December 30, 2020

PROFIL PEREMPUAN PEJUANG SULAWESI SELATAN

Naskah mencatat sejumlah tulisan tentang riwayat perjuangan para tokoh Sulawesi Selatan, khususnya kaum perempuan jauh sebelum kemerdekaan yakni pada zaman kerajaan, hingga fase mempertahankan kemerdekaan sejak Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945.

Buku PROFIL PEREMPUAN PEJUANG SULAWESI SELATAN berisi kisah-kisah kepahlawanan Tokoh Wanita Sulawesi Selatan. Tokoh pejuang perempuan Sulawesi Selatan mempunyai ciri-ciri khusus secara pribadi baik dalam perilaku maupun bertindak. Tokoh tersebut juga memiliki kesamaan perilaku dan tindak laku sosial. Kesamaan yang dimiliki walaupun pada umumnya berketurunan bangsawan, berdarah biru, jiwa kerakyatan, sifat kesederhanaan, sikap tegas, teguh penderian, bertanggungjawab, serta kemampuan/berketrampilan khusus yang dapat dilakukan secara nyata antara lain dalam strategi peran yang biasanya diakui hanya dimiliki oleh kaum laki-laki saja, disamping beliau-beliau juga adalah seorang ibu rumah tangga yang memiliki keluarga.

Buku ini mengisahkan beberapa Tokoh Wanita Sulawesi Selatan di antaranya:

  • Retna Kencana Arung Pancana Toa Colliq Pujie Matiroe ri Tucae, Sastrawan dan Sejarawan Kosmopolit di Abad XIX oleh Nurhayati Rahman
Menceritakan sejarah kehidupan peribadi Colliq Pujie yang dilatari oleh sistem sosial dan cultural dari zaman yang diwakilinya, serta sejarah kehidupan para raja yang masih tersimpan dalam memori Colliq Pujie yang tertuang dalam lontaraq. 
  • Banning Arung Data, Profil Pejuang Wanita dari Bone pada Abad ke XIX oleh Suriadi Mappangara
  • I Tenribua Besse Kajuara, Ratu Bone: Profil Pejuang Wanita dari Bone pada abad ke XIX oleh A. Rasyid Asba
  • Pancai Tana Bunga Walie, Profil Wanita dalam Perjuangan Fisik Menentang Kehadiran Imperialisme dan Kolonialisme Belanda di Enrekang Massenrepulu oleh Darwas Rasyid
Bunga Walie tidak hanya dikenal keberaniannya dan kegigihannya tapi juga mempunyai kemampuan mengatur strategi perlawanan dan peran terhadap pasukan Belanda. Dalam sejarah perjuangan perlawanan masyarakat Kerajaan Massenrepulu terhadap Belanda dipimpin oleh rajanya, Pancai Tana Bunga Walie.
  • Indo Caba Srikandi Masserempulu 1905-1906 oleh Sarita Pawiloy dan Suryadi Mappangara
Ada dua tokoh srikandi perempuan bernama Indo Caba dan I ada dua tokoh srikandi perempuan bernama Indo Caba dan Indo Ranga yang selalu membantu dan mendampingi Arung (raja) Pancai Tana Bunga Walie dalam setiap serangan laskar kerajaan terhadap pasukan Belanda bahkan Pancai Tana Bunga Walie menetapkan sebagai pemimpin laskar yang anggotanya semua wanita. Diantara keduanya Indo Caba lah yang dikisahkan sebagai yang paling berani dengan teriakan Allahu Akbar menyerbu pasukan Belanda (ketika itu Indo Caba dan masyarakat Masserempulu sudah menganut agama Islam). Indo Caba adalah juga seorang istri dan ibu seorang putri yang masih balita yang rela ia ditinggalkan demi perjuangannya mencegah Belanda merebut tanah kelahirannya.

Ada suatu keistimewaan pada Indo Caba yang dalam masyarakat Masserempulu pada zaman itu merupakan tindakan yang sangat tidak lazim dilakukan apalagi oleh seorang perempuan yaitu kepalanya digundul dan sejak itu selalu gundul sampai akhir hayatnya ketika ia gugur dalam pertempuran terakhirnya di sebuah benteng yang bernama Benteng Mandatte terletak di sebuah bukit. Laskarnya pada akhirnya tidak mampu lagi mempertahankan diri terhadap serbuan pasukan Belanda yang dengan segaja beberapa meriam menggempur Benteng Mandatte, benteng perlawanan terakhir laskar Masserempulu yang hanya bersenjatakan batu-batu gunung, tombak dan bedil-bedil kuno. Akhirnya Benteng Mandatte jatuh ketangan Belanda pada tahun 1906.

  • Andi Kambo, Raja Luwu Menentang Belanda 1901-1935
Andi Kambo Raja yang memerintah di Kerajaan Luwu pada tahun 1901-1905, disebuah kerajaan yang terletak di sebelah utara Sulawesi Selatan. Perlawanan terhadap Belanda ini dimulai ketika Belanda mulai menunjukkan tanda-tanda ingin juga menaklukan Kerajaan Luwu yang diawali dengan cara-cara membujuk bahwa kalau keinginan Belanda untuk bekerjasama dipenuhi, maka kerajaan dan rakyat Luwu akan hidup sejahtera. Namun Andi Kambo tidak termakan oleh tipu muslihat Belanda itu dan melakukan persiapan menentang kedatangan kekuasaan Belanda di Luwu. Ternyata pasukan Belanda akhirnya jadi menyerang Kota Palopo, ibukota Kerajaan Luwu pada tanggal 11 September 1905 dan penyerangan itu terus berlanjut dan menjadi serangkaian pertempuran antara pasukan Belanda dan laskar Kerajaan Luwu. 

Berbagai taktik dilakukan oleh pasukan Belanda untuk mematahkan semangat perlawanan Andi Kambo sampai kepada memisahkannya dengan suaminya yang ditangkap dan dibuang oleh Belanda ke pulau Jawa karena ia dinyatakan sebagai otak semua perlawanan dan meninggal ditempat pembuangannya.

Sampai pada usia lanjut Andi Kambo tidak pernah surut perlawanannya terhadap Belanda sampai ia mangkat pada tahun 1935 dan digantikan oleh putra mahkota, anaknya yang bernama Andi Jemma Pattiware.

Buku tersebut mengisahkan kepahlawanan tokoh-tokoh perempuan di Sulawesi Selatan. Tujuan yang terkandung di balik kisah-kisah kepahlawan tokoh-tokoh wanita ini adalah untuk menangkap atau membangun suatu kenyakinan di tengah-tengah masyarakat Indonesia, khususnya masyarakat Sulawesi Selatan, bahwa sesungguhnya sejak berabad-abad yang lalu, mereka telah memiliki pusaka (heritage) berupa orang-orang yang memiliki kemuliaan, yang terdiri dari wanita yang selalu berperan sejajar dengan kaum lelaki, menjadi koleksi referensi layanan perpustakaan umum yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar.


PROFIL PEREMPUAN PEJUANG SULAWESI SELATAN
Penulis: Nurhayati Rahman, Suriadi Mappangara, A. Rasyid Asba, et.al.
Editor: Yayasan Permata
Penerbit: Yayasan Permata Kerajasama  La Macca Press
Tempat Terbit: Makassar
Tahun Terbit: 2004
ISBN: 979-97452-7-6


I CALO AMMANA I WEWANG TOPOLE DI BALITUNG: PAHLAWAN DAERAH MANDAR SULAWESI SELATAN

Ammana I Wewang salah satu pejuang yang menghalang-halangi Belanda menanam kekuasaan di Mandar sejak tahun 1893-1907, menolak kolonialisme dan imperealisme Belanda. Bangsa Indonesia termasuk bangsa yang menghargai jasa pahlawannya, seperti di Kota Majene dan Tinambung, salah satu jalanan telah diabadikan nama Ammana I Wewang sebagai tanda penghargaan rakyat dan pemerintah daerah Majene dan Polewali Mamasa atas jasa-jasa beliau.

Buku BIOGRAFI I CALO AMMANA I WEWANG TOPOLE DI BALITUNG: PAHLAWAN DAERAH MANDAR SULAWESI SELATAN bukan dimaksudkan untuk memberikan penghargaan terhadap jasa beliau sebagai seorang pahlawan daerah Mandar melawan Belanda, melainkan sebagai kebanggaan putra-putri Mandar khususnya dan bangsa Indonesia pada umumnya. 

Buku ini membahas sejarah hidup, pengalaman-pengalaman, sampai kisah Ammana I Wewang mulai dari negeri asalnya, masa kanak-kanaknya, pendidikan, masa dewasa, persiapan untuk memimpin kerajaan menggantikan ayahnya, menjadi Mara'dia Malolo, diangkat menjadi raja di Kerajaan Alu, selain itu juga peran Ammana I Wewang menolak kolonialisme dan imperealisme Belanda. 

Peran Ammana I Wewang menolak kolonialisme dan imperealisme Belanda dapat disimpulkan sebagai berikut:

  1. Akibat penanda tanganan sebuah corte verklaring tanggal 11 Oktober 1674 antara kompeni dengan Raja Alanipa ke-7 Tomatindo di Burio, sehingga dasar itu Belanda selalu mengawasi Mandar.
  2. Mandar dan masyarakatnya memberikan peluang bagi Ammana I Wewang untuk berjuang menuju cita-citanya yang sejak usia mudanya terkandung di dalam dadanya untuk membebaskan bangsanya dari tindakan kolonialisme Belanda.
  3. Perlawanan Ammana I Wewang  secara aktif melawan Belanda sejak lahirnya corte verklaring tanggal 4 Juli 1890 yang disodorkan oleh Belanda kepada Tokape Raja Balanipa ke-48 untuk ditanda tangani (suatu perjanjian yang gagal) karena ditolak oleh Tokape.
  4. Pemerintah Kerajaan Balanipa berdasarkan demokrasi ditandai dengan lembaga Appe' Banua Kai yang berfungsi sebagai parlemen dan konstituante, mempunyai hak memilih, mengangkat serta menurungkan raja dari tahta kerajaan. Juga raja bekerja dibantu oleh Sappulo Sakko' Ada' yang berfungsi sebagai kabinet di bawah pimpinan matoa sebagai perdana menteri.
  5. Kebencian Ammana I Wewang  terhadap Belanda dan kaki tangannya nampak pada akhir sidang di Campalagiang.
  6. Ammana I Wewang  tertangkap akibat penghianatan dari bangsa kita sendiri.
  7. Ammana I Wewang  diasingkan hampir 38 tahun lamanya di pulau Belitung.
  8. Ammana I Wewang  bebas dari tawanan akibat pendudukan Jepang di Indonesia.
  9. Ammana I Wewang  menyandang usia di dunia selam 113 tahun dan bergerak melawan Belanda selama 17 tahun.
Buku tersebut juga dilengkapi beberapa foto maupun gambar dan silsila I Calo Ammana I Wewang Topole di Balitung merupakan salah satu koleksi referensi, layanan perpustakaan umum yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang, Makassar.


