Showing posts with label Manai Sophiaan. Show all posts
Showing posts with label Manai Sophiaan. Show all posts

August 2, 2021

PERANG LOEWOE 1905-1906




Perlawanan rakyat Sulawesi terhadap Belanda, yang mau kembali menjajah Indonesia, di Afdeling Luwu termasuk yang paling gigih. Selain di Afdeling Makassar, Bonthain, Mandar dan Pare-Pare, Luwu memegang urutan yang melakukan perlawanan gigih.

Keluarga Raja Luwu Andi Djemma yang mengunsi di Latou setelah perlawanan dalam Kota Palopo tak mungkin lagi. Rakyat di Afdeling ini telah membentuk pemerintahan Republik lengkap dengan Dewan Pertahanan.

Di Latou kekuatan tentara ini bertemu dengan kekuatan-kekuatan dari Kolaka dan membentuk satu organisasi ketentaraan, kurang lebih 10 peleton. Tentara ini melakukan serangan terhadap Kolaka, tetapi dihadang oleh pasukan KNIL dibawah pimpinan Letnan Venniks. Pasukan ini terpencar-pencar.

Untuk mengatur perlawanan ini Belanda mengirim kapal perang Irebe di teluk Bone, sebelum Datu Luwu meninggalkan Palopo, terjadi ketegangan-ketegangan karena tentara Australia membawa serta tentara Belanda untuk mengembalikan kekuasaan kepada Belanda. Dan pada permulaan Januari pasukan Luwu mengirim ultimatum kepada tentara Australia yang berbunyi sebagai berikut:

Dalam tempo 2 x 24 jam pasukan Australia harus memerintahkan kepada pasukan-pasukan KNIL, yang berkeliaran di dalam dan di luar Kota Palopo mengadakan patroli-patroli, untuk segera menarik seluruh anggota-anggotanya bersama senjata-senjatanya masuk kedalam tangsi, keamanan tetap dalam tangan pemerintah Republik Indonesia Luwu sesuai dengan penjanjian dengan komandan kontingen Autralia Lay Wright, jika sampai batas waktu yang tidak diindahkan oleh yang bersangkutan, maka ketertiban dan keamanan tidak dapat dipertaggungjawabkan, karena rakyat Luwu tidak dapat mentolelir kekejaman-kekejaman dan kebiadaban pasukan KNIL yang telah sering terjadi di dalam dan di luar Kota Palopo. 
(Surat tersebut ditulis oleh Andi Djemma selaku Pemerintah Republik Indonesia pada tanggal 21 Januari 1946 jam 23.00 di Palopo). 

Dalam semester pertama 1946 pertempuran dengan KNIL telah dimulai, tentang KNIL yang terlambat mendarat di Kolaka memberi kesempatan pada para pejuang, memperoleh senjata dan membentuk 10 peleton, mereka bertempur melawan pasukan Letnan Venniks. Meraka dipukul mundur ke utara dan bertempur di Latou yang sementara itu telah menjadi tempat penyingkiran Raja Luwu yang meninggalkan Palopo. Belanda mendatangkan kapal perang Irene diperairan Luwu.

Latou diserang Belanda dan berhasil menawan Raja Luwu berserta benda-benda kerajaan (Arajang), pertempuran disekitar Latou ini berjalan selama 4 bulan dan menurut laporan officier Van Justitie Makassar 125 orang tewas dan kurang lebih 1.100 ditawan.

Kegigihan perlawanan Luwu ini untuk kemerdekaan tidak berdiri sendiri, Luwu mau melepaskan diri dari Belanda, mau mengulangi perlawanan Luwu terhadap Belanda tahun 1905-1906. Untuk mengetahui sedikit tentang perang 1905-1906 maka di bawah ini mengungkapkan episode-episode dari perang itu 

Buku PERANG LOEWOE 1905-1906 membahas tentang kegigihan perlawanan Luwu melepaskan diri dari Belanda, yang mana literaturnya diperoleh dari Koninklyk Instituut Voor Taal Land en Volkenkunde (KITLV) yang bekerjasama dengan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).  Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar.


