Showing posts with label Upacara Mappalili. Show all posts
Showing posts with label Upacara Mappalili. Show all posts

March 8, 2021

UPACARA MAPPALILI SEBAGAI AWAL BEKERJA DI SAWAH

Upacara tradisional Mappalili yang lazim dilaksanakan di daerah Sulawesi Selatan, termasuk di daerah Kabupaten Pangkajene Kepulauan oleh masyarakat merupakan salah satu adat masyarakat yang dilakukan setiap tahun, apabila mereka akan ke sawah.


Kata Mappalili mempunyai arti berkeliling. Menurut adat upacara mappalili perlu dilakukan masyarakat setiap akan turun ke sawah. Jadi pengertian mappalili adalah satu adat yang dilakukan oleh masyarakat di Sigeri dengan membawa arajang berkeliling kampung sampai ke sawah yang akan dibajak. Untuk membawa arajang perlu dilakukan suatu upacara, maka upacara disebut juga mappalili. Masyarakat Sigeri percaya bahwa tanpa upacara mappalili, maka segala yang akan diharapkan tidak akan tercapai. Berikut tahap-tahap upacara mappalili:
  • Matteddu’ Arajang (Membangunkan Arajang)
  • Mappalesso Arajang (Memindahkan Arajang)
  • Malekke Wae (Mengambil Air)
  • Mallekke Laulalle (Mengambil Laulalle)
  • Ma’dewata (Menyambut Kedatangan Dewa)
  • Ma’ bissu
  • Ma’giri
  • Mattena Sanro (Menjemput Dukun)
  • Ma’ balu Ota (Menjual Sirih)
  • Palili
Salah satu acara dalam matteddu arajang adalah maddewata. Dengan adanya acara ini, jelaslah bahwa upacara mappalili merupakan upacara pemujaan pada dewata sebagai tanda terima kasih atas pemberian berupa sebuah rakkala (bajak). Rakkala inilah yang kemudian memegang peranan dalam upacara mappalili yang selanjutnya dijadikan arajang. Selain itu juga merupakan untuk meminta harapan semoga padi dan seluruh tanaman yang ditanam pada tahun ini dapat berhasil dan jauh dari serangan hama. Mereka percaya bahwa rakkala yang mereka pakai sebagai alat membajak merupakan rakkala itu diangkat sebagai arajang. Disamping itu asal kedatangan rakkala tidak sama dengan rakalla yang lain hanya dibuat oleh manusia.

Buku UPACARA MAPPALILI SEBAGAI AWAL BEKERJA DI SAWAH membahas tentang upacara tradisional yang biasanya dilakukan pada waktu akan turun ke sawah mulai dari tahap-tahap upacara; waktu penyelenggara; tempat penyelenggara; teknis penyelenggara upacara; peserta upacara; penyelenggaraan upacara; jalannya upacara; pantangan-pantangan yang harus dihindari serta lambang-lambang atau makna yang terkandung dalam upacara mappalili. Buku ini merupakan koleksi layanan deposit Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi dalam Sultan Alauddin Km. 7 Tala’salapang-Makassar.
 

UPACARA MAPPALILI SEBAGAI AWAL BEKERJA DI SAWAH
Penulis: Nonci
Penerbit: CV. Aksara
Tempat Terbit: Makassar


December 22, 2020

BISSU DALAM MASYARAKAT PANGKEP

Upacara tradisional Mappalili yang dilakukan masyarakat Segeri Mandalle di Kabupaten Pangkep merupakan kegiatan awal dalam memasuki musim tanam. Upacara tradisional ini pada dasarnya merupakan manifestasi dari emosi keagamaan, yaitu emosi keagamaan yang menjadi latar belakang dari tiap-tiap kelakuan yang serba-religius. Di samping emosi keagamaan, masyarakat diliputi pula oleh perasaan keterbatasan akal. 

Hal-hal yang tidak dapat dipecahkan oleh akal sehat dan dicari jalan pemecahannya melalui kekuatan-kekuatan gaib yang hidup disekeliling mereka. Kekuatan-kekuatan gaib itu tidak dapat dihubungi oleh sembarang orang, melainkan hanya orang-orang tertentu yang dianggap suci. Mereka yang dianggap suci adalah Bissu dan karena itu merekalah yang dapat berkomunikasi langsung dengan dewa-dewa atau mahkluk halus. Hal ini dapat dilihat pada beberapa gerakan dan upacara pada nyayian pemujaan yang dilakukan oleh Bissu dalam upacara Mappalili.

