Suku Bajo merupakan komunitas yang kesehariannya berada di atas perahu, sehingga dikenal dengan sebutan "manusia perahu". Sejak lahir suku Bajo sudah memperkenalkan anak-anaknya dengan air laut. Sekalipun suku Bajo sekarang ini sudah menetap di darat, namun aktivitas keseharian berhubungan erat dengan laut. Ketergantungan suku Bajo dengan laut sangat tinggi, sehingga laut adalah segalanya bagi suku Bajo.
Dalam mengelola sumber daya laut, suku Bajo telah memiliki pengetahuan lokal yang diwariskan secara turun temurun, merupakan bagian dari sistem budaya dan pranata sosial, dan dijadikan sebagai pedoman dalam memanfaatkan suberdaya hayati laut sebagai mata pencarian, dan untuk menjaga kelestarian lingkungan laut. Bagi suku Bajo, laut adalah cermin dari kehidupan masa lalu, kekinian dan harapan masa depan.
Meskipun orang Bajo telah hidup di daerah lain dan hidup berdampingan dengan suku-suku lain, tradisi kehidupan masyarakat Bajo di suatu wilayah masih menerapkan pola-pola kebiasaan sesuai warisan leluhurnya. Sebagai suku pengembara laut, kehidupan sehari-hari masyarakat Bajo selalu bersentuhan dengan laut. Mereka bermukim di pinggir laut, hidup berkelompok membentuk perkampungan di pesisir pantai terutama di daerah-daerah teluk yang terlindungi dari hempasan gelombang laut, dan bermata pencaharian sebagai nelayan. Mereka juga masih menerapkan adat istiadat dan ciri-ciri khas sesuai kebiasaan turun-temurun, bahkan masih melakukan upacara-upacara tradisional yang berkaitan dengan mata pencaharian di laut.
Kedekatan orang Bajo dengan laut telah membentuk alam pikiran yang berorientasi pada laut. Mereka memandang laut sebagai kampung halaman dan sumber kehidupan, sekalipun mereka menetap di darat, karena ketergantungan mereka dengan laut. sangat tinggi. Oleh karena itu, nelayan suku Bajo memandang laut dengan berbagai sudut pandang, yakni laut sebagai sahabat (sehe), laut sebagai obat (tabar), laut sebagai makanan (anudinta), laut sebagai prasarana transportasi (lalang), laut sebagai tempat tinggal (patambangan).
Buku PENGETAHUAN LOKAL NELAYAN BAJO mengungkapkan berbagai bentuk pengetahuan lokal suku Bajo yang bermukim di Kelurahan Bajoe, Kabupaten Bone Provinsi Sulawesi Selatan. Pengetahuan lokal yang dimiliki meliputi pengetahuan tentang lokasi penangkapan ikan, pengetahuan tentang biota laut, pengetahuan berkenaan dengan sistem pelayaran, dan pengetahuan tentang alat tangkap ramah lingkungan, digunakan untuk mengatasi terjadinya kerusakan terumbu karang dan biota laut lainnya, yang berdampak pada menurunnya pendapatan nelayan. Pengetahuan lokal tersebut masih dijunjung tinggi dan dipatuhi oleh masyarakat nelayan Bajo Kelurahan Bajoe, walaupun modernisasi armada dan peralatan tangkap sudah memasuki kehidupan sebagaian suku bajo.
Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar yang membahas keberadaan pengetahuan lokal nelayan Bajo sebagai pengetahuan budaya (cultural knowledge) yang mencakup nilai-nilai, norma-norma dan kepercayaan-kepercayaan yang melandasi perilaku budaya (cultural behavior) masyarakat nelayan suku Bajo dalam pengelolaan lingkungan laut secara berkelanjutan atau lestari.
Penulis: Abdul Hafid
Penerbit: Pustaka Refleksi
Tempat Terbit: Makassar
Tahun Terbit: 2014
ISBN: 978-979-3570-72-3











