Showing posts with label Maiwa. Show all posts
Showing posts with label Maiwa. Show all posts

December 17, 2025

Pancaitana Bungawalie, Perjuangan Rakyat Maiwa, Enrekang, Duri Melawan Kolonialisme Belanda

 


Judul:                           Pancaitana Bungawalie, Perjuangan Rakyat Maiwa Enrekang Duri Melawan Kolonialisme Belanda

Penulis:                        Muhammad Natsir Sitonda

Editor:                         -

Penerbit:                     Yayasan Pendidikan Muhammad Natsir

Tahun Terbit:               2013

Jumlah Halaman:        xi + 93

ISBN:                            9786021731659

Penulis Resensi:          Suharman, S.S., MIM.

Pancaitana Bungawalie adalah seorang pejuang kemerdekaan yang pemberani dan memimpin pergerakan rakyat Maiwa Enrekang Duri pada awal abad ke-20 melawan penjajan Belanda. Pancaitana Bungawalie bersama rakyanya menunjukkan keberaniannya melawan penjajah Belanda, walaupun dengan persenjataan sederhana yang dimilikinya. Keberanian dan nilai nilai perjuangan inilah yang ingin disebarluaskan oleh penulis kepada seluruh masyarakat, khususnya kepada masyarakat Maiwa Enrekang Duri.

Penulis (Muhammad Natsir Sitonda) membagi tulisannya dalam bentuk buku dengan empat bagian, diawali dengan pengantar dari penerbit dan penulis, dan sambutan Bupati Enrekang waktu penerbitan buku ini yaitu Drs. H. Muslimin Bando, M.Pd.

Pada bagian pertama, diuraikan tentang Messenrempulu sebagai tanah kelahiran Pancaitana Bungawalie. Massenrempulu juga sebagai suatu wilayah, sebagai suatu kelompok masyarakat, sebagai suatu perserikatan kerajaan kerajaan di wilayah tersebut. Sejarah penyatuan kerajaan kerajaan kecil pada masa lalu serta bahasa, asal usul orang Massenrempulu dan juga strata sosial dijelaskan pula pada bagian ini.

Riwayat hidup Pancaitana Bungawalie dijelaskan pada bagian selanjutnya, mulai asal usul orang tuanya, tanah kelahirannya, dan masa masa kehidupannya: lahir, masa perkawinan, dan masa pengangkatan beliau sebagai raja yaitu Raja (Arung) Enrekang XI. Masa pemerintahannya dari 1878 – 1915. Dijelaskan pula pada bagian ini tentang para bangsawan kerajaan, ada Sulewatang, Pabicara, Jannang, dan jabatan jabatan kerajaan lainnya. Benteng benteng pertahanan yang dibangun, serta peperangan yang terjadi juga dibahas disini.

Penulis juga membahas bagaimana rakyat Massenrempulu dipimpin oleh Pancaitana Bungawalie berjuang melawan kolonialisme Belanda. Diawali dengan adanya perjanjian Bungaya yang berdampak pada kedaulatan kerajaan kerajaan yang ada d Sulawesi bagian selatan. Ada upaya pemerintah kolonial Belanda untuk menguasai kerajaan kerajaan yang tergabung dalam persekutuan Massenrempulu. Saat itulah terjadi perlawanan dari rakyat Massenrempulu, namun karena pasukan Belanda memiliki persenjaan lengkap akhirnya, dan banyaknya rakyat Massenrempulu yang gugur dalam perjuangan, akhirnya Pancaitana Bungawalie menandatangani Korte Verklaring (Pernyataan Pendek) pada 4 Maret 1906, yang mengharusnya bekerja sama dengan pemerintah kolonial Belanda. Namun tenyata perlawanan rakyat Massenrempulu tetap berlanjut.

Buku ini diakhir dengan Epilog yang sekali lagi membahas tentang Pancaitana Bungawalie.

