May 23, 2025

Muhammad Jufri Mutiara Laut Jampea

Di sudut Nusantara yang nyaris tak terpetakan di atlas, Pulau Jampea menjadi saksi tumbuhnya seorang anak gembala yang kelak menapakkan kaki di Istana Negara. Itulah saya, Muhammad Jufri, anak dari seorang pendidik. Ayah saya mendidik dengan keteladanan, keras tapi penuh cinta, membentuk pribadi jujur, tekun, dan tangguh.

Meja makan menjadi kelas pertama dalam hidup saya. Di sanalah ayah menanamkan nilai kebersamaan dan disiplin. Makanan boleh sederhana, tetapi jika disantap bersama, menjadi sangat istimewa. "Bukan soal makan apa, tapi dengan siapa," kata ayah.

Ayah tak pernah mencela. Ia membesarkan hati saya dengan pujian dan motivasi, bahkan ketika saya tampil seadanya. Kata-kata seperti, "Jufri, kamu anak guru. Jadilah contoh. Jangan buat ayah malu," membekas kuat, memacu saya untuk berprestasi.

Dari membantu renovasi sekolah dasar hingga melintasi hutan demi menuntut ilmu, saya belajar bahwa kesulitan bukanlah halangan. Jalan terjal, hujan, dan binatang buas tak menghentikan langkah kecil saya menuju masa depan.

Saya bertekad menggantungkan cita-cita setinggi mungkin. Setelah ujian nasional di Makassar yang saya lalui dengan hasil gemilang, saya melanjutkan kuliah di IKIP Ujung Pandang (sekarang UNM), mengambil jurusan Bahasa Inggris. Saya bertahan dengan dua beasiswa: Supersemar dan TID. Tidak pernah saya bayangkan bisa menjadi duta kampus dan tamu kehormatan di Istana Negara sebagai mahasiswa berprestasi 1991.

Pada secarik kertas, saya tulis cita-cita: "Meraih gelar doktor bidang psikologi di Jawa Barat pada usia 38." Itu terwujud. Saat wisuda, saya tatap barisan guru besar dan berkata dalam hati, “Saya akan duduk di sana suatu hari nanti.” Tahun 2009, pada usia 41, saya dikukuhkan sebagai Profesor Psikologi Industri dan Organisasi.

Kini, saya membangun social capital—menyapa minimal 20 orang setiap pagi. Saya percaya, tidak semua bisa dibeli dengan uang. Kehidupan sosial yang sehat adalah investasi tak ternilai.

Buku berjudul Muhammad Jufri: Mutiara Laut Jampea ini menjadi catatan perjalanan penulis. Buku ini termasuk dalam koleksi Layanan Deposit Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang beralamat di Jl. Sultan Alauddin Km. 7, Tala'salapang, Makassar.

Penulis percaya, pendidikan adalah jalan peradaban. Dan tugas kita adalah memastikan setiap anak negeri punya kesempatan untuk menapaki jalan itu, walau dimulai dari titik paling terpencil di peta.


Muhammad Jufri Mutiara Laut Jampea 
Penulis: Prof. Dr. Muhammad Jufri, S. Psi., M.Si
Editor: Bachtiar Adnan Kusuma, Heri Rusmana
Penerbit: Yapensi 
Tahun Terbit: 2018

Cerita Rakyat Sulawesi Selatan : Bugis

 


Judul:                             Cerita Rakyat Sulawesi Selatan, BUGIS

Penulis:                          Syamsuddin Simmau

Editor:                            Arifuddin A. Gadjong

Penerbit:                       Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Prov. Sulsel

Tahun Terbit:               2005

Jumlah Halaman:      ix + 161

ISBN:                               -

Penulis Resensi:          Suharman, S.S., MIM.

Buku ini adalah bagian dari seri Cerita Rakyat Sulawesi Selatan. Ada seri yang khusus untuk cerita rakyat Sulawesi Selatan dari Toraja, Makassar, dan kali ini adalah cerita rakyat dari suku Bugis. Suku bangsa Bugis adalah suku bangsa terbesar di Sulawesi Selatan yang umumnya bermukim di kabupaten Bone, Soppeng, Wajo, Luwu, Sidrap, Pinrang, Sinjai dan lain lain.

Cerita rakyat atau dongeng atau folklor dari suku Bugis cukup banyak, dan tradisi lisan mendongeng atau bercerita sudah dikenal dikalangan suku Bugis sejak zaman dahulu kala. Suku Bugis juga tidak hanya mengenal tradisi lisan, tetapi juga tradisi tulis menulis yang dikenal dengan nama Lontara. Aksara Bugis disebut Lontara, begitupun media penulisannya disebut Lontara. Sebagian cerita rakyat diturunkan antar generasi ke generasi lewat cara bertutur atau lisan, namun demikian ada pula yang dituliskan dalam Lontara.

Cerita rakyat Bugis biasanya mengandung makna filosofi dan kearifan lokal. Ada juga yang berkisah tentang kepahlawanan seorang tokoh, kisah legenda suatu tempat atau daerah, asal usul suatu nama daerah, dan bahkan ada yang menceritakan tokoh mistik dan dewa dewi.

Buku ini ditulis dalam dua bahasa, Indonesia dan Inggri. Cerita rakyat dalam bahasa Indonesi diletakkan pada halaman ganjil, dan terjemahannya dalam bahasa Inggris pada halaman genap. Mungkin karena diterbitkan oleh lembaga kebudayaan dan Pariwisata, sehingga dirasa perlu menuliskan dalam bahasa Inggris juga, agar dapat dinikmati pula pada wisatawan mancanegara yang tidak paham bahasa Indonesia. Generasi muda yang membaca buku cerita rakyat ini, juga dapat diharapkan mampu meningkatkan pengetahuan bahasa Inggris mereka, sehingga selain menambah pengetahuan akan kearifan lokal, juga menambah pengetahuan bahasa Inggris mereka.

Ada 7 cerita rakyat dalam buku yang dibahas dan dituliskan terjemahannya dalam bahasa Inggris. Cerita rakyat yang ada yaitu : Bekas Tapak Kaki La Tenritatta, Bubung Lameong dan Jallo’ To Unra, La Walenreng dan Putri Cina (We Cudai), Badai Selat Makassar, La Maddukkelleng Raja Wajo di Perantauan, Gua Mampu Negeri Kutukan, dan Singkerru’.

Dari judul yang ada dalam buku ini, sebenarnya lebih tepat disebut sebagai ‘fiksi sejarah’ (historical fiction) karena berkaitan dengan tokoh sejarah yang pernah ada yaitu La Tenritatta Arung Palakka, Raja yang pernah memerintah kerajaan Bone. Ada juga nama La Maddukkelleng yaitu nama Raja kerajaan Wajo dimasa lampau.

