Judul: Pancaitana Bungawalie, Perjuangan Rakyat
Maiwa Enrekang Duri Melawan Kolonialisme Belanda
Penulis: Muhammad Natsir Sitonda
Editor: -
Penerbit: Yayasan Pendidikan Muhammad
Natsir
Tahun
Terbit: 2013
Jumlah
Halaman: xi + 93
ISBN: 9786021731659
Penulis
Resensi: Suharman, S.S., MIM.
Pancaitana Bungawalie
adalah seorang pejuang kemerdekaan yang pemberani dan memimpin pergerakan rakyat
Maiwa Enrekang Duri pada awal abad ke-20 melawan penjajan Belanda. Pancaitana
Bungawalie bersama rakyanya menunjukkan keberaniannya melawan penjajah Belanda,
walaupun dengan persenjataan sederhana yang dimilikinya. Keberanian dan nilai
nilai perjuangan inilah yang ingin disebarluaskan oleh penulis kepada seluruh
masyarakat, khususnya kepada masyarakat Maiwa Enrekang Duri.
Penulis (Muhammad
Natsir Sitonda) membagi tulisannya dalam bentuk buku dengan empat bagian, diawali
dengan pengantar dari penerbit dan penulis, dan sambutan Bupati Enrekang waktu
penerbitan buku ini yaitu Drs. H. Muslimin Bando, M.Pd.
Pada bagian pertama,
diuraikan tentang Messenrempulu sebagai tanah kelahiran Pancaitana Bungawalie.
Massenrempulu juga sebagai suatu wilayah, sebagai suatu kelompok masyarakat,
sebagai suatu perserikatan kerajaan kerajaan di wilayah tersebut. Sejarah
penyatuan kerajaan kerajaan kecil pada masa lalu serta bahasa, asal usul orang
Massenrempulu dan juga strata sosial dijelaskan pula pada bagian ini.
Riwayat hidup Pancaitana
Bungawalie dijelaskan pada bagian selanjutnya, mulai asal usul orang tuanya,
tanah kelahirannya, dan masa masa kehidupannya: lahir, masa perkawinan, dan
masa pengangkatan beliau sebagai raja yaitu Raja (Arung) Enrekang XI. Masa
pemerintahannya dari 1878 – 1915. Dijelaskan pula pada bagian ini tentang para bangsawan
kerajaan, ada Sulewatang, Pabicara, Jannang, dan jabatan jabatan kerajaan lainnya.
Benteng benteng pertahanan yang dibangun, serta peperangan yang terjadi juga
dibahas disini.
Penulis juga membahas
bagaimana rakyat Massenrempulu dipimpin oleh Pancaitana Bungawalie berjuang
melawan kolonialisme Belanda. Diawali dengan adanya perjanjian Bungaya yang
berdampak pada kedaulatan kerajaan kerajaan yang ada d Sulawesi bagian selatan.
Ada upaya pemerintah kolonial Belanda untuk menguasai kerajaan kerajaan yang
tergabung dalam persekutuan Massenrempulu. Saat itulah terjadi perlawanan dari
rakyat Massenrempulu, namun karena pasukan Belanda memiliki persenjaan lengkap
akhirnya, dan banyaknya rakyat Massenrempulu yang gugur dalam perjuangan,
akhirnya Pancaitana Bungawalie menandatangani Korte Verklaring (Pernyataan Pendek)
pada 4 Maret 1906, yang mengharusnya bekerja sama dengan pemerintah kolonial
Belanda. Namun tenyata perlawanan rakyat Massenrempulu tetap berlanjut.
Buku ini diakhir
dengan Epilog yang sekali lagi membahas tentang Pancaitana Bungawalie.
Buku ini memberikan
gambaran mendalam tentang perjuangan rakyat di wilayah Massenrempulu (Maiwa,
Enrekang, Duri) yang sering kurang terangkat dalam sejarah nasional. Ini
membantu memperkaya khasanah sejarah lokal Indonesia. Buku ini juga menggambarkan
nilai-nilai budaya dan semangat perlawanan masyarakat setempat terhadap
kolonialisme, sehingga menambah pemahaman tentang identitas dan akar budaya
daerah tersebut. Buku ini menjadi sumber penting untuk mengenang dan
mengapresiasi perjuangan rakyat biasa, bukan hanya elite atau tokoh nasional,
sehingga memperlihatkan sejarah dari perspektif rakyat kecil. Bisa menjadi
sumber inspirasi bagi pembaca, khususnya generasi muda, untuk memahami
pentingnya sikap perjuangan dan semangat nasionalisme.
Karena fokusnya
sangat lokal, pembaca yang tidak familiar dengan wilayah Massenrempulu mungkin
merasa kurang relevan atau sulit memahami konteks sosial-budaya dan politik
yang melatarbelakangi perjuangan tersebut. Jika buku ini hanya mengandalkan
sumber-sumber lokal atau cerita lisan, mungkin ada keterbatasan dalam
verifikasi fakta historis yang bisa mempengaruhi keakuratan narasi. Jika bahasa
yang digunakan terlalu akademis atau terlalu lokal, bisa menyulitkan pembaca
umum untuk mengakses isi buku dengan mudah. Buku mungkin kurang menampilkan
perspektif kolonial atau pihak lawan, sehingga narasi bisa terkesan sepihak
atau kurang mendalam dalam analisis konflik.
Buku ini koleksi Layanan
Perpustakaan Umum, UPT Layanan Perpustakaan, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan
Sulawesi Selatan.

