December 29, 2022

SENJATA PUSAKA BUGIS

Kebudayaan Bugis merupakan salah satu kebudayaan tua di Nusantara. Salah satu aspek kebudayaan Bugis yang hingga kini masih kuat mengakar dalam kehidupan masyarakat adalah perlakuan dan penghayat atas senjata pusaka tradisional yang disebut pola bessi

Senjata tradisional ini tidak hanya difungsikan secara kultural sebagai benda budaya, namun juga difungsikan sebagai sebagai pendamping jiwa dan penyemangat dalam pembinaan kepribadian dan pencapaian tujuan hidup, terutama yang berkaitan dengan nilai budaya atau pandangan hidup yang termuat dalam sebilah polo bessi.

Sebilah polo bessi merupakan warisan budaya masa lalu yang diturunkan dari generasi ke generasi selama berabad-abad lamanya. Meski telah ditempa ulang dan diperbaharui sesuai kebutuhan, polo bessi tetap menyimbolkan nilai kepahlawanan dan patriotisme (orowanengeng), kekayaan dan kesejahteraan (abbaramparangeng), kekuasaan dan kemuliaan (arajangeng-kelompoan) serta nilai keselamatan dan keseimbangan dunia dan akhirat (asalamakeng lino-akhirat).

Aspek teknis pembuatan bilah dan pamor telah dikuasai oleh bangsa Indonesia, termasuk di dalamnya orang Bugis, secara turun-temurun sejak masa prasejarah (Galigo), periode sejarah (Lontara'), hingga sekarang. Dalam proses waktu yang melahirkannya, polo besi telah menjadi bagian dari sistem kebudayaan, dengan cakupan tidak hanya nilai teknologi, tetapi juga nilai estetika, magis dan religi masyarakat yang melingkupinya.

Buku SENJATA PUSAKA BUGIS mengulas secara rinci tiga jenis senjata pusaka Bugis, yakni keris, badik dan pedang yang bukan semata-mata aksesoris, melainkan sebagai kalompoan-arajeng (kebesaran) dan kalebbireng (keagungan), senjata-senjata tersebut sesungguhnya menghubungkan organisasi sosial kekerabatan, kampung atau federasi serta kepercayaan dan mitologi.

Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan akan pentingnya benda pusaka keramat sesuai dengan konsep aneh masyarakat Bugis-Makassar, yakni benda-benda pusakalah yang sebenarnya berkuasa, raja hanya memerintah negara atas benda pusaka tersebut.


Pamor dan Landasan Spiritual
SENJATA PUSAKA BUGIS

Penulis: Ahmad Ubbe, Andi M. Irwan Zulfikar, Dray Vibrianto Senewe
Penerbit: PT. Gramedia
Tempat Terbit: Jakarta
Tahun Terbit: 2011
ISBN: 978-979-22-7729-6

December 28, 2022

SEJARAH PENDIDIKAN SULAWESI SELATAN

Sulawesi Selatan merupakan suatu wilayah administrasi yang disebut Provinsi Sulawesi Selatan. Dahulu, pada mas awal proklamasi kemerdekaan hingga penyerahan kedaulatan (1950), daerah tersebut terdiri atas enam afdeling dan satu Kota Besar. Dari enam afdeling dan satu Kota Besar itu kemudian berkembang menjadi 23 kabupaten termasuk di dalamnya dua kota madya. Keenam afdeling tersebut masing-masing:

  1. Afdeling Makassar, ibu kotanya Sungguminasa
  2. Afdeling Pare Pare, ibu kotanya Pare Pare
  3. Afdeling Mandar, ibu kotanya Majene
  4. Afdeling Luwu, ibu kotanya Palopo
  5. Afdeling Bone, ibu kotanya Watampone 
  6. Afdeling Bonthain, ibu kotanya Bonthain
Sebelum pendidikan formal ala Barat masuk ke darah Sulawesi Selatan, pewaris nilai ditransfer melalui nasihat, pesan dan pemberian contoh-contoh praktis. Sistem demikian pada waktu sekarang biasa disebut pendidikan informal. Di dalam rumah, ibulah yang memegang peran utama, berikut sang ayah. Pangngadereng (Bugis) atau pangngadakkang (Makassar) dan atau aluk to dolo (Toraja) merupakan sistem norma yang harus dipatuhi/dihormati.

