July 31, 2020

SEJARAH TIMBULNYA PERGERAKAN NASIONAL DI SULAWESI SELATAN



Usaha-usaha timbulnya pergerakan nasional di Sulawesi Selatan terjadi setelah tahun 1920-an. Hampir semua gerakan di mulai di Makassar, ini dapat dimengerti karena Makassar merupakan pintu bagi daerah Sulawesi Selatan dan juga tempat berkumpulnya kaum menengah dan masyarakat cendekiawan di daerah ini.

Beberapa organisasi yang timbulnya selama pergerakan nasional di Sulawesi Selatan, yaitu oranisasi yang bersifat bersifat radikal seperti Sarekat Islam Indonesia (SII), Partai Indonesia Raya (Parindra), Partai Syarikat Selebes (Parsas); sedangkan Organisasi yang bersifat ultra radikal seperti Partai Nasional Indonesia (PNI) dan Partai Indonesia (Partindo); serta organisasi yang bersifat moderat seperti Muhammadiyah dan Assiratal Mustakim.

Perlawanan rakyat terhadap Jepang yang terjadi di pedalaman Sulawesi Selatan. Kalahnya tentara Belanda di Bengo dan Enrekang pada bulan februari 1942 menjadi titik pergantian kekuasaan Belanda kepada Jepang. Dan pada bulan Maret 1942, Jepang memulai pengaturan administrasi pemerintahan militernya.

Jepang tidak segan-segan memaksa rakyat bekerja, yang biasa disebut romusha. Tenaga rakyat dikerahkan tanpa bayaran, sedangkan makanan pun tidak mencukupi di Takalar sehingga muncul sindiran tajam untuk Jepang dengan sebutan parakang. Mereka membuat perumpamaan antara kepergian Belanda dan kedatangan Jepang: Poppo allampa, naparakang ambattu, artinya poppo pergi, tetapi parakang datang.

Perlawanan rakyat juga terjadi di Unra sebuah desa kecil 15 Km sebelah barat Watampone, ibukota afdeling Bone. Peristiwa terjadi pada tahun 1943, setelah setahun lebih kekuasaan Jepang bercokol di Bone.

Perlawanan juga terjadi di Kerajaan Mandar dilatar belakangi perjanjian pertama antara Mandar dan Belanda (VOC) dilakukan pada tanggal 11 Oktober 1674. Penandatanganan perjanjian yang mengikat Mandar serta mengakui kekuasaan Belanda di Mandar, bertempat di Bentang Rotterdam, Makassar.

Perjanjian inilah yang selalu dijadikan alat Belanda untuk mengawasi kerjaan Mandar, walupun control Belanda terhadap kerjaan ini tidak seketat Gowa dan Bone. Campur tangan kekuasaan asing itulah yang menyebabkan terjadinya perlawanan rakyat Mandar, baik oleh Calo Ammana I Wewang di Pitu Babana Binanga dan Pottolawi (dua bersaudara) maupun oleh Demmatande di Pitu Ulunna.

SEJARAH TIMBULNYA PERGERAKAN NASIONAL DI SULAWESI SELATAN
Penulis: Tim Aksara
Editor: Nonci
Penerbit: CV. AKSARA
Tempat Terbit: Makassar
ISBN: 978-602-97216-9-0

JANGAN MATI DALAM KEMISKINAN ROMAN BIOGRAFI H.Z.B. PALAGUNA


Lazimnya kata orang, “guru yang terbaik adalam pengalaman”. Jika pengalaman orang lain bisa dipelajari, mengapa tidak mencontohnya saja. Dan lewat pengalaman itu pula, seorang anak bernama Haji Zainal Basrie Palaguna mencari jati diri. Ia harus terseok melewati onak kehidupan hingga mampu mendalami petuah dan pesan-pesan nenek dan orang tuanya yang ketika masih muda, tidak ia pedulikan.

Seiring waktu, Basire –begitu akrabnya disapa ayahnya, Palaguna daeng Makkelo –, satu demi satu ajaran hidup yang telah diberikan, ia buktikan kebenarannya. Apalgi, pesan ayahnya yang tak bisa ia lupakan bahwa aja’ mumate kasi-asi (jangan mati dalam kemiskinan) yang sarat makna. Jika awalnya kemiskinan itu hanya bersinggungan dengan materi (harta), maka pengalaman hidup telah mengajari Basrie. Kemiskinan itu beragam. Ada kemiskinan harta, rohani, kesehatan, ilmu, juga teman.

Perjalanan hidup terus memberinya pengajaran yang tak bisa didapatkan di bangku-bangku sekolah. Kerja keras, upaya keras, dan segala hidup yang keras, telah membentuk kepribadiannya yang pada dasarnya sudah terbekali sejak lahir. Ajaran hidup neneknya pun ia terapkan. Ia mengerti tentang makna ewako. Juga tahu sipakatau dan budaya Bugis-Makassar lainnya. Pengenalan pertanian dari ayahnya, membuatnya mencintai alam. Ia tahu komoditas unggulan. Ia mampu membawa Sulsel terlepas dari jerat-jerat krisis ekonomi berkepanjangan yang menerpa Indonesia.

Basrie telah mampu menjadi panutan. Ia memberi contoh, seperti ketika Andi Pangerang Petta Rani mengusik batinnya untuk meniru segala sepak terjang Gubernur Militer Sulawesi itu.  Setidaknya: ZB. Palaguna tak malu-malu mengakui bahwa ia meniru gaya memimpin, cara berpikir, dan bertindak ala Petta Rani. Beliau telah membuktikan dirinya sebagai orang yang memiliki banyak pengalaman hidup yang patut dicontoh.