Buku ini menambah koleksi cerita rakyat Sulawesi Selatan, khususnya yang berasal dari suku Bugis. Cerita cerita rakyat ini dapat menambah wawasan dan memperkaya kearifan lokal Bugis bagi pembacanya. Sayangnya, terjemahan bahasa Inggris cerita rakyat ini kurang bagus. Seakan akan diterjemahkan kata kata sumbernya satu persatu, sehingga orang asing yang berbahasa Inggris bisa jadi kurang paham akan terjemahan cerita rakyat ini. Buku ini tidak ada illustrasi gambar atau foto yang bisa menarik perhatian pembacanya. Cara penjilidan buku ini juga tidak bagus, sehingga ada beberapa halaman yang terpisah dan sobek.

Buku koleksi Deposit,  Bidang Pembinaan Perpustakaan, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan.




May 22, 2025

Sandeq, Perahu Tercepat Nusantara

 


Judul:                              Sandeq, Perahu Tercepat Nusantara

Penulis:                           Muhammad Ridwan Alimuddin

Editor:                             -

Penerbit:                        Ombak, Yogyakarta

Tahun Terbit:                2013

Jumlah Halaman:       xviii + 428

ISBN:                              9786022581116

Penulis Resensi:          Suharman, S.S., MIM.

Sandeq, menurut Muhammad Ridwan Alimuddin adalah puncak kebudayaan Mandar dalam bidang kebaharian. Sandeq adalah perahu layar bercadik tradisional yang khas dari masyarakat Mandar di Provinsi Sulawesi Barat, Indonesia. Perahu ini digunakan untuk melaut, menangkap ikan, dan berdagang, serta menjadi alat transportasi antar pulau. Sandeq dikenal karena kecepatannya yang tinggi, bahkan dianggap sebagai perahu layar tercepat di Nusantara.

Dibagi menjadi lima bagian dengan bagian awal diulas tentang pengenalan Sandeq. Pada bagian ini Perahu Sandeq dibahas secara lengkap dalam buku ini mulai dari sejarahnya, jenis jenisnya dimana disebutkan bahwa ada dua jenis Sandeq yaitu Sandeq Tolor dan Sandeq Bandeceng. Pada proses pembuatannya,  diuraikan tentang jenis kayu yang digunakan untuk pembuatan perahu Sandeq. Jenis kayu yang digunakan adalah kayu Tippulu atau Kaccoda, kayu Palapi, kayu Sappuq, kayu Punaga dan kayu Ranniq. Biasanya setelah berbagai jenis kayu terkumpul maka akan diadakan upacara atau ritual dalam memulai pembuatan perahu Sandeq. Juga disebutkan beberapa hal mistik dan pamali (hal hal terlarang dilakukan) saat pembuatan Sandeq.  

Selanjutnya dikisahkan tentang Lomba Sandeq atau Sandeq Race. Pada Sandeq Race tahun 2007 dari Mamuju ke Makassar dengan melalui beberapa etape dengan jarak tempuh kurang lebih 480 km.  

Pada bagian lain, ada pembahasan tentang Ekspedisi Sandeq. Pada bagian ini disebutkan bahwa banyak kalangan yang tidak bisa membedakan antara perahu Sandeq dengan yang bukan Sandeq. Ada juga yang mengherankan bagi penulis bahwa ada yang mau mempatenkan Sandeq dan juga perahu Pinisi. Penulis juga mempertanyakan tentang gambar perahu pada lambang atau Logo Provinsi Sulawesi Barat yang sebenarnya bukan Sandeq.

Ada peristiwa membanggakan yang dikisahkan pada bagian akhir buku ini yaitu katika Mandar menjadi tamu kehormatan pada Festival Perahu Layar Dunia di Prancis. Pada festival tersebut, ada 3 Sandeq yang dikirim ke Prancis. Banyak hal dikisahkan disini, mulai dari persiapan, pemilihan para kru Sandeq yang akan diikutkan sampai pada pengalaman penulis dan pemilik dan kru Sandeq lainnya dalam pesawat menuju Paris.

Bagian akhir ditutup dengan judul Meratapi Sandeq Terakhir. Kenyataan bahwa perahu Sandeq sedang menuju kepunahan sangat memprihatinkan. Ada banyak Sandeq yang dijual oleh pemiliknya karena sudah tidak bisa lagi digunakan berlayar dan juga sudah kekurangan awak perahu. Ada juga pemilik Sandeq yang menjual Sandeq-nya karena tidak ada lagi yang dia bisa temani melaut, mencari ikan. Bahkan ada pemilik Sandeq yang akhirnya menjadikan perahu Sandeq-nya sebagai tempat tidur di rumahnya.

Buku ini sangat lengkap mengupas segala hal terkait Sandeq, dan merupakan sebuah dokumentasi budaya maritim yang mendalam, dengan menggunakan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami oleh pembaca, sehingga bisa dijadikan sebagai bahan rujukan buat para peneliti atau mahasiswa yang berminat tentang sejarah Sandeq atau sejarah dan budaya bahari suku Mandar. Namun demikian penggunakan istilah teknis perkalapalan dan perperahuan mungkin agak menyulitkan pemahaman bagi pembaca yang tidak familiar dengan perahu. Akses untuk memiliki buku ini juga terbatas dan kemungkinan agak sulit ditemukan di semua toko buku.

Buku ini koleksi Deposit, Bidang Pembinaan Perpustakaan, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan.





Kisah Hidup dan Perjuangan Opu Daeng Risaju, Pahlawan Nasional Asal Luwu Sulawesi Selatan

 


Judul:                           Opu Daeng Risaju, Perintis Pergerakan Kebangsaan/Kemerdekaan Republik Indonesia

Penulis:                        Drs. Muhammad Arfah & Drs. Muhammad Amir

Editor:                        

Penerbit:                      Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Prov. Sulawesi Selatan

Tahun Terbit:                 1991

Jumlah Halaman:       xviii + 150

ISBN:                               -

Penulis Resensi:          Suharman, S.S., MIM.

Buku Biografi Pahlawan ini merupakan buku seri kedua dari 3 pahlawan yang di terbitkan kisah hidup dan perjuangannya oleh Bidang Sejarah dan Nilai Tradisional, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Sulawesi Selatan. Seri pertama adalah biografi Ibu Agung Andi Depu, dan yang ketiga adalah biografi Ranggong Deng Romo. Tujuan utama penulisan biografi pahlawan nasional dari Sulawesi Selatan ini adalah untuk menanamkan dan menumbuhkan semangat kebangsaan dan rasa cinta tanah air bagi bangsa Indonesia.

Opu Daeng Risaju adalah seorang Pahlawan Nasional asal Sulawesi Selatan, lahir di Palopo tahun 1880. Ayahnya adalah Muhammad Abdullah To bareseng dan ibunya Opu Daeng Mawellu. Dari hasil penelusuran silsilah keluarganya, Opu Daeng Risaju adalah keturunan dari Raja Bone ke-16 La Patau Matanna Tikka, dan Syekh Yusuf Tuanta Salamaka ri Gowa dan juga dari Datu Luwu Matinroe ri Tompotikka.