I CALO AMMANA I WEWANG TOPOLE DI BALITUNG
PAHLAWAN DAERAH MANDAR SULAWESI SELATAN
Penulis: M.T. Azis Syah
Penerbit: Yayasan P dan K Teruna Remaja Pusat Ujung Pandang
Tempat Terbit: Ujung Pandang
Tahun Terbit: 1984




December 29, 2020

GEOGRAFI BUDAYA SULAWESI SELATAN

Geografi budaya daerah untuk melihat hubungan timbal balik antara lingkungan fisik sosial dengan perkembangan budayanya. Dengan memahami perkembangan ilmu geografi tentang jenis-jenis geografi, seperti geografi fisik dan atau geografi budaya dengan geografi sosial. Keduanya mencakup dalam konsep geografi manusia (human geography).

Geografi sebagai ilmu pengetahuan keruangan (spatial science) mempelajari segenap gejala yang terdapat dalam ruang atas permukaan bumi, khususnya mengenai susunan dan ruang (spatial arrangement), penyebaran dalam ruang (spatial distribution), penyebaran dalam ruang (spatial distribution), integrasi dalam ruang (spatial integration), interaksi, integrasi dan organisasi dalam ruang (spatial integration and organization) dan proses-proses dalam ruang (spatial processes).

Batasan kebudayaan yang digunakan dalam Geografi Budaya Sulawesi Selatan mencakup aktivitas manusia dan mempelajari pengaruh atau akibat perkembangan budaya pada lingkungan fisik-sosial dan sebaliknya. 

Sulawesi Selatan secara hipotetik, berdasarkan atas sejarah dan pengalaman sosial kulturilnya, dapat disebut daerah pertanian pangan. Penduduknya gemar berlayar dan berniaga (perantau), serta taat kepala agama atau kepercayaan yang dianutnya. Sebagai daerah pertanian pangan, maka dapat diduga peranan tanah datar untuk pertanian sawah - ladang amat berpengaruh dalam struktur sosial atau pembentukan komposisi strata sosial. Penduduknya yang gemar berlayar dan berniaga memberikan indikasi tentang kemungkinan mobilitas penduduk yang tinggi dan persebaran yang luas. Beberapa indikator lain, seperti ketaatan dalam menganut agama, kepercayaan penduduk, dan temperamen penduduk yang amat peka dalam peluapan emosi dan lain-lain, mungkin dapat difahami lebih baik melalui pengetahuan tentang proses interaksinya dalam geografi budaya yang terjalin dalam satu kebulatan sistem ekologi.

Buku GEOGRAFI BUDAYA SULAWESI SELATAN sebagai hasil penelitian dan pencatatan data geografi budaya Sulawesi Selatan, mencakup Sumber Daya Alam (lokasi atau letak, iklim, sungai dan danau, geologi dan barang tambang, tanah, vegetasi dan dunia hewan); Sumber Daya Manusia (jumlah penduduk dan angkatan kerja, pertambahan penduduk, jenis suku bangsa dan persebarannya, pendidikan dan kebudayaan, kesehatan, transmigrasi); dan Penghidupan Penduduk (pertanian, kehutanan, peternakan, perikanan, industri, perhubungan, perdagangan). Buku ini merupakan salah satu koleksi layanan perpustakaan umum yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang, Makassar.


GEOGRAFI BUDAYA SULAWESI SELATAN
Penyusun: Mattulada, M. Arief Said, M. Johan Nyompa, et.al
Penerbit: Proyek Penelitian dan Pencatatan Kebudayaan Daerah
Tahun Terbit: 1976




TANAHDOANG SELAYAR

Cerita rakyat atau legenda yang dimiliki oleh setiap suku bangsa, pada hakekatnya mengandung seperangkap nilai-nilai budaya luhur, yang diwariskan secara turun temurung dari satu generasi ke generasi yang lainnya. Isi kandungan yang terdapat dalam ceritera ini sekaligus juga merupakan sumber informasi budaya daerah, yang dapat dijadikan pedoman serta pegangan dalam berkomunikasi, guna menciptakan keserasian dan kesamaan memahami berbagai corak suku bangsa.

Sejumlah ceritera rakyat daerah Selayar yang masuk dalam rumpung suku Makassar yang berkaitan dengan mitos dan legenda ini. Adapun kumpulan cerita rakyat Selayar yang disajikan dalam buku ini, terdiri dari:

  1. Balandangan
  2. Langke Uhang (Sipencuri Sarung Sang Dewi)
  3. Batuganni (Batu Bersuara Pemintal)
  4. Tossureia (Tubarani dari Kampung Bontosikuyu)
  5. Daeng Mangkasan dan Daeng Manronrong (Kisah Persaingan Dua Putra Mahkota)
  6. Juragan Dermawan (Janji Keris Pusaka)
  7. I Baso Burakne (Petualangan ke Negeri Raja Babi Hutan)
  8. Opu Daengpaekak (Penemu Opu Toa-Batu Azimat Pemancing)
  9. Patta Buki (Si Panyabung dari Tanah Doang)
  10. Pariangang
  11. Opu Naki
Buku TANAHDOANG SELAYAR merupakan kumpulan cerita rakyat dari Selayar merupakan kumpulan cerita rakyat dari Selayar sebagai salah satu sumber informasi dalam upaya melestarikan nilai-nilai budaya suku Bugis Makassar dan Sulawesi Selatan pada umumnya. Buku ini merupakan salah satu koleksi layanan perpustakaan umum yang berlokasi jalan Sultan Alauddim Km. 7 Tala'salapang, Makassar.


TANAHDOANG SELAYAR 
Penyusun/Editor: Edy Thamrin/Ali Samad
Penerbit: Pustaka Pena Press Makassar
Tempat Terbit: Makassar
Tahun Terbit: 2009

ALAT-ALAT PERTANIAN TRADISIONAL SULAWESI SELATAN


Daerah Sulawesi Selatan merupakan daerah pertanian yang sudah terkenal sejak dahulu kala. Hal ini dapat dibuktikan antara lain oleh banyaknya sejarah/lontarak yang khusus membicarakan tentang hal-hal yang berhubungan dengan pertanian. Demikian pula cendekiawan-cendekiawan banyak memberikan petua-petua untuk memperbaiki dan memajukan pertanian seperti petua-petua dari Puang Ri Maggalatung, Nenek Mallomo, Kajao Laliddo, Maccae ri Luwu dan lain sebagainya.

Sulawesi Selatan sebagai daerah pertanian disebabkan antara lain oleh keadaan alamnya, yang membujur dari utara ke selatan dan ditengahnya terdapat deretan-deretan pegunungan Maros, Bone dan Latimojong. Keadaan ini menyebabkan adanya pergantian turun hujan di pantai barat dan timur, bila dipantai barat turun hujan di pantai timur musim kemarau. Oleh karena itu musim hujan sawah di pantai Bone berbeda dengan di pantai Pangkep.

Sehingga di daerah ini penduduk mengerjakan sawah sepanjang tahun. Sebab kalau di pantai barat panen maka di pantai timur mulai turun ke sawah lagi. Seperti halnya di daerah-daerah lain maka oleh penduduk di daerah ini diciptakan alat-alat pertanian untuk mereka gunakan menggarap sawah/kebun.

Pada mulanya bentuk alat yang mereka buat itu tentunya masih sangat sederhana. Tetapi pada saat sekarang ini akibat modernisasi maka alat tersebut juga sudah mengalami perubahan-perubahan bahkan sudah ada yang digantikan.

Berikut alat-alat pertanian tradisional Sulawesi Selatan:

  1. Alat Pengolah Tanah, seperti Rakkala (bajak); Salaga (sisir); Bingkung (cangkul); Ajoa; Baba Tedong (Cambuk); Pattorak (subbek); Saddang Pessi (linggis).
  2. Alat Pembersih Tanaman, seperti Piso Bellek; Teda'k; Bangkung Lampe (parang panjang); Kandao (sabit = arit); Maggello = mencabut rumput dengan tangan;  Mappero = membunuh rumput dengan cara menginjaknya dengan kaki; Passerok Anango (dari = pojek) = alat penangkap serangga
  3. Alat pemetik hasil tanaman, seperti Rakkapeng (anai-anai); Kandao (sabit = arit); Pakkodong (jolok = galah).
Adapun upacara adat pertanian di Sulawesi Selatan:
  1. Sebelum turun sawah, seperti Tudang Sipulung; Mattoana Galung; Pesta Palili = Mappalili
  2. Selama turun sawah, seperti Maddoja Bine; Mappamula Taneng (mulai menanam padi); Mappanre to Mangideng; Maddumpu Ase (mengasapi padi); Madduppa buah ase (menjemput padi); Mattaneng Use; Mappamula Mengngala (mulai menuai)
  3. Sesudah panen, seperti Pesta Panen; Manresipulung (makan bersama); Maccerak Ase; Mappanre Galung (makan bersama di sawah).
Buku ALAT-ALAT PERTANIAN TRADISIONAL SULAWESI SELATAN membahas tentang alat-alat pertanian tradisional dan upacara adat pertanian Sulawesi Selatan (Sidrap, Bone, Soppeng dan Majene) serta dilengkapi tabel perincian waktu baik dan buruk setiap hari selama seminggu. Buku ini merupakan koleksi layanan perpustakaan umum yang berlokasi jalan Sultan Alauddin km. 7 Tala'salapang, Makassar  sebagai media bagi generasi muda untuk mengetahui dan mempelajari kehidupan kebudayaan. 


ALAT-ALAT PERTANIAN TRADISIONAL SULAWESI SELATAN
Penulis: Muh. Yamin Data
Penerbit: Proyek Pengembangan Permuseuman Sulawesi Selatan
Tempat Terbit: Ujung Pandang
Tahun Terbit: 1979


December 28, 2020

SISTEM KEPEMIMPINAN DALAM MASYARAKAT PEDESAAN SULAWESI SELATAN


Desa sebagai suatu satuan sosial dan satuan kebudayaan dengan corak tersendiri merupakan salah satu unsur dari sistem jaringan administrasi, ekonomi, politik, dan sosial yang pusatnya terdekat adalah kota kecamatan. Melalui sistem-sistem jaringan tersebut akan di lihat pengaruh sistem-sistem nasional yang meliputi: kebudayaan, politik, ekonomi dan sosial  terhadap kebudayaan yang berlaku di masyarakat desa. 

