August 29, 2025

Muhammadiyah Limbung Dalam Revolusi Kemerdekaan

 

Sulawesi Selatan, khususnya daerah Limbung di Kabupaten Gowa, sejak lama dikenal sebagai kawasan dengan mayoritas penduduk muslim. Namun pada masa penjajahan Belanda, kehidupan keberagamaan masyarakat masih bercampur dengan tradisi lama warisan nenek moyang. Banyak warga memelihara anja-anja (sesembahan), mendatangi kuburan tua atau pohon keramat untuk meminta rezeki dan jodoh, bahkan mempercayai jimat serta pusaka. Praktik-praktik musyrik ini, meski berjalan berdampingan dengan pengakuan Islam, sesungguhnya jauh dari ajaran Al-Qur’an dan Sunnah Rasul.

Kondisi inilah yang mengundang keprihatinan para muballig Muhammadiyah dari Jawa dan Sumatera. Gerakan Muhammadiyah yang sejak awal berdiri membawa misi tajdid (pemurnian ajaran Islam), melihat Sulawesi Selatan, termasuk Limbung, sebagai lahan dakwah yang penting. Kehadiran Buya Hamka pada tahun 1935 di Makassar menjadi momentum besar. Ceramahnya mengkritik keras tradisi penyembahan sesembahan, sekaligus membakar semangat jihad melawan penjajahan Belanda.

Seruan tersebut segera menyentuh hati para pemuda Limbung. Sejumlah nama seperti Usman, Basowa Dg Majja, hingga Muh. Saleh Dg Gau bangkit dan bersepakat mendirikan Muhammadiyah Cabang Limbung. Untuk memimpin, mereka menunjuk Rowa Dg Malewa, tokoh berpengaruh yang saat itu menjabat Gallarrang Bontomaero. Keputusan Rowa Dg Malewa untuk meninggalkan kebiasaan memelihara anja-anja, bahkan rela melepaskan jabatannya demi fokus membesarkan Muhammadiyah, menjadi titik balik bersejarah.

Tidak hanya kaum pria, gerakan ini juga meluas ke kalangan perempuan. Dengan dorongan Nona Ebon, seorang pembina Aisyiyah dari Jawa, lahirlah Aisyiyah Cabang Limbung. Jimo Dg Puji, istri Rowa Dg Malewa, ditunjuk sebagai ketua pertama. Melalui Aisyiyah, dakwah Muhammadiyah merambah ranah keluarga dan perempuan, memperkuat pondasi Islam di tingkat akar rumput.

Perkembangan Muhammadiyah di Limbung berlangsung pesat. Ranting-ranting baru dibuka hingga ke pelosok desa, termasuk di dataran tinggi seperti Bissoloro. Para muballig Muhammadiyah aktif bergerak dari kampung ke kampung, mengajarkan pentingnya kembali pada ajaran murni Al-Qur’an dan Sunnah Rasul. Dampaknya terasa nyata. Tradisi pesta perkawinan 40 hari 40 malam, yang sarat dengan judi, minuman keras, dan bahkan mendapat simpati dari Belanda, mulai ditinggalkan. Generasi muda yang bersekolah di Muhammadiyah Jongaya juga menjadi motor penggerak dakwah di kampung halamannya.

Lebih dari sekadar gerakan keagamaan, Muhammadiyah Limbung ikut terlibat dalam arus besar perjuangan kemerdekaan. Buku ini mencatat bagaimana para pemuda Muhammadiyah direkrut Jepang, bagaimana mereka berani merebut senjata, mengibarkan Merah Putih pada 14 Agustus 1945, hingga menghadapi aksi kekerasan Westerling di Bajeng. Banyak di antara tokoh Muhammadiyah Limbung yang harus mengorbankan jiwa dan raga demi tegaknya kemerdekaan.

Buku Muhammadiyah Limbung Dalam Revolusi Kemerdekaan memperlihatkan bahwa Muhammadiyah di Limbung bukan hanya hadir sebagai gerakan dakwah yang memurnikan akidah umat, tetapi juga sebagai kekuatan sosial-politik yang berperan penting dalam revolusi kemerdekaan. Kisah ini menegaskan bahwa perjuangan umat Islam di Sulawesi Selatan tidak bisa dilepaskan dari jejak panjang Muhammadiyah yang membangun kesadaran, membentuk kader intelektual, dan mengarahkan masyarakat menuju Islam yang murni sekaligus cinta tanah air. Buku ini diambil di aplikasi iPusnas Website: https://ipusnas2.perpusnas.go.id


Muhammadiyah Limbung Dalam Revolusi Kemerdekaan 
Penulis: Zainuddin Tika, Mas’ud Kasim
Editing: Rachmab Hasanuddin
Penerbit: Pustaka Taman Ilmu (PTI) Bekerjasama Lembaga Kajian Sejarah Budaya Sulawesi Selatan
Tempat Terbit: Makassar
Tahun Terbit: 2019


August 14, 2025

USIR TAKUTMU!