Buku biografi JANGAN MATI DALAM KEMISKINAN ROMAN BIOGRAFI H.Z.B. PALAGUNA di tulis dalam bentuk yang jarang atau belum pernah dilakukan orang lain. Beliau berharap biografinya ditulis seperti alur cerita dalam Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck roman yang ditulis Buya Hamka.

Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Perpustakaan Abdurrasyid Daeng Lurang yang berlokasi di jalan Kenanga No. 7A Sungguminasa, Kabupaten Gowa mengenai semua elemen kehidupan (kharismatik, ketegasan memimpin, kecerdasan, maupun keusilan dan kenakalannya) yang saling terkait terhadap diri pribadi dari seorang HZB Palaguna.


JANGAN MATI DALAM KEMISKINAN
ROMAN BIOGRAFI H.Z.B. PALAGUNA
Penyusun: Asdar Muis RMS, Dahlan Abubakar
Penerbit: Lembaga Penerbitan Universitas Hasanuddin
Tempat Terbit: Makassar
Tahun Terbit: 2002
ISBN: 979-530-052-0

July 30, 2020

PERJANJIAN BAGI HASIL ATAU “TESENG” DI SULAWESI SELATAN



Salah satu asset kebudayaan nasional yang terdapat di Sulawesi Selatan ialah pranata teseng, karena teseng itu dijadikan sarana utama untuk mewujudkan kerjasama yang terkuno bentuknya dibidang pertanian guna memproduksi padi dan beras.

Perkembangan teseng atau bagi hasil di Sulawesi Selatan dapat dikemukakan sebagai berikut:
Di Kabupaten Sidenreng Rappang Sulawesi Selatan, teseng mulai dikenal pada zama raja-raja sebelum Belanda menaklukkan Sulawesi Selatan. Istilah teseng dalam bahasa Bugis, atau tesang dalam bahasa Makassar berarti perjanjian bagi hasil di bidang pertanian pada umumnya, dan adalah suatu pranata hukum adat yang berakar, tumbuh dan hidup dalam masyarakat dari dahulu kala sampai sekarang.

Menurut sejarah teseng di Sulawesi Selatan, pada mulanya pembagian masing-masing pihak ditetapkan oleh arung (raja), sehingga disebut teseng arung, karena pada waktu itu hanya raja yang mempunyai sawah/tanah. 

Pengikut raja yang disebut joa ditugaskan membuka tanah menjadi sawah atau mencetak sawah baru yang lazim disebut pakkabekka, tanahnya disebut galung abbekang (sawah yang baru dicetak). Pakkabekka inilah yang mula-mula membuka tanah atau mencetak sawah baru, kemudian di panen, maka pembagian penggarap ditetapkan oleh raja sebanyak 90% dan 10% untuk raja. Pembagian seperti ini lazim disebut teseng seppulo, atau teseng sepuluh.

Dasar hukum berlakunya teseng, adalah atas kata sepakat, dalam bahasa Bugis dapat dikatakan samaturuu antara pemilik dengan penggarapnya.

Pihak-pihak yang membuat perjanjian teseng pada mulanya adalah pihak raja dengan joanya (pengikutnya). Lama kelamaan dari pihak pemilik dan penggarapnya atau kedua belah pihak yang bersangkutan.

Bentuk perjanjian teseng senantiasa lisan. Oleh karenanya patut ditingkatkan menjadi budaya tulisan guna menyesuaikan perkembangan tuntutan zaman modern.

Alasan terjadinya teseng, pada mulanya bersumber dari ketidak sanggupan para pemilik sawah mengerjakan sawahnya sendiri yang disebabkan beberapa hal, tetapi berproduksi secara berkesinambungan, maka jalan keluarnya dicarinyalah tenaga penggarap yang berprofesi petani.

Mengenai objek tanaman pada umumnya tanaman padi dan tenaga kerja petani penggarap, dan pembagian hasilnya adalah padi atau gabah yang dibagi secara natura dari hasil bersih atau netto.

Adapun kewajiban penggarap terhadap pemilik tanah atau sawah adalah mengerjakan sawah secara baik yang meliputi mulai dari memasukkan air kedalam sawah, membajak, menanam, memelihara tanaman padi sampai memotong padi.

Biaya-biaya yang lazim dikeluarkan antara lain: biaya pembelian bibit/benih; Biaya tanam; Biaya pembelian pupuk; Biaya pembelian obat-obatan; Biaya pengolahan traktor; dan Biaya pembayaran IPEDA atau PBB (Pajak Bumi dan Bangunan).

Adapun mengenai pembagian hasil menunjukkan mayoritas pembagian satu banding satu, dengan kata lain penggarap mendapat setengah dan pemilik tanah/sawah mendapat setengah dari hasil bersih sawah-sawah yang mendapatkan pengairan tehnis dan dikerjakan dua kali setahun, sedangkan pembagian hasil 2/3 bagi penggarap dan 1/3 bagi pemilik sawah dari hasil sawah yang kondisi tadah hujan.


Bahkan dalam perkembangan teknologi modern, teseng atau bagi hasil yang sudah membudaya nasional, bukan hanya berlaku di tingkat nasional, tetapi sudah berlaku di tingkat internasional sejak pihak PERTAMINA mengadakan atau menetapkan perjanjian bagi hasil (production sharing) dengan kontraktor-kontraktor minyak asing mulai dari tahun enam puluhan sampai dengan sekarang.

Buku PERJANJIAN BAGI HASIL ATAU “TESENG” DI SULAWESI SELATAN merupakan hasil kajian melalui penelitian ilmiah yang menggali keberadaan dan peranan teseng dari dahulu kala sampai dengan abad modern. Budaya teseng lahir pada zaman kuno dan telah memasyarakat pada zaman modern. Dalam sistem teseng tidak dikenal istilah majikan dan buruh. Penggarap dan pemilik tanah sama-sama kedudukannya dalam hukum.

Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Perpustakaan Abdurrasyid Daeng Lurang yang berlokasi di jalan Kenanga No. 7A Sungguminasa, Kabupaten Gowa untuk mengetahui salah satu pranata huku adat “teseng” sangat besar peranannya di bidang pertanian, karena teseng sejak keberadaannya dijadikan sarana utama untuk mewujudkan bentuk kerja sama  yang kuno di bidang pertanian guna memproduksi padi dan beras.

PERJANJIAN BAGI HASIL ATAU “TESENG” DI SULAWESI SELATAN
Penyusun: A.R. Mustara
Penerbit: Lembaga Percetakan dan Penerbitan Universitas Muslim Indonesia
Tempat Terbit: Ujung Pandang
Tahun Terbit: 1993

ALLAH SELALU BERSAMA KITA


Aldo dan Fitri yang berusaha memaknai sebuah peristiwa kehidupan. Pak Rohmat yang baik, suka menolong, sopan, dan shaleh harus meninggal dibunuh perampok yang merampas sepeda motornya. Ia meninggalkan istri dan empat orang anaknya yang masih kecil-kecil. Ia tidak meninggalkan harta yang cukup untuk menyambung kehidupan ekonomi keluarga yang ditinggalkannya. Semenjak Pak Rohmat tiada, Fitri dan adik-adiknya membantu orangtuanya berjualan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Sebagai sahabat, Aldo dan Nurul berempati dengan nasib yang menimpa keluarga Pak Rohmat.

Novel ALLAH SELALU BERSAMA KITA berupaya menanamkan kepada anak bagaimana belajar menerima takdir Allah, serta memandang suatu peristiwa yang tidak disukai dengan sudut pandang seorang beriman. Selain itu, novel ini juga mengajarkan kepada anak untuk saling peduli dan saling menolong tanpa memandang latar belakang seseorang. Sebab, manusia adalah makhluk sosial yang saling membutuhkan.

Novel seri keluarga sakinah ini merupakan salah satu koleksi Layanan Perpustakaan Abdurrasyid Daeng Lurang yang berlokasi di jalan Kenanga No. 7A Sungguminasa, Kabupaten Gowa, Provinsi Sulawesi Selatan, memberikan pelajaran seperti lebah yang kehadirannya dapat memberi manfaat kepada orang lain.


ALLAH SELALU BERSAMA KITA
Penulis: Bambang Joko Susilo
Editor: Ismayani
Penerbit: Zikrul Kids
Tempat Terbit: Jakarta
Tahun Terbit: 2014
ISBN: 978-979-063-910-2

ZAMAN SEBELUM MASUKNYA AGAMA ISLAM DAN ZAMAN MASUKNYA AGAMA ISLAM (DI SOPPENG, SIDENRENG, WAJO DAN BONE)



Dalam sejarah kehidupan suku-suku bangsa di Sulawesi Selatan, termasuk Soppeng, datangnya suatu masa yang dikenal zaman To Manurung, umumnya dipandang sebagai fase dari peletakan dasar-dasar hidup berpemerintahan, bahkan juga kehidupan sosiokultural. Dasar-dasar kehidupan tersebut kemudian menjadi tradisi yang secara estafet diwariskan turun temurun dari suatu generasi ke generasi berikutnya sampai generasi sekarang.

Buku ZAMAN SEBELUM MASUKNYA AGAMA ISLAM DAN ZAMAN MASUKNYA AGAMA ISLAM (DI SOPPENG, SIDENRENG, WAJO DAN BONE) membahas tentang zaman sebelum masuknya agama Islam yang di tandai dengan kedatangan To Manurung; perjanjian politik antara Bone, Wajo dan Soppeng;  perjanjian politik antara Soppeng dan Wajo; perjanjian antara Soppeng dan Luwu; pertempuran melawan Kerajaan Lamuru; pertempuran melawan Kerajaan Ajattappareng; pertempuran melawan Kerajaan Cenrana; pertempuran melawan pasukan Kerajaan Gowa di Suppa; pertempuran melawan pasukan Kerajaan Gowa di Maroanging; Pertempuran melawan pasukan Kerajaan Gowa di Pare-pare; pertempuran melawan pasukan Kerajaan Gowa di Rappang; pertempuran melawan pasukan Kerajaan Gowa di Soppeng; pertempuran melawan pasukan Kerajaan Wajo; dan pertempuran melawan pasukan Kerajaan Bone.

Sedangkan zaman masuknya agama Islam di Soppeng, Sidenreng, Wajo dan Bone mengenai pengembangan Islam dapat diterima orang, terutama karena sebelum Islam menjadi agama resmi Kerajaan Gowa pernah raja-raja mengadakan suatu perjanjian yang merupakan “ikrar bersama” yang berbunyi Bahwa barang siapa (diantara raja-raja itu) ada menemukan sesuatu jalan yang lebih baik, maka berkewajibanlah yang menemukan jalan itu memberitahukan pula kepada raja-raja lainnya yang turut berikrar pada perjanjian tersebut.

Berdasarkan perjanjian yang telah diikrarkan bersama itu, Sultan kerajaan Gowa lalu mengajak raja-raja lain itu, supaya menempuh pula jalan yang lebih baik, ialah “memasuki Islam”. Seruan Sultan Gowa itu segera mendapat sambutan beberapa raja-raja kecil, sehingga penyiaran Agama Islam di daerah raja-raja itu diterima dengan damai dan rela.

Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Perpustakaan Abdurrasyid Daeng Lurang yang berlokasi di jalan Kenanga No. 7A Sungguminasa, Kabupaten Gowa mengenai sejarah Soppeng, Sidenreng, Wajo dan Bone.


ZAMAN SEBELUM MASUKNYA AGAMA ISLAM DAN
ZAMAN MASUKNYA AGAMA ISLAM
(DI SOPPENG, SIDENRENG, WAJO DAN BONE) JILID 1
Penulis : Tim Aksara
Editor: H. Nonci
Penerbit: Aksara
Tempat Terbit: Makassar

July 29, 2020

Perlunya Alih Media



Istilah Alih Media mulai muncul ketika kertas tidak lagi menjadi satu satunya media penyimpanan dan perekaman informasi. Ketika Perang terjadi perang antara Rusia dan Prancis pada abad ke-19 (1870), tentara Prancis menggunakan teknologi fotografi mikro untuk menyelamatkan dokumen dokumen penting saat kota Paris mulai dikepung oleh tentara Rusia. Foto foto dokumen dalam bentuk mikro tersebut lebih aman dibawah tanpa takut ketahuan oleh tentara Rusia.  Awal abad ke-19 (1839) teknologi fotografi mikro (microfilm) ditemukan oleh Benyamin Dancer dan itulah yang dimanfaatkan oleh tentara Prancis untuk menyelamatkan dokumennya. Microfilm ini mampu menyimpan informasi baik berupa tulisan maupun gambar yang tidak bisa dibaca dengan mata telanjang. Informasinya hanya bisa diakses dengan menggunakan microfilm reader (mesin pembaca microfilm). Konon, microfilm yang digulung kecil itu dikirim melalui kurir burung merpati antara post yang satu ke post yang lain ditengah medan perang.  

Jadi pada awalnya, istilah alih media itu dimaksukan adalah mengalihkan media informasi dari kertas ke microfilm. Namun, seiring perkembangan zaman, microfilm kemudian mulai juga mengalami keusangan. Teknologinya sudah mulai ditinggalkan dan dialih-mediakan lagi ke teknologi yang lebih baru. Di Unit Kearsipan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Sulawesi Selatan di Tamalanrea, Makassar, teknologi Microfilm masih digunakan, terutama untuk akses informasi naskah naskah lontara kuno (manuscript), koran tua, atau arsip rapuh yang telah dimicrofilm-kan.  Ada 3 mesin microfilm reader yang ada di ruang baca arsip, 2 mesin reader manual dan 1 mesin yang reader digital. Yang digital bukan hanya untuk membaca (reader) tapi juga bisa untuk mencetak (printer), namanya microfilm reader printer.   

Naskah naskah Lontara adalah yang paling banyak dialih-mediakan ke Microfilm. Ada 4029 judul naskah Lontara yang tersimpan di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Sulawesi Selatan yang semuanya sudah dimicrofilmkan. Pengguna, peneliti atau pemustaka hanya bisa mengakses informasi naskah tersebut lewat media microfilm. Kecuali jika penelitian membutuhkan fisik naskahnya, barulah naskah aslinya diperlihatkan, itupun harus dengan kehati-hatian, karena sifat naskah Lontara yang sangat fragile (mudah rusak, sobek, dan lain lain).

Mengapa lembaga lembaga yang mengelola Informasi harus melakukan Alih Media? Setidaknya ada 4 alasan penting perlunya alih media arsip, koran, buku, dan dokumen lainnya.  


         Mengatasi kurangnya ruang penyimpanan
Tidak semua organisasi atau institusi memiliki ruang penyimpanan dokumen, arsip atau buku yang luas. Dokumen dokumen kertas memerlukan ruang yang luas untuk menyimpannya. Arsip arsip konvensional dalam arti masih berupa kertas, biasanya dimasukkan kedalam dos atau box arsip lalu disusun dilemari arsip. Jika arsip sudah dimicrofilmkan, maka tempat penyimpanannya tidak perlu luas. Satu rol microfilm dapat memuat 2400 lembar arsip / dokumen ukuran A, atau sekitar 1200 lembar untuk dokumen ukuran A3. Ruang penyimpanan yang dibutuhkan untuk rol rol microfilm itu yang kecil saja, yang penting suhu ruang harus disesuaikan dengan sifat dan karakteristik media microfilm agar awet dan tahan lama.

         Mencegah kerusakan dokumen yang sering diakses
Arsip arsip kertas, dan buku atau dokumen kertas jika sering diakses, digunakan lama kelamaan akan rapuh, dan bisa dengan cepat rusak, baik karena faktor internal maupun eksternal. Apalgi jika pengguna menggunakannya dengan tidak hati hati, arsip bisa sobek, kotor, basah, kena tinta pulpen dan lain lain. Hal hal ini semua tidak perlu terjadi jika arsip yang dilayankan kepada pengguna, pemustaka, peneliti adalah arsip dalam format microfilm. Pengguna dapat membaca informasi lewat microfilm reader, tanpa perlu lagi menyentuh arsip aslinya. Tentu hal ini akan semakin memperpanjang usia arsipnya. Begitu pula buku buku yang telah dialihmediakan, dapat dilayankan kepada pemustaka dalam bentuk media baru (microfilm, atau digital). Arsip digital juga enak dibaca karena jika huruf hurufnya kecil, maka kita dapat men-zoom-nya agar huruf hurufnya nampak lebih besar dan mudah dibaca.

