Sejarah Sulawesi Selatan
menempatkan batasan temporal dari periode sejak Pemerintahan Hindia Belanda
melancarkan ekspedisi militer 1905 (Zuid Celebes Expeditie 1905) hingga
pembentukan Provinsi Sulawesi Selatan pada tahun 1960 itu meliputi wilayah yang
pada periode kolonial Belanda disebut Provinsi Sulawesi dan Daerah Bawahannya (Gouvernement
van Celebes en Onderhoorigheden). Dalam pengembangan selanjutnya wilayah
provinsi ini dimekarkan menjadi dua provinsi, yaitu Provinsi Sulawesi Selatan
dan Provinsi Sulawesi Tenggara.
Ekspedisi militer itu dicanangkan
untuk menduduki dan menguasai secara keseluruhan wilayah kerajaan-kerajaan di
Sulawesi Selatan yang disebut Pemerintahan Sulawesi Selatan dan Daerah
Bawahannya (Gouvernement van Celebes en Onderhoorigheden). Periode
kolonial Belanda ini ditandai dengan gerakan-gerakan perlawanan rakyat yang
terus menerus. Perlawanan yang terus berlangsung itu menyebabkan daerah ini
dijuluki “pulau keonaran” (de onrust eiland). Dalam kondisi yang
demikian, pemerintah mencoba bergiat meredakan dengan kebijaksanaan dengan
otonomi daerah, memulihkan kembali kedudukan beberapa kerajaan. Status
“swapraja” (zelfbestuur landschap) yang pertama diberikan pada Kerajaan
Bone pada tahun 1931 dan berikutnya adalah Kerajaan Gowa pada tahun 1938.
Sementara kerajaan-kerajaan lain tetap dalam pemerintahan langsung pejabat
Hindia Belanda.
Tokoh-tokoh politik Sulawesi
turut mendukung proklamasi dan ikut dalam rapat pertama Panitia Persiapan
Kemerdekaan (PPKI) pada tanggal 18 Agustus hingga 22 Agustus 1945. Dalam rapat
tanggal 19 Agustus dicapai kesepakatan Sulawesi menjadi satu provinsi dan Dr.
Ratulangi dilantik menjadi gubernur. Proklamasi dan pembentukan negara dan
pemerintahannya itu tidak segera mendapat pengakuan Sekutu mengingat
tokoh-tokoh nasional yang tampil memproklamasikan kemerdekaan itu, Soekarno dan
Moh. Hatta adalah pihak yang berkolaborasi dengan Jepang. Akibatnya Sekutu
menerima Netherlands Indie Civil Administration (NICA) menjadi bagian
yang integral dari pasukan Sekutu dalam menyelesaikan tahanan perang di
Indonesia.
Berdasarkan pada pengakuan
kedaulatan itu, tokoh-tokoh politik dan pemuda pejuang di Sulawesi Selatan
mengorganisasikan demonstrasi massal untuk menuntut dibubarkan NIT dan RIS dan
kembali ke negara kesatuan Republik Indonesia. Perjuangan mereka berhasil
direalisasikan. Dalam pidato kenegaraan Presiden Soekarno pada tanggal 16
Agustus 1950, ia menyatakan pembubaran RIS dan kembali ke negara kesatuan RI.
Di Sulawesi Selatan berkobar
peristiwa KNIL pada tahun 1950 kemudian diikuti dengan gerakan DI/TII pimpinan
Abdul Qahar Muzakkar dan gerakan Permesta. Pergolakan yang terus terjadi itu
mendorong pemerintah memikirkan cara untuk mengefektifkan pelayanan dan
pembangunan. Untuk itu ditetapkan strategi memilah wilayah Sulawesi yang
dipandang sangat luas atas dua wilayah provinsi yaitu Provinsi Sulawesi Selatan
dan Provinsi Sulawesi Tenggara pada tahun 1964.
Berdasarkan penelusuran dan
pengungkapan kesejarahan itu jelas tampak bahwa rakyat Sulawesi Selatan adalah
rakyat yang sangat menentang pemerintahan kolonial. Penjajahan dipandang
sebagai upaya mengeksploitasi dan memudarkan hak kemerdekaan dan kedaulatan
setiap orang dan bangsa. Oleh karena itu, mereka terus berjuang menghapuskan
penjajahan karena bertentangan dengan peri kemanusiaan. Selain itu juga
menunjukkan bahwa penduduk Sulawesi Selatan mendambakan persatuan dan kesatuan
dalam kehidupan kenegaraan Indonesia.
Buku SEJARAH SULAWESI SELATAN JILID 2 membahas masa lalu Sulawesi Selatan, khususnya periode kolonial sampai kemerdekaan (1905-1960), yang masih berisi sejarah Provinsi Sulawesi Barat. Meskipun pada akhir tahun 2004 Provinsi Sulawesi Barat sudah berdiri. Buku ini merupakan koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala’salapang-Makassar.
Tim Peneliti: Edward L. Poelinggomang, Suriadi Mappangara, Anwar Thosibo et.al
Editor: Edward L. Poelinggomang, Suriadi Mappangara
Penerbit: Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah (Balitbangda)
Tempat Terbit: Makassar
Tahun Terbit: 2005
ISBN: 979-3633-09-3













