Showing posts with label Tana Toraja. Show all posts
Showing posts with label Tana Toraja. Show all posts

June 22, 2024

Upacara Kematian Masyarakat Tana Toraja

 


Judul:                           Upacara Kematian Masyarakat Tana Toraja

Penulis:                        Drs. H. Nontji, S.Pd.

Editor:                         -

Penerbit:                     CV. Aksara Makassar

Tahun Terbit:               -

Jumlah Halaman:        iv + 68

ISBN:                            -

Penulis Resensi:          Suharman, S.S., MIM.

Tujuan utama pariwisata Sulawesi Selatan adalah Tana Toraja. Berbagai destinasi wisata di Tana Toraja telah dikembangkan sejak lama. Wisata alam, wisata budaya, dan wisata religi dapat di temukan di Tana Toraja. Salah satu jenis wisata budaya yang terkenal di Tana Toraja adalah Upacara Kematian. Bagi sebagian wisatawan, upacara kematian di Tana Toraja, jauh lebih meriah dari upacara perkawinan.

Buku ini adalah salah satu yang mendokumentasikan proses upacara kematian di Tana Toraja. Terdiri dari 4 bab  atau bagian. Bagian pertama adalah Pendahuluan dimana dibahas tentang aspek aspek yang melatarbelakangi pelaksanaan Upacara Kematian. Disebutkan ada 3 latarbelakang pelaksanaan upacara itu, yaitu: yang pertama adalah faktor religi, dimana masyarakat Toraja masih menganut kepercayaan nenek moyang yang disebut Aluk Todolo. Kedua adalah faktor prestise, bahwa semakin banyak yang dikorbankan untuk arwah orang yang meninggal akan semakin baik kehidupannya dialam fana. Ketiga adalah ekonomi, berkaitan dengan sistem pembagian warisan yang berpengaruh pada pelaksanaan upacara adat kematian.

Bagian kedua membahas ketentuan dan proses umum upacara, mulai dari pelaksanaan upacara saat jenazah masih di rumah sampai hari penguburan diantaranya Ma’dio Tomate atau memandikan orang meninggal, Ma’doya, Ma’balun, Ma’bolong dan Meaa. Setelah penguburan ada acara Kumande, Untoe Sero, Mambase. Acara terakhirnya adalah Pembalikan Tomate dan Ma’nene, 

Tingkatan tingkatan upacara kematian dibahas pada bagian ketiga. Mulai dari Upacara Di Silli terdiri dari Dipasilamun Toninna, Didedekan Palungan, Dipasilamun Tallu Manuk, Disampanan Bai. Pada Upacara Di Pasambongi terdiri dari Dibai A’Pa, Ditedong Tunggai, Diisi dan Dipata’ Patomali.  Upacara Di Doya adalah duduk dan tidur semalaan. Terakhir Upacara Dirapai yang disebut juga upacara rampasan dimana jenazah disimpan ditempat penyimpanan atau peti sampai jenazah kering.

Pada bagian terakhir diuraikan secara ringkas tentang Upacara Pemakaman Rasapan yang terdiri dari Persiapan Upacara, Pertemuan Keluarga, pembuatan pondok pondok, tahap tahap upacara dan para petugas Upacara.

Buku ini diakhiri dengan daftar pustaka yaitu berbagai sumber rujukan dalam menyusun buku ini secara lengkap.

Cukup informatif karena membahas cukup lengkap aspek aspek penting dalam upara kematian di Tana Toraja. Hal hal yang mungkin kita kurang mengetahui tentang upacara kematian di Tana Toraja, kemudian dapat diketahui dari buku ini. Bukan hanya bagi orang Toraja, semua suku bangsa dan masyarakat luas perlu membacanya untuk menambah pengetahuan dan memperkaya khasanah budaya bangsa yang ada di Indonesia, khususnya di Indonesia bagian timur. Ditulis dengan bahasa yang mudah dipahami oleh pembaca, dan uraikan secara runut dan jelas.

Buku ini kurang dokumentasi foto fotonya, baik yang hitam putih maupun yang berwarna. Illustrasi baik gambar, foto ataupun sketsa dapat menarik perhatian pembaca, sehingga informasi yang hendak disampaikan akan semakin banyak yang mengaksesnya. Buku yang berisi muatan lokal sangat penting melengkapinya dengan illustrasi yang menarik, sehingga pembaca akan semakin bersemangat dalam mengakses bukunya.

Koleksi Perpustakaan Abdurrasyid Dg. Lurang, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Sulawesi Selatan. 




June 24, 2023

Upacara Kematian di Tana Toraja

 


Buku : Upacara Kematian Masyarakat Tana Toraja

Penulis : Drs. H. Nonci, S.Pd.

Penerbit : CV. Aksara

Tempat : Makassar

Tahun : -

Ukuran : 21 x 15 cm

Jumlah Halaman : iv + 68

ISBN : -

 Tujuan utama pariwisata Sulawesi Selatan adalah Tana Toraja. Berbagai destinasi wisata di Tana Toraja telah dikembangkan sejak lama. Wisata alam, wisata budaya, dan wisata religi dapat di temukan di Tana Toraja. Salah satu jenis wisata budaya yang terkenal di Tana Toraja adalah Upacara Kematian. Bagi sebagian wisatawan, upacara kematian di Tana Toraja, jauh lebih meriah dari upacara perkawinan.

 Buku ini adalah salah satu yang mendokumentasikan proses upacara kematian di Tana Toraja. Terdiri dari 4 bab  atau bagian. Bagian pertama adalah Pendahuluan dimana dibahas tentang aspek aspek yang melatarbelakangi pelaksanaan Upacara Kematian. Disebutkan ada 3 latarbelakang pelaksanaan upacara itu, yaitu: yang pertama adalah faktor religi, dimana masyarakat Toraja masih menganut kepercayaan nenek moyang yang disebut Aluk Todolo. Kedua adalah faktor prestise, bahwa semakin banyak yang dikorbankan untuk arwah orang yang meninggal akan semakin baik kehidupannya dialam fana. Ketiga adalah ekonomi, berkaitan dengan sistem pembagian warisan yang berpengaruh pada pelaksanaan upacara adat kematian.