Norma norma kultural yang bernilai tinggi serta sakti itu mempengaruhi alam pikiran masyarakat Sulawesi Selatan. Pemindahan nilai nilai sakral itu dilakukan oleh pinati, anre guru dan juga palontara'. Pemindahan pengetahuan seperti pertukangan lebih bersifat percontohan. Para ahli (tukang) mempekerjakan anaknya, dan atau keluarga lainnya yang terdekat untuk menyelesaikan sesuatu. Dari jenis pekerjaan sederhana, sang 'murid' dilatih, lama kelamaan meningkat pada pekerjaan yang rumit. Dengan demikian pemindahan pengetahuan terjadi.

Sejak agama Islam masuk ke Sulawesi Selatan, pindahan nilai dan atau pengetahuan keagamaan melalui nasehat sang pemimpin peribadatan, yang disebut imam. Sehabis memimpin sembahyang, ia membalikkan dirinya menghadapi pengikutnya (jemaah) dan menyampaikan pesan pesan atau pengajaran agama. Pendidikan yang dilangsungkan di dalam masjid atau tempat sembahyang lainnya dinamakan pendidikan langgar. Sistem pendidikan tersebut kemudian dikenal sebagai pendidikan formal.

Dari pendidikan langgar dengan inti mata pelajaran membaca Al Qur'an, kitab suci ummat Islam, berkembang ke pendidikan madrasah. Pada madrasah yang modern, memasukkan mata pelajaran umum bersama sama pelajaran agama guna dipelajari murid murid. Ada pula sejenis pesantren, yang hanya mengajarkan pendidikan agama Islam semata.

Pendidikan umum berkembang pula. Sistim pendidikan yang berasal dari Barat (Eropa) dimulai pada tahun 1876, ketika Benjamin Frederik Matthes mendirikan Kweekschool di Makassar. Walaupun sekolah itu diperuntukkan guna mengajar (guru), oleh masyarakat di daerah itu dinamakan sikola rajaya (sekolah raja). Lembaga pendidikan itu kemudian dikaitkan dengan OSVIA (Opleidingsschool voor Inlandsche Ambtenaren) pada tahun 1880. OSVIA mempersiapkan calon pegawai pemeritnah (pamongpraja). Menjelang Perang Dunia II meletus, OSVIA dan Kweekschool di satukan. Murid murid kedua sekolah itu duduk bersama hingga kelas dua. Kemudian dipisahkan pada kelas lanjutannya. Murid Kweekschool memutuskan pelajaran pada keguruan, sedangkan OSVIA mendalami ilmu hukum 

Lembaga Pendidikan Dasar, atau Sekolah Dasar mulai didirikan pada tahun 1906, ketika Perang Pacifikasi van Heutz usai di Gowa. Sekolah tersebut bernama Inlandscheschool yang mempunyai lima tingkatan kelas. Bangsa Indonesia mulai mengenal lembaga pendidikan formal dengan adanya sekolah itu, yang juga biasa disebut sekolah Melayu. Bagi anak bangsawan dan berfungsi penting, dibukakan sekolah H.I.S. (Hollandsche Inlandscheschool) yang mempunyai tujuh tingkatan kelas.

Pada tahun 1917, dapat dikatakan bahwa di semua desa utama terdapat sekolah dasar tiga tahun, yang bernama Volksschool. Sekolah sambungan, mulai kelas IV hingga kelas V didirikan pada setiap ibu kota distrik: Vervolgschool. Di Makassar didirikan sekolah menengah umum : MULO. Pendidikan tinggi pun sudah nampak  di Sulawesi Selatan setelah tahun 1965, seperti Universitas Hasanuddin, IKIP Ujung Pandang dan IAIN Alauddin .

