Showing posts with label Kerajaan Luwu. Show all posts
Showing posts with label Kerajaan Luwu. Show all posts

August 8, 2022

KERAJAAN LUWU (MENURUT CATATAN D.F. VSN BRAAM MORRIS)

Salah satu naskah kuno atau buku lama yang mengandung ide-ide, gagasan-gagasan utama, berbagai macam pengetahuan tentang alam semesta menurut persepsi budaya masyarakat yang bersangkutan seperti ajaran agama, sejarah dan unsur-unsur lain yang mengandung nilai-nilai luhur yang dituturkan sesuai dengan tradisi masyarakat bersangkutan, ialah naskah Het Lands chap Luhu yang ditulis oleh Gubernur Selebes D. F. Van Braam Morris tahun 1888. 

Naskah tersebut diperoleh dalam bentuk foto copy dari koleksi Perpustakaan Nasional R.I, termasuk kategori buku lama karena berusia lebih 50 tahun berdasarkan Monumen Ordenansi STLB 238-1931.

Buku KERAJAAN LUWU (MENURUT CATATAN D.F. VSN BRAAM MORRIS) membahas tentang Negeri Luhu yang juga dinamai Luwu, berbatasan di sebelah selatan dengan Pitumpanuwa yang termasuk dalam wilayah Bone, Wajo dan Poleang, serta wilayah Buton yang terletak di dataran Sulawesi.

Penduduk dari Luhu terdiri dari orang-orang Luhu dan Toraja, yang pertama adalah orang Bugis (To Woegi atau To Oegi) dan yang terakhir orang-orang gunung, beberapa suku di antaranya masih sangat biadab. 

Kepala negeri adalah seorang raja yang bergelar Pajung. Di dalam tangannya terletak kekuasaan tertinggi, yang mengatur tentang hidup atau mati. Kepala negeri harus seorang aru matasa' (dari raja berdarah murni) dan lahir asli dari keturunan raja (wija manurung), yang dipilih oleh hadat dan dihormati sebagai makhluk langit, tetapi baru dapat memakai gelar pajung, apabila telah dilantik (rilante). Kalau tidak dia hanya di gelar datu.

Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang juga membahas mengenai sejarah Luwu yang hanya di kenal, menurut sumber lisan dari mulut ke mulut dari kaum ke kaum, Luhu dahulu dinamai Wara, tempat kelahiran dan peradaban Bugis pada abad ke 10 sampai ke 14 dan menjadi kerajaan terkuat di Sulawesi. Syair-syair La Galigo banyak menyebutkan keadaan Luhu pada masa itu yang memiliki kekuasaan atas semua kerajaan-kerajaan yang ada di Sulawesi. 


KERAJAAN LUWU (MENURUT CATATAN D.F. VSN BRAAM MORRIS)
Penerjemah: HAM Mappasanda
Editor: Muh. Yun us Hafid
Penerbit: Balai Kajian dan Nilai Tradisional
Tempat Terbit: Ujung Pandang
Tahun Terbit: 1992


August 2, 2021

PERANG LOEWOE 1905-1906




Perlawanan rakyat Sulawesi terhadap Belanda, yang mau kembali menjajah Indonesia, di Afdeling Luwu termasuk yang paling gigih. Selain di Afdeling Makassar, Bonthain, Mandar dan Pare-Pare, Luwu memegang urutan yang melakukan perlawanan gigih.

Keluarga Raja Luwu Andi Djemma yang mengunsi di Latou setelah perlawanan dalam Kota Palopo tak mungkin lagi. Rakyat di Afdeling ini telah membentuk pemerintahan Republik lengkap dengan Dewan Pertahanan.

Di Latou kekuatan tentara ini bertemu dengan kekuatan-kekuatan dari Kolaka dan membentuk satu organisasi ketentaraan, kurang lebih 10 peleton. Tentara ini melakukan serangan terhadap Kolaka, tetapi dihadang oleh pasukan KNIL dibawah pimpinan Letnan Venniks. Pasukan ini terpencar-pencar.

