Kepemimpinan Sanusi Daris yang bermula bertugas mengajar sebagai Guru Sekolah Rakyat, kemudian terlibat dalam gerakan mempertahankan kemerdekaan. Ketika pasukannya resmi menjadi anggota TNI ia tidak ikut serta, padahal kedudukannya pada saat itu sebagai Komandan Kompi, sebuah jabatan yang cukup prestisius. Ia malah bergabung dengan Qakar Muzakkar dan bersamanya memproklamasikan berdirinya Gerakan DI-TII di Kampung Baraka Kabupaten Enrekang.
Disertasi Kepemimpinan Sanusi Daris dalam Dinamika Komunitas Duri Kabupaten Enrekang dapat disimpulkan beberapa hal:
- Sanusi Daris lahir dan dibesarkan pada sebuah komunitas yang telah memiliki sistem sosial yang teratur, yaitu komunitas Duri. Jauh sebelum zaman sejarah, di sana sudah terdapat sebuah kerajaan yang dikenal dengan nama " Kerajaan Duri”. Komunitas Duri sangat memperhatikan rekrutmen pemimpin. Karena bagi komunitas tersebut, seorang pemimpin mempunyai kedudukan yang sangat penting dalam kehidupan masyarakat. Pemimpin identik dengan kemaslahatan, dan kesejahteraan, karena menentukan berkembang tidaknya “Tallu Lolo (manusia, ternak piaraan, dan tanam-tanaman)”. Apabila seorang pemimpin melakukan pelanggaran tata aturan hidup (aluk), akan membawa akibat serius bagi kehidupan masyarakat.
- Sanusi Daris lahir dari orang tua perpaduan etnis Duri dan etnis Toraja. Kedua orang tuanya masih tergolong keturunan Pemangku Adat. Itulah sebabnya pada saat tiba masa usia sekolah, Ia mendapat kesempatan mengikuti pendidikan. Ia pernah menjadi guru, melibatkan diri dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan, dan terakhir menjadi anggota DI-TII yang menyebabkan ia dicap sebagai pemberontak.
- Sanusi Daris adalah seorang pemimpin yang memiliki empati tinggi, amanah, dan bertanggung jawab. Ia dianggap sebagai pelindung, panutan, dan penyelamat. Karena itu ia sangat dicintai dan dilindungi oleh komunitasnya, baik pasukannya maupun masyarakat luas yang pernah berada di bawah pengaruhnya.
- Dengan kecerdasan, integritas, dan pengaruhnya, ia telah mampu mendorong terjadinya perubahan dalam kehidupan sosial budaya, membangkitkan etos kerja sehingga masyarakat terdorong memperbaiki kehidupannya dan meninggalkan cara-cara tradisional yang bertentangan dengan ajaran Islam.
- Sebagai seorang pemimpin, Sanusi Daris memiliki kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional, dan sekaligus kecerdasan spiritual Penghayatan dan ketaatan beribadah memperkokoh kepribadian dan jati dirinya sebagai pemimpin sehingga mampu mengelaborasi perannya dalam suasana genting sekalipun untuk mengatasi berbagai masalah yang dihadapi kelompoknya. Ia memiliki talenta kepemimpinan, diramu dengan warisan kultur komunitasnya, membuat aura penampilan fisiknya yang menyenangkan. Ia mahir dalam orasi-orasi agama dan politik untuk memberi inspirasi kepada konstituennya dalam mengemban tugas yang dibebankan di atas pundaknya. Ia adalah pemimpin yang mempunyai prinsip, integritas, dan karakter. Ia mengucapkan sesuatu dan ia mengamalkannya. Tidak pernah memberi janji, kecuali ia menepatinya. Tutur bahasanya menarik, dan perilakunya menyejukkan. Ke semuanya itu melahirkan pola kepemimpinan yang unik yang menjadikannya disegani, dihormati, dan dicintai oleh pengikutnya. Ia adalah pemimpin yang mempunyai pengaruh luar biasa dan dengan pengaruh tersebut ia mampu mendorong terciptanya sebuah sistem sosial yang religius, inklusif, dan dinamis kreatif dalam mencapai kemajuan. Ke semuanya itulah yang menjadikan dirinya dianggap sebagai pemimpin karismatik bagi komunitasnya.







.jpeg)





