Nelayan merupakan suatu komunitas yang menggantungkan hidupnya di laut. Laut sangat kaya akan hasil ikannya, namun tidak semua nelayan dapat menikmatinya dan berada pada taraf kehidupan yang lebih matang dan makmur. Namun sebaliknya sebagian besar nelayan masih berada di bawah garis kemiskinan, khususnya para nelayan tradisional, mereka masih menggunakan alat tangkap yang masih tradisional, sehingga mereka hanya bisa berlayar untuk mencari ikan pada zona-zona tertentu, akibat keberadaan alat tangkap. Belum lagi adanya musim-musim, mereka tidak dapat melaut, sehingga untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari mereka harus melakukan usaha yang dapat menghasilkan uang, guna memenuhi kebutuhan hidupnya.
Buku Dunia Maritim Indonesia dalam Perspektif Budaya merupakan hasil penelitian sejarah dan budaya menjadi salah satu koleksi layanan deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang belokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang, Makassar. Buku ini telah di seminarkan dengan tema "Dunia Maritim Indonesia dari Perspektif Sejarah dan Budaya". Adapun makalah yang termuat di Buku 1 ini adalah:
- Ikon Kemaritiman dalam Kehidupan Spiritual (Kajian atas Sub Teks Naskah Tasawuf: Timbangan) oleh Agus Heryana
- Ideologi dan Konstruksi Perahu Belang Masyarakat Aru, oleh Marthen M. Pattipeilohy
- Pengetahuan Orang Laut tentang alam di Provinsi Kepulauan Riau, oleh Evawarni
- Palebon: Upacara Ngaben di Jawa, oleh Noor Sulistyo Budi
- Pesan Pelestarian Lingkungan dalam Kearifan Lokal Tradisi Buang Buang pada Masyarakat Mempawah Kalimantan Barat, oleh M. Natsir
- Sistem Pengetahuan Tradisional Nelayan Bajo dalam Pengelolaan Sumber Daya Laut di Kabupaten Bone, oleh Raodah
Selanjutnya tentang teknologi penangkapan ikan pada masyarakat di Pulau Aru, khususnya perahu tradisional yang dikenal dengan perahu belang. Perahu tersebut tidak sekedar dibuat untuk dijadikan sebagai transportasi untuk menangkap ikan, akan tetapi mengandung filosofi sesuai dengan nilai budaya pada komunitas adat yang ada di Pulau Aru. Konstruksi perahu tersebut disesuaikan dengan struktur sosial masyarakat yang bersangkutan.
Kearifan lokal masyarakat di pesisir Pantai Pulau Bungin Nusa Tenggara Barat, khususnya terkait dengan kepercayaan masyarakat terhadap laut yang menganggap bahwa di laut banyak tantangannya sehingga perlu melakukan tolak bala guna menghindari malapetaka selama melaut atau guna menjaga keselamatan di laut.
Orang Bajo di Kabupaten Bone, khususnya berkaitan dengan sistem pengetahuan yang mereka miliki berkaitan dengan proses penangkapan ikan di laut, termasuk pengetahuan tentang flora dan fauna, serta tanda-tanda alam yang dijadikan sebagai pedoman dalam kehidupan mereka sehari-hari sebagai sebuah komunitas yang sangat akrab dengan kehidupan laut.
Sedangkan masyarakat Pesisir di Kepulauan Riau, juga berkaitan dengan pengetahuan masyarakat terkait dengan tanda-tanda alam yang kemudian menjadi patokan mereka dalam menjalankan aktivitasnya sehari-hari sebagai nelayan.
Adapun masyarakat pesisir di Minahasa yang melakukan upacara syukuran berupa penyerahan sesajen di tepi pantai kemudian dilarungkan ke laut yang ditujukan kepada penguasa laut yang telah memberikan hasil tangkapan, sehingga kehidupan mereka bisa survive. Upacara tersebut dikenal dengan upacara labuang.
Berbeda dengan masyarakat Jawa yang melestarikan ajaran Hindu dengan melakukan upacara life cycle, khususnya upacara kematian dengan melakukan pembakaran jenazah dan abu jenazah dimasukkan ke dalam goci-gocu dan dilarungkan ke pantai. Upacara tersebut dikenal dengan palebon atau ngaben.
Tradisi masyarakat pesisir di Kalimantan Barat. Upacara tersbut dikenal dengan tradisi buang-buangan, yakni tradisi yang dilakukan oleh masyarakat di sungai guna menghindari penghuni sungai berupa buaya, tidak memangsa manusia, sebab manusia memiliki hubungan kekerabatan terhadap buaya. Oleh karena itu, maka salah satu bentuk penghormatan kepada penghuni sungai yang melakukan upacara buang-buangan dengan membaca mantra dan memberi sesajen di sungai.
Hal-hal lain terkait kemaritiman juga terkait karya sastra memuat menjelaskan pemahaman spiritual dengan memakai simbol-simbol kemaritiman, seperti kesenian masyarakat pesisir pantai di Pulau Sumatera di daerah Pulau Brauh, kemudian dijadikan sebagai media untuk menyampaikan syiar Islam.
Penulis: Agus Heryana, Marthen M. Pattipeilohy, Evawarni, Noor Sulistyo Budi, M. Natsir, Raodah
Penerbit: Pustaka Refleksi
Tempat Terbit: Makassar
Tahun Terbit: 2017
ISBN: 978-979-3570-95-2








.jpeg)

.jpeg)


