Showing posts with label Pangkep. Show all posts
Showing posts with label Pangkep. Show all posts

October 5, 2022

KAPTEN PAHLAWAN LAUT

Pulau Kalukalukuang masuk dalam gugusan pulau di Kecamatan Liukang Kalmas Kabupaten Pangkep. Hari itu tanggal 23 April 1932 diluncurkan Lete milik 23 sebuah perahu tipe H. St. Hawa. Perahu itu dibuat dan diramu oleh Malla Ali dkk yang kemudian diberi nama Kapten Baru. Perahu itu berbobot 16 ton, panjangnya 12 meter, lebarnya 3 meter, bernomor lambung 2690 Lla. Dibuat dari kayu jati dan ulin. Pelayaran perdananya ke Makassar memuat hasil bumi dan laut.

Menjelang Kemerdekaan, Konsolidasi kekuatan perjuangan bersenjata di Jawa dan daerah seberang mulai dilakukan. Pasukan Markas Pertahanan ALRI Daerah III Pangkalan Seberang dengan Resiment Command Mayor Djohan Daeng Mangung bermarkas di Lawang, Jawa Timur memerintahkan ekspedisi ke Sulawesi Selatan yang dikenal ekspedisi IX TRIPS (Tentara Rakyat Persiapan Sulawesi). Salah satu di antaranya menggunakan perahu Lete Kapten Baru. Kelak, status perahu ini berubah dari sarana transportasi ekonomi menjadi sarana perjuangan bangsa melawan penjajah. Nama perahu ini kemudian berubah menjadi Kapten Pahlawan Laut diantaranya dipimpin oleh Kapten Hasan Rala.

Buku KAPTEN PAHLAWAN LAUT membahas kisah dan peran perahu 'Kapten Pahlawan Laut' dalam masa perjuangan merebut kemerdekaan. Perahu Kapten Pahlawan Laut yang sebelumnya bernama Kapten Baru kini menjadi saksi sejarah yang telah diukir dengan tinta emas karena keterlibatannya dalam revolusi fisik mempertahankan kemerdekaan, menjadi kebanggaan rakyat Kabupaten Pangkep khususnya dan rakyat Sulawesi Selatan pada umumnya, yang kini menjadi bagian khazanah kebanggaan bangsa di Museum TNI – AL Loka Jala Srana Bumi Moro Surabaya, seperti perahu SEGIGIR yang digunakan resimen Jokotole yang dipimpin oleh Letkol. Chandra Hasan dengan beberapa pengawalnya pada tahun 1947 di Pulau Madura melawan tentara Belanda.

Perjalanan ekspedisi ini bukan hal yang mudah, sebab di laut pasukan Belanda siap memusnahkan setiap gerakan yang mencurigakan. Dengan perlengkapan dan alat navigasi yang sederhana serta perbekalan yang sangat minim tidak mengurangi tekad para pejuang-pejuang untuk turut menentukan tegaknya republik tercinta yang telah lama didambakan oleh segenap Bangsa Indonesia.


KAPTEN PAHLAWAN LAUT 
Penulis: H. Djamaluddin Hatibu
Penerbit: Pustaka Refleksi
Tempat Terbit: Makassar
Tahun Terbit: 2008
ISBN: 979967320-8



August 29, 2022

ANDI BURHANUDDIN: Riwayat Hidup dan Perjuangannya

Andi Burhanuddin (alm) adalah tokoh sejarah yang dikenal kepeloporannya dalam perjuangan kemerdekaan (1944-1951), bukan hanya di daerah Pangkep tapi juga pada tingkat kawasan Sulawesi Selatan, bahkan beliau pernah menjadi orang nomor satu, sebagai Gubernur Sulawesi (1954-1955). Andi Burhanuddin-lah yang pertama kali mengumumkan secara resmi bahwa Pangkep (Pangkajene dan sekitarnya) adalah bagian dari NKRI, dalam bulan September 1945 dan hal tersebut beliau tindak lanjuti dengan pendirian Barisan Pemuda Merah Putih (BPMP), wadah kelaskaran pejuang sebagai resistensi terhadap upaya masuknya kembali Belanda yang ingin kembali menjajah dengan membonceng pada pasukan sekutu / NICA.

