"makkedai tomatoae : nakko memmana 'no pelempuri seroni alemu apa iya ritu riasengnge gau' maja' gau' madeceng namana'i to rimunri. Nakko maja'i gau'mu, ikonatu nala camming anna' mu. Na Sangngadinna mulempuri ni alemu, mupadecengi wi gau' mu, mupaccappura toni pangaja' ana'mu, naiya mua sa napogau gau' maja'e, pura makkuani tu naelorangnge Allah taala di ana'mu ".
"Berkata orang : Apabila engkau telah beranak, peliharalah kejujuranmu, sebab yang dimaksud dengan perbuatan buruk per buatan baik dipusakai oleh anak/keturunan. Apabila engkau berbuat buruk, engkaulah yang menjadi cermin bagi anakmu. Kecuali kalau sudah diusahakan kejujuran pada diri sendiri dan memperbuat perbuatan yang baik serta memberikan nasihat yang baik kepada keturunanmu, tetapi masih berakhir dengan perbuatan yang buruk maka demikianlah yang dikehendaki oleh Allah kepada anakmu.
Penganugerahan gelar kehormatan kepada seseorang yang di anggap berjasa kepada negara, tidak hanya dikenal abad modern ini. Dimasa pemerintahan Raja Bone ke-6 yang bernama La Uliyo' Bote'e pun hal serupa sudah dipraktekkan dalam Kerajaa Bone. menurut riwayat, karena kekaguman Raja Bone atas kecerdasan, kecakapan dan kedalaman pengatahuan La Mellong, sehingga baginda menganugrahkan gelar "KAJAO LALIDDONG" kepada cendekiawan ulung ini. Istilah "Kajao" bermakna seseorang yang telah berusia lanjut dan memiliki kearifan tinggi sedang " LALIDDON" adalah nama sebuah kampung yang terletak dalam wilayah Kecamatan Barebbo sekarang, di sebelah Utara dari Bulu' Cina. Dengan demikian La Mellong putera Matowa Cina secara resmi menyandang gelar KAJAO LALIDDONG sebagai bukti kesetiaannya dalam berbakti kepada raja dan kerajaan Bone.
Keharuman nama Kajao Laliddong sebagai seorang cendekiawan ternyata banyak menarik minat para cendekiawan kemudiannya, baik dari Barat maupun dalam lingkungan Indonesia diri. Di dalam buku Dra.Wiwiek P. Yoesoef yang berjudul "Biografi Kajao Laliddong di Bone", dijumpai uraian sebagai berikut: Nama Kajao Laliddong sudah banyak disebut pada berbagai pustaka dan lontara Bugis-Makassar bersama buah pikirannya serta renungan mengenai negara dan hukum. Dalam disertai J. Noorduyn yang berjudul Een Achttiende Euwse Kroniek vanWajo (tahun 1955), nama Kajao Laliddong banyak disebut.
Beberapa tulisan oleh para ahli, dalam nasyarakat Bone, masih dapat ditemukan orang-orang yang masih mengetahui beberapa ceritera lisan yang berhubungan dengan pribadi Kajao Laliddong. Pada umumnya ceritera di maksud berintikan sanjungan atas kecakapan dan kecerdasan Kajao Lalliddong dalam mensukseskan pengabdiannya.
Selain dari pada ceritera-ceritera yang terdapat dalam masyarakat, dalam daerah Kabupaten Bone terdapat pula beberapa tempat/benda yang berhubungan dengan Kajao Laliddong antaa lain :
- Sebuah bukit yang terdapat ditengah sawah dalam desa Bakke Kecamatan Barebbo. Menurut keterangan penduduk setempat, bahwa bukit dimaksud adalah tempat Kajao Laliddong memakan "bojo" sejenis siput sawah. Dari sebab itu tempat dimaksud diberi nama sejak dahulu yaitu "akkanreng bojona Kajao Laliddong" yang berarti bekas makanan "bojo" -siputnya Kajao Laliddong. Pada bukit itu banyak terdapat kulit siput.
- Sebatang pohon besar terdapat di desa Melle Kecamatan Palakka, menurut keterangan yang diperoleh, bahwa pohon dimaksud adalah tongkat Kajao Laliddong yang dipancangkan di waktu dia singgah beristirahat dalam pejalannya dari Laliddong ke Lalebbata.
- Dari sekian banyak koleksi yang terdapat pada Museum LA PAWAWOI di Watampone, terdapat sebuah tongkat tersebut dari besi yang salah satu ujungnya menyerupai tombak, Menurut catatan yang terdapat dalam buku inventaris arajang pada museum, menyatakan bahwa tombak tersebut adalah tongkat Kajao Laliddong. Dalam lontara terdapat seuntai ata yang berhubungan dengan tongkat dimaksud yang berbunyi : "cicemmi narenreng tekkenna Kajao La liddong natepu benteng ri Bone": yang berarti hanya sekali ditarik tongkatnya Kajao Laliddong dan selesailah benteng di Bone.