Buku SEJARAH PENDIDIKAN DAERAH SULAWESI SELATAN membahas tentang pendidikan tradisional, pendidikan pada awal abad ke-20 hingga 1945, pendidikan sejak kemerdekaan serta peran pendidikan terhadap perubahan sosial. Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar.



SEJARAH PENDIDIKAN DAERAH SULAWESI SELATAN 
Tim Penyusun: Sarita Pawiloy, Intan Densi Kamar, A. Rauf Padulungi, Rabihatun Idris
Editor: Mardanas Safwan, Sutrisno Kutoyo
Penerbit: Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah
Tempat Terbit: Ujung Pandang
Tahun Terbit: 1981





December 16, 2022

PENGETAHUAN KARAWITAN SULAWESI SELATAN

Pada umumnya karawitan diartikan sebagai musik tradisional. Karawitan daerah Sulawesi Selatan sendiri dapat diartikan "lagu atau ritme yang dilahirkan dengan menggunakan sebuah atau lebih alat bunyi-bunyian yang memiliki ciri khas tersendiri yang hidup dan berkembang dalam masyarakat Sulawesi Selatan.

Di Sulawesi Selatan dapat dijumpai berbagai alat bunyi-bunyian. Berikut alat bunyi-bunyian atau alat musik yang masih sering digunakan oleh masyarakat suku-suku tertentu, seperti:

1. Menurut sumber bunyinya

  • Yang bersumber dari bahan alat itu sendiri (idiofon), misalnya, gong, lea-lea, tennong, kannong, katto-katto, anak baccing dan calong.
  • Yang bersumber dari udara yang berada dalam alat itu (aerofon), misalnya, puik-puik, suling, sinkuru, basing-basing, sarunai, dan sebagainya.
  • Yang bersumber dari kulit yang ditegangkan (membranofon), misalnya, ganrang, karombi (Toraja), rabana, tambur, jidor, dan sebagainya.
  • Yang bersumber dari dawai yang ditegangkan (kordofon) misalnya, kacaping, kesok-kesok, biola, gambus, dan sebagainya.

2. Menurut Cara Penggunaannya

  • Alat musik tiup, misalnya puik-puik, suling, basing-basing, sikunru dan sebagainya.
  • Alat musik gesek, misalnya kesok-kesok, biola dan sebagainya.
  • Alat musik petik, misalnya kacaping, gambus, mandaling dan sebagainya.
  • Alat musik tabuh/pukul misalnya ganrang, gong, tennong dan kannong.

3. Menurut Asal Sumbernya

  • Alat musik yang dianggap khas Sulawesi Selatan: ganrang, gong, puik puik, anak baccing, lea-lea, tennong, kannong, kacaping, kesok-kesok, suling, genggong, sarunai, basing-basing, sikunru, tambolang, karombi, katinting, tanning-tanning, dan sebagainya.
  • Alat musik yang dibawa oleh agama Islam: gambus, rebana, rincing-rincing, mandaling, dan sebagainya.
  • Alat musik yang dibawa oleh bangsa-bangsa Barat: terompet, tambur klarinet, fidor, (drum), bas, cello, gitar akustik, dan sebagainya.

Buku PENGETAHUAN KARAWITAN DAERAH SULAWESI SELATAN membahas tentang perkembangan seni karawitan yang sejalan dengan perkembangan lagu-lagu daerah tradisional, musik instrumental serta musik vokal instrumental. Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar.


PENGETAHUAN KARAWITAN DAERAH SULAWESI SELATAN
Penulis: Munasiah N
Penerbit: Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah 
Tempat Terbit: Jakarta
Tahun Terbit: 1983




December 14, 2022

BURUNG-BURUNG DI SULAWESI

Keunikan fauna Sulawesi adalah akibat dari posisi dan evolusi di dalam zona geologi  yang kompleks, yang menghubungkan anak benua Sunda dan Sahul (Australo-Papua). Zona fauna peralihan dan endemisme ini oleh biologiwan dikenal sebagai Kawasan Wallacea, meliputi Sulawesi, Maluku, dan Nusantara Tenggara. 