Untuk melihat pembauran antara sistem politik nasional dengan sistem politik yang belaku dimasyarakat Desa Batu dan Desa Lancirang, keduanya terletak di Kecamatan Dua Pitue Kabupaten Sidenreng Rappang. Desa Batu mewakili desa terpencil dalam arti komunikasinya dengan kota dan daerah-daerah sekitarnya belum lancar. Sedangkan di Desa Lancirang mewakili desa yang komunikasinya dengan kota dan daerah-daerah sekitarnya sudah lancar.

Rakyat Desa Batu dan Desa Lancirang kuat dan ingin bekerja untuk melaksanakan pembangunan, asalkan terlebih dahulu diberikan pengertian tentang tujuan dan manfaat dari pada pembangunan tersebut melalui pendekatan adat dan tradisi setempat. Ada suatu kenyakinan, bahwa semua pekerjaan itu diridhoi oleh Tuhan asalkan tidak merusak, utamanya adat dan tradisi masyarakat yang merupakan warisan turun temurung. Karena bila suatu pekerjaan dilaksanakan tapi merusak adat atau tradisi maka itu akan berakibat turunnya bencana yang menimpa seluruh rakyat. Seperti misalnya tanaman tidak jadi, ternak tidak berkembang, wabah penyakit berjangkit dan sebagainya.

Pola kepemimpinan dalam masyarakat pedesaan di bidang sosial, ekonomi, pendidikan serta beberapa analisa perihal pengaruh kebudayaan terhadap sistem kepemimpinan di pedesaan; sistem kepemimpinan pedesaan sehubungan dengan sistem adminitrasi politik nasional; serta sistem kepemimpinan pedesaan dalam pembangunan nasional, dapat di simpulkan sebagai berikut:

  1. Masyarakat Desa Lancirang lebih terbuka dibanding dengan masyarakat Desa Batu. Hal ini disebabkan karena komunikasi Desa Lancirang lebih dahulu terbuka dan lancar dengan kota sekitarnya. Oleh karena itu jumlah dan jenis kepemimpinan di Desa Lancirang lebih beragam di banding Desa Batu.
  2. Karena masyarakat Desa Batu masih bersifat tertutup maka kegiatan-kegiatan pembangunan desa lebih banyak memerlukan inisiatif kepala desa di banding dengan Desa Lancirang. Hal ini mungkin menyebabkan sehingga Kepala Desa Batu lebih banyak berinisiatif dalam menerima perintah atau instruksi dari camat dibanding dengan Kepala Desa Lancirang.
  3. Jabatan kepala desa di Desa Batu dan Lancirang terbuka bagi siapa yang memenuhi syarat dan mempunyai kemampuan. Ini terbukti bahwa kepala desa dikedua desa tersebut semuanya orang pendatang.
  4. Kepala desa adalah merupakan titik temu dari sistem kepemimpinan lokal yang didasari nilai-nilai adat dan agama Islam. Dengan sistem kepemimpinan nasional yang didasari oleh nilai-nilai dan aturan-aturan Pancasila dan UUD 45. Namun dalam kenyataannya kepemimpinan nasional sering mendominasi kepemimpinan lokal melalui kekuasaan formal.
  5. Walaupun prosedur pengangkatan kedua kepala desa tersebut sama. Namun kenyataannya bahwa Desa Lancirang lebih rajin mengunakan hak kontrol sosialnya dibanding dengan rakyat Desa Batu. Hal ini mungkin disebabkan oleh sifat masyarakatnya atau watak kepala desanya berbeda.
Buku SISTEM KEPEMIMPINAN DALAM MASYARAKAT PEDESAAN SULAWESI SELATAN merupakan hasil penelitian mengenai masalah-masalah tertentu pada sistem politik lokal dan sistem politik nasional yang berjalan dengan baik, walaupun masalah-masalah tertentu, terutama masalah keluarga dan agama sering muncul pertentangan.

Buku ini merupakan salah satu koleksi layanan perpustakaan umum mengenai salah satu pesan orang tua yang berbunyi: "Resona Temmangingngi Naletei Dewata", artinya: Hanya dengan kerja keras dengan niat yang baik akan diberkahi oleh Tuhan. Pesan inilah yang menjadikan Sidrap mewujudkan daerahnya menjadi daerah lumbung pangan untuk Indonesia bagian Timur.


SISTEM KEPEMIMPINAN DALAM MASYARAKAT PEDESAAN 
SULAWESI SELATAN
Penulis: Drs. Muh. Yamin Data, Drs. Makmun Badaruddin, Muh. Nawi P, et al
Penerbit: Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah
Tahun Terbit: 1983



December 22, 2020

CURI CURITA TO BASA MAMUJU



Kesusastraan (lisan)  daerah dan sastra Indonesia lama, merupakan warisan budaya nenek moyang bangsa Indonesia yang tersimpan nilai-nilai budaya yang tinggi. Untuk itu perlu dilakukan pelestarian, bukan hanya akan memperluas wawasan terhadap sastra dan budaya masyarakat daerah yang bersangkutan, melainkan juga akan memperkaya khazanah sastra dan budaya Indonesia.

Buku Curi-curita To Basa Mamuju adalah karya sastra Indonesia lama yang ditulis dengan menggunakan bahasa Mamuju, Sulawesi Selatan. Dalam Curi-Curita To Basa Mamuju ini banyak terkandung nilai-nilai luhur nenek moyang kita yang pantas diteladani oleh bangsa Indonesia. Untuk itu, dalam upaya melestarikan dan memasyarakatkannya, dilakukan penyusunan dan penerjemahan dari bahasa Mamuju ke dalam bahasa Indonesia. Berikut kesusastraan (lisan) yang di maksud:
  • Si Miskin dengan Raja
  • Pulau Karampuang
  • Burung Gagak Melawan Ular Sawah
  • Pelabuhan Mindanau
  • Jalan-Jalan
  • Obat yang Didapat dalam Mimpi
  • Ular Penelan Ayam
  • Tata Cara Bertani Orang Tempo Dulu di Kabuloang
  • Bukit Mangga
  • Orang dari Kayangan
  • Pa'bulu Roppe
  • Tolo'na dari Kayangan
  • Pa'bulu Roppe
  • Tolo'na I Ha'dara
  • Teks Cerita
  • Lapokkasiasi Siola Maradika
  • Liutangna Karampuang
  • Kalloaja' Sibali Ulo Saba
  • Labuang Mangindang
  • Kaleleleleng
  • Alibe Niso'na
  • Ulo Pangurru' Manu'
  • Pangumana To Diolo' di Kabuloang
  • Tanete Pao
  • Memekang
  • Katu-Katuongna Pole'bo'
  • Todipanurung di Langiq
  • Pa'bulu Roppe
  • Tolo'na I Ha'dara
Buku ini merupakan koleksi layanan perpustakaan umum yang berlokasi jalan Sultan Alauddin km. 7 Tala'salapang Makassar berusaha untuk melestarikan nilai-nilai budaya dengan cara pemilihan, pengalihaksaraan, dan penerjemahan sastra (lisan) berbahasa daerah.


CURI-CURITA TO BASA MAMUJU
Penyusun: Abd. Rasyid, Adnan Usmar
Penerbit: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa
Tempat Terbit: Jakarta
Tahun Terbit: 1998


BISSU DALAM MASYARAKAT PANGKEP

Upacara tradisional Mappalili yang dilakukan masyarakat Segeri Mandalle di Kabupaten Pangkep merupakan kegiatan awal dalam memasuki musim tanam. Upacara tradisional ini pada dasarnya merupakan manifestasi dari emosi keagamaan, yaitu emosi keagamaan yang menjadi latar belakang dari tiap-tiap kelakuan yang serba-religius. Di samping emosi keagamaan, masyarakat diliputi pula oleh perasaan keterbatasan akal. 

Hal-hal yang tidak dapat dipecahkan oleh akal sehat dan dicari jalan pemecahannya melalui kekuatan-kekuatan gaib yang hidup disekeliling mereka. Kekuatan-kekuatan gaib itu tidak dapat dihubungi oleh sembarang orang, melainkan hanya orang-orang tertentu yang dianggap suci. Mereka yang dianggap suci adalah Bissu dan karena itu merekalah yang dapat berkomunikasi langsung dengan dewa-dewa atau mahkluk halus. Hal ini dapat dilihat pada beberapa gerakan dan upacara pada nyayian pemujaan yang dilakukan oleh Bissu dalam upacara Mappalili.

Bissu adalah wakil Arajang dalam menjaga dan menaati tata tertib kosmos. Segala tingkah laku yang dilakukan oleh Bissu didasarkan pada pandangan kosmologi mereka. Mereka beranggapan bahwa dalam diri manusia terkandung unsur-unsur yang disebut sumanga' (semangat). Sumanga' ini merupakan ini dan terbentuknya sebagai adat-istiadat yang harus ditaati.

Berikut peranan dan fungsi sosial Bissu sebagai berikut:

  1. Pemeliharaan, perawat, pembawa Arajang
  2. Pemimpin upacara ritual khusus yang berhubungan dengan para leluhur
  3. Sanro (dukun) yang menyembuhkan penyakit dengan menggunakan mantra-mantra
  4. Guru bagi orang-orang yang akan menikah dan membentuk keluarga menurut tata cara yang diatur oleh adat
Tari Sere Bissu dilakukan oleh para Bissu dalam upacara-upacara suci yang menyangkut aliran kepercayaan lama yang mempercayai apa yang mereka sebut Dewata Seuwa-E. Sajian pertunjukkan tari tersebut hingga saat ini masih ditemukan dalam upacara tradisional, khususnya upacara tradisional Mappalili. Upacara tradisional Mappalili tersebut mencerminkan sistem sosial budaya yang berkaitan dengan produk budaya masyarakatnya.

Pada kenyataannya kehidupan Sere Bissu memang tidak terkait dengan kedudukan tari tersebut dalam masyarakat. Kehadirannya di masyarakat tidak sekedar untuk tontonan, tetapi juga mencakup fungsi-fungsi lain yang dirasakan perlu dalam kehidupan masyarakatnya. Peranan penting Sere Bissu dalam kehidupan masyarakat menyebabkan tetap hidup dan berkembang sesuai dengan zamannya.

Pengungkapan nilai-nilai Sere Bissu yang terdapat dalam masyarakat adalah landasan kultural yang membentuk pola tingkah laku secara kumulatif pada masa lalu. Generasi belakangan mewarisi pola sosial budaya yang dipandangnya sebagai ide tradisi tersebut. Ide itu mengandung nilai yang berpengaruh terhadap masyarakat pendukungnya yang dalam hal ini adalah para Bissu.

