September 30, 2021

SEJARAH SULAWESI SELATAN JILID 2

 

Sejarah Sulawesi Selatan menempatkan batasan temporal dari periode sejak Pemerintahan Hindia Belanda melancarkan ekspedisi militer 1905 (Zuid Celebes Expeditie 1905) hingga pembentukan Provinsi Sulawesi Selatan pada tahun 1960 itu meliputi wilayah yang pada periode kolonial Belanda disebut Provinsi Sulawesi dan Daerah Bawahannya (Gouvernement van Celebes en Onderhoorigheden). Dalam pengembangan selanjutnya wilayah provinsi ini dimekarkan menjadi dua provinsi, yaitu Provinsi Sulawesi Selatan dan Provinsi Sulawesi Tenggara.

Ekspedisi militer itu dicanangkan untuk menduduki dan menguasai secara keseluruhan wilayah kerajaan-kerajaan di Sulawesi Selatan yang disebut Pemerintahan Sulawesi Selatan dan Daerah Bawahannya (Gouvernement van Celebes en Onderhoorigheden). Periode kolonial Belanda ini ditandai dengan gerakan-gerakan perlawanan rakyat yang terus menerus. Perlawanan yang terus berlangsung itu menyebabkan daerah ini dijuluki “pulau keonaran” (de onrust eiland). Dalam kondisi yang demikian, pemerintah mencoba bergiat meredakan dengan kebijaksanaan dengan otonomi daerah, memulihkan kembali kedudukan beberapa kerajaan. Status “swapraja” (zelfbestuur landschap) yang pertama diberikan pada Kerajaan Bone pada tahun 1931 dan berikutnya adalah Kerajaan Gowa pada tahun 1938. Sementara kerajaan-kerajaan lain tetap dalam pemerintahan langsung pejabat Hindia Belanda.

Tokoh-tokoh politik Sulawesi turut mendukung proklamasi dan ikut dalam rapat pertama Panitia Persiapan Kemerdekaan (PPKI) pada tanggal 18 Agustus hingga 22 Agustus 1945. Dalam rapat tanggal 19 Agustus dicapai kesepakatan Sulawesi menjadi satu provinsi dan Dr. Ratulangi dilantik menjadi gubernur. Proklamasi dan pembentukan negara dan pemerintahannya itu tidak segera mendapat pengakuan Sekutu mengingat tokoh-tokoh nasional yang tampil memproklamasikan kemerdekaan itu, Soekarno dan Moh. Hatta adalah pihak yang berkolaborasi dengan Jepang. Akibatnya Sekutu menerima Netherlands Indie Civil Administration (NICA) menjadi bagian yang integral dari pasukan Sekutu dalam menyelesaikan tahanan perang di Indonesia.

Berdasarkan pada pengakuan kedaulatan itu, tokoh-tokoh politik dan pemuda pejuang di Sulawesi Selatan mengorganisasikan demonstrasi massal untuk menuntut dibubarkan NIT dan RIS dan kembali ke negara kesatuan Republik Indonesia. Perjuangan mereka berhasil direalisasikan. Dalam pidato kenegaraan Presiden Soekarno pada tanggal 16 Agustus 1950, ia menyatakan pembubaran RIS dan kembali ke negara kesatuan RI.

Di Sulawesi Selatan berkobar peristiwa KNIL pada tahun 1950 kemudian diikuti dengan gerakan DI/TII pimpinan Abdul Qahar Muzakkar dan gerakan Permesta. Pergolakan yang terus terjadi itu mendorong pemerintah memikirkan cara untuk mengefektifkan pelayanan dan pembangunan. Untuk itu ditetapkan strategi memilah wilayah Sulawesi yang dipandang sangat luas atas dua wilayah provinsi yaitu Provinsi Sulawesi Selatan dan Provinsi Sulawesi Tenggara pada tahun 1964.

Berdasarkan penelusuran dan pengungkapan kesejarahan itu jelas tampak bahwa rakyat Sulawesi Selatan adalah rakyat yang sangat menentang pemerintahan kolonial. Penjajahan dipandang sebagai upaya mengeksploitasi dan memudarkan hak kemerdekaan dan kedaulatan setiap orang dan bangsa. Oleh karena itu, mereka terus berjuang menghapuskan penjajahan karena bertentangan dengan peri kemanusiaan. Selain itu juga menunjukkan bahwa penduduk Sulawesi Selatan mendambakan persatuan dan kesatuan dalam kehidupan kenegaraan Indonesia.

Buku SEJARAH SULAWESI SELATAN JILID 2 membahas masa lalu Sulawesi Selatan, khususnya periode kolonial sampai kemerdekaan (1905-1960), yang masih berisi sejarah Provinsi Sulawesi Barat. Meskipun pada akhir tahun 2004 Provinsi Sulawesi Barat sudah berdiri. Buku ini merupakan koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala’salapang-Makassar.

 

SEJARAH SULAWESI SELATAN JILID 2
Tim Peneliti: Edward L. Poelinggomang, Suriadi Mappangara, Anwar Thosibo et.al
Editor: Edward L. Poelinggomang, Suriadi Mappangara
Penerbit: Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah (Balitbangda)
Tempat Terbit: Makassar
Tahun Terbit: 2005
ISBN: 979-3633-09-3

September 29, 2021

SAWERIGADING SEBAGAI PAHLAWAN BUDAYA


Tokoh yang populer dalam sure' Galigo, adalah PatotoE, Batara Guru, Batara Luwu', Sawerigading We Nyili Timo dan We Datu Senggeng, namun yang paling populer adalah Sawerigading ia generasi ketiga dalam "Penciptaan" manusia dan alam.

Naskah La Galigo dan lebih khusus naskah episode Sawerigading, ditinjau dari segi pencerminan masyarakat dan budaya masyarakat Bugis, skenario cerita memang tergambar sifat-sifat asli orang Bugis, sistem kekerabatan, sistem perkawinan, lapisan sosial dan pandangan kosmogonynya. Sistem kepercayaan yang terlukis dalam cerita, berada pada Stadia berpikir kedewaan, tanpa adanya tanda-tanda pengaruh agama-agama prophetis.

Peranan skenario cerita dari keseluruhan tokoh-tokoh naskah La Galigo, Sawerigading diangkat sebagai pusat tempat berbesarnya sebuah cerita yang menampilkan wujud kebudayaan dan isi (struktur) kebudayaan masyarakat Bugis. Karakter dan watak seorang pri, terutama di kalangan elit sosial, tergambar pada perilaku dan kepribadian Sawerigading, sebagai seorang raja muda dan duta keliling serta seorang pengembara di lautan. Ia berupaya bermitra dengan kerajaan tetangganya sebagai usaha konsolidasi yang bertujuan membesarkan kerajaan LUWU. 

Walasuji, Jurnal Kebudayaan Sulselra dan Barat, dengan terbitan khusus SAWERIGADING SEBAGAI PAHLAWAN BUDAYA berisi kumpulan tujuh artikel, kesemuanya merupakan makalah yang dibawakan pada Seminar Internasional La Galigo di Masamba. Ketujuh artikel tersebut adalah:

  1. Sebuah Tinjaun Reflektif terhadap Epos Lagaligo dan Tantangan Nilai Budaya Masa Depan, oleh: Ishak Ngeljaratan
  2. Sawerigading dan La Galigo dalam Perspektif Kontemporer, oleh: Nurdin Yatim
  3. Kedatuan Cina Menurut I Lagaligo, Lontarak dan Hasil Penelitian Oxia, oleh Prof. Andi Zainal Abidin
  4. Sawerigading sebagai Pahlawan Budaya: Simbol Maritim di Sulawesi Selatan, oleh Abu Hamid
  5. Refleksi Wanita dalam Sastra Bugis (Mitos Galigo dan Lagenda Pau-pau), oleh Muhammad Rapi Tang
  6. Sawerigading dan Masyarakat Cina - Makassar, oleh Shaifuddin Bahrum
  7. La Galigo: Milik Siapa? (Analisis atas Keterkaitannya dengan Saujana Budaya), oleh: Widya Nayati.
Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km.7 Tala'salapang-Makassar untuk menyebarluaskan hasil-hasil penelitian dalam bentuk karya ilmiah.


SAWERIGADING SEBAGAI PAHLAWAN BUDAYA
Walasuji, Jurnal Kebudayaan Sulselra dan Barat
Penerbit: Departemen Kebudayaan dan Pariwisata, Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Makassar
Tempat Terbit: Makassar
Tahun Terbit: 2008
ISSN: 1907-3038


September 27, 2021

PENGOBATAN TRADISIONAL BERBASIS LONTARA DI SULAWESI SELATAN


Dalam tubuh manusia menurut lontarak, terlukis adanya 4 (empat) macam cairan tubuh, ialah cairan darah, bolok=lendir, balakunnyi= empedu kuning dan essung= empedu hitam. Darah mempunyai hawa panas dan lebab, bolok mempunyai hawa panas dan kering, balakunnyi berhawa dingin-kering dan essung mempunyai hawa dingin lembab. Dalam lontarak, misalnya menyebutkan pengaruh substansi cairan tubuh terhadap timbulnya penyakit. Dikatakan "narekko pasauk-i assikorena balakonnyi-e poleni semmeng mapparelle-e", artinya kalau terlalu kuat pengaruh percampuran empedu-kuning, maka datanglah demam-panas yang berantara.

