April 27, 2025

Peran Pustakawan dalam Peningkatan Literasi Masyarakat

 

Oleh : Suharman, S.S., MIM.


Pendahuluan

Literasi sangat penting untuk membangun masyarakat yang cerdas, kritis, dan kompetitif di era globalisasi. Pustakawan memegang peran yang sangat strategis sebagai pengelola perpustakaan dan menjadi garda terdepan dalam membangun budaya literasi dalam konteks ini. Pustakawan sekarang menjadi aktor perubahan sosial yang aktif mendorong kemajuan literasi masyarakat dan tidak lagi terbatas pada mengelola koleksi buku. Konsep literasi berkembang dan mencakup tidak hanya kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga literasi informasi, digital, media, dan literasi budaya, menurut transformasi ini.

Pustakawan membantu masyarakat mengakses, memahami, dan memanfaatkan data dari berbagai sumber. Agar mampu membimbing masyarakat menjadi pembelajar sepanjang hayat, pustakawan harus memiliki kemampuan yang tidak hanya teknis tetapi juga pedagogis dan sosial untuk peran barunya. Pustakawan memiliki kemampuan untuk menghidupkan semangat membaca dan menulis di masyarakat yang dinamis dan majemuk melalui inovasi program literasi, pendekatan komunitas, dan pemanfaatan teknologi.

Isi

Perpustakaan memiliki banyak kegiatan literasi di mana pustakawan berperan sebagai penggeraknya. Program, kelas menulis kreatif, pelatihan penggunaan informasi digital, dan kegiatan bercerita untuk anak-anak semua bertujuan untuk menumbuhkan minat baca dan kecintaan terhadap pengetahuan. Pustakawan sangat penting dalam menyelenggarakan kegiatan tersebut dan membantu orang lain. Mereka membuat kurikulum kegiatan, memilih bahan bacaan yang memenuhi kebutuhan audiens, dan membuat lingkungan belajar yang menyenangkan dan inklusif.

Banyak pustakawan yang secara proaktif bekerja sama dengan sekolah, komunitas literasi, dan organisasi sosial di berbagai tempat untuk memperluas jangkauan kegiatan literasi. Bahkan, pustakawan di perpustakaan desa dan Taman Baca Masyarakat (TBM) seringkali berkunjung ke rumah warga atau membuka layanan keliling untuk memastikan bahwa literasi dapat diakses oleh seluruh lapisan masyarakat. Layanan literasi yang fleksibel dan berdampak luas didasarkan pada kreativitas dan dedikasi pustakawan.

Lebih dari itu, pustakawan juga bertugas sebagai pendidik informasi, atau Information Educator, yang mengajarkan masyarakat bagaimana menggunakan informasi. Di era kelimpahan informasi saat ini, menyaring informasi yang benar, akurat, dan relevan sangat penting. Pustakawan mengajarkan cara mencari, menilai, dan menggunakan data secara etis. Hal ini sangat penting untuk guru, siswa, dan masyarakat umum yang sering menghadapi masalah dalam memilih informasi di media sosial, internet, dan sumber digital lainnya. Literasi digital yang digunakan oleh pustakawan membantu masyarakat menghindari hoaks, ujaran kebencian, dan disinformasi. Selain itu, pustakawan mendidik masyarakat tentang hak cipta, plagiarisme, dan penggunaan sumber referensi yang tepat. Pustakawan secara tidak langsung membantu menciptakan ekosistem informasi yang sehat dan masyarakat yang kritis dan bertanggung jawab dalam mengonsumsi dan menyebarkan informasi melalui peran mereka.

Dalam perspektif pembangunan masyarakat, pustakawan juga berfungsi sebagai agen pemberdayaan sosial melalui literasi fungsional. Kemampuan seseorang untuk menggunakan keterampilan membaca, menulis, dan berhitung secara efektif dalam kehidupan sehari-hari dikenal sebagai literasi fungsional. Pustakawan dapat mengembangkan program pelatihan kewirausahaan, pengelolaan keuangan, keterampilan kerja, hingga peningkatan kualitas hidup berbasis informasi. Misalnya, pustakawan pedesaan dapat memberikan informasi tentang pertanian, peternakan, atau usaha mikro kecil menengah (UMKM) yang terkait dengan kebutuhan masyarakat setempat.

Perpustakaan bukan hanya tempat untuk membaca buku, tetapi juga sumber informasi yang membantu kehidupan ekonomi dan sosial masyarakat. Pustakawan harus dapat mengidentifikasi kebutuhan informasi lokal, mendorong pemangku kebijakan, dan terlibat secara aktif dengan komunitas dalam pembuatan program yang kontekstual dan berkelanjutan. Pustakawan sangat bergantung pada kolaborasi lintas sektor, dukungan teknologi, dan kemampuan komunikasi yang efektif untuk menjalankan peran pemberdayaan ini.

Penutup

Terakhir, untuk menjadi pustakawan yang mampu memainkan peran strategis dalam meningkatkan literasi masyarakat, diperlukan dukungan kebijakan yang berpihak kepada  peningkatan keterampilan pustakawan secara berkelanjutan, dan penguatan ekosistem perpustakaan yang partisipatif. Melalui pelatihan, sertifikasi, dan insentif yang layak, pemerintah dan lembaga terkait harus memprioritaskan pengembangan profesi pustakawan.

Selain itu, institusi pendidikan tinggi yang menghasilkan calon pustakawan harus menyesuaikan kurikulum mereka untuk menyesuaikannya dengan tantangan zaman. Sebaliknya, pustakawan harus proaktif meningkatkan kemampuan mereka sendiri, berhubungan dengan sesama pustakawan dan komunitas, dan tetap kreatif untuk menyediakan layanan yang fleksibel. Untuk membentuk ekosistem literasi yang saling menguatkan, masyarakat juga harus diajak menjadi mitra aktif perpustakaan. Literasi dapat menjadi kekuatan kolektif yang membantu membangun peradaban bangsa yang maju, berbudaya, dan berdaya saing tinggi jika pustakawan, perpustakaan, masyarakat, dan pemangku kepentingan lainnya bekerja sama dengan baik.

 


Pengelolaan Buku Elektronik (E-book): Tantangan dan Strategi di Era Digital

 


Oleh: Suharman, S.S., MIM.

Pendahuluan

Buku elektronik atau e-book adalah versi digital dari buku cetak yang dapat diakses melalui perangkat elektronik seperti komputer, tablet, smartphone, atau e-reader. Popularitas buku elektronik meningkat pesat karena kemudahan distribusi, penyimpanan, dan akses kapan saja.

E-book menjadi alternatif utama untuk mempertahankan pembelajaran dan akses informasi di tengah pandemi global yang sempat melumpuhkan aktivitas fisik. Selain itu, e-book membuat penerbit, penulis, dan institusi pendidikan lebih fleksibel dalam menyebarluaskan konten secara luas. E-book adalah solusi modern yang relevan dengan kebutuhan masyarakat digital saat ini karena mereka memiliki kapasitas untuk menyimpan ratusan hingga ribuan judul buku pada satu perangkat tanpa memerlukan ruang penyimpanan fisik yang besar. Oleh karena itu, pengelolaan e-book sangat penting agar konten digital ini dapat dimanfaatkan secara optimal, terstruktur, dan berkelanjutan oleh berbagai kalangan.

