Showing posts with label Asdar Muis RMS. Show all posts
Showing posts with label Asdar Muis RMS. Show all posts

June 22, 2022

Obituary Asdar Muis RMS, Menunda Kekalahan dengan Karya, Teman dan Makan

Buku : Obituary Asdar Muis RMS, Menunda Kekalahan dengan Karya, Teman, dan Makan

Editor : Shaifuddin Bahrum & Andi Ahmad Saransi

Penerbit : Baruga Nusantara bekerjasama dengan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan

Tempat : Makassar

Tahun : 2015

Jumlah halaman : xx + 287

Ukuran : 14 x 21 cm

ISBN : 978-602-72149-2-7

 

Asdar Muis RMS wafat pada 27 Oktober 2014 lalu. Kepergiannya untuk selama-lamanya membuat banyak orang merasa kehilangan, bukan hanya keluarganya, tetapi juga sahabatnya, anggota komunitasnya, murid murid dan mitra kerja serta orang orang yang mengenalnya didunia maya (media sosial). Asdar Muis RMS dikenal sebagai orang yang multi talenta. Selain sebagai seorang wartawan, banyak profesi lain yang dia jalani. Beliau juga dikenal sebagai seniman, aktor, pemain teater, penulis, pelukis, cerpenis, dan essais serta banyak tahu soal sejarah kuliner khususnya kuliner Sulawesi Selatan. Ada banyak buku yang telah ditulisnya, atau yang di suntingnya, termasuk buku “Mata Air Peradaban, Memorial Gubernur Sulsel Syahrul Yasin Limpo”.

Buku ini adalah kumpulan kata kata kenangan, kisah kisah perkenalan dan persahabatan Asdar Muis RMS dari para keluarga, orang dekatnya dan orang jauh (orang yang tak pernah bertatap muka dengannya namun hanya berteman di media sosial), dan bahkan dari Gubernur Sulawesi Selatan (waktu itu) Syahrul Yasin Limpo dan Walikota Makassar Mohammad Ramdhan Pomanto. Dari semua penulis dalam buku ini, kita bisa merasakan akan rasa kehilangan yang mendalam atas kepergiannya.

Asdar Muis RMS memiliki jaringan persahabatan yang sangat luar, karena beliau pernah bermukim dan bertugas di beberapa daerah di Indonesia. Di Yogyakarta, Asdar pernah kuliah di ASDRAFI (Akademi Seni Drama dan Fim), pernah jadi wartawan dan bertugas di Jakarta, Manado, Palu, Samarinda dan di Makassar. Dengan adanya media sosial, jalinan pertemanan dengan Asdar semakin luas. Tulisan tulisannya yang panjang dan tanpa ada salah ketik (typo) sering menghiasi dinding Facebooknya dan di-like serta di komentari oleh banyak orang.

Shaifuddin Bahrum, penyunting (editor) buku ini mengatakan pada Kata Pengantar, bahwa, banyak juga teman dekat Asdar Muis RMS yang diminta untuk menuliskan kisah kenangannya dengan Asdar, namun, setiap kali berhadapan dengan laptop, pasti kesedihannya datang sehingga tak mampu menyelesaikan satu tulisan pun sampai batas waktu yang telah ditetapkan. Namun ada juga sumbangan tulisan dari orang yang hanya mengernal Asdar lewat dunia maya media sosial, dan tak pernah bertatap muka secara langsung.  

Orang orang yang menggoreskan kenangannya bersama Asdar Muis RMS dalam buku ini sebanyak 58 orang, mulai dari Gubernur Sulsel Syahrul Yasin Limpo, Walikota Makassar Mohammad Ramdhan Pomanto. Dari pihak keluarga ada istri beliau Herlina Asdar, dan juga Armyn Muis, Adnan Muis serta Abdul Rahman Abu.