Bagian kedua membahas ketentuan dan proses umum upacara, mulai dari pelaksanaan upacara saat jenazah masih di rumah sampai hari penguburan diantaranya Ma’dio Tomate atau memandikan orang meninggal, Ma’doya, Ma’balun, Ma’bolong dan Meaa. Setelah penguburan ada acara Kumande, Untoe Sero, Mambase. Acara terakhirnya adalah Pembalikan Tomate dan Ma’nene, 

Tingkatan tingkatan upacara kematian dibahas pada bagian ketiga. Mulai dari Upacara Di Silli terdiri dari Dipasilamun Toninna, Didedekan Palungan, Dipasilamun Tallu Manuk, Disampanan Bai. Pada Upacara Di Pasambongi terdiri dari Dibai A’Pa, Ditedong Tunggai, Diisi dan Dipata’ Patomali.  Upacara Di Doya adalah duduk dan tidur semalaan. Terakhir Upacara Dirapai yang disebut juga upacara rampasan dimana jenazah disimpan ditempat penyimpanan atau peti sampai jenazah kering.

Pada bagian terakhir diuraikan secara ringkas tentang Upacara Pemakaman Rasapan yang terdiri dari Persiapan Upacara, Pertemuan Keluarga, pembuatan pondok pondok, tahap tahap upacara dan para petugas Upacara.

Buku ini diakhiri dengan daftar pustaka.

Koleksi Perpustakaan Abdurrasyid Dg. Lurang, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Sulawesi Selatan. 




December 13, 2022

TORAJA DULU DAN KINI

Penelitian arkeologi di wilayah etnis Toraja pada tahap awal dan bersifat deskriptif telah dilakukan oleh Eric Cristal (1974), Harun Kadir (1977), Santoso Soegondo dan kawan-kawan (1996), Akin Duli (1999) dan rekan-rekan dari Balai Arkeologi Makassar (2002). Hasil dari penelitian awal tersebut dapat memberikan gambaran bahwa daerah etnis Toraja sangat potensial secara arkeologis untuk diteliti lebih mendalam, terutama yang berkaitan dengan budaya megalitik dengan ditemukannya berbagai bentuk peninggalan seperti menhir (simbuang), bentuk-bentuk penguburan dan sistem kepercayaan terhadap leluhur yang disebut Aluk Todolo. Resistensi budaya Toraja yang lebih mudah dijelaskan sebagai akibat isolasi geografis, memungkinkan masyarakatnya semakin meyakini Aluk Todolo sebagai kepercayaan yang sudah menyatu dengan segala aspek kehidupan.

Buku TORAJA DULU DAN KINI yang dimaksudkan dalam buku ini adalah Toraja Selatan atau Toraja Sakdan menurut klasifikasi A.C. Kruyt, atau masyarakat yang tinggal di Tondok Lepongan Bulan Matarik Allo sebagai nama negeri mereka sebelum penggunaan nama Toraja oleh para penyiar agama Nasrani. Suku Toraja mendiami wilayah bagian utara jazirah Sulawesi Selatan yang berbatasan langsung dengan wilayah Sulawesi Tengah. Dari segi sosio-kultural mereka bermukim di daerah Kabupaten Enrekang, daerah Suppiran di Kabupaten Pinrang, daerah Mamasa di Kabupaten Polewali - Mamasa, Daerah Galumpang dan Makki di Kabupaten Mamuju, daerah Pantilang dan Rongkong-Seko di Kabupaten Luwu. Namun demikian, daerah ini inti pemukiman mereka adalah Kabupaten Tana Toraja.

Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar yang mengemukakan budaya Toraja yang lebih menekankan pada perspektif arkeologi berupa kumpulan hasil karya yang bersifat inovatif untuk mengemukakan aspek budaya Toraja, sehingga masyarakat akan lebih memahami perkembangan pengetahuan kepurbakalaan dan aspek-aspek budaya Toraja. Berikut kumpulan tulisan yang di maksud:

  • Sejarah dan Budaya Toraja, oleh A. Fatmawaty Umar
  • Pola Pemukiman Masyarakat Toraja, oleh Hasanuddin
  • Refleksi Religi dan Sosial Peninggalan Megalitik di Tana Toraja oleh Bernadeta AKW
  • Tau-Tau Dalam Sistem Budaya Masyarakat Toraja oleh Marla Tandirerung dan Akin Duli
  • Duni Wadah Kubur dan Kendaraan Arwah oleh Muh. Hasyim dan A.A. Ajis


TORAJA DULU DAN KINI
Editor: Akin Duli, Hasanuddin
Tim Kerja: A. Wanua Tangke, Moh. Yahya Mustafa, Anwar Nasyaruddin
Penerbit: Pustaka Refleksi
Tempat Terbit: Makassar
Tahun Terbit: 2003
ISBN: 979-96731-7-8


November 30, 2022

SUKU TORAJA: Fanatisme Filosofi Leluhur

Suku Toraja yang tinggal di dataran tinggi ini, dalam setiap napas kehidupan masyarakatnya memiliki filosofi-filosofi yang unik. Berbagai kearifan tersebut adalah peninggalan dari para leluhur mereka. Kearifan yang senantiasa terjaga oleh para penerusnya. Mereka sangat fanatisme dalam menjagai nilai-nilai filosofi leluhur.