Seperti keunikan jenis burung Sulawesi yang tidak ada tandingannya, sekitar 380 jenis daftar burung di Sulawesi dan pulau-pulau kecil di sekitarnya dan 96 jenis di antaranya endemik. Suara-suara burung di hutan-hutan Kawasan Sunda umumnya bersuara riang. Sebaliknya, burung-burung di hutan Sulawesi  yang suara sangat melankolis.

Buku BURUNG-BURUNG DI SULAWESI membahas secara lengkap burung-burung di pulau Sulawesi dan jenis-jenis burung endemik, berupa gambar berwarna untuk 142 jenis, ditambah gambar hitam putih untuk 22 jenis dengan uraian ciri-cirinya secara ringkas seperti kebiasaan, suara  dan habitat masing-masing jenis. 

Kawasan Sulawesi yang dibahas dalam buku ini lebih mengacu pada wilayah menurut avifauna daripada batas-batas administrasi. Berdasarkan hasil penelitian burung-burung di Sulawesi, pengelompokannya sebagai berikut:

  • Titihan 
  • Burung Cikalang
  • Pecuk
  • Angsa-batu 
  • Cangak, Kuntul, Kokokan, Kowak malam dan Bambangan
  • Bangau dan Ibis
  • Burung Pemangsa
  • Itik 
  • Gosong dan Maleo 
  • Kareo, Mandar dan Tikusan 
  • Burung Sepatu
  • Burung-burung Perancah
  • Gagang-bayem 
  • Wili-wili 
  • Dara-laut 
  • Merpati-merpatian
  • Burung Paruh Bengkok
  • Kangkok 
  • Burung Hantu
  • Cabak 
  • Walet 
  • Raja-udang 
  • Kirik-kirik 
  • Tiong-lampu
  • Pelatuk 
  • Paok 
  • Layang-layang Kicuit dan Apung 
  • Bentet-kedasi dan Kapasan
  • Enggang 
  • Cucak-cucakan 
  • Burung-cacing 
  • Burung Pengoceh
  • Malia dan Geomalia 
  • Burung Pengicau
  • Sikatan 
  • Kancilan 
  • Burung Cabai
  • Burung-madu
  • Kacamata 
  • Isap madu
  • Burung Gereja, Bondol dan Burung
  • Fink
  • Jalak dan Kerak 
  • Kepudang 
  • Srigunting 
  • Kekep 
  • Gagak 

Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar yang membahas tentang burung-burung di Sulawesi yang hampir 100 jenis tidak ditemukan di tempat lain di dunia ini disertai lampiran 278 jenis burung penetap di daratan yang ada di wilayah fauna Sulawesi.


BURUNG-BURUNG DI SULAWESI
The Birds of Sulawesi
Penulis: Derek Holmes, Keren Phillipps
Penerjemah: Yeni. A. Mulyani
Penerbit: Puslitbang Biologi
Tempat Terbit: Bogor
Tahun Terbit: 1999
ISBN: 979-579-028-5


December 13, 2022

TORAJA DULU DAN KINI

Penelitian arkeologi di wilayah etnis Toraja pada tahap awal dan bersifat deskriptif telah dilakukan oleh Eric Cristal (1974), Harun Kadir (1977), Santoso Soegondo dan kawan-kawan (1996), Akin Duli (1999) dan rekan-rekan dari Balai Arkeologi Makassar (2002). Hasil dari penelitian awal tersebut dapat memberikan gambaran bahwa daerah etnis Toraja sangat potensial secara arkeologis untuk diteliti lebih mendalam, terutama yang berkaitan dengan budaya megalitik dengan ditemukannya berbagai bentuk peninggalan seperti menhir (simbuang), bentuk-bentuk penguburan dan sistem kepercayaan terhadap leluhur yang disebut Aluk Todolo. Resistensi budaya Toraja yang lebih mudah dijelaskan sebagai akibat isolasi geografis, memungkinkan masyarakatnya semakin meyakini Aluk Todolo sebagai kepercayaan yang sudah menyatu dengan segala aspek kehidupan.