Buku BISSU DALAM MASYARAKAT PANGKEP membahas tentang peran Bissu - laki-laki yang memiliki fisik dan seksual yang abnormal, atau sering kita sebut waria atau wadam dalam kondisi kehidupan sosial budaya masyarakat yang mengalami perubahan begitu drastis dan ekstensif, Sere Bissu dapat bertahan sebagai sarana upacara Mappalili sekaligus sebagai tontonan dalam acara khusus untuk para Bissu. 

Tarian tersebut menunjulkkan bagaimana ia terbentuk melalui rentang waktu yang panjang dan dalam perkembangannya senantiasa bertolak dari hal-hal yang sudah ada sebelumnya. Sere Bissu terbentuk dari simbol dan laku simbolik kemudian menjadi satu arti yang memenuhi kreteria untuk dipertujukkan.

Buku ini merupakan koleksi layanan perpustakaan umum yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang Makassar untuk menjelaskan bentuk Sere Bissu yang lahir dan berkembang di Segeri Mandalle Kabupaten Pangkep, keterkaitannya dengan adat dan upacara Mappalili, fungsinya dalam kehidupan masyarakatnya, serta bentuk sajiannya yang menyangkut susunan tari, iringan, rias, dan busananya.


BISSU DALAM MASYARAKAT PANGKEP
(Kedudukan, Upacara, dan Sejarahnya)
Penulis: Nurlina Syahrir
Editor: Abdul Rajab Johari, Syukur Saud
Penerbit: Badan Pengembangan Bahasa dan Seni UNM
Tempat Terbit: Makassar
Tahun Terbit: 2003

PERKAWINAN SAWERIGADING DENGAN WE CUDAI


Sawerigading salah tokoh hero karena membawa pesan moral sehingga dianggap perwakilan dan ditinggikan dari sejarah suatu peradaban, seperti masyarakat Bugis tokoh. Tokoh hero dalam epos I La Galigo seperti Sawerigading, We’Cudai, La Galigo, We’ Tenriabeng, We’ Opu Sengngeng, dll. 

Kisah Sawerigading untuk menikahi adiknya We’ Tenriabeng, membuat Sawerigading harus keluar untuk mendapatkan perempuan lain dalam hal ini telah ditentukan bernama I we’ Cudai yang juga merupakan sepupunya yang merupakan keturunan dewa. I We’ Cudai bertempat di negeri Cina yang mana harus di tempuh dengan pelayaran yang jauh. Kisah perjalanan tersebut diwarnai dengan kisah heroik tokoh Sawerigading dengan memenangkan tujuh kali peperangan dalam pelayarannya belum lagi ketika sampai di negeri Cina. Sawerigading harus menaklukkan negeri tersebut untuk mendapatkan cinta I We’ Cudai.

Akhirnya, Sawerigading menikahi We Cudai. Dari perkawinannya, melahirkan anak pria bernama I La Galigo yang bergelar Datunna Kelling. Anak inilah, yang akhirnya menjadi penerus Kerajaan Luwu. Dan dari masa kejayaan I La Galigo, ia membuat karya sastra monumentar tentang silsilah keluarganya sendiri. 

Buku PERKAWINAN SAWERIGADING DENGAN WE CUDAI menceritakan kisah peminangan, penyerahan mahar, acara pernikahan, perkawinan Sawerigading dengan We Cimpau, I We Cudai melakukan I La Galigo, usia I La Galigo genap tiga tahun, I La Galigo menerima payung kebesaran atas kekuasaan Cina, serta We Cudai hamil lagi. 


PERKAWINAN SAWERIGADING DENGAN WE CUDAI 
Penyusun: Drs. Nonci, S. Pd
Penerbit: CV. Aksara
Tempat Terbit: Makassar



December 17, 2020

Professor Nurdin Abdullah, Satu Dasawarsa Memimpin Bantaeng


Judul : Professor Nurdin Abdullah Satu Dasawarsa Memimpin Bantaeng

Penulis : Fenti Effendi

Penerbit : Idekini Berkah Abadi

Kota tempat Terbit : -

Tahun Terbit : 2018

Jumlah Halaman : xviii + 208

Ukuran : 15 x 23 cm

ISBN : 978-602-50345-1-0

Professor Nurdin Abdullah adalah seorang akademisi yang kemudian menjadi kepala daerah dan memimpin kabupaten Bantaeng di Provinsi Sulawesi Selatan selama dua periode. Selanjutnya beliau terpilih menjadi Gubernur Provinsi Sulawesi Selatan pada tahun 2019 lalu. Pertanian adalah bidang yang digeluti oleh Professor Nurdin Abdullah. Pendidikan S1-nya diselesaikan di Universitas Hasanuddin Makassar pada Fakultas Pertanian, kemudian beliau melanjutkan pendidikan Pasca Sarjana (S2 dan S3) di negeri matahari terbit, Jepang. Beliau menjadi Bupati Bantaeng dari tahun 2008 – 2013, 2013 – 2018. Pada pemilihan gubernur Sulawesi Selatan pada tahun 2019, beliau bersama Andi Sudirman Sulaeman berhasil mendapatkan suara terbanyak dan menjadi Gubernur Sulawesi Selatan.

Buku ini salah satu memoir perjalan hidup dan karir Professor Nurdin Abdullah. Terdiri dari 7 bab, diawali dengan Kata Pengantar dengan judul ‘Memimpin Adalah Kerja Ilmiah’, Parade Foto Hari Jadi ke-763 Bantaeng, dan Professor Nurdin Abdullah memimpin Bantaeng.

Pada bab pertama Butta Toa Punya Cerita. Bab ini mengisahkan tentang bagaimana Nurdin Abdullah memimpin Butta Toa, sebutan khusus untuk kabupaten Bantaeng. Kesaksian para warganya dan letak demografis Bantaeng, serta asal usul dan sejarah kabupaten Bantaeng. Suka duka memimpin Bantaeng yang awalnya merupakan daerah tertinggal di Sulawesi Selatan, prestasi beliau dan serta tanggapan BJ Habibie (mantan presiden RI) dan tokoh lainnya juga diuraikan dalam bab ini. Foto dokumentasi beliau bersama Presiden RI Joko Widodo menutup bab pertama ini.

“Menata Dari Hulu” adalah judul bab kedua buku ini. Penjelasan tentang bagaimana seringnya terjadia banjir di Bantaeng dan kadang menimbulkan banyak korban jiwa dan harta benda, dan bupati Nurdin Abdullah mewujudkan pembangunan cedam senilai 14 milyar di Balang Sikuyu, program penghijauan di tiga kecamatan, program hutan desa adalah program kerja beliau selama memimpin Bantaeng,  sebagai upaya pencegahan bajir. Selain upaya pencegahan banjir, juga dibahas tentang penertiban hewan ternak warga yang kadang kadang berkeliaran di dalam kota terutama pasar. Dibuatkan pula aturan aturan untuk penertiban bahu jalan, dan juga program ‘Jumat Bersih’. Pada bagian lain bab ini, ada tentang penertiban dan peremajaan Pasar tradisional Lambocca. Upaya Nurdin Abdullah dalam menyiapkan dan ambulans bagi warganya juga dibahas pada bab ini.

Bab ketiga ‘Menguatkan Desa’ diawali dengan persoalan pelik, yaitu mengubah perilaku masyarakat. Problem utama di Bantaeng adalah kemiskinan dan minimnya pengetahuan tentang pertanian, juga infra struktur yang parah, fasilitas jalan buruk dan rendahnya produktifitas sawah dan ladang. Bab ketiga ini juga dibahas tentang, taman bunga dan bibit loka serta kemandirian desa. Upaya pencarian mata air untuk keperluan warga juga diuraikan disini.

“Belajar dari Bantaeng” adalah judul pembahasan pada bab keempat. Bagian ini pembahasan utamanya adalah bagaimana kesibukan bupati Nurdin Abdullah, bagaimana beliau mengatur waktu dikantor dan diluar kantor, berkordinasi dan bekerja sama dengan para birokrat lainnya di Bantaeng serta pengaturan jam jam kerja di Bantaeng. Juga dibahas tentang bagaiman Nurdin Abdullah menghapus tunjangan kinerja yang tentu saja tidak semua ASN bisa terima.

Selanjutnya dibahas tentang Siasat Masa Depan yang menguraikan tentang investasi, penyiapan masyarakat industri, dunia maritim di Bantaeng dan opsi terbaik untuk kesehatan. The Professow Way adalah judul bab keenam dengan sub bagian ‘teladan itu pangkal’. Pada bagian ini, juga dibahas tentang penganugerahan Bung Hatta Anti Corruption Award kepada Nurdin Abdullah, yang diserahkan lansung oleh putri Bung Hatta, Meutia Hatta Swasono. ‘Belum sempurna namun langkah-langkah yang dilakukan sudah mengarah ke sana dan kami ingin mengapresiasinya ditengah sulitnya mencari teladan dari pejabat publik’, demikian kata Zainal Arifin, juru bicara Bung Hatta Anti Corruption Award (BHACA).

Pada bagian akir buku ini ada kutipan tentang Nurdin Abdullah. “Nurdin Abdullah telah mengubah paradigma berkarat yang mengambat Bantaeng berlari cepat: dari ‘bagaimana menghabiskan’ menjadi ‘bagaimana menghasilkan’, dari ‘bagaimana mengambil’ menjadi ‘bagaimana memberi’. Ia membuktikan bahwa keterbatasan anggaran bukanlah alasan pembangunan jalan ditempat.

Buku ini sangat menarik. Pembaca dapat mengambil banyak hikmah dari kepemimpinan Nurdin Abdullah. Selain itu juga banyak dokumentasi foto kegiatan beliau menghiasi buku ini.

Koleksi Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Sulawesi Selatan.

 




December 16, 2020

GUIDE 100 BUKU KONTEN LOKAL SULAWESI SELATAN


Guide 100 Buku Konten Lokal Sulawesi Selatan koleksi Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan. Buku ini membahas mengenai kearifan lokal, budaya lokal, sejarah lokal, kebiasaan dan adat istiadat tertentu, tokoh masyarakat, ritual etnis dan kepercayaan tertentu yang ada di Sulawesi Selatan dan lain-lain. 

Buku setebal 284 halaman ini, sebagai salah satu akses (jalan masuk) untuk mengenalkan sebagian dari koleksi buku konten lokal Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan. Buku ini diterbitkan atas kerjasama Dinas Perpustakaan dan kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan dengan PT. BANK SULSELBAR. Buku ini dapat diperoleh melalui https://bit.ly/37n6ZwN 


GUIDE 100 BUKU KONTEN LOKAL SULAWESI SELATAN
Penyusun: Suharman Musa, Desy Selviana
Penerbit: DPK Prov. SulSel bekerjasama dengan PT. BANK SULSELBAR
Tempat Terbit: Makassar
Tahun Terbit: 2000


December 15, 2020

TONGKONAN (RUMAH ADAT TORAJA)

Bentuk bangunan rumah adat orang Toraja, tidak ada yang besar berupa gedung seperti bangunan pada rumah-rumah suku bangsa lain di Indonesia, seperti rumah adat Batak, Bugis, Jawa, dan lain-lain. Karena rumah adat Toraja terikat dengan beberapa ketentuan sehingga struktur bangunan mempunyai aturan konstruksi dan arsitekturnya tersendiri yang mana struktur bangunan ini di atur beberapa sendi falsafat hidup dan keyakinan orang Toraja.