Isi

Pengelolaan buku e-book mencakup berbagai langkah mulai dari akuisisi, penyimpanan, pengorganisasian, keamanan, dan akhirnya menyebarluaskan atau diakses oleh pengguna akhir. Lisensi penerbit, langganan database digital, atau pembuatan e-book internal melalui digitalisasi koleksi fisik adalah beberapa cara yang dapat digunakan untuk menyelesaikan proses akuisisi. Setelah buku elektronik diperoleh, langkah selanjutnya adalah menyimpannya dalam repositori digital yang terorganisir dan aman. Penyimpanan ini harus mempertimbangkan kapasitas server, format file (seperti PDF, EPUB, dan MOBI), dan kompatibilitas dengan perangkat pembaca.

Agar pengguna dapat dengan cepat menelusuri dan menemukan e-book melalui katalog digital, pengorganisasian metadata sangat penting. Informasi seperti pengarang, tahun terbit, subjek, ISBN, dan hak akses adalah komponen metadata yang baik. Untuk melindungi hak cipta dan mencegah penyalahgunaan, sistem manajemen hak digital (DRM) harus melindungi e-book. Terakhir, sistem manajemen perpustakaan digital, platform pembelajaran daring, dan aplikasi perpustakaan mobile yang mendukung akses jarak jauh adalah beberapa cara yang dapat digunakan untuk menyebarkan buku e-book.

Meskipun memiliki banyak manfaat, pengelolaan e-book menghadapi banyak masalah, baik teknis maupun non-teknis. Keterbatasan infrastruktur dan teknologi merupakan masalah utama. Ini terutama berlaku di wilayah yang tidak memiliki akses internet yang stabil atau perangkat digital yang memadai. Keanekaragaman format file, yang membutuhkan perangkat lunak khusus untuk membacanya, dan ketergantungan pada platform tertentu, yang dapat membatasi akses pengguna, merupakan masalah tambahan. Karena tidak semua penerbit mengizinkan distribusi terbuka atau penggunaan ulang konten digital, masalah hak cipta dan lisensi sering menjadi masalah. Selain itu, kurangnya pengetahuan digital di kalangan pengelola perpustakaan dan pengguna dapat menghambat penggunaan e-book.

Di sisi manajemen, mengelola e-book membutuhkan pustakawan atau pengelola konten yang mahir dalam teknologi informasi, metadata, dan sistem keamanan digital. Tanpa kebijakan yang jelas, anggaran yang memadai, dan pelatihan yang berkelanjutan, e-book berisiko tidak digunakan dengan baik atau bahkan terlantar di sistem penyimpanan digital yang tidak dapat diakses.

Strategi pengelolaan e-book yang terencana, partisipatif, dan berorientasi pada pengguna diperlukan untuk mengatasi berbagai masalah tersebut. Pertama, lembaga harus menganalisis kebutuhan informasi pengguna dan preferensi format digital mereka untuk menentukan jenis e-book yang paling sesuai. Kedua, hal yang paling penting adalah mengeluarkan uang untuk infrastruktur teknologi informasi seperti server yang andal, sistem repositori yang aman, dan jaringan internet yang stabil. Ketiga, untuk membantu semua orang beradaptasi dengan teknologi digital, sangat penting untuk mengembangkan sumber daya manusia melalui pelatihan literasi digital bagi pengguna umum, guru, dan pustakawan.

Pengembangan kebijakan manajemen konten digital adalah langkah selanjutnya. Kebijakan ini akan menangani kurasi, pemeliharaan, hak akses, dan perlindungan hak cipta. Keberhasilan juga bergantung pada keterlibatan komunitas pengguna, seperti melalui komentar, forum online, atau kolaborasi untuk membuat konten. Terakhir, kolaborasi antara lembaga pendidikan, perpustakaan, penerbit, dan pemerintah dapat dilakukan untuk memperkuat sistem pengelolaan e-book di seluruh negeri. Ini akan membuat akses terhadap pendidikan digital lebih merata dan inklusif.

Penutup

Perkembangan teknologi informasi dan transformasi gaya hidup masyarakat digital sangat terkait dengan masa depan e-book. Dengan meningkatnya penggunaan perangkat mobile dan kecerdasan buatan, pengelolaan e-book akan semakin terintegrasi dengan sistem pembelajaran adaptif, platform literasi berbasis AI, dan katalog pintar yang dapat menyarankan konten sesuai minat dan kebutuhan pembaca. Bahkan, e-book sekarang dibuat dalam bentuk interaktif dan multimedia yang menggabungkan teks, audio, video, dan elemen visual lainnya. Ini membuat pengalaman membaca yang lebih menarik dan kontekstual, terutama bagi generasi muda yang berkembang dalam lingkungan digital.

Pustakawan dan pengelola konten digital akan semakin penting sebagai kurator informasi dan fasilitator pembelajaran di tengah transformasi ini. Untuk mencapai hal ini, perpustakaan dan institusi pendidikan harus mengambil pendekatan transformasional, tetap terbuka terhadap inovasi, dan menciptakan budaya literasi digital yang kuat dan berkelanjutan. E-book bukan hanya digitalisasi buku, tetapi masa depan literasi global; mereka dapat menjadi tulang punggung pengetahuan di era revolusi industri 4.0 dan masyarakat 5.0 jika dikelola dengan benar.



April 25, 2025

"ETNOBOTANI, JAMPI DAN AZIMAT BUGIS

Naskah kuno Lontarak Pabbura adalah permata intelektual dari masyarakat Bugis yang menyimpan pengetahuan lokal tentang dunia kesehatan dan pengobatan tradisional. Di tengah gempuran pengobatan modern, keberadaan naskah ini menjadi pengingat akan pentingnya kearifan lokal yang telah diwariskan secara turun-temurun. 

Naskah kuno ini ditulis dalam aksara dan bahasa Bugis ini memuat ratusan ramuan serta metode penyembuhan berbagai penyakit, sebagian besar bersumber dari alam sekitar. Hingga kini, naskah tersebut masih eksis dan tersimpan secara utuh di Perpustakaan Nasional RI, dengan kode koleksi VT.81-14.

Buku "ETNOBOTANI,  JAMPI DAN AZIMAT BUGIS (LONTARAK  PABBURA  PERPUSNAS  VT.81.14) diambil di aplikasi iPusnas https://ipusnas2.perpusnas.go.id  merupakan catatan medis tradisional. Lontarak Pabbura memuat tak kurang dari 75 jenis penyakit yang diidentifikasi melalui proses alih aksara. Penyakit-penyakit tersebut antara lain demam, batuk, sakit mata, gangguan pencernaan, hingga ejakulasi dini dan kemandulan. Tak hanya itu, naskah ini juga memuat pengobatan untuk kondisi-kondisi khusus seperti gangguan akibat santet dan wabah flu Spanyol.

Yang menarik, ramuan-ramuan yang tercantum dalam naskah ini umumnya berbasis tanaman obat. Setidaknya tercatat 125 spesies tanaman yang telah diidentifikasi, lengkap dengan nama ilmiahnya dalam glosarium. Beberapa tanaman, seperti kayu kudo, disebut-sebut manjur untuk mengobati luka luar, penyakit mata, hingga gigi, meski belum banyak diteliti secara medis modern.

