Penulis : Fenti Effendi
Penerbit : Idekini Berkah Abadi
Kota tempat Terbit : -
Tahun Terbit : 2018
Jumlah Halaman : xviii + 208
Ukuran : 15 x 23 cm
ISBN : 978-602-50345-1-0
Professor Nurdin Abdullah adalah seorang akademisi yang kemudian menjadi kepala daerah dan memimpin kabupaten Bantaeng di Provinsi Sulawesi Selatan selama dua periode. Selanjutnya beliau terpilih menjadi Gubernur Provinsi Sulawesi Selatan pada tahun 2019 lalu. Pertanian adalah bidang yang digeluti oleh Professor Nurdin Abdullah. Pendidikan S1-nya diselesaikan di Universitas Hasanuddin Makassar pada Fakultas Pertanian, kemudian beliau melanjutkan pendidikan Pasca Sarjana (S2 dan S3) di negeri matahari terbit, Jepang. Beliau menjadi Bupati Bantaeng dari tahun 2008 – 2013, 2013 – 2018. Pada pemilihan gubernur Sulawesi Selatan pada tahun 2019, beliau bersama Andi Sudirman Sulaeman berhasil mendapatkan suara terbanyak dan menjadi Gubernur Sulawesi Selatan.
Buku ini salah satu memoir perjalan hidup dan karir Professor Nurdin Abdullah. Terdiri dari 7 bab, diawali dengan Kata Pengantar dengan judul ‘Memimpin Adalah Kerja Ilmiah’, Parade Foto Hari Jadi ke-763 Bantaeng, dan Professor Nurdin Abdullah memimpin Bantaeng.
Pada bab pertama Butta Toa Punya Cerita. Bab ini mengisahkan tentang bagaimana Nurdin Abdullah memimpin Butta Toa, sebutan khusus untuk kabupaten Bantaeng. Kesaksian para warganya dan letak demografis Bantaeng, serta asal usul dan sejarah kabupaten Bantaeng. Suka duka memimpin Bantaeng yang awalnya merupakan daerah tertinggal di Sulawesi Selatan, prestasi beliau dan serta tanggapan BJ Habibie (mantan presiden RI) dan tokoh lainnya juga diuraikan dalam bab ini. Foto dokumentasi beliau bersama Presiden RI Joko Widodo menutup bab pertama ini.
“Menata Dari Hulu” adalah judul bab kedua buku ini. Penjelasan tentang bagaimana seringnya terjadia banjir di Bantaeng dan kadang menimbulkan banyak korban jiwa dan harta benda, dan bupati Nurdin Abdullah mewujudkan pembangunan cedam senilai 14 milyar di Balang Sikuyu, program penghijauan di tiga kecamatan, program hutan desa adalah program kerja beliau selama memimpin Bantaeng, sebagai upaya pencegahan bajir. Selain upaya pencegahan banjir, juga dibahas tentang penertiban hewan ternak warga yang kadang kadang berkeliaran di dalam kota terutama pasar. Dibuatkan pula aturan aturan untuk penertiban bahu jalan, dan juga program ‘Jumat Bersih’. Pada bagian lain bab ini, ada tentang penertiban dan peremajaan Pasar tradisional Lambocca. Upaya Nurdin Abdullah dalam menyiapkan dan ambulans bagi warganya juga dibahas pada bab ini.
Bab ketiga ‘Menguatkan Desa’ diawali dengan persoalan pelik, yaitu mengubah perilaku masyarakat. Problem utama di Bantaeng adalah kemiskinan dan minimnya pengetahuan tentang pertanian, juga infra struktur yang parah, fasilitas jalan buruk dan rendahnya produktifitas sawah dan ladang. Bab ketiga ini juga dibahas tentang, taman bunga dan bibit loka serta kemandirian desa. Upaya pencarian mata air untuk keperluan warga juga diuraikan disini.
“Belajar dari Bantaeng” adalah judul pembahasan pada bab keempat. Bagian ini pembahasan utamanya adalah bagaimana kesibukan bupati Nurdin Abdullah, bagaimana beliau mengatur waktu dikantor dan diluar kantor, berkordinasi dan bekerja sama dengan para birokrat lainnya di Bantaeng serta pengaturan jam jam kerja di Bantaeng. Juga dibahas tentang bagaiman Nurdin Abdullah menghapus tunjangan kinerja yang tentu saja tidak semua ASN bisa terima.
Selanjutnya dibahas tentang Siasat Masa Depan yang menguraikan tentang investasi, penyiapan masyarakat industri, dunia maritim di Bantaeng dan opsi terbaik untuk kesehatan. The Professow Way adalah judul bab keenam dengan sub bagian ‘teladan itu pangkal’. Pada bagian ini, juga dibahas tentang penganugerahan Bung Hatta Anti Corruption Award kepada Nurdin Abdullah, yang diserahkan lansung oleh putri Bung Hatta, Meutia Hatta Swasono. ‘Belum sempurna namun langkah-langkah yang dilakukan sudah mengarah ke sana dan kami ingin mengapresiasinya ditengah sulitnya mencari teladan dari pejabat publik’, demikian kata Zainal Arifin, juru bicara Bung Hatta Anti Corruption Award (BHACA).
Pada bagian akir buku ini ada kutipan tentang Nurdin Abdullah. “Nurdin Abdullah telah mengubah paradigma berkarat yang mengambat Bantaeng berlari cepat: dari ‘bagaimana menghabiskan’ menjadi ‘bagaimana menghasilkan’, dari ‘bagaimana mengambil’ menjadi ‘bagaimana memberi’. Ia membuktikan bahwa keterbatasan anggaran bukanlah alasan pembangunan jalan ditempat.
Buku ini sangat menarik. Pembaca dapat mengambil banyak hikmah dari kepemimpinan Nurdin Abdullah. Selain itu juga banyak dokumentasi foto kegiatan beliau menghiasi buku ini.
Koleksi Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Sulawesi Selatan.