Bahasa yang berlaku di suku Toraja adalah bahas Toraja. Bahasa Toraja memiliki makna yang cukup dalam. Namun, pada era masuknya Belanda ke wilayah mereka, Bahasa Toraja mengalami penyederhanaan lantaran sulitnya orang Belanda berkomunikasi dengan suku ini, seperti londe, kada-kada tomina, karume dan ulelean pare.

Spiritualisme yang ada di sejarah Suku Toraja sendiri, kurang lebih mempunyai garis cerita yang sedikit sama dengan suku-suku lain di Indonesia Timur. Sejarah aluk todolo, dasar spiritualisme suku Toraja. Aluk todolo mempunyai peran penting di tengah masyarakat; sebagai aturan yang menjadi penegas dalam sistem pemerintahan, sistem sosial, hingga kepercayaan.

Dimasa Aluk Todolo, terdapat Tominaa yang berperan sebagai pemimpin doa dalam upacara-upacara adat. Ajaran ini mengajarkan dua ritual upacara. Yakni, upacara duka dan upacara yang bersifat kebahagiaan. Upacara duka disebut dengan Rambu Solo', sementara upacara kebahagiaan di sebut Rambu Tuka. Uniknya, masing-masing upacara tersebut mempunyai tujuh prosesi.

Masyarakat Toraja memiliki stratifikasi sosial yang berdampak pada perbedaan aturan bagi masing-masing kasta. Aturan-aturan kecil diterapkan dalam rangka mencapai alur hidup yang lebih baik. Salah satu di antaranya adalah aturan dalam pernikahan. Di suku Toraja perceraian akan diganjar kapa' (denda) yang harus dibayarkan sesuai dengan kastanya.

Salah satu yang khas dari Toraja adalah sajian wisata budaya dan upacara adat. Wisata budaya seperti Bentang dan Patung Pong Tiku, Ke'te Kesu', lemo, londa. Upacara adat seperti rambu solo, ma'nene, rompo bobo bannang, rompo karoEng dan rompo allo serta upacara mendirikan bangunan.

Toraja juga memiliki kekayaan budaya seperti 

  • Rumah adat tongkonan, 
  • Pakaian adat baju pokko dengan baju ulos', 
  • Tarian teradisional: tari pa'gellu, bone balla (ondo samalele), tari burake, tarian pa'randing, tarian memanna, tarian bondesan, tarian dua bulan, tarian manimbong, tarian ma'katia, 
  • Alat musik tradisional: passuling atau suling lembang, pa'pelle atau pa'barrung, pa'tulali, pa'geso'geso
  • Ukiran asli: neq lombongan, paqbarre allo, paqkapuq baka, paqkadang pao, paqdoti siluang i, paqsulan sangbua, paqsalaqbiq dibungai, paqreopo sangbua, paqtalinga, paqerong.
Buku SUKU TORAJA: Fanatisme Filosofi Leluhur salah satu etnis di Indonesia yang memegang teguh prinsip leluhur. Buku ini merupakan salah satu koleksi layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar.


SUKU TORAJA: Fanatisme Filosofi Leluhur
Penulis: Naqib Najah
Penerbit: Arus Timur
Tempat Terbit: Makassar
Tahun Terbit: 2014
ISBN: 978-602-9057-74-4


October 21, 2021

SAWERIGADING SEBUAH VERSI LISAN BAHASA TORAJA


Cerita lisan Sawerigading di Kandora, Mengkendek, dicatat pertama kali oleh penulis dari Puang Mangatta alias Puang To'lamba' pada tahun 1957. Versi tersebut adalah sebuah mitos yang memuat data-data sejarah lokal. Jamallomo, anak Sawerigading adalah "pangngala tondok" 'pendiri desa' Kandora. Tradisi dalam desa Kandora tersebut menunjukkan titik peralihan dari sejarah kekuatan "tomakaka" (semacam 'Urdemokratie')  kepada kekuasaan "kapuangan" (semacam 'Aristokratis') di daerah maqkale, Tana Toraja dan di daerah Duri, Enrekang dahulu kala. Pemimpin daerah Tallu Batupapan (Allaq, Sangngallaq, Mengkendek) di Duri, Enrekang dahulu kala menganggap dirinya Puang Pindakati (dalam cyclus Bugis disebut We Pinrakati) di Kandora, Tana Toraja. 

Versi lisan Saweringading di Kandora, Tana Toraja itu bagaimanapun juga menunjukkan hubungan prasejarah Tana Toraja dengan prasejarah suku Bugis dahulu kala. Prasejarah suku Toraja, khususnya sejarah "pangngala tondok", 'pendiri desa yang pertama' dahulu kala di daerah ini, antara lain pendirian desa Kandora di Kecamatan Mengkendek Tana Toraja. Pokok pikiran orang Toraja yang melatar belakangi kepercayaan mereka terhadap arwah yang ditemukan dalam "kada tomaqkayo" 'mada petugas upacara kematian' pada mengantarkan arwah jenazah orang mati ke dunia puya tersebut, dan juga dalam "badong ossoran" 'mada dukacita' yang dilagukan pada upacara kematian di daerah ini.

Versi lisan Sawerigading diceritakan pada upacara syukuran "merok", terkenal dengan sebutan "merok Sawerigading". Tradisi ini berbeda dengan upacara "merok" yang berlaku umum di seluruh Tana Toraja. Upacara merok yang berlaku umum di Tana Toraja acaranya dilaksanakan berhari-hari, bahkan harus didahului oleh acara-acara tertentu yang dilaksanakan setahun dua tahuna atau lebih sebelumnya. Upacara "merok Saweringading" tersebut acaranya dilakukan hanya sehari semalam saja, tanpa didahului acara-acara lainnya.

