Showing posts with label Bone. Show all posts
Showing posts with label Bone. Show all posts

November 17, 2022

PENGETAHUAN LOKAL NELAYAN BAJO

Suku Bajo merupakan komunitas yang kesehariannya berada di atas perahu, sehingga dikenal dengan sebutan "manusia perahu". Sejak lahir suku Bajo sudah memperkenalkan anak-anaknya dengan air laut. Sekalipun suku Bajo sekarang ini sudah menetap di darat, namun aktivitas keseharian berhubungan erat dengan laut. Ketergantungan suku Bajo dengan laut sangat tinggi, sehingga laut adalah segalanya bagi suku Bajo.

Dalam mengelola sumber daya laut, suku Bajo telah memiliki pengetahuan lokal yang diwariskan secara turun temurun, merupakan bagian dari sistem budaya dan pranata sosial, dan dijadikan sebagai pedoman dalam memanfaatkan suberdaya hayati laut sebagai mata pencarian, dan untuk menjaga kelestarian lingkungan laut. Bagi suku Bajo, laut adalah cermin dari kehidupan masa lalu, kekinian dan harapan masa depan.

Meskipun orang Bajo telah hidup di daerah lain dan hidup berdampingan dengan suku-suku lain, tradisi kehidupan masyarakat Bajo di suatu wilayah masih menerapkan pola-pola kebiasaan sesuai warisan leluhurnya. Sebagai suku pengembara laut, kehidupan sehari-hari masyarakat Bajo selalu bersentuhan dengan laut. Mereka  bermukim di pinggir laut, hidup berkelompok membentuk perkampungan di pesisir pantai terutama di daerah-daerah teluk yang terlindungi dari hempasan gelombang laut, dan bermata pencaharian sebagai nelayan. Mereka juga masih menerapkan adat istiadat dan ciri-ciri khas sesuai kebiasaan turun-temurun, bahkan masih melakukan upacara-upacara tradisional yang berkaitan dengan mata pencaharian di laut. 

Kedekatan orang Bajo dengan laut telah membentuk alam pikiran yang berorientasi pada laut. Mereka memandang laut sebagai kampung halaman dan sumber kehidupan, sekalipun mereka menetap di darat, karena ketergantungan mereka dengan laut. sangat tinggi. Oleh karena itu, nelayan suku Bajo memandang laut dengan berbagai sudut pandang, yakni laut sebagai sahabat (sehe), laut sebagai obat (tabar), laut sebagai makanan (anudinta), laut sebagai prasarana transportasi (lalang), laut sebagai tempat tinggal (patambangan).

Buku PENGETAHUAN LOKAL NELAYAN BAJO mengungkapkan berbagai bentuk pengetahuan lokal suku Bajo yang bermukim di Kelurahan Bajoe, Kabupaten Bone Provinsi Sulawesi Selatan. Pengetahuan lokal yang dimiliki meliputi pengetahuan tentang lokasi penangkapan ikan, pengetahuan tentang biota laut, pengetahuan berkenaan dengan sistem pelayaran, dan pengetahuan tentang alat tangkap ramah lingkungan, digunakan untuk mengatasi terjadinya kerusakan terumbu karang dan biota laut lainnya, yang berdampak pada menurunnya pendapatan nelayan. Pengetahuan lokal tersebut masih dijunjung tinggi dan dipatuhi oleh masyarakat nelayan Bajo Kelurahan Bajoe, walaupun modernisasi armada dan peralatan tangkap sudah memasuki kehidupan sebagaian suku bajo.

Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar yang membahas keberadaan pengetahuan lokal nelayan Bajo sebagai pengetahuan budaya (cultural knowledge) yang mencakup nilai-nilai, norma-norma dan kepercayaan-kepercayaan yang melandasi perilaku budaya (cultural behavior) masyarakat nelayan suku Bajo dalam pengelolaan lingkungan laut secara berkelanjutan atau lestari.


PENGETAHUAN LOKAL NELAYAN BAJO
Penulis: Abdul Hafid
Penerbit: Pustaka Refleksi
Tempat Terbit: Makassar
Tahun Terbit: 2014
ISBN: 978-979-3570-72-3     





August 31, 2022

LONTARA BILANG RAJA BONE KE-16

Lontara Bilang (catatan harian raja) merupakan naskah yang biasanya ditulis langsung oleh raja (penguasa) yang bersangkutan atau ditulis oleh orang-orang di sekitar raja. Isi naskah Lontara Bilang berisi catatan peristiwa yang tersusun sangat rinci berupa informasi nyata berdasarkan fakta/kejadian yang sebenarnya yang berlangsung pada saat itu, seperti hari, tanggal, bulan, dan tahun Masehi maupun Hijriah. 

Catatan peristiwa di dalam Lontara Bilang bukan hanya memuat keterangan tentang kunjungan dan kematian, tetapi juga kelahiran, perkawinan dan peristiwa lain di kalangan keluarga raja. Selain itu urusan kenegaraan, ekspedisi perang, perjanjian, peristiwa tentang gejala alam yang dianggap luar biasa (gempa bumi, gerhana matahari/bulan).

Buku LONTARA BILANG (CATATAN HARIAN) RAJA BONE KE-16 LA PATAU MATANNA TIKKA WALINONOE MATINROE RI NAGAULENG (JANUARI 1692 - SEPTEMBER 1714) berisikan naskah India Office Library (IOL) Bugis dalam bentuk manuskrip yang ditulis dalam aksara lontara. Naskah ini memuat secara lengkap informasi sejarah penting dalam kurun waktu (tahun 1692 - 1714) pada masa pemerintahan Arung Palakka sampai La Patau Matinroe ri Nagauleng. 

Di dalam naskah ini terdapat dua peristiwa penting dalam kurung waktu tahun 1692-1714 yakni: 1) wafatnya Arumpone (raja Bone) Arung Palakka Petta To Risompae; 2) suksesi/pemilihan La Patau Matinroe ri Nagauleng menjadi raja Bone menggantikan pamannya. 

Selain itu ada berbagai macam peristiwa yang melibatkan banyak orang atau lebih bersifat umum dan mencakup bidang yang luas karena isinya bukan hanya berisikan peristiwa sehari-hari, seperti jalan-jalan, berburu rusa, menyambung ayam dan lain-lain. Selain itu, berisi catatan peristiwa yang bersifat politis dan diplomatis. Beberapa peristiwa-peristiwa berikut:

  1. Musyawarah dalam pengambilan keputusan. Dalam naskah ditandai dengan adanya kata "nasitudangeng" yang artinya duduk bersama untuk membicarakan sesuatu.
  2. Raja berhak menetapkan dan memutuskan bahwa seorang yang berbuat kejahatan menjadi terpidana mati. Dalam catatan harian ini ada tiga peristiwa yang dicatat yang berkaitan dengan orang yang dibunuh karena perintah raja. Dalam naskah ditandai dengan adanya kalimat "kuassuro mpunoi”.
  3. Peristiwa perang dan penguasaan atas wilayah kerajaan lain. Dalam catatan harian ini disebutkan peristiwa penyerangan Bone terhadap Toraja dan Mandar yang dipimpin langsung oleh penulis dalam hal ini La Patau Matanna Tikka' MatinroƩ ri Nagauleng.

Selanjutnya, Lontara Bilang IOL Bugis juga berisi hal-hal yang berkaitan dengan diri pribadi dan keluarga. Di samping itu, aktivitas yang berhubungan dengan ritual atau upacara, yaitu ritual yang berhubungan dengan ibadah dan ritual yang berhubungan dengan pesta. Adapun ritual yang berhubungan dengan ibadah adalah: 1) awal bulan Ramadhan (puasa pertama); 2) hari raya Idul Fitri, Idul Adha; 3) Maulid Nabi Muhammad S.A.W; 4) dan perayaan hari Asyura.

Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar.


LONTARA BILANG (CATATAN HARIAN) RAJA BONE KE-16 LA PATAU MATANNA TIKKA WALINONOE MATINROE RI NAGAULENG (JANUARI 1692 - SEPTEMBER 1714)
Penyusun: Basiah
Penerbit: Perpusnas Press
Tempat Terbit: Jakarta
Tahun Terbit: 2019
ISBN: 978-623-200-106-0


May 30, 2022

PAJOGE: Representasi Pertunjukan Istana dan Pasar Malam

Pajoge merupakan istilah dalam bahasa Bugis yang berasal dari kata dasar joge' yang berarti goyang/bergoyang. Penambahan awalan "pa" pada kata “joge” menjadi pajoge' berarti pelaku/penari Pajoge yang sekaligus menjadi nama dari sebuah tarian yang tumbuh dan berkembang dalam masyarakat Bugis Bone.

Keberadaan Pajoge dalam kerajaan Bone telah ada sebelum pemerintahan pra islam dan pasca islam di Bone, yang di tandai dengan keberadaan Pajoge pada periode Raja Bone X, We Tenri Tappu Matinro-E ri Sidenreng yang memerintah selama 9 tahun, yakni 1603-1611 M (periode akhir pra- islam di kerajaan Bone).