Buku TORAJA DULU DAN KINI yang dimaksudkan dalam buku ini adalah Toraja Selatan atau Toraja Sakdan menurut klasifikasi A.C. Kruyt, atau masyarakat yang tinggal di Tondok Lepongan Bulan Matarik Allo sebagai nama negeri mereka sebelum penggunaan nama Toraja oleh para penyiar agama Nasrani. Suku Toraja mendiami wilayah bagian utara jazirah Sulawesi Selatan yang berbatasan langsung dengan wilayah Sulawesi Tengah. Dari segi sosio-kultural mereka bermukim di daerah Kabupaten Enrekang, daerah Suppiran di Kabupaten Pinrang, daerah Mamasa di Kabupaten Polewali - Mamasa, Daerah Galumpang dan Makki di Kabupaten Mamuju, daerah Pantilang dan Rongkong-Seko di Kabupaten Luwu. Namun demikian, daerah ini inti pemukiman mereka adalah Kabupaten Tana Toraja.

Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar yang mengemukakan budaya Toraja yang lebih menekankan pada perspektif arkeologi berupa kumpulan hasil karya yang bersifat inovatif untuk mengemukakan aspek budaya Toraja, sehingga masyarakat akan lebih memahami perkembangan pengetahuan kepurbakalaan dan aspek-aspek budaya Toraja. Berikut kumpulan tulisan yang di maksud:

  • Sejarah dan Budaya Toraja, oleh A. Fatmawaty Umar
  • Pola Pemukiman Masyarakat Toraja, oleh Hasanuddin
  • Refleksi Religi dan Sosial Peninggalan Megalitik di Tana Toraja oleh Bernadeta AKW
  • Tau-Tau Dalam Sistem Budaya Masyarakat Toraja oleh Marla Tandirerung dan Akin Duli
  • Duni Wadah Kubur dan Kendaraan Arwah oleh Muh. Hasyim dan A.A. Ajis


TORAJA DULU DAN KINI
Editor: Akin Duli, Hasanuddin
Tim Kerja: A. Wanua Tangke, Moh. Yahya Mustafa, Anwar Nasyaruddin
Penerbit: Pustaka Refleksi
Tempat Terbit: Makassar
Tahun Terbit: 2003
ISBN: 979-96731-7-8


December 12, 2022

ISLAMISASI KERAJAAN GOWA

Berdasarkan penafsiran, penduduk Makassar sejak abad XVI diperkirakan sudah ada yang menerima Islam. Perkiraan itu kemungkinan terjadi melalui interaksi sosial antara para pedagang muslim dan penduduk Makassar. Interaksi itu telah berlangsung lama melalui dua tempat: Pertama, interaksi sosial berlangsung di dalam wilayah Kerajaan Gowa sejak abad XVI. Kedua, interaksi sosial dapat pula terjadi di luar Kerajaan Gowa, yaitu di daerah-daerah yang sudah lebih dahulu menerima Islam di Nusantara antara para pedagang atau pelaut Makassar dan masyarakat muslim yang mereka jumpai di perantauan. Dalam interaksi itu sudah tentu terjadi pertukaran budaya, termasuk penerimaan Islam.

Penerimaan Islam secara resmi dan dapat dibuktikan melalui sumber-sumber tertulis, seperti termuat dalam Lontara Bilang, terjadi pada tahun 1605 M, yaitu setelah Raja Gowa dan Tallo menerima Islam. Penerimaan ini disebut oleh J.P. Williams sebagai tingkat rahasia, berbeda dengan tingkat penerimaan Islam sebelumnya yang disebut privat atau pribadi. Yang dimaksud dengan tingkat rahasia adalah jika seseorang menerima ajaran agama untuk dirinya dan tidak didiskusikan dengan orang lain.