Untuk mengatur perlawanan ini Belanda mengirim kapal perang Irebe di teluk Bone, sebelum Datu Luwu meninggalkan Palopo, terjadi ketegangan-ketegangan karena tentara Australia membawa serta tentara Belanda untuk mengembalikan kekuasaan kepada Belanda. Dan pada permulaan Januari pasukan Luwu mengirim ultimatum kepada tentara Australia yang berbunyi sebagai berikut:

Dalam tempo 2 x 24 jam pasukan Australia harus memerintahkan kepada pasukan-pasukan KNIL, yang berkeliaran di dalam dan di luar Kota Palopo mengadakan patroli-patroli, untuk segera menarik seluruh anggota-anggotanya bersama senjata-senjatanya masuk kedalam tangsi, keamanan tetap dalam tangan pemerintah Republik Indonesia Luwu sesuai dengan penjanjian dengan komandan kontingen Autralia Lay Wright, jika sampai batas waktu yang tidak diindahkan oleh yang bersangkutan, maka ketertiban dan keamanan tidak dapat dipertaggungjawabkan, karena rakyat Luwu tidak dapat mentolelir kekejaman-kekejaman dan kebiadaban pasukan KNIL yang telah sering terjadi di dalam dan di luar Kota Palopo. 
(Surat tersebut ditulis oleh Andi Djemma selaku Pemerintah Republik Indonesia pada tanggal 21 Januari 1946 jam 23.00 di Palopo). 

Dalam semester pertama 1946 pertempuran dengan KNIL telah dimulai, tentang KNIL yang terlambat mendarat di Kolaka memberi kesempatan pada para pejuang, memperoleh senjata dan membentuk 10 peleton, mereka bertempur melawan pasukan Letnan Venniks. Meraka dipukul mundur ke utara dan bertempur di Latou yang sementara itu telah menjadi tempat penyingkiran Raja Luwu yang meninggalkan Palopo. Belanda mendatangkan kapal perang Irene diperairan Luwu.

Latou diserang Belanda dan berhasil menawan Raja Luwu berserta benda-benda kerajaan (Arajang), pertempuran disekitar Latou ini berjalan selama 4 bulan dan menurut laporan officier Van Justitie Makassar 125 orang tewas dan kurang lebih 1.100 ditawan.

Kegigihan perlawanan Luwu ini untuk kemerdekaan tidak berdiri sendiri, Luwu mau melepaskan diri dari Belanda, mau mengulangi perlawanan Luwu terhadap Belanda tahun 1905-1906. Untuk mengetahui sedikit tentang perang 1905-1906 maka di bawah ini mengungkapkan episode-episode dari perang itu 

Buku PERANG LOEWOE 1905-1906 membahas tentang kegigihan perlawanan Luwu melepaskan diri dari Belanda, yang mana literaturnya diperoleh dari Koninklyk Instituut Voor Taal Land en Volkenkunde (KITLV) yang bekerjasama dengan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).  Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar.


Manai Sophiaan: PERANG LOEWOE 1905-1906
Penulis: Manai Sophiaan
Penerbit: Yayasan Mencerdaskan Kehidupan Bangsa

July 12, 2021

KERAJAAN LUWU MENYIMPAN BANYAK MISTERI


Luwu, sebagai kerajaan tertua di Sulawesi Selatan, menyimpan banyak misteri yang belum terungkap. Peristiwa demi peristiwa, dari yang heroik, dramatis, hingga tragis mewarnai eksistensi kerajaan ini.

Tidak banyak masyarakat kita yang mengetahui bahwa di Kerajaan Luwu pernah ada sebuah desa pandai besi tersohor seantero Nusantara, yang memukau Kerajaan Majapahit untuk memakai keahlian mereka. Sebuah desa bernama Matano, yang gaungnya kini hilang ditelan oleh hiruk-pikuk zaman. Orang Matano melebur besi plus nikel lalu mengumpulkannya di tempat peleburan untuk dibakar dengan teknik yang primitif. Hasil yang berkualitas unggul dibawah berlayar oleh pedagang-pedagang  yang selalu datang silih berganti di pelabuhan. Besi dari tanah Luwu -yang menyandang nama favorit Pamoro Luwu- ini terkenal bukan hanya dari segi kualitasnya, tetapi juga mitos yang dipercaya masyarakat Nusantara.

Konon, senjata yang terbuat dari besi asal Luwu dapat membunuh musuh hanya dengan satu goresan kecil -mitos-. Kawali adalah senjata terkenal Kerajaan Luwu bentuknya berkelok-kelok seperti keris di Jawa. Meskipun juga ada yang berbentuk badik -seperti yang dipakai orang-orang Melayu Nusantara pada umumnya. Selain itu Luwu ternyata beberapa keturunan dari Kerajaan Luwu menjadi raja-raja di negeri Jiran. Tidaklah heran, bila berangkat dari fakta ini kemudian dikatakan bahwa secara genetis orang-orang Malaysia dan Indonesia memang bertalian. 

