January 31, 2022

LA MELLONG KAJAO LALIDDONG "to maccana" BONE

"makkedai tomatoae : nakko memmana 'no pelempuri seroni alemu apa iya ritu riasengnge gau' maja' gau' madeceng namana'i to rimunri. Nakko maja'i gau'mu, ikonatu nala camming anna' mu. Na Sangngadinna mulempuri ni alemu, mupadecengi wi gau' mu, mupaccappura toni pangaja' ana'mu, naiya mua sa napogau gau' maja'e, pura makkuani tu naelorangnge Allah taala di ana'mu ".

"Berkata orang : Apabila engkau telah beranak, peliharalah kejujuranmu, sebab yang dimaksud dengan perbuatan buruk per buatan baik dipusakai oleh anak/keturunan. Apabila engkau berbuat buruk, engkaulah yang menjadi cermin bagi anakmu. Kecuali kalau sudah diusahakan kejujuran pada diri sendiri dan memperbuat perbuatan yang baik serta memberikan nasihat yang baik kepada keturunanmu, tetapi masih berakhir dengan perbuatan yang buruk maka demikianlah yang dikehendaki oleh Allah kepada anakmu.

Penganugerahan gelar kehormatan kepada seseorang yang di anggap berjasa kepada negara, tidak hanya dikenal abad modern ini. Dimasa pemerintahan Raja Bone ke-6 yang bernama La Uliyo' Bote'e pun hal serupa sudah dipraktekkan dalam Kerajaa Bone. menurut riwayat, karena kekaguman Raja Bone atas kecerdasan, kecakapan dan kedalaman pengatahuan La Mellong, sehingga baginda menganugrahkan gelar "KAJAO LALIDDONG" kepada cendekiawan ulung ini. Istilah "Kajao" bermakna seseorang yang telah berusia lanjut dan memiliki kearifan tinggi sedang " LALIDDON" adalah nama sebuah kampung yang terletak dalam wilayah Kecamatan Barebbo sekarang, di sebelah Utara dari Bulu' Cina. Dengan demikian La Mellong putera Matowa Cina secara resmi menyandang gelar KAJAO LALIDDONG sebagai bukti kesetiaannya dalam berbakti kepada raja dan kerajaan Bone.

Keharuman nama Kajao Laliddong sebagai seorang cendekiawan ternyata banyak menarik minat para cendekiawan kemudiannya, baik dari Barat maupun dalam lingkungan Indonesia diri. Di dalam buku Dra.Wiwiek P. Yoesoef yang berjudul "Biografi Kajao Laliddong di Bone", dijumpai uraian sebagai berikut: Nama Kajao Laliddong sudah banyak disebut pada berbagai pustaka dan lontara Bugis-Makassar bersama buah pikirannya serta renungan mengenai negara dan hukum. Dalam disertai J. Noorduyn yang berjudul Een Achttiende Euwse Kroniek vanWajo (tahun 1955), nama Kajao Laliddong banyak disebut. 

Beberapa tulisan oleh para ahli, dalam nasyarakat Bone, masih dapat ditemukan orang-orang yang masih mengetahui beberapa ceritera lisan yang berhubungan dengan pribadi Kajao Laliddong. Pada umumnya ceritera di maksud berintikan sanjungan atas kecakapan dan kecerdasan Kajao Lalliddong dalam mensukseskan pengabdiannya. 

Selain dari pada ceritera-ceritera yang terdapat dalam masyarakat, dalam daerah Kabupaten Bone terdapat pula beberapa tempat/benda yang berhubungan dengan Kajao Laliddong antaa lain :

  1. Sebuah bukit yang terdapat ditengah sawah dalam desa Bakke Kecamatan Barebbo. Menurut keterangan penduduk setempat, bahwa bukit dimaksud adalah tempat Kajao Laliddong memakan "bojo" sejenis siput sawah. Dari sebab itu tempat dimaksud diberi nama sejak dahulu yaitu "akkanreng bojona Kajao Laliddong" yang berarti bekas makanan "bojo" -siputnya Kajao Laliddong. Pada bukit itu banyak terdapat kulit siput.
  2. Sebatang pohon besar terdapat di desa Melle Kecamatan Palakka, menurut keterangan yang diperoleh, bahwa pohon dimaksud adalah tongkat Kajao Laliddong yang dipancangkan di waktu dia singgah beristirahat dalam pejalannya dari Laliddong ke Lalebbata.
  3. Dari sekian banyak koleksi yang terdapat pada Museum LA PAWAWOI di Watampone, terdapat sebuah tongkat tersebut dari besi yang salah satu ujungnya menyerupai tombak, Menurut catatan yang terdapat dalam buku inventaris arajang pada museum, menyatakan bahwa tombak tersebut adalah tongkat Kajao Laliddong. Dalam lontara terdapat seuntai ata yang berhubungan dengan tongkat dimaksud yang berbunyi : "cicemmi narenreng tekkenna Kajao La liddong natepu benteng ri Bone": yang berarti hanya sekali ditarik tongkatnya Kajao Laliddong dan selesailah benteng di Bone.
La Mellong putera Matowa Cina yang mendapat gelar Kajao Laliddong meninggal dunia sekitar akhir abad ke 16 setelah puluhan tahun mengabdikan diri dan pikirannya untuk kebesaran Kerajaan Bone. Semasa hidupnya tidak sedikit buah-buah pikirannya berupa petuah-petunjuk dan nasihat yang bersifat ajaran yang dijadikan dasar pegangan bagi para raja dan para pemangku adat dalam melaksanakan tugasnya sebagai pemimpin rakyat. Salah satu diantaranya yang paling lengkap ialah tanya jawab antara Kajao Laliddong dengan Arumpone - Raja Bone yang berisikan petunjuk dasar bagi raja, pemangku adat sampai kepada rakyat. 

Dalam tanya jawab dimaksud Kajao Laliddong memberikan petunjuk-pelajaran tentang sifat, sikap, watak yang harus dimiliki oleh seorang raja, pemangku adat, dengan tidak melepaskan diri dari empat unsur pokok yaitu ade', bicara, rapang dan wari' yang keempatnya 
disebut " pangngadereng ". Demikian pula pelajaran tentang hukum, kejujuran, dan kemasyarakatan oleh Kajao Laliddong secara terperinci dalam tanya jawab dimaksud.

Buku LA MELLONG KAJAO LALIDDONG "to maccana" BONE berisi riwayat hidup dari seorang cendekiawan-negarawan Kerajaan Bone yang bernama La Mellong yang digelar Kajao Laliddong yang hidup di abad ke-16. Di masa hidupnya, Kajao Laliddong banyak berjasa terhadap perkembangan dan kebesaran Kerajaan Bone, terutama dalam bidang hukum, kemasyarakatan dan sosial serta pemerintahan. Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar.


LA MELLONG KAJAO LALIDDONG "to maccana" BONE
Penulis: Andi Muh. Ali
Penerbit: Damai
Tempat Terbit: Watampone
Tahun Terbit: 1984




IRONI SANG PEMBEBAS: Todani Arung Bakke vs Arung Palakka

Lahirnya Perjanjian Bungaya menandakan berakhirnya masa kejayaan Kerajaan Gowa, dan sebaliknya merupakan awal kebangkitan Kerajaan Bone dan Soppeng sebagai penguasa baru di Sulawesi Selatan disatu pihak dan Kompeni di lain pihak. Pada perkembangan selanjutnya, Arung Palakka bersama sekutunya menjadi penguasa baru atas Sulawesi Selatan. Sementara Todani Arung Bakke beberapa tahun kemudian menjadi penguasa pada lima kerajaan pada waktu yang bersamaan. Meskipun kelima kerajaan yang dikuasai oleh Todani Arung Bakke adalah merupakan naungan kuasa Arung Palakka, namun Todani Arung Bakke seakan tidak mengindahkan hal tersebut.

Todani Arung Bakke setelah sukses berkuasa pada lima kerajaan sekaligus, seakan lupa akan pengabdiannya terhadap Arung Palakka yang mantan komandannya. Perilaku politiknya memperlihatkan bahwa yang menjadi atasannya hanyalah Kompeni semata, sedang Arung Palakka dianggap sederajat dengan kedudukannya di mata Kompeni. Kondisi itu memicu kecurigaan Arung Palakka bahwa Todani Arung Bakke ingin menggantikan posisinya sebagai sekutu utama Kompeni yang sederajat. Awal kecurigaan itu kemudian menyusul persoalan-persoalan lain yang semakin merenggangkan hubungan antara kedua tokoh penguasa tersebut. Beberapa persoalan yang muncul kemudian dijadikan alasan oleh Arung Palakka untuk menyingkirkan Todani Arung Bakke dari mata Kompeni.

Hubungan Todani dengan Kompeni yang dipersoalkan Arung Palakka sebab seringnya Todani Arung Bakke mengunjungi Kompeni di Benteng Fort Rotterdam. Hal itu dianggap oleh Arung Palakka sebagai suatu pelanggaran sebab tanpa sepengetahuannya, Todani Arung Bakke sering bolak balik ke Benteng Fort Rotterdam menemui Kompeni. Pada hal semua orang tahu bahwa setiapraja atau bangsawan yang ingin menghadap Kompeni harus seizin Arung Palakka.

Hubungan kurang harmonis antara kedua penguasa itu, semakin hari semakin meruncing. Meskipun berbagai pihak telah melakukan upaya untuk mendamaikan mereka, namun tidak satu pun yang berhasil. Bahkan Arung Palakka telah mengambil keputusan bahwa Todani Arung Bakke harus disingkirkan. Upaya Arung Palakka untuk menyingkirkan Todani Arung Bakke, sangat mengkhawatirkan Kompeni sebab kedua-duanya adalah sahabat bagi Kompeni. 

Arung Palakka sudah memutuskan bahwa Todani Arung Bakke telah menyalahi aturan sebab melakukan hubungan langsung dengan Kompeni tanpa sepengetahuan Arung Palakka. Selain itu Todani Arung Bakke juga mengklaim beberapa wilayah sebagai kekuasaannya, padahal penguasa wilayah yang dimaksud tidak mau mengakuinya. Juga termasuk penyebab keretakan hubungan keduanya sebab Todani Arung Bakke menceraikan istrinya yang bernama We Kacimpurung yang tak lain adalah saudara perempuan Arung Palakka.

Penghukuman terhadap Todani Arung Bakke dilakukan oleh Arung Palakka bersama sekutunya. Karena tidak dapat menahan gencarnya serangan Arung Palakka, Todani Arung Bakke melarikan diri ke Mandar untuk meminta perlindungan dari raja Mandar, tetapi itu ditolak sebab takut murka Arung Palakka. Itulah sebabnya Todani Arung Bakke diantar ke Makassar oleh pasukan Mandar untuk mendapat perlindungan dari Kompeni. Di tengah perjalanan mereka singgah di Pulau Salemo karena cuaca buruk sehingga perjalanan tidap dapat dilanjutkan.Ketika mereka sandar, tiba-tiba pasukan Wajo dipimpin oleh Tobutu menyerang Todani Arung Bakke. Meski melakukan perlawanan, tetapi akhirnya beliau meninggal dunia, begitu juga dengan salah seorang anaknya. Kepalanya dipenggal dan dibawa menghadap kepala Arung Palakka. Setelah itu dikembalikan ke Pulau Salemo untuk dikuburkan selayaknya.