Menurut Muh. Siji, Pajoge yang berkembang dalam masyarakat Bugis Bone ada dua macam, yaitu Pajoge Makkunrai dan Pajoge Angkong. Pajoge' Makkunrai adalah Pajoge' yang ditarikan oleh gadis remaja atau perempuan (makkunrai), dan Pajoge' Angkong adalah Pajoge' yang ditarikan oleh calabai (waria/wadam).  Pajoge Makkunrai tumbuh dan berkembang dalam istana, dan kemudian merambah ke luar istana yang ditarikan oleh tomaradeka/tosama (perempuan dari golongan bukan hamba tapi juga bukan dari golongan bangsawan atau golongan tenri puata-teppapuata, yakni tidak diperhamba dan tidak pula memiliki hamba), dan ditarikan oleh ata (hamba sahaya) dan dipelihara oleh kaum bangsawan.

Keberadaan Pajoge Makkunrai menjadi sebuah kebanggaan bagi penarinya sekaligus sebagai cap kurang menyenangkan. Pajoge Makkunrai yang ditarikan oleh tomaradeka dan ata sangat familiar dalam masyarakat karena menjadi pertunjukan yang dapat ditonton oleh semua kalangan baik oleh bangsawan di dalam istana maupun orang kaya dan rakyat di luar istana (pasar malam). 

Sisi lain bahwa konotasi dari kata Pajoge menjadi tidak baik dalam pemaknaan masyarakat Bugis Bone, yakni perempuan yang selain menari, juga bisa dipakai/digauli oleh bangsawan maupun orang kaya sekalipun tidak dinikahi.

Di era sekarang Pajoge sebagai sebuah tarian tidaklah menjadi momok bagi masyarakat Bugis Bone. Bahkan orang tua mengizinkan anak-anak mereka untuk belajar tari Pajoge pada sanggar-sanggar tari yang ada di Bone. Selain ketidak tahuan sebahagian dari mereka tentang pemaknaan istilah Pajoge pada masa lampau, juga karena animo dan apresiasi masyarakat terhadap seni, khususnya seni tari semakin baik.

Buku PAJOGE: Representasi Pertunjukan Istana dan Pasar Malam membahas tentang pasang surutnya Pajoge dalam masyarakat Bugis selain itu juga membahas tentang pajoge makkunrai, pajoge angkong serta pajoge angkong versi Mami Fitri. Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar.


PAJOGE: Representasi Pertunjukan Istana dan Pasar Malam
Penulis: Nurwahidah
Penerbit: Berkah Utami
Tempat Terbit: Gowa
Tahun Terbit: 2018
ISBN: 978-602-5954-94-8






February 15, 2022

PERILAKU EKONOMI PA'JUJUNG DI KABUPATEN BONE

Penggambaran tentang aktivitas kaum perempuan dalam hal ini kaum ibu dalam rangka menekuni usahanya sebagai penjaja barang dagangan berupa ikan dan sayuran, yang dalam bahasa lokal Bugis di Tanete Riattang kabupaten Bone disebutnya dengan istilah pa'jujung. Istilah pa'jujung sebagaimana digambarkan dalam tulisan ini adalah suatu bentuk atau wujud pekerjaan yang dilakukan oleh kaum perempuan, utamanya kaum ibu di mana dalam menjajakan barang dagangannya berupa ikan dan sayuran adalah menempatkan di atas kepala dalam suatu wadah, yaitu baskom umumnya untuk jualan ikan dan bakul khusus untuk menjajakan sayuran.

Kaum ibu yang bermukim di wilayah Tanete Riattang merupakan sebuah bentuk usaha yang bergerak dalam kegiatan perekonomian di mana model aktivitasnya adalah menjadi sesuatu yang dianggap tabuh dalam kehidupan masyarakat pada umumnya, terutama dalam posisinya sebagai komunitas penyandang etnis Bugis. Hanya saja bagi kaum ibu yang bermukim diwilayah Tanete Riattang justru berpikir sebaliknya, yakni tetap melihat bentuk dan model pekerjaan yang ditekuninya sudah menjadi sesuatu yang dianggap berarti dalam hidupnya. Sebab apa dan berapa pun hasil yang didapatkan mereka dari pekerjaan menjajakan barang jualannya sudah menjadi suatu yang dianggap sangat berarti dalam lingkungan keluarganya. Sebab uang yang berupa keuntungan diterima setiap kali menjajakan barang dagangan menjadi sesuatu yang sangat berguna oleh karena dapat dijadikan sebagai uang tambahan dalam rangka menutupi kebutuhan hidup sehari-hari dalam rumah tangganya, di samping hasil yang didapatkan oleh sang suami. .

Bahkan dikatakannya berprofesi sebagai perempuan pa'jujung banyak di antara pelaku mengatakan, bahwa model dan bentuk pekerjaan ini sudah menjadi sesuatu yang layak dipertahankan oleh karena profesi ini juga merupakan pekerjaan warisan yang umumnya diterima dari kaum ibu yang telah meninggal dunia, artinya tidak jarang para pelaku ekonomi sebagai pa'jujung ikan dan sayuran yang ditemukan di wilayah Tanete Riattang, ibunya juga dahulu berprofesi sebagai pa'jujung artinya, kehadiran kaum ibu pa'jujung dalam pentas kehidupan dewasa ini boleh dikatakan sudah berlangsung lama, bahkan model dan bentuk aktivitas dimaksud mudah dilakukan oleh karena dalam melakoninya tidak dituntut sesuatu yang berlebihan atau juga dikatakan sesuatu yang spesifik, seperti halnya yang bersangkutan tidak perlu dibekali dengan modal yang besar, termasuk pengetahuan yang dibutuhkan hanya didapat sebatas membaca sekaligus berhitung. Bahkan jika yang bersangkutan kurang modal dalam waktu tertentu, yang bersangkutan dapat meminjam kepada pemilik barang dagangan yang dijadikan sumber pengadaan barang yang akan dijajakan.

Hanya saja, dengan melihat apa yang ditemukan dalam kehidupan kaum ibu yang berprofesi sebagai pa'jujung ikan dan sayuran yang secara kasak mata tampak hadir dengan penuh keterbatasan, sehingga dikatakan apa mereka mampu melepaskan diri dari suatu bentuk kehidupan yang dapat merensek ke arah perbaikan tingkat kehidupan yang lebih dari apa yang dihadapi dewasa ini, yang mana hidup dan kehidupan seakan terlihat jauh dari pengharapan. Sebab banyak orang mengatakan, ketika model usaha ini tidak mendapat perhatian lebih serius dari pihak yang berkompeten, maka kesempatan untuk meraih sebuah harapan puncak penantian ada kemungkinannya semakin banyak kendala, karena memang jenis usaha yang mereka lakukan berada pada posisi meraih keuntungan yang boleh dikatakan jauh dari harapan, apalagi ketika hal ini dijadikan tolak ukur dalam rangka memenuhi kebutuhan keluarga.

Buku PERILAKU EKONOMI PA'JUJUNG DI KABUPATEN BONE membahas tantang perang ganda kaum perempuan, khususnya ibu rumah tangga dalam melakukan kegiatan perekonomian dengan cara menjadi penjaja ikan dan sayuran secara berkeliling menelusuri pemukiman penduduk, untuk menunjang kebutuhan ekonomi keluarga. Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar.


PERILAKU EKONOMI PA'JUJUNG DI KABUPATEN BONE 
Studi Kasus Perempuan Penjaja Ikan dan Sayuran di Kecamatan Tanete Riattang

Penulis: Masgaba
Editor: Syamsul Bahri
Penerbit: De La Macca
Tempat Terbit: Makassar
Tahun Terbit: 2013
ISBN: 978-602-263-027-2






V

February 7, 2022

TATA CARAPERKAWINAN MENURUT ADAT BONE


Bagi masyarakat Bugis termasuk di dalamnya Bone, perkawinan berarti siala atau saling mengambil satu sama lain, jadi perkawinan merupakan ikatan timbal balik. Walaupun mereka berasal dari status sosial yang berbeda, setelah menjadi suami-istri mereka merupakan mitra.

Selain itu, perkawinan Bugis, perkawinan bukan saja penyatuan dua mempelai semata, akan tetapi merupakan suatu upacara penyatuan dan persekutuan dua keluarga besar yang biasanya telah memiliki hubungan sebelumnya, dengan maksud mendekatkan atau mempererat (Mappasideppi mabelae atau mendekatkan yang sudah jauh).

Di pandang dari sisi kebudayaan, maka perkawinan merupakan tatanan kehidupan yang mengatur kelakuan manusia. Selain itu perkawinan juga mengatur hak dan kewajiban serta perlindungan terhadap hasil-hasil perkawinan yaitu anak-anak, kebutuhan seks (biologis), rasa aman (psikologis), serta kebutuhan sosial ekonomi dan lain-lain.

Namun pada masyarakat Bugis perkawinan bukan saja merupakan pertautan dua insan laki-laki dan perempuan, namun merupakan juga pertautan antara dua keluarga besar. Ini disebabkan karena orang tua dan kerabat memegang peranan sebangai penentu dan pelaksana dalam perkawinan anak-anaknya.