“Ini adalah potensi ilmu pengetahuan yang luar biasa dari masa lampau, yang layak untuk direproduksi dan dikaji secara ilmiah,” ujar seorang peneliti filologi di Makassar yang enggan disebutkan namanya. Ia menambahkan, pengobatan tradisional seperti yang tertuang dalam Lontarak Pabbura merupakan bagian dari budaya yang diwariskan secara turun-temurun, baik secara lisan maupun tulisan.

Menariknya, naskah Pabbura tak hanya mencerminkan tradisi Bugis semata, tetapi juga menunjukkan akulturasi budaya Islam. Sejumlah resep pengobatan dalam naskah ini mencantumkan pendekatan at-tibb an-nabawiy atau “pengobatan Nabi”, yang ditulis dalam huruf Arab. Ini menandakan adanya kontribusi pengetahuan medis Islam terhadap praktik kesehatan masyarakat Bugis pada masa lalu.

Dalam sejarahnya, praktik pengobatan berbasis Lontarak ini umumnya dilakukan oleh para sanro atau tabib tradisional. Namun, seiring berkembangnya layanan kesehatan modern, peran sanro mulai terpinggirkan. Meski demikian, jejak keberadaan dan praktik pengobatan mereka masih bisa ditemukan di sejumlah komunitas.

Meski banyak ramuan dalam naskah Pabbura telah terbukti secara empiris di masyarakat, sebagian lainnya belum mendapatkan perhatian dari dunia medis modern. Penelitian farmasi dan medis terhadap resep-resep tradisional ini menjadi langkah penting agar kekayaan lokal ini bisa dimanfaatkan secara lebih luas dan bertanggung jawab secara ilmiah.

Naskah Lontarak Pabbura bukan sekadar arsip tua. Ia adalah jembatan antara masa lalu dan masa depan, antara kearifan lokal dan ilmu pengetahuan modern. Dalam lanskap kesehatan nasional yang mulai memberi ruang pada pengobatan herbal dan tradisional, nilai-nilai yang dikandung dalam naskah ini sepatutnya mendapat tempat yang layak dalam wacana akademik dan kebijakan publik. (***)


"ETNOBOTANI,  JAMPI  DAN AZIMAT BUGIS 
(LONTARAK  PABBURA  PERPUSNAS  VT.81.14) "
Penulis : Hari Bahru
Penerbit : Perpusnas PRESS
Tahun Terbit : 2024
Halaman : 26
ISBN: 978-623- 117 -156-6(PDF)


April 24, 2025

Benteng Somba Opu Sulawesi Selatan


Judul: Benteng Somba Opu Sulawesi Selatan

Penulis: H. Sitti Aminah Pabittei, Muh. Masrury, ST. Arifah, Abbas

Penerbit: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan

Tempat Terbit: Ujung Pandang

Tahun Terbit: 1995


Buku Benteng Somba Opu Sulawesi Selatan merupakan karya yang menggali secara mendalam tentang sejarah, fungsi strategis, dan nilai budaya dari Benteng Somba Opu yang terletak di Desa Sapiria, Kabupaten Gowa. Benteng ini dulunya merupakan pusat kekuasaan Kerajaan Gowa Makassar sekaligus pelabuhan internasional yang penting pada masa kejayaannya.

Buku ini menyajikan latar belakang pendirian Benteng Somba Opu, yang tidak dibangun oleh rakyat biasa, melainkan atas prakarsa langsung dari raja, sebagaimana disebutkan dalam Sejarah Kerajaan Tallo oleh Abd. Rahim dan Drs. Ridwan Borahima. Pembangunan dinding batu yang kokoh mengelilingi kawasan strategis seperti Ujung Pandang dan Ujung Tanah menunjukkan betapa seriusnya kerajaan dalam mempertahankan wilayahnya dari ancaman musuh, terutama serangan dari laut.

Penulis juga memaparkan secara rinci peranan benteng ini dalam konteks sejarah perjuangan melawan penjajah serta fungsi-fungsinya sebagai perlindungan, pusat istana, hingga simbol kekuatan maritim. Selain itu, buku ini juga memberi perspektif tentang pentingnya pelestarian Benteng Somba Opu di masa kini dan masa yang akan datang sebagai warisan budaya yang harus dihargai dan dilestarikan.

Kekuatan utama buku ini terletak pada kemampuannya menghadirkan narasi sejarah lokal yang padat makna dan kaya akan nilai budaya. Penulis berhasil menggambarkan bagaimana benteng ini tidak hanya menjadi simbol kekuatan pertahanan militer, tetapi juga menjadi pusat pemerintahan, tempat peristirahatan raja, dan sekaligus representasi kejayaan maritim Kerajaan Gowa. Selain itu, buku ini juga membuka wawasan pembaca terhadap pentingnya pelestarian situs sejarah sebagai bagian dari upaya menjaga identitas dan warisan budaya bangsa.

Namun demikian, terdapat beberapa kelemahan yang patut dicatat. Karena buku ini diterbitkan pada tahun 1995, beberapa informasi di dalamnya mungkin sudah tidak lagi relevan dengan konteks saat ini atau memerlukan pembaruan berdasarkan penelitian-penelitian terbaru. Dari sisi tampilan, buku ini cenderung bersifat deskriptif dengan sedikit ilustrasi visual, yang mungkin membuatnya terasa kurang menarik bagi pembaca yang terbiasa dengan buku sejarah bergambar atau yang lebih interaktif.

Secara keseluruhan, Benteng Somba Opu Sulawesi Selatan adalah sebuah karya yang layak diapresiasi dan dijadikan referensi dalam menggali sejarah dan budaya lokal. Ia tidak hanya menyampaikan fakta-fakta sejarah, tetapi juga menanamkan kesadaran akan pentingnya melestarikan peninggalan masa lalu sebagai bagian dari jati diri bangsa. Buku ini sangat cocok dibaca oleh pelajar, peneliti, hingga masyarakat umum yang ingin lebih memahami kekayaan sejarah Nusantara, khususnya wilayah Sulawesi Selatan.

Buku ini koleksi Layanan Perpustakaan Abdurrasyid Daeng Lurang,  UPT Layanan Perpustakaan, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Sulawesi Selatan.

April 23, 2025

Naharuddin Tinulu, Berpijak Kearifan Budaya

 



Judul:                           Naharuddin Tinulu, Berpijak Kearifan Lokal

Penulis:                        -

Editor:                         Moh. Yahya Mustafa, A. Wanua Tangke, Anwar Nasyaruddin, H. M. Baru

Penerbit:                     Pustaka Refleksi

Tahun Terbit:               2004

Jumlah Halaman:        ix + 117

ISBN:                            9793570016

Penulis Resensi:          Suharman, S.S., MIM.

Buku ini disebut sebagai semi-biografi, artinya tidak secara penuh mengisahkan kisah hidup tokohnya, hanya sebagian saja. Naharuddin Tinulu adalah mantan Bupati Wajo yang menjabat dari tahun 1999 – 2004. Meskipun menjabat hanya satu periode namun cukup untuk menuliskan kegiatan beliau selama menjadi pucuk pimpinan di kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan.