Buku IRONI SANG PEMBEBAS: Todani Arung Bakke vs Arung Palakka membahas dua tokoh utama dulunya bersahabat dan memiliki hubungan kekerabatan yang sangat dekat, yaitu Todani Arung Bakke kawin dengan saudara perempuan Arung Palakka yang bernama We Kacimpurung. Hingga ketika keduanya mencapai puncak karier politiknya, dan akhirnya berhadap-hadapan sebagai musuh. Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan, yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar.


IRONI SANG PEMBEBAS: Todani Arung Bakke vs Arung Palakka 
Penulis: Syahrir Kila
Penerbit: Balai Pelestarian Nilai Budaya dengan Penerbitan Arus Timur
Tahun Terbit: 2014
ISBN: 978-602-9057-88-1

January 24, 2022

SEJARAH DAN PERJUANGAN LA MADDUKELLENG 1700 - 1765


Petta La Maddukelleng hidup antara tahun 1700-1765. Menjadi Arung Matowa Wajo ke 31 (1736-1754). Beliau dilahirkan di Peneki Tahun 1700 dari Petta La Mataesso, Arung Peneki (ayahnya) dan Petta We Tenriangka Da Dukkelleng Arung Singkang (ibunya).

La Maddukelleng adalah turunan dari La Tenri Bali Batara Wajo pertama. La Tiringeng To Taba Arung Saotanre yang merumuskan hak kemerdekaan orang Wajo sbb: Maradeka Towajo'e Najajiang Alena Maradeka Tanaemmi ala Naiya Tau Makketanae Maradeka Maneng Ade Assamaturusennami Napopuang, La Tadampare Puang Ri Maggalatung Arung Matowa Wajo IV (1491-1521), yang paling terkenal ahli strategi pemerintahan, ahli hukum dan ahli pertanian. Beliau juga merumuskan kalimat motivasi kerja berikut "aja muffabbiasai alemu pogaau gau tekke tujung nasaba lele bulu tellele abbiasang, atinuluko mappalaung resopatu natinulu natemmangngi namalomo naletei pammase dewata".

Kira-kira tahun 1714 Petta La Maddukelleng meninggalkan Wajo karena huru hara dalam sabung ayam di Cenrana Bone, dimana ayam Arung Matowa Wajo La Selewangeng To Tenrirua mengalahkan ayam Punggawa Bone. Terjadi perselisihan antara orang Bone dan orang Wajo, orang Bone meninggal adalah 19 orang dan pihak Wajo adalah 15 orang.

Sebelum Petta La Maddukelleng meninggalkan Wajo ia dikawinkan dengan We Pennomatanna Arung Patila, terlebih dahulu dalam keadaan mengidam ia harus meninggalkan istrinya setelah lebih dahulu menghadap Arung Matowa Wajo. Lalu menyampaikan dalam pertemuan tersebut Petta La Maddukelleng menyampaikan bekalnya nanti di perantauan adalah:

  • Ketajaman lidahnya (kemampuan berdiplomasi)
  • Ketajaman Badiknya (kemampuan berperang)
  • Politik perkawinan

Pada permulaan tahun 1736, datanglah Arung Ta La Dallek yang membawa surat Arung Matowa Wajo La Salewangeng To Tenriruwa yang isinya memanggil Petta La Maddukelleng untuk kembali ke Wajo guna memederakan Wajo dari penjajahan Belanda (VOC) dan sekutu-sekutunya.

Menurut penelitian bahwa Peta La Maddukelleng adalah satu-satunya tokoh pejuang Sulawesi Selatan yang tidak mau kerjasama dengan VOC. La Maddukelleng adalah tokoh pejuang yang unik yang dapat mengalahkan Armada VOC, walaupun cukup terlatih dan terkoordinir dengan baik. Kemenangan La Maddukelleng dengan beberapa peperangan di motivasi oleh nilai budaya SIRI dan PESSE.

Beberapa kawan-kawan seperjuangan La Maddukelleng, Sultan Kutai Aji Muhammad Idris yang paling memahami pandangan dan tujuan La Maddukelleng, yaitu menghentikan dominasi kekuasaan orang-orang Barat, khususnya Belanda.

Sultan Kutai Aji Muhammad Idris mengorbankan negaranya, Kutai dan meninggalkan anak, istri dan keluarga untuk pergi membantu mertuanya La Maddukelleng guna mengusir penjajah asing. Bukti lain ketika mayoritas pasukan Tellumpoccoe menolak untuk pergi ke Makassar guna berperang hanyalah Aji Muhammad Idris yang mendukung La Maddukelleng.

Buku SEJARAH DAN PERJUANGAN LA MADDUKELLENG 1700 - 1765 membahas tentang perjuangan La Maddukelleng untuk membebaskan bumi Wajo pada khususnya Sulawesi Selatan pada umumnya, yaitu mampu menggalang kekuatan mempersatukan Sulawesi, mempersatukan visi dengan tekad tidak boleh ada campur tangan dengan VOC, mengenai perdagangan di Nusantara. Juga memberi teguran dan hukuman kepada semua kerajaan yang dianggap bersekutu atau kerja sama dengan pihak VOC. Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar.


SEJARAH DAN PERJUANGAN LA MADDUKELLENG 1700 - 1765
ARUNG MATOA-SULTAN PASIR

Penulis: H. Siardin Andi Djemma, Sudirman Sabang





HUBUNGAN KERAJAAN SUPPA DAN BONE

Hubungan antara Kerajaan Suppa dengan Kerajaan Bone sudah terjalin sejak masa pemerintahan raja Bone Arung Palakka MalampeE Gemme'na ( 1671-1696). Hubungan itu terjadi dalam dua bentuk yaitu hubungan darah atau kekeluargaan dan hubungan politik. Hubungan darah atau kekerabatan dapat ditelusuri melalui silsilah pada kedua kerajaan tersebut. Namun yang begitu nampak adalah hubungan yang terjadi pada dua periode pemerintahan raja yang berkuasa yaitu pada masa pemerintahan We Pancaitana Besse Kajuara dan masa pemerintahan La Tenrisukki Andi Mappanyukki. 

Hubungan darah beberapa kerajaan di Sulawesi Selatan, khususnya antara kerajaan Limae Ajatappareng (Suppa), khususnya terjadi setelah usai Perang Makassar. Hubungan kekerabatan antara Suppa dengan Kerajaan Bone terjadi disebabkan Kerajaan Bone ketika itu muncul sebagai satu-satunya kerajaan yang memegang peranan politik yang sangat penting. Peranan politik yang begitu penting menyebabkan raja-raja dari beberapa kerajaan di Sulawesi Selatan melakukan perkawinan dengan bangsawan atau bahkan raja dari Kerajaan Bone. Setelah perkawinan dilakukan secara nyata juga terjadi hubungan politik yang sulit untuk dipisahkan. Jadi perkawinan antara bangsawan adalah sebenarnya bertujuan untuk memperkuat kedudukan kekuasaan dan memperkuat hubungan saudara antara satu dengan lainnya.

Di Suppa, hubungan perkawinan dengan bangsawan Bone yang pertama dimulai oleh Arung Bakke To Dani (1677-1681) yang ketika itu berkuasa pada lima kerajaan di Ajatappareng yaitu; Suppa, Sawitto, Sidenreng, Rappang dan Alitta. Beliau kawin dengan saudara kandung Arung Palakka yang bernama We Kacimpurung. Perkawinan ini direstui oleh Arung Palakka dan beliau sendiri yang mengawinkannya. Namun sayang bahwa perkawinan ini tidak langgeng sebab ia kemudian diceraikan oleh Arung Bakke To Dani karena ia tidak mempunyai anak. Mungkin juga itu yang menjadi salah satu alasan Arung Palakka membunuh Arung Bakke Todani selain karena alasan pembangkangan yang telah dilakukan terhadap diri Arung Palakka.

Hubungan kekerabatan yang dimulai pada masa pemerintahan Todani tersebut, tidak berhenti sampai pada masa itu saja. Bahkan lebih banyak kawin mawin yang terjadi pasca pemerintahan Todani, misalnya hubungan perkawinan yang terjadi pada masa pemerintahan raja Bone ke-22 yang bernama La Temmasonge (1749-1775). Raja inilah yang disebut sebagai bapak dari sejumlah raja-raja di Sulawesi Selatan, sebab hubungannya menunjukkan bahwa pertalian keluarga, hubungan kekerabatan dan persatuan antar kerajaan sangat nampak terjadi dari anak keturunannya. 

Hubungan sangat menonjol antara Kerajaan Suppa dan Kerajaan Bone terjadi pada masa pemerintahan We Tenriawaru Pancaitana Besse Kajuara, raja Bone ke-27 (1857-1859). Pertama kali diangkat menjadi raja di Bone, dan setelah turun dari tahta Kerajaan Bone, maka ia pergi ke Suppa dan di sana kemudian diangkat menjadi Datu Suppa yang ke-20. Ia berhak menduduki tahta di Kerajaan Suppa sebab orang tuanya adalah bangsawan dari kerajaan itu. Sedang ia menduduki tahta Kerajaan Bone sebab ia menggantikan mendiang suaminya raja Bone ke-26 yang bernama La Parenrengi Arumpugi. Dua tahta kerajaan yang diduduki dalam waktu yang tidak terputus, yaitu turun dari tahta Kerajaan Bone, kemudian diangkat lagi menjadi Datu di Suppa tahun 1862.

Yang lebih menarik ada dua raja yakni Besse Kajuara dan Andi Mappanyukki, pernah menjadi raja pada dua kerajaan yang sama yaitu Kerajaan Bone dan Kerajaan Suppa. Besse Kajuara menjadi raja di Kerajaan Suppa setelah beliau meninggalkan Kerajaan Bone sebab tidak mampu bertahan melawan Belanda. We Pancaitana Besse Kajuara adalah raja Bone yang ke-27 dan Datu Suppa ke-20. Dan Andi Mappanyukki juga pernah menduduki tahta kerajaan Suppa tahun 1901-1905 sebagai Datu Suppa dan kemudian ditangkap 1905 dan diasingkan Belanda hingga tahun 1910. Beberapa tahun kemudian beliau diangkat lagi menjadi raja Bone yang ke-31 (1931-1946). Beliau juga diangkat menjadi Bupati Bone yang pertama dan sekaligus sebagai raja Bone untuk ketiga kalinya.

Buku HUBUNGAN KERAJAAN SUPPA DAN BONE berusaha mendeskripsikan hubungan antara Kerajaan Suppa dan Kerajaan Bone. Bentuk hubungan antara keduanya adalah hubungan kekeluargaan atau kerabat dan hubungan politik. Hubungan kekerabatan yang menjadi fokus utama dalam kajian ini dimulai pada masa pemerintahan Datu Suppa We Pancaitana Besse Kajuara dan berakhir pada masa pemerintahan Datu Suppa Andi Mappanyukki. Kedua ini masing-masing pernah berkuasa pada dua kerajaan untuk waktu yang berbeda. Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar.


