Sulawesi Selatan merupakan suatu wilayah administrasi yang disebut Provinsi Sulawesi Selatan. Dahulu, pada mas awal proklamasi kemerdekaan hingga penyerahan kedaulatan (1950), daerah tersebut terdiri atas enam afdeling dan satu Kota Besar. Dari enam afdeling dan satu Kota Besar itu kemudian berkembang menjadi 23 kabupaten termasuk di dalamnya dua kota madya. Keenam afdeling tersebut masing-masing:
- Afdeling Makassar, ibu kotanya Sungguminasa
- Afdeling Pare Pare, ibu kotanya Pare Pare
- Afdeling Mandar, ibu kotanya Majene
- Afdeling Luwu, ibu kotanya Palopo
- Afdeling Bone, ibu kotanya Watampone
- Afdeling Bonthain, ibu kotanya Bonthain
Sebelum pendidikan formal ala Barat masuk ke darah Sulawesi Selatan, pewaris nilai ditransfer melalui nasihat, pesan dan pemberian contoh-contoh praktis. Sistem demikian pada waktu sekarang biasa disebut pendidikan informal. Di dalam rumah, ibulah yang memegang peran utama, berikut sang ayah. Pangngadereng (Bugis) atau pangngadakkang (Makassar) dan atau aluk to dolo (Toraja) merupakan sistem norma yang harus dipatuhi/dihormati.
Norma norma kultural yang bernilai tinggi serta sakti itu mempengaruhi alam pikiran masyarakat Sulawesi Selatan. Pemindahan nilai nilai sakral itu dilakukan oleh pinati, anre guru dan juga palontara'. Pemindahan pengetahuan seperti pertukangan lebih bersifat percontohan. Para ahli (tukang) mempekerjakan anaknya, dan atau keluarga lainnya yang terdekat untuk menyelesaikan sesuatu. Dari jenis pekerjaan sederhana, sang 'murid' dilatih, lama kelamaan meningkat pada pekerjaan yang rumit. Dengan demikian pemindahan pengetahuan terjadi.
Sejak agama Islam masuk ke Sulawesi Selatan, pindahan nilai dan atau pengetahuan keagamaan melalui nasehat sang pemimpin peribadatan, yang disebut imam. Sehabis memimpin sembahyang, ia membalikkan dirinya menghadapi pengikutnya (jemaah) dan menyampaikan pesan pesan atau pengajaran agama. Pendidikan yang dilangsungkan di dalam masjid atau tempat sembahyang lainnya dinamakan pendidikan langgar. Sistem pendidikan tersebut kemudian dikenal sebagai pendidikan formal.
Dari pendidikan langgar dengan inti mata pelajaran membaca Al Qur'an, kitab suci ummat Islam, berkembang ke pendidikan madrasah. Pada madrasah yang modern, memasukkan mata pelajaran umum bersama sama pelajaran agama guna dipelajari murid murid. Ada pula sejenis pesantren, yang hanya mengajarkan pendidikan agama Islam semata.
Pendidikan umum berkembang pula. Sistim pendidikan yang berasal dari Barat (Eropa) dimulai pada tahun 1876, ketika Benjamin Frederik Matthes mendirikan Kweekschool di Makassar. Walaupun sekolah itu diperuntukkan guna mengajar (guru), oleh masyarakat di daerah itu dinamakan sikola rajaya (sekolah raja). Lembaga pendidikan itu kemudian dikaitkan dengan OSVIA (Opleidingsschool voor Inlandsche Ambtenaren) pada tahun 1880. OSVIA mempersiapkan calon pegawai pemeritnah (pamongpraja). Menjelang Perang Dunia II meletus, OSVIA dan Kweekschool di satukan. Murid murid kedua sekolah itu duduk bersama hingga kelas dua. Kemudian dipisahkan pada kelas lanjutannya. Murid Kweekschool memutuskan pelajaran pada keguruan, sedangkan OSVIA mendalami ilmu hukum
Lembaga Pendidikan Dasar, atau Sekolah Dasar mulai didirikan pada tahun 1906, ketika Perang Pacifikasi van Heutz usai di Gowa. Sekolah tersebut bernama Inlandscheschool yang mempunyai lima tingkatan kelas. Bangsa Indonesia mulai mengenal lembaga pendidikan formal dengan adanya sekolah itu, yang juga biasa disebut sekolah Melayu. Bagi anak bangsawan dan berfungsi penting, dibukakan sekolah H.I.S. (Hollandsche Inlandscheschool) yang mempunyai tujuh tingkatan kelas.
Pada tahun 1917, dapat dikatakan bahwa di semua desa utama terdapat sekolah dasar tiga tahun, yang bernama Volksschool. Sekolah sambungan, mulai kelas IV hingga kelas V didirikan pada setiap ibu kota distrik: Vervolgschool. Di Makassar didirikan sekolah menengah umum : MULO. Pendidikan tinggi pun sudah nampak di Sulawesi Selatan setelah tahun 1965, seperti Universitas Hasanuddin, IKIP Ujung Pandang dan IAIN Alauddin .
Buku SEJARAH PENDIDIKAN DAERAH SULAWESI SELATAN membahas tentang pendidikan tradisional, pendidikan pada awal abad ke-20 hingga 1945, pendidikan sejak kemerdekaan serta peran pendidikan terhadap perubahan sosial. Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar.
SEJARAH PENDIDIKAN DAERAH SULAWESI SELATAN
Tim Penyusun: Sarita Pawiloy, Intan Densi Kamar, A. Rauf Padulungi, Rabihatun Idris
Editor: Mardanas Safwan, Sutrisno Kutoyo
Penerbit: Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah
Tempat Terbit: Ujung Pandang
Tahun Terbit: 1981