Adapun tahapan dari proses perkawinan adat Bone secara umum dapat dibagi atas tiga tahapan. yaitu tahapan pra nikah, nikah dan tahapan setelah menikah.

Pra Nikah
  • Maddutta Massuro Lettu, meminang secara resmi, dahulu kala dilakukan beberapa kali, sampai ada kata sepakat, namun secara umum proses yang ditempuh sebelum meminang adalah sebagai berikut: Mammanu'manu, Mapapetu Ada.
  • Mappaisseng atau Memberi Kabar, kedua pihak calon keluarga mempelai akan menyampaikan kabar mengenai perkawinannya. 
  • Mattampa Mappalettu Selleng, pihak keluarga calon mempelai akan mengundang seluruh sanak saudara dan handai taulan. Undangan tertulis ini dilaksanakan kira-kira 10 atau 1 minggu sebelum resepsi perkawinan dilangsungkan.
  • Mappatettong Selleng/baruga. Sarapo atau baruga adalah bangunan tambahan yang didirikan di samping kiri/kanan rumah yang akan ditempati melaksanakan akad nikah.
  • Mappacci, Tudampenni. Upacara adat mappacci dilaksanakan pada waktu tudampenni menjelang acara akad nikah/ijab kabul keesokan harinya. Upacara mappacci adalah salah satu upacara adat Bugis yang dalam pelaksanaannya menggunakan daun pacar (Lawsania alba), atau pacci.
Akad Nikah esso akkalabinengeng. Upacara akad nikah juga memiliki beberapa rangkaian acara yang secara berurutan. Kegiatan yang dimaksud adalah sebagai berikut:
  • Mappenre Botting, merupakan kegiatan mengantar pengantin laki-laki ke rumah pengantin perempuan untuk melaksanakan akad nikah.
  • Madduppa botting, diartikan menjemput kedatangan pengantin laki-laki.
  • Akad Nikah
  • Mappasiluka, kegiatan mempertemukan mempelai laki-laki dengan pasangannya.
  • Marellau Dampeng, memohon maaf kepada kedua orang tua pengantin perempuan dan seluruh keluarga dekatnya yang sempat hadir pada akad nikah tersebut.
Upacara sesudah akad Nikah
  • Mapparola, kunjungan balasan dari pihak perempuan kepada pihak laki-laki.
  • Marola wekka dua, mempelai perempuan biasanya hanya bermalam satu malam saja dan sebelum matahari terbit kedua mempelai kembali ke rumah mempelai wanita.
  • Ziarah kubur, dilaksanakan lima hari atau seminggu setelah kedua belah pihak melaksanakan upacara perkawinan.
  • Cemme-cemme atau mandi-mandi, setelah upacara perkawinan yang banyak menguras tenaga dan pikiran maka rombongan dari kedua pihak pergi mandi-mandi di suatu tempat.
Buku TATA CARAPERKAWINAN MENURUT ADAT BONE membahas tentang tata cara melaksanakan ikatan suci untuk saling memuliahkan, saling menumbuhkan kasih sayang sehingga dapat melanggengkan hubungan sampai kegenrasi berikutnya dengan pelaksanaan sesuai prosesi perkawinan. Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauudin Km. 7 Tala'salapang-Makassar.


TATA CARAPERKAWINAN MENURUT ADAT BONE
Penyusun: Lembaga Adat "Saorja" Bone
Penyunting: Ardadi
Penerbit: Pustaka Wanua
Tempat Terbit: Makassar
Tahun Terbit: 2008
ISBN: 978-979-17673-0-9




January 31, 2022

LA MELLONG KAJAO LALIDDONG "to maccana" BONE

"makkedai tomatoae : nakko memmana 'no pelempuri seroni alemu apa iya ritu riasengnge gau' maja' gau' madeceng namana'i to rimunri. Nakko maja'i gau'mu, ikonatu nala camming anna' mu. Na Sangngadinna mulempuri ni alemu, mupadecengi wi gau' mu, mupaccappura toni pangaja' ana'mu, naiya mua sa napogau gau' maja'e, pura makkuani tu naelorangnge Allah taala di ana'mu ".

"Berkata orang : Apabila engkau telah beranak, peliharalah kejujuranmu, sebab yang dimaksud dengan perbuatan buruk per buatan baik dipusakai oleh anak/keturunan. Apabila engkau berbuat buruk, engkaulah yang menjadi cermin bagi anakmu. Kecuali kalau sudah diusahakan kejujuran pada diri sendiri dan memperbuat perbuatan yang baik serta memberikan nasihat yang baik kepada keturunanmu, tetapi masih berakhir dengan perbuatan yang buruk maka demikianlah yang dikehendaki oleh Allah kepada anakmu.

Penganugerahan gelar kehormatan kepada seseorang yang di anggap berjasa kepada negara, tidak hanya dikenal abad modern ini. Dimasa pemerintahan Raja Bone ke-6 yang bernama La Uliyo' Bote'e pun hal serupa sudah dipraktekkan dalam Kerajaa Bone. menurut riwayat, karena kekaguman Raja Bone atas kecerdasan, kecakapan dan kedalaman pengatahuan La Mellong, sehingga baginda menganugrahkan gelar "KAJAO LALIDDONG" kepada cendekiawan ulung ini. Istilah "Kajao" bermakna seseorang yang telah berusia lanjut dan memiliki kearifan tinggi sedang " LALIDDON" adalah nama sebuah kampung yang terletak dalam wilayah Kecamatan Barebbo sekarang, di sebelah Utara dari Bulu' Cina. Dengan demikian La Mellong putera Matowa Cina secara resmi menyandang gelar KAJAO LALIDDONG sebagai bukti kesetiaannya dalam berbakti kepada raja dan kerajaan Bone.

Keharuman nama Kajao Laliddong sebagai seorang cendekiawan ternyata banyak menarik minat para cendekiawan kemudiannya, baik dari Barat maupun dalam lingkungan Indonesia diri. Di dalam buku Dra.Wiwiek P. Yoesoef yang berjudul "Biografi Kajao Laliddong di Bone", dijumpai uraian sebagai berikut: Nama Kajao Laliddong sudah banyak disebut pada berbagai pustaka dan lontara Bugis-Makassar bersama buah pikirannya serta renungan mengenai negara dan hukum. Dalam disertai J. Noorduyn yang berjudul Een Achttiende Euwse Kroniek vanWajo (tahun 1955), nama Kajao Laliddong banyak disebut. 

Beberapa tulisan oleh para ahli, dalam nasyarakat Bone, masih dapat ditemukan orang-orang yang masih mengetahui beberapa ceritera lisan yang berhubungan dengan pribadi Kajao Laliddong. Pada umumnya ceritera di maksud berintikan sanjungan atas kecakapan dan kecerdasan Kajao Lalliddong dalam mensukseskan pengabdiannya. 

Selain dari pada ceritera-ceritera yang terdapat dalam masyarakat, dalam daerah Kabupaten Bone terdapat pula beberapa tempat/benda yang berhubungan dengan Kajao Laliddong antaa lain :

  1. Sebuah bukit yang terdapat ditengah sawah dalam desa Bakke Kecamatan Barebbo. Menurut keterangan penduduk setempat, bahwa bukit dimaksud adalah tempat Kajao Laliddong memakan "bojo" sejenis siput sawah. Dari sebab itu tempat dimaksud diberi nama sejak dahulu yaitu "akkanreng bojona Kajao Laliddong" yang berarti bekas makanan "bojo" -siputnya Kajao Laliddong. Pada bukit itu banyak terdapat kulit siput.
  2. Sebatang pohon besar terdapat di desa Melle Kecamatan Palakka, menurut keterangan yang diperoleh, bahwa pohon dimaksud adalah tongkat Kajao Laliddong yang dipancangkan di waktu dia singgah beristirahat dalam pejalannya dari Laliddong ke Lalebbata.
  3. Dari sekian banyak koleksi yang terdapat pada Museum LA PAWAWOI di Watampone, terdapat sebuah tongkat tersebut dari besi yang salah satu ujungnya menyerupai tombak, Menurut catatan yang terdapat dalam buku inventaris arajang pada museum, menyatakan bahwa tombak tersebut adalah tongkat Kajao Laliddong. Dalam lontara terdapat seuntai ata yang berhubungan dengan tongkat dimaksud yang berbunyi : "cicemmi narenreng tekkenna Kajao La liddong natepu benteng ri Bone": yang berarti hanya sekali ditarik tongkatnya Kajao Laliddong dan selesailah benteng di Bone.
La Mellong putera Matowa Cina yang mendapat gelar Kajao Laliddong meninggal dunia sekitar akhir abad ke 16 setelah puluhan tahun mengabdikan diri dan pikirannya untuk kebesaran Kerajaan Bone. Semasa hidupnya tidak sedikit buah-buah pikirannya berupa petuah-petunjuk dan nasihat yang bersifat ajaran yang dijadikan dasar pegangan bagi para raja dan para pemangku adat dalam melaksanakan tugasnya sebagai pemimpin rakyat. Salah satu diantaranya yang paling lengkap ialah tanya jawab antara Kajao Laliddong dengan Arumpone - Raja Bone yang berisikan petunjuk dasar bagi raja, pemangku adat sampai kepada rakyat. 