Buku ini dibagi menjadi 5 bagian, diawali dengan sambutan sambutan dari Gubernur Sulawesi Selatan, Kepala Kanwil Depdibud Sulawesi Selatan, dan dari Penulis. Selanjutnya setelah bagian pertama Pendahuluan, diuraikan secara lengkap keadaan daerah Luwu, baik sejarahnya, keadaan geografisnya dan kehidupan sosial budayanya.

Kisah hidup dan perjuangan tokoh utama pembahasan buku ini yaitu Opu Daeng Risaju pada bagian kedua. Diawali dengan asal usul orangtua dan nenek moyanya, kemudian status dan kedudukan Opu Daeng Risaju dalam masyarakat dan juga para bangsawan Luwu dan kepemimpinannya. Selanjutnya diulas tentang awal karir Opu Daeng Risaju dan organisasi Partai Syarekat Islam Indonesia (PSII) dan awal berdirinya di Luwu.

Pada bagian selanjutnya diuraikan tentang pasang surut perjuangan Opu Daeng Risaju. Karena aktif merekrut anggota PSII di daerah Luwu, pemerintah kolonial Belanda merasa terancam dan kemudian memerintahkan penangkapan Opu Daeng Risaju dan kawan kawan dan memenjarakan mereka. Opu Daeng Risaju dan aktifis pergerakan lainnya dipenjarakan lebih dari sekali oleh pemerintah kolonial Belanda selama masa perjuangannya, namun hal itu tidak mengurangi semangat perjuangan mereka.

Dijelaskan pula masa masa kedatangan bangsa Jepang di Indonesia termasuk di daerah Luwu, Sulawesi Selatan. Masa pendudukan Jepang ini, tidaklah lebih baik dari masa kolonial Belanda. Di masa pendudukan Jepang, bahkan salah seorang petinggi PSII disiksa dan dibunuh di penjara Masamba.

Masa pendudukan Jepang berakhir namun kembali datang Belanda dan sekutunya. Pasukan NICA ini yang kemudian menentang pergerakan PSII dan memburu Opu Daeng Risaju. Opu Daeng Risaju bahkan sempat dipenjarakan lagi di Bone dan Wajo meskipun beliau sudah sepuh. Pengaruhnya masih sangat kuat sehingga pemerintah yang berkuasa saat itu khawatir dan merasa terancam.

Buku ini dilengkapi dengan dokumentasi foto hitam putih yang sebagian sudah buram. Ada pula beberapa Peta dan daftar nama nama informan dalam penyusunan buku ini.

Sangat informatif mengisahkan sejarah hidup dan perjuangan Opu Daeng Risaju, seorang pahlawan perintis kemerdekaan Republik Indonesia dari daerah Luwu, Sulawesi Selatan. Meskipun buku ini belum terlalu tua karena terbit tahun 1991, namun karena penerbitannya oleh pemerintah daerah, maka masyarakat umum kesulitan mengakses buku ini. Hanya bisa ditemukan di Perpustakaan, itupun hanya pada sebagian perpustakaan saja. Tidak ada penerbitan ulang buku ini secara komersial, sehingga menyulitkan masyarakat yang ingin membeli atau memilikinya.

Buku ini koleksi Referensi, Layanan Perpustakaan Umum, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Sulawesi Selatan.



May 21, 2025

Hukum Pelayaran dan Perdagangan Amanna Gappa

 


Judul:                           Hukum Pelayaran dan Perdagangan Amanna Gappa

Penulis:                        Prof. Dr. Ph. O. L. Tobing,  c.s.

Editor:                         -

Penerbit:                     Yayasan Kebudayaan Sulawesi Selatan

Tahun Terbit:               1961

Jumlah Halaman:        203

ISBN:                            -

Penulis Resensi:          Suharman, S.S., MIM.

Suku bangsa Bugis dan Makassar dan beberapa suku lainnya di Indonesia sejak zaman dulu kala telah dikenal sebagai penjelajah lautan. Selain untuk mencari sumber kehidupan di laut, mereka juga mengarungi lautan untuk mencari kehidupan dinegeri lain, misalnya berdagang atau pekerjaan lain di tempat domisili baru. Orang Bugis sejak zaman dulu sudah membuat aturan,  kebijakan, norma norma atau terkait bagaimana pelaksanaan pelayaran dan perdagangan dimasa lalu.

Buku yang ditulis oleh Prof. Dr. Ph. O. L. Tobing, Dekan Fakultas Sastra dan Filsafat, Universitas Hasanuddin ini,  menguraikan hukum hukum pelayaran dan perdagangan Amanna Gappa yang merupakan pedoman pelayaran dan perdagangan suku Bugis terutama yang dari daerah Wajo. Diawali dengan pendahuluan yang merupakan penjelasan pembuka oleh penulis bagaimana proses sampai buku tersebut bisa disusun dan dicetak, sumber informasi dan bahan rujukan penulisan buku, dan penjelasan tentang Amanna Gappa, seorang tokoh Bugis dari Wajo yang berusaha menyusun dan menuliskan hukum hukum pelayaran dan perdagangan tersebut. Dijelaskan bahwa Amanna Gappa adalah orang Bugis Wajo yang hidup pada abad ke-17, yang pertama kali berinisiatif mengumpulkan, menyusun dan membukukan suatu sistem pelayaran dan perdagangan. Kumpulan peraturan pelayaran dan perdagangan itu selesai disusun dan dibukukan pada 1676.

Pada bagian selanjutnya dijelaskan peraturan pelayaran yang ada sumber sumber aturan yang berasal dari naskah Lontara. Contoh aturan pelayaran dan perdagangan yang tertulis:

P.1. “Bahwa setiap orang yang pergi berlayar dan tiba di Pelabuhan negeri orang, wajib terlebih dahulu mempelajari adat istiadat negeri itu sebelum berdagang.”

P.7. “Peraturan mengenai barang yang biasa diseberangkan (dimuat di kapal atau perahu) misalnya beras. Jikalau perahu tenggelam di laut, maka barang barang itu tidak diganti. Akan tetapi jikalau  perahu tenggelam di Sungai, maka orang diwajibkan membayar setengah.”

Selain itu ada aturan tentang kewajiban seorang Syahbandar, jumlah sewa penumpang laki laki dan perempuan, bagaimana proses pemberian atau persembahan hadiah kepada raja (penguasa) setempat, aturan tentang pinjam meminjam perahu, bahkan ada aturan bagaimana sebaiknya seorang bangsawan berperilaku kepada budaknya (pada masa itu masih ada orang berstatus Budak) dan aturan aturan lainnya.

Proses pengumpulan naskah lontara, kemudian terjemahannya dibahas pula. Kemudian ada bagian yang mengulas apa yang masih berlaku dan yang tidak berlaku lagi dari hukum Pelayaran dan Perdagangan Amanna Gappa. Para penulis dari Belanda seperti Matthes, Caron, Leupe, Noorduyn, dan lain lain yang mengulas hukum pelayaran dan perdagangan Bugis, juga di uraikan di buku ini.

