Oleh : Suharman, S.S., MIM.
Pendahuluan
Literasi sangat penting untuk membangun
masyarakat yang cerdas, kritis, dan kompetitif di era globalisasi. Pustakawan
memegang peran yang sangat strategis sebagai pengelola perpustakaan dan menjadi
garda terdepan dalam membangun budaya literasi dalam konteks ini. Pustakawan
sekarang menjadi aktor perubahan sosial yang aktif mendorong kemajuan literasi
masyarakat dan tidak lagi terbatas pada mengelola koleksi buku. Konsep literasi
berkembang dan mencakup tidak hanya kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga
literasi informasi, digital, media, dan literasi budaya, menurut transformasi
ini.
Pustakawan membantu masyarakat mengakses,
memahami, dan memanfaatkan data dari berbagai sumber. Agar mampu membimbing masyarakat menjadi
pembelajar sepanjang hayat, pustakawan harus memiliki kemampuan yang tidak
hanya teknis tetapi juga pedagogis dan sosial untuk peran barunya. Pustakawan
memiliki kemampuan untuk menghidupkan semangat membaca dan menulis di
masyarakat yang dinamis dan majemuk melalui inovasi program literasi,
pendekatan komunitas, dan pemanfaatan teknologi.
Isi
Perpustakaan
memiliki banyak kegiatan literasi di mana pustakawan berperan sebagai penggeraknya.
Program, kelas menulis kreatif, pelatihan penggunaan informasi digital, dan
kegiatan bercerita untuk anak-anak semua bertujuan untuk menumbuhkan minat baca
dan kecintaan terhadap pengetahuan. Pustakawan sangat penting dalam
menyelenggarakan kegiatan tersebut dan membantu orang lain. Mereka membuat
kurikulum kegiatan, memilih bahan bacaan yang memenuhi kebutuhan audiens, dan
membuat lingkungan belajar yang menyenangkan dan inklusif.
Banyak pustakawan
yang secara proaktif bekerja sama dengan sekolah, komunitas literasi, dan
organisasi sosial di berbagai tempat untuk memperluas jangkauan kegiatan
literasi. Bahkan, pustakawan di perpustakaan desa dan Taman Baca Masyarakat (TBM)
seringkali berkunjung ke rumah warga atau membuka layanan keliling untuk
memastikan bahwa literasi dapat diakses oleh seluruh lapisan masyarakat.
Layanan literasi yang fleksibel dan berdampak luas didasarkan pada kreativitas
dan dedikasi pustakawan.
Lebih dari itu,
pustakawan juga bertugas sebagai pendidik informasi, atau Information
Educator, yang mengajarkan masyarakat bagaimana menggunakan informasi. Di
era kelimpahan informasi saat ini, menyaring informasi yang benar, akurat, dan
relevan sangat penting. Pustakawan mengajarkan cara mencari, menilai, dan
menggunakan data secara etis. Hal ini sangat penting untuk guru, siswa, dan
masyarakat umum yang sering menghadapi masalah dalam memilih informasi di media
sosial, internet, dan sumber digital lainnya. Literasi digital yang digunakan
oleh pustakawan membantu masyarakat menghindari hoaks, ujaran kebencian, dan
disinformasi. Selain itu,
pustakawan mendidik masyarakat tentang hak cipta, plagiarisme, dan penggunaan
sumber referensi yang tepat. Pustakawan secara tidak langsung membantu
menciptakan ekosistem informasi yang sehat dan masyarakat yang kritis dan
bertanggung jawab dalam mengonsumsi dan menyebarkan informasi melalui peran
mereka.
Dalam perspektif
pembangunan masyarakat, pustakawan juga berfungsi sebagai agen pemberdayaan
sosial melalui literasi fungsional. Kemampuan seseorang untuk menggunakan
keterampilan membaca, menulis, dan berhitung secara efektif dalam kehidupan
sehari-hari dikenal sebagai literasi fungsional. Pustakawan dapat mengembangkan
program pelatihan kewirausahaan, pengelolaan keuangan, keterampilan kerja,
hingga peningkatan kualitas hidup berbasis informasi. Misalnya, pustakawan
pedesaan dapat memberikan informasi tentang pertanian, peternakan, atau usaha
mikro kecil menengah (UMKM) yang terkait dengan kebutuhan masyarakat setempat.
Perpustakaan bukan
hanya tempat untuk membaca buku, tetapi juga sumber informasi yang membantu
kehidupan ekonomi dan sosial masyarakat. Pustakawan harus dapat
mengidentifikasi kebutuhan informasi lokal, mendorong pemangku kebijakan, dan
terlibat secara aktif dengan komunitas dalam pembuatan program yang kontekstual
dan berkelanjutan. Pustakawan
sangat bergantung pada kolaborasi lintas sektor, dukungan teknologi, dan
kemampuan komunikasi yang efektif untuk menjalankan peran pemberdayaan ini.
Penutup
Terakhir, untuk
menjadi pustakawan yang mampu memainkan peran strategis dalam meningkatkan
literasi masyarakat, diperlukan dukungan kebijakan yang berpihak kepada peningkatan keterampilan pustakawan secara
berkelanjutan, dan penguatan ekosistem perpustakaan yang partisipatif. Melalui
pelatihan, sertifikasi, dan insentif yang layak, pemerintah dan lembaga terkait
harus memprioritaskan pengembangan profesi pustakawan.
Selain itu,
institusi pendidikan tinggi yang menghasilkan calon pustakawan harus
menyesuaikan kurikulum mereka untuk menyesuaikannya dengan tantangan zaman.
Sebaliknya, pustakawan harus proaktif meningkatkan kemampuan mereka sendiri,
berhubungan dengan sesama pustakawan dan komunitas, dan tetap kreatif untuk
menyediakan layanan yang fleksibel. Untuk membentuk ekosistem literasi yang
saling menguatkan, masyarakat juga harus diajak menjadi mitra aktif
perpustakaan. Literasi dapat menjadi kekuatan kolektif yang membantu membangun
peradaban bangsa yang maju, berbudaya, dan berdaya saing tinggi jika
pustakawan, perpustakaan, masyarakat, dan pemangku kepentingan lainnya bekerja
sama dengan baik.






.jpeg)

.jpeg)

.jpeg)





