December 12, 2022

ISLAMISASI KERAJAAN GOWA

Berdasarkan penafsiran, penduduk Makassar sejak abad XVI diperkirakan sudah ada yang menerima Islam. Perkiraan itu kemungkinan terjadi melalui interaksi sosial antara para pedagang muslim dan penduduk Makassar. Interaksi itu telah berlangsung lama melalui dua tempat: Pertama, interaksi sosial berlangsung di dalam wilayah Kerajaan Gowa sejak abad XVI. Kedua, interaksi sosial dapat pula terjadi di luar Kerajaan Gowa, yaitu di daerah-daerah yang sudah lebih dahulu menerima Islam di Nusantara antara para pedagang atau pelaut Makassar dan masyarakat muslim yang mereka jumpai di perantauan. Dalam interaksi itu sudah tentu terjadi pertukaran budaya, termasuk penerimaan Islam.

Penerimaan Islam secara resmi dan dapat dibuktikan melalui sumber-sumber tertulis, seperti termuat dalam Lontara Bilang, terjadi pada tahun 1605 M, yaitu setelah Raja Gowa dan Tallo menerima Islam. Penerimaan ini disebut oleh J.P. Williams sebagai tingkat rahasia, berbeda dengan tingkat penerimaan Islam sebelumnya yang disebut privat atau pribadi. Yang dimaksud dengan tingkat rahasia adalah jika seseorang menerima ajaran agama untuk dirinya dan tidak didiskusikan dengan orang lain.

Sejalan dengan pandangan Williams, Noorduyn berpendapat bahwa islamisasi di Kerajaan Gowa melalui tiga tahap. Tahap pertama adalah kedatangan Islam, yaitu ketika pertama kali para pedagang Melayu Muslim mendatangi daerah ini pada akhir abad XV, dan lebih intensif lagi pada pertengahan abad XVI. Pada tahap ini, sebagai yang dikemukakan di atas, kemungkinan penduduk setempat telah ada yang menganut Islam, sekalipun masih sangat terbatas pada orang-orang tertentu atau menurut teori Williams, barulah pada tingkat rahasia. Tahap kedua adalah penerimaan Islam, yaitu ketika Islam diterima secara resmi oleh Raja Gowa dan Raja Tallo serta beberapa elite kerajaan. Tahap ini, disebut oleh Williams sebagai tahap denominasi, yaitu Islam sudah tidak lagi menjadi agama rahasia atau pribadi, melainkan sudah diterima oleh individu-individu lainnya dalam suatu kelompok besar masyarakat. Tahap ketiga adalah penyebaran Islam lebih lanjut, yaitu setelah Islam resmi menjadi agama kerajaan dan mulai disebarluaskan ke dalam masyarakat. Tahap ini, menurut Williams, tahap atau tingkat masyarakat, yaitu keyakinan keagamaan sudah menjadi milik masyarakat.

Terdapat kontroversi mengenai waktu penerimaan Islam kedua raja tersebut, sebab dalam beberapa lontara yang dipakai sebagai sumber primer terdapat perbedaan penanggalan. Setelah dilakukan kritik ekstern terhadap beberapa naskah, ditemukan bahwa kedua raja tersebut masuk Islam pada hari yang sama, yaitu malam Jumat, 22 September 1605 M, bertepatan dengan 9 Jumadil Awal 1014 H.

Lontara menyebutkan, terdapat tiga mubalig yang membawa agama Islam pertama ke Sulawesi Selatan, yang dikenal dengan tiga orang datuk atau datuk tallua (Makassar) atau datuk tellue (Bugis), yaitu Datuk ri Bandang, Datuk Patimang, dan Datuk ri Tiro. Mereka berasal dari Koto Tengah, Minangkabau, yang sengaja didatangkan ke Sulawesi Selatan untuk mengimbangi misi Katolik yang sudah mulai menanamkan pengaruhnya ke dalam istana Kerajaan Gowa.

Buku ISLAMISASI KERAJAAN GOWA merupakan hasil disertasi untuk menambah khazanah pengetahuan, terutama berkenaan dengan sejarah penyebaran Islam di Sulawesi Selatan. Sejarah masuknya Islam dan Islamisasi di Sulawesi Selatan merupakan hal paling fundamental dalam kajian tentang kehadiran Islam, yang kini dianut mayoritas penduduk.

Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar yang bersumber dari lembar-lembar lontara (manuskrip) dan keterangan literatur berbahasa Belanda, selain itu juga dari hasil wawancara terutama bagi peneliti untuk dijadikan bahan rujukan.


ISLAMISASI KERAJAAN GOWA
Penulis: Ahmad M. Sewang
Penerbit: Yayasan Obor Indonesia
Tempat Terbit: Jakarta
Tahun Terbit: 2005
ISBN: 979-461-530-7


No comments:

Post a Comment