Buku KERAJAAN LUWU MENYIMPAN BANYAK MISTERI tentang keberadaan Kerajaan Luwu yang sudah dikenal sejak abad ke-XIII. Yang menarik, komoditi dagang dari Kerajaan Luwu bukan rempah-rempah tetapi hasil pertambangan; besi yang mengandung nikel yang berkualitas tinggi. Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearispan Provinsi Sulawesi Selatan, yang berlokasi jalan Sultan Alaudidin Km. 7 Tala'salapang-Makassar.


KERAJAAN LUWU MENYIMPAN BANYAK MISTERI
Penulis: H.L. Purnama
Penyunting: Mutaroh A'mal
Penerbit: Arus Timur
Tempat Terbit: Makassar
Tahun Terbit: 2014
ISBN: 978-602-9057-67-6




November 26, 2020

AKAR KENABIAN SAWERIGADING

Sawerigading hingga kini memang masih misterius. Termasuk tempat berdirinya Kerajaan Luwu dahulu kala, masih menjadi tanda tanya. Kerajaan Luwu (Ware) tempat lahirnya Sawerigading, dahulu kala terletak di sekitar Cappa' Salo, karena di daerah itu ada Bulu' PoloE, gunung yang terbelah. Menurut keyakinan masyarakat setempat, gunung itu terbelah waktu Pohon WalenrengngE ditebang untuk dijadikan Perahu oleh Sawerigading. Pohon besar itu tumbang dan jatuh di atas gunung, dan gunung itu terbelah, maka sampai kini gunung itu dinamakan Bulu' PoloE artinya "gunung yang patah".

Buku AKAR KENABIAN SAWERIGADING: Tapak Tilas Jejak Ketuhanan Yang Esa dalam Kitab I La Galigo (Sebuah Kajian Hermeneutik) berdasarkan argumentasi dan dasar acuan kuat, penulis berusaha meyakinkan pembaca bahwa Sawerigading memang layak "dicurigai" sebagai seorang nabi. Alasan yang dilontarkan tidak hanya bersumber dari naskah dan cerita lokal seputar Sawerigading, tapi juga dilengkapi dasar acuan dari Al-Qurán.

Buku ini terdiri atas enam Bab. Dalam Bab Satu, mengemukakan kemungkinan Kerajaan Luwu sudah ada sejak abad I Masehi, dan berpengaruh hingga ke India. Berdasarkan dari kenyataan tersebut di atas, dengan mengkompromikan informasi dalam Al-Quran, bahwa pada setiap kaum/bangsa/suku, Allah SWT, telah mengutus nabi/rasul. Yang jadi tanda tanya kemudian, untuk membimbing mereka mengenai Tuhan dan hukum-hukumNya. Maka sudah dapat dipastikan, kepada masyarakat/bangsa/kaum Bugis-Makassar, Allah SWT, telah mengutus seorang nabi/rasul. Yang jadi tanda tanya kemudian, siapakah nabi/rasul yang diperuntukkan Allah SWT bagi kaum Bugis-Makassar itu?

Selanjutnya dalam Bab Dua, memaparkan tentang makna Hermeneutika, Agama dan Kepercayaan sebagai landasan teori.

Bab Tiga, berisi penjelasan tentang eksistensi kenabian dan kerasulan. Disebut dalam Al-Qurán, bahwa Allah SWT telah mengutus kepada setiap golongan dari umat manusia ini seorang nabi dan rasul. Informasi tersebut dapat diperoleh dalam Al-Qurán surah Yunus ayat: 47 sebagai berikut: "Dan kepada setiap golongan, terdapat seorang rasul".

Selanjutnya dalam surat an-Nahl ayat 36, Allah SWT kembali menegaskan; "... Dan sesungguhnya telah Kami bangkitkan kepada setiap umat itu seorang Rasul". Menurut Ibnu Katsir (tanpa tahun: 549), ayat tersebut di atas menjelaskan bahwa Allah SWT telah mengutus kepada seluruh umat dan masa serta tiap-tiap golongan manusia seorang rasul. Semua rasul itu menyeruh untuk menyembah Allah SWT dan mencegah penyembahan selain Allah.