Bissu adalah wakil Arajang dalam menjaga dan menaati tata tertib kosmos. Segala tingkah laku yang dilakukan oleh Bissu didasarkan pada pandangan kosmologi mereka. Mereka beranggapan bahwa dalam diri manusia terkandung unsur-unsur yang disebut sumanga' (semangat). Sumanga' ini merupakan ini dan terbentuknya sebagai adat-istiadat yang harus ditaati.

Berikut peranan dan fungsi sosial Bissu sebagai berikut:

  1. Pemeliharaan, perawat, pembawa Arajang
  2. Pemimpin upacara ritual khusus yang berhubungan dengan para leluhur
  3. Sanro (dukun) yang menyembuhkan penyakit dengan menggunakan mantra-mantra
  4. Guru bagi orang-orang yang akan menikah dan membentuk keluarga menurut tata cara yang diatur oleh adat
Tari Sere Bissu dilakukan oleh para Bissu dalam upacara-upacara suci yang menyangkut aliran kepercayaan lama yang mempercayai apa yang mereka sebut Dewata Seuwa-E. Sajian pertunjukkan tari tersebut hingga saat ini masih ditemukan dalam upacara tradisional, khususnya upacara tradisional Mappalili. Upacara tradisional Mappalili tersebut mencerminkan sistem sosial budaya yang berkaitan dengan produk budaya masyarakatnya.

Pada kenyataannya kehidupan Sere Bissu memang tidak terkait dengan kedudukan tari tersebut dalam masyarakat. Kehadirannya di masyarakat tidak sekedar untuk tontonan, tetapi juga mencakup fungsi-fungsi lain yang dirasakan perlu dalam kehidupan masyarakatnya. Peranan penting Sere Bissu dalam kehidupan masyarakat menyebabkan tetap hidup dan berkembang sesuai dengan zamannya.

Pengungkapan nilai-nilai Sere Bissu yang terdapat dalam masyarakat adalah landasan kultural yang membentuk pola tingkah laku secara kumulatif pada masa lalu. Generasi belakangan mewarisi pola sosial budaya yang dipandangnya sebagai ide tradisi tersebut. Ide itu mengandung nilai yang berpengaruh terhadap masyarakat pendukungnya yang dalam hal ini adalah para Bissu.

Buku BISSU DALAM MASYARAKAT PANGKEP membahas tentang peran Bissu - laki-laki yang memiliki fisik dan seksual yang abnormal, atau sering kita sebut waria atau wadam dalam kondisi kehidupan sosial budaya masyarakat yang mengalami perubahan begitu drastis dan ekstensif, Sere Bissu dapat bertahan sebagai sarana upacara Mappalili sekaligus sebagai tontonan dalam acara khusus untuk para Bissu. 

Tarian tersebut menunjulkkan bagaimana ia terbentuk melalui rentang waktu yang panjang dan dalam perkembangannya senantiasa bertolak dari hal-hal yang sudah ada sebelumnya. Sere Bissu terbentuk dari simbol dan laku simbolik kemudian menjadi satu arti yang memenuhi kreteria untuk dipertujukkan.

Buku ini merupakan koleksi layanan perpustakaan umum yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang Makassar untuk menjelaskan bentuk Sere Bissu yang lahir dan berkembang di Segeri Mandalle Kabupaten Pangkep, keterkaitannya dengan adat dan upacara Mappalili, fungsinya dalam kehidupan masyarakatnya, serta bentuk sajiannya yang menyangkut susunan tari, iringan, rias, dan busananya.


BISSU DALAM MASYARAKAT PANGKEP
(Kedudukan, Upacara, dan Sejarahnya)
Penulis: Nurlina Syahrir
Editor: Abdul Rajab Johari, Syukur Saud
Penerbit: Badan Pengembangan Bahasa dan Seni UNM
Tempat Terbit: Makassar
Tahun Terbit: 2003