Naskah kuno Lontarak Pabbura adalah permata intelektual dari masyarakat Bugis yang menyimpan pengetahuan lokal tentang dunia kesehatan dan pengobatan tradisional. Di tengah gempuran pengobatan modern, keberadaan naskah ini menjadi pengingat akan pentingnya kearifan lokal yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Naskah kuno ini ditulis dalam aksara dan bahasa Bugis ini memuat ratusan ramuan serta metode penyembuhan berbagai penyakit, sebagian besar bersumber dari alam sekitar. Hingga kini, naskah tersebut masih eksis dan tersimpan secara utuh di Perpustakaan Nasional RI, dengan kode koleksi VT.81-14.
Buku "ETNOBOTANI, JAMPI DAN AZIMAT BUGIS (LONTARAK PABBURA PERPUSNAS VT.81.14) diambil di aplikasi iPusnas https://ipusnas2.perpusnas.go.id merupakan catatan medis tradisional. Lontarak Pabbura memuat tak kurang dari 75 jenis penyakit yang diidentifikasi melalui proses alih aksara. Penyakit-penyakit tersebut antara lain demam, batuk, sakit mata, gangguan pencernaan, hingga ejakulasi dini dan kemandulan. Tak hanya itu, naskah ini juga memuat pengobatan untuk kondisi-kondisi khusus seperti gangguan akibat santet dan wabah flu Spanyol.
Yang menarik, ramuan-ramuan yang tercantum dalam naskah ini umumnya berbasis tanaman obat. Setidaknya tercatat 125 spesies tanaman yang telah diidentifikasi, lengkap dengan nama ilmiahnya dalam glosarium. Beberapa tanaman, seperti kayu kudo, disebut-sebut manjur untuk mengobati luka luar, penyakit mata, hingga gigi, meski belum banyak diteliti secara medis modern.
“Ini adalah potensi ilmu pengetahuan yang luar biasa dari masa lampau, yang layak untuk direproduksi dan dikaji secara ilmiah,” ujar seorang peneliti filologi di Makassar yang enggan disebutkan namanya. Ia menambahkan, pengobatan tradisional seperti yang tertuang dalam Lontarak Pabbura merupakan bagian dari budaya yang diwariskan secara turun-temurun, baik secara lisan maupun tulisan.
Menariknya, naskah Pabbura tak hanya mencerminkan tradisi Bugis semata, tetapi juga menunjukkan akulturasi budaya Islam. Sejumlah resep pengobatan dalam naskah ini mencantumkan pendekatan at-tibb an-nabawiy atau “pengobatan Nabi”, yang ditulis dalam huruf Arab. Ini menandakan adanya kontribusi pengetahuan medis Islam terhadap praktik kesehatan masyarakat Bugis pada masa lalu.
Dalam sejarahnya, praktik pengobatan berbasis Lontarak ini umumnya dilakukan oleh para sanro atau tabib tradisional. Namun, seiring berkembangnya layanan kesehatan modern, peran sanro mulai terpinggirkan. Meski demikian, jejak keberadaan dan praktik pengobatan mereka masih bisa ditemukan di sejumlah komunitas.
Meski banyak ramuan dalam naskah Pabbura telah terbukti secara empiris di masyarakat, sebagian lainnya belum mendapatkan perhatian dari dunia medis modern. Penelitian farmasi dan medis terhadap resep-resep tradisional ini menjadi langkah penting agar kekayaan lokal ini bisa dimanfaatkan secara lebih luas dan bertanggung jawab secara ilmiah.
Naskah Lontarak Pabbura bukan sekadar arsip tua. Ia adalah jembatan antara masa lalu dan masa depan, antara kearifan lokal dan ilmu pengetahuan modern. Dalam lanskap kesehatan nasional yang mulai memberi ruang pada pengobatan herbal dan tradisional, nilai-nilai yang dikandung dalam naskah ini sepatutnya mendapat tempat yang layak dalam wacana akademik dan kebijakan publik. (***)
Penulis : Hari Bahru
Penerbit : Perpusnas PRESS
Tahun Terbit : 2024
Halaman : 26
ISBN: 978-623- 117 -156-6(PDF)
No comments:
Post a Comment