         Melestarikan dokumen/koleksi langka
Arsip arsip yang sudah masuk kategori permanen, koran koran tua yang langka, buku buku muatan lokal atau yang juga masuk kategori langka adalah yang perlu diprioritaskan untuk alih media. Jika dokumen, arsip, koran, buku buku sudah dialihmediakan, maka dokumen aslinya disimpan saja untuk pelestariannya. Arsip yang tidak sering disentuh manusia, tidak sering berada diruang dengan suhu udara yang berbeda beda akan tahan lebih lama. Arsip foto yang sering dipegang pegang oleh pengguna, lama lama fotonya akan rusak, karena selain kena atau dipegang tangan manusia, juga kadang kadang kena sinar matahari, atau kena asam kertas, lama lama akan menimbukan warna kekuning-kuningan pada dokumen tersebut. Jika dokumen telah dialihmediakan maka dokumen dokumen tersebut akan tersimpan saja dengan aman, dan hanya digitalnya atau microfilmnya saja yang digunakan.   

         Perkembangan Teknologi Informasi
Perkembangan teknologi juga penting menjadi pertimbangan alih media dokumen. Dulu banyak arsip arsip suara yang tersimpan dan terekam pada pita kaset, dan juga banyak arsip pandang-dengar (audio-visual) yang terekam pada video kaset dan open-reel. Sekarang, alat pembaca atau pemutar jenis arsip itu sudah langka bahkan mungkin sudah tidak ada. Arsip arsip suara dan arsip pandang-dengar harus segera dialihmediakan ke media terkini yang paling baru.
Pada masa masa awal munculnya computer, kita banyak menggunakan floppy disk untuk menyimpan informasi. Sekarang ini, semua computer dan laptop tidak lagi menyediakan slot floppy disk didalamnya. Juga sempat beredar media penyimpanan CD (Compact Disk), dan itupun juga sudah using, dan tidak ada lagi. Para pengelola informasi pada lembaga lembaga pemerintah maupun swasta, perlu segera mengalihmediakan semua dokumen yang dimilikinya, agar selain mudah dilestarikan media kertasnya, juga mudah diakses media elektronik atau digitalnya. Kita seakan akan berpacu dengan teknologi agar informasi yang kita simpan tetap up to date. Tapi tentu saja, media penyimpanan apapun, yang baru maupun yang lama, yang mutakhir maupun yang kuno, selalu saja ada kekurangan dan kelebihan masing masing.  Nothing’s perfect, right?

Gedung Multimedia, 28 Juli 2020.



BUDI DAYA MENTIMUN


Mentimun atau ketimun merupakan salah satu sayuran menghasilkan buah dengan produksi nasional (2013) sebesar 491.636 ton. Mentimun dapat tumbuh baik di daerah tropis dan sub tropis. Sebab itu sayuran ini hampir di kenal diberbagai negara di dunia. Asal tanaman ini adalah Himalaya di Asia Utara.

Mentimun merupakan sayuran yang dikonsumsi mentah atau sebagai bahan makanan yang diawetkan seperti acar. Mentimun juga banyak dimanfaatkan untuk perawatan kecantikan, berikut beberapa manfaat lain dari mentimun yakni detoksifikasi, obat hipertensi, makanan/obat pelangsing, anti serangga, mengobati sengatan lebah, obat sariawan, memperlancar buang air kecil, obat tifus, diare pada anak, dan anti kanker.

Potensi produksi mentimun per hektar sesungguhnya sangat tinggi bisa mencapai 49 ton per hektar. Tetapi di tingkat petani baru dapat dihasilkan 10 ton per hektar. Upaya-upaya pada aspek budi daya dapat dilakukan untuk mempertinggi produktivitas mentimun seperti dengan cara pemangkasan pucuk. Dengan pemangkasan pucuk, terutama pucuk utama akan mengurangi persaingan fotosintesis antara daun dan buah serta mengurangi seragam penyakit tanaman.

Buku BUDI DAYA MENTIMUN memberikan informasi yang mengenai budi daya mentimun pada para pembaca sebagai panduan dalam usaha tani mentimun, mulai dari syarat tumbuh, tehnologi budi daya, hama dan penyakit tanaman, panen dan pasca panen, peluang usaha tani mentimun, nilai gizi dan khasiatnya bagi kesehatan, serta cantik dengan mentimun.

Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Perpustakaan Abdurrasyid Daeng Lurang yang berlokasi di jalan Kenanga No. 7A Sungguminasa, Kabupaten Gowa membahas tentang mentimun selain untuk makanan, juga bisa dijadikan sebagai bahan perawatan kecantikan, serta kesehatan yang bernilai ekonomi tinggi. (***)
Editor: DS

BUDI DAYA MENTIMUN
Penulis : Tim Visi Mandiri
Penerbit : Visi Mandiri
Tempat terbit: Surakarta
Tahun Terbit : 2016
ISBN  : 978-602-317-055-5

KISAH WAFATNYA NABI MUHAMMAD S.A.W (VERSI BAHASA MAKASSAR)


Umumnya naskah kuno/buku lama yang ada di Indonesia isinya banyak dijiwai oleh ajaran keagamaan seperti naskah kuno yang berjudul Wafatnya Nabi Muhammad SAW. Naskah tersebut sebagai sumber kajian dan analisisnya berbentuk prosa, berbahasa Makassar ditulis dengan aksara Lontara.

Naskah “Wafatnya Nabi Muhammad saw” adalah naskah yang ditulis tangan dengan memakai aksara Lontaran berbahasa Makassar yang berasal dari salah seorang orang tua yang tinggal di Kabupaten Gowa, sebagai pemiliknya.