Pada bagian kedua, adalah inti dari pembahasan buku ini, yaitu isi Hukum Pelayaran dan Perdagangan Amanna Gappa yang dalam bahasa Bugis di sebut “Ade’ Allopi-loping Ribicaranna Pa’balu’E”. Ada 21 pasal atau ‘parakara’ dalam aturan ini. Pasal pertama adalah aturan tentang muatan perahu, pasal kedua tentang perahu yang disuruh dinakhodai, ketiga aturan tentang dagangan yang kembali karena tidak laku dan seterusnya.

Penjelasan setiap pasal dalam buku ini tertulis dalam bahasa Bugis dengan aksara Latin, dan terjemahannya dalam bahasa Indonesia. Ada ulasan tentang laporan laporan yang menarik dari hukum pelayaran dan perdagangan ini dari tim penulis.

Bagian terakhir adalah kesimpulan dan anjuran. Berbeda dengan buku buku pada umumnya, daftar isi buku ini ada pada bagian akhir. Ada pula ringkasan isi buku dalam bahasa Inggris yang diberi judul “The Navigation and Commercial Law of Amanna Gappa

Buku ini sangat informatif dalam membahas hukum pelayaran dan perdagangan Amanna Gappa sehingga dapat dijadikan bahan rujukan untuk para peneliti kebaharian dan perdagangan. Namun demikian, karena buku ini terbit tahun 1961, banyak kosa kata dan istilahnya yang masih dipengaruhi oleh bahasa Belanda. Tata bahasa yang digunakan juga sedikit berbeda dengan tata bahasa Indonesia yang kita kenal sekarang ini sehingga mungkin akan menyulitkan bagi generasi muda untuk memahaminya.

Buku ini koleksi layanan Deposit, Bidang Pembinaan Perpustakaan, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan.




May 9, 2025

Cerita Rakyat Sulawesi Selatan

 



Judul:                             Cerita Rakyat Sulawesi Selatan

Penulis:                         -

Editor:                           Dr. Abdul Pirol, M. Ag.

Penerbit:                     Aksara Timur

Tahun Terbit:             2018

Jumlah Halaman:    viii + 85

ISBN:                            9786025802034

Penulis Resensi:       Suharman, S.S., MIM.

Buku Cerita Rakyat Sulawesi Selatan ini merupakan karya tulis para mahasiswa PGMI IAIN (Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah, Institut Agama Islam Negeri) Palopo semester 4 kelas A tahun 2018. Tidak banyak informasi awal atau informasi pembuka pada buku ini. Hanya ada kata pengantar dari tim penyusun dan daftar isi buku.  Para mahasiswa yang mengumpulkan cerita rakyat ini adalah mahasiswa yang sedang mengikuti  salah mata kuliah tertentu.

Ada 25 cerita rakyat yang ditulis oleh para mahasiswa. Sebagian besar cerita rakyat yang bertema lokal Luwu misalnya Cerita Rakyat yang ditulis oleh Amrullah Ringki yang berjudul Maruntabang dan Lanca Bonga yang merupakan cerita yang berasal dari salah satu desa atau dusun di Luwu. Termasuk juga cerita rakyat ‘Asal Mula Desa Lapandaso’ oleh Mutiara Dinda, ‘Sawerigading’ oleh Nur Hamida Hawir Rampean, ‘Asal Mula Kota Palopo’ oleh Putri Melati,  ‘Masjid Jami Tua Palopo’ oleh Aprida Lestari, ‘Asal Mula Kampung Waituo” oleh Rika Amalia dan cerita rakyat lainnya.

Ada juga beberapa cerita rakyat dari Tana Toraja misalnya ‘Asal Usul Orang Toraja’ oleh Kiki, dan ‘Toraya’ oleh Sarianti. Beberapa mahasiswa memilih tema lokal daerah kabupaten lainnya, misalnya ada cerita rakyat yang berasal dari Enrekang, Luwu Utara, Bone, dan daerah lainnya. Dari Bone ada cerita rakyat dengan judul ‘Kutukan Gua Mampu’ yang ditulis oleh Iim Rifki Alawiyah.  Enrekang diwakili oleh cerita rakyat ‘Asal Mula Enrekang Tomanurung dari Bamba Puang’ yang dikisahkan kembali oleh Lisnawati.

Ada juga cerita rakyat yang bertema horor dan mistis, seperti ‘Legenda Hantu Indo Siso di Gunung Make’ oleh Yusriani Malacoppo, dan cerita rakyat berjudul  ‘Poppo: Manusia Terbang dari Sulawesi Selatan’ oleh Windi Safitri.

Ternyata tidak semua isi buku ini adalah cerita rakyat sebagaimana yang tercantum dalam judulnya. Pada bagian akhir, temanya lebih bersifat feature ataupun cenderung ke sejarah daerah tertentu. Misalnya ‘Masjid Syuhada Masamba’ yang ditulis oleh Nur Halima, membahas tentang sejarah masjid yang ada di Masamba, kabupaten Luwu Utara. ‘Desa Baloli’ yang ditulis oleh Nurfatwatul Anan dan ‘Kerajaan Luwu’ oleh Nur Ainung, keduanya merupakan artikel sejarah dan bukan cerita rakyat. Sama halnya dengan ‘Sejarah Berdirinya Basse Sangtempe’ oleh Mira Pasau yang dari judulnya saja dapat ditebak merupakan sejarah berdirinya Basse Sangtempe atau Bastem.

Dari keduapuluhlima cerita rakyat, meskipun ada yang tidak masuk kategori cerita rakyat, namun tetap dapat ditempatkan sebagai artikel yang bersifat sejarah lokal. Cerita rakyat lainnya dapat dijadikan sebagai aset kekayaan budaya lokal Sulawesi Selatan, khususnya di bidang Folklore atau Cerita Rakya. Kumpulan cerita rakyat Sulawesi Selatan yang telah ada, akan bertambah lagi khazanahnya dengan adanya kumpulan cerita rakyat ini.

Beberapa hal yang masih perlu ditambahkan dalam buku ini diantaranya, illustrasi atau gambar atau foto penghias halaman buku. Dengan adanya ilustrasi buku, akan semakin menambah data tarik membaca buku ini. Seharusnya juga masing masing penulis cerita rakyat mencantumkan sumber cerita tersebut, nama, usia, dan asal daerah sang penutur cerita.

Buku koleksi Deposit, Bidang Pembinaan Perpustakaan, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Sulawesi Selatan.





H. M. Natzir Said, Pejuang Berjiwa Pendidik

 



Judul:                             H. M. Natzir Said, Pejuang Berjiwa Pendidik

Penulis:                        -

Editor:                           Moh. Yahya Mustafa, Andi Wanua Tangke & Anwar Nasyaruddin

Penerbit:                     Pustaka Refleksi

Tahun Terbit:             2005

Jumlah Halaman:    xi + 131

ISBN:                            979-3570-09-1

Penulis Resensi:       Suharman, S.S., MIM.