Sejalan dengan pandangan Williams, Noorduyn berpendapat bahwa islamisasi di Kerajaan Gowa melalui tiga tahap. Tahap pertama adalah kedatangan Islam, yaitu ketika pertama kali para pedagang Melayu Muslim mendatangi daerah ini pada akhir abad XV, dan lebih intensif lagi pada pertengahan abad XVI. Pada tahap ini, sebagai yang dikemukakan di atas, kemungkinan penduduk setempat telah ada yang menganut Islam, sekalipun masih sangat terbatas pada orang-orang tertentu atau menurut teori Williams, barulah pada tingkat rahasia. Tahap kedua adalah penerimaan Islam, yaitu ketika Islam diterima secara resmi oleh Raja Gowa dan Raja Tallo serta beberapa elite kerajaan. Tahap ini, disebut oleh Williams sebagai tahap denominasi, yaitu Islam sudah tidak lagi menjadi agama rahasia atau pribadi, melainkan sudah diterima oleh individu-individu lainnya dalam suatu kelompok besar masyarakat. Tahap ketiga adalah penyebaran Islam lebih lanjut, yaitu setelah Islam resmi menjadi agama kerajaan dan mulai disebarluaskan ke dalam masyarakat. Tahap ini, menurut Williams, tahap atau tingkat masyarakat, yaitu keyakinan keagamaan sudah menjadi milik masyarakat.

Terdapat kontroversi mengenai waktu penerimaan Islam kedua raja tersebut, sebab dalam beberapa lontara yang dipakai sebagai sumber primer terdapat perbedaan penanggalan. Setelah dilakukan kritik ekstern terhadap beberapa naskah, ditemukan bahwa kedua raja tersebut masuk Islam pada hari yang sama, yaitu malam Jumat, 22 September 1605 M, bertepatan dengan 9 Jumadil Awal 1014 H.

Lontara menyebutkan, terdapat tiga mubalig yang membawa agama Islam pertama ke Sulawesi Selatan, yang dikenal dengan tiga orang datuk atau datuk tallua (Makassar) atau datuk tellue (Bugis), yaitu Datuk ri Bandang, Datuk Patimang, dan Datuk ri Tiro. Mereka berasal dari Koto Tengah, Minangkabau, yang sengaja didatangkan ke Sulawesi Selatan untuk mengimbangi misi Katolik yang sudah mulai menanamkan pengaruhnya ke dalam istana Kerajaan Gowa.

Buku ISLAMISASI KERAJAAN GOWA merupakan hasil disertasi untuk menambah khazanah pengetahuan, terutama berkenaan dengan sejarah penyebaran Islam di Sulawesi Selatan. Sejarah masuknya Islam dan Islamisasi di Sulawesi Selatan merupakan hal paling fundamental dalam kajian tentang kehadiran Islam, yang kini dianut mayoritas penduduk.

Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar yang bersumber dari lembar-lembar lontara (manuskrip) dan keterangan literatur berbahasa Belanda, selain itu juga dari hasil wawancara terutama bagi peneliti untuk dijadikan bahan rujukan.


ISLAMISASI KERAJAAN GOWA
Penulis: Ahmad M. Sewang
Penerbit: Yayasan Obor Indonesia
Tempat Terbit: Jakarta
Tahun Terbit: 2005
ISBN: 979-461-530-7


December 8, 2022

DINAMIKA SOSIAL MASYARAKAT NELAYAN


Modal sosial (sosial capital) merupakan serangkaian nilai-nilai atau norma-norma informasi yang dimiliki bersama di antara para anggota suatu kelompok yang memungkinkan terjalinnya kerja sama di antara mereka. Karenanya, modal sosial merupakan stok dari hubungan yang aktif antara masyarakat. Setiap pola hubungan yang terjadi diikat oleh kepercayaan (trust), ke saling-pengertian (mutual understanding) dan nilai-nilai bersama (shared value) yang mengikat anggota kelompok untuk membuat kemungkinan aksi bersama yang dilakukan secara efisien dan efektif.