Menurut pengakuan pemiliknya naskah yang sudah berusia sekitar 70 tahun, naskah yang diterima dari orang tuanya yang menyimpannya dengan baik dalam peti di antara lipatan-lipatan pakaiannya. Dalam waktu-waktu tertentu, sekurang-kurangnya sekali dalam setahun yaitu pada bulan Rabiulawal bulan kematian Nabi Muhammad sesuai yang disebut dalam naskah, maka naskah diambil dari penyimpanannya lalu di baca dengan sedikit upacara, walau sederhana tetapi hidmat. Sampai sekarang pemilik naskah ini melanjutkan kebiasaan orang tuanya dahulu yaitu menyimpan dan menjaga dengan baik naskah ini serta mengupacarakannya sekurang-kurangnya sekali setahun seperti tersebut di atas.

Buku KISAH WAFATNYA NABI MUHAMMAD S.A.W (VERSI BAHASA MAKASSAR) berasal dari naskah yang berisi saat-saat Nabi Muhammad saw akan meninggalkan dunia fana dan juga tentang digambarkan kepribadian Muhammad sebagai pemimpin yang penuh tanggung jawab dan kecintaan pada umatnya.

Dikatakan bahwa Muhammad sangat berat meninggalkan dunia ini bukan karena cintanya pada sanak keluarganya melainkan karena cintanya pada umatnya. Kemudian barulah beliau rela meninggalkan umatnya setelah jelas baginya umatnya yang saleh akan mendapat tempat yang layak di sisi Tuhan.

Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Perpustakaan Abdurrasyid Daeng Lurang yang berlokasi di jalan Kenanga No. 7A Sungguminasa, Kabupaten Gowa dalam rangka menggali dan mengungkapkan nilai-nilai budaya bangsa, yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dari bahasa daerah (bahasa Makassar).

KISAH WAFATNYA NABI MUHAMMAD S.A.W
(VERSI BAHASA MAKASSAR)
Penyusun: S. Budi Santoso, Ambo Gani, Ahmad Yunus, dll
Penerbit: Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional
Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Nusantara
Tahun Terbit: 1990

SIAPA PENGGALI PANCASILA???

Oleh: Dra, Fadliah, M.M.


Pancasila sebagai Dasar Negara dan Pandangan Hidup Bangsa Indonesia telah beberapa kali mengalami ujian dalam sejarah, tetapi untuk sekian kalinya Pancasila tetap tegak berdiri. Tantangan dan gangguan terhadap Pancasila itu antara lain: Pengkhianatan PKI 1948, Pemberontakan Darul Islam, berbagai gerakan sparatisme yang timbul di daerah-daerah seperti  APRA, Andi Azis, PRRI/Permesta dan lain-lainnya.

Puncak dari ancaman dan tantangan terhadap Pancasila itu adalah Gerakan 30 September tahun 1965. Namun Pancasila tetap berdiri megah. Tidak lapuk oleh berbagai tantangan, tidak lekang oleh berbagai gangguan.

Tetap tegak berdirinya Pancasila sebagai Dasar Negara dan Pandangan Hidup Bangsa menunjukkan betapa saktinya Pancasila itu. Siapapun yang mencoba untuk merongrong dan melenyapkan Pancasila pasti hancur tergilas.

Kesaktian dan kejayaan Pancasila telah dicatat oleh tinta emas sejarah bangsa. Demikian juga Penghayatan dan Pengamalan Pancasila sudah menjadi tekad bangsa Indonesia.

Buku SIAPA PENGGALI PANCASILA??? Mencoba menampilkan berbagai pandangan dari tokoh-tokoh masyarakat, tokoh-tokoh politik dan sejarawan sebagai saksi sejarah dan yang bukan dimasukkan kategori sebagai saksi berbicara mengenai pandangannya tentang Pancasila, ditambah beberapa cuplikan selayang pandang mengenai bahan-bahan yang diperdebatkan maka dapat diambil kesimpulan bahwa pokok pangkal perbedaan pendapat ini terletak pada buku yang dipakai sumber utama. Buku itu adalah buku Prof. Mr. Muhammad Yamin “Naskah Persiapan UUD 45”.

Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Perpustakaan Abdurrasyid Daeng Lurang yang berlokasi di jalan Kenanga No. 7A Sungguminasa, Kabupaten Gowa, menampilkan berbagai pandangan, dengan harapan semoga generasi selanjutnya mendapatkan keterangan yang benar, yang bebas dari mitos-mitos yang di bikin-bikin dengan mengingkari fakta-fakta sejarah dan mengaburkan persoalan.

SIAPA PENGGALI PANCASILA???
Penyusun: Anjar Any
Penerbit: CV. MAYASARI
Tempat Terbit: Solo
Tahun Terbit: 1982

July 28, 2020

BUDI DAYA KEDELAI


Kedela (Glycine maxi L.) merupakan tanaman asli daratan Cina dan telah dibudidayakan oleh manusia sejak 2500 SM. Sejalan dengan makin berkembangnya perdagangan antara negara yang terjadi pada awal abad ke-19, menyebabkan tanaman kedelai ikut juga tersebar ke berbagai negara tujuan perdagangan tersebut, yaitu Jepang, Korea, Indonesia, India, Australia, dan Amerika. Kedelai mulai dikenal di Indonesia sejak abad ke-16. Awal mula penyebaran dan pembudidayaan kedelai yaitu di pulau Jawa, kemudian berkembang ke Bali, Nusa Tenggara, dan pulau-pulau lainnya.
Tanaman kedelai salah satu komoditas tanaman pangan yang sangat dibutuhkan oleh penduduk Indonesia. Kedelai dipandang penting karena merupakan sumber protein nabati, lemak, vitamin dan mineral yang murah dan mudah tumbuh di berbagai wilayah Indonesia.
Sebagai bahan makanan kedelai mempunyai kandungan gizi yang tinggi terutama protein (40%), lemak (20%), karbohidrat (35%) dan air (8%). Di Indonesia, kedelai banyak diolah untuk berbagai macam bahan pangan, seperti tauge, susu kedelai, tahu, kembang tahu, kecap, oncom, taoco, tempe, es krim, minyak makan, dan tepung kedelai. Selain itu,juga banyak dimanfaatkan sebagai bahan pakan ternak.
Kedelai merupakan salah satu bahan masakan yang biasa digunakan oleh masyarakat di Indonesia. Banyak masakan asli Indonesia yang menggunakan bahan ini. Buku BUDI DAYA KEDELAI mengupas upaya pembudidayaan kedelai mulai dari sibulat kecil penggugah selera, mengenal kedelai, produksi kedelai nasional, kandungan nutrisi kedelai, olahan kedelai, teknik budi daya kedelai, hama dan penyakit kedelai, panen dan pasca panen kedelai, serta analisis usaha tani kedelai.
Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Perpustakaan Abdurrasyid Daeng Lurang yang berlokasi di jalan Kenanga No. 7A Sungguminasa, Kabupaten Gowa membahas teknik budi daya, nilai gizi dan manfaat kedelai serta olahan kedelai. (***)
Editor: DS