Salah seorang tokoh pendidikan Sulawesi Selatan yang juga dikenal sebagai seorang tentara dan pejuang kemerdekaan adalah H. Muhammad Natzir Said. Pada masanya H. M. Natzir Said dikenal sebagai seorang Dosen di Fakultas Hukum, Universitas Hasanuddin yang kemudian menjadi Rektor ke-4 Universitas Hasanuddin Makassar. Beliau juga adalah Doktor Hukum pertama di Universitas Hasanuddin, pendiri SOKSI Sulsel dan Pendiri Univeritas Satria Makassar.

Buku biografi H. M. Natsir Said ini diawali dengan pengantar dari penerbit, pengantar dari Yayasan Pendidikan Mr. Dr. H. M. Natzir Said. Selanjutnya diuraikan tentang kampung halaman keluarga M. Natzir Said di Jeneponto dan masa masa ayahnya menetap di Bima untuk menimba ilmu agama. Ayahnya bernama K. H. Muhammad Said Dg. Bilu seorang ulama dan ibunya adalah Khibitia Dg. Pa’ja seorang anggota keluarga kerajaan Bima.

Masa kecil M. Natzir Said dilewatkan di Jeneponto dan mendapatkan pendidikan dasar di Madrasahtul Chaeriah, sebuah madrasah yang didirikan oleh ayahnya sendiri sepulangnya dari Bima (Nusa Tenggara Barat).

Masa remaja M. Natzir Said dilewatkan diera pemerintahan kolonial Belanda dan masa pendudukan Jepang. Pada masa itu, M. Natzir Said bersama pemuda dari berbagai daerah di Sulawesi Selatan ikut bergabung pasukan Jepang bernama Heiho. Heiho ini adalah pasukan pemuda pribumi yang membantu Jepang dalam mengusir penjajah Belanda. Dalam pasukan Heiho ini, M. Natzir Said termasuk yang cakap sehingga dengan cepat bisa naik jenjang kepangkatan dalam sistem ketentaraan Jepang.

Jatuhnya bom di kota Hiroshima dan Nagasaki di Jepang, menandai kekalahan Jepang dari pasuka sekutu. Semua kegiatan pasukan Heiho di Sulawesi Selatan dihentikan, dan para anggotanya termasuk M. Natzir Said kembali ke kampungnya masing masing. Dari Jeneponto kemudian beliau kembali ke Makassar untuk bergerilya.

Perjuangan M. Natzir Said bersama pemuda lain melawan pendudukan Belanda cukup banyak diulas dalam buku ini. Mereka berhasil menyerang salah satu markas Belanda di Makassar dan juga bergabung dengan Laskar Lipang Bajeng. M. Natzir Said dan beberapa teman seperjuangannya ditangkap oleh pasukan KNIL Belanda dan ditahan di Penjara Layang, namun kemudian meloloskan diri dan berlayar menuju pulau Jawa dan kemudian menetap di Banten. M. Natzir Said kembali ke Makassar ketika bergabung dengan Pasukan Batalyon Worang untuk menumpas pemberontakan Andi Aziz.

Kehidupan pribadi M. Natzir Said tidak banyak dibahas dalam buku ini. Hanya ada dua bagian yang membahas tentang pernikahannya dan bagaimana mendidik anak anaknya. Bagian lain semua mengupas tentang karir beliau baik sebagai akademisi di Universitas Hasanuddin maupun karirnya di Militer, termasuk juga pengalamannya belajar di luar negeri yaitu di Jerman dan Amerika Serikat.

Pengalaman menarik yang dikisahkan dalam buku ini yaitu ketika M. Natzir Said mengamankan Corry Van Stephen, istri Abdul Qahhar Mudzakkar yang berasal dari negeri Belanda. Corry ditangkap di hutan belantara bersama dua orang anaknya namun tidak bersama dengan suaminya yaitu Abdul Qahhar Mudzakkar.

Buku ini dapat meningkatkan pengetahuan kita tentang kehidupan dan perjuangan tokoh H. M. Natzir Said. Buku ini dan memberikan inspirasi kepada para pembacanya. Selain itu juga dapat menambah pemahaman kita tentang masa lalu yang mungkin jarang ditulis.

Namun bisa saja sebuah buku biografi yang ditulis, dipengaruhi secara subyektif oleh penulisnya. Buku biografi juga tentu tidak lengkap menguraikan tentang kehidupan sang tokoh baik kehidupan pribadinya maupun karir dan perjuangan sang tokoh.

Buku koleksi Ruang Referensi, Layanan Umum Perpustakaan, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Sulawesi Selatan.



Obrolan Urban: Tiada Ojek di Paris Karya Seno Gumira Ajidarma

Obrolan Urban: Tiada Ojek di Paris Karya Seno Gumira Ajidarma


Oleh: Nabila Wulandani


Obrolan Urban: Tiada Ojek di Paris Karya Seno Gumira Ajidarma


Pendahuluan

Obrolan Urban: Tiada Ojek di Paris karya Seno Gumira Ajidarma muncul sebagai kumpulan esai dan kisah pendek yang mengeksplorasi dinamika kota dengan sudut pandang segar. Terbit pada tahun 2015 oleh Penerbit Mizan buku ini menggabungkan pengalaman personal penulis saat menjelajah kota Paris dengan refleksi tentang realitas urban Indonesia. Judul yang menggelitik memberi sinyal bahwa apa yang biasa ditemukan di Jakarta terasa asing di kota mode dunia. Pembaca diajak menyelami obrolan ringan yang dibumbui keheranan, tawa, sekaligus kritik sosial. Gaya penceritaan Seno yang lugas dan jenaka membuat setiap kata terasa akrab dan memancing rasa ingin tahu lebih dalam.

Seno menghadirkan suasana kafe dan sudut jalan Paris sebagai panggung dialog antara dirinya dan berbagai narasumber tak terduga. Setiap halaman menampilkan potret kota global yang ideal dihadapkan dengan kondisi urban di Indonesia yang ramai namun kompleks. Tema perpindahan, mobilitas, dan budaya lokal menjadi benang merah yang mengikat bab demi bab. Melalui kombinasi esai, catatan perjalanan, dan fiksi pendek penulis menciptakan ritme baca yang dinamis. Sinopsis ini akan mengurai bagaimana buku ini membentuk gambaran urban penuh warna.


Isi

Bagian awal buku menampilkan cerita tentang ketika Seno mencari ojek yakni transportasi ikonik Jakarta, namun hanya menemukan trotoar berlapis dan tak satu pengendara pun. Kejadian sederhana ini berkembang menjadi renungan tentang identitas kota dan batasan budaya. Penulis lalu menelusuri sudut-sudut Paris, mencatat kebiasaan warga, arsitektur, dan cara berinteraksi di ruang publik. Interaksi dengan barista kafe, sopir metro, hingga gelandangan kota memunculkan beragam suara urban. Semua kisah diceritakan tanpa kesan menggurui, tetapi justru mengundang pembaca ikut mengamati.

