July 29, 2021

MALINO BERDARAH

Serangan umum Laskar Pejuang Merah Putih yang dilakukan pada tanggal 18 Desember 1946 sekitar jam 09.00, sebanyak 500 orang laskar dibawah pimpinan Endang di bantu 10 pemuda dengan senjata tradisional, bambu runcing serta beberapa pucuk senjata hasil rampasan, melakukan penyerangan di Kota Malino. Peristiwa tersebut menjadi momentum bersejarah bagi bangsa Indonesia, khususnya di Kabupaten Gowa, dalam merebut kemerdekaan dari tangan penjajah. Atas serangan tersebut, ratusan pejuang yang gugur di medan perang, termasuk tokoh perjuangan di Gowa Timur Sulaeman Karaeng Jarung, Mappatangka Dg. Rani Karaeng Parigi, Bung Endang dan masih banyak tokoh penting lainnya.

Hari itu pasukan Belanda membabibuta memuntahkan timah panas, jerit tangis pilu menggema di mana-mana. Bagi para pemuda di Malino, perbuatan biadab Belanda, paling tidak harus dibayar dengan darah. Mereka bersatu mengangkat senjata dan membuat strategi empat penjuru, yakni dari Limbua, Buluttana, Gantarang serta Tombolo, dan pada akhirnya markas Angkatan Luat Belanda berhasil diporakporandakan, termasuk markas KNIL di Kota Malino. Belanda pun kocar kacir.

Penyerangan para pemuda itu kemudian dikenal dengan sebutan Penyerangan Malino. Namun akhirnya para pemuda dipukul mundur dan banyak ditangkap. Mereka dikumpul di tepi jurang di Malino, dan satu persatu dieksekusi.

Buku MALINO BERDARAH mengupas tapak tilas nilai kejuangan Karaeng Parigi, yang rela meninggalkan keluarga, mengorbankan waktu, tenaga dan harta untuk melawan Belanda. Buku ini merupakan hasil wawancara dengan tokoh pejuang di Malino H. abd. Rauf Dg Nompo Karaeng Parigi, dan menjadi salah satu koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan.


MALINO BERDARAH
Penulis: Zainuddin Tika, M. Ridwan Syam
Penerbit: Pustaka Refleksi
Tempat Terbit: Makassar
Tahun Terbit: 2006
ISBN: 979-3570-19-9

  

July 27, 2021

SEJARAH BONE



Raja pertama di Kerajaan Bone, To Manurung dengan menertibkan dan meletakkan dasar-dasar hukum dan adat kebiasaan masyarakat, supaya rakyat kembali damai tanpa permusuhan antar kelompok. Raja kedua, mulai memperluas wilayah kekuasaan dengan wanua-wanua datang untuk bergabung dalam pemerintahan Kawerang, dengan cara sukarela, persahabatan ataupun dengan perang.

Pengangkatan raja berikutnya, mulai menata sistem pemerintahan dengan menempatkan Matowa PituE yang tadinya mengadakan kontrak pemerintahan dengan To Manurung, diikat dalam suatu bentuk "Majelis" untuk membantu raja menjalankan pemerintahan. Meskipun Matowa PituE ini masih tetap sebagai penguasa diwilayahnya, namun diberi keleluasan mengajak wanua tetangganya untuk bergabung dalam Kawerang. Raja ketiga lebih banyak melakukan perluasan wilayah dengan jalan damai, persahabatan dan perang. Akhirnya Bone sudah meluas mencapai wilayah yang terbatas dengan Kerajaan Bulo-bulo, Soppeng, Wajo. 