Buku Usir Takutmu! karya Herman Susanto adalah sebuah panduan inspiratif sekaligus praktis yang dirancang untuk membantu pembaca membongkar akar rasa takut dan menaklukkannya secara tuntas. Penulis memulai dengan menjelaskan bahwa rasa takut adalah bagian alami dari kehidupan manusia—sebuah respon yang awalnya berfungsi melindungi diri dari bahaya, namun dapat menjadi penghalang besar jika dibiarkan berkembang tanpa kendali. Herman Susanto mengajak pembaca untuk melihat rasa takut bukan sebagai musuh mutlak, melainkan sebagai sinyal yang perlu dipahami dan dikelola.

Melalui bahasa yang jernih dan mengalir, buku ini membedah berbagai bentuk ketakutan yang umum ditemui:

  • Ketakutan sosial seperti gugup berbicara di depan umum, takut mengungkapkan pendapat, atau takut ditolak.

  • Ketakutan pribadi seperti takut gagal, takut mencoba hal baru, dan takut menghadapi perubahan besar dalam hidup.

  • Ketakutan spesifik atau fobia seperti takut ketinggian, takut jarum suntik, hingga rasa takut terhadap hal-hal irasional seperti makhluk halus.

Setiap jenis ketakutan tidak hanya dijelaskan gejala dan penyebabnya, tetapi juga disertai ilustrasi situasi nyata yang membuat pembaca merasa dekat dan memahami bahwa mereka tidak sendirian. Penulis menguraikan strategi yang sistematis untuk mengatasinya, mulai dari teknik relaksasi, pengendalian pikiran, visualisasi positif, membangun keberanian secara bertahap, hingga mengubah pola pikir dari “menghindar” menjadi “menghadapi”.

Buku ini menekankan bahwa keberanian bukanlah ketiadaan rasa takut, melainkan kemampuan untuk bertindak meski rasa takut hadir. Herman Susanto membimbing pembaca agar mampu keluar dari zona nyaman, berani mengambil keputusan, dan menatap masa depan dengan optimisme. Pesan moral yang kuat—bahwa setiap orang memiliki potensi besar untuk mengendalikan rasa takut dan mengubah hidupnya—menjadi benang merah di setiap halaman.

Dengan pendekatan yang memadukan motivasi, pemahaman psikologis, dan tips praktis, Usir Takutmu! menjadi bacaan yang relevan bagi pelajar, pekerja, orang tua, maupun siapa saja yang ingin meraih kehidupan yang lebih percaya diri, bebas dari hambatan mental, dan penuh peluang. Pembaca dapat membaca lebih lengkap buku ini di Layanan UPT Perpustakaan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang beralamat di Jalan Sultan Alauddin KM.7 Tala'salapang kota Makassar.


USIR TAKUTMU!

Penulis    : Herman Susanto

Penyunting    : Kurniawan Dinihari

Penerbit        : Laksana

Kota Terbit     : Yogyakarta

Tahun Terbit    : 2017

ISBN        : 978-602-407-111-0 

August 13, 2025

SENI BERBICARA

Buku Seni Berbicara karya Larry King adalah panduan komunikasi yang lahir dari pengalaman panjang seorang pembawa acara talkshow legendaris yang telah mewawancarai ribuan orang dari berbagai latar belakang. Dalam buku ini, Larry King menegaskan bahwa kemampuan berbicara bukanlah bakat bawaan, melainkan keterampilan yang dapat dipelajari, dilatih, dan dikembangkan oleh siapa saja. Ia memulai dengan membahas pentingnya rasa percaya diri dalam berbicara, serta bagaimana mengubah rasa gugup menjadi energi positif yang mendorong kita untuk tampil lebih baik. Larry menekankan bahwa kunci pertama komunikasi yang efektif bukanlah berbicara, tetapi mendengarkan. Dengan mendengarkan aktif, kita dapat memahami lawan bicara, menemukan topik yang tepat, dan menjaga alur percakapan agar mengalir alami.

