Showing posts with label Arung Bila. Show all posts
Showing posts with label Arung Bila. Show all posts

July 22, 2020

PESAN-PESAN TRADISIONAL (PAPPASENG TO RIOLO)



Kata pappaseng terdiri dari kata dasar “paseng” yang berarti “pesan” yang harus dipegang teguh sebagai amanah, bahkan ia merupakan “wasiat” yang perlu dipatuhi dan diindahkan.

Setelah mendapat imbuhan “pa” (pap) berupa awalan, maka ia menjadi lebih konkrit lagi sebagai “peringatan yang harus ditaati”, agar yang menerima wasiat itu, benar-benar memperlakukan dengan penuh rasa tanggung jawab.

Apabila ia ingkar, maka ia akan mendapatkan peringatan dari Yang Maha Kuasa, (dalam bahasa kuno disebut “dewata”) berupa kesulitan hidup, bahkan sering berwujud malapetaka  yang sulit dielakkan.

Jadi, tegasnya”pappaseng” itu adalah wasiat orang tua kepada anak cucunya, (orang banyak)  yang harus selalu diingat sebagai amanah yang perlu dipatuhi dan dilaksanakan atas dasar percaya diri sendiri disertai rasa tanggung jawab.

Begitu yakinnya orang dahulu akan hikmat dari “pappaseng” itu, sehingga mereka dapat memelihara dan membudayakan dalam segala sendi kehidupan mereka. Itulah sebabnya orang-orang tua di tanah Bugis, kalau menasehati anak cucunya ia selalu berkata: “Engngerangngi pappaseng to-riolo" (=ingatlah wasiat orang dahulu kala).

Buku PESAN-PESAN TRADISIONAL (PAPPASENG TO RIOLO) berisikan 27 pappaseng yang sebahagian besar berasal dari “Arung Bila” salah seorang bangsawan terkemuka di Soppeng, bahkan beliau adalah seorang pemikir yang tajam selidiknya dan jauh tinjauannya. Beliau dapat disejajarkan dengan Kajao Laliddong dari Bone pada zamannya yang menjadi pendamping Raja Bone dalam mengendalikan pemerintahan. Nama “Arung Bila” adalah merupakan gelar bagi seorang pendamping dan penasehat Raja (Datu) Soppeng bukan nama diri.

Jadi ada beberapa orang yang bergelar “Arung Bila” sejak dahulu kala. Arung Bila yang dimaksud ini ialah yang bernama La Wadeng, juga Lawaniyaga to Tongengnge yang sejaman Kajao Laliddong di Bone (sekitar akahir abad XVI dan awal abad XVII).

Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Perpustakaan Abdurrasyid Daeng Lurang yang berlokasi di jalan Kenanga No. 7A Sungguminasa, Kabupaten Gowa yang memuat pesan-pesan, petuah dan ajaran moral orang dahulu kala.

PESAN-PESAN TRADISIONAL
(PAPPASENG TO RIOLO)
Penulis: Nonci
Penerbit: CV. AKSARA
Tempat Terbit: Makassar

February 27, 2020

Lontara Soppeng



Buku : Lontara Soppeng
Penulis : Drs. Nonci, S.Pd
Penerbit : CV. Aksara, Makassar (Tanpa Tahun)
Jumlah Halaman : iv + 52
ISBN : -
Bahasa : Indonesia dan Bugis

Buku ini disusun berdasarkan naskah naskah Lontara dalam rangka pelestarian nilai nilai budaya Bugis. Banyak naskah Bugis kuno yang ditulis, disusun, dikumpulkan oleh para cendekiawan zaman dulu di Sulawesi Selatan. Di Soppeng ada Arung Bila yang banyak menulis kumpulan pappaseng (pesan pesan) atau kearifan lokal. Di Bone ada Kajao Laliddong, di Wajo ada Amanna Gappa dan Puang Ri Maggalatung, di Luwu ada To Acca dan lain lain. 

Terdiri dari 3 bagian, pertama adalah tentang To Manurung. To Manurung itu biasanya dianggap manusia setengah Dewa yang turun dari langit untuk menjadi pemimpin (pertama) disuatu daerah. Bagian kedua adalah Lawadeng Arung Bila mengisahkan tentang asal usul pribadi Lawadeng, Arung Bila, tentang keluarganya, tentang wejangannya (Nasehat nasehat) dan lain lain,dan bagian terakhir adalah Pappasenna Arung Bila (Wasiat). Pesan pesan  Arung Bila, ada tentang adat istiadat, ada tentang politik (bagaimana menjadi penguasa suatu daerah, 

Ketiga bagian dalam buku semuanya dilengkapi terjemahan dalam bahasa Indonesia. Sangat bermanfaat bagi orang yang ingin mengkaji pappaseng toriolo (pesan orang dulu). Koleksi Perpustakaan Abdurrasyid Daeng Lurang, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Sulawesi Selatan.