HUBUNGAN KERAJAAN SUPPA DAN BONE 
Penulis: Syahrir Kila
Editor: Abd. Larif
Penerbit: Balai Pelestarian Nilai Budaya Makassar dengan de la macca
Tempat Penerbit: Makassar
Tahun Terbit: 2013
ISBN: 978-602-263-037-1


KERAJAAN BONE: PENUH PERGOLAKAN HEROIK


Imperium Bone yang lahir di Pesisir Teluk Bone tahun 1330 M, tampaknya terdiskriminasikah oleh para sejarawan Indonesia abad ke-20 karena Arung Palakka bersekutu dengan Cornelis Speelman, Kapten Jonker "Petempur maniak asal Ambon" dan tokoh legendaris VOC abad ke-17 Sehingga, Imperium Bone dipandang sebelah mata. Padahal, kedua tokoh sejarah tersebut bersekutu atas dasar senasib.

Tokoh paling menonjol dari Kerajaan Bone atas kesuksesan memerdekakan bangsanya dari tekanan Kerajaan Gowa-Tallo, ialah Arung Palakka (Aru Palakka)”, yang notabene di kenal sebagai musuh bebuyutan Sultan Hasanuddin. 

Arung Palakka adalah putera mahkota yang ditawan Imperium Gowa-Tallo. Dia tidak betah menghadapi kenyataan, sehingga menyusun pemberontakan. Kegagalan, memaksanya melarikan diri ke Buton. Yang kemudian, skuadron angkatan laut VOC membawanya ke Batavia. Di sanalah, Arung Palakka dan Cornelis Speelman bertemu. Perasaan senasib membuat mereka dapat berteman baik, bertukar pikiran, dan saling mendukung.

Barulah pada raja ke-25, We Maniratu Arung Data/ I Mani Arung Data (1823-1835), persekutuan antara Bone dan Belanda tampaknya tidak menarik lagi. Pada waktu itu, Belanda baru kembali ke Makassar yang sempat diduduki Inggris. Tentunya sangat menyenangkan dapat kembali menghuni Benteng Rotterdam, dan dengan serta-merta Belanda merasa harus segera memperbarui isi perjanjian Bongaya. Tapi usul yang brilian itu –yang bertujuan untuk melanggengkan persekutuan yang dirintis leluhur Belanda (Speelman) ) dan Leluhur Bone (Arung Palakka), ditolak mentah-mentah oleh Arung Data. Di balik itu, dia pun sudah berintiku dengan Raja Gowa untuk—ada baiknya, menyudahi permusuhan leluhur mereka.

Arung Data, meskipun seorang wanita tetapi punya keberanian melebihi laki-laki. Dia dengan penuh semangat memimpin pasukannya -yang terdiri dari persekutuan kerajaan-kerajaan lain, menuju medan pertempuran. Dia bersumpah tidak mengizinkan orang Belanda yang rakus itu mengotori tanah Bone. Namun, dalam berkali-kali perlawanan yang melelahkan akhirnya dia terdesak, dan meninggal (pada usia 59 tahun) sebelum perang usai.

Kemudian, perlawanan itu harus dia wariskan kepada saudaranya, La Mappaseling Arung Pannyili (1835-1845). Sayang sekali, La Mappaseling Arung Pannyili tidak menyukai perang dan memilih negosiasi dengan Belanda. Barulah pada masa akhir kekuasaan raja ke-31, La Pawawoi Karaeng Sigeri (1895-1905) perlawanan kembali meletus. Tetapi, lagi-lagi berakhir buruk. La Pawawoi Karaeng Sigeri sudah terlalu tua untuk menjabat raja, jadi ketika mendapati panglima besar Baso Pagilingi –anaknya sendiri, tewas, menurutnya tak ada lagi yang bisa diharapkan. Kemudian oleh Belanda, raja tua itu diasingkan ke sebuah penjara di Bandung, lalu dipindahkan ke penjara Batavia.

La Pawawoi Karaeng Sigeri menjalani hari-hari melankolis penuh derita batin dalam udara pengap khas penjara Kompeni. Hidupnya berjalan lamban karena kesepian menahun, dan kematian baru mengeluarkannya dari tembok penjara; pada 11 November 1911.

Buku KERAJAAN BONE: PENUH PERGOLAKAN HEROIK memberikan catatan bahwa perang melawan Gowa-Tallo menarik karena bertemunya Arug Palakka dan Sultan Hasanuddin; serta Kapten Jonker, si petempur gigih asal Ambon. Kerajaan Bone memang dikenal sebagai kerajaan yang penuh dengan pergolakan. Melalui buku ini, masyarakat Indonesia pada abad ini diajak untuk lebih berpikir objektif bahwa segala sesuatu memiliki sebab-akibat.


KERAJAAN BONE: PENUH PERGOLAKAN HEROIK
Penulis: H.L. Purnama
Penerbit: Arus Timur
Tempat Terbit: Makassar
ISBN: 978-802-9057-71-3

UNGKAPAN DAN PERIBAHASA MAKASSAR


OLOK-OLOK JEKNEK

Artinya: ulat-ulat air

Maksudnya: (1) Sindiran kepada orang yang tidak percaya atas kemampuan diri sendiri, (2) mudah dipengaruhi oleh keadaan (ikut-ikutan)

MANNA KALUARAYA PUNNA NI ONJOK ANNGOKKOK TONJI

Artinya: biar semut kalau diinjak akan menggigit juga

Maksudnya: serendah-rendahnya seseorang jika terlalu dihina akan melawan juga

TAU TAKKULLE NI TAKGALAK ULU KANANNA

Artinya : orang tidak dapat dipegang pangkal bicaranya

Maksudnya: pembohong

PANRAKMI NYAWAKU

Artinya: sudah rusak nyawaku

Maksudnya: sakit hati yang tidak mungkin terobati lagi.

LILAYA MATARANGANGI NA PAKDANGA

Artinya: lidah tidak bertulang

Maksudnya: (1) lidah dapat memutarbalikkan bicara (2) peringatan agar berhati-hati mengucapkan perkataan

Beberapa contoh ungkapan dan peribahasa Makassar yang tidak dapat dipisahkan dengan norma atau kaidah yang mengilhami tata kehidupan. Ungkapan dan peribahasa ini digunakan dalam kehidupan, baik dalam lingkungan rumah tangga maupun dalam lingkungan masyarakatnya.

Buku  UNGKAPAN DAN PERIBAHASA MAKASSAR berisi 1065 buah yang dipetik dari beberapa naskah di samping ungkapan dan peribahasa lainnya diperoleh melalui instrumen penerlitian serta wawancara dengan tokoh-tokoh adat dan pemuka masyarakat, dalam rangka penyelamatan, pembinaan dan pengembangan unsur budaya daerah secara langsung atau tidak langsung unsur budaya bangsa. Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar.


UNGKAPAN DAN PERIBAHASA MAKASSAR
Penyusun: Zainuddin Hakim, Muhammad Sikki, J.S. Sande, et.al
Penerbit: Balai Penelitian Bahasa
Tempat Terbit: Ujung Pandang
Tahun Terbit: 1985


January 21, 2022

BUDAYA DAN RANTAU BUGIS MAKASSAR: SUB KAJIAN ETNIS SELAYAR

Suku Bugis Makassar terkenal pula sebagai suku pelaut yang berlayar menuju berbagai arah di nusantara bahkan ke Siam dan Kamboja. Sering kali ditemukan diaspora Bugis Makassar terdapat di berbagai pulau di nusantara seperti pesisir timur pulau Sumatra, Pesisir Kalimantan Barat, Riau dan pulau-pulau semenanjung Malaysia. Suku Bugis Makassar ditemukan pula di pesisir utara Jawa Timur ke arah timur seperti Bali, Bima dan Sumbawa, bahkan pulau-pulau di sebelah timur nusantara. Perantauan ini berlangsung hingga sekarang

Subetnik Selayar sebagai bagian dari Suku Bugis Makassar melakukan serangkaian rantau dan migrasi pula. Diaspora subetnik Selayar dapat ditemukan di Jambi, Pulau Batam hingga Pulau Maumere di Nusa Tenggara, Buton dan Wotu. Posisi geografis Pulau Selayar sebagai carrefour yang menghubungkan bagian Barat dan Timur nusantara, bagian Utara dan Selatan Nusantara, menyebabkan penduduknya terbuka terhadap pelayaran dari luar. Keberadaan negara terbesar di nusantara yang menurut berbagai sumber berasal dari Vietnam membuktikan hal tersebut.

Rantau dan migrasi terjadi disebabkan faktor internal dan eksternal. Faktor internal adalah daya dorong yang menyebabkan penduduk keluar dari daerah asalnya, misalnya adanya konflik sosial, perang antar suku dan wabah penyakit. Faktor eksternal adalah faktor penarik yang menyebabkan perantau datang ke wilayah tertentu. Ini biasanya berkaitan dengan kesejahteraan dan ekonomi sebagai kebutuhan dasar manusia.

Orang-orang Selayar merantau ke Sulawesi tengah dalam rangkaian dengan faktor-faktor eksternal, yaitu ekonomi dan kesejahteraan. Mereka, sebagaimana suku Bugis Makassar pada umumnya, membuktikan diri sanggup bertahan dan memiliki daya adaptasi yang baik berhadapan dengan suku-suku lainnya, termasuk dengan penduduk asli. Mereka membawa budaya, adat istiadat termasuk aliran kepercayaan di tanah leluhur. Banyak di antara mereka yang memegang peranan penting di pemerintahan dan sektor perekonomian. 

Muhammadiyah adalah perserikatan yang tumbuh dan berkembang di Pulau Selayar sejak awal abad ke-20. Pengaruh Muhammadiyah ikut terbawa dalam perantauan. Ini berbeda dengan Muhdi Akbar, suatu sekte keagamaan pra Islam di Selayar. Sekte ini tidak banyak terbawa keluar Selayar. Penganut sekte tersebut kebanyakan tetap di Selayar, tepatnya Pulau Selayar bagian selatan. Ini dapat dipahami sebab Muhammadiyah adalah mayoritas di Selayar, sementara penganut agama lain, termasuk sekte Muhdi Akbar tidak terlalu banyak lagi.

Tidak ada perubahan yang berarti pada segi-segi kehidupan kebudayaan masyarakat Selayar di rantau. Khusus rantau di Sulawesi Tengah dicatat bahwa ada persamaan linguistik, walau sedikit, antara bahasa Selayar dengan bahasa Kaili, suku asli. Ini dapat dipahami dengan posisi Pulau Selayar yang terletak di bagian tengah nusantara dalam kaitan dengan eksistensi dan aktivitas kerajaan luwuq kuno. Kerajaan Luwuq kuno memiliki wilayah yang terbentang dari wilayah Poso dan Palopo sekarang. Aktivitas kerajaan keluar, baik menuju Barat maupun Timur niscaya melewati Pulau Selayar di sebelah selatan. Itulah sebabnya terdapat tingkat persamaan bahasa antara bahasa Suku Kaili, Bahasa Selayar dan bahkan bahasa Buton di tenggara.

Buku BUDAYA DAN RANTAU BUGIS MAKASSAR: SUB KAJIAN ETNIS SELAYAR membahas tentang adat dan kehadiran, logos dan moral, religi sosial dan sistem kekerabatan, rantau dan migrasi serta rantau masyarakat Selayar. Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar.