Naharuddin Tinulu selama menakhodai Wajo, selalu menjadikan filosofi budaya Bugis sebagai pedoman dalam membangun daerah Wajo. Filosofi Bugis yang dimaksud disini adalah 3 S yaitu Sipakatau, Sipakalebbi dan Sipakainge. Beliau dikenal sebagai pemimpin yang rendah hati dan selalu siap sedia melayani rakyat yang dipimpinnya.

Buku ini merekam apa yang telah dilakukan oleh Naharuddin Tinulu selama 5 tahun memimpin Kabupaten Wajo. Beliau menjalankan program pembangunan di Wajo dengan berdasar pada prinsip prinsip kearifan lokal. Hasilnya, selama kepemimpinannya, tidak ada riak riak yang muncul untuk menghalangi atau memrotes kegiatan pembangunan yang telah diprogramkannya. Beliau berhasil memimpin Wajo selama 5 tahun dalam ketenangan dan kedamaian.

Ada 29 artikel dokumentasi kegiatan yang dikumpulkan dalam buku ini. Diawali dengan catatan Editor dengan judul, “Segalanya Kearifan Lokal”. Selanjutnya judul artikel yang ada sebagai berikut: Prinsip “3S” Versi Naharuddin Tinulu, Menyikapi reformasi dengan rendah hati, SDM sebagai pilar utama, Peduli pendidikan peduli masa depan, Sutera alam andalan industri, Pegawai Harian tapi hidup layak, Obyek wisata sebagai andalan, Tanam bakau sepanjang pantai, Mobilisasi dana ummat di Baitul Mal, Sukses Pemilu 1999, Kenaikan PAD capai 280,86%, Membangun terminal Callaccu, Globalisasi Wajo lewat E-Government, Dari pemasok beras ke energi listrik, Kembangkan Pasar Rakyat, RPC penuhi tuntutan petani, Rampingkan kelembagaan daerah, Menata Kota Sengkang, Pelabuhan Siwa membuka Pintu Wajo, Irigasi membantu sektor pertanian, Kenaikan APBD signifikan, Pertumbuhan ekonomi 4,63%, Program sejuta ikan danau Tempe, Hilangkan tender penunjukan, Kembangkan seni budaya, Manfaatkan bantaran sungai, Mengukir prestasi daerah, Etika pemerintahan dan kemasyarakatan, dan Biodata Naharuddin Tinulu.

Dari keseluruhan judul artikel tersebut diatas dapat disimpulkan bahwa selama masa kepemimpinan Naharuddin Tinulu, berbagai program pembangunan dijalankan dengan baik. Tercatat dalam salah satu artikel diatas bahwa selama kepemimpinan beliau, kenaikan PAD kabupaten Wajo naik sebesar 280, 87 %. PAD Wajo tahun 1999/2000 sebesar 4,34 Milyar lebih dan pada tahun 2003 naik menjadi 12,19 Milyar lebih. Suatu kenaikan PAD yang luar biasa.

Secara umum, buku ini cukup lengkap memberi informasi tentang masa kepemimpinan Naharuddin Tinulu di kabupaten Wajo dari tahun 1999 – 2004. Berbagai keberhasilan program pembangunan yang telah dijalankan, dapat dilihat dalam buku ini. Namun demikian, sebagaimana kata pepatah, tak ada mawar yang tak berduri, tiada gading yang tak retak, tentu saja setiap pemimpin tak ada sempurna, selalu saja ada kekurangan. Buku ini juga adalah buku terbitan lokal yang susah diakses dan dimiliki oleh pemustaka atau masyarakat umum. Terbit tahun 2004, kemungkinan belum pernah diterbitkan atau dicetak ulang. Kondisi bukunya juga sudah mulai rusak dan beberapa halaman buku lepas dari jilidannya.

Buku ini koleksi Layanan Umum Perpustakaan,  UPT Layanan Perpustakaan, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Sulawesi Selatan.



Tarekat Imam Lapeo

 



Judul:                           Tarekat Imam Lapeo

Penulis:                        Muh. Yusuf Naim & Mohammad Natsir

Editor:                           -

Penerbit:                     Pustaka Refleksi

Tahun Terbit:             2005

Jumlah Halaman:   ix + 94

ISBN:                           9793570105

Penulis Resensi:       Suharman, S.S., MIM.

AGH Muhammad Thahir atau lebih dikenal dengan nama “Imam Lapeo” adalah seorang ulama besar yang kharismatik   dari tanah Mandar. Buku ini membahas perjalanan hidup Imam Lapeo serta tarekat tarekat yang diajarkannya yang sampai sekarang masih banyak dianut oleh masyarakat Mandar.

Imam Lapeo adalah seorang Ulama, Sufi dan tokoh yang tidak hanya penuh kharisma tapi juga pemberani, cerdas dan selalu mengedepankan nilai nilai kemanusiaan. Bahkan beliau juga dipercaya memiliki kemampuan supranatural, misalnya mampu menaklukkan pemilik ilmu hitam, dan mampu menghilang dari pandangan. Ada juga masyarakat yang menyebut Imam Lapeo sebagai Wali atau Waliullah, yang hidup pada abad ke-19, masa dimana bangsa Indonesia, termasuk Sulawesi dan tanah Mandar masih dalam penjajahan bangsa Belanda.

Imam Lapeo lahir tahun 1838 di Pamboang, wilayah kecamatan Tinambung sekitar 40 km dari ibukota kabupaten Polewali Mandar. Beliau lahir dari keluarga baik baik dan taat beragama. Masa kecilnya dilewatkan di tanah Mandar belajar agama dan membantu orang tuanya mencari ikan di laut. Pada masa remajanya (15 tahun) telah ikut pamannya ke tanah Minang (Sumatera Barat) untuk berdagang kain Sutra. Namun ternyata beliau tinggal disana sampai beberapa tahun, menuntut ilmu agama. Imam Lapeo juga sempat menimba ilmu agama di tanah suci Makkah dan Istambul, Turki.

Metode dakwah yang dilakukan oleh Imam Lapeo pada masa awalnya adalah dengan dakwah dari rumah ke rumah kepada perseorangan, dari masjid ke masjid dan juga pada upacara upacara adat. Pada masa itu masyarakat masih banyak yang mencampur-adukkan agama dengan tradisi lokal. Pada kesempatan itulah Imam Lapeo menekankan akan ke-Esa-an Allah, dan meyakinkan masyarakat bahwa banyak ritual adat yang dibuat oleh orang orang dulu.

Terkait dengan namanya, Lapeo adalah salah satu nama kampung di tanah Mandar dimana beliau bersama rakyat setempat membangun masjid dan beliaulah yang menjadi Imam masjid tersebut sehingga masyarakat lebih mengenal beliau sebagai Imam Lapeo.

Dikisahkan pula bagaimana peran Imam Lapeo dalam perjuangan kemerdekaan, sejak masa kolonial Belanda dan pendudukan Jepang.