Pada Bab Empat menjelaskan tentang naskah I La Galigo, proses penyusunan dan penulisan ulang, berikut tokoh-tokoh yang berjasa dalam menuliskan kembali naskah tersebut, serta memberikan pemahaman bahwa kemungkinan besar I La Galigo termasuk salah satu kitab suci, yang diturunkan Allah SWT, kepada kaum Bugis-Makassar. Dugaan tersebut didasarkan atas sejumlah pendapat dan penafsiran kontemporer tentang kitab suci. 

Selanjutnya Bab Lima menampilkan Saweringading, sebagai tokoh yang layak disebut nabi. Hal tersebut didasarkan, karena:

  1. Sawerigading pernah menerima wahyu
  2. Sawerigading pernah berhaji ke Baitullah
  3. Sawerigading mengajarkan Tauhid
  4. Sawerigading hidup jauh sebelum kehidupan Nabi Muhammad SAW sebagai penutup para nabi dan rasul.

Dan ditutup pada Bab Enam, dengan asumsi bahwa Sawerigading memang layak disebut sebagai seorang nabi.

Buku AKAR KENABIAN SAWERIGADING untuk lebih mengenal sosok Sawerigading, secara khusus dan mencoba membedah kepercayaan Bugis-Makassar pra-Islam yang termaktub dalam Kitab I La Galigo. Buku ini merupakan salah satu koleksi refrensi Layanan Perpustakaan umum, yang mendorong pembaca kreatif berfikir (berfikir rasional) dan tidak terjebak dalam sikap rutinitas (berfikir tradisional), sarta mampu menafsirkan secara subyektif dan spekulatif sebuah fenomena sejarah di Sulawesi Selatan melalui pendekatan hermeneutika.


AKAR KENABIAN SAWERIGADING
Tapak Tilas Jejak Ketuhanan Yang Esa dalam Kitab I La Galigo 
(Sebuah Kajian Hermeneutik) 
Penulis: A. S. Kambie
Penerbit: Parasufia
Tempat Terbit: Makassar
Tahun Terbit: 2003
ISBN: 979-97779-0-9


 

July 27, 2020

Kedatuan Luwu, Persfektif Arkeologi, Sejarah dan Antropologi



Buku : Kedatuan Luwu, Persfektif Arkeologi, Sejarah dan Antropologi
Editor : Iwan Sumantri
Penerbit : Jendela Dunia berkerjasama dengan Pemda Luwu Timur
Jumlah Halaman : 324
Ukuran : 15 x 21 cm
ISBN : 978-979-15705-0-3

Luwu termasuk salah satu kerajaan (Kedatuan) tertua dan terbesar di Sulawesi bagian selatan dan termasuk daerah yang cukup banyak dijadikan obyek penelitian, baik oleh sejarawan, ahli arkeologi, dan ahli antropologi. Buku ini salah satu dari sekian banyak buku yang membahas tentang Kedatuan Luwu ditinjau dari berbagai sudut pandang keilmuan. Buku ini merupakan edisi kedua, setelah sebelumnya edisi pertama diluncurkan pada tahun 2000 silam. Tujuan utama penerbitan buku ini menurut Bupati Luwu Timur, H. Andi Hatta Marakarma, adalah untuk memberikan wacana kesejarahan bagi masyarakat Luwu Timur yang kemungkinan besar telah mulai memudar dari ingatan kolektif masyarakat.

Buku ini adalah kumpulan karya tulis ilmiah (makalah, paper) dari berbagai pakar sesuai disiplin ilmu masing masing. Keseluruhan karya tulis dibagi menjadi 3 bagian, yaitu Persfektif Arkeologi, Persfektif Sejarah, dan Persfektif Antropologi. Buku diawali dengan kata Sambutan Bupati Luwu Timur, H. Andi Hatta Marakarma, kata Sambutan Ketua DPRD Luwu Timur, H. Andi Hasan Opu To Hatta, dan Sekapur Sirih edisi Pertama dan Kedua oleh Iwan Sumantri dari Fakultas Ilmu Budaya Universitas Hasanuddin. Buku ini tercipta berkat kerjasama Pemda Luwu Timur dengan Jurusan Arkeologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Hasanuddin.