Buku DINAMIKA SOSIAL MASYARAKAT NELAYAN mengurai pergolakan modal sosial masyarakat nelayan Desa Karama - Mandar telah mengakar dalam sejarah dan budaya masyarakat yang saling membantu satu sama lain dalam memecahkan persoalan bersama, walaupun terdapat nilai kompetisi dalam masyarakat.

Modal sosial masyarakat nelayan Desa Karama relevan melihat hubungan hierarki organisasi vertikal, struktur organisasi formal, rezim politik dan sistem hukum. Juga memperlihatkan adanya relasi-relasi sosial antar individu-individu dan kelompok-kelompok dalam strata sosial yang berbeda secara hierarkis disebut linking social capital. Modal sosial yang bersifat linking tersebut menunjukkan suatu bentuk kekuatan komunitas masyarakat nelayan Desa Karama.

Peranan modal sosial masyarakat nelayan Desa Karama sangat penting dalam mempertahankan eksistensi mereka yang meliputi bidang ekonomi, sosial dan budaya. Dalam bidang ekonomi, modal sosial mempertahankan perekonomian desa yang berbasis nelayan. Adapun dalam bidang sosial memberi pengaruh pada terciptanya interaksi timbal balik dalam masyarakat. Sedangkan dalam bidang budaya, modal sosial memperkuat pelestarian tradisi masyarakat nelayan di Desa Karama.

Buku ini merupakan hasil penelitian mengenai pergolakan modal sosial yang ada di masyarakat nelayan. khususnya nelayan Desa Karama, Kabupaten Polmas, Sulawesi Barat dan menjadi salah satu koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar.


DINAMIKA SOSIAL MASYARAKAT NELAYAN
Penulis: Hasmah
Editor: Syamsul Bahri
Penerbit: Pustaka Sawerigading bekerjasama Balai Pelestarian Nilai Budaya Makassar
Tahun Terbit: 2014
ISBN: 978-602-9248-18-0



EPOS KARAENG TUNISOMBAYA RI GOWA

Pelestarian sastra daerah perlu dilakukan karena upaya itu bukan hanya akan memperluas wawasan terhadap sastra dan budaya masyarakat daerah bersangkutan, melainkan juga akan memperkaya khazanah sastra dan budaya Indonesia. Salah satunya cerita cerita yang mula-mula diungkapkan dalam bentuk sinrilik, yaitu sejenis prosa lisan Makassar yang dilagukan dan diiringi oleh rebab dan gong. Kemudian, sinrilik ini ditulis dalam bentuk naskah dan di beri judul Karaeng Tunisombaya ri Gowa.

Buku Epos Karaeng Tunisombaya, tentang hikayat Karaeng Tunisombaya  yakni raja yang dipertuan di Gowa, mempunyai kedudukan yang sangat tinggi sebab banyak raja yang tunduk kepadanya. Karaeng Tunisombaya mempunyai tiga orang putra, yaitu Karaeng Petta Belo, Karaeng Andi Patunru dan Karaeng Caddi-caddi atau Andi Pisona.

Epos ini menceritakan latar belakang terjadinya pertentangan Karaeng Andi Patunru dengan ayahandanya Karaeng Tunisombaya ri Gowa, yang berlanjut dengan peperangan antara Kerajaan Gowa dan Belanda. Pada mulanya, Karaeng Andi Patunru berusaha meminta bantuan kepada raja-raja lain untuk bersama-sama melawan Kerajaan Gowa. Akan tetapi, raja-raja tidak ada satu pun yang bersedia membantunya karena mereka merasa tidak mampu berhadapan dengan Kerajaan Gowa.