BUDAYA DAN RANTAU BUGIS MAKASSAR: SUB KAJIAN ETNIS SELAYAR
Penulis: Mardi Adi Armin
Penerbit: Unhas Press
Tempat Terbit: Makassar
Tahun Terbit: 2019
ISBN: 978-979-530-211-7

January 20, 2022

TEKNOLOGI PEMBUATAN MINYAK KELAPA SECARA TRADISIONAL DI DARAH MAJENE DAN SELAYAR


Pembuatan minyak kelapa di Daerah Majene dan Selayar merupakan salah satu bentuk tahnik industri tradisional, dengan peralatannya yang sederhana sampai sekarang masih tetap berfungsi dalam kehidupan masyarakat. Pembuatan tersebut merupakan warisan budaya bangsa yang mempunyai arti penting dan positif dalam menunjang kehidupan masyarakat.

Peralatan yang digunakan dalam proses pengolahan minyak kelapa di daerah Majene dan Selayar pada dasarnya sama. Hanya saja dalam hal penanaman terdapat perbedaan sesuai dengan bahasa dari penduduk daerah tersebut. Berikut pembuatan minyak kelapa secara tradisional di Majene dan Selayar menggunakan:

  • Bahan baku pembuatan minyak kelapa adalah kelapa yang sudah tua.
  • Peralatan yang digunakan: 
  1. Kobi (Majene) atau berang (Selayar) yaitu parang
  2. Pappulana/passukkeang (Majene) atau pakkeke (Selayar) yang artinya alat pembuka
  3. Passisi (Majene) atau kandao (Selayar) artinya pencungkil, yang berfungsi untuk mencungkil daging kelapa dari tempurungnya
  4. Paruk anjoro yaitu parut kelapa
  5. Akdi-akdi (Majene) atau kukkusan dan lanjuk (Selayar) yaitu semacam kukusan nasi
  6. Paeppeang (Majene) merupakan alat penjepit atau pres
  7. Katowang (Majene) atau talle (Selayar) yaitu tempayang yang terbuat dari tanah liat, sejenis keramik lokal atau gerabah
  8. Kawali (Majene), kahali atau pammaja (Selayar) yaitu kuali
  9. Pigaru minynyak (Majene), sulang-sulang atau sudek (Selayar), digunakan untuk mengaduk santan yang sedang di masak di dalam kuali.
  10. Kaddaro/Parrobaang (Majene) berfungsi untuk memisahkan dan mengeluarkan air dari larutan santtan kental yang telah dipanaskan.
  11. Pesau atau sanru (Majene), sedangkan di Selayar hanya dikenal dengan nama sanru. Alat ini digunakan untuk mengeluarkan air dari kaddaro/parrobaang.
  12. Kalobe atau bila fungsinya untuk ditempati minyak yang sudah jadi.
  13. Paccolo (Majene) atau tombolo (Selayar) fungsinya untuk memasukkan minyak ke tempat yang mulutnya agak kecil, seperti: bila atau kalobe dan botol.
  14. Tungku dan bahan bakar.
Adapun proses pengolahan minyak kelapa di Majene dan Selayar melalui tahapan persiapan, tahapan pengolahan, tahapan penyelesaian. 

Dalam kehidupan masyarakat Sulawesi Selatan, terutama di daerah Majene dan Selayar, minyak kelapa mempunyai manfaat, antara lain sebagai berikut : 
  • Untuk keperluan rumah tangga, yaitu sebagai minyak goreng.
  • Bahan dagangan, yaitu dijual atau dipertukarkan untuk memenuhi kebutuhan hidup yang lain dari produsen.
  • Ampas minyak kelapa enak dimakan, gurih dan manis.
  • "Sebagai bahan ramuan obat". 
  • Air yang dikeluarkan dari santan kental yang di masak enak di minum.
  • Bahan baku industri seperti; untuk pembuatan sabun, mentega, kosmetik, bahan pelumas, pembuatan karet sintesis dan lain-lain sebagainya.
Buku TEKNOLOGI PEMBUATAN MINYAK KELAPA SECARA TRADISIONAL DI DARAH MAJENE DAN SELAYAR untuk mengetahui pembuatan minyak kelapa secara tradisional, walaupun prosesnya masih sederhana dan hasil produksinya terbatas. Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar.



TEKNOLOGI PEMBUATAN MINYAK KELAPA SECARA TRADISIONAL 
DI DARAH MAJENE DAN SELAYAR
Penulis: Harum Kadir, Mulyati Tahir, H. Rukmini, et.al
Penerbit: Proyek Pengembangan Permuseuman Sulawesi Selatan
Tempat Terbit: Ujung Pandang
Tahun Terbit: 1986

 

SEJARAH MAMUJU

Budaya orang Mandar yang hidup dan menetap di daerah Mamuju, hampir sama dengan budaya orang Mandar pada umumnya. Memang kalau diperhatikan dengan seksama nampak adanya sedikit perbedaan Perbedaan itu terlihat pada bahasa karena memang daerah ini terdapat beberapa bahasa yang dipakai oleh masyarakat. Mungkin hal ini dipengaruhi oleh budaya lain karena daerah ini sejak dahulu merupakan daerah tujuan transmigrasi, baik lokal maupun nasional. 

Kerajaan Tapalang dan Kerajaan Mamuju serta beberapa kerajaan kecil lainnya yang dulu berdiri sendiri dan berdaulat penuh, kini hanya menjadi bagian kecamatan dari Kabupaten Mamuju dengan status kecamatan. Cikal bakal berdirinya daerah Mamuju ini adalah berasal dari kerajaan-kerajaan yang pernah eksis daerah ini ketika itu.

Perkembangan sistem pemerintahan daerah Mamuju mengalami perubahan sesuai dengan perkembangannya. Pada jaman kerajaan, daerah ini menganut sistem pemerintahan kerajaan, yaitu yang dapat memerintah (menjadi mara'dia) hanya golongan bangsawan tertentu saja. Pada masa kekuasaan Belanda, maka sistem pemerintahan yang berlaku adalah sistem pemerintahan Belanda. Segala sesuatunya diatur oleh orang Belanda sekalipun kenyataannya, mara’dia masih tetap ada, namun fungsinya hanya sebagai perpanjangan tangan Belanda. 

Pada masa kemerdekaan, terutama sejak terbentuknya kabupaten di seluruh Indonesia, maka sistem pemerintahan yang berlaku adalah sistem pemerintahan Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar. Pada awal kemerdekaan, kondisi Daerah Mamuju sangat memprihatinkan karena:

  • Tahun 1945-1948, Mandar mendapat giliran aksi polisional polisi Belanda. Banyak orang dibunuh tanpa sebab, termasuk bangsawan dan mara’dia, bukan hanya itu, Belanda pun melakukan pembakaran rumah-rumah penduduk.
  • Tahun 1951 – 1957, Kahar Muzakkar masuk hutan lalu membentuk DI/TII dan menjadikan daerah Mandar, termasuk Mamuju sebagai basis perjuangannya dan menjadikannya sebagai daerah tertutup. Akibatnya, daerah ini berantakan karena mereka melakukan membumihanguskan rata dengan tanah. Penduduk pergi meninggalkan daerahnya sehingga Mamuju menjadi hutan semak belukar, karena kosong kurang lebih dua tahun.
  • Tahun 1959, bekas Kerajaan Mamuju dan Tappalang beralih menjadi Daerah Tingkat II berdasarkan Undang-Undang No. 29 Tahun 1959 atau 14 tahun setelah di proklamirkannya kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 1945. Kabupaten Mamuju ketika itu baru terdiri atas enam kecamatan yang disesuaikan dengan jumlah distrik ketika itu. Tahun 1966, daerah ini barulah dinyatakan sebagai daerah yang bebas dari gangguan gerombolan DI/TII setelah pimpinan terakhir menyatakan bergabung dengan Republik Indonesia. 
  • Kini Kabupaten Mamuju menjadi ibukota Provinsi Sulawesi Barat dan telah dimekarkan menjadi dua kabupaten, yaitu Kabupaten Mamuju dan Kabupaten Mamuju Utara.
Buku SEJARAH MAMUJU DARI KERAJAAN SAMPAI KABUPATEN memberikan gambaran kesejarahan menyangkut daerah Mamuju dari masa Tomanurung hingga terbentuknya Kabupaten Daerah Tingkat II Mamuju, guna menambah penambah pengetahuan sejarah lokal. Buku ini merupakan salah satu koleksi layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar.



SEJARAH MAMUJU DARI KERAJAAN SAMPAI KABUPATEN
Penulis: Syahrir Kila
Editor: Muhammad Amir
Penerbit: BPSNT
Tempat Terbit: Makassar
Tahun Terbit: 2010
ISBN: 978-602-96815-2-9

January 19, 2022

SEJARAH SINGKAT MENGENAI KRAMIK ASING DI SULAWESI SELATAN


Di Sulawesi Selatan banyak ditemukan keramik asing yang bermacam-macam jenis dan bentuknya. Boleh dikatakan hampir tiap daerah sampai ke pelosok jauh ke pedalaman dan bahkan tidak jarang pula ditemukan di atas bukit dan lereng gunung. Juga ditepi-tepi sungai dekat pantai, di dalam gua-gua dan bahkan ada ditemukan di dasar laut.

Dari sejumlahlah tempat-tempat penemuan tersebut pada umumnya di daerah yang dulu adalah merupakan daerah pelabuhan atau bandar dimasa lampau yang tentunya pula daerah tersebut ada kemungkinan pula merupakan bekas tempat berdirinya suatu kerajaan yang merupakan pula daerah pusat kegiatan perdagangan ketika itu,

Selain dari itu diduga bahwa tempat di mana ditemukan keramik asing itu adalah bekas-bekas perkampungan tua atau bekas kuburan ataupun merupakan tempat penyimpanan harta sekelompok keluarga ketika akan meninggalkan tempat itu karena mungkin selalu terganggu dari serangan sekelompok perampok yang ingin menguasai daerah itu, sehingga sebagian keramik asing miliknya yang tidak sempat lagi dibawa pergi terpaksa ditanam dalam sebuah lubang penyimpanan dengan memberikan tanda-tanda di sekitarnya seperti batu atau jenis pohon yang bisa tumbuh dan berumur panjang misalnya pohon beringin.

Dahulu penemuan keramik asing di Sulawesi Selatan biasanya ditemukan secara tidak senjang dan biasanya pada saat penggalian sumur, membajak sawah atau kebun, lubang, dan sebagainya.

Daerah-daerah bekas penemuan oleh para pencari keramik asing didatangi kemudian digali bersama oleh penduduk di sekitar itu secara sembunyi-sembunyi untuk tidak diketahui bahkan banyak penduduk yang sering menjadi cukong, barang antik untuk digali dengan pembayaran lumayan menurut nilai hasil dari kampung itu,

Sebagai akibat beban lokasi penggalian keramik asing di Sulawesi Selatan yang sudah mengalami kehancuran tanpa suatu pendokumentasian yang tentunya menyulitkan para ahli purbakala di dalam melakukan penelitian di daerah tersebut dan ini hampir ditemukan pada setiap kabupaten di Sulawesi Selatan,

Lokasi di mana pernah ditemukan keramik asing maka sebagai tanda bukti di sekitar tempat tersebut, banyak ditemukan pecahan dari berbagai jenis keramik asing tersebut. Selain dari pada itu daerah pesisir pantai atau daerah bekas pelabuhan di Sulawesi Selatan banyak ditemukan keramik asing, maka tidak jarang pula ditemukan di pulau-pulau sekitarnya, seperti pulau Selayar. Ini mungkin karena letaknya yang berada pada ujung selatan pulau Sulawesi, sebagai tempat persinggahan para pedagang dimasa lampau baik yang berasal dari Eropa maupun dari Asia yang akan pergi ke Maluku untuk membeli rempah-rempah.