Bagian pertama adalah Kedatuan Luwu ditinjau dari persfektif Arkeologi, terdiri dari 7 (tujuh) karya tulis ilmiah yaitu :

1.      Menelusuri Jejak Lahirnya keberagaman Masyarakat Sulawesi Selatan: Persfektif Arkeologi, oleh Iwan Sumantri
2.      Laporan Ringkas Penelitian OXIS Project 1998, oleh David F. Bulbeck, Bagyo Prasetyo dan Iwan Sumantri.
3.       Investasi Arkeologi Atas Legenda Luwu di Pesisir Timur Teluk Bone, oleh Budianto Hakim dan M. Irfan Mahmud.
4.      Peranan Komunitas Berbudaya Toraja sebagai Penyangga Kedatuan Luwu, oleh M. Nur.
5.      Kompleks Benteng Wotu Tua di Desa Lampenai Kecamatan Wotu, Kabupaten Luwu Timur: Suatu Tinjauan  Arkeologi.
6.      Benteng Wotu: Persfektif Arkeologi Pascaprosessual, oleh Supriadi.
7.      Re-Interpretasi Arkeologi Terhadap Dinamika Peradaban Luwu, oleh M. Irfan Mahmud, Tanwir L. Wolman, dan Iwan Sumantri.

Kedatuan Luwu dari Persfektif Sejarah:

1.      Kerajaan Luwu dalam Persfektif Sejarah Sulawesi Selatan, oleh Edward L. Poelinggomang.
2.      Kerajaan Luwu, oleh Yunus Hafid.
3.      Melacak Jejak Nenek Moyang Orang Wotu, oleh Amrullah Amir
4.      Beberapa Catatab Kultural Sistem Pemerintahan “Kerajaan Luwu” Prakolonial Dipandang Dari Dimensi Birokrasi: Sebuah Refleksi Sejarah, oleh Andi Ima Kesuma.

Kedatuan Luwu dari Persfektif Antropologi:

1.      Negara Kesejahteraan Dalam Pemikiran Maccae Ri Luwu, oleh Anwar Ibrahim.
2.      Sistem Perkawinan Adat Luwu yang Relevan dalam Transformasi Kebudayaan Nasional, oleh Andi Ima Kesuma.

Buku ini ditutup dengan riwayat hidup Penulis secara alfabetis.




July 23, 2020

LUWU DALAM REVOLUSI


Sejarah Indonesia, merupakan untaian yang terdiri dari cincin-cincin peristiwa yang kait berkait – sambung menyambung satu dan lainnya. Peristiwa-peristiwa daerah, adalah mata rantai yang menentukan sejarah bangsa Indonesia.

Pada permulaan revolusi muncul suatu “pendapat” yang mendengung di kuping rakyat Luwu yang sedang berkobar semangat perjuangannya. Pendapat itu kurang lebih demikian: “Tidak masuk di akal bahwa kita dapat mengalahkan Belanda yang mempunyai persenjataan yang kuat padahal kita membuat sebilah jarum pun tidak bisa, apalagi membuat sepucuk senjata. Orang-orang yang hendak melawan Belanda adalah orang-orang bodoh dan bebal”.

Tujuan daripada pendapat itu, untuk melemahkan semangat perjuangan rakyat yang telah membara, sehingga dengan mudah penjajah Belanda dapat tegak kembali di tanah air kita. Dengan fakta-fakta yang telah kita saksikan sekarang, maka “pendapat” tersebut hilang lenyap dan tak berkesan lagi. Memang karena pendapat itu jauh dari kebenaran. Ia hanya dapat timbul dalam pikiran orang-orang yang telah berkarat hatinya oleh rayuan palsu dari penjajah.

Timbul dan tenggelamnya Kerajaan Luwu dalam lembaran-lembaran lontaraq menjelaskan rentetan Sejarah Luwu yang amat penting diketahui masyarakat seperti “Terbunuhnya Ketua Suro Palakka di Suli (Palopo)”, “Pembentukan TRI Persiapan Sulawesi”, “Pembentukan KGSS”, “Riwayat Ringkas dari Perjuangan Rakyat di Enam Desa Wawo (Sulawesi Tenggara).