Di bagian tengah pembaca disuguhkan fragmen cerita yang menggabungkan humor dan ketajaman kritik sosial. Seno menggambarkan antrean panjang di museum serta kebiasaan orang Paris nongkrong di trotoar sambil menyeruput kopi. Kemudian ia membandingkan rutinitas ini dengan keramaian terminal ojek di Jakarta yang penuh hiruk pikuk tawar-menawar harga. Cerita-cerita singkat itu menegaskan bahwa tiap kota punya “ritme” sendiri yang membentuk perilaku warganya. Gaya bahasa penulis yang ringan memudahkan pembaca merenungkan persamaan dan perbedaan budaya.

Keunikan Obrolan Urban terletak pada cara Seno menyulap pengalaman harian menjadi obrolan yang hangat dan berlapis makna. Ia tidak sekadar bercerita tentang perbedaan kota, tetapi juga menyorot kesamaan kebutuhan manusia akan kebersamaan dan kecepatan hidup. Perpaduan esai, catatan perjalanan, dan fiksi pendek menciptakan struktur antologi yang hidup. Judul-judul bab sering kali provokatif sehingga memancing senyum dan tanya. Pilihan kata sederhana namun kaya gaya sastra membuat buku ini layak dibaca ulang.


Penutup

Secara keseluruhan Obrolan Urban: Tiada Ojek di Paris menawarkan pengalaman baca yang menyegarkan sekaligus menggugah kesadaran tentang makna “kota” dalam kehidupan modern. Buku ini cocok bagi siapa saja yang ingin memandang ulang rutinitas sehari-hari lewat lensa penulis kreatif. Melalui kisah ringan dan peka, pembaca diundang untuk menemukan keajaiban kecil di kotanya sendiri. Sinopsis ini diharapkan memicu minat untuk menyusuri lembar demi lembar obrolan urban yang penuh kejutan. Buka buku ini dan biarkan Seno membawa Anda berkeliling dunia tanpa batas.


Buku ini dapat pembaca temukan pada koleksi deposit yang berada di lantai dua Perpustakaan Provinsi Sulawesi Selatan yang berada di Jalan Alauddin Kota Makassar. 


Informasi Buku

Judul Buku: Obrolan Urban Tiada Ojek di Paris 
Karya: Seno Gumira Ajidarma
Penerbit: Penerbit Mizan
Tahun: 2015


Buku Peyempuan 2 Karya @peyemp

Buku Peyempuan 2 Karya @peyemp


Oleh: Nabila Wulandani


Buku Peyempuan 2


Pendahuluan

Buku Peyempuan 2 karya @Peyemp yang terbit pada tahun 2014 oleh Transmedia Pustaka membawa pembaca ke dalam ruang narasi yang penuh warna emosi perempuan modern. Sejak halaman pertama pembaca disambut dengan suara hati tokoh utama yang jujur dan terbuka tentang kerentanan dan kekuatan diri. Gaya penulisan lugas namun puitis membuat setiap kalimat mudah dicerna namun menyimpan makna mendalam. Tema-tema seperti cinta luka dan kebebasan batin diangkat secara personal sehingga terjalin ikatan emosional yang kuat antara teks dan pembaca. Sinopsis ini akan memandu pembaca mengenal alur dan nuansa utama yang ditawarkan oleh kumpulan kisah ini.

Setiap cerita dalam buku ini berdiri sendiri sekaligus saling melengkapi dalam peta perjalanan jiwa perempuan. Pembaca akan menemui dialog yang terasa seperti bisikan teman dekat sekaligus luapan pikiran terdalam. Narasi berjalan tanpa polesan berlebihan namun tetap memikat melalui pilihan kata yang padat. Kejujuran penulis dalam menggambarkan luka dan harapan membuat bacaan terasa otentik. Sinopsis berikut akan menguraikan garis besar isi cerita dan rasa unik yang ditawarkan buku ini.


Isi

Pada cerita pertama pembaca diajak memahami kegelisahan tokoh utama yang baru saja keluar dari hubungan yang menyakitkan. Emosi duka dan rindu tergurat dalam setiap dialog singkat dan monolog batin. Lembaran berikutnya menampilkan kegembiraan sesaat saat menemukan cinta yang tulus dan kegamangan menghadapi harapan baru. Kerumitan perasaan ditangani dengan bahasa yang sederhana sehingga pembaca dapat merasakan denyut nadi karakter. Alur cerita bergulir cepat namun tidak memberi kesan terburu buru.

Di bagian tengah buku tema luka masa lalu dan upaya berdamai semakin menguat. Kisah tentang persahabatan perempuan muncul sebagai ruang penawar sekaligus cermin untuk melihat diri sendiri. Penulis menampilkan momen-momen kecil seperti tawa di kedai kopi atau tangis di bawah hujan yang menyimpan kekuatan penyembuhan. Interaksi tokoh terasa alamiah dan membumi sehingga pembaca seolah hadir di samping mereka. Transisi antara nuansa sendu dan cerah dikelola dengan rapi sehingga suasana hati pembaca berayun lembut.

Keistimewaan Peyempuan 2 terletak pada keberanian menyuarakan sisi rapuh perempuan tanpa menghilangkan kecemerlangan jiwa mereka. Setiap cerita ditutup dengan kalimat puitis yang memberi ruang refleksi panjang. Penulis menggunakan metafora sederhana seperti bunga layu dan jejak di pasir untuk menunjukkan proses pemulihan hati. Gaya singkat dan lugas membuat buku ini cocok dibaca ulang berkali kali. Kealamiahan dialog dan penggambaran suasana menjadikan setiap kisah terasa dekat dengan pengalaman banyak pembaca.


Penutup

Secara keseluruhan Peyempuan 2 menawarkan pengalaman membaca yang menyentuh sekaligus menguatkan. Buku ini cocok bagi siapa saja yang ingin menemani perjalan batin perempuan dengan segala kompleksitasnya. Melalui narasi yang padu dan koheren pembaca diajak merenung tentang cinta luka dan keberanian untuk terus melangkah. Sinopsis ini diharapkan menumbuhkan keingintahuan untuk menyelami setiap kisah yang tersaji. Buka halaman awal dan biarkan Peyempuan 2 menjadi teman setia dalam mengeksplorasi denyut emosi dan harapan.


Buku ini dapat pembaca temukan pada koleksi deposit yang berada di lantai dua Perpustakaan Provinsi Sulawesi Selatan yang berada di Jalan Alauddin Kota Makassar. 


