Showing posts with label Suku Mandar. Show all posts
Showing posts with label Suku Mandar. Show all posts

May 22, 2025

Sandeq, Perahu Tercepat Nusantara

 


Judul:                              Sandeq, Perahu Tercepat Nusantara

Penulis:                           Muhammad Ridwan Alimuddin

Editor:                             -

Penerbit:                        Ombak, Yogyakarta

Tahun Terbit:                2013

Jumlah Halaman:       xviii + 428

ISBN:                              9786022581116

Penulis Resensi:          Suharman, S.S., MIM.

Sandeq, menurut Muhammad Ridwan Alimuddin adalah puncak kebudayaan Mandar dalam bidang kebaharian. Sandeq adalah perahu layar bercadik tradisional yang khas dari masyarakat Mandar di Provinsi Sulawesi Barat, Indonesia. Perahu ini digunakan untuk melaut, menangkap ikan, dan berdagang, serta menjadi alat transportasi antar pulau. Sandeq dikenal karena kecepatannya yang tinggi, bahkan dianggap sebagai perahu layar tercepat di Nusantara.

Dibagi menjadi lima bagian dengan bagian awal diulas tentang pengenalan Sandeq. Pada bagian ini Perahu Sandeq dibahas secara lengkap dalam buku ini mulai dari sejarahnya, jenis jenisnya dimana disebutkan bahwa ada dua jenis Sandeq yaitu Sandeq Tolor dan Sandeq Bandeceng. Pada proses pembuatannya,  diuraikan tentang jenis kayu yang digunakan untuk pembuatan perahu Sandeq. Jenis kayu yang digunakan adalah kayu Tippulu atau Kaccoda, kayu Palapi, kayu Sappuq, kayu Punaga dan kayu Ranniq. Biasanya setelah berbagai jenis kayu terkumpul maka akan diadakan upacara atau ritual dalam memulai pembuatan perahu Sandeq. Juga disebutkan beberapa hal mistik dan pamali (hal hal terlarang dilakukan) saat pembuatan Sandeq.  

Selanjutnya dikisahkan tentang Lomba Sandeq atau Sandeq Race. Pada Sandeq Race tahun 2007 dari Mamuju ke Makassar dengan melalui beberapa etape dengan jarak tempuh kurang lebih 480 km.  

Pada bagian lain, ada pembahasan tentang Ekspedisi Sandeq. Pada bagian ini disebutkan bahwa banyak kalangan yang tidak bisa membedakan antara perahu Sandeq dengan yang bukan Sandeq. Ada juga yang mengherankan bagi penulis bahwa ada yang mau mempatenkan Sandeq dan juga perahu Pinisi. Penulis juga mempertanyakan tentang gambar perahu pada lambang atau Logo Provinsi Sulawesi Barat yang sebenarnya bukan Sandeq.

Ada peristiwa membanggakan yang dikisahkan pada bagian akhir buku ini yaitu katika Mandar menjadi tamu kehormatan pada Festival Perahu Layar Dunia di Prancis. Pada festival tersebut, ada 3 Sandeq yang dikirim ke Prancis. Banyak hal dikisahkan disini, mulai dari persiapan, pemilihan para kru Sandeq yang akan diikutkan sampai pada pengalaman penulis dan pemilik dan kru Sandeq lainnya dalam pesawat menuju Paris.

Bagian akhir ditutup dengan judul Meratapi Sandeq Terakhir. Kenyataan bahwa perahu Sandeq sedang menuju kepunahan sangat memprihatinkan. Ada banyak Sandeq yang dijual oleh pemiliknya karena sudah tidak bisa lagi digunakan berlayar dan juga sudah kekurangan awak perahu. Ada juga pemilik Sandeq yang menjual Sandeq-nya karena tidak ada lagi yang dia bisa temani melaut, mencari ikan. Bahkan ada pemilik Sandeq yang akhirnya menjadikan perahu Sandeq-nya sebagai tempat tidur di rumahnya.

Buku ini sangat lengkap mengupas segala hal terkait Sandeq, dan merupakan sebuah dokumentasi budaya maritim yang mendalam, dengan menggunakan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami oleh pembaca, sehingga bisa dijadikan sebagai bahan rujukan buat para peneliti atau mahasiswa yang berminat tentang sejarah Sandeq atau sejarah dan budaya bahari suku Mandar. Namun demikian penggunakan istilah teknis perkalapalan dan perperahuan mungkin agak menyulitkan pemahaman bagi pembaca yang tidak familiar dengan perahu. Akses untuk memiliki buku ini juga terbatas dan kemungkinan agak sulit ditemukan di semua toko buku.

Buku ini koleksi Deposit, Bidang Pembinaan Perpustakaan, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan.





