August 31, 2020

BUDI DAYA CACING SUTRA

 

Pakan menjadi salah satu faktor penentu dari siklus budi daya perikanan khususnya fase larva. Akhir-akhir ini banyak bermunculan jenis-jenis ikan baik ikan konsumsi maupun ikan hias hasil dari rekayasa perikanan. Namun tingkat mortalitas (tingkat kematian) pada fase larva masih tinggi karena masih kurangnya penguasaan pengembangan teknologi pakan fase larva, khususnya pakan alami. Cacing sutera atau juga dikenal dengan cacing rambut adalah salah satu pakan alami yang sangat baik bagi pertumbuhan larva ikan. Cacing sutera (Tubifex sp)  cukup mudah untuk dijumpai. Kemanapun beradaptasi dengan kualitas air yang jelek membuatnya bisa dipelihara diperairan mengalir mana saja, bahkan pada perairan tercemar sekalipun.

Namun ketersediaanya di alam sangat terbatas bahkan pada waktu-waktu tertentu sangat sulit diperoleh. Maka pembudidayaan cacing sutera perlu dilakukan untuk menjadi solusi kelangkan cacing sutera. Minimnya informasi mengenai bagaimana cara budidaya cacing sutera menjadikannya sedikit orang yang meliriknya.

Buku BUDI DAYA CACING SUTERA berisi seluk beluk cacing sutera mulai dari si cacing rambut merah, persiapan budi daya cacing sutra, budi daya cacing sutra di kolam tanah, budi daya cacing sutera di nampan, panen, pascapanen, peluang pasar cacing sutra, serta analisis usaha budi daya cacing sutra.

Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Perpustakaan Abdurrasyid Daeng Lurang yang berlokasi di jalan Kenanga No. 7A Sungguminasa, Kabupaten Gowa memahami pakan pokok benih ikan dan menjadi peluang usaha dengan permintaan tinggi.

Editor: DS


BUDI DAYA CACING SUTERA

Penulis: Tim Agro Mandiri

Penerbit: Visi Mandiri

Tahun Terbit: 2016

Tempat Terbit: Surakarta

ISBN: 978-602-317-105-7

August 28, 2020

IN OUR TIME PIDATO-PIDATO YANG MEMBENTUK DUNIA

 


“Biarkan seratus bunga bermekaran, biarkan seratus aliran pemikiran beradu”

Mao Zedong (1893 – 1976)

Sang Pemimpin Cina mendorong keterbukaan dan kebebasan berekspresi pada siding ke-11 konferensi dewan negara tertinggi, Beijing, 27 Februari 1957.

“Ternyata memang sulit bagi si kuat untuk adil kepada si lemah”

Eamon de Valera (1882 – 1975)

Perdana Menteri Irlandia menjelaskan tentang Kebijakan Netral negaranya; disampaikan melalui Radio Eireann, 16 Mei 1945.

“Prajurit tua tak akan pernah mati, mereka hanya menepi”

Douglas MacArthur (1880 – 1964)

Pidato perpisahan salah seorang pahlawan militer terbesar Amerika Serikat di depan siding gabungan kongres, Washington DC, 19 April 1951.

Sebagian dari 40 pidato sejak tahun 1945 yang paling dikenal lantang dan berpengaruh. Buku IN OUR TIME – PIDATO-PIDATO YANG MEMBENTUK DUNIA berisi pidato keras akan ancaman totalitarianisme hingga pidato yang menyambut kemerdekaan yang telah lama diperjuangkan; mulai dari pidato yang mendesak dilakukannya perubahan politik hingga seruan untuk mempertahankan prinsip-prinsip moral.

In Our Time merupakan sebuah antologi berisi banyak suara diktator, tokoh demokrat, kaum liberal maupun konservatif, tokoh nasionalis maupun internasionalis, prajurit dan pejuang perdamaian, negarawan dan penguasa.

In Our Time merupakan sebuah antologi berisi banyak suara; diktator; tokoh demokrat, kaum liberal maupun konservatif, tokoh nasionalis maupun internasional, prajurit dan pejuang perdamaian, negarawan dan pengusaha.

Dalam buku ini tersaji pula pidato-pidato dari para tokoh politik paling menonjol di abad 20 dan awal abad 21. Selain naskah pidato yang disajikan juga disertai biografi singkat oratornya, uraian ringkas tentang situasi yang ada atau konteks sejarahnya, serta tinjauan tentang dampak dan konsekuensi dari setiap pidato tersebut.