Dikatakan pula, bahwa perut itu adalah kolamnya tubuh. Apabila sehat yang muncul dari perut (usus), maka sehatlah pula tubuh dan sebaliknya, jika sakit muncul dari perut, maka sakit pulalah tubuh. Jika perut sakit, maka berpokoklah segala penyakit yang akan dialami.

Klasifikasi watak dan sifat manusia, sering kali bertolak dari sifat cairan tubuh dan disesuaikan dengan tingkat usia dan disesuaikan dengan tingkat usia dan kondisi tubuh. Kelebihan dan kekurangan cairan tubuh tersebut dalam tubuh akan tampak warna pada wajah, seperti kemerah-merahan, pucat, masam, murung dan tenang. Semua itu sebagai alamat kelebihan atau kekurangan cairan salah satu dan empat jenis tersebut. Usaha-usaha untuk mencapai harmonisasi dalam pengobatan, selain ramuan obat dan doa, dilakukan pula tindakan-tindakan, seperti pengaturan waktu makan dan jenis-jenis masakan, mappanyolong (minum obat pencahar perut), malluwah (tindakan muntah) dari kekenyangan, mappasuk dara (tidakan mendekam) dan lain-lain tindakan yang mengarah kepada harmonisasi.

Apabila perut dianggap sebagai kolam dan sebagai pangkal menjalarnya penyakit yang disebabkan oleh makanan dan minuman, disebabkan oleh pengaruh kualitas alam, menjadi gejolak pada cairan tubuh, maka segala gejala-gejala dis-harmonis dalam perut akan menyebabkan terjadinya penyakit. Hal ini berarti bahwa perut merupakan pangkal dari makna sakit dan tidak sehat.

Dengan demikian dapat dipahami, bahwa tindakan-tindakan pencegahan sebelum menderita sakit, adalah pertama sekali, menjaga kuantitas dan kualitas makanan dan segala yang akan terkandung dalam perut. Kedua, adalah menjaga tingkah laku dan kebiasaan yang tidak menciptakan harmonisasi menurut usia dan kondisi tubuh. Semua kebiasaan yang dilakukan yang berlebihan atau kekurangan, akan menimbulkan dis-harmonis. Ketiga, adalah memperhatikan pamali-pamali menurut adat dan kepercayaan, kemudian melakukan interpretasi berdasarkan harmonisasi.

Buku PENGOBATAN TRADISIONAL BERBASIS LONTARA DI SULAWESI SELATAN merupakan sistem medis orang Bugis yang diangkat dari lontara, yang berdasarkan prinsip harmonisasi tellu sulapa eppa, dengan sumber bahan-bahan ramuan yang digunakan dalam pengobatan juga berasal dari prinsip ini, yang didahului oleh suatu sistem pengetahuan tentang komposisi yang terkandung pada sistem bahan ramuan berdasarkan lontara Wajo dan Bone.

Klasifikasi penyakit dan ramuan penyembuhan menurut lontara Wajo

  • Ramuan obat tentang penyakit mata
  • Ramuan obat tentang penyakit hidung dan tenggorokan
  • Ramuan obat tentang penyakit gigi, gusi, lidah dan mulut
  • Ramuan obat tentang penyakit batuk, asma dan kemuntahan (muntah darah)
  • Ramuan obat tentang penyakit bengkak
  • Ramuan obat tentang penyakit luka dan selalu keluar darah
  • Ramuan obat tentang penyakit perut
  • Ramuan obat tentang penyakit berak-berak (darah)
  • Ramuan obat tentang penyakit kencing
  • Ramuan obat untuk menambah dan mengurangi syahwat
  • Ramuan obat tentang kehamilan dan persalinan
  • Ramuan obat tentang penyakit peluh
  • Ramuan obat tentang penyakit pinggang
  • Ramuan obat tentang penyakit bawasir (ambeien)
  • Ramuan obat tentang penyakit campak-gabak
  • Ramuan obat tentang penyakit kuning: muka, mata dan kuku
  • Ramuan obat tentang penyakit demam-panas

Klasifikasi penyakit dan ramuan penyembuhan menurut lontara Bone

  • Ramuan obat penyakit kepala
  • Ramuan obat penyakit mata
  • Ramuan obat penyakit hidung
  • Ramuan obat penyakit-dalam
  • Ramuan obat penyakit luar/kulit
  • Ramuan obat penyakit panas
  • Ramuan obat penyakit luka-luka
  • Ramuan obat penyakit-penyakit lainnya

Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala’salapang-Makassar yang membahas persoalan yang menyangkut kausalitas penyakit dan penyembuhan serta praktek penyembuhan menurut kepercayaannya. Berikut prinsip harmonisasi tellu sulapa dalam sistem medis orang Bugis.

Unsur dasar kejadian manusia

  • Tanah
  • Air
  • Api
  • Angin

Kwalitas alam sekitar

  • Panas
  • Dingin
  • Kering
  • Lembab

Subtansi Cairan Tubuh

  • Darah
  • Empedu kuning
  • Lendir (flegma)
  • Empedu hitam


PENGOBATAN TRADISIONAL BERBASIS LONTARA DI SULAWESI SELATAN
Penyusun: H. Abu Hamid
Penerbit: Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Sulawesi Selatan
Tempat Terbit: Makassar
Tahun Terbit: 2008

WARISAN BUDAYA SULAWESI SELATAN

 

Pada awal bulan Juli 1848 Benjamin Frederik Matthes, anak dari Drs. Hendrik Justus Matthes, pendeta besar dari Gereja Injil Luther di Amsterdam, dan Wilhelmina Elisabeth Hover, bertolak ke Hindia Belanda. Setelah berlayar selama kurang lebih 112 hari, ia tiba di Batavia. Setelah tinggal beberapa hari di Batavia, ia melanjutkan perjalanannya ke Makassar. Pada tanggal 20 Desember tahun yang sama ia tiba di Makassar. Selama berada di Sulawesi Selatan, Matthes telah memberi begitu banyak sumbangan, terutama tulisan-tulisan beliau tentang daerah Sulawesi Selatan di masa lalu. Dalam bidang budaya misalnya, dia menghimpun naskah La Galigo dengan bantuan penuh dari Collig Pujie, penulisan beberapa naskah yang mengandung nilai sejarah dan budaya merupakan warisan yang sangat berharga, setidaknya memberi gambaran potrek dimasa lalu.

Buku WARISAN BUDAYA SULAWESI SELATAN berasal dari foto-foto hasil lukisan yang dilakukan oleh dua orang Belanda yang ditugaskan khusus untuk mendukung secara visual kamus yang disusun oleh Matthes (Kamus Bahasa-Makassar-Belanda dan Bahasa Bugis-Belanda) yang diterbitkan pada abad XVII. Foto-foto yang termuat dalam bundel yang terdiri atas 20 lembar kertas besar yang berisi kurang lebih 300 lukisan, lengkap dengan nama benda yang dilukis dan untuk beberapa bagian diberi penjelasan singkat. Bundel ini diberi judul “Ethnographische Atlas” yang diterbitkan pada tahun 1885. Dalam bundel itu memuat lukisan benda-benda yang berhubungan dengan pertanian, perladangan, perikanan, alat-alat perang, kesenian, musik, rumah tangga, jenis-jenis pakaian, alat-alat yang digunakan oleh bissu dalam melakukan upacara, tips rumah bangsawan dan jenis-jenis kapal yang digunakan ketika itu di daerah Sulawesi Selatan. Alat-alat itu sebagian masih digunakan oleh masyarakat luas di pedesaan, dan juga masih tersimpan di Museum Balla Lompoa di Kabupaten Gowa dan juga pada Museum La Galigo di Kota Makassar.