Tarekat atau ajaran Imam Lapeo melalui jalur Tasawuf atau Sufisme dimana beliau menekankan pada penanaman keyakinan kepada murid dan pengikutnya. Tarekat Imam Lapeo disebut oleh beliau “Nur Muhammad”  yang bertumpu pada pengagungan kebesaran Nabiullah Muhammad SAW. Tarekat Nur Muhammad ini kemudian diaktualisasikan dalam bentuk tiga tingkatan pokok ajaran yaitu Takhalli, Tahalli dan Tajalli. Takhalli adalah mengosongkan jiwa dengan cara membersihkan diri dari sifat sifat angkuh, sombong, tamak, merasa lebih dari orang lain, merasa lebih mampu, merasa lebih pintar. Tahalli adalah sifat sesorang yang telah mampu menghilangkan prasangka buruk orang lain, seperti iri, dengki, tamak, yang dapat menghalangi untuk berbuat benar. Tajalli adalah tahapan atau tingkatan tertinggi karena para tingkatan ini manusia sudah mampu melepas seluruh penghalang dalam melakukan hubungannya sebagai hamba kepada penciptanya. Tingkat tertinggi ini hanya dimiliki oleh orang yang sudah masuk kategori “waliullah” atau Wali Allah.

Buku ini sangat informatif tentang kehidupan dan ajaran Imam Lapeo, meskipun ringkas namun informasinya cukup lengkap. Hanya saja, buku ini agak susah diakses dan dimiliki oleh masyarakat umum, karena diterbitkan oleh penerbit lokal 20 tahun lalu dan mungkin sekarang ini tidak ditemukan lagi di toko buku lokal.

Buku ini koleksi Layanan Umum Perpustakaan, UPT Layanan Perpustakaan, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Sulawesi Selatan.



April 22, 2025

Sejarah SOPPENG, dari Tomanurung hingga Masa Penjajahan Belanda

 



Judul:                           Soppeng, Dari Tomanurung Hingga Penjajahan Belanda

Penulis:                        Syahrir Kila, Sahajuddin & Muhammad Amir

Editor:                         Andi Wanua Tangke

Penerbit:                     Pustaka Refleksi

Tahun Terbit:               2018

Jumlah Halaman:        xii + 238

ISBN:                            9786025887048

Penulis Resensi:          Suharman, S.S., MIM.

Topik utama pembahasan buku ini adalah sejarah Soppeng mulai masa Tomanurung, masa kerajaan, dan masa pasca kemerdekaan. Soppeng adalah salah satu kabupaten yang ada di Provinsi Sulawesi Selatan, dengan ibukotanya Watang Soppeng. Kabupaten Soppeng termasuk salah satu kabupaten di Sulawesi Selatan yang kaya akan artefak dan fosil peninggalan masa pra-sejarah.

Buku ini terbagi menjadi 3 bagian, yang masing masing bagian ditulis oleh orang yang berbeda. Penulisnya masing masing adalah : Syahrir Kila, Sahajuddin dan Muhammad Amir. Diawali dengan Pengantar dari Penerbit, dan Pengantar dari Editor. Kemudian bagian pertama di tulis oleh Syahrir Kila yang mengupas tentang berdirinya Kerajaan Soppeng hingga masuknya Agama Islam ke daerah tersebut.

Penulis pertama menguraikan berbagai fragmen sejarah Soppeng, mulai dari berdirinya Kerajaan Soppeng, masa Tomanurung, terbentuknya Kerajaan Soppeng, asal usul penamaan wilayah, terbentuknya Persekutuan Tellumpoccoe, sampai pada masuknya Agama Islam di Kerajaan Soppeng. Diuraikan oleh penulis bahwa sejak ratusan tahun silam, Soppeng telah dihuni oleh manusia purba, dengan bukti ditemukannya berbagai alat alat batu yang sederhana. Tentang Tomanurung, yang dalam hal ini dimaksudkan sebagai seorang dewa yang turun kebumi, yang kemudian menjadi raja pertama. Disebutkan bahwa ada dua Tomanurung di Soppeng yaitu, Tomanrurung Goarie dan Tomanurung di Sekkanyili.

Pergolakan dan perkembangan Kerajaan Soppeng pada masa pra- dan pasca perang Makassar adalah topik pembahasan kedua. Bagian ini ditulis oleh Sahajuddin. Pada bagian ini diuraikan secara ringkas tentang pergolakan sebelum Perang Makassar, keadaan Soppeng pada masa Perang Makassar, strategi Soppeng pada masa perang Makassar dan Soppeng pada masa VOC hingga Hindia Belanda. Perang Makassar yang dimaksud pada bagian ini adalah Perang yang terjadi antara 1666 – 1669. Disebutkan bahwa pasca Perang Makassar, Kerajaan Bone mengambil alih Supremasi Kerajaan Gowa Tallo dan mengubah tatanan sosial dan politik di daerah Soppeng.

Terakhir dibahas Soppeng dibawah kekuasaan Pemerintah Hindia Belanda 1905-1942. Pada bagian ini, kembali diulas tentang Kerajaan Soppeng secara ringkas, Soppeng dalam mata rantai ekspedisi militer Belanda, penataan Wilayah Kekuasaan Belanda dan pelaksanaan pemerintahan. Pada bagian terakhir ini, dibahas tentang bagaimana pemerintah kolonial Belanda berusaha memperluas wilayah kekuasaannya di Sulawesi Selatan, termasuk menguasai kerajaan Gowa, Bone, dan Soppeng.

Masing masing bagian buku ini ada daftar isi, sehingga pembaca dapat menambah daftar referensi yang digunakan penulis. Pembaca juga dapat membaca bagian mana saja yang dianggap perlu, karena ketiga bagian dalam buku masing masing membahas topik yang berbeda meskipun semua berkaitan dengan daerah Soppeng.

Buku ini cukup lengkap membahas tentang sejarah Soppeng, karena membahas Soppeng sejak masa Tomanurung, sampai masa kolonialisme Belanda. Pembaca yang ingin mengetahui lebih dalam tentang Soppeng dapat direkomendasikan buku ini.

Buku ini akan lebih baik jika dilengkapi dengan illustrasi menarik, baik berupa gambar, foto, maupun sketsa. Akan lebih baik lagi jika dilengkapi dengan indeks, sehinggap pembaca dapat dengan mudah menemukan topik apa yang dibutuhkannya dalam buku ini.

Secara umum, buku ini perlu dibaca khususnya warga kabupaten Soppeng, maupun warga lain secara umum. 




April 20, 2025

H. Andi Mattalatta, Atlet Serba Bisa dan Pejuang Sejati

 



Judul:                         Mayjen TNI (Purn) H. Andi Mattalatta, Dari Atlet Serba Bisa Hingga Pejuang Sejati.

Penulis:                      Mirdan Midding To’ Supu

Editor:                       M.Nursam & Dr. Abraham Rasak, M.S.

Penerbit:                    Bio Pustaka Jogjakarta

Tahun Terbit:              2005

Jumlah Halaman:        xxxi + 210

ISBN:                        9799796336

Penulis Resensi:          Suharman, S.S., MIM.

Buku biografi H. Andi Mattalatta ini merupakan adaptasi dari thesis penulis saat menempuh pendidikan Strata 2 (S2) Magister Pendidikan pada Universitas Negeri Makassar. Penulis memilih topik pembahasan kehidupan Mayjen TNI (Purn) H. Andi Mattalatta karena latar belakang beliau sebagai seorang Atlet serba bisa, Pelatih Olahraga dan Pejuang kemerdekaan Indonesia dari Sulawesi Selatan.