BUDI DAYA KEDELAI
Penulis  : Tim Agro Mandiri
Penerbit : Visi Mandiri
Tempat Terbit: Surakarta
Tahun Terbit  : 2016
ISBN       : 978-602-317-204-7

BUDI DAYA KACANG HIJAU

Kacang dengan sebutan si bulat hijau bertubuh mungil ini adalah sejenis tanaman budidaya dan palawija yang dikenal luas di daerah tropika. Tumbuhan yang termasuk suku polong-polongan (Fabaceae) ini memiliki banyak manfaat dalam kehidupan sehari-hari sebagai sumber bahan pangan berprotein nabati tinggi. Kacang hijau di Indonesia menempati urutan ketiga terpenting sebagai tanaman pangan legum, setelah kedelai dan kacang tanah.
Kacang hijau memiliki kandungan protein yang cukup tinggi sebesar 22% dan merupakan sumber mineral penting, antara lain kalsium dan fosfor. Sedangkan kandungan lemaknya merupakan asam lemak tak jenuh. Berikut manfaat dari kacang hijau yakni: membantu penyerapan nutrisi, mencegah penyakit jantung, mencegah anemia, membantu pertumbuhan, aman dikonsumsi penderita diabetes, menurunkan kadar kolesterol, mencegah kanker payudara, membantu mengatur hormon pasca menopause,  memperlancar pencernaan, membantu penyerapan protein dalam tubuh, sebagai sumber energi, memaksimalkan kerja sistem syaraf, meningkatkan keaktifan fisiologi tubuh, dan sebagai antioksidan.
Bagian paling bernilai ekonomi adalah bijinya. Salah satu cara meningkatkan nilai tambah pada biji kacang hijau adalah dengan mengolahnya menjadi berbagai produk olahan yang tahan lebih lama. Biji kacang hijau diolah dengan digiling/dihaluskan menjadi tepung, digunakan sebagai bahan subtitusi tepung terigu. Karena tergolong tinggi penggunaannya dalam masyarakat, maka kacang hijau ini memiliki tingkat kebutuhan yang cukup tinggi. Dengan teknik budidaya dan penanaman yang relatif mudah, budidaya tanaman kacang hijau memiliki prospek yang baik untuk menjadi peluang usaha bidang agrobisnis.
Kacang hijau merupakan salah satu komoditas tanaman unggulan yang sangat cocok untuk dibudidayakan di Indonesia. Buku BUDI DAYA KACANG HIJAU menginformasikan jenis-jenis kacang hijau, syarat tumbuh, cara budi daya kacang hijau, nulai gizi kacang hijau, khasiat kacang hijau untuk kesehatan olahan kacang hijau,  serta peluang pasar kacang hijau. 
Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Perpustakaan Abdurrasyid Daeng Lurang yang berlokasi di jalan Kenanga No. 7A Sungguminasa, Kabupaten Gowa, membahas tahap demi tahap dalam proses pembudidayaan tanaman kacang hijau serta beberapa olahan menggunakan kacang hijau baik untuk tepung atau minuman serta pemanfaatan limbah kacang hijau.(***)
Editor: DS

BUDI DAYA KACANG HIJAU
Penulis   : Tim Agro Mandiri
Penerbit : Visi Mandiri
Tempat Terbit : Surakarta
Tahun Terbit : 2016
ISBN    : 978-602-317-192-7

BUDI DAYA KACANG PANJANG

Kacang panjang (Vigna sinensis L.) merupakan salah satu dari tanaman leguminosa setelah kedelai dan kacang tanah yang berpotensi untuk dikembangkan. Hal ini dapat dilihat dari kebutuhan kacang panjang yang diperkirakan 839.500 ton/tahun. Padahal produksi kacang panjang tahun 2013 baru mencapai 450.859 ton polong segar atau sekitar 50% dari total kebutuhan penduduk.

Tanaman ini juga sangat potensial untuk dikembangkan sebagai usahatani karena selain mudah dibudidayakan, pangsa pasarnya juga cukup tinggi. Secara ekonomis, tanaman ini memiliki kekuatan pasar yang cukup besar. Pasar mampu menyerapnya meskipun produksi kacang panjang berlimpah pada musim panen. Kacang panjang juga dipasarkan ke luar negeri, salah satunya adalah ke negeri Belanda yang membutuhkan lebih dari 3 ton tiap minggunya.

Fakta ini memberi gambaran bahwa budidaya kacang memiliki prospek yang bagus, terlihat bahwa produksi kacang panjang tidak hanya untuk memenuhi pasar luar negeri. Tentunya ini memberi keuntungan tersendiri pada pembudidaya kacang panjang, yang memberikan nutrisi yang baik untuk tubuh, dan manfaat seperti mencegah diabetes, kesehatan kardiovaskuler dan jantung, sumber antioksidan, mencegah osteoporosis, baik untuk pencernaan, dan kesehatan tulang.