 

IN OUR TIME

PIDATO-PIDATO YANG MEMBENTUK DUNIA

Judul Asli: In Our Time the Speeches the Modern World

Penulis: Hywell Williams

Penerbit: Erlangga

Tahun Terbit: 2009

ISBN: 978-979-075-070-8

August 26, 2020

BUDI DAYA KALKUN

 

Kalkun merupakan sebutan untuk spesies burung berukuran besar dari ordo Galliformes genus Meleagris. Spesies kalkum asal Amerika Utara disebut M. gallopavo sedangkan kalkun asal Amerika Tengah disebut M. ocellata. Kalkum hasil domestikasi yang diternakkan untuk diambil dagingnya berasal dari spesies M. gallopavo yang juga dikenal sebagai kalkun liar (Wild Turkey). Sedangkan spesies M. ocellata kemungkinan adalah hasil domestikasi suku Maya. Unggas ini mudah dikenali dari rentang sayapnya yang mencapai 1,5 – 1,8 meter.

Pemeliharaan ayam kalkun biasanya diperuntukkan sebagai ayam hias, namun tidak semua jenis kalkun cocok untuk dijadikan ayam hias. Jenis kalkum yang popular yang dijadikan ayam hias yakni jenis Bourbon Red Turkey, Narragansett Turkey, Blue Slate Turkey, Red Royal Palm Turkey, dan Ocellated Turkey. Sebangai ayam hias, tentunya jenis-jenis kalkun tadi memiliki harga yang fantastis, apalagi mengingat kalkun masih belum populer di kalangan masyarakat. Satu ekor kalkun jenis Bourbon Red Turkey dewasa bisa mencapai harga 2,5-3 juta.

Selain dipelihara sebagai ayam hias, akhir-akhir ini di Indonesia ayam kalkun dipelihara untuk dikonsumsi. Kebanyakan jenis kalkun yang dipelihara untuk dikonsumsi dari jenis kalkun Bronze. Kalkun jenis ini selain merupakan jenis kalkun pedaging yang baik, daging kalkun ini empuk dan lunak, serta memiliki serat halus dan memiliki tulang yang tidak keras, satu ekor kalkun dewasa bisa berkisar antara 300-400 ribu.

Kalkun memang tidak hanya berpotensi dijadikan sebagai hewan hias tapi juga untuk dikonsumsi. Buku BUDI DAYA KALKUN membahas tentang untung besar dari beternak burung besar sebagai sebagai pemula dalam beternak kalkun.

Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Perpustakaan Abdurrasyid Daeng Lurang yang berlokasi di jalan Kenanga No. 7A Sungguminasa, Kabupaten Gowa memahaminya budi daya kalkun sebagai peluang usaha.

Editor: DS


BUDI DAYA KALKUN

UNTUNG BESAR DARI BETERNAK BURUNG BESAR

Penulis  : Tim Agro Mandiri

Penerbit : Visi Mandiri

Tempat Terbit : Surakarta

Tahun Terbit   : 2016

ISBN  : 978-602-317-144-6

PENEMUAN TERHEBAT ILMUWAN MUSLIM

 


Perkembangan ilmu pengetahuan di Eropa sangat dipengaruhi oleh penemuan-penemuan para ilmuwan Muslim. Bangsa Barat terus menyerap dan mengkaji ilmu-ilmu tersebut, sehingga pada akhirnya mereka mengatakan bahwa ilmu-ilmu tersebut adalah penemuan mereka, seperti  James Watt, Darwin, Fibonacci, atau Wright Bersaudara. Padahal jauh sebelum mereka, telah muncul ilmuwan-ilmuwan Muslim seperti Ibnu Sina, Ibnu Firnas, Ibnu Haitsam, dan masih banyak lagi.

Buku ENSIKLOPEDIA PENEMUAN TERHEBAT ILMUWAN MUSLIM mengenai kisah penemuan hebat yang mengubah wajah dunia, yakni

  1. 365 Hari – Al-Battani
  2. Bedah Jantung – Ibnu Zuhr
  3. Berhitung – Ibnu Shuja
  4. Bintang – Abu Ma’shar
  5. Bola Dunia – Al-Idrisi
  6. Bulan – Ibnu Yunus
  7. Dunia Hewan – Al-Jahiz
  8. Dunia Tumbuhan – Ad-Dinawari
  9. Embriologi – Ibnu Al-Quff
  10. Gravitasi – Al-Khazini
  11. Hindiba –Al-Baitar
  12. Ilmu Kima – Jabir Ibnu Hayyan
  13. Kamera – Ibnu Haitsam
  14. Kedokteran – Ibnu Sina
  15. Logam – Az-Zarqali
  16. Matematika – Al-Khawarizmi
  17. Musik – Al-Farabi
  18. Negeri India – Al-Biruni
  19. Pelangi – Kamal Al-Din Al-Farisi
  20. Penjelajahan – Ibnu Batutah
  21. Peredaran Darah – Ibnu Nafis
  22. Pesawat Terbang – Ibnu Firnas
  23. Peta Dunia – Piri Reis
  24. Planetarium – At-Tusi
  25. Relativitas – Al-Kindi
  26. Robot – Al-Jazari
  27. Teori Evaluasi – Ibnu Miskawaih
  28. Urologi – Ar-Razi

Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Perpustakaan Abdurrasyid Daeng Lurang yang berlokasi di jalan Kenanga No. 7A Sungguminasa, Kabupaten Gowa menyajikan seputar kehidupan ilmuwan-ilmuwan Muslim di dunia yang telah memberikan inovasi penting yang telah digunakan dalam kehidupan sehari-hari.