Upacara ini dilaksanakan dengan mempersembahkan seekor kerbau hitam, putih bulu ekornya, putih warna kuku kedua kaki belangnya. Dalam bahasa Toraja kerbau seperti itu disebut "tedong samara". Upacara itu dipusatkan pada kediaman Puang Parranan. Dalam melaksanakan upacara itu, beberapa buah batu keramat yang bergelar " Puang Parranan" penjelmahan "Puang Pindakati", istri pertama Sawerigading, diturunkan dari atas rumah, lalu dimandikan dan diberi pakaian baru (maksudnya diberi bungkusan yang baru). Persembahan, dalam bahasa Toraja disebut "pesung" diletakkan oleh petugas di depan rumah kediaman Puang Parranan, di depan 3 buah batu. Sebuah batu itu berbentuk seekor angsa yang sedang duduk menengadah ke langit. Dua buah yang lain terletak bersusun dalam bentuk lingga-yoni, lambang kekuasaan dan kesuburan, semacam phallus cultus. Upacara "merok Saweringading" tersebut dimeriahkan dengan tari-tarian kesukaan seperti: maqgellunq, maqdandan, manimbong dan maqbugiq yang dilaksanakan pada malam mendahului upacara. Sepanjang malam itu juga, "tominaa' 'ahli dan petugas' upacara menyanyikan hymne "passomba tedong" pujaan pada kerbau. Versi Sawerigading dicaritakan malam itu juga.

Bahagian cylus I La Galigo versi Bugis tersebut menunjukkan persejajaran antara kepercayaan suku Toraja dan suku Bugis dahulu kala terhadap alam arwah orang mati yang disebut "pamasareng" dalam bahasa Bugis dan dalam bahasa Toraja tersebut "punya". Kepercayaan inilah yang menjadi latar belakang pemotongan hewan, terutama kerbau, pada upacara penguburan jenazah orang mati di Tana Toraja.

Buku SAWERIGADING SEBUAH VERSI LISAN BAHASA TORAJA, DI KANDORA, MENGKENDEK, TANA TORAJA membahas tentang versi lisan Sawerigading di Kandora, Mengkendek, Tana Toraja dan terjemahannya serta prasejarah Tana Toraja dan beberapa aspek sosio-religio-kultural versi lisan Sawerigading Tana Toraja. Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar.


SAWERIGADING SEBUAH VERSILISAN BAHASA TORAJA, 
DI KANDORA, MENGKENDEK, TANA TORAJA

Penyusun: C. Salombe




August 10, 2021

ERONG DI TORAJA


Dalam mitologi orang Toraja, bahwa sistem upacara yang dilakukan oleh kelompok-kelompok masyarakat tidak boleh bertentangan dengan prinsip-prinsip menurut sistem kepercayaan. Di dalam sistem kepercayaan Aluk Todolo, dikenal adanya tiga oknun yang disembah dan diberi upacara.

Sedangkan konsep tentang hidup dan mati menurut ajaran Aluk Todolo, antara keduanya merupakan suatu kesinambungan proses kehidupan. Kesinambungan itu tidaklah membentuk semacam lingkaran yang tidak ada putus-putusnya. Antara hidup dan mati tidak ada batas yang jelas, dan mati itu merupakan peralihan bentuk, peralihan tempat dimana manusia melakukan aktivitas hidupnya dan peralihan wujud. Hidup adalah jembatan yang harus dilalui sampai kealam gaib, dimana kehidupan di sana tetap menjalin hubungan dengan kehidupan alam nyata. Dan alam ini adalah wadah yang harus dimanfaatkan sebaik-baiknya, oleh karena itu di dunia harus dimanfaatkan sebaik-baiknya guna mengumpulkan kebaikan dan harta.

Orang Toraja mengenal dan percaya kepada kepercayaan Aluk Todolo. Ajaran Aluk Todolo, percaya bahwa sesudah orang meninggal arwahnya (roh) pergi ke alam baka sebagai tempat perkumpulan arwah-arwah. Adapun kurban-kurban persembahan yang dikurbankan pada waktu pemakamannya berupa hewan-hewan seperti kerbau, babi, ayam dan harta benda lainnya yang dimasukkan ke dalam bungkusan jenasahnya.

Pembuatan Erong di Tana Toraja, hanya dilakukan pada saat ada orang yang meninggal dunia. Pembuatan erong tersebut mereka lakukan dengan cara atau teknik antara lain: teknik pahat dan teknik pembakaran. Berikut beberapa ukiran dan ragam hias pada erong, yaitu: Pa' ambollong, Pa' Baba Gandang, Pa' bulu Londong, Pa' Bare Allo, Pa' Bombo uai, Pa' Daun Bolu, Pa' Daun Telinga Tedong, Pa'Doli Langi, Pa'Kapuk Baka, Pa'London, Pa'Pollo Gayang, Pa'Sura' Lembang, Pa'Sekong, Pa' Sepu Torongkong, Pa' Tanduk Ra'pe, Pa' Tedong dan Pa' Rangga Ulu.

Adapun bentuk Erong yang terdapat pada kompleks atau situs Desa Boriparinding terdiri dari lima bentuk, bentuk rumah adat (tongkonan), kerbau, babi, perahu dan lesung. Erong yang berbentuk rumah adat dan kerbau diperuntukkan khusus bagi kaum bangsawan dan keluargannya, sedangkan erong yang berbentuk perahu, babi dan lesung diperuntukkan bagi kaum atau masyarakat biasa dan keluarganya.