Oleh karena itu tidaklah heran apabila Pulau Selayar merupakan daerah transit menanti cuaca dan menambah perbekalan tentu pula barang-barang dagangan yang sebagian terdiri dari keramik-keramik asing banyak pula dibongkar dan dijual.

Dari daerah inilah keramik asing tersebut oleh para pedagang yang berdiam di pedalaman Sulawesi Selatan membeli dan mengadakan hubungan dagang dengan para pedagang yang mendiani pesisir pantai. Sesuai dengan watak orang Bugis Makassar yang tidak mau dikalah dengan selalu menjaga prestise harga diri maka ia pun berusaha membeli keramik asing yang mempunyai nilai tinggi karena ia tidak mau kalah dengan para penduduk yang mendiami pesisir pantai dan memilik keramik asing sehingga sampai sekarang terbukti bahwa keramik asing tersebut tersebar sampai ke pedalaman Sulawesi Selatan. 

Ada beberapa turunan raja-raja yang masih menyimpan keramik asing sebagai benda kerajaan yang digunakan dalam keluarga sebagai barang yang memegang peranan pada upacara-upacara adat, misalnya dalam pesta penyunatan, potong rambut, perkawinan dalam lingkungan raja dan sebagainya.

Buku SEJARAH SINGKAT MENGENAI KRAMIK ASING DI SULAWESI SELATAN membahas tentang pentingnya masalah keramik asing diungkapkan, lokasi-lokasi tempat penemuan keramik asing di Sulawesi Selatan, persebaran keramik asing di Sulawesi Selatan, Ornamen dan pengaruhnya terhadap keramik lokal, pengaruh keramik asing terdapat faktor sosial budaya Sulawesi Selatan serta jenis keramik yang ditemukan di Sulawesi Selatan.


SEJARAH SINGKAT MENGENAI KRAMIK ASING DI SULAWESI SELATAN
Penerbit: Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Provinsi Sulawesi Selatan
Tahun Terbit: 1981

January 18, 2022

PERUBAHAN NILAI UPACARA TRADISIONAL PADA MASYARAKAT MAKASSAR

Masyarakat Makassar di Kecamatan Somba Opu masih percaya bahwa kekuatan roh-roh leluhur mereka dapat memelihara dan memberi perlindungan terhadap kehidupannya dari bentuk gangguan yang bersumber dari alam lingkungannya. Karena itu, mereka selalu berharap agar dapat menciptakan keserasian, keselarasan dan harmonisasi melalui kegiatan upacara lingkaran hidup dengan mempersembahkan berupa “sesajian”. Selain itu juga dipercayai adanya kekuatan-kekuatan gaib yang sewaktu-waktu dapat mengganggu kehidupan masyarakat. Karena itu, setiap ritus-ritus yang mereka lakukan selalu dihubungkan dengan peristiwa-peristiwa dalam lingkaran hidupnya sehingga diharapkan dapat memberikan kebahagiaan dan kesejahteraan di dunia dan akhirat.

Sampai saat sekarang upacara adat yang bersifat imani dengan upacara keagamaan yang bersifat transendental khususnya agama Islam, masih tetap dilakukan oleh masyarakat Makassar khususnya di Kecamatan Somba Opu. Bahkan sepanjang pengamatan keduanya tampak telah terjadi percampuran (sinkretisasi ) satu sama lain, Dikatakan demikian, karena adanya beberapa mantra-mantra yang berkenaan dengan upacara lingkaran hidup (life cycle) terutama dalam isinya, selalu diawali dengan kata Bismillahirrahmanirrahim, dan diakhiri dengan kata Kumpayakum. Upacara lingkaran hidup yang dimaksud:

  • Upacara kehamilan: tahap A'nyampa Sanro. tahap a'bayu Minynya dan tahap A'taruru
  • Upacara Kelahiran: upacara menanti kelahiran, upacara memotong tali pusat
  • Upacara Masa Kanak-kanak: upacara A'paeba (belajar berdiri) dan upacara A'palingka (Mengajar Berjalan)
  • Upacara Sunatan
  • Upacara Perkawinan: Adduta, Appanassa, Passili, A'bubbu, Karontigi, A'nikka, Ba're Le'leng, A'Burumbu dan merias penganting wanita dan pria
  • Upacara Kematian

Kekuatan nilai-nilai kepercayaan yang terkandung di dalam sistim upacara lingkaran hidup diwujudkan oleh masyarakat pada sikap, perilaku dan tata cara berpikirnya dalam interaksi-interaksi sosialnya. Sikap pandangan dan cara berpikir masyarakat di Kecamatan Somba Opu  memandang bahwa bahwa setiap unsur-unsur atau bagian-bagian dalam sistim upacara lingkaran hidup adalah suatu yang penting untuk dilakukan karena dinilai tinggi atau yang utama dalam kehidupannya. Karena itu, diyakini bahwa semakin terlaksananya dengan baik upacara lingkaran hidup yang mereka lakukan, maka dianggap akan memberi keseimbangan yang dinamis dalam kehidupannya. 

Buku PERUBAHAN NILAI UPACARA TRADISIONAL PADA MASYARAKAT MAKASSAR membahas nilai-nilai upacara tradisional telah menjadi patokan dasar tingkah laku telah mengalami pelonggaran. Nilai-nilai upacara lingkaran hidup yang mengalami perubahan antara lain meliputi; tata-tata cara upacara termasuk alat-alat dan bahan-bahan upacara, organisasi pelaksana dan fungsinya. Buku ini merupakan salah satu Koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan, yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar.


PERUBAHAN NILAI UPACARA TRADISIONAL PADA MASYARAKAT MAKASSAR
Penulis: Muh. Yunus Hafid, Munsi Lampe, Ansar Arifin, et.al
Penerbit: Proyek Pengkajian dan Pembinaan Nilai-Nilai Budaya Sulawesi Selatan
Tempat Terbit: Makassar
Tahun Terbit: 2000



January 17, 2022

LAPORAN PENELITIAN SEJARAH DAN NILAI TRADISIONAL SULAWESI SELATAN

Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Ujung Pandang melakukan tugas melaksanakan kajian kesejarahan dan nilai tradisional daerah Sulawesi Selatan yang tercermin dalam sistem sosial, sistem kepercayaan, lingkungan budaya dan tradisi lisan. Buku LAPORAN PENELITIAN SEJARAH DAN NILAI TRADISIONAL SULAWESI SELATAN sebagai salah satu usaha dalam rangka pembinaan dan pengembangan kebudayaan nasional.

Berikut empat laporan hasil penelitian yang di maksud:

  1. Kerajaan Balangnipa-Mandar, oleh Nooteboom C
  2. Sejarah Selayar, oleh Sukirman AR
  3. Perahu Tradisional Sulawesi Selatan, oleh M. Yunus Hafid
  4. Studi tentang Peralatan Industri/Kerajinan di Lingkungan Budaya Masyarkat Toraja, oleh Taufan S. Ma'dika

Kerajaan Balangnipa-Mandar, oleh Nooteboom C

Naskah ini terjemahan dari Nota van toelichting betreffende het Landschap Balangnipa Tijd. LIV 503v- 535, 1912, membahas tentang Kerajaan Balangnipa, mulai dari perbatasan yang terletak di dalam Afdeling Mandar dari Gubernur Selebes dan daerah teluknya kira-kira 2°50' L.S dan 118° 54' B.T. dan 119°20' B.T. dengan luas daerah kira-kira 2000 km² karena pengukuran yang teliti belum dilakukan, dengan asal baik orang-orang Mandar maupun pada orang-orang Toraja terdapat legenda serupa, mengenai asal usul yang sama, lebih mengherankan karena legenda perahu karam juga ditemukan disini, selain itu juga membahas tentang karakter penduduk, perbudakan, pelapisan sosial, bahasa, agama, upacra kelahiran, adat perkawinan, upacara kematian, upacara sunat dan asah gigi, hukum umum, cara hidup, perumahan, musik, keadaan kesehatan, perhitungan waktu, pendidikan dan peperangan. Selain itu juga membahas tentang

  • Susunan dari kerajaan: pembagian, kampung-kampung
  • Keadaan tanah:  iklim. 
  • Kerajinan, pertanian, peternakan, perburuan dan perikanan, perdagangan dan pelayaran
  • Susunan pemerintahan dan sejarahnya: pemerintahan, sejarahnya, penghasilan kepala, kas kerajaan
  • Kontrak-kontrak keterangan-keterangan

Sejarah Kabupaten Selayar, oleh Sukirman AR.

Dalam perkembangan sejarah daerah sejak abad XIII merupakan daerah yang penting dalam lalu lintas perdagangan, terutama sebagai tempat persinggahan kapal-kapal di luar Sulawesi Selatan. Karena kesuburan tanahnya pulau Selayar telah menjadi daerah rebutan antara kerajaan-kerajaan Gowa, Ternate dan sekitarnya sehingga terpecahlah dalam 17 daerah kerajaan kecil yang masing-masing 10 kerajaan berada di daratan dan 7 kerajaan berada di pulau. Mayoritas penduduk terdiri dari etnis Makassar, selebihnya termasuk suku bangsa. Buton, Jawa, Cina, Bima dan lain-lain.

Pada abad XV, di mana Raja Gowa ke IX Daeng Pamate memasukkan daerah Selayar dalam daerah wilayah kekuasaan Gowa. Dari ke tujuh belas kerajaan ini bersahabat dan mengakui daerah mereka adalah bagian dari wilayah Hindia Belanda, setiap kerajaan-kerajaan diperintah oleh seorang raja dengan gelar OPU, dibantu oleh beberapa majelis ada yang berwenang mengangkat dan memberhentikan raja.

Adanya pendamping-pendamping OPU menunjukkan bahwa OPU tidak memerintahkan secara otomatis atau otoriter (obsolut), tetapi melalui musyawarah dan mufakat. Sebelum Balanda memerintahkan secara langsung di Selayar tidak terdapat pendidikan formal. Pewarisan ilmu dari generasi ke generasi dilakukan secara tradisional, kebanyakan dilakukan secara individual. Kebudayaan dan kesenian daerah yang ada hampir seluruhnya meneruskan kesenian lama untuk memenuhi kebutuhan upacara-upacara adat, agama/kepercayaan seperti seni musik dide, seni musik rambang-rambang, tari pakarena, Bullo-Bullo, Patojang, tari Ganrang Bodak. Selain itu juga membahas tentang sejarah perkembangan daerah Selayar serta zaman masuknya bangsa asing hingga terbentuknya Selayar.