Buku ini juga memberikan panduan praktis untuk memulai dan menjaga percakapan di berbagai situasi, baik dengan orang yang baru dikenal maupun rekan lama. Larry membagikan tips membuka pembicaraan, memilih kata yang sesuai, serta menyesuaikan gaya bicara dengan lawan bicara agar komunikasi terasa nyaman. Untuk berbicara di depan publik, ia menjabarkan langkah-langkah persiapan yang efektif, seperti mengenal audiens, mengatur nada suara, menjaga kontak mata, serta memanfaatkan bahasa tubuh untuk memperkuat pesan yang disampaikan. Ia juga menyoroti pentingnya spontanitas, fleksibilitas, dan kejujuran dalam berbicara agar pesan terasa tulus dan meyakinkan.

Tidak hanya situasi yang lancar, Larry juga membahas strategi menghadapi percakapan sulit, seperti berinteraksi dengan orang yang keras kepala, sinis, atau penuh kritik. Ia memberikan saran untuk tetap tenang, menghargai perbedaan pendapat, dan menjaga fokus pada tujuan percakapan. Buku ini turut mengulas cara menciptakan kesan pertama yang baik melalui penampilan, sikap tubuh, bahasa yang sopan, dan kemampuan menyesuaikan diri dengan suasana. Dalam setiap bab, Larry King menyelipkan pengalaman pribadi dan anekdot dari dunia media yang membuat pesan-pesannya lebih hidup dan mudah diingat.

Dengan gaya bahasa yang ringan, praktis, dan sarat contoh nyata, Seni Berbicara tidak hanya mengajarkan teknik komunikasi, tetapi juga membangun pola pikir positif tentang berbicara. Larry King mengajak pembaca untuk memandang percakapan sebagai kesempatan membangun hubungan, bukan sekadar bertukar kata. Ia menegaskan bahwa kemampuan berbicara yang baik akan membuka pintu pada berbagai peluang, memperluas jejaring, dan mempererat hubungan pribadi maupun profesional. Buku ini menjadi bekal berharga bagi siapa saja yang ingin meningkatkan keterampilan komunikasi di segala bidang kehidupan.

Buku ini merupakan salah satu koleksi bacaan umum pada layanan perpustakaan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi di Jalan Sultan Alauddin KM.7 Tala'salapang kota Makassar.


SENI BERBICARA

Judul Asli    : How To Talk to Anyone, Anytime, Anywhere

Penulis        : Larry King ; Bill Gilbert

Penerjemah    : Marcus Prihminto Widodo

Penyunting    : Tanti Lesmana

Penerbit    : Gramedia Pustaka Utamau

Tahun Terbit    : 1995

ISBN    : 979-605-226-1

August 12, 2025

Tokoh Islam Pejuang Kemerdekaan RI Di 3 Pulau Nusantara


Upaya kemerdekaan Republik Indonesia tidak pernah lepas dari peranan tokoh agama. Pada rentang abad ke-15 hingga 19 Masehi, gerakan perjuangan rakyat untuk kemerdekaan kerap dikomando oleh tokoh-tokoh agama. Ulama, sebagai pemimpin nonformal yang disegani, tidak hanya membina umat secara spiritual, tetapi juga menanamkan persatuan, persaudaraan, dan semangat melawan penjajahan.

Pengaruh besar para ulama membuat mereka menjadi sosok yang diincar penjajah, dianggap berbahaya karena selalu menyemangati rakyat untuk menolak segala bentuk penindasan. Dari berbagai wilayah di nusantara, lahirlah tokoh-tokoh Islam pejuang kemerdekaan, mulai dari Sumatera, Kalimantan, hingga Sulawesi.