 

ENSIKLOPEDIA PENEMUAN TERHEBAT ILMUWAN MUSLIM

KISAH PENEMUAN HEBAT YANG MENGUBAH WAJAH DUNIA

176 hlm, 17 cm

Penulis: Cahya Sri Fatin

Editor: Dede Abdurohman

Penerbit: nectar

Tempat Terbit: Jakarta

Tahun Terbit: 2013

ISBN: 978-979-063-474-9

BUDI DAYA BUNCIS

 


Kacang buncis mempunyai potensi penting dalam rangka pemenuhan gizi, perolehan devisa, peningkatan kesejahteraan masyarakat, dan perbaikan pendapatan petani. Dengan demikian, usaha tani sayuran mempunyai peluang dan prospek yang baik untuk dikembangkan (Badan Penelitian dan Pengembangan  Pertanian, 2002).

Kacang buncis merupakan penghasil sumber protein nabati dan dalam 100 g buncis segar mengandung 32 kalori, 2.40 protein, 0.20 g lemak, 7.10 g karbohidrat, dan bahan lain seperti fosfor dan beberapa macam vitamin (Sumartini, 1995) dan banyak mengandung lysine dan trytophane (Ashari, 1995), zat β-sitosterol, dan stigmasterol untuk mengobati penyakit diabetes mellitus (Rockman,2008) serta mudah dikembangkan budidayanya (Bangun dkk., 2001) sehingga dapat menambah pendapatan petani dan perluasan kesempatan kerja.

Buncis merupakan salah satu komoditas sayuran yang sangat dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan pasar domestik dan pasar ekspor. Meski peluang ekspor terbuka, tetapi khusus untuk kebutuhan domestik masih sangat kurang. Hal ini tampak dari meningkatkan impor sayur-sayuran terutama polong-polongan. Buncis termasuk sayuran polong yang memiliki nilai gizi dan khasiat bagi kesehatan, seperti:

  1. Mengendalikan glukosa
  2. Melancarkan pencernaan
  3. Merawat agar jantung tetap sehat
  4. Meningkatkan kekebalan tubuh
  5. Meningkatkan metabolisme tubuh
  6. Mengatasi batu ginjal.

Buku BUDI DAYA BUNCIS memberikan wawasan dan pengetahuan mengenai peluang usaha tani budi daya buncis, mulai dari teknologi budi daya tanaman buncis, hama dan tanaman buncis, panen dan pasca panen, serta nilai gizi dan khasiat buncis bagi kesehatan.

Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Perpustakaan Abdurrasyid Daeng Lurang yang berlokasi di jalan Kenanga No. 7A Sungguminasa, Kabupaten Gowa, sebagai sayuran dan dikonsumsi dan cukup besarnya permintaan baik dalam maupun luar negeri.

Editor: DS


BUDI DAYA BUNCIS

Penulis  : Tim Visi Mandiri

Penerbit : Visi Mandiri

Tempat Terbit  :  Surakarta

Tahun Terbit  : 2016

ISBN    : 978-602-317-031-9

RAPANG SULTAN ABDULLAH

 

Karaeng Matoa yang lebih dikenal dengan nama Sultan Abdullah yang meninggal di Bonto Biraeng berkata:

“Tiada yang dapat saya hadiahkan kepadamu kecuali inilah lima masalah penting yang dapat merupakan sumber kebahagiaan”.

Pertama, Kalau kamu berbuat, perhitungkanlah akibatnya.

Kedua, Janganlah engkau tersinggung ditegur atau diperingati.

Ketiga, Bersahabat dan bekerjasamalah dengan orang-orang jujur.

Keempat, Janganlah engkau percaya berita angina tetapi dengarlah dari sumbernya.

Kelima, Ingatlah! Apabila engkau mendendam engkau akan dijauhi.

Satu lagi wasiat dari beliau: “Hanya orang yang wajar membawa amanah (menjadi pemimpin) yang memiliki enam”:

Pertama, terbuka dan berlapang dada

Kedua, berjiwa taqwa

Ketiga, berani menegakkan hukum

Keempat, waspada dan hati-hati

Kelima, berilmu pengetahuan

Keenam, bersedia ditegur dan diperingati.

Satu lagi wasiatnya: “Janganlah mengangkat Tumakbicara kalau bukan keturunan tumakbicara. Jangan pula mengangkat suro (orang kepercayaan raja) kalau bukan keturunan suro. Apabila engkau mengangkat seseorang yang bukan dari keturunan tumakbicara maka ia akan membawa kehancuran. Demikian juga halnya suro yang diangkat bukan dari keturunan suro akan membawa kekalahan dalam pertempuran”.