Raja berikutnya, sudah memperhatikan usaha-usaha pertanian, peternakan dan perikanan. Dalam kerajaan sudah tumbuh pula usaha pertukangan, seperti pertukangan besi, tukang kayu, tukang bangun rumah (penre bola). Semua bertujuan untuk memperbaiki kehidupan masyarakat 

Buku SEJARAH BONE membahas tentang terbentuknya pemerintahan kerajaan dimulai dari masa pemerintahan Raja Bone pertama, Raja Bone ke II La Ummasa, Raja Bone ke III La Saliu dan Raja Bone ke IV We Benrigau. Riwayat hidup La Mellong Kajao Laliddo, Kerajaan Bone dalam pengolakan dimulai pada masa pemerintahan Raja Bone ke V La Tenrisukki, Raja Bone ke VI La Ulio BoteE, Raja Bone ke VII La Tenrirawe BongkangngE, Raja Bone ke VIII La Icca, Raja Bone ke IX La Pattawe dan Raja Bone ke X We Tenrituppu. 

Selain itu juga membahas tentang penataan wilayah dan upaya penyiaran Islam dalam Islamisasi di Kerajaan Bone pada masa Raja Bone ke IX La Tenriruwa, Raja Bone ke XII La Tenripale, Masa Pemerintahan Raja Bone ke XIII La Maddaremmeng. Juga membahas tentang Masa pemerintahan Raja Bone ke XIV Arung Palakka Datu Tunke'na Tana Ugi dan masa Kerajaan Bone memegang Hegemoni di Sulawesi Selatan pada masa pemerintahan Raja Bone ke XVI La Patau (1696-1714 M), Raja Bone ke XVII Batari Toja (1714-1715 M), Raja Bone ke XVIII La Padassanjati (1715-1718 M), Raja Bone XIX La Pareppa To Sappewali (1718-1721 M), Raja Bone XX La Pareppa To Sappewali (1718-1724 M), Raja Bone XXI La Panaongi To Pawawoi (1721-1724 M), Raja Bone ke XXII La Temmasonge' (1749-1775 M), Raja Bone XXIII La Tenri Tappu (1775-1812M), Raja Bone ke XXIV La Mappasessu To Appatunru (1812-1823 M) serta membahas tentang struktur pemerintahan Kerajaan Bone.

Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar yang memuat tentang latar belakang, masa pemerintahan Raja pertama dan berakhir pada masa Kerajaan Bone mengalami malapetaka yang menjadikan Bone sebagai Kerajaan VASSAL, dibalik dari itu bangkitnya La Tenritatta Arung Palakka yang memenangkan Perang Makassar (tahun 1666-1669) pada paruh kedua abad ke 17. 


SEJARAH BONE
Penyusun: H. Abu Hamid, Edward Polinggomang, Suryadi Mappangara, et.al
Penerbit: Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Bone
Tahun Terbit: 2007





July 23, 2021

MAKAM RAJA-RAJA BINAMU

Kompleks Makam Raja-Raja Binamu terletak di Desa Bontoramba, Kecamatan Tamalate Kabupaten Jeneponto, Provinsi Sulawesi Selatan. Pada masa lampau Binamu merupakan suatu daerah yang daerah kekuasaannya hampir mencakup seluruh daerah Kabupaten Jeneponto. Sama dengan daerah-daerah lainnya di Sulawesi Selatan yaitu yang dianggap cikal bakal pemersatu kerajaan adalah Tomanurung. Di Binamu juga dikenal dengan Tomanurung ri Mairo yang berhasil mempersatukan antara Toddo Lentu, Tonddo Layu, Toddo Batjala, Toddo Bangkala LoE, Karaeng Balumbungan, Karaeng Bontoramba, Karaeng Bonto Tangnga, Karaeng Paitana dan Gelarang Balang dalam suatu kesatuan hukum yang kemudian dikenal dengan Kerajaan Binamu.