Ketika Andi Burhanuddin  ditempatkan sebagai residen diperbantukan di Kantor Gubernur Sulawesi (1946-1953), beliau bersama-sama pejuang kemerdekaan lainnya seperti Dr Ratulangi, Lanto Daeng Pasewang, Henk Rondonuwu, A. Karim Dg Manaba, H. A. Patoppoi, H. Mattewakkang Karaeng Binamu bahu membahu dalam perjuangan politik lewat diplomasi, kepartaian, dan parlemen untuk menekan sekutu/Belanda serta membubarkan negara boneka bentukannya, Negara Indonesia Timur (NIT). Tidak hanya itu Andi Burhanuddin pun berperan penting dalam lapangan pemerintahan dan pembangunan paska pembubaran Republik Indonesia Serikat (RIS) dan stabilitasi pemerintahan daerah.

Dari berbagai catatan sejarah yang ada tersebut, Andi Burhanuddin tidak hanya perlu dihargai dengan pengangkatannya sebagai PNS tetap yang telah diperolehnya di akhir masa tuanya, ataupun hanya sekedar pengakuan sebagai anggota veteran pejuang kemerdekaan RI Golongan "A" dengan nomor anggota (NPV) 433105 / P, ataupun penghargaan sebagai tokoh sejarah yang dimakamkan di Taman Makam Pahlawan (TMP) Panaikang Makassar, tapi beliau layak dan pantas mendapatkan pengakuan nasional secara resmi dari Pemerintah RI sebagai "Pahlawan Nasional" asal Kabupaten Pangkep.

Buku ANDI BURHANUDDIN: Riwayat Hidup dan Perjuangannya sebagai salah satu perintis dan pejuang kemerdekaan RI Angkatan 45 dalam wilayah Sulawesi Selatan. Berikut beberapa dokumen yang diperoleh Andi Burhanuddin:

  • Surat keterangan yang menerangkan bahwa Andi Burhanuddin telah pernah/telah bekerja sebagai Ketua Dewan Daerah Sulawesi Selatan, Anggota Parlemen Negara Indonesia Timur, dan Anggota Panitia Penyelesaian Pembubaran Negara Indonesia Timur sejak tanggal 1 Januari 1950 s.d 1 Februari 1951.
  • Pengakuan Pemerintah R.I. cq. Menteri Urusan Veteran dan Demobilisasi bahwa Andi Burhanuddin adalah veteran pejuang Kemerdekaan R.I.
  • Surat keterangan yang menerangkan bahwa Andi Burhanuddin tidak pernah terlibat dalam G30S/PKI.
  • Surat keterangan yang menerangkan bahwa Andi Burhanuddin pernah menjadi anggota staf Gubernur Sulawesi Selatan alm. Dr. Ratulangi di Makassar sejak 1 April s.d. 1 Januari 1950.
  • Surat keterangan yang menerangkan bahwa Andi Burhanuddin telah/pernah bekerja sebagai KLERK pada Contreal Kantor Landschapskassen di Makassar sejak tanggal 1 Januari 1939 s.d. 23 Maret 1942.
Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar.


ANDI BURHANUDDIN: Riwayat Hidup dan Perjuangannya
Penulis: M. Farid W. Makkulau
Penerbit: Pemerintah Kabupaten Pangkep
Tempat Terbit: Pangkep
Tahun Terbit: 2007



February 17, 2022

SEJARAH KEKARAENGAN DI PANGKEP

Stratifikasi sosial masih dipertahankan sebagian besar masyarakat Pangkep dan daerah lainnya di Sulawesi Selatan, khususnya kalangan yang memiliki garis keturunan 'bangsawan' baik Makassar maupun Bugis. Yaitu prinsip yang disebut 'ambokemmi makpabbati' (hanya pihak ayat yang mewariskan strata sosialnya).