Perahu Tradisional Sulawesi Selatan, oleh M. Yunus Hafid
Sistim pembuatan perahu tradisional Sulawesi Selatan khususnya bagi masyarakat Bugis dan Makassar, masih menggunakan teknologi tradisional yang merupakan bagian pengetahuan tradisional masyarakat Bugis dan Makassar.

Sebagian besar para tukang pembuat perahu di Jeneponto dan Bone pada umumnya orang-orang yang berasal dari Desa Arah Kabupaten Bulukumba, yang datang ke tempat pembuatan tersebut, sehingga pengetahuannya tidak banyak beralih kepada penduduk Pallengu dan BajoE.

Sistem pengetahuan yang di miliki dalam pembuatan perahu, masih merupakan warisan yang secara turun-temurun. Demikian pula pelaksanaan upacara, sebagai bagian sistem kepercayaan masih tetap mereka lestarikan utamanya dalam upacara peluncuran perahu, atau pembuatan perahu. Kendatipun sudah semakin sulit mendapatkan bahan-bahan yang berupa kayu papan (kayu ulin/Sappu ), untuk pembuatan perahu, tetapi karena unsur budaya pembuatan perahu masih tetap fungsional maka sampai sekarang kegiatan pembuatan perahu tetap berlangsung.

Studi tentang Peralatan Industri/Kerajinan di Lingkungan Budaya Masyarkat Toraja, oleh Taufan S. Ma'dika
Tanah Toraja yang lazim disebut "Tondok Lepong Bulan Tana Matarik Allo" adalah salah satu lingkungan budaya di kawasan jazirah Sulawesi Selatan, kawasan tersebut sejak lama menjadi pusat kediaman masyarakat Toraja dengan latar belakang sosial budaya, adat istiadat dan sistem kepercayaan tradisional yang cukup unik dan spesifik.

Keunikan dan spesifikasi masyarakat Toraja bukan hanya tercermin pada sistem kemasyarakatan ataupun konsepsi budayanya cermin pada sistem kemasyarakatan ataupun konsepsi budayanya yang terkait dengan unsur-unsur kepercayaan leluhur yang disebut aluk todolo, akan tetapi sekaligus tergambar pada kemampuan warga setempat untuk memanfaatkan aneka ragam potensi sumber daya alam, sebagai suatu alternatif yang dipilih dalam rangka pemenuhan kebutuhan hidupnya. Sama halnya dengan setiap masyarakat manusia, masyarakat Toraja memiliki pula berbagai macam jenis kebutuhan selain sandang, pangan, dan papan, antara lain seperti peralatan upacara, peralatan dapur, peralatan makan dan minum, peralatan produksi, dan sebagainya.

Dalam upaya pemenuhan kebutuhan hidup tersebut, masyarakat Toraja sejak lama mengembangkan kegiatan produksi berbagai jenis peralatan hidup melalui usaha kerajinan industri rumah tangga. Kegiatan industri dan kerajinan tersebut dilakukan dengan menggunakan ketrampilan dan teknologi tradisional pula, termasuk cara memilih serta memanfaatkan bahan baku yang berasal dari kekayaan alam sekitar.

Jenis-jenis hasil kerajinan yang selama ini menjadi daya tarik Tana Toraja ialah ukiran, hiasan / barang pajang, dan pelengkap alat-alat rumah tangga. Hasil produksi kerajinan tersebut bukan hanya digunakan oleh warga masyarakat setempat, melainkan juga bermanfaat sebagai candramawa yang cukup digemari oleh wisatawan. 

Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar.


LAPORAN PENELITIAN SEJARAH DAN NILAI TRADISIONAL 
SULAWESI SELATAN
Penulis: Nooteboom C, Sukirman AR, M. Yunus Hafid, Taufan S. Ma'dika
Penerbit: Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Ujung Pandang
Tempat Terbit: Ujung Pandang
Tahun Terbit: 1994




January 14, 2022

SEJARAH SULAWESI SELATAN


Sulawesi Selatan telah dipandan sebagai satu kesatuan wilayah pada akhir abad ke-16. Hal itu dinyatakan oleh Eredia dengan menyebutnya Wilayah Makassar (Macazar Regiam). Penetapa itu didasarkan pada kenyataan memiliki kepercayaan yang sama yaitu memuja matahari dan bulan, melakukan pemakaman jenazah, dan terjalin hubungan antara kerajaan-kerajaan. 

Faktor-faktor itu selanjutnya didukung dengan kenyataan kesejarahan yang menunjukkan bahwa mereka memiliki riwayat asal-usul yang sama, pembentukan kerajaan diawali dengan konsep tumanurun struktur pemerintahan kerajaan-kerajaan memiliki kesamaan karena raja atau pemegang kendali kekuasaan didamping oleh sebuah dewan hadat, terjalinnya perjanjian politik yang melapangkan gerak penduduknya dari satu kerajaan ke kerajaan lainnya, dan terjalinnya perkawinan antara bangsawan dari sata kerajaan dengan kerajaan lainnya. Bahkan terjadinya pengembaraan bangsawan dari satu kerajaan ke daerah lain telah mengawali pembentukan kerajaan baru .

Penduduk daerah ini juga dikenal sebagai pelaut dan pedagang yang ulun dan mengembara melakukan perdagangan maritim ke berbagai daerah dalam kawasan Asia Tenggara. Kegiatan mereka itu telah menjadi salah satu faktor penting dalam memajukan kota pelabuhan Makassar menjadi pelabuhan transit internasional terpenting, di samping faktor kebijakan perdagangan, dan sikap pemerintah yang terbuka, toleransi, dan suka memaafkan. Selain itu juga tela mengantar mereka menjalin hubungan perdagangan dan persahabatan dengan kerajaan-kerajaan lain di Asia Tenggara. Mereka bersedia mengorbankan jiwa dan raga mereka untuk membantu kerajaan-kerajaan yang dijalin hubungan perdagangan dan persahabatan jika mengalami ancaman atau diperlakukan zalim oleh pihak lain. Itulah sebabnya seorang penyair Belanda menjuluki pelaut dan pedagang ini dengan julukan ."ayam-ayam jago kesayangan dari dur Timur” (de hanjes van het Oosten)

Kehadiran Kompeni (VOC-Belanda), setelah Perang Makassar (1666-166, 1668-1669) telah menimbulkan perubahan dalam kehidupan politik di daerah ini. Hal itu bukan hanya menunjukkan adalah wilayah kekuasaan langsung Kompeni tetapi juga Speelman berhasil menata gagasan politik memecah belah dan menguasai (devide et empera) dengan membagi kerajaan-kerajaan sekutu di daerah ini atas dua kelompok kekuatan politik. Kelompok kekuatan politik itu adalah kelompok kekuatan politik Bugis yang meliputi Kerajaan Bon Soppeng, Luwu, dan kerajaan-kerajaan Turatea (Binamu, Bangkala, dan Laikan dipimpin oleh Kerajaan Bone dan kelompok kekuatan politik Makassar yang meliputi kerajaan-kerajaan yang tidak menjadi anggota kelompok politik Bugis dipimpin Kerajaan Makassar (Gowa-Tallo). Pola politik ini tetap dipertahankan oleh pemerintah Hindia Belanda yang mengambil-alih wilayah koloni Kompeni pada awal abad ke-19, namun tidak dapat berlangsung baik karena Kerajaan Bone menentang pengalihan kendali kekuasaan itu. Meskipun demikian dalam naskah Kontrak Bungaya di Makassar (1824) yang Perjanjian Bungaya (1667) konsep memecah belah dijabarkan dalam butir-butir kesepakatan.

Buku SEJARAH SULAWESI SELATAN membahas tentang Sejarah Sulawesi Selatan, khususnya untuk periode awal pembentukan pemerintahan hingga akhir abad ke-19, sehingga menjadi sumber pengetahuan tentang budaya, politik lokal, yang dalam banyak hal walaupun berbentuk monarki (kerajaan) tetapi memperhatikan kepentingan publik (untuk rakyat) sehingga sering dinyatakan bercorak demokratis. Buku ini merupakan salah satu layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang dapat dijadikan sumber dalam penyusunan buku ajar muatan lokal tentang sejarah Sulawesi Selatan baik bagi murid dan siswa maupun mahasiswa.  


SULAWESI SELATAN JILID 1
Tim Peneliti: Edward L. Poelinggomang, Suriadi Mappangara, Daund Limbugauet.al
Editor: Edward L. Poelinggomang, Suriadi Mappangara
Penerbit: Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah (Balitbangda)
Tempat Terbit: Makassar
Tahun Terbit: 2004
ISBN: 979-3633-09-3

January 13, 2022

PINISI: PERAHU KHAS SULAWESI SELATAN

Terdapat tiga sisi dari Provinsi Sulawesi Selatan dikelilingi oleh laut yang luas, hal inilah menjadi salah satu unsur yang melatar belakangi kehidupan masyarakatnya, antara lain sebagian besar penduduknya mencari nafkah melalui laut, baik sebagai nelayan, nakoda/anak buah kapal atau perahu, maupun sebagai pembuat alat transpor di laut.

Salah satu di antara alat transpor laut yang sejak dulu diproduksi dan menjadi salah satu kebanggaan nasional saat ini adalah perahu pinisi sebagaimana telah diuraikan dalam bab terdahulu.

Perahu pinisi sebagai alat transpor laut di kepulauan nusantara ini walaupun belum diketahui dengan jelas siapa, dari mana dan sejak kapan mulai dibuat dan memakainya, namun telah memberi manfaat bagi sebagian masyarakat Sulawesi Selatan terutama yang tinggal di pesisir pantai.

Bentuk (jenis) perahu khas Sulawesi Selatan, yang lebih dikenal dengan pinisi pada dasarnya adalah hasil modifikasi dari perahu perahu sebelumnya seperti perahu salompong, perahu pajala/patorani, perahu lambok, perahu sande dan perahu lainnya yang ada di Sulawesi Selatan. Modifikasi bentuk perahu terus berlangsung sesuai perkembangan, kebutuhan dan kegunaannya dalam masyarakat pemakainya. Menurut M. Arief (informan) bahwa bentuk perahu pinisi saat ini jika di lihat dari kontruksi bangunannya maka terdapat 3 (tiga) tipe yaitu :

  • Tipe Salompong.

Tipe salompong mempunyai ciri khas pada bagian badan depan yaitu memakai undakan yang terdiri dari papan yang dilebihkan secara bersusun dan tidak berhubungan langsung ke sotting depan, hal inilah yang membentuk undakan dibagian depan. Perahu tipe salompong memiliki daya angkut 30 ton sampai 40 ton, memakai 2 (dua) tiang dan 7 (tuju) layar dan pada bagian haluan diberi anjong ( balok-balok yang mencuat dibagian depan pinisi).

  • Tipe Lambok.

Pinisi tipe lambok mempunyai layar tuju buah dan badannya lambok memiliki buritan berbentuk bulat sedang haluan sotting agak lurus dan condong kedepan, daya angkutnya dari 15 ton sampai 60 ton.

  • Tipe Asli.