Buku ini memberikan gambaran mendalam tentang perjuangan rakyat di wilayah Massenrempulu (Maiwa, Enrekang, Duri) yang sering kurang terangkat dalam sejarah nasional. Ini membantu memperkaya khasanah sejarah lokal Indonesia. Buku ini juga menggambarkan nilai-nilai budaya dan semangat perlawanan masyarakat setempat terhadap kolonialisme, sehingga menambah pemahaman tentang identitas dan akar budaya daerah tersebut. Buku ini menjadi sumber penting untuk mengenang dan mengapresiasi perjuangan rakyat biasa, bukan hanya elite atau tokoh nasional, sehingga memperlihatkan sejarah dari perspektif rakyat kecil. Bisa menjadi sumber inspirasi bagi pembaca, khususnya generasi muda, untuk memahami pentingnya sikap perjuangan dan semangat nasionalisme.

Karena fokusnya sangat lokal, pembaca yang tidak familiar dengan wilayah Massenrempulu mungkin merasa kurang relevan atau sulit memahami konteks sosial-budaya dan politik yang melatarbelakangi perjuangan tersebut. Jika buku ini hanya mengandalkan sumber-sumber lokal atau cerita lisan, mungkin ada keterbatasan dalam verifikasi fakta historis yang bisa mempengaruhi keakuratan narasi. Jika bahasa yang digunakan terlalu akademis atau terlalu lokal, bisa menyulitkan pembaca umum untuk mengakses isi buku dengan mudah. Buku mungkin kurang menampilkan perspektif kolonial atau pihak lawan, sehingga narasi bisa terkesan sepihak atau kurang mendalam dalam analisis konflik.

Buku ini koleksi Layanan Perpustakaan Umum, UPT Layanan Perpustakaan, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Sulawesi Selatan.



September 23, 2021

SASTRA LISAN MASSENREMPULU

 


Sastra lisan Massenrempulu adalah sastra yang lahir dan hidup di tengah-tengah masyarakat Massenrempulu, diwariskan turun-temurun dari mulut ke mulut dengan menggunakan tiga macam dialek, yaitu

  1.  Dialek Enrekang
  2. Dialek Duri dan
  3. Dialek Maiwa

Perbedaan ketiga dialek tersebut tampak pada penggunaan beberpa kata dan pengucapan fonem-fonem tertentu. Oleh karena perbedaan kosakata cukup banyak, maka masing-masing pemakai dialek kadang-kadang terganggu dalam hubungan pengertian ketiga dialek bahasa tersebut.

Cerita yang berhasil dikumpulkan diklasifikasi dalam beberapa jenis, yaitu mite, legenda, sage, fabel, cerita humor dan cerita dramatis. Berikut sastra lisan Massenrempulu yang berasal dari tiga macam dialek yaitu: 

  • Cerita Rakyat Daerah Enrekang 
  1. Kakaq Sammaraq
  2. Ariq Angin
  3. Janji
  4. Anangq Datu
  5. Bunnawasaq na Datu
  6. Asunna Bunnawasaq
  7. Anangq Pangaji
  8. Lera
  9. Onde-onden Kaccangq
  10. I Pagale
  11. Pulandoq na Buaja
  12. Sari Dukung
  • Cerita Rakyat Daerah Duri
  1. Bunga Mendoe
  2. Puang Buttu Marajo
  3. Londong di Rura sole Saqpang Digaletto
  4. Tattadu
  5. Pea Macca
  6. Tamasseung
  7. Caredukun
  8. Cadoqdong
  9. Indan Dibajaq Kada
  10. Tedong Simpo
  • Cerita Rakyat Daerah Maiwa
  1. Tomalando Badinna
  2.  La Geppo
  3. Laceppaga di Lembuang
  4. Buqtuq I Tallang
  5. Loqkoq Puq Salloq
  6. Tobaraninna Maiwang
  7. Toassa
  8. Passalang Ikkoq Bale

Buku SASTRA LISAN MASSENREMPULU untuk menginventarisasi sastra lisan Masserempulu, khususnya yang berbentuk cerita rakyat dalam bentuk mite, legenda, sage, fabel, cerita humor dan cerita dramatis. Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala’salapang-Makassar.

 

SASTRA LISAN MASSENREMPULU
Penyusun: Muhammad Sikki, Abdul Rasjid Nusu, J.S. Sande, Zainuddin Hakim, Mahmud
Penerbit: Balai Penelitian Bahasa
Tempat Terbit: Ujung Pandang
Tahun Terbit: 1986