Strata sosial anak akan menurun dan diperhitungkan menurut strata sosial pihak ayahnya. Setiap anak yang lahir dari seorang laki laki bangsawan akan menjadi bangsawan, kendati ibunya seorang hamba sahaya. Sebaliknya, semua anak yang lahir dari seorang laki laki berketurunan orang akan menjadi orang kebanyakan pula, kendati ibunya adalah bangsawan tinggi atau puteri raja sekalipun.

Pada mulanya kekaraengan Pangkajene tersebut bermula dan berasal dari kebangsawanan Barasa, yaitu sebuah wilayah yang sekarang masuk dalam lingkungan Kampung Baru – Baru Towa. (Benny Syamsuddin, 1989 dalam Makkulau, 2007). Pada permulaan abad XVII Karaeng (Raja) Barasa berperang melawan Kerajaan Gowa yang dibantu oleh Raja Lombasang (Labakkang). Karaeng Barasa kalah dalam peperangan dan dikabarkan menghilang secara rahasia bersama perahunya dalam sungai yang bernama “Binanga Sangkara”, muara dari Sungai Kalibone, dahulu merupakan pelabuhan Kerajaan Barasa.

Barasa ini merupakan penerus dinasti Siang yang lambat laun telah mengalami kemunduran dalam waktu yang sangat lama karena penyempitan sungai dan pelabuhan siang yang terletak di sebalah utara Barasa. Karena kekalahannya, Barasa dimasukkan ke dalam daerah kekuasaan Gowa. (Benny Syamsuddin, 1989 dalam Makkulau, 2007). Arajang dari Barasa (Pangkajene) dinamai “Tabaloba”, diberi sebagai hadiah oleh Raja Gowa kepada Karaeng Lombasang dan arajang tersebut dijadikan pusaka arajang dari Lombasang dengan nama “Bolong Kampung”. Raja Gowa kemudian mengangkat seorang karaeng (bate anak karaeng Gowa) untuk memerintah dan berkuasa di Barasa.

Setelah karaeng itu wafat, dia digelar Marinroe ri Kammisi yang menggantikannya juga Karaeng dari Gowa, yaitu Karaeng Allu. Raja yang baru ini tinggal di Kampung Siang, sehingga dia disebut juga Karaeng Siang. Raja ini mendirikan sebuah Dewan Hadat yang terdiri dari empat orang anggota, yaitu Kare Kajuara, Kare SengkaE, Kare Lesang dan Kare Baru – Baru. Kepala Hadat itu diperbantukan pula seorang suro (suruhan). 

Raja Siang yang kedua, mentitahkan agar membuat sawah arajang, kemudian diberi nama Nitu, terletak di Kampung Pačcelang, untuk itu diangkat seorang kepala yang disebut Oppoka ri Paccelang. Dahulu banyak dari Kampung Paccelang ini meninggalkan kampung halamannya pergi ke Bone menetap, berhubung terjadinya peperangan antara Gowa dan Barasa. Diduga nama Sungai Kalibone yang mengalir antara Balocci dan Baru baru Towa berasal dari pemberian nama para pengungsi tersebut. Di Kampung Paccelang dahulu berpusat kelompoang Kerajaan Barasa (M. Taliu, 1977).

Buku SEJARAH KEKARAENGAN DI PANGKEP perjalanan dan kekuasaan kekaraengan di tanah Bugis Makassar, khususnya kekaraengan Pangkajene, Bungoro, Balocci, Labakkang, Ma'rang, Sigeri dan Mandale hingga pertumbuhan pemerintahan Kecamatan Pangkep serta karaeng dan puang di masa kini. 