Pada erong tersebut memiliki ragam hias yang berbagai jenis bentuknya yang sangat penting, terutama pada saat-saat mereka melaksanakan upacara-upacara pemakaman pada masyarakat pendukung tradisi megalitik, khususnya pada saat upacara penguburan. Kerbau memiliki fungsi yang kompleks, adapun peranan kerbau antara lain: 

  1. Kerbau meruapakan jembatan luas untuk sampai ke dunia seberang sana yaitu surga, di samping kurban-kurban lainnya.
  2. Kerbau dapat menentukan hadirnya roh orang yang telah meninggal secara wajar di alam gaib.
  3. Kerbau merupakan kurban yang menentukan tingkatan upacara kematian
  4. Kerbau yang telah dikurbankan pada saat upacara kematian (pemakaman) dapat menentukan stratifikasi seseorang dalam lingkungan masyarakatnya.
Buku ERONG DI TORAJA membahat tentang erong sebagai wadah kubur yang digunakan oleh masyarakat di Tana Toraja, baik itu segi bentuk, bahan dan fungsi serta ragam hias dan makna yang terkandung didalamnya. Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang- Makassar


ERONG DI TORAJA
Penyusun: Baharuddin Bunru, Lenora, Dian Cakrawaty
Editor: Sahriah Muhammading
Penerbit: Pembinaan dan Permuseuman Sulawesi Selatan
Tepat Terbit: Ujung Pandang
Tahun Terbit: 1998




June 24, 2021

PAHLAWAN PONG TIKU

Almarhum pahlawan Pong Tiku alias Ne' Baso' (nama yang diberikan oleh orang-orang Bugis) dilahirkan pada tahun 1846 di Kampung Tondon Negeri Panga'la Kecamatan Rinding Allo Kabupaten Tana Toraja Propinsi Sulawesi Selatan.

Beliau adalah putra bungsu dari 6 (enam) bersaudara dari Penguasa Adat Pangala' dan sekitarnya bernama Siambo' KaraEng dengan ibunya bernama Le'bok, dan saudara-saudaranya yang laki-laki bernama, Palulin, Ampang Allo, Toding dan Tendeng serta seorang perempuan bernama Banaa.

Pong Tiku adalah satu-satunya putera Siambe' KaraEng yang mewarisi sifat-sifat kepemimpinan dan kepatriotan KaraEng sebagai penguasa Adat, maka kemudian setelah beliau dewasa selalu diserahi tanggung jawab sebagai pendahuluan akan mengantikan ayahandanya kalau Siambe' KaraEng meninggal dunia sebagai penguasa adat Pangala' dan sekitarnya untuk membantu Negeri Pangala' sebagai negeri yang aman dan sentosa untuk kemajuan dalam segala hal.

Buku SEJARAH PERJUANGAN PAHLAWAN PONG TIKU mengenai nilai dan luhurnya cita-cita perjuangan Pong Tiku yang tidak ingin diperintah oleh Belanda. Beliau nanti dijajah oleh Belanda setelah disergap oleh tentara Belanda di dalam persembunyiannya pada tanggal 30 Juni 1907, kemudian beliau di tawan di markas tentara Belanda di Rantepao, dan pada tanggal 10 Juli 1907 harus menjalani hukuman mati diujung peluru tentara Belanda di pinggir sungai Sa'dah. Berikut skets TUGU PERINGATAN PAHLAWAN PONG TIKU:

  • 1846 Pong Tiku dilahirkan di Rindingallo
  • 1906 Maret, Belanda menduduki Rantepao dengan mengirim ultimatum supaya Pong Tiku menyerah dan Pong Tiku membalas lebih baik mati daripada menyerah
  • 1906 April, Pertempuran di Tondon Pangala'
  • 1906 Juni, Pertempuran di Benteng Lali'londong
  • 1906 Juni, Permintaan Belanda berunding di tolak
  • 1906 Juli, Pertempuran di Benteng-Benteng Bustu Asu, Ka'do dado dan Tondok
  • 1906 Agustus, Pertempuran di Benteng Rindingallo
  • 1906 Oktober, Gencatan senjata di Benteng Buntu Batu
  • 1906 November, Belanda dengan siasat liciknya melucuti semua senjata dari pasukan Pong Tiku
  • 1907 Januari, Pong Tiku dengan pasukan menggabung dengan Pasukan Bombing di Alla'
  • 1907 Maret, Benteng Alla' jatuh Pong Tiku kembali ke Pangalla'
  •  1907 Juni 30, Pong Tiku di tangkap dan di tahan di Rantepao
  • 1907 Juli 10, Pong Tiku di tembak mati di tempat.
Buku SEJARAH PERJUANGAN PAHLAWAN PONG TIKU membahas tentang Riwayat Hidup Pong Tiku', Perang Bone serta Gowa dan Sawitto memberi syarat pada Perang Pong Tiku melawan Belanda, Perang Pong Tiku melawan Belanda, Perlawanan Pong Tiku yang kedua terhadap tentara Belanda, Api Perjuangan Pong Tiku menyalah kembali dan Pong Tiku dikenal sebagai pahlawan pembela tanah air dan pembela bangsa. Selain itu juga disertai lampiran peta daerah peperangan Pong Tiku dan peta panorama benteng yanhg pertama direbut Belanda. Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar.


SEJARAH PERJUANGAN PAHLAWAN PONG TIKU
Penulis: L. T. Tangdilintin
Penerbit: Yayasan Lepongan Bulan (YALBU)
Tempat Terbit: Tana Toraja
Tahun Terbit: 1976


December 15, 2020

TONGKONAN (RUMAH ADAT TORAJA)

Bentuk bangunan rumah adat orang Toraja, tidak ada yang besar berupa gedung seperti bangunan pada rumah-rumah suku bangsa lain di Indonesia, seperti rumah adat Batak, Bugis, Jawa, dan lain-lain. Karena rumah adat Toraja terikat dengan beberapa ketentuan sehingga struktur bangunan mempunyai aturan konstruksi dan arsitekturnya tersendiri yang mana struktur bangunan ini di atur beberapa sendi falsafat hidup dan keyakinan orang Toraja.

