Masyarakat Mandar pemain kecapi dan kecapinya adalah media penghubung antara manusia dengan penciptanya. Bukan penghibur semata. Sebahagian masyarakat Mandar percaya bahwa bermain kecapi, walaupun sebatas meniatkan untuk mengadakan permainan kecapi, bisa membantu harapan terkabul. Sebaliknya, akan ada musibah ketika harapan terwujud, tak jadi mengadakan permainan kecapi.
Kata pakkacaping berasal dari kata kacaping yang berarti kecapi dan mendapat awalan 'pa' yang di dalam bahasa Mandar termasuk awalan yang memuat makna profesi. Setelah kedua unsur tersebut digabungkan, maka terbentuk sisipan 'K' sehingga terbentuklah kata pa-k-kacaping. Jadi pengertian umum kata pakkacaping dalam bahasa Mandar adalah seseorang yang berprofesi sebagai pemain kecapi. Akan tetapi pengertian secara khusus adalah merupakan suatu pertunjukan teater tradisi masyarakat Mandar yang menggunakan alat musik kecapi sebagai instrumen pengiring. Kata tinjaq jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia berarti
Pakkacaping dalam Mappadottong Tinjaq merupakan bentuk pelaksanaan tinjaq (nazar) myang diwariskan secara turun temurun yang bersintesa dengan kebudayaan Islam. Tradisi tinjaq dan mappadottong tinjaq adalah cerminan dari sikap hidup pantang menyerah serta selalu berusaha menepati janji. Dalam masyarakat Mandar, tradisi tinjaq dan mappadottong tinjaq selain memiliki nilai sosial kemasyarakatan juga memiliki nilai mistik. Hal ini dapat dilihat pada kepercayaan masyarakat Mandar yang meyakini jika seseorang telah ber-tinjaq tetapi mengabaikan atau melupakan mappadottong tinjaq-nya, maka orang tersebut akan mendapatkan hukuman dari Tuhan.
Realisasi tinjaq dalam masyarakat Mandar dapat berbentuk bermacam-macam keinginan, tetapi yang sering terjadi adalah keinginan menyelenggarakan upacara-upacara adat seperti upacara khitan, khatam atau perkawinan yang merupakan upacara-upacara wajib diselenggarakan oleh anggota masyarakat Mandar. Sedangkan bentuk mappadottong tinjaq-nya biasanya berupa penyelenggaraan pertunjukan pakkacaping. Tradisi tinjaq dan mappadottong tinjaq hingga saat ini tetap hidup dan menjadi nilai kemasyarakatan dalam masyarakat Mandar.
Dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Mandar terikat oleh sistem norma yaitu norma adat yang disebut adaq litaq dan norma agama khususnya agama Islam. Norma-norma ini sangat dijunjung tinggi oleh masyarakat Mandar. Kesatuan organisasi dalam alam pikiran masyarakat Mandar membentuk identitas sosial, martabat serta harga diri yang terangkum semua dalam konsep siriq.
Dalam pertunjukan pakkacaping nilai-nilai adat ditampilkan dalam paket toloq yang memberikan ajaran konsep-konsep sosok manusia Mandar. Nilai-nilai agama terjabarkan dalam paket masaqala yang mengingatkan anggota masyarakat agar selalu menjalankan perintah agama Islam.
Berdasarkan nilai-nilai luhur yang terkandung dalam penyajian pertunjukan pakkacaping maka tepatlah jika pertunjukan pakkacaping dipilih sebagai media pengukuhan upacara mappadottong tinjaq.
Buku PAKKACAPING MANDAR membahas tentang pertunjukan pakkacaping mempunyai arti penting bagi masyarakat Mandar. Hal ini dapat dilihat dalam kehidupan masyarakat Mandar yang selalu menyertakan pertunjukan pakkacaping dalam upacara-upacara adat, seperti upacara khatam, khitan, dan perkawinan. Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar.
Petikan Dawai Pemenuh Janji pada Langit
Penulis: Asmadi Alimuddin
Editor: Muhammad Ridwan Alimuddin
Penerbit: Ombak
Tempat: Ombak
Tahun Terbit: 2013
ISBN: 978-602-258-100-0

No comments:
Post a Comment