Ragam Telusur merupakan kumpulan Artikel Kepustakawanan, Resensi Buku Koleksi Lokal Sulawesi Selatan dan buku umum lainnya Sulawesi Selatan yang ditulis oleh Pustakawan DPK Provinsi Sulawesi Selatan
July 31, 2020
SEJARAH TIMBULNYA PERGERAKAN NASIONAL DI SULAWESI SELATAN
JANGAN MATI DALAM KEMISKINAN ROMAN BIOGRAFI H.Z.B. PALAGUNA
July 30, 2020
PERJANJIAN BAGI HASIL ATAU “TESENG” DI SULAWESI SELATAN
Menurut sejarah teseng di Sulawesi Selatan, pada mulanya pembagian masing-masing pihak ditetapkan oleh arung (raja), sehingga disebut teseng arung, karena pada waktu itu hanya raja yang mempunyai sawah/tanah.
Pengikut raja yang disebut joa ditugaskan membuka tanah menjadi sawah atau mencetak sawah baru yang lazim disebut pakkabekka, tanahnya disebut galung abbekang (sawah yang baru dicetak). Pakkabekka inilah yang mula-mula membuka tanah atau mencetak sawah baru, kemudian di panen, maka pembagian penggarap ditetapkan oleh raja sebanyak 90% dan 10% untuk raja. Pembagian seperti ini lazim disebut teseng seppulo, atau teseng sepuluh.
Dasar hukum berlakunya teseng, adalah atas kata sepakat, dalam bahasa Bugis dapat dikatakan samaturuu antara pemilik dengan penggarapnya.
Pihak-pihak yang membuat perjanjian teseng pada mulanya adalah pihak raja dengan joanya (pengikutnya). Lama kelamaan dari pihak pemilik dan penggarapnya atau kedua belah pihak yang bersangkutan.
Bentuk perjanjian teseng senantiasa lisan. Oleh karenanya patut ditingkatkan menjadi budaya tulisan guna menyesuaikan perkembangan tuntutan zaman modern.
Alasan terjadinya teseng, pada mulanya bersumber dari ketidak sanggupan para pemilik sawah mengerjakan sawahnya sendiri yang disebabkan beberapa hal, tetapi berproduksi secara berkesinambungan, maka jalan keluarnya dicarinyalah tenaga penggarap yang berprofesi petani.
Mengenai objek tanaman pada umumnya tanaman padi dan tenaga kerja petani penggarap, dan pembagian hasilnya adalah padi atau gabah yang dibagi secara natura dari hasil bersih atau netto.
Adapun kewajiban penggarap terhadap pemilik tanah atau sawah adalah mengerjakan sawah secara baik yang meliputi mulai dari memasukkan air kedalam sawah, membajak, menanam, memelihara tanaman padi sampai memotong padi.
Biaya-biaya yang lazim dikeluarkan antara lain: biaya pembelian bibit/benih; Biaya tanam; Biaya pembelian pupuk; Biaya pembelian obat-obatan; Biaya pengolahan traktor; dan Biaya pembayaran IPEDA atau PBB (Pajak Bumi dan Bangunan).
Adapun mengenai pembagian hasil menunjukkan mayoritas pembagian satu banding satu, dengan kata lain penggarap mendapat setengah dan pemilik tanah/sawah mendapat setengah dari hasil bersih sawah-sawah yang mendapatkan pengairan tehnis dan dikerjakan dua kali setahun, sedangkan pembagian hasil 2/3 bagi penggarap dan 1/3 bagi pemilik sawah dari hasil sawah yang kondisi tadah hujan.
ALLAH SELALU BERSAMA KITA
ZAMAN SEBELUM MASUKNYA AGAMA ISLAM DAN ZAMAN MASUKNYA AGAMA ISLAM (DI SOPPENG, SIDENRENG, WAJO DAN BONE)
July 29, 2020
Perlunya Alih Media
• Melestarikan dokumen/koleksi langka
BUDI DAYA MENTIMUN
Mentimun atau ketimun merupakan salah satu sayuran menghasilkan buah dengan produksi nasional (2013) sebesar 491.636 ton. Mentimun dapat tumbuh baik di daerah tropis dan sub tropis. Sebab itu sayuran ini hampir di kenal diberbagai negara di dunia. Asal tanaman ini adalah Himalaya di Asia Utara.
KISAH WAFATNYA NABI MUHAMMAD S.A.W (VERSI BAHASA MAKASSAR)
SIAPA PENGGALI PANCASILA???
July 28, 2020
BUDI DAYA KEDELAI
BUDI DAYA KACANG HIJAU
BUDI DAYA KACANG PANJANG
Kacang panjang (Vigna sinensis L.) merupakan salah satu dari tanaman leguminosa setelah kedelai dan kacang tanah yang berpotensi untuk dikembangkan. Hal ini dapat dilihat dari kebutuhan kacang panjang yang diperkirakan 839.500 ton/tahun. Padahal produksi kacang panjang tahun 2013 baru mencapai 450.859 ton polong segar atau sekitar 50% dari total kebutuhan penduduk.
Tanaman ini juga sangat potensial untuk dikembangkan sebagai usahatani karena selain mudah dibudidayakan, pangsa pasarnya juga cukup tinggi. Secara ekonomis, tanaman ini memiliki kekuatan pasar yang cukup besar. Pasar mampu menyerapnya meskipun produksi kacang panjang berlimpah pada musim panen. Kacang panjang juga dipasarkan ke luar negeri, salah satunya adalah ke negeri Belanda yang membutuhkan lebih dari 3 ton tiap minggunya.
Fakta ini memberi gambaran bahwa budidaya kacang memiliki prospek yang bagus, terlihat bahwa produksi kacang panjang tidak hanya untuk memenuhi pasar luar negeri. Tentunya ini memberi keuntungan tersendiri pada pembudidaya kacang panjang, yang memberikan nutrisi yang baik untuk tubuh, dan manfaat seperti mencegah diabetes, kesehatan kardiovaskuler dan jantung, sumber antioksidan, mencegah osteoporosis, baik untuk pencernaan, dan kesehatan tulang.
Buku BUDI DAYA KACANG PANJANG, memberikan wawasan dan pengetahuan mengenai budi daya kacang panjang dan berbagai aspek yang menyangkut sayuran berbentuk polong, mulai dari mengenal kacang panjang, khasiat kacang panjang bagi kesehatan, cara bercocok tanam, analisis usaha tani kacang panjang, tumpang sari kacang panjang, kacang panjang organik, bisa ditanam di pekarangan, dan peluang usaha kacang panjang.
Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Perpustakaan Abdurrasyid Daeng Lurang yang berlokasi di jalan Kenanga No. 7A Sungguminasa, Kabupaten Gowa, memberikan gambaran lengkap budi daya kacang panjang dan analisis finansialnya serta pemanfaatan pekarang untuk budi daya yang menguntungkan. (***)
Editor: DS
BUDI DAYA KACANG PANJANG
Penulis : Norbertus Kaleka
Penerbit: BISA! Publishing
Tempat Terbit : Surakarta
Tahun Terbit : 2016
ISBN : 978-602-317-058-6

