Buku ini disertai silsilah raja/Karaeng Pangkajene, Labakkang dan Balocci dan panji-panji kecamatan merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salang-Makassar.



SEJARAH KEKARAENGAN DI PANGKEP
Penulis: M. Farid Makkulau
Editor: Bundu Makkulau
Penerbit: Pustaka Refleksi
Tempat Terbit: Makassar


November 3, 2021

KAPTEN HARIMAU INDONESIA: ANDI MAPPE

Andi Mappe adalah sosok pejuang yang memang dibutuhkan oleh masanya. Sebagai seorang bangsawan tinggi yang berlimpah dengan warisan kekayaan, setumpuk jabatan dan penghormatan kekaraengan tidak lantas membuatnya  terlena dan berpangku tangan melihat rakyat dan daerahnya ingin kembali dijajah oleh Belanda. Beliau turun langsung ditengah-tengah rakyat, keluar masuk hutan, dari kampung ke kampung melakukan perlawanan sekuat tenaga dengan segala sumber daya yang dimiliki.

Sejarah perjuangan kemerdekaan angkatan '45 di Pangkep yang dipelopori oleh Andi Mappe, dalam riwayat perjuangannya adalah Kapten Harimau Indonesia (HI), yaitu laskar perjuangan yang didirikan oleh anak-anak muda yang gesit dan terampil dalam perjuangan gerilya. Gerakan perjuangannya sulit ditebak oleh musuh, karena basis pertahanan dan penyerangannya berpindah-pindah.

Andi Mappe bukan hanya tokoh pergerakan  perjuangan kemerdekaan di Pangkep pada masa revolusi fisik, tetapi juga kepeloporannya dalam perjuangan kemerdekaan menjadi ikon perjuangan gerilya di Pangkep, bahkan bukan cuma di Pangkep, daerah perjuangannya sampai juga di Maros, Tanete dan Bulu Dua Soppeng. Berikut sepak terjang Andi Mappe dan pasukannya: tiada hari tanpa perang gerilya, seperti:

  • Pertempuran di Mangilu 
  • Perjalanan gerilya: menangkap mata-mata dan mencari dukungan
  • Pertempuran di Manggalung
  • Perjalanan ke Balocci
  • Membuat markas pertahanan dan penyerangan dari Pettung (Tanete)
  • Gerilya dan pertempuran di Kampung Lisu dan Kota Barru
  • Pasukan gerilya menuju Labakkang
  • Pasukan gerilya di Bungoro dan Tondong
  • Tercium mata-mata Belanda
  • Pertempuran di Salo' Tallang
  • Pasukan Menuju Maros
Pasukan HI di Pangkep selama berada dibawah pimpinan Andi Mappe cukup gesit mengadakan pengacauan, perlawanan bersenjata di wilayah Pangkajene, Tanete (Barru), Mallawa, Camba dan Maros. Oleh militer Polisi (MP) Belanda yang berkekuatan sebanyak 2 peleton yang mementahkan perlawanan tokoh HI Andi Mappe selama tiga hari tiga malam pertempuran di LoangngE, Distrik Balocci menunjukkan sikap beringas, kejam dan tidak berperikemanusiaannya dengan memenggal leher Andi Mappe. 

Saat kepala beliau berpisah dari batang lehernya, MP Belanda kemudian mengarak kemana-mana kepala tersebut, diperlihatkan pada khalayak penduduk di Pangkajene, di Bungoro, Maros dan terakhir di Labakkang. Mungkin hal ini dimaksudkan Belanda agar tidak ada lagi orang seberani Andi Mappe, agar tidak lagi ada orang yang berani menentang kekuasaan penjajahan Belanda, agar tidak ada lagi yang berani berperang melawan Belanda. Jika penyerangan masih dilakukan oleh pasukan HI dan mendapat dukungan dari penduduk maka akan bernasib sama dengan Andi Mappe.