Tokoh-tokoh Islam Pejuang Kemerdekaan RI di Pulau Sumatera

  1. Teungku Chik Di Tiro
  2. Teungku Chik Pante Kulu
  3. Teungku Chik Kutakarang
  4. Teungku Fakinah
  5. Tuanku Imam Bonjol
  6. Tuanku Tambusai
  7. Syekhah Hajjah Rangkayo Rahmah El Yunusiyah
  8. Radin Inten II
  9. K.H. Ahmad Hanafiah

Tokoh-tokoh Islam Pejuang Kemerdekaan RI di Pulau Kalimantan

  1. Sultan Aji Muhammad Idris
  2. Pangeran Antasari
  3. Sultan Muhammad Seman
  4. Haji Muhammad Arsyad

Tokoh-tokoh Islam Pejuang Kemerdekaan RI di Pulau Sulawesi

  1. Karaeng Matoaya I Malingkang Daeng Manyonri' Karaeng Katangka (Sultan Abdullah Awwalul Islam)
  2. Syekh Yusuf Abul Mahasin Tajul Khalwati Al Makassari Al Bantani
  3. Sultan Hasanuddin
  4. Ibu Agung Hajjah Andi Depu
  5. Opu Daeng Risadju (Famajjah)

Kisah Perjuangan Tokoh Islam di Pulau Sulawesi

Pulau Sulawesi tidak hanya terkenal dengan keindahan alamnya, tetapi juga sebagai tanah para pejuang yang gigih mempertahankan kemerdekaan. Di sini, sejumlah tokoh Islam mengukir sejarah melalui gabungan kekuatan iman, kepemimpinan, dan keberanian di medan perang.

Karaeng Matoaya
Raja Tallo sekaligus Perdana Menteri Kesultanan Makassar ini pada 1605 memeluk Islam, bergelar Sultan Abdullah Awwalul Islam. Bersama Raja Gowa, ia menjadikan Islam sebagai agama resmi kerajaan, menguatkan persekutuan politik, dan menandingi dominasi VOC di wilayah timur nusantara.

Syekh Yusuf Al-Makassari
Lahir di Gowa pada 1626, ia mengabdikan hidup untuk dakwah dan perjuangan melawan VOC, terutama bersama Sultan Ageng Tirtayasa di Banten. Karena pengaruhnya yang besar, Belanda mengasingkannya hingga ke Afrika Selatan, tempat ia tetap menyebarkan Islam dan menginspirasi perjuangan anti-apartheid.

Sultan Hasanuddin
Dijuluki “Ayam Jantan dari Timur”, Sultan Hasanuddin adalah pemimpin Gowa yang menolak monopoli dagang VOC. Meski terikat Perjanjian Bongaya, ia kembali mengangkat senjata dan menjadi simbol perlawanan gigih rakyat Sulawesi.

Ibu Agung Hajjah Andi Depu
Pejuang perempuan dari Mandar ini memimpin Kelaskaran Islam Muda (KRIS Muda) dan menentang upaya NICA menurunkan Bendera Merah Putih pada 1946. Aksinya membuatnya menjadi target utama Belanda, namun semangatnya tak pernah padam meski ditangkap dan disiksa.

Opu Daeng Risadju
Pejuang dari Kerajaan Luwu ini memimpin rakyat melalui Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII). Dijuluki “Macan Betina dari Timur”, ia mengalami siksaan berat hingga menjadi tuli, namun tetap teguh membela kemerdekaan.

Buku Tokoh Islam Pejuang Kemerdekaan RI di 3 Pulau Nusantara memuat kisah dari diplomasi di istana hingga gerilya di hutan para tokoh-tokoh Islam di Sulawesi, Sumatra dan Kalimantan membuktikan bahwa kemerdekaan diraih bukan hanya dengan senjata, tetapi juga dengan keteguhan iman, persatuan, dan keberanian tanpa batas. Buku ini merupakan koleksi iPusnas https://ipusnas2.perpusnas.go.id yang tidak hanya memperkaya wawasan sejarah, tetapi juga menumbuhkan rasa bangga dan cinta tanah air.


Tokoh Islam Pejuang Kemerdekaan RI Di 3 Pulau Nusantara
Penulis: Leny Nurdiyaningsih
Penerbit: CV. Win Media
Tempat Terbit: Kediri, Jawa Timur
Tahun Terbit: 2025
EISBN: 000-000-0000-31-8 (PDF)


