Ketika kekaisaran Sriwijaya, Kediri dan Melaka menggenggam hegemoni atas pesisir Laut Jawa, mereka memperkenalkan model-model kuasa baru ke wilayah pinggiran seperti Makassar. Saat model demi model kuasa istana bergantian menduduki singgasana, mereka merasuk ke dalam mitos dan ritual lokal untuk menghubungkan bentuk pengetahuan praktis (pembuatan perahu navigasi, pertanian, peperangan) dengan kategori-kategori dasar seperti gender dan pelapisan berdasar keturunan, serta fenomena alam, ruang angkasa dan kosmologis.
Buku KEKUATAN RAJA, SYEKH DAN AMBTENAAR: Pengetahuan Simbolik & Kekuasaan Tradisional Makassar 1300-2000 mengeksplorasi hubungan antara bentuk pengetahuan simbolik lokal, regional, dan global dengan kekuasaan di Ara, Sulawesi Selatan. Menguak sebuah proses panjang tergabungnya komunitas-komunitas lokal ke dalam sistem politik dan ekonomi regional, yang berlangsung sekitar seribu tahun, sejak kisaran tahun 600 sampai 1600, yang terdiri dari sepuluh bab. Serta menjadi salah satu koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar.
Bab pertama membahas tentang Sepintas tentang Sulawesi Selatan.
Bab kedua, Menuju Antropologi Pengetahuan Simbolik, memaparkan tentang pendekatan teoritis umum khususnya pengetahuan simbolik sebagai 'kekuasaan tradisional" di masyarakat Makassar.
Bab ketiga, Leluhur Androgini: Jejak Sriwijaya di Laut Jawa, mengupas penyebaran masyarakat Austronesia di Asia Tenggara Kepulauan dan perkembangan beberapa ciri dasar kehidupan masyarakat Austronesia misalnya pelayaran jarak jauh, perdagangan produk hutan dan pertanian sawah. Khususnya mitos-mitos ini, antagonisme yang sebelumnya berlangsung antara pria dan wanita yang masih berhubungan darah kelak melunak menjadi penerimaan oposisi yang saling melengkapi, yang dengan demikian mereka bisa bersama dalam suasana tertib dan menghasilkan anak kembar berlawanan jenis kelamin plus anak ketiga yang androginus.
Bab keempat, Kembaran Inses dan Perahu Gaib: Jejak Kendiri di Teluk Bone, membahas kisah mitologis masyarakat Bugis, La Galigo. Dalam versi Bugis, sepasang kembar berlainan kelamin dipisahkan sejak lahir. Yang perempuan tetap berada di pusat kedudukan leluhurnya dan menjadi imam bissu dengan kekuatan yang membuatnya bisa bergerak secara vertikal antara Dunia Tengah, Dunia Atas, dan Dunia Bawah. Sementara kembarannya yang pria menjadi pelaut ulung, dengan kekuatan yang membuatnya bisa bergerak secara horizontal melintasi lautan. Dia menggunakan perahu yang dibuat kembaran perempuannya untuk memasuki sebuah pusat kerajaan baru, di mana dia kelak menikahi sepupu sekalinya. Dalam dunia maritim ini, keluarga raja lokal mereproduksi diri dengan mengirim pangeran menyeberangi laut untuk menikahi putri raja dari kerajaan seberang. Masing-masing dinasti lokal mempertahankan ikatannya dengan Dunia Atas dan Dunia Bawah melalui wanita bangsawan lokal.
Bab kelima, Pelanggaran Bangsawan dan Perahu Karam: Jejak Luwu' di Bira, menganalisis serangkaian mitos yang menceritakan bagaimana hubungan yang tertib antar-jenis kelamin runtuh oleh inses dan tindakan cabul. Para tokoh protagonis dalam mitos-mitos ini merupakan penguasa-penguasa dunia yang tidak dapat menahan dorongan nafsu dan keserakahannya, dan akhirnya dibuang atau dieksekusi oleh rakyat sendiri. Dosa-dosa in menginterupsi alur hidup yang normal, menimbulkan wabah yang membunuh manusia dan binatang, kekeringan yang memusnahkah tanaman, dan kapal karam yang menenggelamkan harta benda k dasar laut. Dukun-dukun androginus berusaha menghalau mala petaka ini dengan melakukan ritual pengusiran roh di tepi perairan
Bab keenam, Pangeran Lau dan Perawan Bambu: Jejak Majapahit di Sulawesi Selatan, mengulas asal-usul pertanian padi basah di Sulawesi Selatan pada abad ke-13. Sebuah ideologi baru mencuat yang melegitimasi kalangan istana dalam hal perbedaan darah antara mereka yang keturunan dewa dengan rakyat petani biasa. Dalam mitos pendirian komunitas di kerajaan-kerajaan pedalaman Bugis, posisi raja didasarkan pada kontrak sosial di mana penguasa yang turun dari langit memberi kepada rakyatnya harmoni sosial dan kesuburan, sebaliknya rakyat menyediakan makanan, pakaian dan perumahan.