Dalam tanya jawab dimaksud Kajao Laliddong memberikan petunjuk-pelajaran tentang sifat, sikap, watak yang harus dimiliki oleh seorang raja, pemangku adat, dengan tidak melepaskan diri dari empat unsur pokok yaitu ade', bicara, rapang dan wari' yang keempatnya 
disebut " pangngadereng ". Demikian pula pelajaran tentang hukum, kejujuran, dan kemasyarakatan oleh Kajao Laliddong secara terperinci dalam tanya jawab dimaksud.

Buku LA MELLONG KAJAO LALIDDONG "to maccana" BONE berisi riwayat hidup dari seorang cendekiawan-negarawan Kerajaan Bone yang bernama La Mellong yang digelar Kajao Laliddong yang hidup di abad ke-16. Di masa hidupnya, Kajao Laliddong banyak berjasa terhadap perkembangan dan kebesaran Kerajaan Bone, terutama dalam bidang hukum, kemasyarakatan dan sosial serta pemerintahan. Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar.


LA MELLONG KAJAO LALIDDONG "to maccana" BONE
Penulis: Andi Muh. Ali
Penerbit: Damai
Tempat Terbit: Watampone
Tahun Terbit: 1984




January 24, 2022

SEJARAH DAN PERJUANGAN LA MADDUKELLENG 1700 - 1765


Petta La Maddukelleng hidup antara tahun 1700-1765. Menjadi Arung Matowa Wajo ke 31 (1736-1754). Beliau dilahirkan di Peneki Tahun 1700 dari Petta La Mataesso, Arung Peneki (ayahnya) dan Petta We Tenriangka Da Dukkelleng Arung Singkang (ibunya).

La Maddukelleng adalah turunan dari La Tenri Bali Batara Wajo pertama. La Tiringeng To Taba Arung Saotanre yang merumuskan hak kemerdekaan orang Wajo sbb: Maradeka Towajo'e Najajiang Alena Maradeka Tanaemmi ala Naiya Tau Makketanae Maradeka Maneng Ade Assamaturusennami Napopuang, La Tadampare Puang Ri Maggalatung Arung Matowa Wajo IV (1491-1521), yang paling terkenal ahli strategi pemerintahan, ahli hukum dan ahli pertanian. Beliau juga merumuskan kalimat motivasi kerja berikut "aja muffabbiasai alemu pogaau gau tekke tujung nasaba lele bulu tellele abbiasang, atinuluko mappalaung resopatu natinulu natemmangngi namalomo naletei pammase dewata".

Kira-kira tahun 1714 Petta La Maddukelleng meninggalkan Wajo karena huru hara dalam sabung ayam di Cenrana Bone, dimana ayam Arung Matowa Wajo La Selewangeng To Tenrirua mengalahkan ayam Punggawa Bone. Terjadi perselisihan antara orang Bone dan orang Wajo, orang Bone meninggal adalah 19 orang dan pihak Wajo adalah 15 orang.

Sebelum Petta La Maddukelleng meninggalkan Wajo ia dikawinkan dengan We Pennomatanna Arung Patila, terlebih dahulu dalam keadaan mengidam ia harus meninggalkan istrinya setelah lebih dahulu menghadap Arung Matowa Wajo. Lalu menyampaikan dalam pertemuan tersebut Petta La Maddukelleng menyampaikan bekalnya nanti di perantauan adalah:

  • Ketajaman lidahnya (kemampuan berdiplomasi)
  • Ketajaman Badiknya (kemampuan berperang)
  • Politik perkawinan

Pada permulaan tahun 1736, datanglah Arung Ta La Dallek yang membawa surat Arung Matowa Wajo La Salewangeng To Tenriruwa yang isinya memanggil Petta La Maddukelleng untuk kembali ke Wajo guna memederakan Wajo dari penjajahan Belanda (VOC) dan sekutu-sekutunya.

Menurut penelitian bahwa Peta La Maddukelleng adalah satu-satunya tokoh pejuang Sulawesi Selatan yang tidak mau kerjasama dengan VOC. La Maddukelleng adalah tokoh pejuang yang unik yang dapat mengalahkan Armada VOC, walaupun cukup terlatih dan terkoordinir dengan baik. Kemenangan La Maddukelleng dengan beberapa peperangan di motivasi oleh nilai budaya SIRI dan PESSE.

Beberapa kawan-kawan seperjuangan La Maddukelleng, Sultan Kutai Aji Muhammad Idris yang paling memahami pandangan dan tujuan La Maddukelleng, yaitu menghentikan dominasi kekuasaan orang-orang Barat, khususnya Belanda.

Sultan Kutai Aji Muhammad Idris mengorbankan negaranya, Kutai dan meninggalkan anak, istri dan keluarga untuk pergi membantu mertuanya La Maddukelleng guna mengusir penjajah asing. Bukti lain ketika mayoritas pasukan Tellumpoccoe menolak untuk pergi ke Makassar guna berperang hanyalah Aji Muhammad Idris yang mendukung La Maddukelleng.

Buku SEJARAH DAN PERJUANGAN LA MADDUKELLENG 1700 - 1765 membahas tentang perjuangan La Maddukelleng untuk membebaskan bumi Wajo pada khususnya Sulawesi Selatan pada umumnya, yaitu mampu menggalang kekuatan mempersatukan Sulawesi, mempersatukan visi dengan tekad tidak boleh ada campur tangan dengan VOC, mengenai perdagangan di Nusantara. Juga memberi teguran dan hukuman kepada semua kerajaan yang dianggap bersekutu atau kerja sama dengan pihak VOC. Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar.


SEJARAH DAN PERJUANGAN LA MADDUKELLENG 1700 - 1765
ARUNG MATOA-SULTAN PASIR

Penulis: H. Siardin Andi Djemma, Sudirman Sabang





KERAJAAN BONE: PENUH PERGOLAKAN HEROIK


Imperium Bone yang lahir di Pesisir Teluk Bone tahun 1330 M, tampaknya terdiskriminasikah oleh para sejarawan Indonesia abad ke-20 karena Arung Palakka bersekutu dengan Cornelis Speelman, Kapten Jonker "Petempur maniak asal Ambon" dan tokoh legendaris VOC abad ke-17 Sehingga, Imperium Bone dipandang sebelah mata. Padahal, kedua tokoh sejarah tersebut bersekutu atas dasar senasib.

Tokoh paling menonjol dari Kerajaan Bone atas kesuksesan memerdekakan bangsanya dari tekanan Kerajaan Gowa-Tallo, ialah Arung Palakka (Aru Palakka)”, yang notabene di kenal sebagai musuh bebuyutan Sultan Hasanuddin. 

Arung Palakka adalah putera mahkota yang ditawan Imperium Gowa-Tallo. Dia tidak betah menghadapi kenyataan, sehingga menyusun pemberontakan. Kegagalan, memaksanya melarikan diri ke Buton. Yang kemudian, skuadron angkatan laut VOC membawanya ke Batavia. Di sanalah, Arung Palakka dan Cornelis Speelman bertemu. Perasaan senasib membuat mereka dapat berteman baik, bertukar pikiran, dan saling mendukung.

Barulah pada raja ke-25, We Maniratu Arung Data/ I Mani Arung Data (1823-1835), persekutuan antara Bone dan Belanda tampaknya tidak menarik lagi. Pada waktu itu, Belanda baru kembali ke Makassar yang sempat diduduki Inggris. Tentunya sangat menyenangkan dapat kembali menghuni Benteng Rotterdam, dan dengan serta-merta Belanda merasa harus segera memperbarui isi perjanjian Bongaya. Tapi usul yang brilian itu –yang bertujuan untuk melanggengkan persekutuan yang dirintis leluhur Belanda (Speelman) ) dan Leluhur Bone (Arung Palakka), ditolak mentah-mentah oleh Arung Data. Di balik itu, dia pun sudah berintiku dengan Raja Gowa untuk—ada baiknya, menyudahi permusuhan leluhur mereka.

Arung Data, meskipun seorang wanita tetapi punya keberanian melebihi laki-laki. Dia dengan penuh semangat memimpin pasukannya -yang terdiri dari persekutuan kerajaan-kerajaan lain, menuju medan pertempuran. Dia bersumpah tidak mengizinkan orang Belanda yang rakus itu mengotori tanah Bone. Namun, dalam berkali-kali perlawanan yang melelahkan akhirnya dia terdesak, dan meninggal (pada usia 59 tahun) sebelum perang usai.

Kemudian, perlawanan itu harus dia wariskan kepada saudaranya, La Mappaseling Arung Pannyili (1835-1845). Sayang sekali, La Mappaseling Arung Pannyili tidak menyukai perang dan memilih negosiasi dengan Belanda. Barulah pada masa akhir kekuasaan raja ke-31, La Pawawoi Karaeng Sigeri (1895-1905) perlawanan kembali meletus. Tetapi, lagi-lagi berakhir buruk. La Pawawoi Karaeng Sigeri sudah terlalu tua untuk menjabat raja, jadi ketika mendapati panglima besar Baso Pagilingi –anaknya sendiri, tewas, menurutnya tak ada lagi yang bisa diharapkan. Kemudian oleh Belanda, raja tua itu diasingkan ke sebuah penjara di Bandung, lalu dipindahkan ke penjara Batavia.