Manai Sophiaan: PERANG LOEWOE 1905-1906
Penulis: Manai Sophiaan
Penerbit: Yayasan Mencerdaskan Kehidupan Bangsa

April 30, 2020

Apa Yang Masih Teringat



Buku : Apa yang Masih Teringat
Penulis : Manai Sophiaan
Penerbit : Yayasan Mencerdaskan Kehidupan Bangsa, Jakarta 1991
Jumlah Halaman : xvi + 480
ISBN : -

Buku ini merupakan memoir atau kisah hidup Manai Sophiaan, seorang pejuang tiga zaman (Belanda, Jepang dan setelah kemerdekaan) yang berasal dari Takalar, Sulawesi Selatan. Namun tak sekedar kisah hidup Manai Sophiaan, buku ini juga banyak mengungkap kisah kisah heroisme perjuangan rakyat Sulawesi Selatan, juga perjuangan bangsa Indonesia secara umum, melawan penjajahan Belanda dan Jepang.

Soekarno atau lebih dikenal dengan sebutan Bung Karno, juga banyak dibahas dalam buku ini. Mulai dari sejak awal perjuangannya membangun prestasinya, menjadi pemimpin pemuda, sampai kepada memerdekakan bangsa Indonesia dari penjajahan. Termasuk juga para pengkritik kebijakan dan para pemberontak seperti DI/TII, RMS, PRRI, Permesta dan lain lain, juga dibahas dalam buku ini.
Kehidupan pribadi Manai Sophiaan adalah inti pokok bahasan buku ini. Mulai dari masa masa kecil, menempuh pendidikan di  Twede Inlandse School (1926), Schakel School (1931), dan MULO Makassar (1934) ikut Kepanduan Bangsa Indonesia (KBI) Makassar, belajar di Taman Guru Taman Siswa Yogyakarta 1937 dan juga aktif pada organisasi Indonesia Muda (IM) di Yogyakarta, saat menjadi guru pada Taman Dewasa Taman Siswa Makassar pada tahun 1940an,  kemudian menjadi anggota PARINDRA, kemampuannya berbahasa Belanda sehingga sempat menjadi tenaga pengajar Bahasa Belanda. Beliau juga sempat menjadi jurnalis pada Koran Celebes dan di Yogya menjadi pimpinan Redaksi Suluh Marhaen dan Suluh Indonesia.

Karir politiknya mulai dari anggota Dewan Gementee, dan anggota Badan Pekerja Komite Nasional Indonesia Pusat (BP-KNIP). Beliau juga anggota PARINDRA, lalu PNI. Sementara karir diplomatiknya yaitu ketika beliau ditunjuk sebagai Duta Besar RI untuk Rusia di Moskow.

Buku ini terbagi menjadi 16 bagian, diawali dengan Sekapur Sirih dari Penerbit, Kata Pengantar dari penulis (Manai Sophiaan) dan kemudian judul judul bagian sebagai berikut:

1.      Profil Sang Penjajah
2.      Pasar Malam Jadi Kongress
3.      “Indie Verloren – Rampspoed Geboren”
4.      Pesan Bung Karno dan Ki Hadjar
5.      Bersumpah di Makam Pangeran Diponegoro
6.      Australia dan NICA Mendarat
7.      Kesaksian orang orang Belanda
8.      Carte-Blanche untuk Membunuh
9.      Bukan Lahir dari Laras Bedil
10.  Mosi di KNIP
11.  Watergeuzen van Indonesia
12.  Desember Kelabu
13.  Makna Gerakan 17 Oktober 1952
14.  Masalah “Dwifungsi” dan Kejatuhan Sukarno
15.  Duta Besar di Moskow
16.  Renungan Akhir

Buku ini ditutup dengan Bibliografi (Daftar Pustaka) dan Indeks yang memudahkan pembaca mencari topik apa saja yang ingin dibaca.

Koleksi Perpustakaan Abdurrasyid Daeng Lurang, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Sulawesi Selatan.