Kepala almarhum Andi Mappe tersebut kemudian di bawa ke Maccini Baji/Labakkang. Ratusan masyarakat yang merasa ditinggal dan berhutang jasa atas perjuangan Andi Mappe turut mengantarnya. Oleh MP Belanda, hal tersebut dibiarkannya agar masyarakat menjadi saksi sejarah atas perjuangannya. Dengan iringan serdadu Belanda, kepala almarhum Andi Mappe tersebut selanjutnya diseberangkan ke sebuah pulau yang bernama Cambang-cambang (Liukang Tupabbiring), sebuah pulau yang tidak berpenghuni ketika itu, tidak didiami oleh manusia, dekat dari Maccini Baji.

Buku KAPTEN HARIMAU INDONESIA: ANDI MAPPE PAHLAWAN PERJUANGAN KEMERDEKAAN membahas riwayat hidup dan perjuangan tentang Andi Mappe-Kapten Harimau Indonesia (HI) di Pangkep pada masa revolusi fisik, dan gugur ditengah muntahan peluruh pada tanggal 25 Maret 1947 oleh Militer Polisi (MP) Belanda di Balloci. Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar.


KAPTEN HARIMAU INDONESIA: ANDI MAPPE
PAHLAWAN PERJUANGAN KEMERDEKAAN 
Penulis: M. Farid W Makkulau
Penyunting: Bundu Makkulau
Penerbit: Pemerintah Kabupaten Pangkep
Tempat Terbit: Pangkep
Tahun Terbit: 2007





September 13, 2021

LUKISAN DINDING GUA DI LEANG KASSI PANGKEP


Leang Kassi terletak di kaki gugusan pengunungan kapur (Bukit Gamping) Belae yaitu sekitar 8 km kearah timur ibukota Pangkep. Kawasan Leang Kassiini masuk wilayah Kampung Belae Kelurahan Minasate'ne Kecamatan Pangkajene Kabupaten Pangkep. Kesampain ini masuk wilayah Belae Kelurahan Minasate'ne Kecamatan Pangkajene Kabupaten Pangkep.

Struktur geologis Leang Kassi merupakan batuan Sedimen, pada bahagian depan gua banyak tergantung stalakmit, pada bagian dasar gua banyak pula terdapat stalakmit. Permukaan Leang Kassi tertutup oleh tanah hasil pelapukan batu gamping.

Pembentukan Leang Kassi, terjadi oleh pengikisan benda-benda hidup, seperti binatang laut yang mengandung CaCo3 pada air laut kian lama kian melebar dan membentuk terowongan-terowongan sehingga membentuk gua atau leang. Disamping itu disebabkan oleh abrasi gelombang laut, sehingga membentuk gua kaki tebing seperti Leang Kassi.

Dinding dan langit-langit Leang (gua) menggambarakan kehidupan sosial ekonomi, dan alam pikiran serta kepercayaan masyarakat masa itu. Didalamnya tercantum nilai-nilai estetika dan magis yang berkaitan dengan totemisme. Mengamati lukisan dinding gua Kassi mengandung makna yang berpangkal dari lingkungan sekitarnya dimana ia berada. Sebagai refleksi rasa seni yang pengaruhi oleh unsur magis.

Lukisan dinding gua Kassi sesungguhnya adalah warisan budaya Toala. Oleh karena itu lukisan tersebut dapat dipandang sebagai pernyataan seni tertua yang melukiskan tentang pengalaman, perjuangan, dan harapan hidup. Selain itu juga melambangkan alam pikiran dan kepercayaan yang bersumber dari kekuatan religius magis. Sedangkan melihat penggunaan warna pada lukisan dinding gua Kassi yaitu warna merah dan warna hitam.