Buku LUWU DALAM REVOLUSI mengandung perkembangan Kerajaan Luwu sejak zaman bahari sampai kepada perjuangan Pemuda-pemudanya di waktu Revolusi Kemerdekaan Indonesia. Diwaktu itu pemuda-pemuda LUWU mempergunakan Empat Organisasi Perjuangan sebagai jalan untuk mencapai tujuan Revolusi yaitu :
  1. SUKARNO MUDA
  2. PEMUDA NASIONAL INDONESIA (PNI)
  3. PEMUDA REPUBLIK INDONESIA (PRI)
  4. PEMBELA KEAMANAN RAKYAT (PKR)

Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Perpustakaan Abdurrasyid Daeng Lurang yang berlokasi di jalan Kenanga No. 7A Sungguminasa, Kabupaten Gowa mengenai kumpulan peristiwa-peristiwa sekitar Teluk Bone, sebelum dan sesudah kedatangan bangsa Belanda ke daerah ini, berjalin timbul dan tenggelamnya Kerajaan Luwu dalam lembaran-lembaran lontaraq.

LUWU DALAM REVOLUSI
Penulis: Sanusi Dg. Mattata
Tahun Terbit: 1967

July 15, 2020

SEJARAH MASUKNYA ISLAM DI KERAJAAN LUWU


Dalam sejarah Sulawesi Selatan, Kerajaan Luwu adalah kerajaan tertua dan merupakan sumber asal usul raja-raja Bugis-Makassar. Kerajaan Luwu juga merupakan kerajaan pertama menerima Islam di Sulawesi Selatan dan menjadikan Islam sebagai agama resmi kerajaan. Oleh karena itu, Luwu merupakan pintu gerbang masuknya Islam di Sulawesi Selatan.

Menurut Sanusi Daeng Mattata dalam buku Luwu Dalam Revolusi, pengislaman di Tanah Luwu memiliki karakteristik tersendiri, yakni proses masuknya Islamnya Raja Luwu melalui suatu dialog yang panjang dengan ketiga orang ulama dari Minangkabau yang membawa ajaran Islam masuk ke daerah Luwu.

Mereka adalah Abdul Makmur, Khatib Tunggal, yang lebih popular dengan nama Datu ri Bandang. Sulaiman, Khatib Sulung, yang lebih popular dengan nama Datu Patitimang atau Datu Sulaiman dan Abdul Jawad, Khatib Bungsu, yang lebih dikenal dengan nama Datu ri Tiro.

Ketiga datu berasal dari Minangkabau Sumatera Barat inilah yang berhasil menyebarkan Islam di Sulawesi Selatan sekitar abad XVI dengan bantuan raja sebagai penguasa. Keberhasilan mengislamkan raja merupakan kunci utama bagi pengembangan Islam selanjutnya di daerah ini. Disamping itu, tradisi lisan Bugis-Makassar menyebutkan bahwa keberhasilan ketiga datuk tersebut menyebarkan Islam disebabkan oleh kemampuan mereka memperlihatkan berbagai hal luar biasa.

Setelah berhasil mengislamkan Datu Luwu, merekapun kemudian menyusun strategi baru. Datu ri Bandang berangkat ke daerah Gowa untuk mengislamkan Gowa, begitu juga dengan Datu ri Tiro yang kemudian berangkat ke daerah Bulukumba untuk mengislamkan masyarakat di sana.

Sedangkan Datu Pattimang atau Datuk Sulaiman menetap di Luwu, untuk mengembang ajaran agama Islam di daerah ini. Berkat upaya dakwah yang dilakukan, maka ajaran agama Islam di daerah Luwu terus mengalami perkembangan hingga saat ini.

Buku SEJARAH MASUKNYA ISLAM DI KERAJAAN LUWU menguraikan seputar proses masuknya Islam di Kerajaan Luwu, yang merupakan kerajaan tertua di Sulawesi Selatan, yang dibawah oleh tiga ulama dari Minangkabau yaitu Datu Sulaiman, Datu ri Bandang dan Datu ri Tiro. Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Perpustakaan Abdurrasyid Daeng Lurang yang berlokasi di jalan Kenanga No. 7A Sungguminasa, Kabupaten Gowa.


MENELUSURI JEJAK SEJARAH MASUKNYA ISLAM DI KERJAAN LUWU
Penulis: Nazaruddin A. Sadda
Penerbit: Yayasan La Galigo Multi Media
Tempat Terbit: Gowa
Tahun Terbit: 2010
ISBN: 978-602-98273-0-9

April 14, 2020

Meniti Siri' dan Harga Diri, Catatan dan Kenangan


Buku : Meniti Siri’ dan Harga Diri, Catatan dan Kenangan
Penulis : Andi Mattalatta
Penerbit : Khasanah Manusia Nusantara, Jakarta 2014
Jumlah Halaman : xii + 644
ISBN : 978-979-97305-0-3