Curahan kenangan dari sahabat sahabatnya, disusun secara alfabetis,  yaitu dari Abdul Rasyid Idris, Agus Sumantri, Andi Ahmad Saransi, Andhika Daeng Mammangka, Armin Mustamin Toputiri, Aspar Paturusi, Awit Radiani, Badaruddin Amir, Badauni A. Palinrungi, Bahar Merdhu, Basmawati Haris, Basuki Hariyanto, D. Zawawi Imron, Dimaz Rachmad, F. Daus A.R., Fahmi Syarief, Fonda Lapod Karikaturis, Goenawan Monoharto, Hanafi Saro, Hila Japi, Ishakim, Ishak Ngelajaratan, Johana Usagani, Luna Vidia, M. Anis Kaba, M. Dahlan Abubakar, Maesurah Abdullah, Mahrus Andis, Maria Ulfa, Maxi Wolor, Moh. Hasyimi, Mubha Kahar Muang, Muhammad Amir Jaya, Muhammad Nurullah, Muhammad Salim Makkarodda, Muhary Wahyu Nurba, Nur Alim Djalil, Nur Iswanara (alumni Asdrafi), Nurdin Abu, Pepih Nugraha, Rafli Febrinal, Ramli Palammai, Rusdin Tompo, Shaifuddin Bahrum, Suharman Musa, Syahriar Tato, Syahriel Patakaki, T.R. Andi Lolo, Tautoto TRS, Wawan Tunggul Alam, Yit Kampak dan Yudhistira Sukatanya.

Pada sampul belakang, terdapat kutipan dari Gubernur Syahrul Yasin Limpo tentang Asdar Muis RMS, “Asdar itu memiliki karakteristik yang khas, berbeda dengan teman-teman lainnya. Dia muncul saat tak dibutuhkan dan terlebih lagi saat dibutuhkan. Seringkali kalau saya lagi susah, banyak masalah, dia muncul tiba tiba dengan gayanya yang khas, sambil berdiskusi dan menawarkan berbagai pintu pintu alternatif.”

 



 

June 21, 2022

Mata Air Peradaban (Memorial Gubernur Sulsel Syahrul Ysin Limpo)




Buku : Mata Air Peradaban (Memorial Gubernur Sulsel Syahrul Yasin Limpo)

Penulis : Asdar Muis RMS (Ketua Tim)

Penerbit : Citra Pustaka Yogyakarta bekerjasama dengan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan

Tempat : Yogyakarta

Tahun : 2012

Ukuran : 15 x 21 cm

Jumlah Halaman : xxxii + 308

ISBN : 978-602-99724-2-9

 

Syahrul Yasin Limpo, mantan Gubernur Sulawesi Selatan selama 2 periode dan sekarang menjabat sebagai Menteri Pertanian pada Kabinet Indonesia Maju 2019-2024. Di Sulawesi Selatan yang pernah dipimpinnya, cukup banyak buku yang membahas tentang beliau. Juga banyak koleksi buku yang ditulis sendiri oleh  SYL (panggilan akrab beliau) di berbagai perpustakaan baik di provinsi maupun di kabupaten kota. 

Buku ini adalah salah satu buku yang diterbitkan dan diprakarsai oleh Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan dalam rangka peringatan hari lahir ke-57 SYL yang lahir pada 16 Maret 1955. Tim penulis diketuai oleh Asdar Muis RMS dengan anggota : Muhammad Irham, Fachruddin Palapa, Maxi Wolor, Ahmad Saransi,  Andi Aco Zulsafri, dan Irma Yanti.

Diawali dengan pengantar dari Ketua Tim Penulis, Asdar Muis RMS, kemudian pengantar dari Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan, Drs. Ama Saing, pengantar dari SYL sendiri dan juga dari Prof. Dr. Andi Ima Kesuma.

Terdiri dari 4 bagian, dimana bagian pertama berjudul Jejak Sang Penanda Sejarah yang merupakan testimoni orang orang dekat SYL serta perjalanan hidup dan karir beliau di pemerintahan, mulai dari lurah, camat, bupati sampai menjadi gubernur. Pada bagian ini ada tulisan dari Agus Arifin Nu’man, wakil beliau selama 2 periode memimpin Sulsel, juga ada dari Azikin Soltan, M. Dahlan Abubakar, Suprapto Budi Santoso, Jufri Rahman, Agus Sumantri, Adi Surya Culla, Ahyar Anwar, Bahar Merdhu, Sawedi Muhammad, dan N. Ikawidjaja.

Selanjutnya ada bagian tentang Gairah Kinerja Ekonomi, Pembangunan Fisik yang tak Terlupakan, dan Pengakuan Terbaik. Pada bagian kedua “Gairah Kinerja Ekonomi” membahas berbagai keberhasilan SYL dalam membangun Sulawesi Selatan di bidang ekonomi. Sedangkan bagian ketiga, “Fisik Tak Terlupakan” lebih menekankan pada keberhasilan pembangunan sarana dan prasarana infrastruktur di Sulawesi Selatan. Sementara pada bagian terakhir, adalah berbagai pengakuan tentang keberhasilan beliau dalam memimpin Sulawesi Selatan.