Informasi Buku

Judul Buku: Peyempuan 2
Karya: @Peyemp
Penerbit: Transmedia Pustaka
Tahun: 2014



Naskah Sawarèh Barzanji


Barzanji merupakan naskah berbahasa Arab hasil sayembara yang diprakarsai oleh Sultan Salahuddin pada peringatan Maulid Nabi yang pertama kali tahun 1184 M (580 H.). Pemenang dari sayembara penulisan riwayat Nabi beserta puji-pujian bagi Nabi dengan bahasa yang indah itu adalah karya Syaikh Ja'far bin Husin bin Abdul Karim bin Muhammad Al Barzanji yang berjudul 'Iqd Al-Jawähir 'kalung permata' atau 'Iqd Al-Jawhar fi Mawlid al- Nabiyy al-Azhar. Belakangan, karya masyhur dikenal dengan nama Barzanji yang sebenarnya merupakan nama sebuah daerah di Kurdistan, Barzanj.

Naskah Sawarèh Barzanji merupakan transmisi dari naskah Barzanji yang disadur ke dalam bahasa Sunda murwakanti dengan menggunakan aksara Pègon oleh K. H. Ahmad Dimyati, pendiri Pesantren Sukamiskin Bandung, pada tahun 1920-an. Selanjutnya, teks dalam naskah ini ditulis oleh H. Ahmad Zarkasyi, penulis resmi Pesantren Sukamiskin. Sawarèh Barzanji, mengikuti asalnya selain berbentuk puisi dalam bahasa Sunda dengan menggunakan aturan puisi Arab, juga berbentuk puisi dalam bahasa Sunda yang berima. Naskah ini berisi tuturan riwayat hidup Nabi Muhammad saw. Naskah ini disebut sebagai sawarèh karena hanya sebagian kisah kehidupan Nabi Muhammad yang disadur.

Sawarèh Barzanji ini sangat tepat disebut sebagai karya sastra daripada karya sejarah karena lebih menonjolkan aspek keindahan bahasa. Gaya bahasa sadurannya terdiri atas dua bagian: prosa dan puisi. Selain murwakanti, puisi yang dituturkannya terikat dengan aturan metrum dan rima syair Arab.

Sawarèh Barzanji populer di wilayah Jawa Barat, terutama di daerah Ciwidey, Pangalengan, Banjaran, Soreang, Cililin, Sindangkerta, Gununghalu, dan sekitarnya. Kini, daerah-daerah tersebut termasuk ke dalam wilayah administratif Kabupaten Bandung dan Kabupaten Bandung Barat. Naskah itu disebarkan oleh para alumni Pesantren Sukamiskin. Banyak dari mereka kemudian memimpin/mendirikan pesantren di daerah asal mereka dan sekaligus menjadi orang berpengaruh dalam masyarakat. Mereka mengembangkan apa yang dipelajari di Pesantren Sukamiskin. Tak heran jika kemudian Naskah Sawarèh Barzanji --sebagai salah satu naskah yang dipelajari di Pesantren Sukamiskin dikenal oleh masyarakat sekitar para alumni itu tinggal.

Naskah Sawarèh Barzanji berfungsi sebagai bacaan wajib ketika perayaan Maulid Nabi, marhabaan (upacara syukuran atas kelahiran anak), pengajian sebelum perhelatan pernikahan, dan bacaan wajib pengantaran calon haji berangkat ke Mekah. Ketika bacaan itu berjenis prosa, semua hadirin membacanya sambil berdiri. Namun, ketika bacaan berjenis puisi, bacaan hanya dibaca oleh pimpinannya sambil duduk. Selanjutnya, bacaan diakhiri dengan shalawatan yang dibaca oleh semua hadirin sambil berdiri dan berkeliling memotong rambut sang bayi atau disalami oleh calon pengantin/calon haji.

Buku Naskah Sawarèh Barzanji merupakan hasil kajian terhadap Naskah-Naskah Sawareh Barzanji menyoroti kekayaan budaya dan tradisi lisan yang terkandung dalam teks-teks keagamaan lokal. Penelitian ini mencakup analisis terhadap bahasa dan bentuk sastra naskah, menunjukkan bahwa Sawareh Barzanji memiliki ciri khas linguistik dan estetika yang mencerminkan nilai-nilai keagamaan serta kearifan lokal. Fungsi sosial naskah juga diulas, memperlihatkan peran pentingnya dalam kehidupan masyarakat, khususnya dalam upacara keagamaan dan pendidikan spiritual.

Melalui pendekatan kritik teks, dilakukan penelusuran terhadap pertalian antarnaskah untuk menentukan versi teks yang paling otoritatif guna diedit dan dipublikasikan. Bagian akhir menyajikan edisi teks pilihan disertai terjemahan dan pengantar, yang tidak hanya memudahkan pemahaman isi tetapi juga membuka akses lebih luas terhadap warisan sastra Islam Nusantara tersebut.

Buku ini dapat di akses https://ipusnas2.perpusnas.go.id sebagai upaya menjaga warisan ilmu yang tak ternilai harganya dari para ulama. Selain itu, buku ini dihadirkan dengan tujuan membantu para pelajar dan santri dalam memahami pola syair Arab dalam bahasa Sunda. Melalui buku ini, diperkenalkan pula arti penting keberadaan ilmu al-'Arudl dalam khazanah keilmuan atau kesusastraan Arab di Indonesia.


Naskah Sawarèh Barzanji
Penulis : Titin Nurhayati Ma’mun
Penerbit : Perpusnas Press
Tahun Terbit : 2019
ISBN : 978-623-200-140-4

Buku Memompa Ban Kempis: Esai Kearifan Pemimpin Karya Sukardi Rinakit

Buku Memompa Ban Kempis: Esai Kearifan Pemimpin Karya Sukardi Rinakit


Oleh: Nabila Wulandani


Buku Memompa Ban Kempis: Esai Kearifan Pemimpin


Pendahuluan

Buku Memompa Ban Kempis karya Sukardi Rinakit menghadirkan kumpulan esai yang menelaah kepemimpinan Indonesia dengan pendekatan metaforis dan reflektif. Terbit pada 2013 oleh Penerbit Buku Kompas buku ini menggunakan gambaran ban kempis sebagai simbol kepemimpinan yang kehilangan daya dorong. Sejak paragraf awal pembaca disadarkan bahwa kepemimpinan bukan sekadar memimpin tetapi juga memelihara kepercayaan dan visi. Gaya penulisan penulis lugas namun hangat sehingga pembaca umum mudah memahami berbagai tema kompleks. Sinopsis ini akan menguraikan struktur isi esai ke dalam pendahuluan inti dan keunikan cara penulis menyampaikan gagasan.

Sukardi Rinakit membuka setiap esai dengan contoh konkret dari dinamika sosial politik yang sedang berlangsung di Indonesia. Pembaca diajak mengamati fenomena ban kempis di jalan raya sebagai metafora situasi politik yang stagnan. Melalui cerita singkat tentang perjalanan seorang pemimpin dan hambatan di jalan, penulis memancing rasa penasaran. Teknik ini membuat setiap pembaca merasakan langsung tekanan dan kebutuhan akan “memompa” semangat perubahan. Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa esai ini bukan sekadar teori tetapi panduan praktis.


