Sulawesi Selatan, khususnya daerah Limbung di Kabupaten Gowa, sejak lama dikenal sebagai kawasan dengan mayoritas penduduk muslim. Namun pada masa penjajahan Belanda, kehidupan keberagamaan masyarakat masih bercampur dengan tradisi lama warisan nenek moyang. Banyak warga memelihara anja-anja (sesembahan), mendatangi kuburan tua atau pohon keramat untuk meminta rezeki dan jodoh, bahkan mempercayai jimat serta pusaka. Praktik-praktik musyrik ini, meski berjalan berdampingan dengan pengakuan Islam, sesungguhnya jauh dari ajaran Al-Qur’an dan Sunnah Rasul.
Kondisi inilah yang mengundang keprihatinan para muballig Muhammadiyah dari Jawa dan Sumatera. Gerakan Muhammadiyah yang sejak awal berdiri membawa misi tajdid (pemurnian ajaran Islam), melihat Sulawesi Selatan, termasuk Limbung, sebagai lahan dakwah yang penting. Kehadiran Buya Hamka pada tahun 1935 di Makassar menjadi momentum besar. Ceramahnya mengkritik keras tradisi penyembahan sesembahan, sekaligus membakar semangat jihad melawan penjajahan Belanda.
Seruan tersebut segera menyentuh hati para pemuda Limbung. Sejumlah nama seperti Usman, Basowa Dg Majja, hingga Muh. Saleh Dg Gau bangkit dan bersepakat mendirikan Muhammadiyah Cabang Limbung. Untuk memimpin, mereka menunjuk Rowa Dg Malewa, tokoh berpengaruh yang saat itu menjabat Gallarrang Bontomaero. Keputusan Rowa Dg Malewa untuk meninggalkan kebiasaan memelihara anja-anja, bahkan rela melepaskan jabatannya demi fokus membesarkan Muhammadiyah, menjadi titik balik bersejarah.
Tidak hanya kaum pria, gerakan ini juga meluas ke kalangan perempuan. Dengan dorongan Nona Ebon, seorang pembina Aisyiyah dari Jawa, lahirlah Aisyiyah Cabang Limbung. Jimo Dg Puji, istri Rowa Dg Malewa, ditunjuk sebagai ketua pertama. Melalui Aisyiyah, dakwah Muhammadiyah merambah ranah keluarga dan perempuan, memperkuat pondasi Islam di tingkat akar rumput.
Perkembangan Muhammadiyah di Limbung berlangsung pesat. Ranting-ranting baru dibuka hingga ke pelosok desa, termasuk di dataran tinggi seperti Bissoloro. Para muballig Muhammadiyah aktif bergerak dari kampung ke kampung, mengajarkan pentingnya kembali pada ajaran murni Al-Qur’an dan Sunnah Rasul. Dampaknya terasa nyata. Tradisi pesta perkawinan 40 hari 40 malam, yang sarat dengan judi, minuman keras, dan bahkan mendapat simpati dari Belanda, mulai ditinggalkan. Generasi muda yang bersekolah di Muhammadiyah Jongaya juga menjadi motor penggerak dakwah di kampung halamannya.
Lebih dari sekadar gerakan keagamaan, Muhammadiyah Limbung ikut terlibat dalam arus besar perjuangan kemerdekaan. Buku ini mencatat bagaimana para pemuda Muhammadiyah direkrut Jepang, bagaimana mereka berani merebut senjata, mengibarkan Merah Putih pada 14 Agustus 1945, hingga menghadapi aksi kekerasan Westerling di Bajeng. Banyak di antara tokoh Muhammadiyah Limbung yang harus mengorbankan jiwa dan raga demi tegaknya kemerdekaan.
Buku Muhammadiyah Limbung Dalam Revolusi Kemerdekaan memperlihatkan bahwa Muhammadiyah di Limbung bukan hanya hadir sebagai gerakan dakwah yang memurnikan akidah umat, tetapi juga sebagai kekuatan sosial-politik yang berperan penting dalam revolusi kemerdekaan. Kisah ini menegaskan bahwa perjuangan umat Islam di Sulawesi Selatan tidak bisa dilepaskan dari jejak panjang Muhammadiyah yang membangun kesadaran, membentuk kader intelektual, dan mengarahkan masyarakat menuju Islam yang murni sekaligus cinta tanah air. Buku ini diambil di aplikasi iPusnas Website: https://ipusnas2.perpusnas.go.id
Penulis: Zainuddin Tika, Mas’ud Kasim
Editing: Rachmab Hasanuddin
Penerbit: Pustaka Taman Ilmu (PTI) Bekerjasama Lembaga Kajian Sejarah Budaya Sulawesi Selatan
Tempat Terbit: Makassar
Tahun Terbit: 2019