August 7, 2025

Kehadiran Manusia Bugis dalam Memaknai Nilai Budaya Sulapa Eppa

Manusia Bugis yang memiliki nilai-nilai Sulapa Eppa berusaha mempertahankannya dalam setiap dimensi kehidupan—baik di lingkungan keluarga, sekolah, hingga masyarakat global dewasa ini. Dalam mempertahankan budaya Bugis, semua berawal dari rumah, tempat nilai-nilai seperti kejujuran, kecerdasan, keteguhan, dan keberanian ditanamkan sejak dini. Keempat nilai ini—Malempu, Macca, Magetteng, dan Warani—bukan hanya berdiri sendiri, tetapi saling menguatkan dalam membentuk karakter utuh manusia Bugis. Ketegasan sikap, rasa malu dan empati (siri’ na pesse), serta kesetiaan terhadap ajaran agama dan pesan leluhur menjadi fondasi yang tak terpisahkan dari perilaku sosial masyarakat Bugis dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Nilai-nilai Sulapa Eppa merupakan sistem nilai sosial budaya yang menyatu dalam keseharian manusia Bugis. Dalam menghadapi berbagai persoalan sosial, politik, ekonomi, budaya hingga keamanan, nilai-nilai ini menjadi kompas etis dalam mengambil keputusan. Kejujuran menjadi akar dari kecerdasan; kecerdasan yang jujur melahirkan keteguhan sikap; dan keteguhan yang berpijak pada nilai moral akan memunculkan keberanian, bahkan jika harus menghadapi risiko besar sekalipun. Prinsip hidup semacam ini telah menjadikan manusia Bugis sebagai bagian penting dalam sejarah dan kemajuan bangsa Indonesia.

Buku Kehadiran Manusia Bugis dalam Memaknai Nilai Budaya Sulapa Eppa membuktikan bahwa kehadiran manusia Bugis bukan sekadar eksistensi etnis, melainkan kontribusi nyata terhadap pembentukan karakter bangsa. Melalui contoh-contoh nyata, buku ini menampilkan bagaimana nilai-nilai Sulapa Eppa diimplementasikan dalam dunia pendidikan dan kehidupan sosial. Di lingkungan sekolah, nilai kejujuran dan kedisiplinan menjadi dasar pembentukan karakter peserta didik. Guru sebagai panutan dituntut untuk menjadi teladan dalam bersikap dan bertindak. Di masyarakat, nilai-nilai seperti tabe, sipakainge, dan sipakatau mulai diperjuangkan kembali agar tidak hilang ditelan arus budaya luar yang serba instan dan permisif.

Lebih dari itu, buku ini menyajikan figur-figur besar yang menjadi representasi konkret dari nilai-nilai Bugis. Prof. Dr. Ing. B.J. Habibie adalah cermin dari Macca dan Malempu, yang tidak hanya jenius secara intelektual, tetapi juga jujur dan rendah hati dalam pengabdian. Sementara Jenderal TNI (Purn.) Muhammad Jusuf memanifestasikan Magetteng dan Warani dalam setiap pengambilan keputusan strategis negara dengan keberanian dan ketegasan luar biasa. Kedua tokoh ini menunjukkan bahwa nilai-nilai Sulapa Eppa dapat hidup dan berhasil dalam ruang-ruang kepemimpinan tingkat nasional dan internasional.

Pentingnya pendidikan karakter berbasis kearifan lokal menjadi penekanan kuat dalam naskah ini. Budaya Bugis tidak cukup sekadar dipelajari sebagai warisan, tetapi harus dihidupkan kembali dalam praktik sehari-hari, terutama dalam keluarga sebagai fondasi utama. Sinergi antara orangtua, guru, dan masyarakat sangat dibutuhkan untuk memastikan bahwa nilai-nilai luhur ini dapat diteruskan kepada generasi selanjutnya dalam menghadapi era global yang serba cepat dan menantang.

Kehadiran Manusia Bugis dalam Memaknai Nilai Budaya Sulapa Eppa adalah sebuah refleksi komprehensif dan mendalam atas kontribusi kultural, moral, dan intelektual masyarakat Bugis dalam membentuk wajah Indonesia yang bermartabat. Buku ini tidak hanya memperkenalkan makna filosofis dari budaya Bugis, tetapi juga menawarkan gagasan konkret tentang bagaimana nilai-nilai tersebut dapat dihidupkan kembali sebagai fondasi pembangunan manusia Indonesia yang berkarakter kuat dan berdaya saing tinggi. Buku ini salah satu koleksi iPusnas yang  dapat di akses https://ipusnas2.perpusnas.go.id 


Kehadiran Manusia Bugis dalam Memaknai Nilai Budaya Sulapa Eppa
Penulis : Dg. Mapata, Sitti Hamsinah
Penerbit : Penerbit Adab
Tempat Terbit: Indramayu, Jawa Barat
Tahun Terbit : 2023
E-ISBN: 978-623-497-758-5 (PDF)