La Pawawoi Karaeng Sigeri menjalani hari-hari melankolis penuh derita batin dalam udara pengap khas penjara Kompeni. Hidupnya berjalan lamban karena kesepian menahun, dan kematian baru mengeluarkannya dari tembok penjara; pada 11 November 1911.

Buku KERAJAAN BONE: PENUH PERGOLAKAN HEROIK memberikan catatan bahwa perang melawan Gowa-Tallo menarik karena bertemunya Arug Palakka dan Sultan Hasanuddin; serta Kapten Jonker, si petempur gigih asal Ambon. Kerajaan Bone memang dikenal sebagai kerajaan yang penuh dengan pergolakan. Melalui buku ini, masyarakat Indonesia pada abad ini diajak untuk lebih berpikir objektif bahwa segala sesuatu memiliki sebab-akibat.


KERAJAAN BONE: PENUH PERGOLAKAN HEROIK
Penulis: H.L. Purnama
Penerbit: Arus Timur
Tempat Terbit: Makassar
ISBN: 978-802-9057-71-3

January 17, 2022

LAPORAN PENELITIAN SEJARAH DAN NILAI TRADISIONAL SULAWESI SELATAN

Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Ujung Pandang melakukan tugas melaksanakan kajian kesejarahan dan nilai tradisional daerah Sulawesi Selatan yang tercermin dalam sistem sosial, sistem kepercayaan, lingkungan budaya dan tradisi lisan. Buku LAPORAN PENELITIAN SEJARAH DAN NILAI TRADISIONAL SULAWESI SELATAN sebagai salah satu usaha dalam rangka pembinaan dan pengembangan kebudayaan nasional.

Berikut empat laporan hasil penelitian yang di maksud:

  1. Kerajaan Balangnipa-Mandar, oleh Nooteboom C
  2. Sejarah Selayar, oleh Sukirman AR
  3. Perahu Tradisional Sulawesi Selatan, oleh M. Yunus Hafid
  4. Studi tentang Peralatan Industri/Kerajinan di Lingkungan Budaya Masyarkat Toraja, oleh Taufan S. Ma'dika

Kerajaan Balangnipa-Mandar, oleh Nooteboom C

Naskah ini terjemahan dari Nota van toelichting betreffende het Landschap Balangnipa Tijd. LIV 503v- 535, 1912, membahas tentang Kerajaan Balangnipa, mulai dari perbatasan yang terletak di dalam Afdeling Mandar dari Gubernur Selebes dan daerah teluknya kira-kira 2°50' L.S dan 118° 54' B.T. dan 119°20' B.T. dengan luas daerah kira-kira 2000 km² karena pengukuran yang teliti belum dilakukan, dengan asal baik orang-orang Mandar maupun pada orang-orang Toraja terdapat legenda serupa, mengenai asal usul yang sama, lebih mengherankan karena legenda perahu karam juga ditemukan disini, selain itu juga membahas tentang karakter penduduk, perbudakan, pelapisan sosial, bahasa, agama, upacra kelahiran, adat perkawinan, upacara kematian, upacara sunat dan asah gigi, hukum umum, cara hidup, perumahan, musik, keadaan kesehatan, perhitungan waktu, pendidikan dan peperangan. Selain itu juga membahas tentang

  • Susunan dari kerajaan: pembagian, kampung-kampung
  • Keadaan tanah:  iklim. 
  • Kerajinan, pertanian, peternakan, perburuan dan perikanan, perdagangan dan pelayaran
  • Susunan pemerintahan dan sejarahnya: pemerintahan, sejarahnya, penghasilan kepala, kas kerajaan
  • Kontrak-kontrak keterangan-keterangan

Sejarah Kabupaten Selayar, oleh Sukirman AR.

Dalam perkembangan sejarah daerah sejak abad XIII merupakan daerah yang penting dalam lalu lintas perdagangan, terutama sebagai tempat persinggahan kapal-kapal di luar Sulawesi Selatan. Karena kesuburan tanahnya pulau Selayar telah menjadi daerah rebutan antara kerajaan-kerajaan Gowa, Ternate dan sekitarnya sehingga terpecahlah dalam 17 daerah kerajaan kecil yang masing-masing 10 kerajaan berada di daratan dan 7 kerajaan berada di pulau. Mayoritas penduduk terdiri dari etnis Makassar, selebihnya termasuk suku bangsa. Buton, Jawa, Cina, Bima dan lain-lain.

Pada abad XV, di mana Raja Gowa ke IX Daeng Pamate memasukkan daerah Selayar dalam daerah wilayah kekuasaan Gowa. Dari ke tujuh belas kerajaan ini bersahabat dan mengakui daerah mereka adalah bagian dari wilayah Hindia Belanda, setiap kerajaan-kerajaan diperintah oleh seorang raja dengan gelar OPU, dibantu oleh beberapa majelis ada yang berwenang mengangkat dan memberhentikan raja.

Adanya pendamping-pendamping OPU menunjukkan bahwa OPU tidak memerintahkan secara otomatis atau otoriter (obsolut), tetapi melalui musyawarah dan mufakat. Sebelum Balanda memerintahkan secara langsung di Selayar tidak terdapat pendidikan formal. Pewarisan ilmu dari generasi ke generasi dilakukan secara tradisional, kebanyakan dilakukan secara individual. Kebudayaan dan kesenian daerah yang ada hampir seluruhnya meneruskan kesenian lama untuk memenuhi kebutuhan upacara-upacara adat, agama/kepercayaan seperti seni musik dide, seni musik rambang-rambang, tari pakarena, Bullo-Bullo, Patojang, tari Ganrang Bodak. Selain itu juga membahas tentang sejarah perkembangan daerah Selayar serta zaman masuknya bangsa asing hingga terbentuknya Selayar.

Perahu Tradisional Sulawesi Selatan, oleh M. Yunus Hafid
Sistim pembuatan perahu tradisional Sulawesi Selatan khususnya bagi masyarakat Bugis dan Makassar, masih menggunakan teknologi tradisional yang merupakan bagian pengetahuan tradisional masyarakat Bugis dan Makassar.

Sebagian besar para tukang pembuat perahu di Jeneponto dan Bone pada umumnya orang-orang yang berasal dari Desa Arah Kabupaten Bulukumba, yang datang ke tempat pembuatan tersebut, sehingga pengetahuannya tidak banyak beralih kepada penduduk Pallengu dan BajoE.

Sistem pengetahuan yang di miliki dalam pembuatan perahu, masih merupakan warisan yang secara turun-temurun. Demikian pula pelaksanaan upacara, sebagai bagian sistem kepercayaan masih tetap mereka lestarikan utamanya dalam upacara peluncuran perahu, atau pembuatan perahu. Kendatipun sudah semakin sulit mendapatkan bahan-bahan yang berupa kayu papan (kayu ulin/Sappu ), untuk pembuatan perahu, tetapi karena unsur budaya pembuatan perahu masih tetap fungsional maka sampai sekarang kegiatan pembuatan perahu tetap berlangsung.

Studi tentang Peralatan Industri/Kerajinan di Lingkungan Budaya Masyarkat Toraja, oleh Taufan S. Ma'dika
Tanah Toraja yang lazim disebut "Tondok Lepong Bulan Tana Matarik Allo" adalah salah satu lingkungan budaya di kawasan jazirah Sulawesi Selatan, kawasan tersebut sejak lama menjadi pusat kediaman masyarakat Toraja dengan latar belakang sosial budaya, adat istiadat dan sistem kepercayaan tradisional yang cukup unik dan spesifik.

Keunikan dan spesifikasi masyarakat Toraja bukan hanya tercermin pada sistem kemasyarakatan ataupun konsepsi budayanya cermin pada sistem kemasyarakatan ataupun konsepsi budayanya yang terkait dengan unsur-unsur kepercayaan leluhur yang disebut aluk todolo, akan tetapi sekaligus tergambar pada kemampuan warga setempat untuk memanfaatkan aneka ragam potensi sumber daya alam, sebagai suatu alternatif yang dipilih dalam rangka pemenuhan kebutuhan hidupnya. Sama halnya dengan setiap masyarakat manusia, masyarakat Toraja memiliki pula berbagai macam jenis kebutuhan selain sandang, pangan, dan papan, antara lain seperti peralatan upacara, peralatan dapur, peralatan makan dan minum, peralatan produksi, dan sebagainya.

Dalam upaya pemenuhan kebutuhan hidup tersebut, masyarakat Toraja sejak lama mengembangkan kegiatan produksi berbagai jenis peralatan hidup melalui usaha kerajinan industri rumah tangga. Kegiatan industri dan kerajinan tersebut dilakukan dengan menggunakan ketrampilan dan teknologi tradisional pula, termasuk cara memilih serta memanfaatkan bahan baku yang berasal dari kekayaan alam sekitar.