Pemakaman Raja-Raja Binamu yang luasnya 3,127 meter persegi yang didalamnya terdapat 639 buah makam. Berikut arti nama-nama yang tertulis dalam bahasa lontara yang ditemukan di pemakaman raja-raja Binamu:

  1. I Mallette zakarnya merah
  2. Daeng Dandetuak keras
  3. Karaeng Cambanatau raja yang berjanggut dan berkumis lebat di Allu peminum kopi
  4. Karaeng Gosseya Bombang hasil kerjanya tukang kayu
  5. Palangkei Daeng Lagu berpulang kealam baqa pada hari Senin tanggal 15 vulan Safar
  6. Daeng Caddi vaginanya dan zakarnya kalau ada yang merusaknya
  7. Karaeng Pangara
  8. Raja Tua yang meninggal di Tinggimae yang berukir bulan Rabiul Aawal pada hari Selasa.
Serta beberapa makam yang mempunyai tulisan yang menunjukkan nama yang kuburannya di komples Makam Raja-Raja Binamu. Di dalam komples tersebut terdapat dua buah makam yang memakai nisan area atau patung manusia. Patung manusia berwujud laki-laki dengan atribut daerah, terdapat pada makam salah seorang Raja Binamu yang bersama Karaeng Palangkei Daeng Lagu. Sedangkan makam yang patungnya berwujud perempuan dalam posisi duduk di kursi bersimpuh menghadap ke utara adalah makam Karaeng Gosseya Bombang. 

Selain nisan juga terdapat penampil atau gunung yang padat dengan ragam hias pola daun dan kembang dan ditengahnya relief manusia, suatu hal yang langkah dalam seni Islam. Sebagian dari relife yang terdapat pada sudut kaki makam memperlihatkan suatu adegan yang menarik dalam suatu cerita. Kuda yang merupakan binatang yang serba guna dalam kehidupan merupakan rangkaian cerita dari relief yang terdapat pada sudut kaki makam.

Buku MAKAM RAJA-RAJA BINAMU menggambarkan situs dan bangunan peninggalan sejarah dan purbakala, pada priode historic dan archaeolog yang harus dilindungi sesuai Monumentent Ordonantie. Buku ini jugs disertai peta Kecamatan Tamalate dan peta Kompleks pemakaman raja-raja Binamu  merupakan salah satu koleksi layanan deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar.



MAKAM RAJA-RAJA BINAMU
Penulis; Abdul Muttalib M
Penerbit: Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala Sulawesi Selatan
Tahun Terbit: 1984





July 13, 2021

SEJARAH PEMBERONTAKAN PEMUDA - RAKYAT SELAYAR


Pahlawan Paus Rama Bosa ternyata adalah akronim dari Nama Pejuang Kemerdekaan RI di Selayar masing-masing; (Pa) Paong, (Us) Usuk, (Ra) Rasulung, Rumaddong, (Ma) Massa, Mongsong, Maraheng, (Bo) Bolong, Bonto, (Sa) Sappara, Sarapa.

Buku SEJARAH PEMBERONTAKAN PEMUDA - RAKYAT SELAYAR: Menentang Feodalisme - Kolonialisme Pahlawan PAUS RAMA BOSA merupakan gabungan antara karya ilmiah dan roman sejarah, yang terdiri dari tujuh bagian, yakni:

Bagian pertama mengemukakan pesan-pesan amanah dari para Pahlawan Paus Rama Bosa. Pesan-pesan yang begitu menggugah rasa patriotisme yang heroik dan tulus.

Bagian kedua menguraikan secara singkat pentingnya sebuah ideologi bagi sebuah perjuangan, sebuah revolusi, yakni Pancasila sebagai dasar dan acuan perjuangan memerangi penjajahan dengan bentuknya yakni Feodalisme, Kolonisme, Kapitalisme, Imperialisme dan Atheisme.

Bagian ketiga pada dasarnya merupakan deskripsi semagat revolusioner yang tinggi dari pemuda dan rakyat Selayar untuk menghapus segala bentuk Feodalisme yang dipelihara oleh pemerintah Kolonial. Hal ini ditandai dengan peristiwa penyerbuan dan pengambilan alih kekuasaan dari para petugas Kolonial di Kota Benteng di bawah pimpinan Rauf Rachman.

