Judul: Karebosi Dulu, Kini, & Esok
Penulis: Drs. Syahruddin Yasen, M.M., M.BA.
Editor: -
Penerbit: Pustaka Refleksi
Tahun
Terbit: 2008
Jumlah
Halaman: xi + 100
ISBN: 9783570881
Penulis
Resensi: Suharman, S.S., MIM.
Lapangan Karebosi di Makassar
adalah sebuah lapangan yang luas dan terbuka, yang juga merupakan landmark di
pusat kota Makassar. Nama Karebosi sendiri berasal dari bahasa Makassar yang
berarti "tanah lapang" atau "lapangan". Berbagai kegiatan
sosial sering diadakan di Lapangan ini misalnya, olahraga, Upacara, panggung
musik dan seni, dan pasar dan lain lain. Selain itu, Karebosi juga dikenal sebagai titik nol kota Makassar.
Buku ini sesuai dengan judulnya, berusaha menguraikan Karebosi sejak zaman
dulu, masa kini dan masa depannya. Dibagi
menjadi 3 bagian, diawali dengan pengantar dari penerbit dan penulis serta dari
Prof. Dr. H. Ahmad M. Sewang, M.A.
Bagian awal dibahas tentang sejarah asal mula Karebosi. Disebutkan bahwa
dulunya, Karebosi adalah hamparan sawah kerajaan Gowa. Menurut sejarahnya,
awalnya disebut Kanrobosi yang kemudian berubah menjadi Karebosi. Kisah mistik
lainnya yang terkait Karebosi juga diungkap pada bagian awal ini, misalnya
adanya 7 makam keramat yang sampai sekarang setelah penataan (revitalisasi)
tetap ada di lapangan Karebosi. Dikisahkan pula legenda Sepak Bola asal
Makassar; Ramang yang dulu sering main bola di Karebosi. Selanjutnya muncul ide Revitalisasi pada masa
pemerintahan Walikota Ilham Arief Sirajuddin (2004-2009).
Karebosi dimasa sekarang dalam dimensi politik, ekonomi dan sosial budaya
diuraikan dalam bagian kedua. Mulai dari kronologi revitalisasi Karebosi, yang
oleh Walikota Ilham Arief Sirajuddin dianggap semakin tidak kondusif sebagai
representasi public space atau ruang terbuka untuk umum. Walikota
kemudian menyurat ke Menteri Dalam Negeri membahas tentang rencana Revitalisasi
Karebosi. Selanjutnya dijelaskan berbagai hal terkait revitalisasi Karebosi, ,
mulai dari legitimasi tanah Karebosi, pengelolaan asset daerah, pembentukan
panitia tender, pro kontra revitalisasi, demo yang menentang revitalisasi,
gugatan trhadap Walikota, dan lain lain.
Bagian akhir adalah pembahasan tentang masa depan Karebosi yang disebutkan
oleh penulis bahwa revitalisasi Karebosi adalah sebuah ’keharusan sejarah’. Dikutip
pada bagian ini dan juga pada bagian awal beberapa local wisdom atau kearifan
lokal yaitu pesan para leluhur Bugis Makassar terkait kebijakan para pemimpin
dalam mengambil keputusan. Tidak hanya itu, sejarah 2 kerajaan kembar Gowa –
Tallo dan kerajaan Bugis lainnya juga banyak diulas dalam bagian akhir ini. Tak
lupa penulis menguraikan perbandingan Karebosi dengan beberapa lapangan
terkenal yang ada di negara luar. Solusi terhadap beberapa problematika yang
menyangkut Karebosi diulas pula pada bagian akhir ini. Sarana dan prasarana
yang melengkapi Karebosi setelah revitalisasi dijadikan penutup buku ini.
Buku ini sangat lengkap mengulas Karebosi di Makassar, dan dapat dijadikan
bahan rujukan bagi siapa pun yang berminat mengkaji dan meneliti sejarah
perkembangan Lapangan Karebosi.
Sayang sekali buku ini tidak memiliki illustrasi baik gambar sketsa, foto,
kartun atau apapun itu yang bisa membantu pembaca dalam menvisualisasikan
lapangan Karebosi. Hanya sampulnya yang bergambar foto lama Karebosi, 7 makam
yang ada di Karebosi dan foto maket Karebosi terkini hasil revitalisasi.
Buku ini koleksi Referensi, Layanan Perpustakaan Umum, UPT Layanan
Perpustakaan, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Sulawesi Selatan.