Tipe asli tidak memakai undakan pada badan perahu terdapat dua tiang, 7 layar. 3 layar berada didepan berbentuk segi tiga lancip terpasang antara tiang depan dengan anjong, 2 layar besar pada tiang utama berbentuk trapesiun, dan 2 layar dipuncak tiang, ciri lainnya adalah haluan berbentuk jonggolan dan memakai anjong dan pada buritannya

Karena manfaat perahu pinisi tersebut dapat dinikmati secara langsung oleh masyarakat yang bermata pencaharian di laut, khususnya Suku Bugis-Makassar, telah dapat berhasil dikembangkan, sehingga sekarang telah mendapat penawaran dari provinsi lainnya di Indonesia dan bahkan membangkitkan minat bagi orang-orang dari mancanegara untuk memproduksi/dipakai sendiri, juga sebagai bahan kajian ilmu pengetahuan mereka. Bukan hanya itu bahkan kebiasaan membuat perahu orang Bugis-Makassar dibawa ke mana mereka pergi sehingga sekarang ini dijumpai di beberapa tempat pemakai perahu pinisi di Wilayah Nusantara ini, dan umumnya punggawa dan sawinya (pemilik dan pekerjanya) adalah orang dari Ara Kabupaten Bulukumba Sulawesi Selatan.

Sedangka bentuk pinisi didasarkan pada fungsinya dan kegunaannya secara umum terdapat 2 bentuk yaitu bertipe lebar dan tipe ramping dan panjang. Tipe lebar dan besar digunakan untuk alat pengangkutan sedangkan tipe ramping dan panjang digunakan untuk lomba (palari).

Perahu khas Sulawesi Selatan atau pinisi terdiri atas beberapa bagian antara lain: lunas, sotting, papan pangepek, papan terasa (papan keras), papan lamma (papan lemah), papan tari, balok-balok dan katabang (dek perahu), bangkeng salara (tempat tiang agung melekat), ambing, patti-patti (peti-peti belakang perahu), rangka, timoang (pintu palka), kamar, sanrerang guling, jamba-jambangan/pagentung, lemba-lembarang, lete-lete balaho, anjong, pallajareng (tiang utama), guling (kemudi), layar serta lepe, bua-buaya dan naga-naga. 

Dalam proses pembuatan perahu pinisi di Ara Kabupaten Bulukumba Sulawesi Selatan terdapat 5 (lima) uopacara adat yang dilaksanakan oleh punggawa, para sawi dan pemilik perahu, upacara tersebut 3 (tiga) dilaksanakan pada proses pembuatan dan 2 (dua) upacara dilaksanakan setelah badan perahu selesai dikerjakan dan siap berlayar. Upacara yang dimaksud adalah: upacara penebangan kayu, upacara annattara, appasili, ammosi dan upacara peluncuran. 

Sedangkan proses pembuatan perahu pinisi di Ara Kabupaten Bulukumba Sulawesi Selatan berlangsung tiga tahap yaitu penebangan kayu dihutan, pembuatan perahu, dilaksanakan oleh sekelompok tukang yang dikepalai oleh punggawa dan tukan lainnya disebut sawi. Punggawa dan sawi memulai pekerjaannya setelah ada kesepakatan dengan pemesan. 

Setelah penebangan kayu di hutan, dilanjutkan proses pembuatan perahu di Bantilang (tempat pembuatan perahu), lalu pemasangan pangepek, pemasangan uru sangkara (papan pertam), pemasangan sotting (dasar perahu bagian depan dan belakang), pemasangan kanjai, pemasangan papan terasa, pemasangan rangka, pemasangan lepe dan bua-buaya, pemasangan kalang, pemasangan bangken salara, pattupuang anjong, pemasangan dek, pemasangan pallu-pallu, pemasangan kelengkapan bagian belakang perahu (sanrerang guling dan lain-lainnya), pemasangan anjong (anjungan), annisi, pamasangan gala-gala, pemasangan aleepa, mendirikan tiang agung serta pemasangan layar dan tali temali.

Buku PINISI: PERAHU KHAS SULAWESI SELATAN memberikan gambaran kepada masyarakat yang bermata pencaharian di laut, khususnya Suku Bugis-Makassar, yang telah berhasil mengembangkannya, sehingga sekarang telah mendapat penawaran dari provinsi lainnya di Indonesia dan bahkan membangkitkan minat bagi orang-orang dari mancanegara untuk memproduksi/dipakai sendiri, juga sebagai bahan kajian ilmu pengetahuan. Bukan hanya itu bahkan kebiasaan membuat perahu orang Bugis-Makassar dibawa ke mana mereka pergi sehingga sekarang ini dijumpai di beberapa tempat pemakai perahu pinisi di Wilayah Nusantara ini, dan umumnya punggawa dan sawinya (pemilik dan pekerjanya) adalah orang dari Ara Kabupaten Bulukumba Sulawesi Selatan. Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar.


PINISI: PERAHU KHAS SULAWESI SELATAN
Penyusun: Muhammad Masrury, Sangkala, Abbas
Editor: ST. Aminah Pabittei
Penerbit: Proyek Pembinaan Permuseuman Sulawesi Selatan
Tahun Terbit: 1994


January 11, 2022

SINOPSIS TARI KREASI

Sinopsis tari adalah pengantar atau penjelasan singkat dari sebuah garapan tari yang disebut. Isi sinopsis berupa gambaran gagasan, jalan cerita, penata tari, penata musik, dan data seluruh penari atau pendukung musik. Tujuan pembuatan sinopsis tersebut merupakan salah satu agar orang lain lebih memahami karya tari yang dibuat. Berikut gambaran dua puluh empat tari kreasi baru sebagai hasil karya lima penata tari, yakni karya Ny. Andi Nurhani Sapada, karya We Tenrisau A. Sapada, karya Nyonya Munasiah Najamuddin, karya Farid Hamid, karya Andi Abu Bakar Hamid dan karya Abdi Bashit.

Karya Ny. Andi Nurhani Sapada: Tari Bosara, Tari Pabbekkenna Makjina, Tari Patennung, Tari Anging Mammiri, Tari Sulawesi Pakrasanganta, Tari Tomassenga, Tari 

  • Tari Bosara memberikan gambaran tentang adat istiadat dan tata krama Bugis Makassar menerima tamu agung dengan suguhan kue-kue tradisional yang diletakkan dalam wadah yang disebut Bosara ini.
  • Tari Pabbekkenna Makjina, pertanda tibanya musim tanam bagi para petani. Anak-anak berkejaran kesana kemari di bawah guyuran hujan sambil bersenandung dengan munculnya pelagi pada saat hujan akan berhenti.
  • Tari Patennung (1962), melukiskan ketekunan dan kesabaran perempuan Bugis-Makassar menenun kain sutra mulai dari mappali (memintal) benang sampai pada massau (memasukkan benang ke alat tenun) dan seterusnya menenum dari selembar benang menjadi selembar kain dengan motif khas tenunan Sulawesi Selatan yang banyak digemari.
  • Tari Anging Mammiri (1963), tari Anging Mammiri melukiskan kerinduan/kecintaan seorang data kepada sang kekasihnya yang tak kunjung datang. Untuk melampiaskan kerinduannya itu, diajaklah angin bersemilir dengannya, dab menyampaikan pesan agar angin semilir yang bertiup sepoi-sepoi itu dapat mengetuk pintu hati sang kekasih.
  • Tari Tomassenga, melukiskan ketegaran masyarakat Mandar menerima cobaan, dan tanpa kenal lelah, baru membahu membangun kembali negerinya tercinta. Tari Tomassenga bertujuan pula mengingatkan kembali kepada tragedi bencana alam tersebut.
  • Tari Marellau Pammase Dewata, ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala nikmat yang telah diberikan atas segala jerih payah yang mendapat rahmat Ilahi Rabbi.

Karya We Tenrisau A. Sapada: Tari Mallattu Kopi (1968)
  • Tari Mallattu Kopi, mengambarkan kecekatan tangan sang gadis memetik buah kopi dari tangkai ke tangkai dalam suasana riang sang gadis beraksi masgul dengan biji-biji kopi yang dipermainkan oleh jari jemari yang lentik sambil menggendong bakul.
Karya Nyonya Munasiah Najamuddin: Tari Batara
  • Tari Batara, merupakan tari pemujaan kepada Batara yang Maha Rahman atas rahmatNya kepada hambaNya yang berikhtiar. Tari Batara ini di samping sebagai hiburan, sering pula difungsikan sebagai Tari Penjemputan.
Karya Farid Hamid: Tari Makdongik
  • Tari Makdongik menggambarkan suasana masyarakat petani dalam menyambut musim petik. Takkal bulir-bulir padi mulai berisi, si burung pipit datang mengusik. Para remaja putera-puteri bergantian menunggu sang padi sampai menguning bagaikan emas dan siap untuk dituai. Lappa-lappa bersahut-sahutan di tangan para remaja belia penunggu di dango-dango, si pipit merasa terusik dan terbanglah ia menjauh dan menjauh, maka hatipun menjadi lega, lega yang memberi kesejukan, menghapus dahaga, mengantar senyum dan sorak sorai.
Karya Andi Abu Bakar Hamid: Tari Tomepare (1979), Tari Dodeng, Tari Abatireng Ripolippukku (1985), Tari Ritebbanna Wellengrengnge, Tari Anak Dara (1988), Tari Topandoang (1993),  Tari Suara-Suara (1994), Tari Meoly (1995)
  • Tari Tomepare (1979), menggambarkan kegembiraan masyarakat Toraja dalam menyambut hasil panen yang melimpah ruah. Mereka menari sambil bernyanyi sebagai perwujudan rasa syukur dan terima kasih atas limpahan rahmat Tuhan Yang Maha Esa.
  • Tari Dodeng, mengisahkan seorang raja dan panglima perangnya turun ke gelanggang bersama prajuritnya untuk memberantas gerombolan pengacau yang selalu mengganggu ketenteraman rakyatnya. Usai perang, tak mendapati isterinya tercinta di istana, tetapi yang ditemukan hanyalah tumpukan pusara sang isteri.
  • Tari Abatireng Ripolippukku (1985), Abatireng Ripolippukku yang berarti "kesetiaan kepada tanah air". Mengisahkan tentang sumpah setia sang raja Bone yang bernama Imanneng Arungpata yang tidak tega melihat rakyatnya dijajah, ditindas; kata beliau "Iya atama ripadatta rupa" artinya Saya hanya hamba bagi rakyatku".
  • Tari Ritebbanna Wellengrengnge, mengisahkan proses penciptaan perahu Sawerigading. Wellengrengnge adalah sebuah pohon yang dalam Sure Galigo dilambangkan sebagai pohon keramat dengan ketinggian sampai langit ketujuh.
         Penebangan pohon wellengrengnge adalah menjelang kemauan dari Sawerigading yang ingin                 berlayar ke Tanah Cina menjumpai puteri I Wecudai, rebahnya pohon bumi pertiwi kemudian                 diterima oleh Opu Talaga, lengkap dengan ahli pembuat perahu. Sebelum siri pecah, muncullah             wellengrenge di atas busa menerangi laut samudera. Lima belas perahu lengkap dengan layar yang          bergambar naga, dan ribuan tangkai beta menjadi perahu semua.
  • Tari Anak Dara (1988), Tari Topandoang (1993) melukiskan kegembiraan gadis-gadis Bugis-Makassar dalam bermain dan menari. Mereka bercanda dalam suka dan duka walaupun rintangan kadang datang silioh berganti.
  • Tari Suara-Suara (1994), menggambarkan suara-suara. Diangkat dari naskah puisi "Tuding" karya Rahman Arge. Bergemalah suara dan adakah kalian tahu dari mana sumbernya suara-suara terdengar terlontar bahwa ada suara yang bau. Adakah kalian tahu dari mana datangnya ? ......... kepala mereka menggeleng-geleng saling tuding menuding terseret jauh dari kepastian suara-suara. Keangkuhan manusia mengalahkan suatu yang kita yakini ..........
  • Tari Meoly (1995), menggambarkan sikap kegotong-royongan masyarakat Toraja yang dengan teriakan Meoly secara bersahut-sahutan mereka dengan penuh semangat mengekspresikan lewat gerakan badan, menghentakkan kaki dan tangan, meliukkan badan dengan gerakan spontanitas dan kepala yang mewujudkan gerak yang mengandung nilai estetika.    
Karya Abdi Bashit: Tari Padendang, Tari Kananak (1988), Tari A .... I ..... U (1992), Tari Makkaddaro (1993), Tari Kalemu (1993), Tari Pamasari (1994)

