Cerita lisan Sawerigading di Kandora, Mengkendek, dicatat pertama kali oleh penulis dari Puang Mangatta alias Puang To'lamba' pada tahun 1957. Versi tersebut adalah sebuah mitos yang memuat data-data sejarah lokal. Jamallomo, anak Sawerigading adalah "pangngala tondok" 'pendiri desa' Kandora. Tradisi dalam desa Kandora tersebut menunjukkan titik peralihan dari sejarah kekuatan "tomakaka" (semacam 'Urdemokratie') kepada kekuasaan "kapuangan" (semacam 'Aristokratis') di daerah maqkale, Tana Toraja dan di daerah Duri, Enrekang dahulu kala. Pemimpin daerah Tallu Batupapan (Allaq, Sangngallaq, Mengkendek) di Duri, Enrekang dahulu kala menganggap dirinya Puang Pindakati (dalam cyclus Bugis disebut We Pinrakati) di Kandora, Tana Toraja.
Versi lisan Saweringading di Kandora, Tana Toraja itu bagaimanapun juga menunjukkan hubungan prasejarah Tana Toraja dengan prasejarah suku Bugis dahulu kala. Prasejarah suku Toraja, khususnya sejarah "pangngala tondok", 'pendiri desa yang pertama' dahulu kala di daerah ini, antara lain pendirian desa Kandora di Kecamatan Mengkendek Tana Toraja. Pokok pikiran orang Toraja yang melatar belakangi kepercayaan mereka terhadap arwah yang ditemukan dalam "kada tomaqkayo" 'mada petugas upacara kematian' pada mengantarkan arwah jenazah orang mati ke dunia puya tersebut, dan juga dalam "badong ossoran" 'mada dukacita' yang dilagukan pada upacara kematian di daerah ini.
Versi lisan Sawerigading diceritakan pada upacara syukuran "merok", terkenal dengan sebutan "merok Sawerigading". Tradisi ini berbeda dengan upacara "merok" yang berlaku umum di seluruh Tana Toraja. Upacara merok yang berlaku umum di Tana Toraja acaranya dilaksanakan berhari-hari, bahkan harus didahului oleh acara-acara tertentu yang dilaksanakan setahun dua tahuna atau lebih sebelumnya. Upacara "merok Saweringading" tersebut acaranya dilakukan hanya sehari semalam saja, tanpa didahului acara-acara lainnya.
Upacara ini dilaksanakan dengan mempersembahkan seekor kerbau hitam, putih bulu ekornya, putih warna kuku kedua kaki belangnya. Dalam bahasa Toraja kerbau seperti itu disebut "tedong samara". Upacara itu dipusatkan pada kediaman Puang Parranan. Dalam melaksanakan upacara itu, beberapa buah batu keramat yang bergelar " Puang Parranan" penjelmahan "Puang Pindakati", istri pertama Sawerigading, diturunkan dari atas rumah, lalu dimandikan dan diberi pakaian baru (maksudnya diberi bungkusan yang baru). Persembahan, dalam bahasa Toraja disebut "pesung" diletakkan oleh petugas di depan rumah kediaman Puang Parranan, di depan 3 buah batu. Sebuah batu itu berbentuk seekor angsa yang sedang duduk menengadah ke langit. Dua buah yang lain terletak bersusun dalam bentuk lingga-yoni, lambang kekuasaan dan kesuburan, semacam phallus cultus. Upacara "merok Saweringading" tersebut dimeriahkan dengan tari-tarian kesukaan seperti: maqgellunq, maqdandan, manimbong dan maqbugiq yang dilaksanakan pada malam mendahului upacara. Sepanjang malam itu juga, "tominaa' 'ahli dan petugas' upacara menyanyikan hymne "passomba tedong" pujaan pada kerbau. Versi Sawerigading dicaritakan malam itu juga.
Bahagian cylus I La Galigo versi Bugis tersebut menunjukkan persejajaran antara kepercayaan suku Toraja dan suku Bugis dahulu kala terhadap alam arwah orang mati yang disebut "pamasareng" dalam bahasa Bugis dan dalam bahasa Toraja tersebut "punya". Kepercayaan inilah yang menjadi latar belakang pemotongan hewan, terutama kerbau, pada upacara penguburan jenazah orang mati di Tana Toraja.
Buku SAWERIGADING SEBUAH VERSI LISAN BAHASA TORAJA, DI KANDORA, MENGKENDEK, TANA TORAJA membahas tentang versi lisan Sawerigading di Kandora, Mengkendek, Tana Toraja dan terjemahannya serta prasejarah Tana Toraja dan beberapa aspek sosio-religio-kultural versi lisan Sawerigading Tana Toraja. Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar.
DI KANDORA, MENGKENDEK, TANA TORAJA
Penyusun: C. Salombe
Menyimak, lanjutkan 👍👍👍🙏🏻
ReplyDeleteMakasih atas kunjungannya ke weblog. Salam sehat selalu
ReplyDelete