Showing posts with label Bantaeng. Show all posts
Showing posts with label Bantaeng. Show all posts

August 18, 2022

LITERASI DARI DESA LABBO

LITERASI DARI DESA LABBO merupakan karya bunga rampai bergenre sosial, buku ini ditulis sendiri oleh warga desa Labbo dan disunting oleh Sulhan Yusuf. Labbo adalah salah satu desa yang berada di kecamatan Tompobulu, Bantaeng, Sulawesi Selatan. Butuh proses yang panjang dalam mengumpulkan, menyunting dan menerbitkan buku ini hingga menjadi bacaan. Penerbitan buku ini merupakan hasil kerja sama antara Pemerintah desa Labbo dan komunitas Boettae Ilmoe. Sulhan Yusuf menganggap buku ini semacam gangang sangka lau, yakni sayur yang lengkap bahannya. Buku ini mencerminkan keragaman unsur pembentuk sayur dalam satu mangkok yang siap santap.

Terdapat 30 penulis yang ikut menulis dalam buku ini, karya mereka berupa artikel, cerita, esai dan puisi. Keberadaan buku ini merupakan bukti kesadaran masyarakat desa Labbo dalam berliterasi. Ragam tulisan yang ditulis oleh masyarakat desa Labbo di dalam buku ini terbentuk dari pengalaman dan kenyataan yang ada ada disana serta menjadi salah satu wujud kemandirian desa Labbo.

Penerbitan buku ini merupakan sesuatu yang potensial. Potensi yang dimaksud yaitu kemampuan masyarakat desa Labbo dalam menulis, jika kemampuan ini digarap dengan telaten maka akan menghasilkan bahan bacaan atau produk literasi.

Program bermula dari kesadaran kepala desa Labbo mengenai literasi. Program tersebut berimbas pada penguatan peran perpustakaan desa disana. Koleksi perpustakaan diperlengkap, pelatihan literasi semakin diperkuat baik untuk kaum muda, pelajar dan mahasiswa serta warga masyarakat pada umumnya. Dengan begitu, minat baca juga akan semakin meningkat karena sarana dan prsarana yang semakin memadai. Program literasi yang berkesinambungan ini memunculkan pengusulan untuk menulis dan terbentuklah program workshop kepenulisan dan dilatih langsung oleh Sulhan Yusuf. Program ini berhasil merangkul masyarakat dari berbagai lapisan dan kalangan serta memantik semangat mereka dalam menulis.

Sebagai argumen penutup dalam Catatan Penyunting, Sulhan Yusuf berharap di masa berikutnya lahir karya-karya yang lebih spesifik. Tidak lagi dalam bentuk gangang sangka lau. Moncerlah literasi di Labbo, jayalah gerakan literasi Bantaeng, pungkasnya.

Bunga rampai ini merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi di jalan Sultan Alauddin km. 7 Tala’salapang kota Makassar.

 

LITERASI DARI DESA LABBO

Penyunting : Sulhan Yusuf

Penerbit : Liblitera Institute

Tempat Terbit : Makassar

Tahun Terbit : 2018

ISBN : 978-602-6646-17-0

February 11, 2021

ARCA BUDDHA DIPANGKARA DARI SULAWESI SELATAN

Di Sulawesi Selatan telah ditemukan sebuah arca Buddha dari bahan perunggu. Tempat temuannya di muara sungai Karama, Desa Karama, Kecamatan Sempaga, Kabupaten Mamuju Provinsi Sulawesi Selatan. Penemuan ini sebagai akibat penggalian tanah di tebing dekat muara Sungai Karama dalam rangka pembuatan jalan.

Diduga arca Buddha ini dari Srilangka (berdasarkan banyaknya ditemuka arca-arca dari seni Amarawati). Dipangkara dibawa berlayar hingga tiba di Sulawesi Selatan. Menurut pendapat pakar arkeologi, arca ini dipasang menghadap kearah laut dengan maksud agar sang dewi dapat melindungi para pelaut yang mencari nafkah di lautan dan sekaligus juga melindungi keluarga yang tinggal di darat dari ancaman musuh sebagaimana yang bisa dilakukan masyarakat Budha di daratan India.

