itu, sehingga mereka dapat memelihara dan membudayakan dalam segala sendi kehidupan mereka. Itulah sebabnya orang-orang tua di tanah Bugis, kalau menasehati anak cucunya ia selalu berkata: “Engngerangngi pappaseng to-riolo" (=ingatlah wasiat orang dahulu kala).

Buku PESAN-PESAN TRADISIONAL (PAPPASENG TO RIOLO) berisikan 27 pappaseng yang sebahagian besar berasal dari “Arung Bila” salah seorang bangsawan terkemuka di Soppeng, bahkan beliau adalah seorang pemikir yang tajam selidiknya dan jauh tinjauannya. Beliau dapat disejajarkan dengan Kajao Laliddong dari Bone pada zamannya yang menjadi pendamping Raja Bone dalam mengendalikan pemerintahan. Nama “Arung Bila” adalah merupakan gelar bagi seorang pendamping dan penasehat Raja (Datu) Soppeng bukan nama diri.

Jadi ada beberapa orang yang bergelar “Arung Bila” sejak dahulu kala. Arung Bila yang dimaksud ini ialah yang bernama La Wadeng, juga Lawaniyaga to Tongengnge yang sejaman Kajao Laliddong di Bone (sekitar akahir abad XVI dan awal abad XVII).

Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Perpustakaan Abdurrasyid Daeng Lurang yang berlokasi di jalan Kenanga No. 7A Sungguminasa, Kabupaten Gowa yang memuat pesan-pesan, petuah dan ajaran moral orang dahulu kala.

PESAN-PESAN TRADISIONAL
(PAPPASENG TO RIOLO)
Penulis: Nonci
Penerbit: CV. AKSARA
Tempat Terbit: Makassar

July 9, 2020

Aku Bangga Berbahasa Bugis



Buku : Aku Bangga Berbahasa Bugis, Bahasa Bugis dari ka sampai ha
Penulis : Andi M. Rafiuddin Nur
Penerbit : Rumah Ide, Makassar, 2008
Jumlah Halaman: xx + 674
Ukuran : 14,5 x 20,5 cm
ISBN : 979-98076-2-X

H. Muhammad Jusuf Kalla, pada Kongres Bahasa Daerah Sulawesi Selatan tahun 2007, menyatakan bahwa 30% dari 745 bahasa daerah di Indonesia sudah punah dalam kurun waktu 20 tahun terakhir. Sementara itu perkiraan dari UNESCO (United Nation Educational, Scientific and Cultural Organization), lembaga PBB yang mengurusi pendidikan, Ilmu pengetahuan dan kebudayaan, menyebutkan bahwa dalam kurun waktu 100 tahun kedepan, dari 6.000 bahasa di dunia, akan tinggal setengahnya  (50%) saja. Artinya ada sekitar 3.000an bahasa yang akan punah.

Berdasarkan prediksi prediksi inilah sehingga penulis tergerak untuk menuliskan buku ini. Ada kekhawatiran bahwa suatu waktu kelak, bahasa Bugis juga akan punah jika tanpa ada usaha untuk melestarikannya. Salah satu usaha penulis adalah mendokumentasikan segala aspek bahasa Bugis dalam buku ini, sehingga dapat dikatakan bahwa buku ini sangat lengkap membahas unsur unsur kebahasaan Bugis. Selain bisa sebagai Kamus (Bugis – Indonesia) juga dibahas tentang tata bahasa Bugis, sastra Bugis yang terdiri dari beberapa jenis misalnya ada Paseng, Elong (Pantun Bugis), Toloq, dan lain lain. Tak lupa pembahasan  tentang aksara atau abjad dan aspek lainnya.

Buku setebal 674 halaman ini diawali dengan Pengantar Penerbit, kemudian Kata Pengantar dari penulis, disusul dengan Pendahuluan. Pada bagian Pendahuluan ini, penulis mengungkapkan kecewaannya pada kenyataannya bahwa banyak generasi muda Bugis yang sudah enggan dan malu menggunakan bahasa Bugis sebagai bahasa pergaulan sehari harinya. Salah satu alasan keengganan orang Bugis untuk menggunakan bahasa Bugis lagi menurut penulis adalah karena nilai nilai luhur bahasa Bugis tidak lagi dipahaminya dengan baik dan benar. Hal ini menyebabkan rasa memiliki serta rasa bangga terhadap bahasanya sendiri menjadi pudar. Hal lain adalah karena kurangnya bimbingan, pembinaan, pengajaran dan pendidikan baik di dalam keluarga maupun di sekolah sekolah.

Selanjutnya dibahas tentang “Bahasa Bugis Baku”. Pada bagian ini penulis tidak menyebut secara tegas, adanya bahasa Bugis baku, karena setiap daerah yang berbahasa Bugis, masing masing menganggap bahasa Bugis merekalah yang baku, sementara yang lain hanya dialek dari daerah lainnya saja. Perlu diketahui bahwa bahasa Bugis yang digunakan di Bone, Soppeng, Wajo, Sidrap, Sinjai dan lain lain selalu saja ada perberdaan, baik perbedaan dialek maupun kosa kata.

Pada bagian selanjutnya dibahas tentang Bahasa Daerah dan Bahasa Nasional. Pada bagian ini, pembahasan utamanya adalah bagaimana bahasa nasional (Indonesia) telah mempengaruhi bahasa Bugis dan juga Makassar. Dijelaskan juga bagaimana orang Bugis dan Makassar berbahasa Indonesia dengan logat Bugis atau Makassar, termasuk akhiran akhiran yang sering digunakan seperti  ‘ki’, ‘di’, ‘mi’, ‘ko’ dan lain lain.