Akhirnya, Karaeng Andi Patunru meminta bantuan kepada Belanda di Batavia dan permintaannya itu dikabulkan oleh Belanda. Terjadilah peperangan antara Kerajaan Gowa dengan Belanda selama beberapa tahun. Peperangan utu berakhir dengan ditandatanganinya perjanjian perdamaian antara Karaeng Tunisombaya ri Gowa dengan Gubernur Jenderal Betawi.

Dalam perjanjian itu ditetapkan, antara lain Karaeng Tunisombaya tetap memerintah di Gowa sedangkan pembesar Belanda berkuasa di Ujung Pandang. Akan tetapi, apabila Tumalompo ri Jumpandang (Kepala Pemerintahan Belanda di Ujung Pandang) tidak ada, Sombaya (Raja Gowa) menjadi Tumalompo. Sebaliknya, apabila Sombaya ri Gowa berhalangan, Tumalompo ri Jumpandang menjadi Sombaya ri Gowa untuk memperhatikan kesejahteraan rakyat.

Buku ini merupakan karya sastra Indonesia lama yang berbahasa Makassar dan menjadi salah satu koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar.


Epos Karaeng Tunisombaya
Penerjemah: Muhammad Sikki, Sahabuddin Nappu, Syamsul Rijal
Penerbit: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa
Tempat Terbit: Jakarta
Tahun Terbit: 1997

December 7, 2022

OPU DAENG RISAJU

"JIKA hanya karena darah bangsawan mengalir dalam tubuhku, sehingga saya harus meninggalkan partaiku dan berhenti melakukan gerakanku (aktivitas), irislah dadaku dan keluarkanlah darah bangsawan itu dari dalam tubuhku, supaya Datu (Raja) dan Hadat tidak terhina kalau saya diperlakukan tidak sepantasnya."

Ini cetusan sikap Famajah (1880-1964), yang kenal dikenal dengan nama Opu Daeng Risaju dari Sulawesi Selatan. la wanita pertama di Indonesia yang dipenjara karena aktivitas politiknya melawan penjajah serta gelar kebangsawanannya di copot. Beliau berjuang hingga usia sepuh walau disiksa fisik dan batin, hingga harus berpisah dari suami.

Opu Daeng Risaju di usia di atas lima puluhan, ia pernah ditangkap dan dipaksa berjalan sejauh 40 kilometer, dari desa La Tonre hingga Watampone. Dalam usia tua, la pernah disiksa harus lari mengelilingi lapangan besar. Satu jam ia dipaksa berdiri menatap terik matahari.

Lalu di dekat telinganya, diledakkan senjata api. la pun terjatuh pingsan. Ketika terjaga, telinganya tuli.

Di tahun 1927, saat berusia 47 tahun, ia aktif di PSII (Partai Sarikat Islam Indonesia) di pare-pare. Tiga tahun kemudian, di tahun 1930, dalam usia 50 tahun, Ia menjadi ketua PSII di kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan.

Beliau sangat teguh dalam agama dengan melakukan perintah Tuhan, Amar Ma'ruf Nahi Munkar. Di tahun 1953, beliau dikirim Kahar Mudzakkar di Jawa Barat, menghadapi Kartosoewirjo di tahun 1949, empat tahun sebelumnya, mendeklarasikan berdirinya Negara Islam Indonesia.

Buku OPU DAENG RISAJU: Kisah Tragis Pejuang yang Pantang Menyerah dan Paling Dicari Belanda merupakan novel historiografi dalam memperkenalkan sosok perempuan tangguh yang di anugerahi pahlawan nasional tahun 2006.

Buku ini juga beberapa peristiwa penting yang terjadi di Tana Luwu sebelum dan sesudah Proklamasi Kemerdekaan R.I dan menjadi salah satu Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar.


OPU DAENG RISAJU
Kisah Tragis Pejuang yang Pantang Menyerah dan Paling Dicari Belanda
Penulis: Idwar Anwar
Penerbit: Pustaka Swerigading
Tahun Terbit: 2020
ISBN: 978-602-9248-58-6