Andi Mattalatta lahir pada 1 September 1920 di kampung JampuE, Kabupaten Barru, sekitar 100 km sebelah timur Makassar. Mulai tahun 1930an ketika berumur belasan tahun, Andi Mattalatta sudah banyak menjuarai perlombaan olahraga di Makassar. Selain juara pada cabang olahraga Atletik, beliau juga juara renang, loncat indah, sepatu roda, senam, tinju, karate, bina raga dan lain lain.

Karena buku ini adalah adaptasi thesis Magister Pendidikan, maka bagian awal banyak membahas teori, metode, pendekatan dan sumber sumber penulisan. Misalnya, bagaimana seorang Andi Mattalatta bisa menjadi juara diberbagai cabang olahraga, diuraikan berbagai teori dan metodenya, bagaimana lingkungan tempat tinggalnya, keluarganya, orang orang dekatnya dan lain lain.

Pada bagian lain diuraikan tentang pengertian dan analisis  tentang atlet tangguh, pengertian dan analisis tentang pelatih handal, pembina olahraga dan pelopor olahraga nasional.

Pada bagian ketiga baru dibahas tentang kehidupan pribadi Andi Mattalatta, mulai sejak lahir, masa kecilnya yang penuh keprihatinan, saat merantau ke Makassar dan tinggal di keluarga Belanda yaitu Mevrouw Roukenz yang juga keluarga pencinta olahraga. Selanjutnya kehidupan Andi Mattalatta di Pulau Jawa, yaitu ke Surabaya dan kemudian ke Yogyakarta. Dibahas pula pada bagian ini, kehidupan militer Andi Mattalatta, termasuk saat berinteraksi dengan Letkol TNI Inf. Qahhar Mudzakkar. Usaha dan perjuangan Andi Mattalatta pula sehingga penyelenggaraan Pekan Olah raga Nasional IV dilaksanakan di Makassar pada tahun 1957.

Andi Mattalatta disebut sebagai Aktor Olahraga, karena ketangguhannya pada beberapa cabang olah raga. Penulis kembali membahas disini faktor penyebab sehingga Andi Mattalatta bisa menjadi the allround athlete atau atlet serba bisa. Dikatakan bahwa yang menjadi pengaruh utama adalah latar belakang kedua orangtuanya yang seorang raja (datu), kemudian pengaruh lingkungan kerajaan, kondisi kejiwaannya setelah sang ayah wafat, pengalaman di perantauan, perlakuan buruk dari teman teman sekolahnya yang orang Belanda dan berbagai kondisi lainnya.

Bagian akhir mengulas berbagai kepeloporan Andi Mattalatta terutama pada cabang olahraga perairan seperti Ski Air, Power Boating, dan Kite Skiing. Termasuk juga kepeloporan beliau dalam pembangunan sarana olah raga di Makassar seperti Stadion Mattoanging, Stadion Renang Mattoanging, Stadion Pacuan Kuda Parangtambung, lapangan Sepak Bola PSM yang sekarang menjadi lokasi TVRI, Lapangan Lawn Tenis Rajawali, Lapangan Voli dan Basket Karebosi dan lapangan Tembak Panaikang. Termasuk juga diulas tentang Yayasan Olah raga Sulawesi Selatan atau YOSS.

Dokumentasi foto pribadi Andi Mattalatta dan dokumen Sertifikat dan tanda Penghargaan yang pernah diterima juga menghiasi buku ini.

Buku ini sangat menarik dan cukup lengkap mengulas kehidupan Andi Mattalatta, terutama kehidupannya sebagai Atlet dan pelatih. Penulisannya sangat mendalam karena merupakan sebuah karya ilmiah.

Namun demikian bahasa yang digunakan cenderung terlalu akademis sehingga pembaca mungkin merasa agak kaku dan kurang mengalir dalam pembahasan. Topiknya juga terlalu teknis karena diadaptasi dari tesis, dan juga terlalu banyak kutipan dari para ahli sehingga bisa mengganggu kenyamanan pembaca.

Buku ini koleksi Referensi, Layanan Umum Perpustakaan, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan.  





Sejarah Lapangan Karebosi Makassar

 

Judul:                           Karebosi Dulu, Kini, & Esok

Penulis:                        Drs. Syahruddin Yasen, M.M., M.BA.

Editor:                         -

Penerbit:                     Pustaka Refleksi

Tahun Terbit:               2008

Jumlah Halaman:        xi + 100

ISBN:                            9783570881

Penulis Resensi:          Suharman, S.S., MIM.

Lapangan Karebosi di Makassar adalah sebuah lapangan yang luas dan terbuka, yang juga merupakan landmark di pusat kota Makassar. Nama Karebosi sendiri berasal dari bahasa Makassar yang berarti "tanah lapang" atau "lapangan". Berbagai kegiatan sosial sering diadakan di Lapangan ini misalnya, olahraga, Upacara, panggung musik dan seni, dan pasar dan lain lain. Selain itu, Karebosi juga dikenal sebagai titik nol kota Makassar.

Buku ini sesuai dengan judulnya, berusaha menguraikan Karebosi sejak zaman dulu, masa kini dan masa depannya. Dibagi menjadi 3 bagian, diawali dengan pengantar dari penerbit dan penulis serta dari Prof. Dr. H. Ahmad M. Sewang, M.A.

Bagian awal dibahas tentang sejarah asal mula Karebosi. Disebutkan bahwa dulunya, Karebosi adalah hamparan sawah kerajaan Gowa. Menurut sejarahnya, awalnya disebut Kanrobosi yang kemudian berubah menjadi Karebosi. Kisah mistik lainnya yang terkait Karebosi juga diungkap pada bagian awal ini, misalnya adanya 7 makam keramat yang sampai sekarang setelah penataan (revitalisasi) tetap ada di lapangan Karebosi. Dikisahkan pula legenda Sepak Bola asal Makassar; Ramang yang dulu sering main bola di Karebosi. Selanjutnya muncul ide Revitalisasi pada masa pemerintahan Walikota Ilham Arief Sirajuddin (2004-2009).

Karebosi dimasa sekarang dalam dimensi politik, ekonomi dan sosial budaya diuraikan dalam bagian kedua. Mulai dari kronologi revitalisasi Karebosi, yang oleh Walikota Ilham Arief Sirajuddin dianggap semakin tidak kondusif sebagai representasi public space atau ruang terbuka untuk umum. Walikota kemudian menyurat ke Menteri Dalam Negeri membahas tentang rencana Revitalisasi Karebosi. Selanjutnya dijelaskan berbagai hal terkait revitalisasi Karebosi, , mulai dari legitimasi tanah Karebosi, pengelolaan asset daerah, pembentukan panitia tender, pro kontra revitalisasi, demo yang menentang revitalisasi, gugatan trhadap Walikota, dan lain lain.