Buku BUDI DAYA KACANG PANJANG, memberikan wawasan dan pengetahuan mengenai budi daya kacang panjang dan berbagai aspek yang menyangkut sayuran berbentuk polong, mulai dari  mengenal kacang panjang, khasiat kacang panjang bagi kesehatan, cara bercocok tanam, analisis usaha tani kacang panjang, tumpang sari kacang panjang, kacang panjang organik, bisa ditanam di pekarangan, dan peluang usaha kacang panjang.

Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Perpustakaan Abdurrasyid Daeng Lurang yang berlokasi di jalan Kenanga No. 7A Sungguminasa, Kabupaten Gowa, memberikan gambaran lengkap budi daya kacang panjang dan analisis finansialnya serta pemanfaatan pekarang untuk budi daya yang menguntungkan. (***)

Editor: DS


BUDI DAYA KACANG PANJANG

Penulis  : Norbertus Kaleka

Penerbit: BISA! Publishing

Tempat Terbit : Surakarta

Tahun Terbit  : 2016

ISBN    : 978-602-317-058-6


July 27, 2020

Kedatuan Luwu, Persfektif Arkeologi, Sejarah dan Antropologi



Buku : Kedatuan Luwu, Persfektif Arkeologi, Sejarah dan Antropologi
Editor : Iwan Sumantri
Penerbit : Jendela Dunia berkerjasama dengan Pemda Luwu Timur
Jumlah Halaman : 324
Ukuran : 15 x 21 cm
ISBN : 978-979-15705-0-3

Luwu termasuk salah satu kerajaan (Kedatuan) tertua dan terbesar di Sulawesi bagian selatan dan termasuk daerah yang cukup banyak dijadikan obyek penelitian, baik oleh sejarawan, ahli arkeologi, dan ahli antropologi. Buku ini salah satu dari sekian banyak buku yang membahas tentang Kedatuan Luwu ditinjau dari berbagai sudut pandang keilmuan. Buku ini merupakan edisi kedua, setelah sebelumnya edisi pertama diluncurkan pada tahun 2000 silam. Tujuan utama penerbitan buku ini menurut Bupati Luwu Timur, H. Andi Hatta Marakarma, adalah untuk memberikan wacana kesejarahan bagi masyarakat Luwu Timur yang kemungkinan besar telah mulai memudar dari ingatan kolektif masyarakat.

Buku ini adalah kumpulan karya tulis ilmiah (makalah, paper) dari berbagai pakar sesuai disiplin ilmu masing masing. Keseluruhan karya tulis dibagi menjadi 3 bagian, yaitu Persfektif Arkeologi, Persfektif Sejarah, dan Persfektif Antropologi. Buku diawali dengan kata Sambutan Bupati Luwu Timur, H. Andi Hatta Marakarma, kata Sambutan Ketua DPRD Luwu Timur, H. Andi Hasan Opu To Hatta, dan Sekapur Sirih edisi Pertama dan Kedua oleh Iwan Sumantri dari Fakultas Ilmu Budaya Universitas Hasanuddin. Buku ini tercipta berkat kerjasama Pemda Luwu Timur dengan Jurusan Arkeologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Hasanuddin.

Bagian pertama adalah Kedatuan Luwu ditinjau dari persfektif Arkeologi, terdiri dari 7 (tujuh) karya tulis ilmiah yaitu :

1.      Menelusuri Jejak Lahirnya keberagaman Masyarakat Sulawesi Selatan: Persfektif Arkeologi, oleh Iwan Sumantri
2.      Laporan Ringkas Penelitian OXIS Project 1998, oleh David F. Bulbeck, Bagyo Prasetyo dan Iwan Sumantri.
3.       Investasi Arkeologi Atas Legenda Luwu di Pesisir Timur Teluk Bone, oleh Budianto Hakim dan M. Irfan Mahmud.
4.      Peranan Komunitas Berbudaya Toraja sebagai Penyangga Kedatuan Luwu, oleh M. Nur.
5.      Kompleks Benteng Wotu Tua di Desa Lampenai Kecamatan Wotu, Kabupaten Luwu Timur: Suatu Tinjauan  Arkeologi.
6.      Benteng Wotu: Persfektif Arkeologi Pascaprosessual, oleh Supriadi.
7.      Re-Interpretasi Arkeologi Terhadap Dinamika Peradaban Luwu, oleh M. Irfan Mahmud, Tanwir L. Wolman, dan Iwan Sumantri.

Kedatuan Luwu dari Persfektif Sejarah:

1.      Kerajaan Luwu dalam Persfektif Sejarah Sulawesi Selatan, oleh Edward L. Poelinggomang.
2.      Kerajaan Luwu, oleh Yunus Hafid.
3.      Melacak Jejak Nenek Moyang Orang Wotu, oleh Amrullah Amir
4.      Beberapa Catatab Kultural Sistem Pemerintahan “Kerajaan Luwu” Prakolonial Dipandang Dari Dimensi Birokrasi: Sebuah Refleksi Sejarah, oleh Andi Ima Kesuma.

Kedatuan Luwu dari Persfektif Antropologi:

1.      Negara Kesejahteraan Dalam Pemikiran Maccae Ri Luwu, oleh Anwar Ibrahim.
2.      Sistem Perkawinan Adat Luwu yang Relevan dalam Transformasi Kebudayaan Nasional, oleh Andi Ima Kesuma.

Buku ini ditutup dengan riwayat hidup Penulis secara alfabetis.