Rumah orang Toraja harus menghadap ke utara dengan teknik perkembangannya tetap tidak memakai paku pada setiap pertemuan kayu-kayunya, tidak terlalu besar bangunannya dengan tidak meninggalkan motif seperti bentuk perahu layar. Menurut sejarawan Toraja, bangunan-banguan yang dapat dilihat sekarang dengan bentuknya seperti perahu layar, ini adalah bentuk sudah melalui proses dan perkembangan dalam hal ini sudah mengalami 4 (empat) proses perkembangan.

Tetapi yang lebih penting harus diketahui ialah adanya arsitektur dan konstruksi rumah adat Toraja yang berdasarkan satu pola struktur yang terikat dengan banyak aspek terutama aspek keyakinan Aluk Todolo serta pandangan hidup mengenai rumah bagi orang Toraja adalah sebagai mikro kosmos.

Buku Tongkonan dengan Struktur, Seni dan Konstruksinya mengandung inti penguraian dalam 3 (tiga) aspek pokok masing-masing:

  1. Aspek pola keyakinan Aluk Todolo dan falsafat kehidupan yang mengikat pembangunan rumah adat Toraja.
  2. Aspek konstruksi dan arsitektur rumah orang Toraja
  3. Aspek peranan dan fungsi Rumah Adat Toraja dalam kehidupan orang Toraja, sebagai bagian terbesar dari dasar terbentuknya serta terbinanya kebudayaan dengan bentuk kepribadiannya sendiri.
Ketiga aspek ini tidak ada yang lebih penting tetapi sama pentingnya dan tidak ada yang ditinggalkan dalam menghadapi pembangunan Rumah Adat Toraja karena ketiganya saling berkaitan dan saling memperkuat. Rumah Adat Toraja juga sebagai bentuk persekutuan hidup juga sebagai pusat atau centrum kegiatan, utamanya dapat dilihat dalam menghadapi setiap upacara dalam kehidupan orang Toraja. Buku ini merupakan koleksi layanan umum yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang, Makassar.


TONGKONAN (RUMAH ADAT TORAJA)
Dengan Arsitektur & Ragam Hias Toraja
Penulis: L. T. Tangdilintin
Penerbit: Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional
Tempat Terbit: Ujung Pandang
Tahun Terbit: 1983


September 8, 2020

MUMMI SULAWESI SELATAN


Jasad manusia yang telah meninggal dan dikuburkan dalam jangka waktu lama, namun jasadnya tidak hancur. Masyarakat lokal Sulawesi Selatan menyebutnya dengan istilah Mayat Kering, yang dalam bahasa yang dikenal umum disebut “MUMMI”.

Temuan mummi/mayat kering di Sulawesi Selatan, adalah suatu fakta dan merupakan suatu dinamika budaya masyarakat, yang sampai sekarang masih misterius. Misteri karena terawetkannya jasad manusia yang telah meninggal dan mungkin sudah berumur ratusan tahun lalu.

Indikasi pengawetan Mummi di Sulawesi Selatan khususnya di wilayah Tana Toraja dan Enrekang, karena faktor-faktor seperti: cara pelayatan mayat sebelum di kuburkan; tempat penguburan; wadah penguburan; adanya kegiatan-kegiatan ritual sebelum penguburan, dan kemungkinan adanya ramuan tradisional sebagai bahan pengawet mayad/jasad, termasuk kejadian kondisi lingkungan alam lokasi penguburan.

Buku MUMMI SULAWESI SELATAN membicarakan tentang jasad manusia yang meninggal ratusan tahun di Sulawesi Selatan yang tidak hancur, serta aspek yang melatar belakangi terjadinya pengawetan, dari sudut pandang budaya masyarakat dan lingkungan tempat penemuan Mummi.

Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Perpustakaan Abdurrasyid Daeng Lurang yang berlokasi di jalan Kenanga No. 7A Sungguminasa, Kabupaten Gowa menjadi bahan untuk memperkaya pengetahuan tentang Mummi, serta meningkatkan pemahaman tentang keberagaman dan nilai lokal yang ada di wilayah Sulawesi Selatan.


MUMMI SULAWESI SELATAN

Penulis: Muhammad Natsir Sitonda

Penerbit: Yayasan Pendidikan Muhammad Natsir

Tempat Terbit: Makassar

Tahun Terbit: 2013

ISBN: 978-602-17316-4-2

August 6, 2020

TORAJA SEBUAH PENGGALIAN SEJARAH DAN BUDAYA


Suku Toraja merupakan salah satu suku bangsa yang sudah memasuki periode sejarah, namun belum mengenal aksara. Kendati demikian, dalam buku Simbolisme Unsur Visual Rumah Tradisional Toraja, Ta’na Ranggina Sarongallo menyatakan meskipun orang Toraja tidak mengenal tulisan dalam bentuk huruf abjad konvensional, ini tidak berarti budaya Toraja tidak mengenal artikulasi simbol yang dapat dijadikan sebagai alat komunikasi dalam bentuk lain selain bahasa lisan. Motif ukiran misalnya merupakan sistem komunikasi transverbal melalui simbol-simbol.

Buku TORAJA SEBUAH PENGGALIAN SEJARAH DAN BUDAYA terdiri dari 16 bab yang berisikan informasi sejarah dan budaya daerah Toraja.

Bab 1    Pendahuluan, membahas tentang definisi kebudayaan; unsur-unsur, wujud, dan pranata kebudayaan; serta mitos sebagai sumber lahirnya ajaran kepercayaan manusia prasejarah sebagai suatu produk budaya.

Bab 2    Tinjaun Umum Toraja, membahas asal usul kata (etimologi) Toraja; prasejarah dan sejarah Toraja, yang terbagi menjadi era internal dan era pengaruh asing (eksternal) serta geografi Tana Toraja Pasca-Kemerdekaan.