Bagian akhir adalah pembahasan tentang masa depan Karebosi yang disebutkan oleh penulis bahwa revitalisasi Karebosi adalah sebuah ’keharusan sejarah’. Dikutip pada bagian ini dan juga pada bagian awal beberapa local wisdom atau kearifan lokal yaitu pesan para leluhur Bugis Makassar terkait kebijakan para pemimpin dalam mengambil keputusan. Tidak hanya itu, sejarah 2 kerajaan kembar Gowa – Tallo dan kerajaan Bugis lainnya juga banyak diulas dalam bagian akhir ini. Tak lupa penulis menguraikan perbandingan Karebosi dengan beberapa lapangan terkenal yang ada di negara luar. Solusi terhadap beberapa problematika yang menyangkut Karebosi diulas pula pada bagian akhir ini. Sarana dan prasarana yang melengkapi Karebosi setelah revitalisasi dijadikan penutup buku ini.

Buku ini sangat lengkap mengulas Karebosi di Makassar, dan dapat dijadikan bahan rujukan bagi siapa pun yang berminat mengkaji dan meneliti sejarah perkembangan Lapangan Karebosi.

Sayang sekali buku ini tidak memiliki illustrasi baik gambar sketsa, foto, kartun atau apapun itu yang bisa membantu pembaca dalam menvisualisasikan lapangan Karebosi. Hanya sampulnya yang bergambar foto lama Karebosi, 7 makam yang ada di Karebosi dan foto maket Karebosi terkini hasil revitalisasi.

Buku ini koleksi Referensi,  Layanan Perpustakaan Umum, UPT Layanan Perpustakaan, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Sulawesi Selatan. 





April 17, 2025

Rapanna Arung Rioloé (Hukum Adat Bugis-Makassar)

Rapanna Arung Rioloé adalah sebuah naskah kuno yang memuat kumpulan petuah dan ajaran bijak para leluhur masyarakat Bugis-Makassar mengenai tatanan hukum adat yang berlaku pada masa lampau. Naskah ini tidak sekadar menyajikan aturan-aturan formal, tetapi juga menyiratkan filosofi hukum dan keadilan yang mendalam, disampaikan melalui nasihat, contoh kasus, dan prinsip moral yang menjadi dasar dalam pengambilan keputusan hukum di masyarakat adat.

Sebagai karya tulis tradisional, naskah ini berperan penting dalam merekam dinamika sosial masyarakat Bugis-Makassar, terutama menyangkut persoalan hukum, tata krama pemerintahan, dan perilaku patut dalam lingkungan kerajaan. Ia memuat uraian lengkap tentang bagaimana suatu perkara diselidiki, siapa yang berhak mengadili, serta prinsip-prinsip keadilan yang harus dijunjung tinggi dalam penyelesaian masalah—baik secara individual maupun kolektif.

Salah satu topik utama yang diulas dalam naskah ini adalah hukum terhadap orang yang dituduh melakukan santet atau meracuni. Dijelaskan bagaimana pembuktian dilakukan melalui kesaksian yang dapat dipercaya, baik dari pihak tertuduh maupun korban. Keadilan dicari tidak hanya melalui logika sebab-akibat, tetapi juga dengan mempertimbangkan kemungkinan-kemungkinan yang masuk akal dan berbasis pada kesaksian nyata.

Topik lainnya adalah perihal harta benda raja yang dicuri. Ditekankan bahwa kedudukan harta benda raja sangat sakral dan bernilai tinggi, bahkan tidak bisa ditaksir harganya. Pencurian terhadap harta kerajaan tidak hanya diproses secara hukum, tetapi juga menyangkut integritas moral dan hubungan antara rakyat dan penguasa. Jika ditemukan harta raja pada seseorang, maka kasus tersebut akan diselidiki hingga akarnya, termasuk apakah orang tersebut terlibat langsung atau hanya menyimpan tanpa sepengetahuan.

Naskah ini juga mengangkat persoalan warisan, ganti rugi antara barang bekas dan baru, hingga perkara hukum yang belum memiliki preseden. Dalam hal ini, prinsip "kewajaran" menjadi kunci. Ketika belum ada contoh sebelumnya, maka pengambilan keputusan harus berdasarkan penalaran hukum dan pertimbangan moral yang adil.

Aspek menarik lain adalah hukum mengenai hewan ternak yang merusak tanaman, yang menggambarkan bahwa keadilan juga menjangkau aspek kehidupan yang sederhana dan sehari-hari. Orang yang mengusir hewan harus tetap mempertimbangkan akibat dari tindakannya, dan jika hewan terluka, ganti rugi pun diatur secara proporsional.

Selain hukum, naskah ini juga memuat pedoman moral bagi para pejabat kerajaan seperti guru, pelayan pribadi Arung (raja), penjaga kamar, hingga pengurus makanan. Setiap posisi memiliki standar perilaku dan kewaspadaan yang tinggi, karena kesalahan sekecil apapun dapat berdampak pada keselamatan diri dan kepercayaan dari sang penguasa. Kesalahan seperti memata-matai Arung, berbicara dengan istri atau anak Arung secara sembunyi-sembunyi, atau memiliki niat jahat terhadap harta benda raja, disebutkan sebagai dosa besar yang bisa berujung pada hukuman mati.

Nilai keagamaan juga mewarnai isi naskah ini, khususnya dalam bahasan tentang takabbur (kesombongan) dan hubungan suami-istri. Ditekankan bahwa takabbur adalah sifat yang sangat dibenci oleh Allah dan Rasul-Nya, dan hubungan suami-istri ideal adalah yang dilandasi saling menghormati, menjaga kehormatan, dan bekerja sama dalam kebaikan. Istri yang dominan secara tidak wajar atau memaksakan kehendak hingga menyimpang dari nilai moral dianggap membawa kehancuran dalam rumah tangga.

Buku Rapanna Arung Rioloé diambil di aplikasi iPusnas https://ipusnas2.perpusnas.go.id yang mencerminkan kehidupan masyarakat Bugis-Makassar yang sangat menghargai hukum, keadilan, dan moralitas. Ia bukan hanya panduan hukum, tetapi juga warisan budaya dan kearifan lokal yang sangat berharga. Nilai-nilai yang terkandung di dalamnya tidak lekang oleh waktu, dan bisa menjadi rujukan penting dalam membangun masyarakat yang adil dan bermartabat, baik di masa lalu, kini, maupun masa depan.


Rapanna Arung Rioloé VT 125 A Jilid III: A l i h B a h a s a
Penulis : Anggaraini Abu dan Munasriana
Penerbit : Perpusnas Press
Tempat Terbit: Jakarta
Tahun Terbit : 2024


Melongok Kembali Para Empu Bugis Makassar


Sulawesi Selatan tak hanya menyimpan kekayaan alam, tetapi juga warisan spiritual dalam bentuk keris yang menyatu dengan jiwa pemiliknya. Buku Melongok Kembali Para Empu Bugis Makassar merupakan sebuah kajian budaya yang menggali secara mendalam warisan leluhur masyarakat Bugis-Makassar, khususnya tentang keris atau kawali sebagai simbol budaya, spiritualitas, dan identitas. Dengan memadukan narasi historis, mitologi, dan wawancara langsung dengan pelestari budaya, buku ini menyingkap lapisan-lapisan makna di balik eksistensi keris Bugis-Makassar yang selama ini belum banyak diketahui khalayak luas.

Dimulai dari mitos Tumanurung sebagai manusia pertama yang dipercaya turun dari kayangan dan menetap di Luwu, buku ini menempatkan Kerajaan Luwu sebagai pusat awal peradaban Sulawesi Selatan. Dari kerajaan inilah lahir karya epik Sureq Galigo, naskah sastra yang diklaim lebih tebal dari Mahabharata, menjadi bukti kejayaan literasi Bugis kuno sejak abad ke-12.

