oleh : nur inda permata restu
Ragam Telusur merupakan kumpulan Artikel Kepustakawanan, Resensi Buku Koleksi Lokal Sulawesi Selatan dan buku umum lainnya Sulawesi Selatan yang ditulis oleh Pustakawan DPK Provinsi Sulawesi Selatan
September 26, 2025
SINJAI SELAMAT TINGGAL KEMISKINAN
September 25, 2025
KARAMPUANG DAN BUNGA RAMPAI SINJAI
Oleh: Hasmawati
Dalam beberapa tahun terakhir, bangsa Indonesia dihadapkan pada berbagai tantangan yang semakin kompleks dan sulit diprediksi kapan akan berakhir. Di tengah arus perubahan itu, Kampung Tradisional Karampuang tetap berdiri sebagai salah satu kampung unik dengan pola hidup masyarakatnya serta keberadaan lembaga tradisional yang masih lestari.
- Api (tettong arung)
- Tanah (tana tudang ade)
- Udara (anging rekko sanro)
- Air (wae suju guru)
- Upacara Adat Mappogau Hanua
- Mabahhang
- Mappaota
- Mabbaja-baja
- Manre rib ulu
- Mabbali sumange
- Malling
- Seni musik instrumental: suling kambara di Borong dan Kalaka, gong denggo di Karampuang.
- Seni musik vokal: seperti tappala-pala, baruda, ya balale, yang tersebar di berbagai wilayah.
- Seni sastra: misalnya patollo meong karellae, panggaru di Caile dan Bole, pangngosong di Pattontongan, panggoli botting di Mattunreng Tellue, serta gofa padduta.
- Seni kriya: anyaman di Lasiai, gerabah di Cemmeng.
- Seni boga: dengan hidangan khas seperti apang, bolu peca, gammi, sayur ciping, bolu suppa, serta dodol markisa atau laha bete.
- Harapan dan tantangan lembaga adat Karampuang
- Elong Poto’ dan lagu rakyat
- Meong Paloo Karallae dan dongeng sakral
- Akuntabilitas kepemimpinan dalam tradisi Karampuang
- Optimalisasi peran lembaga pendidikan dalam pelestarian budaya lokal Sinjai
- Karampuang sebagai dusun sakral penuh mitos
- Sejarah masuknya Islam di Sinjai dan pengaruhnya
- Pengaruh Islam terhadap arsitektur rumah adat Karampuang
- Redefinisi pembangunan sosial dan budaya Sinjai
September 24, 2025
MAKASSAR TEMPO DOELOE
Oleh : Nur Azisah
Buku Makassar Tempo Doeloe adalah buku yang Menggambarkan sejarah Makassar dengan mendalam dan rinci, mengulas bagaimana kota ini terbentuk dan berkembang sebagai pusat perdagangan dan pemerintahan. penulis mengisahkan Periode ketika Makassar menjadi pusat politik dan ekonomi, mulai dari perkembangan oleh Raja Gowa ke-9 Tumaparisi Kallona pada Abad Ke-16, yang memindahkan Pusat kerajaan di Tepi Pantai dan mendirikan Benteng di Muara Sungai Jenebereng, hingga Kota Makassar menjadi pusat destinasi perdagangan para pedagan dari Spanyol,Cina,Denmark Inggris dan negara - negara Eropa lainnya.
Pada masa pemerintahan Sultan Malikussaid dan penerusnya, Sultan Hasanuddin, Makassar mencapai puncak kejayaan. Namun, Belanda berusaha merebut monopoli perdagangan, yang kemudian memicu Perang Makassar. Buku ini menyoroti serangan Armada Belanda dibawah pimpinan Colenelis Speelman, yang dibantu oleh Arung Palakka beserta pasukannya. selain konflik militer, penulis juga mengulas perjanjian penting seperti perjanjian penting seperti perjanjian Bongaya, yang menandi menurunnya pengaruh Kerajaan Gowa - Tallo.
Aspek lain yang menarik adalah penjelasan mengenai dinamika perdagangan Makassar pada masa konolial, termasuk pelabuhan - pelabuhanpenting seperti Paotere. Namun pelabuhan ini disebut berasal dari istilah portugis "Porte Entre" atau dari istilah lokal "Otereq" yang berasal tali. sejak dahulu, pelabuhan Paotere menjadi pelabuhan tradisional yang digunakan oleh nelayan serta kapal - kapal kecil di berbagai wilayah Nusantara.
