Tsunami menjadi
suatu lata legenda umat manusia di abad ke-21, yang sudah tak terbatas pada
terminologi baku yang digunakan dikalangan para ilmuwan dalam buku acuan
(textbook), akan tetapi gempa bumi yang disusul dengan tsunami di Aceh pada Ahad
pagi, 26 Desember 2006 telah menempatkan Nanggroe Aceh Darussalam pada titik
nol. Wilayah ini seolah seperti bayi yang baru lahir dari Rahim ibunya. Tak punya
apa-apa, juga tak kuasa apa-apa.
Umat manusia di
seluruh penjuru dunia mengamati peristiwa dahsyat di abad ini dari layar kaca,
berita Koran, majalah, internet, dan berbagai media massa. Bahkan dilaporkan
berita yang terbanyak di download melalui media internet sepanjang tahun 2005
adalah peristiwa Tsunami Aceh yang kemudian diikuti berita tentang Michael
Jackson, dan Binnet Jackson.
Seluruh umat
manusia tersentak dengan adanya peristiwa tersebut sehingga menjadi peristiwa
yang mondial, mengingat beberapa hal
sebagai berikut:
Pertama, cakupan
daerah bencana yang demikian luas, yakni terdapat 11 negara tepi pantai turut
terkena pengaruh tsunami termasuk Afrika Selatan yang berjarak radius lebih
dari 14.000 km cakupan daerah bencana
yang demikian luas, yakni terdapat 11 negara tepi pantai turut terkena pengaruh
tsunami termasuk dari pusat gempa. Negara-negara yang terkena dampak
langsung antara lain: Indonesia, India, Somalia, Maladewa, Tanzania, Banglades,
dan Kenya.
Kedua, jumlah
korban yang demikian banyak yakni diduga lebih dari ¼ juta ummat manusia tewas
atau hilang seketika. Sebagian besar daerah yang terkena pengaruh gempa dan
tsunami secara tiba-tiba kehilangan anggota keluarga bahkan ada dua atau tiga
generasi secara tiba-tiba lenyap (lost of generation).
Ketiga, besar
kerugian yang diderita menyangkut kepemilikan perorangan, infrastruktur pemerintah, dan kepentingan umum dalam bentuk
rumah tinggal, bangunan, pelabuhan, jalan, jembatan, jaringan distribusi
listrik, jaringan telekomunikasi, jaringan pipa air bersih, sarana sanitasi,
depo bahan bakar minyak dan gas bumi (BBM), dan sebagainya.
Keempat, suatu
yang tak terbayang oleh para seismologis seluruh dunia terdapat suatu gempa
(main schock) yang lebih tinggi dari 9.0
scala Richter.
Kelima, gempa
terbesar didunia dengan skala 9.3 skala Richter ini berada di bawah laut, yakni
terletak pada kedalaman 10 km di bawah Samudra India.
Keenam, jumlah
komitmen bantuan sebagai simpati dunia untuk korban gempa bumi Aceh merupakan
simpati terbesar sepanjang sejarah daerah yang terkena bencana, yakni mencapai
1,1 UU$ Milyar, dalam bentuk janji sampai mencapai 1,3 US$ Milyar.
Ketujuh, suatu
peristiwa perdamaian sebagai suatu keajaiban (miracle) dan kemustahilan. Dalam perjanjian
damai RI-GAM tampak terjadi perubahan suasana di Aceh yang selama ini terasa
begitu vakum kehidupan antara masyarakat Aceh sendiri, yaitu antara yang
pro-GAM dan pro-NKRI.
Kedelapan,
pengembangan pengetahuan kebumiaan khususnya ilmu pengetahuan gempa tsunami di
Indonesia menjadi fokus pengembangan khusus bidang geofisika dan geologi dan
semestinya harus digunakan sebagai pijakan dalam pengembangan pembangunan dan
kebijakan wilayah.
Kesembilan,
kesadaran dan paradigma budaya akrab gempa Nampak mulai terbentuk di masyarakat
walaupun masih dalam tahap primitive.
Kesepuluh,
memahami kesadaran baru betapa yang Maha Kuasa demikian besar dan manusia
begitu kecil yang sama sekali tak berkuasa dan tak berdaya.
Buku TSUNAMI
ACEH TITI NOL MENUJU KEBANGKITAN ACEH DALAM ERA GLOBAL merupakan representasi untuk memuliakan Nanggroe Aceh Darussalam dan
manusia-manusianya. Bumi yang di masa lalu telah dimuliakan oleh darah para
syuhada. Tsunami adalah titik nol untuk bangkit meraih kemuliaan di alam
kemerdekaan yang penuh kedamaian.
Buku ini merupakan
salah satu koleksi Layanan Perpustakaan Abdurrasyid Daeng Lurang yang berlokasi
di jalan Kenanga No. 7A Sungguminasa, Kabupaten Gowa membahas tentang gempa
bumi dan tsunami di yang telah menempatkan Nanggroe Aceh Darussalam pada titik
nol.
TSUNAMI ACEH
TITIK NOL
MENUJU KEBANGKITAN
ACEH DALAM
ERA GLOBAL
Penulis: Adriano Rusli, Andri Slamet Subandrio,
Asmun Ahmad Sju’eib et.all
Editor: Teuku Abdullah Sanny
Penerbit: Pemerintah Provinsi Nanggroe Aceh
Darussalam
Tempat Terbit: Banda Aceh
Tahun Terbit: 2008
ISBN: 979-992420-0