Selanjutnya ada pembahasan tentang “Pangngadereng”. Disebutkan bahwa Orang Bugis tidak bisa lepas dari pangngadereng yang terdiri dari 5 unsur yaitu ; ade’, rapang, bicara, wari, dan sara’. Dibuku ini dijelaskan perbedaan antara pangngadereng dengan ade’. Ada juga dibahas pentingnya menggunakan dan berbicara Bugis yang baik dan benar.

Pada bagian “Seluk Beluk Bahasa dan Aksara Bugis” dijelaskan tentang aksara dan abjad, perbedaan penggunaan aksara lontara  Bugis dengan Lontara Makassar, perbedaan penulisan lontara untuk bahasa Indonesia, sejarah awal terciptanya aksara Lontara, awal mula terciptanya aksara lontara ‘ha’ yang merupakan aksara untuk memenuhi pengucapan bahasa Bugis yang berasal dari kata kata bahasa Arab. Penulisan aksara Lontara untuk nama nama jalan di Makassar juga dijelaskan oleh penulis.

Sastra Bugis dan Paseng. Pada bagian ini dibahas panjang lebar tentang sastra Bugis yang terdiri dari beberapa jenis (genre). Ada Sure’, Elong, Tolo’, paseng atau pappaseng to riolo . Banyak contoh jenis (genre) sastra Bugis dalam buku ini.

Pada bagian lainnya dibahas tentang cara penulisan dan pengucapan bahasa Bugis pada buku ini. Bagian ini semacam petunjuk pemakaian buku ini. Ada pembahasan tentang susunan abjad, cara pengucapan dan arti kata, dan  pengaruh dialek daerah.

Bagian terakhir adalah Bahasa Bugis dari ka sampai ha. Bagian ini adalah semacam kamus Bugis – Indonesia yang disusun berdasarkan susunan aksara Lontara Bugis, yaitu ka, ga, nga, ngka dan seterusnya.

Buku ini sangat lengkap membahas berbagai aspek bahasa dan budaya Bugis. Sangat penting untuk dimiliki dan dibaca oleh orang Bugis dan orang bukan Bugis yang tertarik mengkaji bahasa dan budaya Bugis.

Buku ini koleksi pribadi, tapi jika tertarik untuk membacanya, ada di perpustakaan perpustakaan di kota dan kabupaten di Sulawesi Selatan. 





February 27, 2020

Lontara Soppeng



Buku : Lontara Soppeng
Penulis : Drs. Nonci, S.Pd
Penerbit : CV. Aksara, Makassar (Tanpa Tahun)
Jumlah Halaman : iv + 52
ISBN : -
Bahasa : Indonesia dan Bugis

Buku ini disusun berdasarkan naskah naskah Lontara dalam rangka pelestarian nilai nilai budaya Bugis. Banyak naskah Bugis kuno yang ditulis, disusun, dikumpulkan oleh para cendekiawan zaman dulu di Sulawesi Selatan. Di Soppeng ada Arung Bila yang banyak menulis kumpulan pappaseng (pesan pesan) atau kearifan lokal. Di Bone ada Kajao Laliddong, di Wajo ada Amanna Gappa dan Puang Ri Maggalatung, di Luwu ada To Acca dan lain lain. 

Terdiri dari 3 bagian, pertama adalah tentang To Manurung. To Manurung itu biasanya dianggap manusia setengah Dewa yang turun dari langit untuk menjadi pemimpin (pertama) disuatu daerah. Bagian kedua adalah Lawadeng Arung Bila mengisahkan tentang asal usul pribadi Lawadeng, Arung Bila, tentang keluarganya, tentang wejangannya (Nasehat nasehat) dan lain lain,dan bagian terakhir adalah Pappasenna Arung Bila (Wasiat). Pesan pesan  Arung Bila, ada tentang adat istiadat, ada tentang politik (bagaimana menjadi penguasa suatu daerah, 

Ketiga bagian dalam buku semuanya dilengkapi terjemahan dalam bahasa Indonesia. Sangat bermanfaat bagi orang yang ingin mengkaji pappaseng toriolo (pesan orang dulu). Koleksi Perpustakaan Abdurrasyid Daeng Lurang, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Sulawesi Selatan.  


January 8, 2020

Pappaseng, Wujud Idea Budaya Bugis - Makassar


Buku "Pappaseng, Wujud Idea Budaya Bugis - Makassar" disusun oleh Abdul Rahim, dan editor: H.M. Syuaib Mallombassi, diterbitkan oleh Dinas Kebudayaan dan Kepariwisataan Provinsi Sulawesi Selatan, 2012. Buku setebal 180 halaman ini berisi pesan pesan moral para kaum intelektual Bugis dan Makassar dari jaman dahulu. Ada 10 tokoh cendekiawan yang ada pesan, petuah, nasehat dalam buku ini, yaitu Puang Ri Maggalatung, La Bungkace To Udama Matinroe ri Kannana, Kajao Laliddong, Nene' Allomo ri Sidenreng, Aru Bila, To MaccaE ri Luwu, Karaeng MatoaE, To Tabba ri Ana' Eppona, Puang Takke Buku Arung Enrekang, dan Karaeng Pattingalloang. Juga ada pesan pesan dari 'to riolo' (orang orang dahulu) yang mungkin tidak jelas siapa individu yang mengucapkan pertama kali pesan pesan tersebut. 





Bagi anda yang tertarik untuk menkaji kearifan lokal, Buku ini bisa dibaca di Perpustakaan Abdurrasyid Daeng Lurang, Sungguminasa, Gowa, pada bagian referensi, lantai 2.