Rumah orang Toraja harus menghadap ke utara dengan teknik perkembangannya tetap tidak memakai paku pada setiap pertemuan kayu-kayunya, tidak terlalu besar bangunannya dengan tidak meninggalkan motif seperti bentuk perahu layar. Menurut sejarawan Toraja, bangunan-banguan yang dapat dilihat sekarang dengan bentuknya seperti perahu layar, ini adalah bentuk sudah melalui proses dan perkembangan dalam hal ini sudah mengalami 4 (empat) proses perkembangan.

Tetapi yang lebih penting harus diketahui ialah adanya arsitektur dan konstruksi rumah adat Toraja yang berdasarkan satu pola struktur yang terikat dengan banyak aspek terutama aspek keyakinan Aluk Todolo serta pandangan hidup mengenai rumah bagi orang Toraja adalah sebagai mikro kosmos.

Buku Tongkonan dengan Struktur, Seni dan Konstruksinya mengandung inti penguraian dalam 3 (tiga) aspek pokok masing-masing:

  1. Aspek pola keyakinan Aluk Todolo dan falsafat kehidupan yang mengikat pembangunan rumah adat Toraja.
  2. Aspek konstruksi dan arsitektur rumah orang Toraja
  3. Aspek peranan dan fungsi Rumah Adat Toraja dalam kehidupan orang Toraja, sebagai bagian terbesar dari dasar terbentuknya serta terbinanya kebudayaan dengan bentuk kepribadiannya sendiri.
Ketiga aspek ini tidak ada yang lebih penting tetapi sama pentingnya dan tidak ada yang ditinggalkan dalam menghadapi pembangunan Rumah Adat Toraja karena ketiganya saling berkaitan dan saling memperkuat. Rumah Adat Toraja juga sebagai bentuk persekutuan hidup juga sebagai pusat atau centrum kegiatan, utamanya dapat dilihat dalam menghadapi setiap upacara dalam kehidupan orang Toraja. Buku ini merupakan koleksi layanan umum yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang, Makassar.


TONGKONAN (RUMAH ADAT TORAJA)
Dengan Arsitektur & Ragam Hias Toraja
Penulis: L. T. Tangdilintin
Penerbit: Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional
Tempat Terbit: Ujung Pandang
Tahun Terbit: 1983


December 14, 2020

SILARIANG


Pergeseran nilai telah terjadi di wilayah Sulawesi Selatan. Pola pikir masyarakat sudah berubah. Budaya dan tradisi tentunya ikut berubah. Perbuatan yang melanggar norma adat seperti Silariang, Nilariang dan Erangkale sangat tabu bagi masyarakat suku Makassar di tahun 1970-an kini sudah berubah. Dulunya, kalau ada sejoli yang melakukan perbuatan melanggar Siri' itu, biasanya taruhannya adalah nyawa. Namun kini, taruhan itu mulai memudar. Dengan demikian kasus-kasus Silariang, Nilariang dan Erangkale  tetap saja masih marak. 

Silariang atau kawin lari tidak hanya dikenal oleh suku atau adat Makassar, Bugis, Mandar dan Toraja di Sulawesi Selatan, juga suku lainnya di Indonesia. Hanya saja yang membedakan adalah sanksi adat yang diterapkan pada kedua pelaku Silariang. Kalau pada suku lainnya, biasanya sanksi tidak begitu berat, tetapi pada suku Makassar, biasanya berakhir dengan pembunuhan terhadap pelaku.

Kawin Silariang ini biasanya terjadi karena salah satu pihak keluarga tak menyetujui hubungan asmara dari kedua pasangan ini. Mungkin karena perbedaan strata sosial, atau karena wanita yang menjadi kekasihnya itu hamil di luar nikah, sehingga mereka mengambil jalan pintas, yakni melakukan silariang.

Dari hasil investigasi pada beberapa pelaku Silariang, Nilariang, Erangkale, Annyala Kalotoro (lari tanpa laki-laki) dan Salimata. Sebab musababnya:

  1. Menentang kawin paksa
  2. Karena terpaksa
  3. Karena faktor ekonomi
  4. Lamaran ditolak, karena tingkah laku laki-laki buruk, perbedaan agama, perbedaan status sosial, karena cacat, karena sebab lain.
Antara Siri' dan Silariang, Nilariang, Erangkale saling terkait dalam satu kasus. Kasus Silariang dan semacamnya jelas akan menimbulkan siri', tetapi kasus siri' belum tentu Silariang dan semacamnya. Sebab siri' disini juga berarti suatu motivasi bagi seseorang untuk mencapai sukses. Siri' seperti inilah yang disebut siri' massiri'. Sedangkan siri' pada kasus silariang disebut Siri ri pakasiri'.

Buku SILARIANG membahas Silariang, Nilariang, Erangkale, Annyala Kalotoro (lari tanpa laki-laki) dan Salimata adalah tindakan tabu, dan mempunyai resiko bagi orang yang melakukannya, karena melanggar norma adat, juga melanggar norma agama. Buku ini merupakan salah satu koleksi layanan perpustakaan umum yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar, untuk tetap mempertahankan siri' (harga diri), tidak saja di kalangan suku Makassar, tapi juga Bugis, Mandar dan Toraja.


SILARIANG 
Penulis: Zainuddin Tika, Ridwan Syam
Penerbit: Refleksi
Tempat Terbit: Makassar
Tahun Terbit: 2005
ISBN: 979-3570-14-8


WE SANGIANG I MANGKAWANI: Uleng Lolo LlabuEdE

Konon, di Marioriwawo Soppeng, ada sebuah bangunan rumah besar, mereka namakan Saoraja, tempat bersemayam para datu-datu turunan Dewa dari Boting' Langi'. Istana kayu ini dinamai Sao Mario atau Saoraja Tanru' Tedong, tiangnya tujuh puluh sembilan, memiliki Timpa Laja bersusun tujuh dan pada bubungannya bertengger tanduk kerbau yang kedua ujungnya berlapis emas.

Nun di batas halaman samping ada pasar tradisional seminggu dua kali. Pada hari pasar berbagai atraksi permainan rakyat di gelar: Mallanca Tebbu, Lancca Biti, Massempe', Ma'daga, Ma'pabitte Manu, hiruk-pikuk suasana yang diselingi nyanyian penjual ikan dan suasana penjaja gula tebu serta Tua' Inru, Putu, Surabeng, Sokko Pipi, Tape Bolong dan Utti Barangeng, tentu tak ketinggalan anak-anak ramai di jalanan juga bendi yang antri menunggu muatan dari dan datang untuk belanja.

Demikian maka Sao Mario ini tak hentinya kedatangan kerabat, terutama dari Watang'pone, Watang Soppeng, Watang Lamuru, Luwu, Pong'panua, Pammana', Kahu dan Mampu, utama nya Nenekda Besse Hamide Petta Nacca Arung Mampu. Beliau memang rajin menjenguk kami di Takkalala, kemudian melanjutkan perjalanan ke Tanete dan Gowa.

Namun bagi kami di Marioriwawo, memang selalu merasa rindu akan kedatangannya. Terutama pada malam-malam sebelum tidur beliu senang mendogeng kisah-kisah klasik Tolo'pessena La Padomai, yang merupakan sumber dalam menyusun naskah drama klasik Bugis yang di beri judul We Sangiang I Mangkawani, Uleng'lolo LiabuEdE (Si Bulan Muda yang Terbenam).

Buku WE SANGIANG I MANGKAWANI: Uleng Lolo LlabuEdE merupakan cerita klasik Bugis, sebuah genre yang amat jarang ditemukan dalam kesusatraan Sulawesi Selatan. Cikal bakal ceritanya bersumber dari Tolo'Pessena La Padoma yang menjadi legenda masyarakat Tanah Ogi di Sulawesi Selatan yang di pentaskan dalam bentuk teater yang diiringi dengan musik tradisional dan tari-tarian yang enak didengar dan ditonton. Buku ini merupakan koleksi refernsi, layanan perpustakaan umum yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang, Makassar.


Tolo'Pesse
WE SANGIANG I MANGKAWANI
Uleng Lolo LlabuEdE (Bulan Muda Terbenam)

Penulis: A.M. Mocther
Penerbit: Ajuara Foundation bekerjasama Pustaka Pena Press Makassar
Tempat Terbit: Makassar
Tahun Terbit: 2008


December 11, 2020

PENELITIAN DAN PENGKAJIAN NASKAH KUNO SEJARAH TALLO

Penelitian dan pengkajian naskah kuno Sejarah Tallo, memuat tentang daerah Makassar pada zaman dahulu, berdiri dua kerajaan yang merupakan kerajaan kembar yaitu kerajaan Tallo dan Kerajaan Gowa. Kedua kerjaan ini sangat erat kekeluargaannya sehingga pejabatnya sering merangkap tugas (Raja Tallo juga merangkap sebagai Mangkubumi Kerajaan Gowa). Bahkan pernah suatu ketika sepasang suami istri sekaligus menjadi penguasa di Gowa dan Tallo yaitu permaisuri sebagai Raja Tallo V sedangkan sang suami  sebagai Raja Gowa XII.

Agama Islam di Sulawesi Selatan dimulai dari kerajaan kembar ini, sekitar tahun 1605. Setelah kedua rajanya memeluk agama Islam, maka menyusul para pejabat kerajaan bahkan seluruh rakyat dari kedua kerajaan ini. Dengan demikian maka diumumkanlah bahwa Agama Islam adalah agama kedua kerajaan ini.

Kerajaan kembar ini sudah dapat mempersenjatai dirinya dengan senjata-senjata tajam dan senjata api macam-macam ukuran hasil buatan mereka sendiri, seperti badil, meriam dan mesin. Mereka pun telah sanggup membuat kapal perang yang disebut Gallo untuk pergi meyerbu musuh, dan berhasil menaklukkan kerajaan-kerajaan yang ada di luar di Sulawesi Selatan antara lain: Bima, Sumbawa, Bali, Ende, Timor, dan Buton. Dalam naskah ini juga disebutkan cara bercocok tanam yang mempergunakan pengairan yang diatur dan ditata rapi serta cara-cara pertanian yang sudah baik.