 Janganlah kamu gentar menghadapi pertempuran

Janganlah kamu sayang hartamu untuk ke tanah suci bila telah memenuhi syarat

Janganlah kamu dinaiki karena yang dinaiki itu akan terbagi tiga. Sebagian berani, sebagian takut, dan sebagian lagi hanya mengurus keselamatan anak dan istrinya.

Janganlah engkau menaruh dendam kepada orang lain. Apabila engkau menaruh dendam kepada suro, engkau akan kalah.

Apabila ia (suro) berbuat kesalahan terhadapmu, maafkanlah dan jangan terburu nasfu mengambil tindakan sebab yang demikian akan merugikan diri sendiri.

Janganlah mengkhianati janji sebab yang demikian akan membawa kekalahan dalam perang.

Janganlah mengingkari janji sebab yang demikian akan menyebabkan padi-padi tidak berbuah.

Janganlah bersifat kikir dan pendendam tetapi bersifat pemaaflah agar di suatu saat engkau akan dimaafkan pula.

 

BEBERAPA ETIKA DALAM SASTRA MAKASSAR

Penyusun: B. F. Matthes

Penerbit: Proyek Penerbitan Buku Sastra Indonesia dan Daerah

Tempat Terbit: Jakarta

Tahun Terbit: 1985

BUDI DAYA ASPARAGUS

 

Asparagus memiliki nilai ekonomi yang tinggi, namun belum banyak tersedia di Indonesia. Asparagus ini masih banyak diimpor dari Amerika. Berdasarkan nilai kemanfaatan asparagus dan potensi di Indonesia tersebut, maka tanaman ini sangat berpotensi sebagai tanaman untuk produk lokal dan internasional.

Asparagus adalah tanaman sub tropis yang diambil rebungnya untuk dikonsumsi. Sup asparagus  adalah menu yang wajib tersedia di hotel dan restoran berbintang. Namun beda dengan sayuran sub tropis lain seperti kol, brokoli, kentang dan wortel yang sudah dibudidayakan  di Indonesia, maka asparagus masih harus diimpor. Budidaya asparagus memang pernah dilakukan di Kab. Sukabumi dan Cianjur di Jawa Barat, serta Kab. Mojokerto dan Malang di Jawa Timur. Namun, budidaya asparagus secara besar-besaran pada tahun 1980an tersebut telah mengalami  kegagalan. Penyebab kegagalan tersebut ada beberapa hal, di antaranya karena faktor budidayanya.

Buku BUDI DAYA ASPARAGUS hadir sebagai sarana mempermudah dalam membudidayakan asparagus. Dengan memiliki pengetahuan tentang seluk beluk asparagus, maka diharapkan akan dapat memperoleh hasil yang maksimal dalam pembudidayaannya.

Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Perpustakaan Abdurrasyid Daeng Lurang yang berlokasi di jalan Kenanga No. 7A Sungguminasa, Kabupaten Gowa, membahas tentang Asparagus, Sang Ratu Sayuran; Mengenal Asparagus; Jenis-jenis Asparagus; Syarat tumbuh; Tehnik Budi Daya Asparagus; Panen Dan Pasca Panen; Hama Dan Penyakit Asparagus; Kandungan Nutrisi dan Manfaat Asparagus; Teknologi Pengolahan Rebung Asparagus; Olahan Asparagus; Analisis Usaha; dan Peluang Usaha Tani Asparagus.

Editor: DS


BUDI DAYA ASPARAGUS

Penulis: Tim Agro Mandiri

Penerbit: Visi Mandiri

Tempat Terbit: Surakarta

Tahun Terbit: 2016

ISBN: 978-602-317- 200-9

MENGUAK KEBESARAN SEJARAH MAKASSAR

 

Makassar yang sarat dengan kebesaran sejarahnya didukung oleh berbagai fakta. Mulai dari bangunan tua-kuno, adat istiadat, pemerintahan, serta kekayaan maritimnya. Makassar memiliki sejarah tentu karena manusia yang mendiaminya secara terus menerus telah melibatkan diri dalam dinamika perkembangan kota. Manusia telah menyejarahkan diri, pergi dan datang silih berganti, melampaui abad, tahun, bulan, dan ribuan hari-hari, dan peredaran hari dan malam yang silih berganti.

Kiprah dan semangat juang telah mengharumkan Kota Makassar di Nusantara sampai ke negara-negara Eropa, hingga menjadi ‘negeri’ ini menjadi harum di mana-mana dan menjadi buah bibir. Hal ini tentu tak lepas dari posisi strategis Bandar Makassar yang terletak di pusat Kerajaan Makassar (Gowa-Tallo).

Buku MENGUAK KEBESARAN SEJARAH MAKASSAR mampu memberikan pemahaman, betapa orang-orang Makassar itu memiliki jiwa pemberani dan pantang menyerah. Benteng Fort Rotterdam menjadi saksi bisu betapa di Makassar pada masa lalu, khususnya pada tahun 1666 hingga 1669, telah berkecamuk perang hidup-mati.