Buku ini merupakan salah satu koleksi layanan deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi di jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala’salapang-Makassar, memuat 48 lukisan inventarisasi warisan budaya daerah Sulawesi Selatan, seperti:

  • Birowang: Kapal layar yang digunakan untuk jarak pendek. Kapal ini mengandalkan layar, kemudi hanya satu dan memiliki satu tiang.
  • Bilolang: Kapal layar dengan satu tiang dan digunakan sebagai alat transportasi jarak pendek
  • Pajala: Kapal layar khusus digunakan untuk menangkap ikan, memiliki pendayung dan memilik satu layar
  • Rumah Bangsawan: Memiliki 42 tiang untuk rumah induk, ada 16 tiang untuk rumahj budak. Rumah ini juga dihubungkan dengan tangga yang dikenal dengan nama walasuji.
  • Uring: Alat untuk memasak atau mengukus nasi, yang terbuat dari tanah liat.
  • Dapo: Tempat memasak menggunakan kayu bakar atau serbuk gergaji. Bahannya terbuat dari tanah liat.
  • Pamuttu: Tempat untuk menggoreng dan terbuat dari besi serta memiliki dua daun teliga.
  • Lobo: Tempat tutup makanan yang akan disajikan dan terbuat dari bambu atau rotan.
  • Baki: Talang atau baki yang terbuat dari kuningan berbentuk bundar, digunakan sebagai alat untuk mengangkat gelas atau cangkir.
  • Cerek: Terbuat dari kuningan dan digunakan untuk menyimpan air minum.
  • Timpo: Tempat air atau tuak yang akan dibuat gula merah dan terbuat dari bambu.
  • Patti Limbang: Peti pakaian yang digunakan waktu berpergian dan terbuat dari pelepah sagu, rotan, bambu dan ijuk.
  • Lamena: Pakaian perang orang Bugis-Makassar, terbuat dari tembaga atau kuningan, biasa digunakan oleh panglima perang.
  • Kalewang: Senjata jenis pedang, terbuat dari besi yang ditempa, gagangnya dan tempatnya terbuat dari besi.
  • Lengo (Lengo Labu dan Lengo Bodong): Perisai terbuat dari kayu keras dan rotan, digunakan waktu perang sebagai perisai.
  • Baju Rante: Pakaian perang orang Bugis Makassar, terbuat dari besi yang dianyam dan biasanya digunakan oleh penglima perang.
  • Sele Sapukala: Keris yang tidak memiliki lekukan dan terbuat dari besi tempa. Gagang terbuat dari kayu dengan lengkungan.
  • Sura: Keris dengan sembilang lekukandan hiasan benang pada sarung keris.
  • Lalau: Keris dengan tujuh lekukan, dibuat dari besi yang ditempa, hiasan pada leher keris yang menjorok ke dalam.
  • Kawali: Senjata khas orang Bugis-Makassar. Gagangnya terbuat dari kayu agak melengkung dan sarungnya terbuat dari kayu.
  • Talakko: Pakaian sembahyang wanita. Terbuat dari kain. Bagian atasnya diberi lubang untuk kepala, dan bagian kepala ditutup dengan menggunakan Cipo-cipo.
  • Ganrang: Gendang terbuat darin kayu, bagian kepala ditutup dengan kulit kerbau atau kambing. Untuk menghasilkan bunyi dipukul boleh dengan tangan atau pemukulnya. Pemukul gendang terbuat dari kayu yang ujungnya dibalut dengan kain.

 

WARISAN BUDAYA SULAWESI SELATAN
Penyusun: Suriadi Mappangara Nuraeda
Penerbit: Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Sulawesi Selatan

September 23, 2021

SASTRA LISAN MASSENREMPULU

 


Sastra lisan Massenrempulu adalah sastra yang lahir dan hidup di tengah-tengah masyarakat Massenrempulu, diwariskan turun-temurun dari mulut ke mulut dengan menggunakan tiga macam dialek, yaitu

  1.  Dialek Enrekang
  2. Dialek Duri dan
  3. Dialek Maiwa

Perbedaan ketiga dialek tersebut tampak pada penggunaan beberpa kata dan pengucapan fonem-fonem tertentu. Oleh karena perbedaan kosakata cukup banyak, maka masing-masing pemakai dialek kadang-kadang terganggu dalam hubungan pengertian ketiga dialek bahasa tersebut.

Cerita yang berhasil dikumpulkan diklasifikasi dalam beberapa jenis, yaitu mite, legenda, sage, fabel, cerita humor dan cerita dramatis. Berikut sastra lisan Massenrempulu yang berasal dari tiga macam dialek yaitu: 

  • Cerita Rakyat Daerah Enrekang 
  1. Kakaq Sammaraq
  2. Ariq Angin
  3. Janji
  4. Anangq Datu
  5. Bunnawasaq na Datu
  6. Asunna Bunnawasaq
  7. Anangq Pangaji
  8. Lera
  9. Onde-onden Kaccangq
  10. I Pagale
  11. Pulandoq na Buaja
  12. Sari Dukung
  • Cerita Rakyat Daerah Duri
  1. Bunga Mendoe
  2. Puang Buttu Marajo
  3. Londong di Rura sole Saqpang Digaletto
  4. Tattadu
  5. Pea Macca
  6. Tamasseung
  7. Caredukun
  8. Cadoqdong
  9. Indan Dibajaq Kada
  10. Tedong Simpo
  • Cerita Rakyat Daerah Maiwa
  1. Tomalando Badinna
  2.  La Geppo
  3. Laceppaga di Lembuang
  4. Buqtuq I Tallang
  5. Loqkoq Puq Salloq
  6. Tobaraninna Maiwang
  7. Toassa
  8. Passalang Ikkoq Bale

Buku SASTRA LISAN MASSENREMPULU untuk menginventarisasi sastra lisan Masserempulu, khususnya yang berbentuk cerita rakyat dalam bentuk mite, legenda, sage, fabel, cerita humor dan cerita dramatis. Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala’salapang-Makassar.

 

SASTRA LISAN MASSENREMPULU
Penyusun: Muhammad Sikki, Abdul Rasjid Nusu, J.S. Sande, Zainuddin Hakim, Mahmud
Penerbit: Balai Penelitian Bahasa
Tempat Terbit: Ujung Pandang
Tahun Terbit: 1986

September 22, 2021

MASSENREMPULU MENURUT CATATAN D.F. VAN BRAAM MORRIS


Federasi Massenrempulu atau Massere-Bulu terdiri atas 5 kerajaan yang masing-masing berdiri sendiri (onafhankelyk) yaitu: Maiwa, Enrekang, Duri, Kassa dan Batulappa. Duri adalah juga Federasi, terdiri dari kerjaan: Malua, Allaq dan Buntu Batu. Federasi ini populer juga disebut Tallu Batu Papan.

Dahulu Letta sebagai suatu kerajaan juga masuk dalam Federasi Massenrempulu. Akan tetapi dalam tahun 1685 Letta ditaklukkan oleh Bone yang disaat itu berada dibawah raja sangat besar kekuasaannya bernama Aru Palakka Petta Malampe'E Gemme'na. Letta ketika itu bertindak gegabah dan kurang perhitungan membunuh utusan dari Bone. Tindakan ini ditanggapi Bone sebagai suatu penghinaan yang harus diberi ganjaran. Demikianlah maka bersama dengan Wajo, Soppeng dan Sidenreng mengangkat senjata memerangi Letta. Namun tidak saja hanya letta sendiri yang dihancurkan, tetapi kerajaan yang ada dipinggirnya terseret pula diturut sertakan dalam status lili (vasal staat) dari Kerajaan Sawitto. Sedangkan orang-orang yang ditawan dinyatakan sebagai hamba dan dibagi kepada empat raja yang bersangkutan.

Pada kesempatan ini Maiwa yang tadinya menjadi lili dari Sidenreng, oleh keempat raja tersebut ditingkatkan kedudukannya menjadi kerajaan yang berdaulat kemudian dimasukkan kedalam Federasi Massenrempulu, mengisi kedudukan Letta yang telah ditaklukakannya itu. Sedangkan Bilokka, CerowaliE, Awanio dan WettaE yang tadinya berada dibawah kekuasaan dari Soppeng, dimasukkan menjadi lili (vasal staat) dari Kerajaan Sidenreng.

Mengenai sejarah tertua dari Kerajaan Massenrempulu tidaklah diketahui dengan pasti. Tetapi besar kemungkinan kerajaan-kerajaan (yang tergantung dalam Massenrempulu) dan Tana Toraja pernah dibawah kekuasaan Luwu bersama-sama sampai karena persekutuan kerajaan-kerajaan itu dan pula karena kemunduran kecemerlangan dari Kerajaan Luwu mereka mendapat kesempatan memerdekakan dirinya menjadi kerajaan-kerajaan yang merdeka dan berdaulat penuh dan meningkatkan dirinya membentuk perserikatan (federasi) yang mereka namai MASSENREMPULU atau dengan bahasa Bugis Ma'sinri-mpulu yang berarti daerah berdekatan dengan gunung. Adapun daerah Tana Toraja tetap menjadi daerah takluknya Kerajaan Luwu sampai pada tahun 1947 sejalan dengan pembentukan Hadat Tinggi oleh pemerintah N.I.T oleh Gubernemen Celebes dan daerah takluknya dimana seluruh rechtstreekbesturende gebieden (daerah-daerah pemerintahan langsung termasuk Tana Toraja ditingkatkan kedudukannya setaraf dengan swapraja asli, disebut juga Neo Swapraja.

Pada tahun 1686, karena kelicikan Aru Palakka Petta Malampe'E Gemme'na Massenrempulu berada dibawah supermasi Bone sampai pada kekuasaan pemerintahan La Patau, pengganti Aru Palakka Malampe'E Gemme'na.

Pada tahun 1724-1749 kembali Massenrempulu berada dibawah supermasi Luwu, saat pemerintahan putera La Patau Batari Toja yang sejak tahun 1715 memegang pemerintahan di Kerajaan Luwu.

Pada tanggal 26 Agustus 1660 Aru Letta dengan kemauan sendiri datang di Makassar dengan tujuan hendak mengadakan ikatan persahabatan dengan kompeni Hindia Timur maupun dengan Pemerintah Hindia Belanda tidak pernah lagi mengadakan ikatan kesepakatan dengan salah satu kerajaan dari Massenrempulu.