Buku ini juga mengulas Perkembangan infrastruktur Kota Makassar, Misalnya, pembangunan Tanggul di Bibir Pantai Losari pada masa pemerintahan belanda tahun 1926, Tanggul ini tidak hanya berfungsi melindungi pantai, tetapi juga menjadi ruang sosial dan budaya yang kemudian menjelma sebagai salah satu Landmark Kota
Dalam buku setebal 92 Halaman ini , pembaca diajak mengenal berbagai kebijakan kerajaan, Toleransi agama, serta bagaimana perdagangan antar pulau dan internasional berkembang di Makassar. penulis menyajikan kisah sejarah yang informatif sekaligus memukau, meberikan wawasan tentang diplomasi strategis dan interaksi sosial di kota pelabuhan pada masa lalu.
Secara keseluruhan, buku ini tidak hanya berfungsi sebagai Dokumentasi Sejarah Makassar, tetapi juga sebagai inspirasi bagi pembaca yang ingin memahami Budaya, Politik, Perdagangan, Kedaulatan, Budaya serta interaksi antarbangsa dengan bahasa yang mudah dicerna. ini memberikan pembaca perspektif mendalam tentang "Makassar Tempo Deloe".
Buku ini merupakan salah satu Koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang Berlokasi di Jalan Sultan Alahuddin Km.7 Tala'salapang - Makassar. yang menjelaskan pada pembaca tentang sejarah Makassar Tempo Doeloe.
Penulis: Zainuddin Tika, H. Abd Rahim, Mas'ud Kasim, H. Sarea
Editing: Indra Aries
Penerbit: Lembaga Kajian & Penulisan Sejarah Budaya Sulawesi Selatan Tahun 2011
Tempat Terbit: Makassar
Tahun Terbit: 2011
ISBN: 978-602-99757-0-3
September 19, 2025
Lontara’ Attoriolong Mampu
Kerajaan Mampu adalah salah satu negeri tua Bugis yang pernah jaya di Sulawesi Selatan. Dari naskah kuno beraksara Lontara, kita mengetahui bahwa negeri ini lahir dari kisah To Manurung yang menurunkan raja pertamanya, La Oddang Patara, beserta permaisurinya We Lele Ellung. Keduanya menjadi simpul kekerabatan raja-raja besar Bugis, termasuk Bone, Wajo, Soppeng, hingga Gowa.
Namun sejarah Mampu tidaklah lurus. Negeri yang semula makmur itu dilanda malapetaka besar yang dikenal sebagai AlebborengngE ri Mampu. Legenda menyebut rakyatnya dikutuk menjadi batu, namun catatan lontara menuliskannya sebagai “alebboreng”, artinya tanah ambles. Penafsiran modern menduga peristiwa itu adalah likuifaksi, bencana geologi yang menelan pusat kerajaan di Awampulu. Dari tragedi itu, hanya sebagian kecil keluarga kerajaan yang selamat.
Generasi berikutnya membangun kembali negeri Mampu. Dari kebangkitan itu, Mampu bangkit mencapai kejayaannya pada generasi ketiga hingga kelima, sebelum akhirnya berintegrasi dengan Kerajaan Bone yang lebih besar dan berpengaruh. Dari titik itu, keturunan raja-raja Mampu justru menjadi penguasa Bone, dan garis darahnya bertahan hingga era menjelang kemerdekaan Republik Indonesia.
Selain peristiwa bencana dan kebangkitan, lontara ini juga mencatat peran Mampu dalam percaturan politik kawasan. Salah satu episode penting adalah keterlibatannya dalam Rumpa’na Sidenreng, perang besar abad ke-16 antara Luwu dan Sidenreng, yang mengubah peta politik di Sulawesi Selatan. Dalam konteks itu, Mampu tampil sebagai sekutu yang aktif dan diperhitungkan.
Tidak kalah menarik adalah nilai-nilai politik yang tercatat dalam lontara. Sebelum dinobatkan, La Oddang Patara harus berakad dengan rakyatnya mengenai hak dan kewajiban masing-masing. Fakta ini menunjukkan bahwa konsep kontrak sosial dan kedaulatan rakyat sudah dikenal dalam budaya Bugis jauh sebelum hadirnya demokrasi modern.
Jejak Mampu hingga kini masih hidup dalam Goa Mampu, situs budaya di Bone yang menyimpan formasi batu menyerupai manusia dan hewan. Bagi masyarakat, gua ini adalah bukti nyata dari legenda malapetaka yang menimpa kerajaan tersebut. Bagi peneliti, ia menjadi pengingat akan percampuran antara mitos, geologi, dan sejarah dalam kebudayaan Bugis.