Sultan Hasanuddin sebagai symbol perlawanan kepada kompeni, diharapkan mampu mengajarkan kepada anak-cucu tentang pentingnya mempertahankan harga diri sebagai anak bangsa, serta perjuangan tokoh Syekh Yusuf Al-Makassari yang mempunyai peran penting mengislamkan Kerajaan Makassar sebagai agama yang dianut oleh raja dan para pembesar kerajaan.

Selain itu perjalanan Kota Makassar sebagai wilayah strategis di Nusantara, turut menghiasi perjalannya. Termasuk penetapan nama Makassar yang pada akhirnya diperoleh setelah melalui perjuangan para sejarawan dan budayawan.

Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Perpustakaan Abdurrasyid Daeng Lurang yang berlokasi di jalan Kenanga No. 7A Sungguminasa, Kabupaten Gowa sebagai wujud apresiasi memperingati 400 tahun lahirnya Kota Makassar.

 

MENGUAK KEBESARAN SEJARAH MAKASSAR

ix + 150 hlm,; 12 cm

Penyusun: Humas Pemkot Makassar

Penerbit: Humas Pemkot Makassar

Tempat Terbit: Makassar

Tahun Terbit: 2007

ISBN: 978-979-97338-2-8

August 25, 2020

BUDI DAYA SELADA

 

Tanaman selada merupakan sayuran daun yang berasal dari kawasan Asia Barat dan Eropa Tanaman selada ini kemudian meluas ke berbagai negara. Daerah penyebaran tanaman selada antara lain Karibia, Malaysia, Afrika Timur, Tengah dan Barat serta Asia Tenggara.

Tanaman selada, kini dapat beradaptasi dengan baik pada daerah beriklim panas sehingga dapat dibudidayakan berbagai negara yang beriklim tropis dan beriklim sedang.

Di Indonesia, selada sudah semakin berkembang karena meningkatnya permintaan dan berubahnya gaya hidup masyarakat yang juga tercermin dari pola makannya. Berikut manfaat selada bagi kesehatan tubuh manusia antara lain: memelihara kesehatan kulit dan penglihatan; merawat rambut rontok; meningkatkan kesuburan dan kesehatan janin; mencegah insomnia; mencegah penuaan dini; menguatkan tulang; mencegah sembeli; memelihara berat badan agar tetap ideal; membantu dalam pemulihan jaringan; mencegah kanker; meredakan sakit kepala; dan mencegah anemia.

Selada dapat dibudidayakan dalam berbagai media tanam. Bisa langsung dibudidayakan di tanah yang sudah diolah terlebih dahulu atau bisa dibudidayakan secara hidroponik yang merupakan tehnologi budi daya tanaman tanpa tanah. Selain itu, selada dapat dibudidayakan untuk tujuan komersial tetapi juga dapat dikembangkan dalam skala hobi dan rumah tangga yang dapat ditunjukan pada pemenuhan kebutuhan konsumsi sendiri.

Buku BUDI DAYA SELADA memberikan segala informasi yang dibutuhkan tentang budi daya tanaman selada sebagai sayuran yang memiliki nilai gizi dan manfaat yang beragam pada kesehatan manusia, sekaligus sebagai salah satu komonitas sayuran yang bernilai ekonomi tinggi.

Buku merupakan salah satu koleksi Layanan Perpustakaan Abdurrasyid Daeng Lurang yang berlokasi di jalan Kenanga No. 7A Sungguminasa, Kabupaten Gowa, mulai dari mari mengenal selada, morpolongi dan biologi selada, syarat tumbuh, teknologi budi daya selada budi daya selada di pekarangan, nilai gizi  dan khasiatnya bagi kesehatan, nikmati olahan selada, peluang usaha.

Editor: DS

 

BUDI DAYA SELADA

Penulis  :  Tim Agro Mandiri

Penerbit : Visi Mandiri

Tempat Terbit  : Surakarta

Tahun Terbit   : 2016

ISBN   : 978-602-317-197-2

NYANYIAN TRADISIONAL BUGIS

 


SESSE KALE

Ala masseya-seya muwa

tau nampori sesekale

nasabak riwettu baiccukna

dek memeng

naengka nagguru

 

Baiccukta mitu

nawedding siseng

narekko batowanik masussani

nasabak maraja nawa-nawanik

enrengnge poletoni kuttuwe

Satu dari 16 nyanyian tradisional Bugis merupakan suatu pantun atau nyanyian dalam bahasa Bugis. Nyanyian tradisional Bugis tersebut adalah:

  1. Elong Pangaja
  2. Massompa Ripuwangnge
  3. Umuruk Malolo
  4. Sahabat Tongeng-Tongeng
  5. Wanua Ripotanre
  6. Ininnawa Sabbarak
  7. Tappalakpallak
  8. Macora Lali
  9. Anak Dara
  10. Pappaseng
  11. Pappa Lece Anak-Anak
  12. Mappasau Ininnawa
  13. Sesse Kale
  14. Deceng Mallongi-Longi
  15. Elong Pangaja
  16. Elokkelong Menasa

Buku NYANYIAN TRADISIONAL BUGIS merupakan salah satu koleksi Layanan Perpustakaan Abdurrasyid Daeng Lurang yang berlokasi di jalan Kenanga No. 7A Sungguminasa, Kabupaten Gowa.