“Sejarah tak pernah dusta, sejarah selalu arif, sejarah selalu menghardik setiap pelakunya, sejarah adalah hitam putih.” (Andi Mattalatta)

Buku otobiografi Mayor Jenderal Purnawiraan H. Andi Mattalatta, merupakan catatan kenangan perjalanan hidup Andi Mattalatta yang merupakan tokoh perjuang kemerdekaan dari Sulawesi Selatan, seorang bangsawan Bugis yang juga tokoh olahraga. Tokoh yang wafat tahun 2004 silam ini adalah orang Asia pertama yang mendapatkan Hall of Fame dari International Waterski and Wakeboard Federation (IWWF) sebagai Perintis Olahraga Ski Air.

Tak sekedar buku otobiografi, buku ini juga memuat banyak catatan sejarah perjuangan, sejarah militer, sejarah budaya Sulawesi Selatan, sejarah olahraga, kisah kisah kehidupan pada masa kolonial Belanda dan Jepang dan pengalaman unik lainnya dimasa lalu. Urutan Raja dan Ratu yang pernah berkuasa di kerajaan Bone, Gowa, Luwu dan Barru juga dibahas dalam buku ini. Tentang kebudayaan Bugis dan Makassar juga ada, misalnya ada dibahas warna warna baju bodo yang dikenakan perempuan Bugis dan Makassar harus sesuai dengan status perempuan tersebut. Begitu pula pemakaian Songkok Pamiring atau Songkok To Bone bagi kaum pria harus memenuhi persyaratan tertentu bagi yang memakainya. Suku atau Etnis dan sub etnis yang ada di Sulawes Selatan juga diuraikan disini dengan keunikan masing masing. Bahkan asal mula gelaran “Andi” bagi keturunan bangsawan juga dijelaskan dalam buku ini.

Yang menarik bagi saya adalah pada bagian dimana Herman (nama panggilan Andi Mattalatta) masih remaja dan aktif berolahraga. Beliau pernah mengalahkan remaja Belanda dibidang olahraga renang, atletik, sepatu roda dan lain lain. Hampir semua cabang olahraga dikuasainya, selain atletik dan renang, dimana beliau pemegang rekor pada masa itu,  juga aktif olahraga beladiri yaitu tinju, pencak silat, kun tao, body building dan Gymnastic (Senam).  Selain olahraga, kegemaran Herman lainnya adalah Fotografi. Hasil jepretannya dapat dinikmati dalam buku ini. Pada masanya, di Makassar, hanya dua yang memiliki kamera fototoestel yaitu Dr. Yap Ong Siang dan Andi Mattalatta sendiri. Kegemarannya menonton film film Hollywood pada masanya, juga menarik dibaca. Bagaimana beliau belajar menggunakan tali jerat (tali lasso) juga diperlajarinya dari film.

Membaca buku ini tidak perlu berurut dari awal sampai akhir, namun pembaca bisa pindah bagian ke bagian lain yang dirasa menarik. Karena buku ini adalah penggalan (fragmen) kisah kisah hidup dan pengalaman Andi Mattalatta mulai dari masa kecilnya sampai masa masa beliau aktif di militer dan politik. Buku ini sangat menarik, membacanya seakan akan membawa kita memasuki kehidupan dikota Makassar dan daerah lainnya di Indonesia  dimasa penjajahan Belanda dan Jepang dan juga masa pasca kemerdekaan.

Buku ini diawali dengan catatan dari Pemrakarsa, Hadi Basalamah, kemudian Sambutan keluarga: Andi Ilhamsyah Mattalatta, dan sambutan Andi Mattalatta sendiri sebagai Penulis. Buku ini hanya terbagi atas 2 (dua) bagian yaitu: Catatan dan Kenangan. Catatan berisi pengetahuan sejarah kerajaan dan budaya Sulawesi Selatan, dan Kenangan membahas kisah kisah hidup dan pengalaman Andi Mattalatta sepanjang sejarah perjalanan hidupnya yang penuh dinamika.