April 16, 2025

Manusia Mandar

Judul: Manusia Mandar 

Penulis: Sriesagimoon 

Editor: - 

Penerbit: Pustaka Refleksi 

Tahun Terbit: 2009 

Jumlah Halaman: ix + 104 

ISBN: 9789799673381 

Penulis Resensi: Suharman, S.S., MIM. 

Satu lagi buku yang membahas tentang Manusia dari suku atau etnis tertentu. Setelah beberapa waktu lalu kita bahas tentang Manusia Makassar, Manusia Bugis Makassar, dan kali ini adalah pembahasan tentang Manusia Mandar. Suku Mandar adalah salah satu suku bangsa Indonesia yang mendiami pulau Sulawesi bagian barat, tepatnya di kabupaten Polewali Mandar dan Majene. 

Berbagai aspek kehidupan manusia Mandar diuraikan dalam buku ini. Dimulai dengan pembahasan daerah asal suku Mandar yaitu Kabupaten Polewali Mandar dan Kabupaten Majene, kemudian sejarah Mandar dari zaman pra-To Manurung sampai zaman To Manurung. Aspek bahasa dan kesusastraan Mandar juga diulas dalam buku ini. Dijelaskan dalam buku ini bahwa ada 5 dialek bahasa Mandar yaitu : dialek Balanipa, dialek Sendana, dialek Banggae, dialek Pamboang, dialek Awok-Sumakuyu. Sementara dalam kesusastraan Mandar ada karya sastra yang disebut Lolitang, Tallo’ (kisah), Papasang (pesan leluhur) dan Sila Sila. 

Etnis Mandar termasuk banyak yang memiliki mata pencaharian sebagai petani, namun demikian sebagian lainnya ada yang bekerja sebagai nelayan, peternak, petani kebun, maupun dari pemburu dan pengrajin. Bentuk rumah tradisional Mandar mempunyai 3 tingkatan dengan fungsinya masing masing. Bagian atas yang disebut Atapan atau rakkeang, bagian kedua atau alawe boyang dan bagian ketiga atau bagian paling bawah yang disebut naung boyang yang merupakan tempat hewan peliharaan atau ternak, seperti kerbau, sapi, kambing, ayam maupun anjing. 

Sistem pemerintahan, jenis makanan dan minuman orang Mandar, pakaian adat dan perhiasan tradisional Mandar juga diuraikan dalam buku ini. Contoh pakaian adat Mandar misalnya baju Pokko, baju Boko, Lipa Sa’be (sarung sutra) dengan berbagai macam corak atau motif. Ada juga yang disebut lipa’ ratte yang biasa digunakan oleh pengantin perempuan maupun pengantin laki laki. Sistem kekerabatan dan sistem pernikahan dalam suku Mandar juga dibahas. Disebutkan bahwa untuk memilih jodoh bagi laki laki Mandar, akan melihat empat (4) unsur yaitu : Tomapia’ atau Tomalabbi, status ekonomi, faktor keturunan dan faktor hubungan darah. 

Selanjutnya dijelaskan tentang proses pelamaran sampai pada pelaksanaan upacara pernikahan. Sistem religi, pengetahuan, dan upacara upacara tradisional yang biasa dilaksanakan oleh suku Mandar dibahas pula secara ringkas. Upacara adat yang disebutkan misalnya upacara adat petani, upacara adat nelayan, upacara maccera arayang, upacara naik rumah baru, upacara meuri, upacara mappepiana, upacara mappandhai’ di toyang, upacara ma’akeka, upacara massunna dan upacara mapparewai tomate. 

Pada bagian akhir buku, dipromosikan pesona wisata Mandar, yaitu beberapa destinasi wisata yang ada di daerah suku Mandar. Ada wisata alam seperti Pulau Battoa Binuang, Pulau Gusung Toraja Binuang, bagan di pantai Polewali, sunset di pantai Bahari, Pantai Palippis Balanipa, pantai Antai Uwai, air terjun Indo Rannoang Anreapia, sungai Biru Binuang, puncak Mosso, dan masih banyak lagi yang lain. Termasuk juga disini, wisata situs arkeologi baik yang ada di Polewali Mandar maupun yang ada di Majene. 

Buku ini cukup lengkap membahas kehidupan manusia Mandar, dan dapat dijadikan bahan rujukan untuk para peneliti atau mahasiswa yang ingin mengkaji etnis Mandar. 

Namun, beberapa kekurangan buku ini, misalnya kurang illustrasi atau gambar yang menarik yang bisa melengkapi setiap topik pembahasan. Ada beberapa gambar dan foto namun, hitam putih dan agak buram. Ada juga beberapa topik pembahasan yang berulang, misalnya tentang makanan khas Mandar yang dibahas pada halaman 27, namun pada halaman 96 kembali dibahas. 

Buku ini koleksi Referensi, Layanan Umum, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Sulawesi Selatan.