Kerajinan tangan seperti melebur emas untuk dibuat perhiasan dan mata uang makin ditingkatkan. Ukiran-ukiran kayu, menenun kain bersulam juga diperhalus dan ditingkatkan mutunya sehingga lebih indah dan baik.

Untuk pertahanan kerajaan, dibangunlah benteng dari batu yang cukup kokoh dan dibentuk pasukan yang tangguh dan ampuh dalam peperangan. Tidak heran apabila pasangan kerajaan kembar ini dengan mudah mengalahkan beberapa kerajaan-kerajaan yang ada di Sulawesi Selatan dan tempat-tempat lain di luar Sulawesi Selatan.

Pada zaman itu beberapa negara asing telah pula menempatkan perwakilannya berupa Konsul Dagang di ibu kota kerajaan ini, seperti Portugis, Perancis, Belanda dan Denmarken. 

Buku PENELITIAN DAN PENGKAJIAN NASKAH KUNO SEJARAH TALLO merupakan hasil kajian dan mengungkapkan latar belakang nilai dan isi naskah Sejarah Tallo atau naskah aslinya berjudul "Patturioloanga Ri Tu Talloka" merupakan naskah yang ditulis dengan tulisan tangan dengan mempergunakan aksara lontarak atau huruf lontarak Makassar. Karena naskah ini adalah hanya naskah salinan dan bukan naskah asli, sehingga keadaan naskahnya masih utuh dan tulisannya masih jelas dan mudah di baca. Naskah atau lontarak Makassar yang disalin kembali tahun 1930. 

Buku ini merupakan koleksi referensi, layanan perpustakaan umum yang berlokasi jalan Sultan Alauddin km. 7 Tala'salapang, Makassar mengenai isi naskah Sejarah Tallo. 


PENELITIAN DAN PENGKAJIAN NASKAH KUNO SEJARAH TALLO
Penelitih: Abdurahim Mone dan A. Gani
Editor: H. Ah,ad Yunus, Suradi, Hp, I Made Purna
Penerbit: Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Nusantara
Tempat Terbit: Jakarta
Tahun Terbit: 1988

BERKARYA DI LAUTAN GAGASAN

Ayahnya, Palummeri Daeng Palallo, seorang tokoh masyarakat di Longka, kecamatan Pitumpanua. Ketika desa terpencil di perbatasan Wajo-Sidenreng Rappang ini diduduki DI/TII, Daeng Palallo mengungsi ke Sakkoli. Suatu malam Sakkoli diserang DI/TII. Daeng Palallo melarikan diri meninggalkan istrinya bernama Andi Besse yang sedang hamil tua.

Dipengungsian, Daeng Palallo bertemu I Nusia yang melahirkan anak yang diberi nama, Alifuddin. Masih kelas III Sekolah Teknik Negeri, ia telah gelisah tentang masa depannya. Ia merasa hidup terkukung di kampung bagaikan "katak di bawah tempurung", lalu minta izin pada ibunya untuk pergi merantau.

Menurut kata pengantar Mr Dr Lit. Andi Zainal Abidin Farid (professor emeritus Unhas), Alifuddin merantau karena faktor Siri Masiri, yaitu seseorang ternoda oleh keadaan misalnya krisis ekonomi, atau kemiskinan, kegagalan memperoleh pekerjaan, kegagalan berusaha atau bersekolah, atau karena kesalahan sendiri. Selain itu Alifuddin mungkin pernah mendengar Wawang asugirenna to Wajo'e (ilmu untuk menjadi orang kaya bagi orang Wajo): iapatu muita deceng narekko musalaiwi Tana Wajo' (nanti kalau engkau meninggalkan Wajo' barulah engkau memperoleh kebaikan). 

Buku MOH. ALIFUDDIN BERKARYA DI LAUTAN GAGASAN membahas tentang pengalaman merantau hingga terjun ke dunia bisnis tanpa modal, dengan berhasil mendirikan lembaga kursus, YPA Handayani, 12 Juni 1982 dan berkembang menjadi Handayani Grup yang kini melebarkan sayap ke dunia perbankan, bursa tenaga kerja dan lembaga pendidikan tinggi.

Buku ini merupakan salah satu koleksi referensi, layanan perpustakaan umum yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang, Makassar untuk mengetahui nilai budaya sirik, pesse dan were, seperti yang diungkapkan La Tadamparek Puang ri Maggalatung. Menurut orang Bugis, nasib manusia ditentukan sendiri olehnya dan kalau semua usaha sudah dilakukan, kemudian gagal, maka barulah dikatakan Takdir Tuhan yang tidak dapat dielakkan.


MOH. ALIFUDDIN BERKARYA DI LAUTAN GAGASAN
Penulis: Moh. Alifuddin
Penerbit: Lembaga Riset & Penerbit Yayasan Media Madani
bekerjasama dengan YAPENSI
Tahun Terbit: 2002
ISBN: 979-95819-7-4


KEPINGAN MOZAIK SEJARAH BUDAYA SULAWESI SELATAN

Sulawesi Selatan menyimpang berbagai bentuk peninggalan sejarah mulai dari zaman prasejarah, zaman Indonesia Islam, hingga zaman kolonial. Situs paleolitik, mesolitik maupun megalitik, termasuk periode prasejarah, kesemua situs dan monumen merupakan suatu produk budaya, yang tidak dapat diukur nilainya bahkan menjadi ikon-ikon tentang peristiwa budaya yang pernah terjadi pada masa lalu. 

Sulawesi Selatan beruntung memiliki bukti-bukti yang cukup jelas untuk membedakan antara komunitas yang sederhana dengan komunitas yang lebih kompleks. Perbedaan-perbedaan wujud produk budaya antara satu fase sejarah dengan fase sejarah lainnya merupakan kepingan mozaik dari sejarah budaya Sulawesi Selatan. Pemaknaan terhadap setiap fase sejarah budaya.

Pelestarian terhadap situs prasejarah bukan semata dimaksudkan untuk menunjukkan bagaimana manusia prasejarah dulu hidup, tetapi tentang proses adaptasi dan kearipan dalam mengelola dan menyiasati lingkungannya merupakan pengetahuan seperti kompleks makam raja-raja, berbagai bangunan yang menandai kehadiran bangsa Tionghoa-klenteng dan monumen lainnya, yang telah tercatat dan dilindungi berdasarkan Undang-undang Benda Cagar Budaya.

Buku KEPINGAN MOZAIK SEJARAH BUDAYA SULAWESI SELATAN membahas tentang masyarakat masa lampau, diantaranya:

  1. Penerapan Kajian Pola Pemukiman Gua Prasejarah di Sulawesi Selatan (Studi Kasus di Biraeng), oleh Iwan Sumantri
  2. Penelitian Arkeologi Islam di Sulawesi Selatan dan Kontribusinya dalam Pengembangan Kebudayaan Nasional, oleh Dr. Moh. Ali Fadillah
  3. Determinasi Lingkungan dalam Penempatan Benteng-Benteng Kerajaan Gowa Tallo Abad XVI-XVII, oleh Muhammad Iqbal AM
  4. Menantang Badai Menembus Batas: Pelayaran Keramik dan Dunia Maritim Nusantara Abad ke-16-17, oleh Muslimin A. R. Effendy
  5. Peninggalan Bangunan Kolonial di Makassar, oleh Muhammad Natsir
  6. Budaya Etnis Tionghoa di Makassar (Studi Kasus Ornamentasi Klenteng Ibu Agung Bahari, oleh Rinawati Idrus.
Buku ini merupakan koleksi referensi, layanan perpustakaan umum, berlokasi jalan Sultan Alauddin km. 7 Tala'salapang, Makassar untuk mempelajari proses-proses perubahan yang terjadi selama beribu-ribu tahun.

KEPINGAN MOZAIK SEJARAH BUDAYA SULAWESI SELATAN
Penulis: Iwan Sumatri (ed.)
Penerbit: Ininnawa bekerjasama Bagian Proyek Pemanfaatan Peninggalan
sejarah dan Purbakala Sulawesi Selatan
Tempat Terbit: Makassar
Tahun Terbit: 2004
ISBN: 979-98499-4-2


December 10, 2020

MANUSIA MANDAR

 


“Jika kalian menginginkan agar kalian tidak saling membunuh bagaikan ikan, berpegang teguhlah kepada pesan dari langit. Yang pertama kalian harus saling harga menghargai. Yang kedua kalian harus saling bekerja sama dalam kebaikan dan mencegah kepada keburukan. Yang ketiga masing-masing kelompok masyarakat menjalankan aturan yang berlaku dalam kelompoknya masing-masing. (Tomanurung di Pattu’duang)

Manusia Mandar adalah salah satu suku yang menetap di pulau Sulawesi bagian barat. Suku ini menetap di wilayah Kabupaten Polewali Mandar dan Kabupaten Majene. Dalam buku ini tidak hanya mengambarkan apa, siapa, dimana, dan bagaimana kehidupan manusia Mandar itu, tapi juga melukiskan suasana lingkungan, tempat rekreasi, tradisi, kepercayaan, dan mitodologi mereka.

Manusia Mandar selama ini dikenal sangat kuat dengan budayanya. Mereka menjunjung tinggi tradisi, bahasa, dan adat istiadatnya. Filosofi hidup mereka berbeda dengan suku Bugis, Makassar, Toraja, dan suku lainnya yang berdekatan dengan lingkungan kehidupan mereka di Sulawesi. Manusia Mandar dikenal teguh dengan prinsip hidupnya.

Buku MANUSIA MANDAR  membahas tentang Kabupaten Polewali Mandar dan Kabupaten Majene; Mandar zama Pra To-Manurung dan Zaman To-Manurung; sketsa kehidupan masyarakat Mandar seperti bahasa, kesusastraan Mandar, mata pencarian, pola perkampungan, rumah to-Mandar, sistem pemerintahan, makanan dan minuman to-Mandar, pakaian adat dan perhiasan, sistem kekerabatan, sistem pernikahan, sistem religi, sistem pengetahuan serta upacara tradisional); pesona wisata Kabupaten Polewali Mandar dan Kabupaten Majene; serta sisi lain kehidupan masyarakat Mandar (ritual-ritual adat Mandar, pakaian adat Mandar, kesenian tradisional Mandar, burung Mandar, seni kriya dan arsitektur Mandar, angkutan tradisional, aktifitas sosial dan publik, siwalioparri, pasar tradisional, makanan khas masyarakat Mandar, souvenir dari tanaman Mandar serta dunia anak, laut dan sungai.

Buku ini merupakan koleksi referensi, layanan perpustakaan umum berlokasi jalan Sultan Alauddin km. 7 Tala’salapang, Makassar.  untuk lebih memehami karakter, budaya, dan lingkungan kehidupan manusia Mandar.