Pada tanggal 27 April 1671, Aru Enrekang datang juga diterima masuk menjadi anggota perserikatan Celebes. Sesudah itu baik dengan kompeni Hindia Timur maupun dengan Pemerintah Hindia Belanda tidak pernah lagi mengadakan ikatan kesepakatan dengan salah satu kerajaan dari Massenrempulu.

Pada tahun 1824 muncul didepan Gubernur General Van der Capellen di Makassar 5 orang utusan dari raja-raja Massenrempulu dengan maksud untuk mengadakan pembaharuan mengenai perjanjian Bungaiya. Akana tetapi mereka ini ditolak karena menginginkan kehadiran dari raja-raja sendiri.

Pada tahun tahun 1824 Federasi Duri ditaklukkan oleh Raja Sidenreng La Pangorisan. Dalam kunjungan singkatnya ke Makassar bulan November tahun itu juga, ia mengadakan pembaharuan mengenai perjanjian Bungaya. Akan tetapi mereka ini ditolak karena menginginkan kehadiran dari raja-raja sendiri.

Dengan keputusan tanggal 26 Desember 1825 No. 7 Gubernur Makassar dikuasakan memasukkan raja-raja dari Massenrempulu kedalam kontrak, kekuasaan mana sebegitu jauh tidak pernah terlaksana.

Pada tahun 1866 Federasi Duri ditaklukkan oleh Raja Sidenreng La Pangorisan. Dalam kunjungan singkatnya ke Makassar bulan Nopember tahun itu juga, ia mengadakan kunjungan tidak resmi kepada Gubernur Bakkers dan meminta agar Kerajaan Federasi Duri yang ditaklukkan itu mulai saat itu dapat menjadi bahagian dari Sidenreng.

Sejalan dengan permintaan itu, dengan surat tanggal 3 Desember 1866 No. 621 disarankan kepada pemerintah. Akan tetapi dengan surat kabinet tanggal 13 Juli 1867 disarankan kepada pemerintah. Akan tetapi dengan surat kabinet tanggal 13 Juli 1867 No. 108 diberikan pertimbangan bahwa akan lebih baik apabila persoalan tersebut didiamkan saja sebagaimana yang terjadi, karena Raja Sidenreng tidak pernah lagi muncul untuk menyelesaikannya.

Raja-raja dari Masserempulu yang dekat hubungan darahnya dengan Sidenreng, mengakui supermasinya. Keadaan mana sangat menguntungkan pemerintahan Belanda karena empat diantara mereka bersedia mengadakan ikatan kontrak.

Dengan Enrekang kontrak sedemikian itu belum ada, karena raja perempuan yang memegang tampuk pimpinan mengalami gangguan ingatan/gila sehingga disana mengalami kepakuman pimpinan yang tidak nyata. Terakhir masing-masing kerajaan anggota Federasi Masserempulu mengikat kontral perjanjian dengan Pemerintah Hindia Belanda. 

Buku MASSENREMPULU MENURUT CATATAN D.F. VAN BRAAM MORRIS merupakan koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar sebagai salah satu sumber data untuk mengungkapkan sejarah dan latar belakang budaya suatu bangsa adalah arsip-arsip tertulis peninggalan masa lalu. D F. Van Braam Morris Gubernur Selebes pada masa pemerintahan kolonial Belanda di Indonesia telah membuat catatan perjanjian dengan raja-raja yang ada di Sulawesi pada waktu itu. Dalam catatan tersebujt terdapat lukisan etnografis tentang keadaan masyarakat Massenrengpulu yang sangat berharga sebagai bahan informasi untuk mengungkapkan latar belakang sejarah dan budaya masyarakat Massenrempulu. Arsip-arsip tersebut seperti:

  • Nota penjelasan atas kontrak yang dilakukan dengan Kerajaan Maiwa
  • Nota penjelasan tentang kontrak yang dilakukan bersama dengan Kerajaan Batu Lappa
  • Nota penjelasan tentang kontrak yang diadakan dengan Kerajaan Kassa
  • Nota penjelasan atas kontrak yang diadakan dengan Kerajaan Duri (Massenrempulu)
  • Nota penjelasan mengenai Kerajaan Allaq termasuk wilayah Federasi Duri
  • Nota penjelasan tentang Kerajaan Malua termasuk bilangan Federasi Duri
  • Nota penjelasan tentang Federasi Duri atau Tallu Batu Papan.

MASSENREMPULU MENURUT CATATAN D.F. VAN BRAAM MORRIS
Penerjemah: H.A.M. Mappasanda
Editor: M. Yunus Hafid
Penerbit: Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional
Tempat Terbit: Ujung Pandang
Tahun Terbit: 1991



September 21, 2021

AL-QUR'AN DAN TERJEMAHNYA DALAM BAHASA MANDAR

Menurut data UNESCO, setiap tahun ada 10 bahasa di dunia yang punah. Pada abad ke 21 ini, diperkirakan laju kepunahan bahasa akan lebih cepat lagi, hanya tinggal 600-300 bahasa saja yang masih dapat bertahan menjelang abad ke 21 ini. Indonesia tercatat sebagai negara kedua yang memiliki bahasa ibu terbanyak di dunia dan tersebar di seluruh pelosok nusantara. Secara total bahasa ibu di Indonesia mencapai 706 bahasa, termasuk di dalamnya bahasa Mandar.

Mandar adalah bahasa sekaligus etnis yang mendiami pulau Sulawesi Bagian Barat. Masyarakatnya dikenal sebagai penganut agama Islam yang taat. Adanya terjemahan Al Qur'an dalam bahasa daerah Mandar (Al Qur'an-Mandar-Indonesia) ini, menunjukkan eksistensi budaya Mandar. dapat dibagi Bahasa daerah Mandar secara garis besar dapat dibagi atas tiga, yaitu dialek Balanipa, dialek Mamuju dan dialek Ulu Salu. Adapun yang dipakai dalam penerjemahan ini adalah dialek Balanipa, dengan alasan bahwa ke-14 kerajaan pada zaman dahulu Kerajaan Balanipa-lah yang menjadi ketua, dan dialek Balanipa lebih banyak diketahui oleh mayoritas rakyat Mandar dibanding kedua dialek besar lainnya. seperti pada Juz Pertama (Bareang Pammulang) Surat Al Fatihah: Pambuai yang terjemahannya dalam bahasa Indonesia dan Mandar.

  1. Sawa' sangana Puang Allah Taala, (Puang Iya) Masarro Masayang na Makkesayang = Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang
  2. Inggannana pappuyi di Puang Allah Taala nasangi, Puang inggannana alang = Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam
  3. (Puang Iya) Masarro Masayang na Makkesayang = Maha Pemurah lagi Maha Penyayang
  4. (Puang Iya) Makkuasai allo di boe' = Yang menguasai hari pembalasan
  5. Sangga' I'omo tu'u (Puang) disomba, anna sangga' I'o tomo tu'u (Puang) diperau tulungngi = Tunjukilah kami jalan yang lurus.
  6. Pipanuju'io (pipatiroio) mai di iyami' tangalalang iya maroro (malampu) = Tunjukilah kami jalan yang lurus.
  7. (iyamo) tangalalanna tau iya pura Muwei pappenyamang; tania (tangalalanna) tau iya Mucai'i (Mucalla) anna tania to'o (tangalalanna) tau iya pusa = (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan ni'mat kepada mereka, bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.
Adapun huruf yang dipakai dalam penulisan penerjemahan Al Qur'an-Mandar-Indonesia adalah untuk Bahasa Al Qur'an tetap memakai huruf Hijaiyah, untuk penerjemah bahasa Indonesia tetap mengacu pada terjemahan Departemen Agama RI dan untuk terjemahan bahasa Mandar memakai huruf latin (bukan lontara) dengan alasan, Mandar tidak memiliki aksara tersendiri. Adapun orang-orang tua yang mengetahui huruf lontara sudah sangat sedikit sedangkan maksud dari penerjemahan ini adalah bagaimana mensosialisasikan Al Qur'an dan bahasa daerah Mandar itu sendiri. Sedangkan ejaan yang dipakai diusahakan menurut ejaan bahasa Indonesia yang telah disempurnakan, seperti penulisan huruf kapital, tanda baca dan lain-lain.

AL-QUR'AN DAN TERJEMAHNYA DALAM BAHASA MANDAR menjadi salah satu koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar untuk menjadi motivasi bagi masyarakat Mandar pada khususnya dan bagi umat Islam pada umumnya untuk mengamalkan isi Al-Qur'an sebagai sumber utama dan pertama ajaran Islam


AL-QUR'AN DAN TERJEMAHNYA DALAM BAHASA MANDAR 
Penerjemah: Muh. Idham Khalid Bodi
Penerbit: Program Pascasarjana IAIN Alauddin Makassar Kerjasama Yayasan MENARA Ilmu
Tempat Terbit: Makassar
ISBN: 9799714109
Tahun Terbit 2005

PAPPASANG DAN KALINDAQ DAQ (Naskah Lontar Mandar)

Naskah lontar Mandar masih dapat ditemukan di wilayah bekas “afdeling Mandar”, yang sekarang meliputi Kabupaten Majene, Kabupaten Polewali-Mamasa dan Kabupaten Mamuju. Tetapi menemukannya tidaklah mudah. Disamping terbatasnya naskah lontara itu sendiri, juga faktor berartnya hati para pemelik/pewaris lontar untuk menyerahkan atau meminjamkan kepada pihak lain. Dengan melalui berbagai cara dan usaha akhirnya ditemukan dua jenis aspek lontar Mandar dalam buku ini, yaitu pappasang dan kalindaqdag.