Arca Buddha Dipangkara adalah wali pelindungan bagi para pelaut yang beragama Buddha. Arca Buddha perunggu yang tingginya 75 cm ini digambarkan berdiri, memakai juba yang kainnya berlipat-lipat dan transparan, lehernya bergaris tiga, bentuk mukanya bulat, mulutnya kecil, bibir tebal dan pundak kiri tertutup kain hingga ke lengan. Yang istimewa ialah jubah sang Buddha yang dibuat berlipat-lipat sebagai ciri seni Amarawati.

Tangan yang patah itu diperkirakan yang kiri memegang ujung jubah dan tangan kanan dalam sikap Abhayamudra, artinya menolak bahaya yaitu telapak tangan kanan terbuka dan diarahkan ke depan seolah-oleh menolak sesuatu. Sekarang arca ini disimpang di Museum Nasional Jakarta.

Di ujung selatan pulau Sulawesi tempatnya di Bantaeng, juga ditemukan 3 buah arca yang gayanya mirip dengan arca Dwarawati dari daratan Asia dan diduga berasal dari abad ke-6 M. Diduga 3 buah arca ini juga didatangkan dari luar Sulawesi karena daerah Bantaeng tidak ditemukan bangunan suci Hindu-Buddha dari bahan permanen, selain itu gaya seninya juga berasal dari tempat lain. Arca pertama digambarkan dengan dua tangan ke atas dan mirip dengan Arca Buddha gaya Dwarawati Muang Thai. Arca kedua mirip dengan arca Buddha dari Sumatera; Arca ketiga mirip dengan gaya Sriwijaya dari Thailand. Dari 3 arca Buddha jelas berasal dari Thailand dan hanya sebuah dari Sumatera. Arca-arca Buddha dari Sumatera dilaporkan oleh F.M. Schnitger dalam The Archaccology of Hindoo Sumatera 1973.

Buku KHAZANAH BUDAYA NUSANTARA VIII mengenai permuseuman dan kepurbakalaan, salah satunya Arca Budha Dipangkara Sulawesi Selatan. Buku ini salah satu koleksi layanan perpustakaan umum yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar.


KHAZANAH BUDAYA NUSANTARA VIII
Penyusun: Tim Koordinasi Siaran dan Ditjen Kebudayaan
Penerbit: Proyek Pengembangan Media Kebudayaan 
Tempat Terbit: Jakarta
Tahun Terbit: 1996


December 17, 2020

Professor Nurdin Abdullah, Satu Dasawarsa Memimpin Bantaeng


Judul : Professor Nurdin Abdullah Satu Dasawarsa Memimpin Bantaeng

Penulis : Fenti Effendi

Penerbit : Idekini Berkah Abadi

Kota tempat Terbit : -

Tahun Terbit : 2018

Jumlah Halaman : xviii + 208

Ukuran : 15 x 23 cm

ISBN : 978-602-50345-1-0

Professor Nurdin Abdullah adalah seorang akademisi yang kemudian menjadi kepala daerah dan memimpin kabupaten Bantaeng di Provinsi Sulawesi Selatan selama dua periode. Selanjutnya beliau terpilih menjadi Gubernur Provinsi Sulawesi Selatan pada tahun 2019 lalu. Pertanian adalah bidang yang digeluti oleh Professor Nurdin Abdullah. Pendidikan S1-nya diselesaikan di Universitas Hasanuddin Makassar pada Fakultas Pertanian, kemudian beliau melanjutkan pendidikan Pasca Sarjana (S2 dan S3) di negeri matahari terbit, Jepang. Beliau menjadi Bupati Bantaeng dari tahun 2008 – 2013, 2013 – 2018. Pada pemilihan gubernur Sulawesi Selatan pada tahun 2019, beliau bersama Andi Sudirman Sulaeman berhasil mendapatkan suara terbanyak dan menjadi Gubernur Sulawesi Selatan.

Buku ini salah satu memoir perjalan hidup dan karir Professor Nurdin Abdullah. Terdiri dari 7 bab, diawali dengan Kata Pengantar dengan judul ‘Memimpin Adalah Kerja Ilmiah’, Parade Foto Hari Jadi ke-763 Bantaeng, dan Professor Nurdin Abdullah memimpin Bantaeng.