Jenis-jenis hasil kerajinan yang selama ini menjadi daya tarik Tana Toraja ialah ukiran, hiasan / barang pajang, dan pelengkap alat-alat rumah tangga. Hasil produksi kerajinan tersebut bukan hanya digunakan oleh warga masyarakat setempat, melainkan juga bermanfaat sebagai candramawa yang cukup digemari oleh wisatawan. 

Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar.


LAPORAN PENELITIAN SEJARAH DAN NILAI TRADISIONAL 
SULAWESI SELATAN
Penulis: Nooteboom C, Sukirman AR, M. Yunus Hafid, Taufan S. Ma'dika
Penerbit: Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Ujung Pandang
Tempat Terbit: Ujung Pandang
Tahun Terbit: 1994




November 17, 2021

PETTA KALIE BONE



Istilah "Qadhi" berasal dari bahasa Arab, yang bermakna melakukan, menetapkan, memutuskan, putusan pengadilan, seseorang yang ahli dalam menetapkan hukum dan hakim (A.W. Munawwir, 1997: 1130), kemudian tertulis dalam bahasa Indonesia ejaan lama "Kadli" kemudian berubah penyebutan dalam bahasa lisan masyarakat Bugis dengan sebutan "Kali" dan berkembang dengan sebutan "Petta Kalie", tambahan kata "petta" sebagai bentuk penghormatan atau gelar bangsawan.

"Petta Kalie" sangat akrab bagi masyarakat Bone, Wajo, Soppeng, Sidenreng, Luwu atau daerah-daerah Bugis lainnya di Sulawesi Selatan. Qadhi/kalie dijabat oleh seorang alim-ulama yang berpengetahuan ISlam secara mumpuni serta masih keturunan raja atau kaum bangsawan, seperti Qadhi Bone I Faqih Amrulah (1629-1663 M) termasuk keturunan Raja Gowa yaitu putra Sayid Muhsin dan cucu I Malingkaan Daeng Manyonri Sultan Abdullah Awwalul Islam (Raja Gowa-Tallo yang pertama masuk ISlam). Bahkan jabatan Qadhi Bone menurut A. Palloge adalah pejabat sara' (parewa sarak) yang tertinggi di Kerajaan Bone adalah kali (qadhi).

Buku PETTA KALIE BONE: Studi Arkeologis Batu Nisan Makam Qadhi dan Hierarkinya dalam Pangngadereng di Kerajaan Bone menyajikan informasi tentang Petta Kalie di Bone hierarki Qadhi dalam sistem Pengngadereng di Kerajaan Bone, berdasarkan hasil penelian dari sudut pandang arkeologi religi terhadap batu nisan makam para qadhi yng ada di Bone.

Kompleks makam Qadhi Bone Masjid Tua al-Mujahidin Watampone, tidak ada kode situs, karena belum dijadikan sebagai bagian dari Benda Cagar Budaya oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Bone. Situs ini terletak di lingkungan Laleng Bata, Kelurahan Bukaka, Kecamatan Tanete Riattang, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan.

Konstruksi bangunan makam yang berkembang di daerah Bone khususnya pada peletakan batu nisan memiliki makna yaitu, satu batu nisan bermakna bahwa dikuburkan adalah mayat laki-laki, sedangkan peletakan 2 (dua) batu nisan menunjukkan makna bahwa yang dikuburkan adalah mayat perempuan. 

Khusus batu nisan untuk makam Raja Bone dan Qadhi Bone, memiliki dua batu nisan yang menunjukkan makna bangsawan/arung dan ulama, serta penghormatan atas jasa-jasanya dalam mengabdi pada rakyatnya. Hal ini menunjukkan bahwa hierarki raja dan qadhi dalam peletakan butu nisan memiliki kesamaan, yaitu terdapat dua buah batu nisan.

Pangngadereng dalam sistem adat masyarakat Bugis Bone dipandang sebagai sesuatu yang mengandung nilai-nilai luhur dan dapat dijadikan sebagai way of life dalam kehidupan. Bahkan setelah terjadi islamisasi di Kerajaan Bone, pangngadereng tidak serta merta dilebur dalam sistem syariah. Akan tetapi justru antara syariah dan pangngadereng (ade') menjadi dua hal yang saling mendukung dan saling menghormati.

Kedudukan qadhi tersebut menunjukkan gambaran bahwa posisi qadhi sangat tinggi karena disederajatkan dengan kedududkan para pejabat tinggi dalam sistem Kerajaan Bone. Kedudukan ini menjadikan qadhi mempunyai kekuatan luas dalam memutuskan dan mengatur segala hal yang berhubungan dengan bidang keagamaan, kedudukan ini berakhir pada tahun 1951.

Adapun tugas-tugas pokok Qadhi Bone yaitu: memberi pertimbangan kepada raja dalam masalah yang berhubungan dengan hukum syariat Islam. Mengadili serta memutuskan segala perkara yang menuntut tentang warisan, pembagian harta warisan pelaksanaan wasiat, pemutusan perkawinan, talak, ta'lik, fasakh, ruju' dan lain yang berkaitan dengan urusan nikah. Mendamaikan perselisihan antara suami-istri yang menyangkut masalah kerumahtanggaan. Melaksanakan pernikahan dan menyelenggarakan upacara-upacara kematian raja-raja serta kaum bangsawan lainnya. Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan, yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar.

PETTA KALIE BONE: Studi Arkeologis Batu Nisan Makam Qadhi dan 
Hierarkinya dalam Pangngadereng di Kerajaan Bone
Penulis: Muslihin Sultan
Penerbit: Yayasan Al-Muallim
Tempat Terbit: Gowa
Tahun Terbit: 2011
ISBN: 978-797-15712-4-1








February 23, 2021

LONTARAK PABBURA (SUATU KAJIAN TENTANG MEDIS ORANG BUGIS)

Sistem pengetahuan orang Bugis mengenai pengobatan dan penyembuhan penyakit, cukup memadai dapat ditemukan dalam naskah-naskah lontarak. Praktek-praktek kedukunan berdasarkan apa yang terlukis dalam lontarak, agaknya sudah mulai langka dilakukan, namun praktek-praktek tersebut sudah menjadi milik umum, sehingga masih dilakukan sebagai pertolongan bagi penanggulangan penyakit.

Sistem pengobatan dan cara-cara penyembuhan tersusun secara sistematika dalam lontarak, dimulai dari penyakit di kepala dan berakhir di kaki, serta bahan-bahan yang digunakan terdiri atas bahan-bahan nabati, hewani dan bahan-bahan kimiawi lainnya yang terdapat dalam lingkungan alamnya.

Sistem medis orang Bugis berpangkal pada prinsip harmonisasi dalam tellu sulapa eppa, yaitu:

  1. Komponen-komponen asal kejadian manusia
  2. Komponen kwalitas alam sekitar manusia seperti hawa panas, dingin, keringat dan lembab
  3. Komponen substansi cairan dalam tubuh manusia, yaitu cairan darah, lendir (flegma), empedu kuning dan empedu hitam.
Ketiga satuan komponen ini merupakan dimensi segi empat yang senantiasa harus terjalin secara harmonis untuk disebut sehat. Cara pengobatan terhadap penyakit yang dialami, pada hakekatnya mencari ramuan obat yang akan mengembalikan harmonisasi itu, jika tadinya penyakit membuat is-harmonis (tidak seimbang) bagi tubuh manusia.  Cara penyembuhan, sementara dicari hukum kausalitas, yaitu hal-hal tertentu yang menyebabkan penyakit, dilakukan tindakan-tindakan penyembuhan dengan berbagai cara, misalnya membuat ramuan obat, membaca doa-matra atau mengadakan upacara-upacara yang berhubungan dengan penyembuhan.

Buku LONTARAK PABBURA (SUATU KAJIAN TENTANG MEDIS ORANG BUGIS) berisi kajian tentang sistem medis orang Bugis, yaitu terdiri atas a) konsep medis; b) klasifikasi ramuan dan cara penyembuhannya menurut lontarak Wajo dan Bone; c) klasifikasi ramuan dan cara penyembuhan menurut lontarak Wajo dan Bone serta diuraikan nama-nama bahan-bahan dan tumbuh-tumbuhan yang digunakan sebagai obat-obatan orang Bugis. Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan  Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi di jalan Sultan Alauddin Km. 7 Talasalapang, Kotamadya Makassar yang membahas tentang sistem pengobatan dan cara-cara meramu bahan-bahan yang dapat diperoleh dari lingkungan hidup bagi setiap jenis penyakit.