Pappasang yang berarti ‘pesan, petuah’ dari leluhur secara berkesinambungan turun temurun diwariskan kepada anak cucunya mengandung nilai-nilai kehidupan yang tinggi, baik menyangkut kehidupan dunia ini, maupun kehidupan akhirat. Berbagai aspek kehidupan dunia diberikan tuntunan, misalnya hubungan antar sesama manusia dalam tata krama kekeluargaan, perkawinan, pertanian, pelayaran dan upaya keselamatan hidup di dalam maupun di rantau. Begitu juga haknya mengenai kehidupan di akhirat nanti, terdapat pappasang dalam bentuk peringatan dan arahan pengetahuan berdasarkan nafas keagamaan.

Pesan dan amanat mengenai betapa pentingnya ketaatan dan kepatuhan terhadap adat dan hukum yang telah ditetapkan bersama. Pelanggaran terhadap ketentuan-ketentuan itu akan berakibat merusak dan mendatangkan malapetaka bagi negeri dan pribadi bagi yang melanggar. Hal ini perlu dipertahankan dalam memupuk semangat dan disiplin hidup dan membangun di dalam negara Pancasila, Republik Indonesia. Berikut beberapa contoh pappasang:

Maraqdia rapang ponnana aju, na naengei mettullung paqbanua. “Penguasa (pemerintah) adalah pohon kayu, tempat rakyat banyak berlindung”.

Annai ia tongan sabaq pole di saqbi wali-wali, tutu wali-wali sipaqna. “Tegakkanlah kebenaran dan keadilan untuk semua pihak dengan berpegang pada adat dan aturan yang telah ditetapkan bersama”.

Padioloi asayangngi talloq maiqdi anna talloq mesa. “Dahulukan kepentingan rakyat banyak, daripada kepentingan perorangan atau golongan”.

Moaq diang mambeio apa-apa, nabeio mesa da mualai laqbi, na beio sallameq, sallameq tomo, da mualai sandappa. “Apabila seseorang memberikan sesuatu kepadamu, misalnya kepadamu diberikan satu, jangan mengambil lebih dari satu, kamu diberikan sejengkal, sejengkal pulalah, jangan ambil sedepa”.

Padiangi, pakaiyangi siriqmu. “Tegakkan dan tingkatkan harga diri, semangat membangun”.

Pesan dan amanat yang demikian pun ditemukan dalam kalindaqdaq. Buku PAPPASANG DAN KALINDAQ DAQ merupakan hasil penelitian dan pengkajian naskah Lontar Mandar berupa deskripsi pappasang (petuah, pesan leluhur) dan kalindaqdaq (puisi dan pantun Mandar, melalui transkripsi dan terjemahan. Isinya mencakup nasehat orang-orang tua dahulu terhadap anak cucunya untuk mencapai keselamatan dan kebahagiaan hidup di dunia dan diakhirat. Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala’salapang.


PAPPASANG DAN KALINDAQ DAQ (Naskah Lontar Mandar)
Peneliti: Abdul Muthalib, Husni Djamaluddin, A. Syaiful Sinrang, Suradi Yasil
Editor: A. Muis Ba’dulu
Penerbit: Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Sulawesi Selatan Lagaligo
Tempat Terbit: Ujung Pandang
Tahun Terbit: 1986

September 20, 2021

ASAL USUL NAMA, BAHASA DAN KARAKTERISTIK SUKU SELAYAR, EKS KERAJAAN BUKI


Nama pulau, selat, bahasa dan suku Selayar berasal dari kata SALAH LAYAR, lalu berubah menjadi SALAYAR yang kemudian menjadi SELAYAR. Kata SALAH LAYAR (nyasar atau salah rute perjalanan) pertama kali dicapkan oleh nakhoda Putra Raja Melayu, dalam perjalanannya ke arah timur setelah meninggalkan kampung halamannya di Riau, karena diasingkan oleh orang tuanya yakni sekitar akhir abad ke-15, atau sekitar awal abad ke-16.

Hal ini diperkuat dengan adanya keterangan dari Ibu Siti Halimah bahwa beliau pernah diceritakan oleh ayahnya ketika masih kecil, tentang adanya salah seorang putra Raja Melayu yang diasingkan oleh ayahnya, karena suka membuat keributan, melanggar adat, sulit diatur dan pemberani. Beliau yakin bahwa keterangan tersebut masih bisa diperoleh disalah satu perpustakaan bekas Kerajaan Melayu di Deli Serdang, Sumama Utara, Kampar, Siak atau di pulau Serampang (istana Raja Ali Haji) dekat pulau Batam. Beliau adalah salah seorang keturunan Kerajaan Melayu Deli Serdang.

Kerajaan Buki' didirikan oleh Putra Raja Melayu, Suku dan Bahasa Selayar

Kerajaan Buki’ yang berasal dari kata BUKIT (bahasa Melayu) didirikan oleh Putra Raja Melayu sekitar akhir abad ke-15 atau sekitar awal abad ke-16, karena Patta Buki’ Daeng Sitaba dilantik menjadi Lalaki Pertama sekitar Tahun 1557. Sedangkan kakeknya (keturunan terakhir putra Raja Melayu) yang memerintah Kerajaan Buki’ ketika itu tidak mempunyai anak laki-laki, anaknya hanya satu yakni Bissu Kati, ibunya Patta Buki’. Jadi kalau beliau memerintah selama 50 tahun, maka berarti beliau memerintah sekitar Tahun 1507. Dan seandainya ada lagi keturunan putra Raja Melayu yang memerintah sebelumnya maka sudah dapat diperkirakan bahwa Kerajaan Buki’ berdiri pada pertengahan atau akhir abad ke-15.

Adapun bukti-bukti tentang adanya Kerajaan Buki’ yang didirikan oleh putra Raja Melayu adalah sebagai berikut:

  1. Nama Kerajaan Buki’ berasal dari kata BUKIT (bahasa Melayu=Indonesia) yang diberikan oleh putra Raja Melayu, ketika beliaun berkata pada nakhodanya "arahkan perahu kita ke-BUKIT itu’ sebelum mereka berlabuh di Sahangia, sebelah selatan dari Kampung Baruia Buki’ sekarang".
  2. Nama wilayah Tanah (Sela) Melayu (Melayu) dan kampung Kohala (dari kata Kuala) adalah merupakan ciri khas nama tempat suku (bangsa) Melayu, bandingkan Kohala (Kuala) Buki’ dengan Kuala Lumpur ibukota Kerajaan Melayu (Malaysia), Kuala Kapuas di Kalimantan Barat’, Kuala Tungkal di Jambi dan lain-lain.
  3. Ada 115 nama tempat, berupa nama selat, lokasi, kampung dan nama sungai, yakni dari utara Selat Selayar (Sa’la Silajara) sampai pulo Kalao Toa (pulau Kulau Tua) diselatan yang merupakan penetapan wilayah Kerajaan Buki’ secara geografi. Hal ini membuktikan bahwa suku Selayar sangat kuat darah Melayunya disamping tentunya darah Makassar, sesuai dengan salah satu inti pelajaran ilmu sosial mengatakan bahwa bilamana disuatu daerah terdapat nama tempat dari bahasa luar, maka sudah dapat dipastikan bahwa pemilik bahasa luar tersebut telah lama mendiami tempat tersebut, bahkan kemungkinan pernah menguasainya.
Bukti-bukti yang menunjukkan bahwa Kerajaan Buki’ dibawah pemerintahan keturunan putra Raja Gowa sebagai berikut:

  1. Gelar kebangsawanan yang digunakan oleh bangsawan suku Selayar menggunakan DAENG dan KARAENG berasal dari Kerajaan Gowa.
  2. Penguasa wilayah setingkat dibawah Lalakia ri Buku’ ataupun Sombayya ri Gowa disebut Ponggaha (Punggawa) dan Gallarang (Gelarang) sebagimana kita ketahui kedua gelar jabatan tersebut juga berasal dari Kerajaan Gowa.
  3. Ada lima nama lokasi dan kampung yang sama terdapat di Kerajaan Buki’ dan Kerajaan Gowa yakni Tinggi Mae, Lakiung Sela, Bangkala dan Bontonumpa’ (dari kata Bontonompo).
  4. Buku “Panduan Pemandu Wisata” karangan Andi Baso Amir yang diterbitkan oleh Dinas Parawisata Daerah Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 1967 memuat antara lain “TUJUH KENDI EMAS DI GUA BUKI’ SELAYAR”. Hal ini diperkuat dengan keterangan dalam lontara, bahwa ketika Lalaki Keempat meletakkan jabatan, sisa kendi emas, gong besar (nekara) dan barang berharga lainnya (hasil kemenangan Lalaki-Pertama dari Kerajaan Gowa) ditanam, karena barang-barang berharga tersebut hanya bisa digunakan oleh Lalaki ri Buki’ dalam menjalankan roda pemerintahannya.
  5. Barang antik (saladong) yang ditemukan oleh penggali disekitar Sapo Lohe, mencapai harga tertinggi dalam transaksi barang antik di Selayar. Kemungkinan barang antik tersebut ditanam oleh pengiring Patta Buki’ (Lalaki Pertama) yang merupakan hadiah pribadinya dari beliau atas jasa-jasanya mengawal ke Kerajaan Gowa, dimana ketika itu Patta Buki’ meraih kemenangan spektakuler.
  6. Buku bacaan murid Sekolah Dasar (SD) yang berjudul “KISAH RAJA BISU DARI BUKIT SELAYAR” terbitan tahun 1991. Raja Bisu adalah Jaegunggu Daeng Masiga (Lalaki Keempat=Terakhir) sepupunya Sultan Hasanuddin yang telah mengetahui bahwa Sultan Hasanuddin telah menandatangani Perjanjian Bongayya. Beliau tidak pernah mau bicara lagi hingga meninggal dunia dan sepeninggalan beliau masyarakat Buki’ memanggilnya ’Karaeng Tupepea’ ‘Opu Tupepea’ atau ‘Opu Gelemmoni’.
  7. Ribuan kosa kata bahasa Selayar berasal dari bahasa Makassar (Bahasa resmi Kerajaan Gowa), bahkan para pakar bahasa telah mengelompokkan bahasa Selayar kedalam kelompok Bahasa Makassar.

