Perlawanan rakyat Sulawesi terhadap Belanda, yang mau kembali menjajah Indonesia, di Afdeling Luwu termasuk yang paling gigih. Selain di Afdeling Makassar, Bonthain, Mandar dan Pare-Pare, Luwu memegang urutan yang melakukan perlawanan gigih.
Keluarga Raja Luwu Andi Djemma yang mengunsi di Latou setelah perlawanan dalam Kota Palopo tak mungkin lagi. Rakyat di Afdeling ini telah membentuk pemerintahan Republik lengkap dengan Dewan Pertahanan.
Di Latou kekuatan tentara ini bertemu dengan kekuatan-kekuatan dari Kolaka dan membentuk satu organisasi ketentaraan, kurang lebih 10 peleton. Tentara ini melakukan serangan terhadap Kolaka, tetapi dihadang oleh pasukan KNIL dibawah pimpinan Letnan Venniks. Pasukan ini terpencar-pencar.
Untuk mengatur perlawanan ini Belanda mengirim kapal perang Irebe di teluk Bone, sebelum Datu Luwu meninggalkan Palopo, terjadi ketegangan-ketegangan karena tentara Australia membawa serta tentara Belanda untuk mengembalikan kekuasaan kepada Belanda. Dan pada permulaan Januari pasukan Luwu mengirim ultimatum kepada tentara Australia yang berbunyi sebagai berikut:
Dalam tempo 2 x 24 jam pasukan Australia harus memerintahkan kepada pasukan-pasukan KNIL, yang berkeliaran di dalam dan di luar Kota Palopo mengadakan patroli-patroli, untuk segera menarik seluruh anggota-anggotanya bersama senjata-senjatanya masuk kedalam tangsi, keamanan tetap dalam tangan pemerintah Republik Indonesia Luwu sesuai dengan penjanjian dengan komandan kontingen Autralia Lay Wright, jika sampai batas waktu yang tidak diindahkan oleh yang bersangkutan, maka ketertiban dan keamanan tidak dapat dipertaggungjawabkan, karena rakyat Luwu tidak dapat mentolelir kekejaman-kekejaman dan kebiadaban pasukan KNIL yang telah sering terjadi di dalam dan di luar Kota Palopo.
(Surat tersebut ditulis oleh Andi Djemma selaku Pemerintah Republik Indonesia pada tanggal 21 Januari 1946 jam 23.00 di Palopo).
Dalam semester pertama 1946 pertempuran dengan KNIL telah dimulai, tentang KNIL yang terlambat mendarat di Kolaka memberi kesempatan pada para pejuang, memperoleh senjata dan membentuk 10 peleton, mereka bertempur melawan pasukan Letnan Venniks. Meraka dipukul mundur ke utara dan bertempur di Latou yang sementara itu telah menjadi tempat penyingkiran Raja Luwu yang meninggalkan Palopo. Belanda mendatangkan kapal perang Irene diperairan Luwu.
Latou diserang Belanda dan berhasil menawan Raja Luwu berserta benda-benda kerajaan (Arajang), pertempuran disekitar Latou ini berjalan selama 4 bulan dan menurut laporan officier Van Justitie Makassar 125 orang tewas dan kurang lebih 1.100 ditawan.
Kegigihan perlawanan Luwu ini untuk kemerdekaan tidak berdiri sendiri, Luwu mau melepaskan diri dari Belanda, mau mengulangi perlawanan Luwu terhadap Belanda tahun 1905-1906. Untuk mengetahui sedikit tentang perang 1905-1906 maka di bawah ini mengungkapkan episode-episode dari perang itu
Buku PERANG LOEWOE 1905-1906 membahas tentang kegigihan perlawanan Luwu melepaskan diri dari Belanda, yang mana literaturnya diperoleh dari Koninklyk Instituut Voor Taal Land en Volkenkunde (KITLV) yang bekerjasama dengan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar.
Manai Sophiaan: PERANG LOEWOE 1905-1906
Penulis: Manai Sophiaan
Penerbit: Yayasan Mencerdaskan Kehidupan Bangsa


