Daerah Sulawesi Selatan merupakan daerah pertanian yang sudah terkenal sejak dahulu kala. Hal ini dapat dibuktikan antara lain oleh banyaknya sejarah/lontarak yang khusus membicarakan tentang hal-hal yang berhubungan dengan pertanian. Demikian pula cendekiawan-cendekiawan banyak memberikan petua-petua untuk memperbaiki dan memajukan pertanian seperti petua-petua dari Puang Ri Maggalatung, Nenek Mallomo, Kajao Laliddo, Maccae ri Luwu dan lain sebagainya.
Sulawesi Selatan sebagai daerah pertanian disebabkan antara lain oleh keadaan alamnya, yang membujur dari utara ke selatan dan ditengahnya terdapat deretan-deretan pegunungan Maros, Bone dan Latimojong. Keadaan ini menyebabkan adanya pergantian turun hujan di pantai barat dan timur, bila dipantai barat turun hujan di pantai timur musim kemarau. Oleh karena itu musim hujan sawah di pantai Bone berbeda dengan di pantai Pangkep.
Sehingga di daerah ini penduduk mengerjakan sawah sepanjang tahun. Sebab kalau di pantai barat panen maka di pantai timur mulai turun ke sawah lagi. Seperti halnya di daerah-daerah lain maka oleh penduduk di daerah ini diciptakan alat-alat pertanian untuk mereka gunakan menggarap sawah/kebun.
Pada mulanya bentuk alat yang mereka buat itu tentunya masih sangat sederhana. Tetapi pada saat sekarang ini akibat modernisasi maka alat tersebut juga sudah mengalami perubahan-perubahan bahkan sudah ada yang digantikan.
Berikut alat-alat pertanian tradisional Sulawesi Selatan:
- Alat Pengolah Tanah, seperti Rakkala (bajak); Salaga (sisir); Bingkung (cangkul); Ajoa; Baba Tedong (Cambuk); Pattorak (subbek); Saddang Pessi (linggis).
- Alat Pembersih Tanaman, seperti Piso Bellek; Teda'k; Bangkung Lampe (parang panjang); Kandao (sabit = arit); Maggello = mencabut rumput dengan tangan; Mappero = membunuh rumput dengan cara menginjaknya dengan kaki; Passerok Anango (dari = pojek) = alat penangkap serangga
- Alat pemetik hasil tanaman, seperti Rakkapeng (anai-anai); Kandao (sabit = arit); Pakkodong (jolok = galah).
- Sebelum turun sawah, seperti Tudang Sipulung; Mattoana Galung; Pesta Palili = Mappalili
- Selama turun sawah, seperti Maddoja Bine; Mappamula Taneng (mulai menanam padi); Mappanre to Mangideng; Maddumpu Ase (mengasapi padi); Madduppa buah ase (menjemput padi); Mattaneng Use; Mappamula Mengngala (mulai menuai)
- Sesudah panen, seperti Pesta Panen; Manresipulung (makan bersama); Maccerak Ase; Mappanre Galung (makan bersama di sawah).

No comments:
Post a Comment