Buku ASAL USUL NAMA, BAHASA DAN KARAKTERISTIK SUKU SELAYAR, EKS KERAJAAN BUKI (DARI ERA MELAYU KE GOWA) membahas tentang asal usul nama, karakteristik dan bahasa suku Selayar, berdirinya Kerajaan Buki’ yang didirikan oleh putra Raja Melayu (Riau) sekitar permulaan abad ke-16 dan berakhir sekitar Tahun 1558. Kemudian dilanjutkan dengan era pemerintahan Lalaki yakni keturunannya Sombayya ri Gowa dan berakhir pada tahun 1667, yakni dampak dari perjanjian Bongayya, karena sejak saat itu seluruh daratan Selayar dan pulau-pulaunya telah jatuh ketangan Belanda. Selanjutnya Kerajaan Buki’ oleh pemerintahan Kolonial Belanda dipecah menjadi beberapa ka-OPU-an, sedangkan penguasa wilayah disebut Ofu atau Opu dalam dialek Selayar. 

Buku ini dilengkapi dengan Silsilah Raja Buki’ serta Kamus bahasa Bahasa Indonesia (Melayu)-Selayar dan Kamus Bahasa Makassar dan menjadi salah satu koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala’salapang-Makassar.

 

ASAL USUL NAMA, BAHASA DAN KARAKTERISTIK SUKU SELAYAR,EKS KERAJAAN BUKI (DARI ERA MELAYU KE GOWA)(DARI ERA MELAYU KE GOWA)
Penulis: H. Aminuddin Rahim
Penerbit: Yayasan Sela Buki Jaya Tamalanrea
Tempat Terbit: Makassar
Tahun Terbit: 2005


September 17, 2021

BIOGRAFI KAJAO LALIDDO DI BONE

Putra Matowa Cina dari Kampung Laliddo, dikenal dengan nama kecilnya La Mellong, diperkirakan lahir pada tahun 1507 dan meninggal dunia dalam tahun 1586, beliau lahir pada masa pemerintahan Raja Bone yang ke I bernama We Benrigau MekkaleppiE (1470-1510). Masa kecilnya dialaminya dalam pemerintahan raja Bone ke 5 La Tenrisukki Mappajungnge (1510-1535), kemudian masa remajanya dan masa dewasanya dialaminya dala pemerintahan La Ulio BoteE (1535-1560) Raja Bone ke 6 dan raja Bone ke 7 La Tenrirawe Bongkangnge (1560-1578). Pada masa pemerintahan Raja Bone ke 8 La Ioon MatinroE ri Addenenna (1578-1589) beliau meninggal dunia.

Sayang sekali kuburan beliau tidak pernah disebut-sebut dan tidak pula diketahui tempatnya. Beberapa pendapat yang mengatakan, bahwa kuburan beliau berada dalam Kampung Laliddon sendiri. Sebagian mengatakan, bahwa kuburannya berada di Desa Cina, Kecamatan Ulaweng. Mungkin sekali kuburan beliau ini sengaja dikaburkan, agar supaya tidak akan menjadi tempat pemujaan yang dilarang oleh ajaran Islam yang datang tidak lama setelah beliau wafat.

Kajao Laliddon memberi pesan kepada setiap orang bahwa senantiasa memelihara sikap dan perbuatan sebagai manusia yang memilihara sikap dan perbuatan sebagai manusia yang memiliki pembawaaan hati yang baik oleh karena dari hati yang baik itulah terbit kejujuran, perkataan yang selalu benar, kepandaian dan keberanian. Niat yang baik menimbulkan perbuatan-perbuatan yang baik, maka situasi masyarakat akan penuh kesentosaan, keamanan dan ketertiban, terletak dari kemampuan seseorang melakukan segala kebajikan sebagai kebiasaannya. 

Membiasakan diri berbuat jujur akan mengundang semua hal-hal yang baik lainnya dan mengantarkan otang kepada martabat yang tinggi. Membiasakan diri berbuat baik dan jujur adalah perbuatan yang memang sukar, akan tetapi bilamana sudah menjadi terbiasa dilakukan akan menjadi mudah. Kebiasaan berbuat kebajikan, maka terhindarlah orang dari kemungkinan dicela ole Ade', diketawai oleh Wari' , dicibir oleh Rappang dan dimalukan oleh Bicara

Diingatkan oleh Kajao Laliddo, bahwa bukanlah semata-mata sikap yang baik bagi seseorang hanya bersandar pada kepintaran, kejujuran dan keberanian, melainkan pula menyandarkan diri pada Tuhan, itulah orang yang baik dan itulah pula sikap yang sempurna. 

Ajaran-ajaran Kajao Laliddo terhadap pembentukan sikap batin dan tingkah laku bagi seorang raja dan semua rakyat, mengantarkan namanya sebagai cendekiawan sekaligus sebagai pujangga yang membentuk budaya rakyat dan tradisi budaya masyarakat Bugis umumnya dan masyarakat Bone khususnya. 

Kepintarannya membuat rumusan adat-istiadat atau dibidang hukum dari Puang ri Maggalatung, Arung Matowa Wajo (1498-1528) yang lebih tua dan termasyhur keberaniannya, bijaksana, pintar dan adil itu, namun rumusan ajaran Kakao Laliddo tentang hukum dan negara lebih jelas dan meliputi segala aspek-aspek kehidupan sebagai individu, masyarakat dan negara.

Ajaran Kajao Laliddo tentang hukum itu terdiri atas empat komponen, yaitu Ade' , biacara, rapang dan Wari'. Keempat komponen itu disebut Pangngaderang. Di dalamnya mencakup norma-norma dan aturan-aturan bagi raja, pejabat adat dan rakyat. Diajarkan pula tentang cara-cara melaksanakan suatu tugas, bahwa pelaksanaan tugas itu dimulai dengan kepintaran dalam hal-hal merencanakan pekerjaan, kemudian dalam melaksanakan tugas itu berupa perbuatan dan tindakan haruslah dengan kejujuran. Dengan kata lain, memulai pekerjaan dengan kepintaran disertai kejujuran, sedang dalam perbuatan atau tindakan harus dengan kejujuran disertai kepintaran. Kejujuran dan kepintaran harus dibuktikan dengan perbuatan. Setiap perbuatan harus mengandung kejujuran dan kepintaran. Dari sinilah berasal kata "Mangkau" sebagai julukan kekuasaan Raja Bone yang sering pula disebut "Petta MangkauE".

Buku BIOGRAFI KAJAO LALIDDO DI BONE (Cendekiawan Hukum dan Pemerintahan) tentang seorang cendekiawan dan ahli pemerintahan yang banyak disebut namanya, buah pikirannya serta ucapan-ucapannya dalam berbagai pergaulan masyarak at khususnya di daerah Sulawesi selatan. Demikian namanya terpatri dalam hati sanubari yang pantas dikenan, oleh karena telah meletakkan dasar-dasar dan rumusan hukum dan negara, sampai sekarang memberi pengaruh terhadap sikap-sikap orang Bugis.


BIOGRAFI KAJAO LALIDDO DI BONE
(Cendekiawan Hukum dan Pemerintahan)
Penulis: Wiwiek P Yoesoef 
Penerbit: Balai Kajian dan Nilai Tradisional
Tempat terbit: Ujung Pandang
Tahun Terbit: 1982




September 16, 2021

UPACARA PERNIKAHAN MASYARAKAT BUGIS


Masyarakat Bugis memandang bahwa seorang yang sudah matang untuk menikah, sedangkan ia belum melakukannya, dianggap belum sempurna sebagai manusia. Orang yang demikian diistilahkan depa nakkalepu seddi tahu. Artinya, orang itu belum utuh sebagai manusia. Oleh karena itu, orang yang demikian perlu menyempurnakan hidupnya (makkalepu) dengan cara menikah.

