Serangan umum Laskar Pejuang Merah Putih yang dilakukan pada tanggal 18 Desember 1946 sekitar jam 09.00, sebanyak 500 orang laskar dibawah pimpinan Endang di bantu 10 pemuda dengan senjata tradisional, bambu runcing serta beberapa pucuk senjata hasil rampasan, melakukan penyerangan di Kota Malino. Peristiwa tersebut menjadi momentum bersejarah bagi bangsa Indonesia, khususnya di Kabupaten Gowa, dalam merebut kemerdekaan dari tangan penjajah. Atas serangan tersebut, ratusan pejuang yang gugur di medan perang, termasuk tokoh perjuangan di Gowa Timur Sulaeman Karaeng Jarung, Mappatangka Dg. Rani Karaeng Parigi, Bung Endang dan masih banyak tokoh penting lainnya.
Hari itu pasukan Belanda membabibuta memuntahkan timah panas, jerit tangis pilu menggema di mana-mana. Bagi para pemuda di Malino, perbuatan biadab Belanda, paling tidak harus dibayar dengan darah. Mereka bersatu mengangkat senjata dan membuat strategi empat penjuru, yakni dari Limbua, Buluttana, Gantarang serta Tombolo, dan pada akhirnya markas Angkatan Luat Belanda berhasil diporakporandakan, termasuk markas KNIL di Kota Malino. Belanda pun kocar kacir.
Penyerangan para pemuda itu kemudian dikenal dengan sebutan Penyerangan Malino. Namun akhirnya para pemuda dipukul mundur dan banyak ditangkap. Mereka dikumpul di tepi jurang di Malino, dan satu persatu dieksekusi.
Buku MALINO BERDARAH mengupas tapak tilas nilai kejuangan Karaeng Parigi, yang rela meninggalkan keluarga, mengorbankan waktu, tenaga dan harta untuk melawan Belanda. Buku ini merupakan hasil wawancara dengan tokoh pejuang di Malino H. abd. Rauf Dg Nompo Karaeng Parigi, dan menjadi salah satu koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan.
Penulis: Zainuddin Tika, M. Ridwan Syam
Penerbit: Pustaka Refleksi
Tempat Terbit: Makassar
Tahun Terbit: 2006
ISBN: 979-3570-19-9