Selama periode pertama kepemimpinannya bersama Agus Arifin Nu’mang, dari 2008 - Desember 2011 beliau menerima 105 penghargaan, baik dari Presiden, Menteri, dan lembaga lainnya. Hanya dalam waktu 3 tahun kepemimpinan beliau, penerimaan 105 penghargaan masuk dalam Museum Rekord Indonesia sebagai Gubernur dengan penghargaan terbanyak di Indonesia. Tahun 2011 beliau menerima pengahargaan Satya Lencana Karya Bhakti, sebuah penghargaan atas kinerja pemerintahan yang dianggap sangat memuaskan dari pemerintah pusat. Agustus 2011, SYL dianugerahi Bintang Maha Putra Utama dari pemerintah pusat sebagai tokoh sipil yang sangat berjasa kepada negara. SYL juga pernah menjadi “Gubernur para Gubernur” istilah yang diberikan kepada SYL saat terpilih sebagai Ketua Umum Assosiasi Pemerintahan Provinsi Seluruh Indonesia (APPSI) dalam Musyawarah Nasional (Munas) ke-4 di Semarang pada 9 Desember 2011.

Bagian terakhir dihiasi dengan foto foto dokumentasi berwarna berbagai kegiatan SYL, saat menerima tamu dari luarnegeri, meresmikan suatu proyek, saat menerima penghargaan dan juga foto keluarga beliau.

 


 

July 31, 2020

JANGAN MATI DALAM KEMISKINAN ROMAN BIOGRAFI H.Z.B. PALAGUNA


Lazimnya kata orang, “guru yang terbaik adalam pengalaman”. Jika pengalaman orang lain bisa dipelajari, mengapa tidak mencontohnya saja. Dan lewat pengalaman itu pula, seorang anak bernama Haji Zainal Basrie Palaguna mencari jati diri. Ia harus terseok melewati onak kehidupan hingga mampu mendalami petuah dan pesan-pesan nenek dan orang tuanya yang ketika masih muda, tidak ia pedulikan.

Seiring waktu, Basire –begitu akrabnya disapa ayahnya, Palaguna daeng Makkelo –, satu demi satu ajaran hidup yang telah diberikan, ia buktikan kebenarannya. Apalgi, pesan ayahnya yang tak bisa ia lupakan bahwa aja’ mumate kasi-asi (jangan mati dalam kemiskinan) yang sarat makna. Jika awalnya kemiskinan itu hanya bersinggungan dengan materi (harta), maka pengalaman hidup telah mengajari Basrie. Kemiskinan itu beragam. Ada kemiskinan harta, rohani, kesehatan, ilmu, juga teman.

Perjalanan hidup terus memberinya pengajaran yang tak bisa didapatkan di bangku-bangku sekolah. Kerja keras, upaya keras, dan segala hidup yang keras, telah membentuk kepribadiannya yang pada dasarnya sudah terbekali sejak lahir. Ajaran hidup neneknya pun ia terapkan. Ia mengerti tentang makna ewako. Juga tahu sipakatau dan budaya Bugis-Makassar lainnya. Pengenalan pertanian dari ayahnya, membuatnya mencintai alam. Ia tahu komoditas unggulan. Ia mampu membawa Sulsel terlepas dari jerat-jerat krisis ekonomi berkepanjangan yang menerpa Indonesia.

Basrie telah mampu menjadi panutan. Ia memberi contoh, seperti ketika Andi Pangerang Petta Rani mengusik batinnya untuk meniru segala sepak terjang Gubernur Militer Sulawesi itu.  Setidaknya: ZB. Palaguna tak malu-malu mengakui bahwa ia meniru gaya memimpin, cara berpikir, dan bertindak ala Petta Rani. Beliau telah membuktikan dirinya sebagai orang yang memiliki banyak pengalaman hidup yang patut dicontoh.

Buku biografi JANGAN MATI DALAM KEMISKINAN ROMAN BIOGRAFI H.Z.B. PALAGUNA di tulis dalam bentuk yang jarang atau belum pernah dilakukan orang lain. Beliau berharap biografinya ditulis seperti alur cerita dalam Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck roman yang ditulis Buya Hamka.

Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Perpustakaan Abdurrasyid Daeng Lurang yang berlokasi di jalan Kenanga No. 7A Sungguminasa, Kabupaten Gowa mengenai semua elemen kehidupan (kharismatik, ketegasan memimpin, kecerdasan, maupun keusilan dan kenakalannya) yang saling terkait terhadap diri pribadi dari seorang HZB Palaguna.


JANGAN MATI DALAM KEMISKINAN
ROMAN BIOGRAFI H.Z.B. PALAGUNA
Penyusun: Asdar Muis RMS, Dahlan Abubakar
Penerbit: Lembaga Penerbitan Universitas Hasanuddin
Tempat Terbit: Makassar
Tahun Terbit: 2002
ISBN: 979-530-052-0

February 4, 2020

Lima puluh Seniman Sulawesi Selatan dan Karyanya



Buku : Limapuluh Seniman Sulawesi Selatan dan Karyanya
Penulis : Yudhistira Sukatanya
Penerbit : Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Sulawesi Selatan, Makassar 2005
Jumlah Halaman : viii + 275
ISBN : -

Makassar telah melahirkan banyak seniman seniman sejak zaman dulu. Seniman dalam buku ini mencakup para pekerja seni tari, musisi dan pencipta lagu, penyanyi, pelukis dan pematung dan lain lain. Didalam buku ini hanya 50 orang seniman yang dibahas, jadi tentu saja masih banyak lagi seniman Sulawesi Selatan, terutama di daerah kabupaten/kota yang belum dicatat nama dan karya karyanya. Terbit tahun 2005 lalu sebagai langkah awal dalam mendata dan mengumpulkan seniman Sulawesi Selatan dan karyanya. Diharapkan, akan diterbitkan pula seniman seniman lain dari Sulawesi Selatan yang belum ada daftar di buku ini. 

Kita semua masyarakat Sulawesi Selatan mungkin sering mendengar lagu lagu daerah, atau malah sering menyanyikannya, namun kita tidak mengenal siapa pencipta lagunya, atau siapa yang pertama kali mempopulerkannya. Atau munkin sering melihat karya seni lukis, patung, atau tari tradisional tapi tidak mengetahui siapa pencipta karya seni itu. Buku ini berusaha menjelaskan kepada kita semua akan seniman Sulawesi Selatan yang telah berkonstribusi dalam pengembangan kesenian di Sulawesi Selatan. 

Adapun nama nama seniman yang ada dalam buku ini adalah: Abdullah Sijaya, Alim Walangadi, Alim Jalil, Andi Ummu Tunru, Anis Kaba, Andi Makmur Makka, Andi Sitti Nurhani Sapada Makkasau, Arief Gossin Gomulya, Arsyal Alhabsi, Asdar Muis RMS, Aslam Abidin, Aspar Paturusi, Atja Thaha, Badaruddin Amir, Bahar Merdhu, Cucut, Chaeruddin Hakim, Daeng Nawang, Daeng Te’ne, Dicky Chandra, Djamaluddin Effendy, Fahmi Syarif, Firman Djamil, Giok Sukarman, Husni Djamaluddin, Ida Joesoef Madjid, Iin Joesoef Madjid, Ishak Ngeljaratan, Iwan Tompo, Jurlan Em Saho’as, Kahar Wahid, M.A. Arifin, M. N. Syam, Mahrus Andhis, Mochtar Pabottingi, Moespa Edow, Munasiah Nadjamuddin, Nunding Ram, Radjab Fattah, Rahman Arge, Rahmansyah, Ram Prapanca, Ramto, Sakka Ali Yatimayu, S. Sinansari Ecip, Sirajuddin Bantang, Syahriar Tato, Syam Asrib, Udhin Palisuri dan Yudhistira Sukatanya. 

Pada bagian akhir buku, ada nama nama para penerima “Celebes Award” dari tahun 2002 – 2005.  

Bagi anda yang tertarik mengkaji kesenian Sulawesi Selatan, atau berniat menulis tentang seniman Sulawesi Selatan, maka buku ini bisa dijadikan rujukan. Meskipun tidak semua seniman tercatat dalam buku ini, namun tetap bisa member gambaran bagaimana kehidupan berkesenian para seniman Sulawesi Selatan. Buku ini Koleksi Perpustakaan Abdurrasyid Daeng Lurang, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Sulawesi Selatan.