Buku UPACARA PERNIKAHAN MASYARAKAT BUGIS membahas tentang peralatan upacara delam pernikahan seperti uang belanja, alat bunyi-bunyian (genderang, kancing dan gong dan pui-pui), lisek kawin/lisek sompa (kunyit, buah pala, reppak pammutu, aju cenning dan kemiri), sokko bersama palopo, buah-buahan (pisang, tebu, durian, kelapa, nangka dan nenas), tombak (bessi), payung, walasoji serta sebagainya.

Dalam usaha menetapkan hak-hak yang bertalian dengan pernikahan, ditempuh beberapa tahap: acara mappetu ada serta upacara mappasiarekeng dan mappaenre balanca.

Acara Mappetu Ada

Walaupun pihak perempuan sudah bersedia menerima lamaran pihak laki-laki, pihak perempuan masih perlu memusyawarahkan maksud kedatangan to madduta. Orang tua perempuan berusaha menemui keluarga terdekatnya untuk memberitahukan hal tersebut. Setelah mereka sepakat untuk menerima baik lamaran pihak laki-laki, ditetapkanlah hari pelaksanaan mappettu ada.

Dalam upacara mappetu ada (memutuskan kata sepakat), dibicarakan dan diputuskan segala sesuatu yang bertalian dengan upacara pernikahan, yang antara lain meliputi hal-hal berikut:

1.      Tanra Esso (penentuan hari)

Penentuan acara puncak atau pesta hari pernikahan sangat perlu mempertimbangkan beberapa faktor seperi waktu-waktu yang dianggap luang bagi keluarga pada umumnya, musim tanam padi, hari lahir perempuan karena yang lebih banyak menentukan hari jadi pernikahan/pesta adalah pihak perempuan. Masih banyak faktor lain yang menjadi pertimbangan dalam menentukan hari pesta/pernikahan.

2.     Belanja (uang belanja)

Besarnya uang belanja ditetapkan berdasarkan kelaziman atau kesepakatan lebih dahulu antara anggota keluarga yang melaksanakan pernikahan. Ada, misalnya yang menyerahkan uang belanja itu sepenuhnya kepada pihak laki-laki sesuai dengan kemampuannya. Hal itu dapat terjadi karena adanya saling pengertian yang baik dari kedua belah pihak.

3.       Sompa

Sompa atau mahar adalah barang pemberian, dapat berupa uang atau harta dari mempelai laki-laki kepada mempelai wanita untuk memenuhi syarat sahnya pernikahan. Jumlah sompa ini diucapkan oleh mempelai laki-laki pada saat akat nikah.

Menurut adat, jumlah sompa atau mahar itu bertingkat-tingkat sesuai dengan tingkat sosial bangsawan. Disamping itu, sompa ini berbeda pula pada masing-masing daerah.

Sompa itu dinilai dengan uang lama yang disebut kati. Nilai 1 kati, sesuai dengan nilai uang lama, adalah 88 real + 8 orang + 8 doi serta 1 orang ata dan 1 ekor kerbau. Sekarang ini, 1 kati bernilai Rp. 100.000-Rp. 200.000. Ata atau budak. Ata yang diperjualbelikan pada masa dahulu. Sekarang ini tidak ada lagi perbudakan.

Upacara Mappasiarekeng dan Mappaenre Balanca

Ada orang yang menggabungkan upacara mappasiarekeng dan mappaenre balanca dengan acara mappattu ada. Hal itu tergantung pada kemampuan, kesempatan dan kesepakatan antara pihak keluarga laki-laki dengan pihak keluarga perempuan.

Rombongan pappasiarekeng/pappaenre Balanca terdiri dari laki-laki dan perempuan yang masing-masing berpakaian adat dan dipimpin oleh orang tua dengan berpakaian jas hitam tertutup leher (jas tattutu) masing-masing pihak berpakaian adat. Rombongan pihak laki-laki membawa barang-barang berikut: 7 ikat daun sirih (tiap ikat berisi 7 lembar), 7 ikat pinang merah, 7 biji gambir, 7 bungkus kapur, 7 bungkus tembakau. Selain barang-barang tersebut, di bawa pula barang-barang berikut: cincin, 1 atau 2 lembar baju dan sarung.

Setelah mereka duduk dengan tenang, mereka kemudian mengulangi hasil pembicaraan yang telah disepakati pada saat mappetu ada. Satu demi satu keputusan dibicarakan kembali. Setalah semuanya dimantapkan, mereka berjabat tangan. Selanjutnya, mereka mengucapkan doa kepada Allah Yang Maha Kuasa. Acara itu dipimpin oleh seorang yang dituakan oleh pihak wanita. Berikut, barang-barang dan perhiasan itu diserahkan kepala pihak mempelai wanita.

Pada saat mappasiarekeng itu, ada kalanya pihak laki-laki sudah menyerahkan uang belanja kepada pihak keluarga wanita yang telah disepakati bersama.

Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km.7 Tala'salapang-Makassar yang memberikan pengetahuan dan pemahaman tentang macam-macam upacara selamatan dalam pernikahan. Selain itu buku ini juga membahas upacara keselamatan tentang kehamilan, upacara pernikahan.


UPACARA PERNIKAHAN MASYARAKAT BUGIS 
Penulis: Nonci
Penyunting: Suhartono
Penerbit: CV. Telaga Zamzam
Tempat Terbit: Ujung Pandang
Tahun Terbit: 1997




September 15, 2021

PERAHU: LOPI (BUGIS), BISEANG (MAKASSAR)


Perahu menurut mitologi orang Bugis Makassar pertama-tama di buat di zaman Sawerigading, salah seorang raja dari Kerajaan Luwu Purba. Perahu sebagai salah satu unsur kebudayaan Bugis Makassar yang berkembang sejak dahulu kala telah mampu mengangkat nama Sulawesi Selatan sebagai pelaut Nusantara. Hal ini dapat dibuktikan dengan berhasilnya parahu Phinisi’ Nusantara  (Pinisi’ Bugis, Makassar) mengarungi lautan fasifik sampai ke Vancouver (Kanada) September 1986. Disamping itu juga keberhasilan ini telah menunjukkan bahwa prestasi tehnologi tradisional tidak kalah bobotnya dengan tehnologi canggih abad ke XX. Untuk itulah teknologi pembuatan perahu Bugis Makassar perlu dikembangkan untuk diwariskan kepada generasi muda.

Jenis perahu yang pertama dikenal oleh orang Bugis Makassar disebut Banta'. Jenis ini sudah tidak diproduksi lagi. Cara pembuatan perahu oleh Orang Bugis Makassar ada dua:

  1. Dibuat dari satu batang kayu, dilobangi, biasa disebut perahu garonggang/lesung atau batangeng. Jenis ini yang terkenal ialah: Sampan (dari bahasa Cina Senpan), Lepa-lepa, Sande, Soppe (Sope, Jawa), Balolang, Jarangka dan jenis perahu Lesung ysng juga banyak digunakan di danau/di sungai-sungai.
  2. Dibuat dari papan, dari kayu bitti atau jati yang disusun rapi dengan memakai paku yang terbuat dari kayu seppu, bakau dan kanrung. Jadi lebih besar dari perahu lesung dan daya angkutnya lebih banyak, bisa sampai 200 ton. Jenis ini yang terkenal ialah: perahu Pajala, perahu Patorani (dipakai menangkap ikan terbang), perahu Pagatan, perahu Baggo, perahu Lete, perahu Padewakang, perahu Padewakang (menangkap taripang), perahu Galle (untuk berperang), parahu Lambo dan perahu pinisi/perahu palari.

Jenis perahu yang terbuat dari satu batang kayu yang disebut perahu garonggang, batangeng atau lesung pada umumnya digunakan untuk menangkap ikan dan pengangkutan pesisir pantai, sedangkan yang terbuat dari papan seperti perahu lete, lambo dan pinisi digunakan sebagai alat pengangkut antar pulau atau antar benua. Berikut perbedaan perahu Pinisi’ dan Lambo’ sebagai berikut:

Perahu pinisi’ memiliki 7 buah layar, bentuknya ada yang berbentuk segitiga dan adapula yang berbentuk segiempat. Sedangkan perahu lambo’ memiliki 2 buah layar, berbentuk segi tiga. Perahu pinisi’ memiliki pallajareng (tiang agung) sebanyak 2 buah, sedangkan Lambo 1 buah. Perahu pinisi’ memiliki daya angkut 50 s/d 200 ton sedangkan lambo lebih kecil dari itu. Anak perahu (sawi) pinisi memiliki 7 s/d 15 orang, sedangka lambo’ memiliki 5 s/d 7 orang. 

Perahu sebagai salah satu unsur kebudayaan Bugis Makassar yang berkembang sejak dahulu kala telah mampu mengangkat nama Sulawesi Selatan sebagai pelaut Nusantara. Hal ini dapat dibuktikan dengan berhasilnya parahu Phinisi’ Nusantara  (Pinisi’ Bugis, Makassar) mengarungi lautan fasifik sampai ke Vancouver (Kanada) September 1986. Disamping itu juga keberhasilan ini telah menunjukkan bahwa prestasi tehnologi tradisional tidak kalah bobotnya dengan tehnologi canggih abad ke XX. Untuk itulah teknologi pembuatan perahu Bugis Makassar perlu dikembangkan untuk diwariskan kepada generasi muda.