LONTARAK PABBURA 
(SUATU KAJIAN TENTANG MEDIS ORANG BUGIS) 
Penelitih: Abu Hamid, Ambo Gani, Mulyati Tahir, Mappasere
Penerbit: Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Sulawesi Selatan La Galigo
Tempat Terbit: Ujung Pandang
Tahun Terbit: 1986

December 4, 2020

The Heritage of Arung Palakka, A History of South Sulawesi (Celebes) in The Seventeenth Century

 

Judul : The Heritage of Arung Palakka

Penulis : Leonard Y. Andaya

Penerbit : Martinus Nijhoff

Tempat terbit : The Hague (Belanda)

Tahun terbit : 1981

Jumlah Halaman : xiv + 367

Bahasa : Inggris

ISBN : 90.247.2463.5

Buku yang berjudul The Heritage of Arung Palakka, A History of South Sulawesi (Celebes) In The Seventeenth Century (Warisan Arung Palakka, Sejarah Sulawesi Selatan pada Abad ke-17), ditulis oleh Leonard Y. Andaya. Beliau adalah seorang Professor Sejarah Asia Tenggara di Universitas Hawaii di Manoa, Hawaii Amerika Serikat. Andaya juga peneliti di Universitas Malaya, di Malaysia, Universitas Nasional Australia di Canberra, dan di Universitas Auckland di Selandia Baru.  Konsentrasi kepakarannya adalah sejarah Asia Tenggara terutama tentang Malaysia, Indonesia, Filipina Selatan dan Thailand Selatan. Buku yang ditulis setelah melakukan serangkaian penelitian di Sulawesi Selatan selama beberapa tahun, membahas tentang Arung Palakka secara khusus dan sejarah Sulawesi Selatan pada abad ke-17 secara umum. Buku ini sangat menarik karena membahas seorang tokoh kontrovesial Bugis dari masa lalu. Kontroversial karena sebagian masyarakat sampai kini meyakini beliau sebagai pahlawan, namun sebagian lain menilainya sebagai penghianat.

Buku ini dibagi menjadi 12 chapter (bab atau bagian) dan diawali dengan Daftar Peta (List of Maps), Acknowledgement (Pengantar), A Note on the Spelling, Notes and Maps (catatan atas Ejaan, Catatan, dan Peta), Abbreviations (singkatan) dan Introduction (Pendahuluan). Selanjutnya bab bab dibagi sebagai berikut:

Bab pertama : State and Society in South Sulawesi in the 17th Century (Negara dan Masyarakat di Sulawesi Selatan pada abad ke-17).

Bab kedua :  Road to Conflict (Jalan menuju konflik)

Bab ketiga : The Makassar War (Perang Makassar)

Bab keempat : The Treaty (Pernjanjian)

Bab kelima : The Unfinished War (Perang yang tak selesai)

Bab keenam : The new Overlords (Penguasa penguasa baru)

Bab ketujuh : Trials of overlordship (ujian bagi para penguasa baru)

Bab kedelapan : The Refugees (Para Pengungsi)

Bab kesembilan : Challenge from Within (tantangan dari dalam)

Bab kesepuluh: Securing the Succession (mengamankan suksesi)

Bab kesebelas : The Peace of Arung Palakka (Perdamaian Arung Palakka)

Bab keduabelas : The Legacy (Warisan)

Pada bagian selanjutnya adalah Appendix A dan appendix B. Appendix A memuat daftar nama nama Raja yang berkuasa dibeberapa kerajaan di Sulawesi Selatan pada abad ke-17, dan Appendix B adalah daftar Pernjanjian Bungayya 18th November 1667. Kemudian ada Glossari yang membahas tentang kata kata yang sulit dipahami. Pada bagian akhir juga ada Notes (catatan catatan), Bibliography dan Indeks. Penulis banyak menggunakan Bibliografi yang berupa naskah naskah Bugis kuno, monograf, dan sumber lainnya.

Hal menarik dibuku ini adalah tersedia Indeks pada bagian akhir, jadi anda tidak perlu membaca secara berurutan sampai mendapatkan topik yang dibutuhkan. Cukup mencarinya di Indeks saja.

Buku ini masih berbahasa Inggris, namun jika anda kesulitan memahami isi bukunya, anda bisa mencari versi terjemahannya yang ditebitkan oleh Ininnawa (2013).

Koleksi Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan.

 

 


 

July 30, 2020

ZAMAN SEBELUM MASUKNYA AGAMA ISLAM DAN ZAMAN MASUKNYA AGAMA ISLAM (DI SOPPENG, SIDENRENG, WAJO DAN BONE)



Dalam sejarah kehidupan suku-suku bangsa di Sulawesi Selatan, termasuk Soppeng, datangnya suatu masa yang dikenal zaman To Manurung, umumnya dipandang sebagai fase dari peletakan dasar-dasar hidup berpemerintahan, bahkan juga kehidupan sosiokultural. Dasar-dasar kehidupan tersebut kemudian menjadi tradisi yang secara estafet diwariskan turun temurun dari suatu generasi ke generasi berikutnya sampai generasi sekarang.

Buku ZAMAN SEBELUM MASUKNYA AGAMA ISLAM DAN ZAMAN MASUKNYA AGAMA ISLAM (DI SOPPENG, SIDENRENG, WAJO DAN BONE) membahas tentang zaman sebelum masuknya agama Islam yang di tandai dengan kedatangan To Manurung; perjanjian politik antara Bone, Wajo dan Soppeng;  perjanjian politik antara Soppeng dan Wajo; perjanjian antara Soppeng dan Luwu; pertempuran melawan Kerajaan Lamuru; pertempuran melawan Kerajaan Ajattappareng; pertempuran melawan Kerajaan Cenrana; pertempuran melawan pasukan Kerajaan Gowa di Suppa; pertempuran melawan pasukan Kerajaan Gowa di Maroanging; Pertempuran melawan pasukan Kerajaan Gowa di Pare-pare; pertempuran melawan pasukan Kerajaan Gowa di Rappang; pertempuran melawan pasukan Kerajaan Gowa di Soppeng; pertempuran melawan pasukan Kerajaan Wajo; dan pertempuran melawan pasukan Kerajaan Bone.

Sedangkan zaman masuknya agama Islam di Soppeng, Sidenreng, Wajo dan Bone mengenai pengembangan Islam dapat diterima orang, terutama karena sebelum Islam menjadi agama resmi Kerajaan Gowa pernah raja-raja mengadakan suatu perjanjian yang merupakan “ikrar bersama” yang berbunyi Bahwa barang siapa (diantara raja-raja itu) ada menemukan sesuatu jalan yang lebih baik, maka berkewajibanlah yang menemukan jalan itu memberitahukan pula kepada raja-raja lainnya yang turut berikrar pada perjanjian tersebut.

Berdasarkan perjanjian yang telah diikrarkan bersama itu, Sultan kerajaan Gowa lalu mengajak raja-raja lain itu, supaya menempuh pula jalan yang lebih baik, ialah “memasuki Islam”. Seruan Sultan Gowa itu segera mendapat sambutan beberapa raja-raja kecil, sehingga penyiaran Agama Islam di daerah raja-raja itu diterima dengan damai dan rela.

Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Perpustakaan Abdurrasyid Daeng Lurang yang berlokasi di jalan Kenanga No. 7A Sungguminasa, Kabupaten Gowa mengenai sejarah Soppeng, Sidenreng, Wajo dan Bone.


ZAMAN SEBELUM MASUKNYA AGAMA ISLAM DAN
ZAMAN MASUKNYA AGAMA ISLAM
(DI SOPPENG, SIDENRENG, WAJO DAN BONE) JILID 1
Penulis : Tim Aksara
Editor: H. Nonci
Penerbit: Aksara
Tempat Terbit: Makassar

July 11, 2020

KATA-KATA MUTIARA DARI LONTARA KERAJAAN BONE


MAKKEDAI TO-RIOLOE, TELLUI APPONGENNA DECENNGE RILINO:

SEUWANI, PESANGKAIENNGI TIMUNNA MAKKEDA MAJA.

MADUANNA, PASANGKAIENNGI NAWA-NAWA MANNAWA-NAWA MAJA’

MATELLUNNA, PASANGKAIENGI GAUN’NA MANGKAU’ MAJA’.

Maksudnya, berkata orang dahulu (orang tua-tua), ada tiga pangkal mulanya kebaikan di dunia:
Pertama, Mencegah (melarang) mulutnya berkata jelek (tidak membiasakan diri mengeluarkan kata-kata tidak baik).

Kedua, Mencegah (melarang) pikirannya berpikir jelek-jelek (tidak membiarkan diri memikirkan atau merencanakan sesuatu yang tidak baik).

Ketiga, Mencegah (melarang) tingkah lakunya perbuatannya melakukan perbuatan jelek (tidak membiasakan diri berbuat/bertingkah laku yang tidak baik).

Tegasnya, “hidup di dunia ini harus mampu mengendalikan diri yang merupakan pangkal tolak dalam melaksanakan kehidupan dalam segala segi”.

BINGKISAN BUDAYA SULAWESI SELATAN
Penerbit: Yayasan Kebudayaan Sulawesi Selatan
Tempat Terbit: Ujung Pandang
Tahun Terbit: 1986

KAJAO LA LIDDONG-PEMIKIR BESAR DARI TANAH BUGIS



Mengukir sejarah pada abad XVI di Sulawesi Selatan, merupakan suatu prestise gemilang yang hingga kini masih sulit ditandingi. Sosok seorang tokoh bergelar Kajao Laliddong, penasehat Raja Bone, memang patut dikenang, dicatat pemikirannya serta diungkapkan nilai-nilai yang dikandung maksud dari berbagai pesan yang diungkapkannya.