NYANYIAN TRADISIONAL BUGIS

Penyusun : Tim Aksara

Editor: H. Nonci

Penerbit: CV. Aksara

Tempat Terbit: Makassar

ANDI SELLE KONFLIK M. YUSUF

 

M. Jusuf –seorang jenderal asal Bugis –termasuk tokoh yang banyak terlibat dalam perjalanan militer di republic ini. Perjalanan itu  bukan hanya dalam posisinya sebagai pemegang banyak jabatan dalam tingkatan militer, tapi juga dalam proses penyelesaian konflik di tubuh militer. Sebut misalnya keberadaan DI/TII di Sulawesi Selatan dengan komandangnya Kahar Muzakkar dan pasukan Andi Selle di Mandar.

Khusus menghadapi pasukan Andi Selle  yang dikenal berani itu, M. Jusuf pernah mengalami tragedi penyerangan, tepatnya di Kota Sawitto Pinrang pada 5 April 1964. Saat itu M. Jusuf bersama pengawalnya ke Pinrang mengajak Andi Selle untuk mengakhiri pemberontakan dengan sebuah perdamaian.

Ketika kedua petinggi militer yang dikenal berasal dari leluhur bangsawan naik sebuah Jeep warna hijau menuju ke rumah jabatan Bupati Pinrang –saat itu di tengah perjalanan –saudara kandung Andi Selle bernama Andi Napi tiba-tiba berteriak: tembak Panglima!.

Seketika berondongan tembakan mengarah ke mobil Jeep itu, Komandan CPM Kolonel Sugiri tewas seketika, sementara Komisaris Besar Polisi Marjaman terluka, Andi Patonangi (mantan Bupati Pinrang) yang juga ikut dalam rombongan itu juga terkena peluru, salah satu jari tangannya hilang diterjang peluru.

Menurut Sersan Langnga (sopir Jeep yang ditumpangi Panglima), Panglima Kodam XIV Hasanuddin Kolonel Andi Muhammad Jusuf yang terkepung peluru segera dilindungi seorang SPM dan membawanya ke mobil pengawal, selanjutnya dilarikan kea rah Makassar. Sementara Andi Selle berlari menyelamatkan diri ke arah berlawanan menuju Leppangeng diikuti pasukannya. Beberapa saat terjadi saling tembak menembak antara kedua belah pihak. Panglima terus dibawa ke Pare-pare oleh para pengawalnya untuk beristirahat, sebelum melanjutkan perjalanan pulang ke Makassar.

Andi Selle maupun M. Jusuf tidak ada yang terluka dalam tragedy tersebut yang kemudian dikenal dengan Peristiwa Pinrang 5 April 1964.

Sejak peristiwa itu kedua bangsawan dan petinggi militer milik tanah Bugis ini tak pernah berjumpa, hingga dikabarkan Andi Selle meninggal dunia akibat sakit keras setalah terjatuh di sebuah tebing di wilayah Mandar. Namun informasi kematian itu, sejumlah mantan anak buah Andi Selle, sangat meragukan berita kematian itu. Apalagi di akhir tahun 2003 muncul lelaki tua yang sudah rentah dari Provinsi Sulawesi Tengah (Palu) muncul di Pinrang, dan mengaku bernama Andi Selle Mattola. Kemunculan itu malahirkan kontroversial di tengah masyarakat dan keluarga mantan Komandan Korem Polewali ini. Sebahagian tidak yakin, namun sebahagian besar sangat percaya kalau lelaki tua itu adalah Andi Selle.

Buku ANDI SELLE KONFLIK M. YUSUF merupakan catatan yang dirangkum dari sejumlah wawancara yang dimuat di Tabloid Refleksi yang terbit di Makassar pada edisi Desember 1998. Bila lelaki tua yang muncul di Pinrang itu Andi Selle, maka dalam tulisan yang termuat itu merefleksikan akan masih hidupnya seperti yang diungkap mantan anak buahnya, maka itu sebuah pembuktian kebenaran dari sejumlah saksi sejarah.

Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Perpustakaan Abdurrasyid Daeng Lurang yang berlokasi di jalan Kenanga No. 7A Sungguminasa, Kabupaten Gowa yang berisikan jejak sejarah yang memberikan kebebasan dan kesempatan para saksi sejarah berbicara sesuai kenyataan yang dialaminya, seperti Andi Patonangi (Mantan Bupati Pinrang), Andi Cangge (Mantan Pegawal Pribadi Andi Selle), Langnga (Mantan Supir M. Jusuf) dan H.M. Alim Bachri (Mantan Ketua DPRD Sulsel).