Buku PERAHU: LOPI (BUGIS), BISEANG (MAKASSAR) mengemukakan data mengenai perahu, sebagai salah satu unsur budaya orang Bugis-Makassar. Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km.7 Tala'salapang-Makassar.


PERAHU: LOPI (BUGIS), BISEANG (MAKASSAR)
Penerbit: Musium Negeri La Galigo 
Tempat Terbit: Ujung Pandang
Tahun Terbit:  1986


September 13, 2021

LUKISAN DINDING GUA DI LEANG KASSI PANGKEP


Leang Kassi terletak di kaki gugusan pengunungan kapur (Bukit Gamping) Belae yaitu sekitar 8 km kearah timur ibukota Pangkep. Kawasan Leang Kassiini masuk wilayah Kampung Belae Kelurahan Minasate'ne Kecamatan Pangkajene Kabupaten Pangkep. Kesampain ini masuk wilayah Belae Kelurahan Minasate'ne Kecamatan Pangkajene Kabupaten Pangkep.

Struktur geologis Leang Kassi merupakan batuan Sedimen, pada bahagian depan gua banyak tergantung stalakmit, pada bagian dasar gua banyak pula terdapat stalakmit. Permukaan Leang Kassi tertutup oleh tanah hasil pelapukan batu gamping.

Pembentukan Leang Kassi, terjadi oleh pengikisan benda-benda hidup, seperti binatang laut yang mengandung CaCo3 pada air laut kian lama kian melebar dan membentuk terowongan-terowongan sehingga membentuk gua atau leang. Disamping itu disebabkan oleh abrasi gelombang laut, sehingga membentuk gua kaki tebing seperti Leang Kassi.

Dinding dan langit-langit Leang (gua) menggambarakan kehidupan sosial ekonomi, dan alam pikiran serta kepercayaan masyarakat masa itu. Didalamnya tercantum nilai-nilai estetika dan magis yang berkaitan dengan totemisme. Mengamati lukisan dinding gua Kassi mengandung makna yang berpangkal dari lingkungan sekitarnya dimana ia berada. Sebagai refleksi rasa seni yang pengaruhi oleh unsur magis.

Lukisan dinding gua Kassi sesungguhnya adalah warisan budaya Toala. Oleh karena itu lukisan tersebut dapat dipandang sebagai pernyataan seni tertua yang melukiskan tentang pengalaman, perjuangan, dan harapan hidup. Selain itu juga melambangkan alam pikiran dan kepercayaan yang bersumber dari kekuatan religius magis. Sedangkan melihat penggunaan warna pada lukisan dinding gua Kassi yaitu warna merah dan warna hitam.

Dalam masyarakat prasejarah warna-warni memainkan peranan penting sebagai sumber kekuatan. Merah melambangkan darah dan kehidupan, karena itu warna ini umumnya digunakan pada pembuatan lukisan bayangan tangan (hand stencils) mungkin berarti atau mengandung kekuatan atau simbol kekuatan pelindungan untuk mencegah  roh jahat. Sedangkan warna hitam juga dianggap mempunyai kekuatan gaib yang lebih dalam.

Memperhatikan temuan lukisan di Gua Kassi seperti: lukisan bayangan tangan yang tertera pada langit-langit gua bermakna simbol kekuatan atau pelindung untuk mencegah roh jahat. Lukisan ini pula juga dimaksudkan sebagai tanda milik tempat.

Lukisan manusia diperkirakan sedang berlari sedang berlari warna hitam mungkin sedang memburu buruannya. Lukisan berpegangan seakan melakukan gerakan dinamis kemungkinan adalah gerak tarian ritual. Tarian ini juga bermakna mengusir roh-roh jahat.

Lukisan yang tidak jelas bentuknya mengandung makna tertentu yang melambangkan kehidupan sosial dari masyarakat pemburu. Walaupun lukisan di Leang Kassi tidak tersusun secara berangkai namun tetap terkandung makna yang mencerminkan kehidupan sosial ekonomi.

Cat pewarna yang digunakan ialah oker atau hematite yaitu zat besi dengan belerang yang terjadi secara alami, bahan ini banyak terdapat dikaku gua. Proses lunturnya dan rusaknya lukisan dinding gua Kassi disebabkan oleh:

  1. Proses alam: akibat laruran Calsit (CaCo3) yang mengendap pada dinding gua, serta tumbuhan jamur sejenis jamur Pteridophyta dan Lichen berwarna hijau.
  2. Manusia: mungkin karena ketidak sengajaan, oleh anak-anak sekolah (pengunjung) karena ingin meninggalkan kenang-kenangan dalam kunjungan ke Leang Kassi maka tanpa sadar telah menulis nama-namanya di dinding gua.
Buku LUKISAN DINDING GUA DI LEANG KASSI PANGKEP merupakan pengetahuan tentang prasejarah Sulawesi Selatan, khususnya zaman Paleolik, dengan ditemukannya arkeologis, baik berupa artefak maupun non-artefak yang banyak tersebar di dalam gua-gua (Leang) bukit gamping. Temuan tersebut merupakan salah satu bukti adanya kegiatan manusia pada masa lampau. Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar.



LUKISAN DINDING GUA DI LEANG KASSI PANGKEP
Penulis: Muhammad Ramli
Penerbit: Kantor Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala Sulawesi Selatan
Tempat Terbit: Ujung Pandang
Tahun Terbit: 1989



September 3, 2021

Buku ke-2 : Guide 100 Buku Konten Lokal Sulawesi Selatan

 


Buku: Guide 100 Buku Konten Lokal Sulawesi Selatan (Buku ke-2)

Penulis: Desy Selviana & Suharman Musa

Penerbit: DPK Sulsel bekerjasama dengan Bank Sulselbar

Tahun terbit : 2021

Tempat Terbit: Makassar

Jumlah Halaman: 260

Ukuran: 22,6 x 16 cm

Tahun 2020  lalu, telah terbit buku Guide 100 Buku Konten Lokal Sulawesi Selatan yang  merupakan buku pertama yang memuat 100 sinopsis buku konten lokal Sulawesi Selatan yang telah diunggah di http://www.koleksilokal.com. Tahun ini, Alhamdulillah kami (Desy Selviana dan Suharman Musa) kembali berhasil menyusun dan menerbitkan buku kedua yang juga memuat 100 sinopsis konten lokal Sulawesi Selatan. Buku buku tersebut merupakan koleksi Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan, baik yang ada di Layanan Perpustakaan umum di Jalan Sultan Alauddin Makassar, Perpustakaan Abdurrasyid Daeng Lurang di Sungguminasa maupun yang di Perpustakaan Khusus Unit Kearsipan di Tamalanrea Makassar.

Penerbitan buku edisi pertama dan kedua ini merupakan kerjasama antara Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Sulawesi Selatan dengan Bank Sulselbar. Kami pustakawan dari Dispus-Arsip Sulsel yang menyusun dan mendesain sedangkan pembiayaan penerbitannya atas bantuan dana CRS Bank Sulselbar. Bank Sulselbar sangat mendukung penerbitan buku ini karena mendukung penguatan local wisdom (kearifan lokal) baik berupa sejarah, budaya, maupun biografi  tokoh tokoh lokal Sulawesi Selatan. Penguatan kearifan lokal ini sangat penting diera globalisasi sekarang ini agar generasi masa depan tidak tercerabut dari akarnya, tidak melupakan, dan tetap mempertahankan, mengembangkan dan melestarikan  budaya dan sejarah daerahnya sendiri.

Buku ini dicetak dan diterbitkan dengan maksud untuk memudahkan para pemustaka dalam mengakses koleksi lokal Sulawesi Selatan, tanpa perlu langsung mencarinya di rak rak buku. Sebagian koleksi lokal yang ada sinopsisnya dalam buku ini merupakan buku langka, yang mungkin satu satunya di Perpustakaan Dispus-Arsip Sulsel atau bahkan di Sulawesi Selatan. Sebagian koleksi juga merupakan Literatur kelabu (Gray Literatur) yang biasanya diterbitkan hanya untuk hasil penelitian dan tidak diterbitkan secara nasional. Buku buku semacam itu seringkali sangat dibutuhkan oleh pemustaka yang ingin menggali kearifan lokal. Pemustaka yang datang ke Perpustakaan dapat mengakses buku ini terlebih dulu, sebelum mencarinya di Layanan Perpustakaan Dispus-Arsip Sulawesi Selatan.

Distribusi buku ini akan kami laksanakan bulan september 2021 ke berbagai perpustakaan di Makassar dan sekitarnya. Prioritas distribusi yaitu ke lembaga perpustakaan di kabupaten kota dan perpustakaan Perguruan Tinggi. Jika perpustakaan tersebut tidak memiliki buku konten lokal dalam koleksi mereka, maka pustakawan dapat menunjukkan buku ini dan menjelaskan tentang isi buku dan detailnya kepada pemustaka. Pustakawan atau pengelola perpustakaan kemudian dapat merujuk pemustaka ke Layanan Perpustakaan Dispus-Arsip Sulsel untuk mengakses buku konten lokal yang dibutuhnya.

Semoga bermanfaat!