MANUSIA MANDAR  
Penulis: Sriesagimoon
Penerbit: Pustaka Refleksi
Tempat Terbit: Makassar
Tahun Terbit: 2009
ISBN: 978-979-967-33-8-1



December 8, 2020

PERUBAHAN POLITIK & HUBUNGAN KEKUASAAN MAKASSAR 1906-1942

Sejarah monumental (monument history) yang memusatkan pembahasan pada orang-orang besar, tokoh-tokoh terpenting dan peristiwa-peristiwa besar, seperti perang. Pada dasarnya penuh dengan kecenderungan memuja akibat dan mengabaikan sebab, memuja hasil dan kurang menekankan proses yang dilalui; juga perubahan politik dan sosial yang diagungkan adalah yang diciptakan pemerintah dalam kekinian dan kurang memperhatikan benih-benih yang menelurkannya, melahirkannya dan membesarkannya.

Penyebab perubahan politik dan hubungan kekuasaan disebabkan munculnya gerakan perlawanan yang menghalalkan segala cara, seperti tindakan perampokan yang dipimpin oleh I Tollo Daeng Magassing berdasarkan hasil penelitian dipandang bernuangsa politik, yaitu penolak dan penentang pemerintahan Kolonial Belanda, karena perampokan yang dilakukan tidak menimbulkan kerugian material. Tindakan ini tujuannya untuk membunuh mereka yang bekerjasama dengan Kolonial, baik sebagai pejabat maupun sebagai mata-mata pemerintahan. 

Sedangkan fakto-faktor penyebab terjadinya perampokan yang bernuansa politik adalah:

  1. para bangsawan kerajaan kehilangan kedudukan kekuasaan
  2. para bangsawan kerjaan kehilangan sumber-sumber kesejahteraan
  3. pejabat Pemerintah Belanda tidak melaksanakan tugas dengan baik dan hanya menggantungkan kegiatan pemerintahan pada kekuasaan militer dan pegawai bumiputra
  4. pelaksanaan kekuasaan diwarnai tindakan manipulasi kekuasaan
  5. dalam penataan pemerintahan tidak dipertimbangkan budaya politik lokal yang menempatkan derajat kebangsawanan berkaitan sejajar dengan kepangkatan kekuasaan
  6. pemerintah selalu mencurigai dan mengawasi gerak langkah kelompok bangsawan.
Hal yang terakhir mendorong pihak pemerintah membebaskan bangsawan yang dipenjarakan dengan syarat bersedia bekerjasama dan menjadi mata-mata pemerintah.

Buku PERUBAHAN POLITIK & HUBUNGAN KEKUASAAN MAKASSAR 1906-1942 menjelaskan tentang adanya manipulasi yang mewarnai pelaksanaan pemerintahan untuk mempertahankan dominasi merupakan pangkal dari terjadinya gerakan-gerakan rakyat di Makassar. Gerakan-gerakan rakyat itu merupakan penyataan sikap penolakan terhadap dominasi dan sebagai pernyataan sikap menentang terhadap manipulasi pemerintahan Hindia Belanda. Gejala kekuasaan menampakkan kecenderungan:
  1. dari segi pemerintahan membatasi tingkah laku satu kelompok, menjamin dan memberikan kebebasan gerak bagi kelompok lain, dan
  2. dari segi yang memerintah kekuasaan merupakan kemungkinan untuk mempertahankan dominasi terhadap rakyat guna mencapai kepentingannya sendiri. 
Dengan demikian hakikat kekuasaan Pemerintah Hindia Belanda di Bagian Pemerintahan Makassar adalah menciptakan pertentangan dan pergolakan dan kurang memperhatikan segi-segi pemaduan.

Buku ini merupakan salah satu koleksi referensi, layanan perpustakaan umum yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km.7 Tala'salapang, Makassar yang berusaha mengungkapkan bagaimana perubahan politik dan hubungan kekuasaan pada pelaksanaan pemerintahan yang terjadi di wilayah Bagian Pemerintahan Makassar pada tahun 1906-1942, dengan tujuan menelusuri masalah sebab akibat dalam hubungan politik dan kekuasaan sehingga dapat memberikan manfaat pelajaran untuk masa kini dan masa mendatang. 


PERUBAHAN POLITIK & HUBUNGAN KEKUASAAN MAKASSAR 1906-1942 
Penulis: Edward L. Poelinggomang
Editor: M. Nursam
Penerbit: Ombak
Tempat Terbit: Yogyakarta 
Tahun Terbit: 2004
ISBN: 979-3472-15-4




Abdul Qahhar Mudzakkar, Dari Patriot Hingga Pemberontak


Judul : Abdul Qahhar Mudzakkar, Dari Patriot Hingga Pemberontak

Penulis : Anhar Gonggong

Penerbit : Ombak

Tempat terbit : Yogyakarta

Tahun terbit : 2004

Jumlah Halaman : xx + 519

Ukuran : 15 x 21 cm

ISBN : 979-3472-17-0

Banyak buku yang diterbitkan pada awalnya merupakan karya skripsi atau disertasi dari penulisnya saat menempuh pendidikan tinggi. Salah satunya adalah buku ini, yang merupakan karya ilmiah disertasi dari Dr. Anhar Gonggong ketika beliau menyelesaikan program doktornya di Universitas Indonesia. Menurut penulisnya, tema utama buku ini adalah sebuah pertanyaan, ‘mengapa seorang patriot dapat menjadi pemberontak?’ Lewat buku ini, Anhas Gonggong berusaha menjawab pertanyaan tersebut.

Buku setebal 519 halaman ini dibagi menjadi 8 bab, dengan didahului oleh Pengantar Penerbit, Pengantar Penulis (cetatakan pertama), Pengantar Penulis (cetakan kedua), Daftar Isi dan Daftar Tabel. Selanjutnya pada uraian bab pertama diuraikan masalah masalah teori dan metodologi penulisan. Sedangkan bab kedua  dan bab ketiga membahas hal hal yang menyangku keadaan geografi, penduduk dan sosial ekonomi serta keadaan sistem pendidikan yang berkembang pada masa periode berlangsungnya gerakan DI/TII di Sulawesi Selatan. Pada bab ketiga juga diuraikan tentang pengaruh budaya Siri na pesse sebagai unsur yang sangat penting dan menentukan dalam tata kehidupan masyarakat Sulawesi Selatan.

Pada bab bab selanjutnya diuraikan tentang pasang surut keberlansungan gerakan DI/TII, termasuk lahirnya masalah gerilya setelah kemerdekaan RI, sambutan masyarakat Sulawesi Selatan terhadap proklamasi, serta bagaimana rakyat berusaha mempertahankan kemerdekaan dari penjajah Belanda dan Sekutu yang ingin kembali menguasai Sulawesi Selatan, dan Indonesia pada umumnya. Munculnya Abdul Qahhar Mudzakkar sebagai pemimpin yang disegani oleh para pengikutnya.

Pada bab kelima diuraikan masalah ide Negara Islam di Indonesia yang dirangkai kemudian dengan kedudukan Pancasila sebagai dasar negara RI. Tokoh tokoh gerakan DI/TII juga menginginkan Islam dan Pancasila dalam kedudukan sebagai dasar negara.

Pembahasan pokok pada bab keenam yaitu usaha usaha yang pernah dilakukan oleh Pemerintah RI terhadap gerakan pemberontakan yang bertujuan mendidikan Negara Islam Indonesia. Gerakan ini diproklamasikan oleh R.M. Kartosuwirjo di Jawa Barat pada tanggal 7 Agustus 1949. Pemerintah RI berusaha menyelesaikan konflik konlik ini baik melalui jalan damai melalui perundingan, maupun jalan kekerasan senjata melalui operasi militer.

Bab VII membahas tentang berbagai pertentangan pertentangan secara intern antara para pemimpin dan anggota gerakan ini. Sedangkan bab terakhir adalah kesimpulan yang diambil dari uraian uraian peristiwa yang dijabarkan pada bab bab sebelumnya.

Bagian akhir buku ini daftar pustaka dimana berisi kumpulan dokumen, arsip, dan buku buku yang dijadikan bahan rujukan penulisan disertasi/buku dari Anhar Gonggong. Tak lupa juga ada Indeks yang dapat memudahkan pembaca mencari topik topik tertentu dalam buku ini. Terakhir riwayat hidup penulis secara ringkat.

Koleksi Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Sulawesi Selatan (Ruang Deposit dan ruang Referensi).




KONTINUITAS & PERUBAHAN DALAM SEJARAH SULAWESI SELATAN

Dalam sejarah Kota Makassar terdapat kontinuitas yang berlangsung sepanjang zaman Belanda hingga abad ke-20 yang mencerminkan pola-pola dari zaman Gowa-Tallo. Hal ini tetap terjadi meskipun ada 300 tahun kekuasaan asing, dan meskipun ada banyak usaha dramatis VOC untuk memotong pelabuhan ini dari peranan dan hubungan tradisionalnya. Karakter dasar Makassar sebagai pelabuhan yang kosmopolitan dan multietnis berkembang dari abad ke-16 hingga abad ke-20, dibentuk oleh faktor-faktor mendasar geografis, sejarah, dan orientasi perantauan mengarungi lautan yang dimiliki oleh berbagai kelompok masyarakatnya.

Di awal abad ke-21 ini, ada dua arus kegelisahan yang berlawan yang mewarnai renungan dan harapan atas nasib kota ini di masa kini dan kelak. Di satu sisi, sejalan dengan perubahan stuktural, ada arus untuk meneguhkan citra "etnik" Kota Makassar menurut para tokohnya, didasarkan pada klaim historis yang mengasumsikan adanya kontinuitas dari masa silam ke masa kini. Di sisi lain, ada arus kegelisahan yang tak kalah kuatnya untuk menciptakan Kota Makassar yang internasional, yang metropolitan, yang modern di tengah dunia yang makin kecil ini. Keinginan untuk menjadi metropolitan dan kosmopolitan mau tak mau berarti pengakuan atas keberagaman dan ke non pribumi-an Kota Makassar. Ini berarti pengakuan akan peranan historis orang Thionghoa, Melayu, Jawa, Indo, Timur dan lainnya.