Bagian keempat menggambarkan semangat perlawanan terhadap terorisme Kolonial Belanda. Perlawanan ini berpuncak pada peristiwa penyerbuan 14 Februari 1946 yang menimbulkan peperangan begitu dahsyat, 11 pemuda yang gagah berani gugur, yang dikenal dengan julukan Paus Rama Bosa. Julukan tersebut menjadi simbol dan spirit yang terus menggelora disetiap jiwa pejuang yang tersisa.

Bagian kelima menggambarkan semangat yang hidup dari spirit Paus Rama Bosa  di era selanjutnya. Dimana perjuangan juga diarahkan pada perombakan sistem feodalisme bentukan Kolonial. Perjuangan ini berhasil membersihkan jiwa dan sistem feodalisme yang tumbuh subur dan mengakar di tengah masyarakat yang sedang dijajah.

Bagian Keenam juga menggambarkan rentetan dari perjuangan pemuda rakyat Selayar, dalam hal ini perjuangan Selayar memperoleh otonomi setingkat kabupaten sebagai suatu kesatuan hukum sebagaimana berlaku sejak pertengahan abad 18 hingga pertengahan abad 19 dalam bentuk keresidenan. Perjuangan ini berhasil ditetapkan dalam Sidang Kabinet Karya ke 169 tanggal 28 Agustus 1958.

Bagian ketujuh menguraikan tiga kerangka hasil perjuangan rakyat Selayar, Tiga kerangka dimaksud adalah; (1) Kemerdekaan yang diperjuangkan sendiri, bukan pemberian atau pembebasan dari pusat. (2) Pemerintahan dengan sistem kerakyatan, bukan feodalisme dan (3) Otonomi daerah yang juga diperoleh atas perjuangan sendiri.

Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar, yang bertujuan tidak sekedar mendeskripsikan perjuangan revolusioner Pahlawan Paus Rama Bosa semata, tetapi lebih dalam untuk membangun spirit serupa bagi generasi kini sesuai tuntutan zaman yang dihadapi. 



SEJARAH PEMBERONTAKAN PEMUDA - RAKYAT SELAYAR: 
Menentang Feodalisme - Kolonialisme Pahlawan PAUS RAMA BOSA
Penulis: Zainal Abidin Hussein
Editor: Saiful Arif
Penerbit: Pemerintah Kabupaten Selayar
Tahun Terbit: 2004
ISBN: 979-3362-74-X



July 12, 2021

KERAJAAN LUWU MENYIMPAN BANYAK MISTERI


Luwu, sebagai kerajaan tertua di Sulawesi Selatan, menyimpan banyak misteri yang belum terungkap. Peristiwa demi peristiwa, dari yang heroik, dramatis, hingga tragis mewarnai eksistensi kerajaan ini.

Tidak banyak masyarakat kita yang mengetahui bahwa di Kerajaan Luwu pernah ada sebuah desa pandai besi tersohor seantero Nusantara, yang memukau Kerajaan Majapahit untuk memakai keahlian mereka. Sebuah desa bernama Matano, yang gaungnya kini hilang ditelan oleh hiruk-pikuk zaman. Orang Matano melebur besi plus nikel lalu mengumpulkannya di tempat peleburan untuk dibakar dengan teknik yang primitif. Hasil yang berkualitas unggul dibawah berlayar oleh pedagang-pedagang  yang selalu datang silih berganti di pelabuhan. Besi dari tanah Luwu -yang menyandang nama favorit Pamoro Luwu- ini terkenal bukan hanya dari segi kualitasnya, tetapi juga mitos yang dipercaya masyarakat Nusantara.

Konon, senjata yang terbuat dari besi asal Luwu dapat membunuh musuh hanya dengan satu goresan kecil -mitos-. Kawali adalah senjata terkenal Kerajaan Luwu bentuknya berkelok-kelok seperti keris di Jawa. Meskipun juga ada yang berbentuk badik -seperti yang dipakai orang-orang Melayu Nusantara pada umumnya. Selain itu Luwu ternyata beberapa keturunan dari Kerajaan Luwu menjadi raja-raja di negeri Jiran. Tidaklah heran, bila berangkat dari fakta ini kemudian dikatakan bahwa secara genetis orang-orang Malaysia dan Indonesia memang bertalian. 

