Pajoge merupakan istilah dalam bahasa Bugis yang berasal dari kata dasar joge' yang berarti goyang/bergoyang. Penambahan awalan "pa" pada kata “joge” menjadi pajoge' berarti pelaku/penari Pajoge yang sekaligus menjadi nama dari sebuah tarian yang tumbuh dan berkembang dalam masyarakat Bugis Bone.
Keberadaan Pajoge dalam kerajaan Bone telah ada sebelum pemerintahan pra islam dan pasca islam di Bone, yang di tandai dengan keberadaan Pajoge pada periode Raja Bone X, We Tenri Tappu Matinro-E ri Sidenreng yang memerintah selama 9 tahun, yakni 1603-1611 M (periode akhir pra- islam di kerajaan Bone).
Menurut Muh. Siji, Pajoge yang berkembang dalam masyarakat Bugis Bone ada dua macam, yaitu Pajoge Makkunrai dan Pajoge Angkong. Pajoge' Makkunrai adalah Pajoge' yang ditarikan oleh gadis remaja atau perempuan (makkunrai), dan Pajoge' Angkong adalah Pajoge' yang ditarikan oleh calabai (waria/wadam). Pajoge Makkunrai tumbuh dan berkembang dalam istana, dan kemudian merambah ke luar istana yang ditarikan oleh tomaradeka/tosama (perempuan dari golongan bukan hamba tapi juga bukan dari golongan bangsawan atau golongan tenri puata-teppapuata, yakni tidak diperhamba dan tidak pula memiliki hamba), dan ditarikan oleh ata (hamba sahaya) dan dipelihara oleh kaum bangsawan.
Keberadaan Pajoge Makkunrai menjadi sebuah kebanggaan bagi penarinya sekaligus sebagai cap kurang menyenangkan. Pajoge Makkunrai yang ditarikan oleh tomaradeka dan ata sangat familiar dalam masyarakat karena menjadi pertunjukan yang dapat ditonton oleh semua kalangan baik oleh bangsawan di dalam istana maupun orang kaya dan rakyat di luar istana (pasar malam).
Sisi lain bahwa konotasi dari kata Pajoge menjadi tidak baik dalam pemaknaan masyarakat Bugis Bone, yakni perempuan yang selain menari, juga bisa dipakai/digauli oleh bangsawan maupun orang kaya sekalipun tidak dinikahi.
Di era sekarang Pajoge sebagai sebuah tarian tidaklah menjadi momok bagi masyarakat Bugis Bone. Bahkan orang tua mengizinkan anak-anak mereka untuk belajar tari Pajoge pada sanggar-sanggar tari yang ada di Bone. Selain ketidak tahuan sebahagian dari mereka tentang pemaknaan istilah Pajoge pada masa lampau, juga karena animo dan apresiasi masyarakat terhadap seni, khususnya seni tari semakin baik.
Buku PAJOGE: Representasi Pertunjukan Istana dan Pasar Malam membahas tentang pasang surutnya Pajoge dalam masyarakat Bugis selain itu juga membahas tentang pajoge makkunrai, pajoge angkong serta pajoge angkong versi Mami Fitri. Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar.
Penulis: Nurwahidah
Penerbit: Berkah Utami
Tempat Terbit: Gowa
Tahun Terbit: 2018
ISBN: 978-602-5954-94-8
