Judul: Sandeq, Perahu Tercepat
Nusantara
Penulis: Muhammad Ridwan
Alimuddin
Editor: -
Penerbit: Ombak, Yogyakarta
Tahun
Terbit: 2013
Jumlah
Halaman: xviii + 428
ISBN: 9786022581116
Penulis
Resensi: Suharman, S.S., MIM.
Sandeq, menurut
Muhammad Ridwan Alimuddin adalah puncak kebudayaan Mandar dalam bidang
kebaharian. Sandeq adalah perahu layar bercadik tradisional yang khas dari
masyarakat Mandar di Provinsi Sulawesi Barat, Indonesia. Perahu ini digunakan
untuk melaut, menangkap ikan, dan berdagang, serta menjadi alat transportasi
antar pulau. Sandeq dikenal karena kecepatannya yang tinggi, bahkan dianggap
sebagai perahu layar tercepat di Nusantara.
Dibagi menjadi lima
bagian dengan bagian awal diulas tentang pengenalan Sandeq. Pada bagian ini Perahu
Sandeq dibahas secara lengkap dalam buku ini mulai dari sejarahnya, jenis
jenisnya dimana disebutkan bahwa ada dua jenis Sandeq yaitu Sandeq Tolor dan
Sandeq Bandeceng. Pada proses pembuatannya, diuraikan tentang jenis kayu yang digunakan
untuk pembuatan perahu Sandeq. Jenis kayu yang digunakan adalah kayu Tippulu
atau Kaccoda, kayu Palapi, kayu Sappuq, kayu Punaga
dan kayu Ranniq. Biasanya setelah berbagai jenis kayu terkumpul maka
akan diadakan upacara atau ritual dalam memulai pembuatan perahu Sandeq. Juga
disebutkan beberapa hal mistik dan pamali (hal hal terlarang dilakukan) saat pembuatan
Sandeq.
Selanjutnya
dikisahkan tentang Lomba Sandeq atau Sandeq Race. Pada Sandeq Race tahun 2007
dari Mamuju ke Makassar dengan melalui beberapa etape dengan jarak tempuh
kurang lebih 480 km.
Pada bagian lain, ada
pembahasan tentang Ekspedisi Sandeq. Pada bagian ini disebutkan bahwa banyak
kalangan yang tidak bisa membedakan antara perahu Sandeq dengan yang bukan Sandeq.
Ada juga yang mengherankan bagi penulis bahwa ada yang mau mempatenkan Sandeq dan
juga perahu Pinisi. Penulis juga mempertanyakan tentang gambar perahu pada
lambang atau Logo Provinsi Sulawesi Barat yang sebenarnya bukan Sandeq.
Ada peristiwa
membanggakan yang dikisahkan pada bagian akhir buku ini yaitu katika Mandar
menjadi tamu kehormatan pada Festival Perahu Layar Dunia di Prancis. Pada
festival tersebut, ada 3 Sandeq yang dikirim ke Prancis. Banyak hal dikisahkan
disini, mulai dari persiapan, pemilihan para kru Sandeq yang akan diikutkan
sampai pada pengalaman penulis dan pemilik dan kru Sandeq lainnya dalam pesawat
menuju Paris.
Bagian akhir ditutup
dengan judul Meratapi Sandeq Terakhir. Kenyataan bahwa perahu Sandeq sedang
menuju kepunahan sangat memprihatinkan. Ada banyak Sandeq yang dijual oleh
pemiliknya karena sudah tidak bisa lagi digunakan berlayar dan juga sudah
kekurangan awak perahu. Ada juga pemilik Sandeq yang menjual Sandeq-nya karena
tidak ada lagi yang dia bisa temani melaut, mencari ikan. Bahkan ada pemilik
Sandeq yang akhirnya menjadikan perahu Sandeq-nya sebagai tempat tidur di
rumahnya.
Buku ini sangat
lengkap mengupas segala hal terkait Sandeq, dan merupakan sebuah dokumentasi
budaya maritim yang mendalam, dengan menggunakan bahasa yang sederhana dan
mudah dipahami oleh pembaca, sehingga bisa dijadikan sebagai bahan rujukan buat
para peneliti atau mahasiswa yang berminat tentang sejarah Sandeq atau sejarah dan
budaya bahari suku Mandar. Namun demikian penggunakan istilah teknis
perkalapalan dan perperahuan mungkin agak menyulitkan pemahaman bagi pembaca
yang tidak familiar dengan perahu. Akses untuk memiliki buku ini juga terbatas
dan kemungkinan agak sulit ditemukan di semua toko buku.
Buku ini koleksi Deposit, Bidang Pembinaan Perpustakaan, Dinas Perpustakaan
dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan.