Pada bab pertama Butta Toa Punya Cerita. Bab ini mengisahkan tentang bagaimana Nurdin Abdullah memimpin Butta Toa, sebutan khusus untuk kabupaten Bantaeng. Kesaksian para warganya dan letak demografis Bantaeng, serta asal usul dan sejarah kabupaten Bantaeng. Suka duka memimpin Bantaeng yang awalnya merupakan daerah tertinggal di Sulawesi Selatan, prestasi beliau dan serta tanggapan BJ Habibie (mantan presiden RI) dan tokoh lainnya juga diuraikan dalam bab ini. Foto dokumentasi beliau bersama Presiden RI Joko Widodo menutup bab pertama ini.

“Menata Dari Hulu” adalah judul bab kedua buku ini. Penjelasan tentang bagaimana seringnya terjadia banjir di Bantaeng dan kadang menimbulkan banyak korban jiwa dan harta benda, dan bupati Nurdin Abdullah mewujudkan pembangunan cedam senilai 14 milyar di Balang Sikuyu, program penghijauan di tiga kecamatan, program hutan desa adalah program kerja beliau selama memimpin Bantaeng,  sebagai upaya pencegahan bajir. Selain upaya pencegahan banjir, juga dibahas tentang penertiban hewan ternak warga yang kadang kadang berkeliaran di dalam kota terutama pasar. Dibuatkan pula aturan aturan untuk penertiban bahu jalan, dan juga program ‘Jumat Bersih’. Pada bagian lain bab ini, ada tentang penertiban dan peremajaan Pasar tradisional Lambocca. Upaya Nurdin Abdullah dalam menyiapkan dan ambulans bagi warganya juga dibahas pada bab ini.

Bab ketiga ‘Menguatkan Desa’ diawali dengan persoalan pelik, yaitu mengubah perilaku masyarakat. Problem utama di Bantaeng adalah kemiskinan dan minimnya pengetahuan tentang pertanian, juga infra struktur yang parah, fasilitas jalan buruk dan rendahnya produktifitas sawah dan ladang. Bab ketiga ini juga dibahas tentang, taman bunga dan bibit loka serta kemandirian desa. Upaya pencarian mata air untuk keperluan warga juga diuraikan disini.

“Belajar dari Bantaeng” adalah judul pembahasan pada bab keempat. Bagian ini pembahasan utamanya adalah bagaimana kesibukan bupati Nurdin Abdullah, bagaimana beliau mengatur waktu dikantor dan diluar kantor, berkordinasi dan bekerja sama dengan para birokrat lainnya di Bantaeng serta pengaturan jam jam kerja di Bantaeng. Juga dibahas tentang bagaiman Nurdin Abdullah menghapus tunjangan kinerja yang tentu saja tidak semua ASN bisa terima.

Selanjutnya dibahas tentang Siasat Masa Depan yang menguraikan tentang investasi, penyiapan masyarakat industri, dunia maritim di Bantaeng dan opsi terbaik untuk kesehatan. The Professow Way adalah judul bab keenam dengan sub bagian ‘teladan itu pangkal’. Pada bagian ini, juga dibahas tentang penganugerahan Bung Hatta Anti Corruption Award kepada Nurdin Abdullah, yang diserahkan lansung oleh putri Bung Hatta, Meutia Hatta Swasono. ‘Belum sempurna namun langkah-langkah yang dilakukan sudah mengarah ke sana dan kami ingin mengapresiasinya ditengah sulitnya mencari teladan dari pejabat publik’, demikian kata Zainal Arifin, juru bicara Bung Hatta Anti Corruption Award (BHACA).

Pada bagian akir buku ini ada kutipan tentang Nurdin Abdullah. “Nurdin Abdullah telah mengubah paradigma berkarat yang mengambat Bantaeng berlari cepat: dari ‘bagaimana menghabiskan’ menjadi ‘bagaimana menghasilkan’, dari ‘bagaimana mengambil’ menjadi ‘bagaimana memberi’. Ia membuktikan bahwa keterbatasan anggaran bukanlah alasan pembangunan jalan ditempat.

Buku ini sangat menarik. Pembaca dapat mengambil banyak hikmah dari kepemimpinan Nurdin Abdullah. Selain itu juga banyak dokumentasi foto kegiatan beliau menghiasi buku ini.

Koleksi Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Sulawesi Selatan.