Bab 3    Aluk Todolo (ajaran kepercayaan leluhur), membahas tentang prinsip-prinsip ajaran Aluk Todolo; dasar dan tujuan persembahan; Rampanan Kapa’ (pernikahan adat); serta jenis dan tingkatan upacara persembahan.

Bab 4      Tongkonan (rumah adat tradisional Toraja), membahas tentang rumah tradisional; rumah Tana Toraja; serta aturan-aturan perihal Tongkonan menurut Aluk Todolo.

Bab 5        Liang (makam).

Bab 6    Alang (lumbung) membahas tentang definisi lumbung; tipe-tipe alang; struktur bangunan (konstruksi) alang; serta fungsi alang.

Bab 7     Tana’ (kasta) membahas tentang nilai hukum Tana’; hukum Tana’ perihal pernikahan; hukum Tana’ perihal kematian; dan huku Tana’ perihal warisan; serta hukum Tana’ perihal pemerintahan adat.

Bab 8     Rampanan Kapa, membahas kriteria memilih jodoh; waktu dan tempat memilih jodoh; tipe-tipe penikahn adat; pola meminang; serta pelanggaran pernikahan adat.

Bab 9     Mana’ (wasiat) membahas tentang Mana’ yang menyangkut pelestarian kedudukan dan peranan Tongkonan; serta Mana’ yang bersifat pada orang tua yaitu harta benda hasil pencarian orang tua.

Bab 10    Ada’ dan Kombongan Ada’ (pemerintahan musyawarah adat) membahas tentang adat Mantaa; serta gelar Bulo Di’Apa’, to Makaka, dan Gora Tongkon;

Bab 11     Tarian Pitu (tujuh peradilan adat).

Bab 12     Pasa’ (pasar di Tana).

Bab 13     Tedong Garonto’ Eanan.

Bab 14     Bulangan Londong Sembangan Suke Baratu (adat sabung ayam).

Bab 15     Passura’ (ukir-ukiran).

Bab 16   Gau pa’tendengan (kesenian) membahas tentang prosa lirik serta olah raga ketangkasan tradisional.

Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi di jalan Sultan Alauddin Km. 7 Talasalapang, Kotamadya Makassar diharapkan dapat menambah buku rujukan tentang daerah Toraja.


TORAJA SEBUAH PENGGALIAN SEJARAH DAN BUDAYA

Penulis: L.T. Tangdilintin

Editor: Suriadi Mappangara

Penerbit: Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Makassar

Tempat Terbit: Makassar

Tahun Terbit: 2009

ISBN: 978-979-16880-2-4


August 5, 2020

SEJARAH DAN LEGENDA OBJEK WISATA TANA TORAJA

Peradaban masa lalu adalah sesuatu yang indah dan mendasar untuk senantiasa mendapat tempat yang wajar bagi pemiliknya. Tingkat kewajaran dimaksud adalah pada sejauhmana potensi-potensi tinggalan budaya masa lampau itu menjadi sesuatu yang dapat dimaknai dari berbagai aspek kehidupan.

Sumber budaya yang dikelola secara arif dan bijaksana akan melahirkan sebuah potensi yang lebih luas, tidak hanya direvitalisasi untuk kepentingan pelestarian budaya belaka, tetapi bagaimana supaya sumberdaya budaya tersebut memiliki nilai ekonomis yang pada gilirannya akan memberi kesejahteraan bagi masyarakat sekitarnya.

Buku SEJARAH DAN LEGENDA OBJEK WISATA TANA TORAJA memuat 31 tulisan Sejarah dan Legenda Objek Wisata di Tana Toraja yang akan menjadi bahan informasi dan pedoman bagi kepentingan pemanduan wisata di Tana Toraja, yaitu:

  1. Objek Wisata Sa’dan To’Barana’
  2. Objek Wisata Galugu Dua
  3. Objek Wisata Londa
  4. Obyek Wisata Tongkonan A’pa’ Pamanukan
  5. Obyek Wisata Massayo
  6. Obyek Wisata Lemo
  7. Obyek Wisata Sillanan
  8. Obyek Wisata Sirope
  9. Toraja Museum Landorundun
  10. Obyek Wisata Batutumonga dan Lo’ko’ Mata
  11. Obyek Wisata Erong Lombok Parinding
  12. Obyek Wisata Situs Purbakala Buntu Pune
  13. Obyek Wisata Situs Purbakala Rante Karassik
  14. Obyek Wisata Museum Miniatur Ne’Gandeng
  15. Kawasan Obyek Wisata Ballo Pasange
  16. Obyek Wisata Kolam Alam Tiangnga’
  17. Obyek Wisata Penanian Naggala
  18. Obyek Wisata Palawa’
  19. Obyek Wisata Tongkonan Batu Kianak
  20. Kawasan Obyek Wisata Balusu
  21. Obyek Wisata Ke’te Kese’
  22. Obyek Wisata Tampang Allo
  23. Obyek Wisata Rante Kalimbuang Bori’
  24. Obyek Wisata Sassa’
  25. Obyek Wisata Lo’ko’ Sulo
  26. Obyek Wisata Tampang Allo
  27. Obyek Wisata Liang Pia Kambira
  28. Obyek Wisata  Buntu Kalando dan Suaya
  29. Obyek Wisata Pala’ Tokke
  30. Obyek Wisata Liang Pana’
  31. Obyek Wisata Ba’ba Saratu’

Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi di jalan Sultan Alauddin Km. 7 Talasalapang, Kotamadya Makassar untuk mengetahui sejarah dan legenda peninggalan purbakala Tana Toraja untuk menambah nilai dan daya tarik bagi kepentingan pengembangan pariwisata.

