Pertempuran Pandang-pandang adalah barometer keberhasilan para pejuang kelaskaran dan Tentara Pelajar di Sulawesi Selatan dalam menumpas berdirinya Negara Indonesia Timur. Pertempuran tersebut meletus pada hari Rabu sekitar jam 06.00 tanggal 5 April 1950, setelah sebelumnya ada tanda-tanda diserang oleh musuh KNIIL, seperti adanya laporan seorang anak kecil yang memberitahu bahwa sejumlah pejuang sudah ditawan tentara KNIL di Makassar. Ditambah lagi adanya sepucuk surat dari Panglima KMTIT yang dibawa oleh Kapten CPM Hertasning kepada Letnan Muda Andi Hasanuddin Oddang. Isi surat itu antara lain menginformasikan bahwa gerakan pemberontakan akan terus terjadi di Sulawesi, menyusul adanya pejuang-pejuang asal Sulawesi banyak gugur pada peristiwa APRA di Bandung.
Untuk menumpas dan membubarkan NIT, pemerintah Indonesia mendirikan APRIS (Angkatan Perang Republik Indonesia) pada tahun 1949, atas persetujuan pemerintah Hindia Belanda--Indonesia pada Konferensi Meja Bundar (KMB) di Den Haag, Nederland. Ketika itu, APRIS secara hierarki berada di bawah KMTIT (Komisi Militer Teritorial Indonesia Timur) dengan Panglimanya adalah Letkol A.J. Mokoginta.
Sebagai tempat latihan prajurit APRIS dan anggota recruitment yang berasal dari berbagai daerah di Sulawesi, maka Asrama Pandang-pandang merupakan lokasi yang amat strategis. Bekas Asrama Pandang-pandang tersebut, kini masih menjadi Kantor Kodim Kabupaten Gowa, yang terletak di Sungguminasa.
Asrama atau Kampement Pandang-pandang mempunyai sejarah tersendiri yang harus kita ukir dengan tinta emas, karena disanalah para pejuang dilatih untuk menguasai medan pertempuran, dalam rangka mempertahankan Negara Kesatuan RI, sekaligus berhasil membubarkan NIT. Adapun yang mengendalikan Asrama Pandang-pandang adalah Letda Surya Sudjono (asal Jawa), Lettu Andi Sapada (asal Sulsel). Sebelumnya yang menjadi Komandan Kampement Pandangpandang adalah Andi Sapada, kemudian dilanjutkan oleh Letda Surya Sudjono dengan wakil Komandannya adalah Letnan Muda Andi Hasanuddin Oddang (asal Wajo).
Asrama Pandang-pandang Sungguminasa, Gowa, diresmikan tanggal 29 Januari 1950, yang dijadikan tempat pendidikan dan latihan militer bagi anggota-anggota geriliya di Sulawesi. Asrama Pandang-pandang biasa juga disebut Kampement Pandang-pandang.
Buku PERTEMPURAN PANDANG-PANDANG menggambarkan tentang peristiwa pertempuran Pandang-Pandang yang merupakan salah satu sejarah perjuangan di Sulawesi Selatan sebelum proklamasi kemerdekaan RI dan setelah proklamasi RI hingga 1947. Terutama ketika NICA-Belanda hendak melakukan agresi militer ketiga kalinya di tahun 1950. Oleh karena itu, Pertempuran Pandang Pandang (Gowa: Sungguminasa) merupakan momentum sejarah perjuangan yang sesungguhnya menjadi barometer penghapusan terbentuknya Negara Indonesia Timur (NIT). Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar.
Penulis: Syahruddin Yasen
Penerbit: Pustaka Refleksi
Tempat Terbit: Makassar
Tahun Terbit: 2008
ISBN: 979-3570-87-3
