 

ANDI SELLE KONFLIK M. YUSUF

Menyikap Tragedi 5 April 1964 di Pinrang

Editor: A. Wanua Tangke, Moh. Yahya Mustafa, Anwar Nasyaruddin, Muhammad Asri

Penerbit: Pustaka Refleksi

Tempat Terbit: Makassar

Tahun Terbit: 2004

ISBN: 979-3570-00-8

August 24, 2020

BEBERAPA ETIKA DALAM SASTRA MAKASSAR

 

Karya satra lama akan dapat memberikan khazanah ilmu pengetahuan yang beraneka macam ragamnya. Penggalian karya sastra lama yang tersebar di daerah-daerah ini, akan menghasilkan ciri-ciri khas kebudayaan daerah, yang meliputi pula pandangan hidup serta landasan falsafah yang mulia dan tinggi nilainya. Modal semacam itu, tersimpan dalam karya-karya sastra daerah, yang dapat menunjang kekayaan sastra Indonesia pada umumnya.

Buku BEBERAPA ETIKA DALAM SASTRA MAKASSAR diangkat dari buku Makassarch Chrestomathie  mencakup tiga topik yaitu:

  1. Parakara (Undang-undang). Yaitu semacam undang-undang atau ketentuan-ketentuan yang harus ditaati oleh penduduk pribumi terutama di dalam kalangan orang-orang Makassar dahulu.
  2. Rapang. Sebenarnya rapang ini mirip juga dengan undang-undang tetapi didalamnya lebih banyak mengandung petuah atau nasehat.
  3. Tarassolok (surat-surat). Yaitu suatu kebiasaan atau tata cara dalam kalangan orang-orang Makassar dahulu dalam hal surat menyurat.

Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Perpustakaan Abdurrasyid Daeng Lurang yang berlokasi di jalan Kenanga No. 7A Sungguminasa, Kabupaten Gowa untuk membina kebudayaan nasional pada umumnya, dan pengarahan pendidikan pada khususnya.

 

BEBERAPA ETIKA DALAM SASTRA MAKASSAR

Penyusun: B. F. Matthes

Penerbit: Proyek Penerbitan Buku Satra Indonesia dan Daerah

Tempat Terbit: Jakarta

Tahun Terbit: 1985

MANGELLI ADA - MANAQ WARAMPARANG

 

Anak-anak di rumah-rumah keluarga, di kampung-kampung biasanya menjelang tidur, sesudah makan dan sembahyang Isya, diberi kesempatan berkumpul bersama seisi rumah untuk mendengar “Pau-Pau ri Kodong”. Pembawa cerita adalah seseorang di antara orang tua dalam keluarga. Nenek atau kakek ataupun ayah dan ibu. Anak-anak dalam keluarga usia enam sampai dua belas tahun menjadi pendengar yang setia. Kalau cerita sampai pada puncak keasyikannya, dapat meneteskan air mata anak-anak. Gelap tawa yang ramai juga acap kali menjadi selingan yang membawa kegembiraan.

Buku MANGELLI ADA (MEMBELI KATA) - MANAQ WARAMPARANG (HARTA WARISAN) merupakan Seri Tradisi Lisan “Pau-Pau ri Kodong” (cerita yang diangguki/diakan) diangkat dari cerita rakyat Sulawesi Selatan. Ketika pembawa cerita menyampaikan ceritanya, maka para pendengar yang duduk disekitarnya pun “mengangguk-anggukkan kepala”. Maka berkatalah dengan senda-gurau pembawa cerita:

  • Bila dusta kuceritakan,
  • Lebih dusta lagi yang mendengarkan,
  • (karena) semua yang kuceritakan,
  • Dianggukinya membenarkan.

Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Perpustakaan Abdurrasyid Daeng Lurang yang berlokasi di jalan Kenanga No. 7A Sungguminasa, Kabupaten Gowa yang disajikan melalui bahasa Indonesia yang sederhana, sehingga kehadirannya dapat membawa imajinasi yang amat penting bagi pertumbuhan daya cipta (kreativitas) generasi muda, juga dapat digunakan untuk menemukan akar pemikiran yang sama yang terdapat dalam tradisi lisan.


MANGELLI ADA (MEMBELI KATA)               

MANAQ WARAMPARANG (HARTA WARISAN)

Penysun: Nurdin Yusuf

Penyunting: Abd. Kadir, Damis Nusu, Lucia H.T.

Penerbit: Dipajaya

August 18, 2020

PERJANJIAN BUNGAYA (CAPPAYA DI BUNGAYA)

Perang Makassar yang melibatkan sekutu Belanda dibawah pimpinan C.J. SPELLMAN, terpaksa menaikkan bendera gencatan senjata yang pertama dilakukan di Benua Timur.

Belanda tidak menduga ketangguhan Prajurit Gowa yang pantang menyerah.

Terpaksa pihak C.J. SELLMAN mengutus kurirnya di Benteng Somba Opu, membawa surat perdamaian dengan isi perjanjian Bungaya.