Tulisan-tulisan yang terangkum dalam buku KONTINUITAS & PERUBAHAN DALAM SEJARAH SULAWESI SELATAN di buat oleh para rekan, sahabat, dan murid Darmawan Masúd Rahman dalam rangka HUT ke-66 Prof. Dr. Darmawan Masúd Rahman. Buku ini di bagi dalam tiga sub tema, yaitu pelayaran dan perdagangan dan identitas sosial dan politik, serta gender dan komunitas lokal. Dengan melihat ketiga sub tema tersebut bisa terbaca arus perubahan yang begitu deras dalam sejarah Sulawesi Selatan. Tulisan-tulisan tersebut adalah:

Pelayaran dan Perdagangan

  1. Kontinuitas dan Perubahan dalam Sejarah Makassar: Perdagangan dan Kota di Abad ke-18, oleh Heather Sutherland
  2. Pelayaran dan Pedagangan Masyarakat Sulawesi Selatan, oleh Edward L. Poelinggomang
  3. Tradisi Kebaharian di Sulawesi Selatan: Tinjauan Sejarah Perkapalan dan Pelayaran, oleh Horst H. Liebner
  4. Beberapa Catatan tentang Temuan Keramik Jepang di Asia Tenggara, oleh Sakai Takashi.
Identitas Sosial dan Politik
  1. Victims, Veterans and Heroes: Positioning South Sulawesi Selatan in the Indonesia Nation 1950-1953, oleh Esther J. Velthoen
  2. Strengthening the Local in National Reform: A Cultural Approach to Political Change, oleh Elizabeth Morrell
  3. Dari Makassar ke Makassar: Proses "Etnisasi"sebuah kota, oleh Dias Pradadimara
  4. Tionghoa Makassar di Tengah Pusaran Sejarah, oleh Muslimin A. R. Effendy.
Gender dan Komunitas Lokal
  1. The Bissu: A Study of a Third Gender in Indonesia, oleh Leonard Y. Andaya
  2. Penggunaan Alokasi Waktu Anggaran Kerja Wanita di Sulawesi Selatan, oleh Sitti Rabihatun Rauf Idris
  3. Wanua: Sebuah Model Desa Otonom di Tanah Bugis, oleh Mohammad Ali Fadillah
  4. Akses Petani Kecil terhadap Sawah Garapan: Studi Kasus di Barru Sulawesi Selatan, oleh Mahmud Tang
Buku ini merupakan salah satu koleksi referensi, layanan perpustakaan umum yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km7. Tala'salapang, Makassar untuk mengungkapkan berbagai aspek pelayaran dan perdagangan, identitas sosial dan politik serta gender dan komunitas lokal dalam sejarah Sulawesi Selatan dimana Kota Makassar menjadi bagian inheren. Pemahaman akan dinamika masyarakat merupakan kunci untuk membangun masa depan. 


KONTINUITAS & PERUBAHAN DALAM SEJARAH SULAWESI SELATAN 
Penulis: Heather Sutherland, Edward L. Poelinggomang, Horst H. Liebner, et all
Penyunting: Dias Pradadinara, Muslimin A. R. Effendy
Penerbit: Ombak
Tempat Terbit: 2004
ISBN: 979-3472-29-4

December 7, 2020

WARISAN ARUNG PALAKKA


Mengingat sejarah paruh kedua abad ke-17 didominasi oleh dan berkisar di seputar Arung Palakka, Reputasi Kompeni membantu melanggengkan kekuasaannya, juga kekuatan orang yang beruntung dan cukup cerdik berhubungan dengan Kompeni. Arung Palakka yang sepanjang hidupnya berulang kali menegaskan hubungannya dengan Kompeni, dengan dua tujuan: bagi Kompeni hal itu dilakukan untuk terus menegaskan bahwa dirinya setia dan mengabdi kepada mereka, dan bagi orang Sulawesi Selatan hal itu merupakan peringatan terselubung bahwa dirinya memiliki senjata yang dapat dia (Arung Palakka) gunakan sewaktu-waktu untuk mempertahankan kekuasaan.

Buku WARISAN ARUNG PALAKKA, Sejarah Sulawesi Selatan Abad ke-17 Judul Asli: The Heritage of Arung Pallakka: A History of South Sulawesi (Celebes) in the Seventeenth Century bersumber dari dokumen VOC yang berasal dari periode itu, terdapat di Badan Arsip Nasional di Den Hang dan catatan-catatan lokal Sulawesi Selatan. Selain bahan-bahan di atas terdapat pula bahan-bahan tertulis lain yang agaknya berasal dari tradisi lisan. Buku ini terdiri dari dua belas bab. 

Bab pertama dibahas sejumlah ciri tertentu politik dan budaya masyarakat Sulawesi Selatan serta faktor-faktor keadaan historis yang dapat membantu menjelaskan peristiwa-peristiwa penting dalam periode tersebut. Memuncaknya perseteruan antara Gowa dengan Bone dan meningkatnya ketegangan antara VOC dengan Gowa yang berkontribusi langsung terhadap terjadinya perang Makassar.

Bab kedua, membahas perang Makassar terjadi karena alasan-alasan tertentu.

Bab ketiga, Perang Makassar digambarkan lebih terperinci serta menyisakan berbagai hal yang ternyata memiliki arti penting pada tahun-tahun berikutnya, seperti : (1) keberanian dan kenekatan Arung Palakka yang kemudian menjadi ciri khas gaya dia berperang dan menjadikannya lagenda pada masanya; (2) pertikaian pendapat yang serius di kalangan bangsawan Gowa-Tallo antara kelompok yang menginginkan peran dan yang menginginkan perdamaian, yang kemudian menyebabkan terjadinya pembelokan sejumlah pemimpin berpengaruh kerajaan tersebut; dan (3) persekutuan yang kompleks antara sejumlah Kerajaan Bugis dengan sejumlah Kerajaan Makassar pada kedua belah pihak, yang bertentangan dengan gambaran simplisistik bahwa perang yang berlangung adalah antara orang Bugis dan Makassar di satu pihak melawan orang Makassar di pihak lain

Bab keempat. Penjanjian Bungaya ditandatangani pada bulan November 1667 oleh pihak-pihak yang berperang. Makna dan arti penting perjanjian Bungaya terhadap pihak-pihak yang terlibat.  

Bab kelima. Membahas tentang perjanjiang Bungaya pada tahun-tahun berikutnya dipandang sebagai pembenaran atas aksi-aksi yang terkesan provokatif yang sama-sama dilakukan, baik oleh Kompeni maupun kerajaan-kerajaan Sulawesi Selatan. Hal tersebut lebih lanjut juga akan memperjelas mengapa begitu besar perhatian diberikan oleh masyarakat untuk mengamati kedaulatan (involability) setiap kerjaan di Sulawesi Selatan, betapapun kecil dan tidak pentingnya kerjaan itu.

Bab kelima dan enam, membahas bagaimana Arung Palakka dan Kompeni mengonsolidasi kekuasaan dan mengatur pembagian kekuasaan bagi kedua belah pihak, dimana Arung Palakka berperan sebagai yang lebih dominan dalam urusan-urusan internal dan Kompeni untuk urusan eksternal Sulawesi Selatan. Begitu berhasilnya pembagian tugas tersebut sehingga protes tradisional yang dilancarkan masyarakat menjadi tidak berhasil dan menyebabkan terjadinya emigrasi besar-besaran dari Sulawesi Selatan.

Bab keenam dan tujuh, membahas kisah tentang para pengungsi, motivasi mereka di rantau, dan arti penting mereka terhadap perkembangan politik di Sulawesi Selatan. Mengingat jumlah dan reputasi mereka sebagai pasukan perang, para pengungsi tersebut merupakan ancaman nyata, bukan hanya bagi kerajaan-kerajaan lemah di Nusantara tetapi juga stabilitas Sulawesi Selatan. Kekalahan mereka di Jawa pada tahun 1679 mengakhiri ancaman terhadap kekuasaaan koalisi Arung Palakka-Kompeni. 

Bab kedelapan, membahas tentang ketegangan yang muncul antara Arung Palakka dengan berbagai penguasa Belanda yang bermarkas di Fort Rotterdam. Suatu ketika Arung Palakka mulai merasa bahwa statusnya di Kompeni mulai menurung, sehingga dia mengarahkan mata badiknya kepada penguasa lokal lain yang menurutnya dapat memetik manfaat dari keadaan itu.

Bab kesembilan, membahas pembunuhan terhadap Arung Bakke Todani, salah seorang pendukung setia Arung Palakka, atas perintah Arung Palakka sendiri. Dia bersedia mengambil langkah drastis itu, bukan hanya sekedar untuk melindungi posisinya, akan tetapi juga untuk memastikan bahwa keturunannya tidak akan mendapat lawan berarti dalam mewujudkan mimpi-mimpi Arung Palakka. Sejak itu tidak ada lagi penguasa di Sulawesi Selatan yang berani menentang kekuasaan Arung Palakka.

Bab kesepuluh dan sebelas, menggambarkan bagaimana Arung Palakka hampir menguasai sepenuhnya seluruh kerajaan yang ada di Sulawesi Selatan. Dia tidak segan-segan menggunakan bujukan, intimidasi, dan bila perlu kekerasan untuk mewujudkan keinginannya. Titik kulminasi dari usaha itu dapat dilihat dari terciptanya persatuan di Sulawesi Selatan dan penghargaan yang diberikan kepadanya oleh gabungan pasukan di Sulawesi Selatan pada tahun 1695, tidak sampai setahun sebelum dia mangkat.

Bab keduabelas adalah lanjutan kisah upaya monumental Arung Palakka untuk menciptakan Sulawesi Selatan bersatu dibawah pimpinan keluarganya, seperti La Patau, terus memerintah sebagai penguasa tertinggi tanpa ada yang merintangi berkat ketajaman pandangan Arung Palakka yang jauh ke depan dan meletakkan dasar kekuasaan dan otoritas bagi La Patau. Meski tak ada lagi anak-anak La Patau yang memiliki pengaruh sebesar dirinya, namun mereka dan keturunan mereka merupakan penguasa semua kerajaan besar di Sulawesi Selatan hingga abad ke-20.

Buku WARISAN ARUNG PALAKKA bertujuan untuk memperkenalkan bahan-bahan dari dokumen VOC yang belum banyak dikenal, untuk mengkaji Sulawesi Selatan sehingga dapat membangun dan memperluas landasan sejarah yang telah diletakkan pondasinya oleh ilmuwan-ilmuwan lokal serta melihat akar emigrasi  besar-besaran dari Sulawesi Selatan yang terjadi pada paruh abad ke-17. Buku ini menjadi salah satu koleksi referensi, layanan perpustakaan umum yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km 7. Tala'salapang, Makassar.


WARISAN ARUNG PALAKKA
Sejarah Sulawesi Selatan Abad ke-17
Judul Asli: The Heritage of Arung Pallakka:
A History of South Sulawesi (Celebes)
in the Seventeenth Century
Penulis: Leonard Y Andaya
Penerjemah: Nurhady Sirimorok
Editor: M Aan Manyur
Penerbit: Ininnawa
Tempat Terbit: Makassar
Tahun Terbit: 2004
ISBN: 979-98499-0-X