Isi

Bagian pertama berfokus pada kearifan dasar kepemimpinan yaitu integritas dan keberanian moral. Penulis menegaskan bahwa ban kempis akan tetap kempis jika tidak ada pemimpin yang berani mengoreksi kesalahan sendiri. Contoh tokoh berani dalam sejarah Indonesia diangkat untuk mengilustrasikan pentingnya keteladanan. Uraian tentang bagaimana seorang pemimpin mendengarkan rakyat menjadi pijakan argumen. Esai ini mengajak pembaca membayangkan bagaimana integritas dapat “memompa” kepercayaan publik.

Pada bagian selanjutnya pembaca diajak mengeksplorasi dimensi empati dan kebijaksanaan dalam pengambilan keputusan. Sukardi Rinakit memaparkan kisah nyata kegagalan kebijakan yang terjadi karena pemimpin abai pada suara bawahannya. Narasi singkat namun padat makna ini menegaskan empati sebagai pompa yang menjaga ban tetap kencang. Penulis juga mengupas cara memadukan nilai tradisi lokal dengan tuntutan modernitas. Ulasan tersebut menunjukkan koherensi antara teori dan penerapan dalam konteks pelayanan publik.

Keunikan buku ini terletak pada kombinasi gaya penulisan metaforis dan contoh lapangan yang aktual. Penulis tidak menggunakan jargon akademik yang rumit sehingga pembaca dari berbagai latar mudah mengikuti. Setiap judul esai mengundang rasa penasaran dengan kata kunci sederhana namun menggugah. Struktur ringkas dan paragraf pendek memudahkan pembaca menangkap poin penting tanpa merasa terbebani. Gaya seperti percakapan santai namun sarat wawasan menjadi ciri khas yang membedakan karya ini.


Penutup

Memompa Ban Kempis menegaskan bahwa kualitas kepemimpinan akan menentukan laju kemajuan suatu bangsa. Melalui kumpulan esai ini pembaca diajak tidak hanya bersikap kritis tetapi juga aktif mencari solusi. Buku ini cocok dibaca oleh pemimpin formal maupun informal serta siapa saja yang peduli pada masa depan Indonesia. Sinopsis ini diharapkan memberikan gambaran jelas mengenai ragam gagasan dan kekuatan narasi Sukardi Rinakit. Saat karya ini dibuka pembaca akan menemukan inspirasi untuk terus “memompa” semangat kepemimpinan yang lebih baik.


Bagi pembaca yang ingin menjelajahi cerita dalam Memompa Ban Kempis: Esai Kearifan Pemimpin, buku ini dapat dijumpai di koleksi deposit lantai dua Perpustakaan Provinsi Sulawesi Selatan yang terletak di Jalan Alauddin, Kota Makassar. 


Informasi Buku

Judul Buku: Memompa ban kempis: esai kearifan pemimpin
Karya: Sukardi Rinakit
Penerbit: Penerbit Buku Kompas
Tahun: 2013

May 7, 2025

Lontara Attoriolong Bone Narasi Kearifan Lokal Sulawesi Selatan Dalam Kronik Bugis


Lontara Attoriolong Bone adalah karya monumental yang merekam sejarah panjang Kerajaan Bone, salah satu kerajaan besar di Sulawesi Selatan. Naskah ini berfungsi tidak hanya sebagai kronik sejarah kerajaan, tetapi juga sebagai dokumen yang mengungkapkan pandangan hidup, hukum adat, nilai-nilai moral, serta hubungan antara manusia dan alam yang dianut oleh masyarakat Bugis.

Sebagai bagian dari Ingatan Kolektif Nasional (IKON) 2024, dua kodeks Lontara Attoriolong Bone yang disimpan oleh Andi Muhammad Ali ini menjadi salah satu warisan budaya yang sangat penting bagi bangsa Indonesia, terutama dalam memahami budaya Bugis yang kaya akan tradisi dan kearifan lokal.

Buku Lontara Attoriolong Bone Narasi Kearifan Lokal Sulawesi Selatan Dalam Kronik Bugis dapat di akses https://ipusnas2.perpusnas.go.id. Buku ini menyajikan sebuah perjalanan mendalam melalui kisah kerajaan Bone, mulai dari asal-usul mitologisnya hingga peristiwa-peristiwa penting dalam sejarahnya, seperti kedatangan Tomanurung Matasilompo’e, konflik dengan kerajaan tetangga, hingga hubungan dengan bangsa Eropa pada abad ke-17.

Lontara Attoriolong Bone Ditulis dalam aksara Lontara dan diwariskan secara turun-temurun, naskah ini memuat narasi panjang mengenai asal-usul mitologis kerajaan Bone, mulai dari kisah Tomanurung Matasilompo’e, perjalanan para raja, hingga interaksi dengan bangsa Eropa. Namun lebih dari itu, ia mencerminkan norma dan tata nilai Bugis yang menyatu dalam kehidupan sosial—seperti konsep mappololeteng, sistem hukum adat yang mengatur hak milik dan diterapkan secara kolektif dalam masyarakat.

Lontara Attoriolong Bone adalah peta moral, hukum, dan spiritual. Dalam naskah ini tertuang ajaran keadilan, keberanian, dan penghormatan terhadap sesama serta alam semesta. Konsep harmoni manusia-alam menjadi pusat pandangan kosmis Bugis, yang hingga kini masih hidup dalam tradisi dan ritual adat mereka.

Di dalamnya pula dicatat konflik dan perang, strategi diplomasi, hukum pelayaran yang diletakkan oleh tokoh penting seperti Amanagappa, hingga sistem pemerintahan yang dipimpin oleh raja dan dewan bangsawan (ade’ pitue). Kesehatan, pengobatan tradisional, seni, kuliner, pertanian, hingga permainan rakyat seperti gasing dan layang-layang—semua terangkum dalam naskah ini, menandakan betapa holistiknya pandangan hidup masyarakat Bone.

Sosok raja Bone seperti La Tenri Tatta dan La Patau Matanna Tikka digambarkan bukan hanya sebagai pemimpin politik, tapi juga penjaga hukum dan budaya. Bahkan peran Arung Palakka dalam pewarisan tahta Bone pun tercatat sebagai bagian dari kearifan politik lokal yang berdampak luas bagi Bugis dan wilayah Indonesia Timur.

Lontara Attoriolong Bone bukan sekadar catatan masa lalu, melainkan refleksi identitas Bugis yang tak lekang oleh zaman. Di tengah arus globalisasi, kronik ini mengingatkan kita akan pentingnya menjaga warisan budaya sebagai sumber inspirasi untuk kehidupan masa kini dan masa depan.


Lontara Attoriolong Bone Narasi Kearifan Lokal Sulawesi Selatan Dalam Kronik Bugis
Penulis : Muhlis Hadrawi, Nazaruddin, Munasriana, Syamsul Arif, dan Andi Irfandi
Penerbit : Perpusnas PRESS
Tahun Terbit : 2024
ISBN: 978-623-117-309-6