Adapun judul judul catatan dan kenangan dalam buku ini adalah:

Catatan :

-          Kita dan Sejarah
-          Orang Sulawesi Selatan
-          Kerajaan di Sulawesi Selatan
-          Raja-raja Kerajaan Luwu
-          Raja-raja Kerajaan Gowa
-          Raja- raja Kerajaan Bone
-          Raja-raja Kerajaan Barru
-          Raja-raja Agang Nionjo dan Kerajaan Tanete
-          Tokoh-tokoh yang mengagumkan
-          Strategi Arung Palakka
-          Inggris Menjajah Hindia Belanda
-          Susunan Keturunan Bugis –Makassar
-          Sebutan dan Derajat Kebangsawanan
-          Peningkatan Derajat Keturunan
-          Adat Berpakaian
-          Aturan Pemakaian Songkok Pamiring
-          Pendidikan di Sulawesi Selatan

Kenangan :

-          Barru, Kota Kelahiran Saya
-          Tinggal di Makassar
-          Keluarga Roukenz
-          Andi Abdurrahim
-          Harga Kehormatan Diri
-          Menjadi Pandu
-          Berguru Beladiri
-          Pemberontakan Sang Pelatih
-          Tinggal di Rumah Sendiri
-          Remie Voll
-          The Allround Athlete
-          Film, Sang Maha Guru
-          Menolak Jadi Raja
-          Jepang Datang
-          Mayat-mayat di Pelabuhan
-          Mr. Andi Zainal Abidin
-          Tokubetsu Booei Teisintai
-          Jepang Bertekuk Lutut
-          Pemuda Pejuang Nasional Indonesia
-          Ambon Moord
-          Membariskan Pasukan PPNI di Hadapan Dr. Ratulangi
-          Menculik Dr. Ratulangi
-          Membina Pasukan Di Pedalaman
-          Dislokasi PPNI
-          Konferensi Pare-Pare
-          Menggebrak Meja Bung Karno
-          Asrama Republik Indonesia
-          Meninjau Front Jawa Timur
-          Istri Andi Amirullah
-          Meninjau Front Jawa Barat
-          Dilantik Pak Dirman
-          Mulai Mengekspedisikan Pasukan
-          Andi Mo’mang
-          Resimen Hasanuddin
-          Pahlawan Malioboro
-          Menjemput Teman Seperjuangan
-          Pemuda Yogyakarta dan Laut
-          Paula dan Pendidikan Kader
-          Siap Kembali ke Sulawesi
-          Kala Sulawesi ditinggalkan
-          Sulawesi, Aku Datang!
-          Letkol Andi Sirifien Gugur
-          Konferensi Paccekke
-          Rapat Kerja Pertama
-          Umar Ambo Dadi
-          Surat dari Sukawati
-          Lahirnya Sebuah Legenda
-          Kembali ke KamiriE
-          RPP Westerling
-          Hari Berkabung Nasional
-          Passoso Vs Taktik Gerilya
-          Pagar Betis Di Balocci
-          Batu MabbuluE
-          Makassar Memanggil
-          Kembali ke Gellengnge
-          Menuju Makassar
-          Tertangkap Patroli Belanda
-          Penarik Becak dari Matasiri
-          Pemuda Pemuda Surabaya
-          Roosmini Amalia Van Doodenaarden Suryalegawa
-          Menghadap Panglima Besar
-          Pidato Kahar di Trimargo
-          Memimpin Resimen Hasanuddin
-          Pertempuran di Gombong
-          Menikahkan Andi Mo’mang
-          Pemberontakan Muso
-          Perang Kemerdekaan II
-          Kapten Janggo
-          Dipanggil Sri Sultan
-          Ibu Nasution
-          Menangkap Aburaera
-          Utusan Letkol Soeharto
-          Sri Sultan dan Aksi Gerilya
-          Mencegah Belanda Masuk Banaran
-          Serangan Umum 1 Maret
-          Di Depan Anak Buah
-          Serangan ke Kaliurang
-          Easy to Love
-          Ulah FDR Kamagi
-          Permintaan Para Orangtua
-          Reorganisasi dan Rasionalisasi
-          Mendarat di Pancana
-          Dipuji Soekarno
-          Membentuk Depot Batalion
-          Pemberontakan KNIL di Makassar
-          Membubarkan NIT
-          Menumpas RMS
-          Panggilan Untuk Menikah
-          Menumpas Pelarian CTN
-          Dikaruniai Anak Pertama
-          Operasi Halilintar
-          Merintis Ski Air
-          Bertugas di Makassar
-          Terbentukya POPSA
-          Ditengah Kemelut Politik
-          Seputar Permesta
-          Panglima Kodam Pertama
-          Keputusan Sri Sultan

Bagian akhir buku ini adalah “Daftar Bacaan” dan “Biodata”. Buku ini koleksi Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Sulawesi Selatan.