Sebagai seorang anak kampung dari Laliddong, sekitar 10 km sebellah barat Watampone, ia hampir tidak dikenal nama aslinya. Sebagai seorang rakyat biasa, maka sudah pasti tidak mungkin dapat menginjak Istana Kerajaan secara bebas, kalau tidak memiliki keajaiban dalam dirinya. Kalau tidak karena hak-hak istimewa yang diberikan oleh Arung Mangkau, sebutan sebagai kepala pemerintahan Kerajaan Bone.

Sebab meskipun feodalisme tidak dikenal dalam lingkungan Kerajaan Bone, namun tatanan adat istiadat mengajarkan untuk menghargai posisi Raja dan lingkungan istananya, tidak memperkenankan orang-orang yang bukan anggota perangkat kerjaan –para pegawai atau sanak keluarga, bebas masuk keluar lingkungan istana. Sekali lagi, Kajao Laliddong, salah satu yang teristimewa karena sekaligus diberi tempat tinggal dalam lingkup istana.

Buku KAJAO LA LIDDONG-PEMIKIR BESAR DARI TANAH BUGIS tentang sikap Raja Bone dalam menunjuk seseorang penasehat dan pemikir kerajaan. Kajao Laliddong, dipilih dan diangkat sebagai penasehat Raja, sekaligus sebagai pemikir ahli untuk pemerintahan Kerajaan Bone. Dan dipilih, tentu bukan karena nepotisme Raja apalagi karena KKN. Sebagai KAJAO bukan hanya penasehat kerajaan, melainkan juga sebagai JURU BICARA dan DIPLOMA ke berbagai Negara kerajaan terdekat, seperti Wajo, Soppeng dan Sirenreng.

Perannya sebagai penasehat Raja yang sekaligus pemikir kerajaan, sangat besar dalam mempengaruhi penetapan keputusan tentang sikap kerajaan menanggapi berbagai masalah. Terkhusus bagi Raja selaku kepala pemerintahan, apabila salah Raja selaku kepala pemerintahan, apabila salah pengambilan keputusan maka pasti kerajaan akan hancur dan rakyat korbannya.

Kajao Laliddong dalam memberikan jawaban tidak secara ferbal, melainkan dalam perandaian atau kata simbolik, “Saya mencoba merasakan bagaimana perasaan rakyat jika tidak pernah melihat pemimpinnya.” Dengan ungkapan itu raja mengerti bahwa koreksi atas dirinya yang tidak pernah keluar istana melihat rakyat secara langsung.

Sebagai seorang pemikir, Kajao Laliddong mengungkapkan dalam pertemuan dewan hadat, jika diminta berpendapat atas diskusi antara anggota dewan adat. Secara bijak, memang Kajao hanyalah diam pada pertemuan dewan adat, sebab bukan anggota, sehingga nanti berpendapat jika diminta raja. Namun jika sudah berpendapat, biasanya menjadi dasar kesepakatan yang di setujui dewan adat.

Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Perpustakaan Abdurrasyid Daeng Lurang yang berlokasi di jalan Kenanga No. 7A Sungguminasa, Kabupaten Gowa, menggambarkan betapa pentingnya posisi dan peranan seorang penasehat raja atau pemikir kerajaan, yang dimainkan oleh Kajao Lalinddong di masa pemerintahan Kerajaan Bone.


KAJAO LA LIDDONG-PEMIKIR BESAR DARI TANAH BUGIS
114 + xiv halaman, 15 x 21 cm
Penulis: Asmat Riady L
Penerbit: Lamacca Press
Tempat Terbit: Makassar
Tahun Terbit: 2004
ISBN: 979-97452-3-3


June 30, 2020

HASANUDDIN, AYAM JANTAN DARI TIMUR


Putra kedua Sultan Malikussaid, Raja Gowa ke-15 ini, memang pemberani. Sewaktu remaja ia acap kali menjadi utusan ayahnya mengunjungi berbagai kerjaaan di Indonesia. Bahkan ia juga menjadi pemimpin pasukan istimewa Gowa, Kareang Tummakkajannangang.

Hasanuddin yang lahir 12 Januari 1931 di Gowa ini, kemudian menjadi Raja Gowa ke-16 menggantikan ayahnya. Ia memerintah tahun 1653-1670. Nama lengkapnya Mallombasi Muhammad Bakir Daeng Mattawang Karaeng Bontomangape Sultan Hasanuddin Tumenanga ri Balla ‘Pangkana.

Ketika ia naik takhta, hubungan antara Gowa dengan VOC - Belanda sedang memburuk. Ini disebabkan keinginan VOC untuk memonopoli perdagangan rempah-rempah. Pada saat Hasanuddin memerintah, ia secara tegas menolak keinginan VOC tersebut. Inilah yang kemudian menyebabkan peperangan antara Gowa dengan Belanda.

Tahun 1666 Belanda mengirim tentaranya dari Batavia, di bawah pimpinan Laksamana Cornelis Jeans Zoon Speelman. Karena Belanda dibantu Arung Palakka dari Bone, akhirnya Hasanuddin terpaksa menerima perjanjian damai dengan Belanda, yang ditandatangani tanggal 18 November 1667, di Bungaya. Isinya, sangat merugikan Gowa.

Karena merasa dirugikan, Hasanuddin kembali mengadakan perlawanan. Akhirnya pada tanggal 12 Juni 1669, benteng Gowa yang terakhir, yaitu Somba Opu jatuh pula ke tangan penjajah Belanda.

Dengan jatuhnya benteng Somba Opu, maka perang antara Hasanuddin dengan Belanda berakhir. Hasanuddin kemudian digantikan putranya, yaitu Sultan Amir Hamzah. Pada tanggal 12 Juni 1670, ia meninggal.

Meski bermusuhan, Belanda tidak dapat menyembuntikan kekagumannya pada Hasanuddin, Belanda meberi gelar De Haan van het Oosten, atau Ayam Jantan dari Timur.

Berdasarkan S.K. Presiden R.I. Nomor 087/TK/1973, tanggal 6 November 1973, ia ditetapkan sebagai Pahlawan Perjuangan Kemerdekaan.

ENSIKLOPEDI ANAK INDONESIA 5 H-J
Penerbit: PT. Cipta Adi Pustaka
Tahun Terbit: 1989.

May 13, 2020

Arung Palakka, Sang Pembebas


Buku : Arung Palakka, Sang Pembebas

Penulis : La Side

Penerjemah : H. A. Ahmad Saransi

Pengantar : Dr. Muhlis Paeni

Penerbit : Pustaka Sawerigading, bekerjasama dengan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Sulawesi Selatan, Makassar 2014

Jumlah halaman : xxxiv + 154

Ukuran : 19 x 12,5 cm

ISBN : 978-602-9248-19-7

Buku ini aslinya ditulis dalam bahas Bugis dan dengan aksara Lontara Bugis, yang kemudian dialiha-basa-kan dan dialih-aksara-kan kedalam bahasa Indonesia dengan aksara Latin. Sosok controversial Arung Palakka, nampaknya tak pernah berhenti menjadi topik penulisan oleh para peneliti, sejarawan, dan pemerhati sejarah lainnya. Bisa dikatakan beliaulah tokoh Sulawesi Selatan yang mungkin paling banyak ditulis dalam buku buku sejarah.

Kisah dalam buku ini sebenarnya tidak murni sejarah Arung Palakka, tapi lebih bersifat Roman Sejarah. Kisah ini dinarasikan seakan akan penulisnya (La Side) hidup sezaman dengan Arung Palakka sendiri sehingga dalam kisah ini, ada banyak dialog dialog antara para tokoh yang berperan didalamnya. Tapi bisa saja dialog tersebut memang begitu adanya, dan bisa juga hanya tambahan semata untuk melengkapi suatu rangkaian kisah perjuangan  Arung Palakka.

“…tak diragukan lagi bahwa keterlibatan Arung Palakka dan orang orang Bone dalam perang adalah pemulihan harga diri, siri’. Keduanya diikat oleh satu hubungan emosional yang amat dalam, pesse. (Mukhlis Paeni)

Buku ini diawali dengan Kata Pengantar dari Penerbit, Sambutan dari H. Ajiep Padindang, Pengantar dari Penerjemah, dan Prolog dari Dr. Mukhlis PaEni, ketua Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI).

Kemudian kisah “Arung Palakka, Sang Pembebas” ini dibagi dalam fragmen fragmen sebagai berikut:

-Sang Kakek

-Bone Paliliq Gowa

-Kekalahan di Sempeq

-Arung Tanatengnga

-Kerjapaksa di Gowa

-Kerja Bersama Rakyat

-Wafatnya Sang Ayah

-Sebuah Rencana

-Hari Pembebasan

-Persekutuan

-Perang di Lamuru

-Pengejaran Pasukan Gowa

-Menuju Buton

-Berlindung di Buton

-Menuju Batavia

-Menyerang Pariaman

-Karaeng Bontomarannu

-Pulang Ke Bone

-Menaklukkan Gowa

Pada bagian akhir ada Glossarium (penjelasan istilah istilah dalam bahasa Bugis kedalam bahasa Indonesia) , tentang Penulis dan tentang Penerjemah.

Buku koleksi Perpustakaan Khusus, Unit Kearsipan, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Sulawesi Selatan.