Lebih dari sekadar peninggalan sejarah, keris dalam budaya Bugis-Makassar bukan hanya alat pertahanan atau senjata, melainkan benda pusaka yang diyakini menyimpan pamor atau aura magis. Setiap jenis keris—seperti sambang, toasi, gecong, dan tappi—memiliki karakteristik dan fungsi spiritual yang berbeda. Ada yang diyakini mampu menolak bala, mendatangkan rezeki, menjaga rumah dari kejahatan, hingga memperkuat kharisma pemiliknya di hadapan pejabat atau penguasa.

Melalui kesaksian Putra Jaya, seorang kolektor dan penjaga lebih dari 160 keris pusaka, pembaca diperkenalkan pada berbagai dimensi keris Bugis-Makassar. Ia menjelaskan bahwa keris bukan sekadar benda logam, melainkan hasil tempaan spiritual. Banyak di antaranya bahkan tidak terdeteksi oleh detektor logam karena dibuat dari batu meteor yang telah mengeras. Pembuatan keris tidak bisa dilakukan sembarangan; harus melalui prosesi ritual yang khusyuk, penuh zikir, dan hanya dilakukan oleh panrita (empu) sejati. Tanpa ritual, keris hanya sebatas benda mati tanpa pamor.

Selain itu juga mengangkat keyakinan masyarakat Bugis-Makassar bahwa keris adalah "saudara kembar" yang harus selalu menyatu dengan pemiliknya—bahkan saat tidur. Di antara kalangan bangsawan dan aparat keamanan, keris dianggap lebih sakral dan melindungi dibanding senjata modern.

Buku ini diambil di aplikasi https://ipusnas2.perpusnas.go.id untuk mengajak pembaca mengenal lebih dekat warisan leluhur Sulawesi Selatan, tetapi juga menggugah kesadaran tentang pentingnya menjaga dan melestarikan tradisi yang sarat nilai spiritual, estetika, dan sejarah. 


MELONGOK KEMBALI PARA EMPU BUGIS MAKASSAR
Penulis : Litbang Kompas, Rendra Sanjaya
Penerbit : Penerbit Buku Kompas
Tempat Terbit : Jakarta
Tahun Terbit : 2021
ISBN 978-623-241-892-9 (PDF)

April 16, 2025

Manusia Mandar

Judul: Manusia Mandar 

Penulis: Sriesagimoon 

Editor: - 

Penerbit: Pustaka Refleksi 

Tahun Terbit: 2009 

Jumlah Halaman: ix + 104 

ISBN: 9789799673381 

Penulis Resensi: Suharman, S.S., MIM. 

Satu lagi buku yang membahas tentang Manusia dari suku atau etnis tertentu. Setelah beberapa waktu lalu kita bahas tentang Manusia Makassar, Manusia Bugis Makassar, dan kali ini adalah pembahasan tentang Manusia Mandar. Suku Mandar adalah salah satu suku bangsa Indonesia yang mendiami pulau Sulawesi bagian barat, tepatnya di kabupaten Polewali Mandar dan Majene. 

Berbagai aspek kehidupan manusia Mandar diuraikan dalam buku ini. Dimulai dengan pembahasan daerah asal suku Mandar yaitu Kabupaten Polewali Mandar dan Kabupaten Majene, kemudian sejarah Mandar dari zaman pra-To Manurung sampai zaman To Manurung. Aspek bahasa dan kesusastraan Mandar juga diulas dalam buku ini. Dijelaskan dalam buku ini bahwa ada 5 dialek bahasa Mandar yaitu : dialek Balanipa, dialek Sendana, dialek Banggae, dialek Pamboang, dialek Awok-Sumakuyu. Sementara dalam kesusastraan Mandar ada karya sastra yang disebut Lolitang, Tallo’ (kisah), Papasang (pesan leluhur) dan Sila Sila. 

Etnis Mandar termasuk banyak yang memiliki mata pencaharian sebagai petani, namun demikian sebagian lainnya ada yang bekerja sebagai nelayan, peternak, petani kebun, maupun dari pemburu dan pengrajin. Bentuk rumah tradisional Mandar mempunyai 3 tingkatan dengan fungsinya masing masing. Bagian atas yang disebut Atapan atau rakkeang, bagian kedua atau alawe boyang dan bagian ketiga atau bagian paling bawah yang disebut naung boyang yang merupakan tempat hewan peliharaan atau ternak, seperti kerbau, sapi, kambing, ayam maupun anjing. 

Sistem pemerintahan, jenis makanan dan minuman orang Mandar, pakaian adat dan perhiasan tradisional Mandar juga diuraikan dalam buku ini. Contoh pakaian adat Mandar misalnya baju Pokko, baju Boko, Lipa Sa’be (sarung sutra) dengan berbagai macam corak atau motif. Ada juga yang disebut lipa’ ratte yang biasa digunakan oleh pengantin perempuan maupun pengantin laki laki. Sistem kekerabatan dan sistem pernikahan dalam suku Mandar juga dibahas. Disebutkan bahwa untuk memilih jodoh bagi laki laki Mandar, akan melihat empat (4) unsur yaitu : Tomapia’ atau Tomalabbi, status ekonomi, faktor keturunan dan faktor hubungan darah. 

Selanjutnya dijelaskan tentang proses pelamaran sampai pada pelaksanaan upacara pernikahan. Sistem religi, pengetahuan, dan upacara upacara tradisional yang biasa dilaksanakan oleh suku Mandar dibahas pula secara ringkas. Upacara adat yang disebutkan misalnya upacara adat petani, upacara adat nelayan, upacara maccera arayang, upacara naik rumah baru, upacara meuri, upacara mappepiana, upacara mappandhai’ di toyang, upacara ma’akeka, upacara massunna dan upacara mapparewai tomate. 

Pada bagian akhir buku, dipromosikan pesona wisata Mandar, yaitu beberapa destinasi wisata yang ada di daerah suku Mandar. Ada wisata alam seperti Pulau Battoa Binuang, Pulau Gusung Toraja Binuang, bagan di pantai Polewali, sunset di pantai Bahari, Pantai Palippis Balanipa, pantai Antai Uwai, air terjun Indo Rannoang Anreapia, sungai Biru Binuang, puncak Mosso, dan masih banyak lagi yang lain. Termasuk juga disini, wisata situs arkeologi baik yang ada di Polewali Mandar maupun yang ada di Majene. 

Buku ini cukup lengkap membahas kehidupan manusia Mandar, dan dapat dijadikan bahan rujukan untuk para peneliti atau mahasiswa yang ingin mengkaji etnis Mandar. 

Namun, beberapa kekurangan buku ini, misalnya kurang illustrasi atau gambar yang menarik yang bisa melengkapi setiap topik pembahasan. Ada beberapa gambar dan foto namun, hitam putih dan agak buram. Ada juga beberapa topik pembahasan yang berulang, misalnya tentang makanan khas Mandar yang dibahas pada halaman 27, namun pada halaman 96 kembali dibahas. 

Buku ini koleksi Referensi, Layanan Umum, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Sulawesi Selatan.