Semua riwayat ini dapat ditemukan dalam sebuah karya penting: Buku Alih Aksara Lontara’ Attoriolong Mampu. Melalui transliterasi dari aksara Lontara ke huruf Latin dan terjemahan ke bahasa Indonesia, buku ini menghadirkan kembali warisan intelektual Bugis yang sebelumnya eksklusif. Buku ini dapat diakses https://ipusnas2.perpusnas.go.id, sehingga terbuka kesempatan yang lebih luas bagi masyarakat untuk mengenal, mempelajari, dan menghidupkan kembali warisan literasi Bugis-Makassar.
milik H. Andi Muawiyah Ramly Opu To Tenri Rua
Penulis : La Oddang To Sessungriu
Penerbit : Perpusnas Press
Tempat Terbit : Jakarta Penerbit : Perpusnas Press
Tahun Terbit : 2022
ISBN 978-623-313-376-0
September 10, 2025
Paupaunna Syekh Maradang
Alih Aksara Paupaunna Syekh Maradang merupakan sebuah karya filologis yang menghadirkan kembali salah satu naskah penting dalam tradisi literasi Bugis-Makassar, yaitu Hikayat Syekh Maradang. Naskah ini ditulis dengan aksara lontara’ Bugis di atas kertas folio bergaris menggunakan tinta hitam, terdiri dari 118 halaman dengan 19 baris per halaman. Penulisannya tercatat pada tanggal 18 Mei 1950 di Desa Ujung, Kabupaten Bone, dan kini naskah tersebut dimiliki oleh keluarga bangsawan Andi Muhammad Ali.
Hadirnya naskah ini tidak dapat dipisahkan dari proses masuknya Islam ke Sulawesi Selatan pada abad ke-16 hingga 17, ketika karya-karya sufistik dari Melayu, India, dan Persia tersebar melalui ulama dan pondok-pondok pesantren. Sastra sufi pada masa itu menjadi media efektif dalam memperkenalkan ajaran Islam, karena gaya bahasanya indah, penuh toleransi, dan mampu menyentuh hati masyarakat. Paupaunna Syekh Maradang menjadi salah satu representasi penting dari fenomena tersebut, menunjukkan bagaimana sastra berfungsi sebagai sarana dakwah dan pendidikan.
Isi hikayat mengisahkan tokoh utama bernama Syekh Maradang atau Indar Jaya, seorang agamawan sekaligus raja yang arif, bijaksana, berilmu tinggi, dan digambarkan sebagai sosok pahlawan. Dalam kisahnya, ia hadir bukan hanya sebagai figur politik, tetapi juga sebagai teladan spiritual yang merepresentasikan ajaran Islam dalam empat aspek pokok, yakni syariat, tarekat, hakikat, dan makrifat. Selain memuat nilai-nilai keagamaan, teks ini juga membicarakan persoalan kehidupan duniawi yang kompleks, menjadikannya sebagai sebuah karya yang didaktis sekaligus estetis.
Hikayat Syekh Maradang berfungsi ganda, sebagai media pendidikan moral dan agama bagi masyarakat Bugis-Makassar, sekaligus sebagai karya sastra yang menawarkan keindahan bahasa dan dinamika kisah penuh nilai. Melalui teks ini, kita dapat memahami bagaimana masyarakat pada masa itu menempatkan literatur bukan sekadar hiburan, melainkan juga sebagai pedoman hidup.
Namun, karena faktor pewarisan yang terbatas dan minimnya kemampuan generasi muda membaca aksara lontara, naskah ini tidak dikenal luas di kalangan masyarakat modern. Alih aksara ini menjadi penting sebagai upaya pelestarian warisan budaya, agar hikayat dapat diakses kembali oleh pembaca yang tidak memahami aksara lontara maupun bahasa Bugis. Dengan hadirnya transliterasi, hikayat ini diharapkan dapat dinikmati oleh masyarakat umum, diteliti oleh kalangan akademisi, serta dijadikan sumber pendidikan karakter, spiritual, dan kultural bagi generasi muda.
Secara keseluruhan, Alih Aksara Paupaunna Syekh Maradang bukan hanya sebuah transliterasi teks kuno, melainkan juga jembatan yang menghubungkan masa lalu dengan masa kini. Hikayat ini memperlihatkan interaksi harmonis antara Islam dan budaya lokal, mengandung nilai-nilai universal tentang kepemimpinan, kebijaksanaan, dan spiritualitas, serta memperkaya khazanah sastra Nusantara. Buku ini dapat diakses di Bintang Pusnas, sehingga terbuka kesempatan yang lebih luas bagi masyarakat untuk mengenal, mempelajari, dan menghidupkan kembali warisan literasi Bugis-Makassar.
Pengali-Aksara: Muhlis Hadrawi, Nuraidar Agus
Penerbit: Perpusnas Press
Tempat Terbit: Jakarta
Tahun Terbit 2023
ISBN: 978-623-313-871-0
978-623-313-872-7 (PDF)