Dalam masyarakat prasejarah warna-warni memainkan peranan penting sebagai sumber kekuatan. Merah melambangkan darah dan kehidupan, karena itu warna ini umumnya digunakan pada pembuatan lukisan bayangan tangan (hand stencils) mungkin berarti atau mengandung kekuatan atau simbol kekuatan pelindungan untuk mencegah  roh jahat. Sedangkan warna hitam juga dianggap mempunyai kekuatan gaib yang lebih dalam.

Memperhatikan temuan lukisan di Gua Kassi seperti: lukisan bayangan tangan yang tertera pada langit-langit gua bermakna simbol kekuatan atau pelindung untuk mencegah roh jahat. Lukisan ini pula juga dimaksudkan sebagai tanda milik tempat.

Lukisan manusia diperkirakan sedang berlari sedang berlari warna hitam mungkin sedang memburu buruannya. Lukisan berpegangan seakan melakukan gerakan dinamis kemungkinan adalah gerak tarian ritual. Tarian ini juga bermakna mengusir roh-roh jahat.

Lukisan yang tidak jelas bentuknya mengandung makna tertentu yang melambangkan kehidupan sosial dari masyarakat pemburu. Walaupun lukisan di Leang Kassi tidak tersusun secara berangkai namun tetap terkandung makna yang mencerminkan kehidupan sosial ekonomi.

Cat pewarna yang digunakan ialah oker atau hematite yaitu zat besi dengan belerang yang terjadi secara alami, bahan ini banyak terdapat dikaku gua. Proses lunturnya dan rusaknya lukisan dinding gua Kassi disebabkan oleh:

  1. Proses alam: akibat laruran Calsit (CaCo3) yang mengendap pada dinding gua, serta tumbuhan jamur sejenis jamur Pteridophyta dan Lichen berwarna hijau.
  2. Manusia: mungkin karena ketidak sengajaan, oleh anak-anak sekolah (pengunjung) karena ingin meninggalkan kenang-kenangan dalam kunjungan ke Leang Kassi maka tanpa sadar telah menulis nama-namanya di dinding gua.
Buku LUKISAN DINDING GUA DI LEANG KASSI PANGKEP merupakan pengetahuan tentang prasejarah Sulawesi Selatan, khususnya zaman Paleolik, dengan ditemukannya arkeologis, baik berupa artefak maupun non-artefak yang banyak tersebar di dalam gua-gua (Leang) bukit gamping. Temuan tersebut merupakan salah satu bukti adanya kegiatan manusia pada masa lampau. Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar.



LUKISAN DINDING GUA DI LEANG KASSI PANGKEP
Penulis: Muhammad Ramli
Penerbit: Kantor Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala Sulawesi Selatan
Tempat Terbit: Ujung Pandang
Tahun Terbit: 1989



December 22, 2020

BISSU DALAM MASYARAKAT PANGKEP

Upacara tradisional Mappalili yang dilakukan masyarakat Segeri Mandalle di Kabupaten Pangkep merupakan kegiatan awal dalam memasuki musim tanam. Upacara tradisional ini pada dasarnya merupakan manifestasi dari emosi keagamaan, yaitu emosi keagamaan yang menjadi latar belakang dari tiap-tiap kelakuan yang serba-religius. Di samping emosi keagamaan, masyarakat diliputi pula oleh perasaan keterbatasan akal. 

Hal-hal yang tidak dapat dipecahkan oleh akal sehat dan dicari jalan pemecahannya melalui kekuatan-kekuatan gaib yang hidup disekeliling mereka. Kekuatan-kekuatan gaib itu tidak dapat dihubungi oleh sembarang orang, melainkan hanya orang-orang tertentu yang dianggap suci. Mereka yang dianggap suci adalah Bissu dan karena itu merekalah yang dapat berkomunikasi langsung dengan dewa-dewa atau mahkluk halus. Hal ini dapat dilihat pada beberapa gerakan dan upacara pada nyayian pemujaan yang dilakukan oleh Bissu dalam upacara Mappalili.