 

SEJARAH DAN LEGENDA OBJEK WISATA TANA TORAJA

Penyusun: Tim Dinas Pariwisata, Seni dan Budaya Kabupaten Tana Toraja

Tahun Terbit: 2006


July 22, 2020

PASSOMBA TEDONG (UPACARA KESELAMATAN MASYARAKAT TORAJA)


Massomba Tedong berarti membersihkan atau menyucikan kerbau yang akan dipersembahkan. Cara dan tekniknya, Tomassomba (orang yang melaksanakan kegiatan Massomba Tedong) menghadapkan seperangkat kata puitis berupa hymne dalam bentuk prosa lirik kepada kerbau yang disucikan.

Tommassomba di daerah Sillanan/Kecamatan Mangkendek/Kabupaten Tana Toraja ialah Tobara’ yakni penguasa dalam wilayah adat setempat atau orang lain yang ditunjuk apabila yang bersangkutan berhalangan. Massomba Tedong merupakan Sub Upacara dalam Upacara Merauk Padang. Upacara ini termasuk upacara tingkat tinggi yang dilakukan suatu keluarga besar keluarga Tongkonan Layuk –pada waktu mengadakan persembahan kepada Puang Matua, ilah-ilah dan dewata agar mereka rela memberikan kesuburan tanah utamanya kesuburan persawahan yang selanjutnya mengaruniakan hasil padi yang melimpah ruah.

Penyelenggaraan Upacara Merauk Padang sebenarnya tidak hanya bertujuan memohon kesuburan lembah persawahan melainkan mencakup hampir seluruh keberadaan manusia dalam relasinya dengan Puang Matua, ilah dan dewata termasuk relasi sesamanya dan daerah sekitarnya. Karena itulah dalam Massomba Tedong diketemukan senjungan pujaan kepada yang harus dipuja, upacara syukur kepada Puang Matua atas segala pemberiannya, permohonan keselamatan umat manusia, kekayaan, keamanan dan kelimpahan.

Dalam upacara ini dikorbankan seekor kerbau muda hitam, gemuk dan tambun. Sebelum diperhadapkan kepada yang dipuja diawali tuturan sejarahnya dari mana kerbau berasal kemudian pembersihnya sudah itu disusul dengan mengorbankannya. Pelaksanaan Massomba Tedong menggunakan upacara khusus Merauk Padang. (merauk = menombak kerbau korban).

Buku PASSOMBA TEDONG (UPACARA KESELAMATAN MASYARAKAT TORAJA) merupakan karya sastra daerah yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, sangat kaya dengan unsur-unsur budaya yang banyak mengandung nilai-nilai kemanusiaan yang belum pantas kita tinggalkan untuk mengisi pembangunan. Adapun unsur-unsur tersebut antara lain unsur religi, unsur kemanusiaan, unsur etis, unsur persatuan, unsur musyawarah mufakat, unsur gotong royong, unsur kasih, unsur orientasi terhadap masa depan, unsur sastra, unsur teater, unsur kepemimpinan.

Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Perpustakaan Abdurrasyid Daeng Lurang yang berlokasi di jalan Kenanga No. 7A Sungguminasa, Kabupaten Gowa untuk dapat saling memahami kebudayaan-kebudayaan yang ada dan berkembang di tiap-tiap daerah sehingga memperluas cakrawala budaya bangsa.

PASSOMBA TEDONG
(UPACARA KESELAMATAN MASYARAKAT TORAJA)
Penulis: Mose Eppang, Arie Sumaidi, Sampe Bungi dll
Penerbit: Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Nusantara
TahunTerbit: 1990


February 4, 2020

Cerita Rakyat Sulawesi Selatan ; Tana Toraja



Buku : Cerita Rakyat Sulawesi Selatan ; Tana Toraja
Penulis : Syamsuddin Simmau
Editor : Arifuddin A. Gadjong
Penerbit : Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Sulawesi Selatan, Makassar, 2005
Jumlah Halaman : viii + 175
Bahasa : Indonesia dan Inggris
ISBN : -

Buku ini adalah kumpulan cerita rakyat (Folk Lore) masyarakat Tana Toraja di Sulawesi Selatan. Ada 8 (delapan) cerita rakyat yang dimuat dalam buku ini. Setiap cerita rakyat disertai dengan terjemahan bahasa Inggrisnya. 

Buku cerita rakyat ini diawali dengan sambutan dari Gubernur (waktu itu) Sulawesi Selatan (H. M. Aminsyam) dan sambutan dari Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata tahun 2005: Drs. H. Syahlan Solthan, M.Si. Selain buku cerita rakyat Toraja, juga ada seri Cerita Rakyat Bugis.
Adapun cerita rakyat Tana Toraja yang termuat dalam buku ini adalah:

1.  Petualangan Lakipadada (The Adventure of Lakipadada in Getting the Immortal Life)
2. Puang Manaek, Raja Perempuan Sakti (Puang Manaek, the Powerful Queen)
3. Seredukung Gembala Sakti Penjaga Salubarani (Seredukung, the Magic Herdsman, the Shepherd of Salubarani)
4. Tau Tau, Pelindung Negeri Toraja (Tau Tau, the Protector of Torajan Kingdom)
5. Ayam Sakti Bulu Pala (Invulnerable Rooster of Bulu Pala)
6. Sumber Kehidupan di Utara (The Life Source is the North)
7. Atap Rumah dari Perahu (The Roof Made of Ship)
8. Legenda Buttu Kabobong (The Legend of Erotic Mountain) 

Sayang sekali, kondisi buku ini sudah mulai rusak, ada beberapa lembaran yang lepas dari jilidannya. Buku ini sangat cocok bagi orang yang suka membaca folklore (cerita rakyat) atau orang orang yang suka meneliti tentang cerita rakyat dan tokoh tokoh cerita tersebut. Cerita rakyat ini bisa juga dijadikan bahan untuk mendongeng, baik untuk anak anak atau cucu kita ataupun diceritakan saat lomba mendongeng yang biasa dilaksanakan di perpustakaan.