Di Istana Benteng Somba Opu, Sultan Hasanuddin mengundang para karaeng/pembesar Kerajaan Gowa untuk berunding bagaimana cara menghadapi ajakan perdamian Belanda di Bungaya.

Para pembesar kerajaan banyak menentang perjanjian itu, kemelut para karaeng dan sombayya sendiri tersandung langkahnya dengan rintihan dan prajurit yang banyak menderita akibat, perang yang berkepanjangan, kelaparan meraja lelah di Butta Gowa, entah kapan berakhirnya perang.

Detik-detik Perjanjian Bungaya semakin mendekat.

Sultan Hasanuddin merenung di sudut Benteng Somba Opu dalam malam yang hening dan sekali-dali terdengar suara anak kecil yang minta makan dan mencari ayahnya di ladang perang. Menjelang fajar, Sultan Hasanuddin dengan tekadnya harus menerima Perjanjian Bungaya demi keselamatan rakyat dan generasi perjuangan kelak.

Dengan sabda “Perjanjian Bungaya bersifat sementara saja” ibarat sebuah ladang perang sementara mengulur-ngulur waktu. Kebangaan C.J. SPELLMAN setelah Cappaya ri Bungaya sirna dan tersentak dalam irama keanguhannya., terpaksa minta bantuan lagi serdadu Belanda dan sekutunya di wilayah timur.

Asap mengepul disepanjang Pantai Makassar. Pertanda perang dimulai lagi. Sultan Hasanuddin telah merobek Perjanjian Bungaya “Rumpa’ kana ritojenga”. Melanggar perjanjian demi harga diri sebagai lelaki dari Benua Timur.

Perang terbesar dimulai lagi. Sultan Hasanuddin telah merobek Perjanjian Bungaya “Rumpa’kana ritojenga”. Melanggar perjanjian demi harga diri sebagai lelaki dari Benua Timur.

Satu demi satu bentang pertahanan telah jatuh di tangan musuh karena banyaknya sekutu Raja Gowa membelok dipihak musuh. Rusuh bertambah banyak.

Perang terbesar dalam sejarah Gowa sampai melibatkan rakyat turut dalam kencah peperangan bersama Sombayya.

Pertempuran yang tidak seimbang membuat prajurit Gowa kewalahan dan akhirnya Benteng sebelah timur bobol dam musuh bagaikaan air bah melimpah masuk,

Terpaksa Sultan Hasanuddin berserta sisa-sisa prajuritnya mengungsi di Benteng Kale Gowa sebagai pertahanan terakhir. Imallombasi Daeng Mattawang Karaeng Tukajannangnga di angkat menjadi Sultran Hasanuddin sebagai Raja Gowa (Sombayya ri Gowa) yang tidak pernah menyerah terhadap Belanda sampai wafat ri Balla Pangkana di Gowa.

RUNTUHNYA BENTENG SOMBA OPU PERJANJIAN BUNGAYA (CAPPAYA DI BUNGAYA) karya Andi Ansar Agus ditulis di Makassar pada Tahun 1987. Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Umum Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi di jalan Sultan Alauddin Km. 7 Talasalapang, Kotamadya Makassa


RUNTUHNYA BENTENG SOMBA OPU

PERJANJIAN BUNGAYA (CAPPAYA DI BUNGAYA)

Penulis: Andi Ansar Agus

Tahun Terbit: 1991

August 14, 2020

I MAPPAKMAITTOJENG


“Membuka rahasia itu bagaikan anak panah yang belum dilemparkan. Kalau sudah terlepas dari busurnya tidak dapat lagi dikembalikan. Begitu pula rahasia itu kalau dibukakan orang lain dapat membawa kebaikan pada kita, tetapi dapat juga membawa keburukan. Seperti kelong (syair):

Rahasia yang tersembunyi

jangan terlalu dibeberkan

kalau keluar

menjadi lawan dan kawan bagimu

Sedikit kelong (syair) cerita dari Buku I MAPPAKMAITTOJENG yang merupakan karya sastra Indonesia lama, terjemahan dari buku Iami’nne Pau-paunna I Imappakmaittojeng yang ditulis dalam Lontara Makassar oleh Ince Husain Daeng Parani dan diterbitkan oleh Percetakan Gubernemen tahun1920.

Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Umum Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi di jalan Sultan Alauddin Km. 7 Talasalapang, Kotamadya Makassa, yang menceritakan tentang seorang anak namanya I Mappakmaittojeng, rajin belajar dan taat terhadap kedua orang tuanya serta gurunya sampai ia menjadi seorang tokoh masyarakat yang adil, jujur, berwibawa, dan disukai rakyatnya.

 

I MAPPAKMAITTOJENG

Penyusun: Muhammad Sikki, Sahabuddin Nappu

Penerbit: Proyek Pembinaan Buku Sastra Indonesia dan Daerah-Jakarta

Tempat Terbit: Jakarta

Tahun Terbit: 1997