Bissu adalah wakil Arajang dalam menjaga dan menaati tata tertib kosmos. Segala tingkah laku yang dilakukan oleh Bissu didasarkan pada pandangan kosmologi mereka. Mereka beranggapan bahwa dalam diri manusia terkandung unsur-unsur yang disebut sumanga' (semangat). Sumanga' ini merupakan ini dan terbentuknya sebagai adat-istiadat yang harus ditaati.

Berikut peranan dan fungsi sosial Bissu sebagai berikut:

  1. Pemeliharaan, perawat, pembawa Arajang
  2. Pemimpin upacara ritual khusus yang berhubungan dengan para leluhur
  3. Sanro (dukun) yang menyembuhkan penyakit dengan menggunakan mantra-mantra
  4. Guru bagi orang-orang yang akan menikah dan membentuk keluarga menurut tata cara yang diatur oleh adat
Tari Sere Bissu dilakukan oleh para Bissu dalam upacara-upacara suci yang menyangkut aliran kepercayaan lama yang mempercayai apa yang mereka sebut Dewata Seuwa-E. Sajian pertunjukkan tari tersebut hingga saat ini masih ditemukan dalam upacara tradisional, khususnya upacara tradisional Mappalili. Upacara tradisional Mappalili tersebut mencerminkan sistem sosial budaya yang berkaitan dengan produk budaya masyarakatnya.

Pada kenyataannya kehidupan Sere Bissu memang tidak terkait dengan kedudukan tari tersebut dalam masyarakat. Kehadirannya di masyarakat tidak sekedar untuk tontonan, tetapi juga mencakup fungsi-fungsi lain yang dirasakan perlu dalam kehidupan masyarakatnya. Peranan penting Sere Bissu dalam kehidupan masyarakat menyebabkan tetap hidup dan berkembang sesuai dengan zamannya.

Pengungkapan nilai-nilai Sere Bissu yang terdapat dalam masyarakat adalah landasan kultural yang membentuk pola tingkah laku secara kumulatif pada masa lalu. Generasi belakangan mewarisi pola sosial budaya yang dipandangnya sebagai ide tradisi tersebut. Ide itu mengandung nilai yang berpengaruh terhadap masyarakat pendukungnya yang dalam hal ini adalah para Bissu.

Buku BISSU DALAM MASYARAKAT PANGKEP membahas tentang peran Bissu - laki-laki yang memiliki fisik dan seksual yang abnormal, atau sering kita sebut waria atau wadam dalam kondisi kehidupan sosial budaya masyarakat yang mengalami perubahan begitu drastis dan ekstensif, Sere Bissu dapat bertahan sebagai sarana upacara Mappalili sekaligus sebagai tontonan dalam acara khusus untuk para Bissu. 

Tarian tersebut menunjulkkan bagaimana ia terbentuk melalui rentang waktu yang panjang dan dalam perkembangannya senantiasa bertolak dari hal-hal yang sudah ada sebelumnya. Sere Bissu terbentuk dari simbol dan laku simbolik kemudian menjadi satu arti yang memenuhi kreteria untuk dipertujukkan.

Buku ini merupakan koleksi layanan perpustakaan umum yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang Makassar untuk menjelaskan bentuk Sere Bissu yang lahir dan berkembang di Segeri Mandalle Kabupaten Pangkep, keterkaitannya dengan adat dan upacara Mappalili, fungsinya dalam kehidupan masyarakatnya, serta bentuk sajiannya yang menyangkut susunan tari, iringan, rias, dan busananya.


BISSU DALAM MASYARAKAT PANGKEP
(Kedudukan, Upacara, dan Sejarahnya)
Penulis: Nurlina Syahrir
Editor: Abdul Rajab Johari, Syukur Saud
Penerbit: Badan Pengembangan Bahasa dan Seni UNM
Tempat Terbit: Makassar
Tahun Terbit: 2003