Buku KERAJAAN LUWU MENYIMPAN BANYAK MISTERI tentang keberadaan Kerajaan Luwu yang sudah dikenal sejak abad ke-XIII. Yang menarik, komoditi dagang dari Kerajaan Luwu bukan rempah-rempah tetapi hasil pertambangan; besi yang mengandung nikel yang berkualitas tinggi. Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearispan Provinsi Sulawesi Selatan, yang berlokasi jalan Sultan Alaudidin Km. 7 Tala'salapang-Makassar.


KERAJAAN LUWU MENYIMPAN BANYAK MISTERI
Penulis: H.L. Purnama
Penyunting: Mutaroh A'mal
Penerbit: Arus Timur
Tempat Terbit: Makassar
Tahun Terbit: 2014
ISBN: 978-602-9057-67-6




July 8, 2021

JEJAK SEJARAH JENEPONTO



Terdapat beberapa situs dan benda-benda peninggalan masa lampau yang tersebar pada beberapa tempat dalam wilayah Kabupaten Jeneponto yang selama ini kurang dikenal oleh masyarakat sebagai sebuah warisan budaya yang bernilai tinggi. Bahkan tidak sedikit di antara peninggalan purbakala ini dirusak dan diterlantarkan karena masyarakat setempat dan lembaga berkepentingan lainnya tidak mengetahui bahwa benda-benda itu diperlukan, selain dapat dijadikan data untuk menyusun sejarah dan perkembangan kebudayaan masyarakat, juga dapat dikelola sedemikian rupa untuk kepentingan pariwisata budaya Kabupaten Jeneponto.

Benda-benda peninggalan sejarah yang berhasil diidentifikasi, ditemukan di beberapa tempat di kecamatan, seperti pada situs Kalimporo ditemukan alat serpih bilah, rumah adat Kalimporo, teras berundak, makam kuno dan lani-lain. Di kecamatan Bangkala Barat terdapat situs serpih bilah Karama dan makam Karaeng Labbua Tali Bannanna. Di kecamatan Tamalate terdapat situs kompleks makam I Maddi Daeng Rimma, seorang tokoh yang diceritakan dalam sebuah sinrilik (cerita lisan Makassar) di mana makamnya diberi kaki dan terdapat hiasan pada jiratnya. Di kecamatan Bontoramba terdapat kompleks makam Bataliung, yang memiliki empat tipe nisan, yaitu nisan dengan penampang segi empat (pipih dan balok), bentuk tonggak (lingga), bentuk arca dan bentuk menhil. Di kecamatan ini juga terdapat kompleks makam Manjang Loe dan kompleks makam Joko. Di kecamatan Binamu terdapat kompleks makam Sapanang dan makam Patima Daeng Ti'no serta rumah adat Binamu. Di kecamatan Arung Keke Pallantikang terdapat rumah adat Kampala dan makam Ta'baka. Di kecamatan Batang terdapat komples makam Karaeng Sengge dan kompleks makam Karaeng Bisea.

Buku JEJAK SEJARAH JENEPONTO mampu menyajikan sebuah identitas situs yang tersebar di berbagai tempat dalam wilayah Kabupaten Jeneponto. Beberapa temuan baru situs arkeologis yang diungkap dalam buku ini tentu saja dapat memberikan kontribusi dalam rangka rekonstruksi sejarah kebudayaan Jeneponto, diantaranya serpih bilah yang berasal dari zaman mesolitik, makam kuno dan rumah adat. Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi di jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar.


JEJAK SEJARAH JENEPONTO
Penulis: M. Nur, Akin Duli, Rusman Moh. Rukka
Penerbit: Masagena Press bekerjasama dengan Kantor Pariwisata Seni dan Kebudayaan Kabupaten Jeneponto
Tempat Terbit: Makassar
Tahun Terbit: 2008
ISBN: 978-979-979-78-2-7