Dalam mitos pembentukan unit-unit masyarakat pesisir seperti Luwu' dan Bantaeng, kalangan istana menelusuri garis leluhur mereka hingga ke seorang pangeran pengelana dari Majapahit yang menemukan putri keturunan dewa yang turun dar kayangan dalam tabung bambu. Mereka menikah dan melahirkan banyak anak yang kemudian menjadi para penguasa pertama. Anak-anak perempuan kemudian kembali ke kayangan, hanya untuk membentuk kerajaan-kerajaan di tempat lain. Kesuburan tanah pertanian dihubungkan dengan mitos-mitos perempuan keturunan dewa ini. Ini berlawanan dengan perdagangan laut jarak jauh dan kekuasaan sesaat para pria dari negeri-negeri seberang.
Bab ketujuh, Raja Laut dan Sang Kaisar: Gowa-Tallo' sebagai Negara Masiu, memaparkan bagaimana pengetahuan simbolik disusun untuk melegitimasi posisi raja selama abad ke-15, terkait dengan serangkaian teknik praktis baru pada abad ke-16 yang meletakkan dasar kerajaan besar yang terpusatkan, Gowa-Tallo'. Terjadi kecenderungan yang semakin meningkat di mana legitimasi raja-raja lokal tidak lagi berasal dari leluhur pendiri kerajaan mereka sendiri, tetapi dari hubungan mereka dengan istana Gowa dan Tallo'. Ini berlangsung di Ara dan Bira, sebab kronik kerajaan mereka mencatat bergabungnya mereka ke dalam kerajaan besar itu pada dekade 1560-an. Fungsi simbolik kesuburan pertanian yang melekat pada pria kini diarahkan pada pertumpahan darah dan peperangan, dan dihisap oleh kerajaan-kerajaan agraris pedalaman. Penguasa-penguasa daratan kini berhadap-hadapan dengan para raja negara pesisir, yang senantiasa berhubungan dengan perdagangan dan diplomasi jarak jauh.
Bab kedelapan, Kekuasaan Regalia: Pembangkangan Istana terhadap VOC, membahas berubahnya fungsi politis ritual-ritual kerajaan selama masa kolonial. Menurut sistem simbolik tradisional, penguasa dilantik pada batu yang sama tempat leluhur pendiri kerajaan pertama kali turun dari Dunia Atas. Kontak dengan leluhur pendiri kerajaan dipertahankan dengan benda keramat yang mereka tinggalkan ketika mereka kembali ke Dunia Lain. Ketika VOC berkuasa di wilayah Sulawesi Selatan selama abad ke-18, kendali terhadap ritual-ritual dan benda-benda keramat ini menjadi perhatian besar bagi Belanda dan kalangan istana. Pengambilan pusaka kerajaan (regalia) Kerajaan Gowa oleh seorang budak pemberontak pada tahun 1776 berujung pada perang empat puluh tahun di kawasan ini. Setelah VOC dibekukan dan diganti dengan pemerintahan Hindia Belanda, Belanda secara sistematis menyurutkan ritual-ritual tua kerajaan dengan menata ulang sistem politik lokal, menyesuaikannya dengan birokrasi rasional. Akan tetapi, ketika sentimen kaum nasionalis menyebar pada tahun 1920-an, pemerintahan kolonial mencoba untuk membangkitkan lagi ritual-ritual lama istana, berharap bisa menarik simpati dari sisa-sisa kekuasaan tradisional, para bangsawan.
Bab kesepuluh, Pengetahuan, Kekuasaan dan Kewenangan Tradisional, berisikan rangkuman argumen yang terpapar dalam buku ini perihal lapisan tumpukan model ideal politik regional yang saling bersaing dalam mitos dan ritual Makassar. Beberapa tinjauan mengenai gagasan-gagasan orang Makassar tentang tatanan politik setelah mereka memeluk Islam di awal abad ke-17. Model-model regional tatanan politik kemudian akan diletakkan berdampingan dengan model-model Islam global. Serta membahas relevansi ritual-ritual siklus hidup bagi reproduksi sistem politis dan keagamaan. Dan buku ini akan ditutup dengan beberapa refleksi terhadap relasi antara data dari pengalaman yang dikumpulkan seorang peneliti antropologi di lapangan dan struktur-struktur geografis berdaya-jangkau luas yang dibangun oleh historis dan sejarawan dalam arsip.
Pengetahuan Simbolik & Kekuasaan Tradisional Makassar 1300-2000
Judul Asli: The Sun Pursued the Moon: Symbolic Knowledge and Traditional Authority among the Makassar
Penulis: Thomas Gibson
Penerjemah Nurhady Sirimorok
Penerbit: Ininnawa
Tempat Terbit: Makassar
Tahun Terbit: 2009
ISBN: 978-979-98499-8-4