  • Tari Padendang, menggambarkan ungkapan rasa syukur pasca-panen dalam wujud mappadendang alu yang dipermainkan oleh remaja putri menimbulkan irama yang membuat suasana riang tetapi syahdu diselingi gerak akrobatik remaja putra.
  • Tari Kananak (1988), menggambarkan kelakuan sang anak perempuan bermain dengan boneka kesayangannya bercanda, bernyanyi, menari dan pada akhirnya anak larut dalam bonekanya dan tanpa sadar mereka menjadi Kananak.               
  • Tari A .... I ..... U (1992), mengambarkan proses pembinaan/pendidikan mental, keterampilan bagi anak syah dari dunia oleh orang-orang tua, harus ditangani dengan ketelatenan, kebijaksanaan sehingga anak akan tumbuh dalam dirinya sendiri sehingga kelak akan mampu menghadapi tantangan hidup.
  • Tari Makkaddaro (1993), menggambarkan sebuah permainan anak negeri Sulawesi Selatan yang menggunakan tempurung dan disebut "Makkaddaro". Makkaddaro didominasi oleh anak laki-laki, namun anak perempuan tidak ingin ketinggalan dan larut dalam kegembiraan.
  • Tari Kalemu (1993), menggambarkan keberadaan sarung bagi masyarakat Sulawesi Selatan tidak dapat dipisahkan dari kegiatan sehari-hari, juga daerah pariwisata Tana Toraja pada khususnya, budaya memakai sarung lebih dominan. Fungsi sarung ini bukan hanya untuk bermain dan bergurau saja, tetapi diupayakan selalu bermanfaat. Dengan kata lain, tidak hanya menjadi teman santai seharian. Makkalemu (menyelimuti diri dengan sarung), bermalas-malasan menyia-nyiakan waktu secara percuma.
  • Tari Pamasari (1994), merupakan tari pergaulan masyarakat Bugis Makassar khususnya masyarakat yang berdiam di daerah pesisir pantai. Tari ini biasanya dipentaskan pada acara pesta rakyat. Pada mulanya tarian ini ditarikan oleh banci yang berpakaian wanita. Namun kini tarian ini digarap kembali dengan tidak melupakan pola aslinya dan disertai kejenakaan yang komunikatif.

Buku SINOPSIS TARI KREASI berisikan dua puluh empat tari kreasi baru sebagai hasil karya penata tari, selain sinopsis juga juga membahas tentang kesejarahan, jumlah penari, waktu penyajian, bentuk tari, kostum, perhiasan, properti dan iringan musik. Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar.



SINOPSIS TARI KREASI 
Penerbit: Taman Budaya Provinsi Sulawesi Selatan
Tempat Terbit: Ujung Pandang
Tahun Terbit: 1996

ATONG & PASONG SANG PENAKLUK NENEK PAKANDE

Dua bersaudara kakak-adik bernama Atong dan Pasong tak pernah merasakan kebahagiaan sepeninggal ibunya. Terlebih lagi setelah ayahnya menikahi Cenning penderitaan mereka semakin memuncak. Kalau ayahnya ada di rumah, kedua anak itu diperhatikan ibu tirinya dengan manja tapi kalau ayahnya tidak di rumah kedua anak itu rasanya mau dimakan mentah-mentah oleh ibu tiri mereka dengan kasar dan kejam.

Suatu ketika saat kedua anak itu bermain bola raga secara tidak sengaja terpental mengenai kepala ibu tirinya. Kontan saja ibu tirinya marah bukan kepalang. Ketika suaminya tiba di rumah dia meminta agar diambilkan hati kedua anak itu untuk dimakan. Ambo Tang, sang suami tak berpikir panjang, dia menyuruh tetangganya Lahu untuk membunuh kedua anaknya. 

Siasat Lahu berjalan dengan cerdik dengan mengganti hati kedua anak itu dengan hati dua ekor anak rusa. Setelah itu kedua anak itu disuruh berjalan tujuh hari tujuh malam ke arah selatan dari kampungnya.

Alhasil kedua anak itu terjebak dalam asuhan Nenek Pakande sipemangsa manusia dan binatang. Dan akhirnya, untuk mengetahui kisah selengkapnya, dipersilahkan pada pembaca untuk menelusuri alur ceritanya yang tegang, seru, menyedihkan, lucu dan diakhir cerita penuh dengan kebahagiaan. Cerita ini hanya bersifat fiktif belaka. Nama pelaku, tempat, dan waktu hanya hasil imajinasi penulis. Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar.


ATONG & PASONG SANG PENAKLUK NENEK PAKANDE
Penulis: Mursakin Sape
Penyunting/Editor: Shabiel Zakaria
Penerbit: Syahadah
Tempat Terbit: Watampone
Tahun Terbit: 2016
ISBN: 978-602-60291-0-2

 


January 10, 2022

SEJARAH MANDAR: POLMAS-MAJENE-MAMUJU

Mandar berasal dari satu kata yang masih hidup dan dipergunakan sampai pada saat ini di bagian hulu sungai Mandar sampai ke Pitu U'lunna Salu. Yaitu Mandar sama dengan Manda' yang artinya kuat. Sinonim dengan makassak yang artinya juga kuat. Sampai saat ini masih dipakai di Hulu Sungai. 

Di hulu Sungai Mandar, masih ada satu desa yang disebut Desa U'lu Manda' yang sekarang termasuk Kecamatan Malunda Kabupaten Majene" (Darwis Hamsah 1971:3).

Daerah ini tumbuh di sekitar Ulu Manda' ialah : "Alu, Taramanu, dan Poda-poda. Tentu saja penduduk kerajaan yang ada di sekitar sungai itu yang memberikan nama kepada sungai yang sebelumnya tidak dikenal namanya. Itu diambil dari sifat air yang amat kuat, dapat menghanyutkan sesuatu yang cukup berat dan kalau banjir dapat meruntuhkan pohon dan sebagainya.

Bahasa yang dipakai penduduk sekitar hulu sungai itu tidak menggunakan akhiran r seperti meter, disebut mete', Ma'asar disebut Ma'asa', landur disebut landu'. mandor disebut mando' dan sebagainya.

Buku SEJARAH MANDAR: POLMAS-MAJENE-MAMUJU membahas tentang Balanipa di zaman Todilaling (Raja I), Balanipa di zaman Todilaling (Raja II), Kerajaan Benuang, Berdirinya distrik-distrik di Mamasa, Osango, Malabo, Messawa dan Tabone (oleh Tamadjoe), terbentuknya distrik-distrik Pana', Nosu, Ulu Salu dan Manipi, serta selayang pandang Kecamatan Sumarorong. Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Deposi, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar.


SEJARAH MANDAR: POLMAS-MAJENE-MAMUJU JIDIL 1
Penulis: H.M. Tanawali Azis Syah
Penerbit: Yayasan "Al Azis" 
Tempat Terbit: Ujung Pandang
Tahun Terbit: 1997




SANDEQ: PERAHU TERCEPAT NUSANTARA

Sandeq adalah puncak kebudayaan Mandar dalam bidang kebaharian. Perahu bercadik yang ukurannya kecil, perahu sandeq bisa dioperasikan di semua lingkungan perairan laut, baik yang ada di pesisir pantai maupun di lautan lepas dengan ombak dan angin yang lebih kuat, kecuali di perairan terumbu karang karena kemudi yang terlalu panjang dikhawatirkan tersangkut batu-batu karang. Perahu sejenis dari daerah lain tidak demikian adanya, hanya dioperasikan di perairan pantai (termasuk perairan karang karena kemudinya yang relatif pendek) sebab konstruksinya tidak sesuai untuk lingkungan laut lepas yang ganas.

Sedangkan dari lingkungan fisik kelautan, khususnya pusat perkembangan perahu sandeq, adalah wilayah yang langsung berbatasan dengan laut dalam. Sedangkan wilayah perairan Bugis dar Makassar sebagian besar berhadapan perairan yang dangkal, yaitu perairan Kepulauan Spermonde di Selat Makassar dan Kepulauan Sembilan di Teluk Bone. Keadaan yang demikian secara tidak langsung menuntut posasiq Mandar untuk memiliki perahu penangkap ikan yang kuat mengarungi lautan dan cepat lajunya. 

Beberapa faktor yang secara tidak langsung mempengaruhi kemunculan sandeq di Mandar, yaitu: pengaruh lingkungan (darat dan laut); pengaruh kebiasaan masyarakat setempat, yaitu keinginan memiliki perahu cepat, cantik dan kuat mengarungi lautan luas, praktik mistik di dalam pembuatan dan penggunaan perahu; dan pengaruh politik dan ekonomi.

Buku SANDEQ: PERAHU TERCEPAT NUSANTARA memberikan informasi perahu sandeq karena mengupas jenis perahu sandeq dari berbagai aspek sebagai sebuah keunggulan budaya bahari orang Mandar. Aspek tersebut dikupas dari historis sampai fungsi praktisnya. Mulai dari era kedatangan Austronesia awal sejak 4000 tahun lalu hingga fungsi praktis saat ini yang merupakan teknologi budaya bahari dalam sandeq race.

Salah satunya mengikuti  Festiva Brest 2012 di Prancis karena memang bertema sandeq dan even internasional tertinggi yang pernah dilakoni sandeq. Sandeq telah pernah ke Prancis pada pertengahan tahun 90-an, tapi kala itu sandeg tidak berlayar. Hanya dipajang di depan museum. Pun hanya satu sandeg yang ke sana. Sedang di Festival Brest 2012, ada tiga sandeq yang dilayarkan di laut Brest yang juga bagian dari Samudera Atlantik. Sehingga tidak salah bila mengatakakan bahwa tiga sandeq yang berlayar tersebut adalah sandeq pertama yang berlayar di samudera tersebut. Buku ini merupakan salah satu Koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang- Makassar.


SANDEQ: PERAHU TERCEPAT NUSANTARA
Penulis: Muhammad Ridwan Alimuddin
Penerbit: Ombak
Tempat Terbit: Yogyakarta
Tahun Terbit: 2013
ISBN: 978-602-258-111-6