Showing posts with label Tarekat. Show all posts
Showing posts with label Tarekat. Show all posts

April 23, 2025

Tarekat Imam Lapeo

 



Judul:                           Tarekat Imam Lapeo

Penulis:                        Muh. Yusuf Naim & Mohammad Natsir

Editor:                           -

Penerbit:                     Pustaka Refleksi

Tahun Terbit:             2005

Jumlah Halaman:   ix + 94

ISBN:                           9793570105

Penulis Resensi:       Suharman, S.S., MIM.

AGH Muhammad Thahir atau lebih dikenal dengan nama “Imam Lapeo” adalah seorang ulama besar yang kharismatik   dari tanah Mandar. Buku ini membahas perjalanan hidup Imam Lapeo serta tarekat tarekat yang diajarkannya yang sampai sekarang masih banyak dianut oleh masyarakat Mandar.

Imam Lapeo adalah seorang Ulama, Sufi dan tokoh yang tidak hanya penuh kharisma tapi juga pemberani, cerdas dan selalu mengedepankan nilai nilai kemanusiaan. Bahkan beliau juga dipercaya memiliki kemampuan supranatural, misalnya mampu menaklukkan pemilik ilmu hitam, dan mampu menghilang dari pandangan. Ada juga masyarakat yang menyebut Imam Lapeo sebagai Wali atau Waliullah, yang hidup pada abad ke-19, masa dimana bangsa Indonesia, termasuk Sulawesi dan tanah Mandar masih dalam penjajahan bangsa Belanda.

Imam Lapeo lahir tahun 1838 di Pamboang, wilayah kecamatan Tinambung sekitar 40 km dari ibukota kabupaten Polewali Mandar. Beliau lahir dari keluarga baik baik dan taat beragama. Masa kecilnya dilewatkan di tanah Mandar belajar agama dan membantu orang tuanya mencari ikan di laut. Pada masa remajanya (15 tahun) telah ikut pamannya ke tanah Minang (Sumatera Barat) untuk berdagang kain Sutra. Namun ternyata beliau tinggal disana sampai beberapa tahun, menuntut ilmu agama. Imam Lapeo juga sempat menimba ilmu agama di tanah suci Makkah dan Istambul, Turki.

Metode dakwah yang dilakukan oleh Imam Lapeo pada masa awalnya adalah dengan dakwah dari rumah ke rumah kepada perseorangan, dari masjid ke masjid dan juga pada upacara upacara adat. Pada masa itu masyarakat masih banyak yang mencampur-adukkan agama dengan tradisi lokal. Pada kesempatan itulah Imam Lapeo menekankan akan ke-Esa-an Allah, dan meyakinkan masyarakat bahwa banyak ritual adat yang dibuat oleh orang orang dulu.

Terkait dengan namanya, Lapeo adalah salah satu nama kampung di tanah Mandar dimana beliau bersama rakyat setempat membangun masjid dan beliaulah yang menjadi Imam masjid tersebut sehingga masyarakat lebih mengenal beliau sebagai Imam Lapeo.

Dikisahkan pula bagaimana peran Imam Lapeo dalam perjuangan kemerdekaan, sejak masa kolonial Belanda dan pendudukan Jepang.

Tarekat atau ajaran Imam Lapeo melalui jalur Tasawuf atau Sufisme dimana beliau menekankan pada penanaman keyakinan kepada murid dan pengikutnya. Tarekat Imam Lapeo disebut oleh beliau “Nur Muhammad”  yang bertumpu pada pengagungan kebesaran Nabiullah Muhammad SAW. Tarekat Nur Muhammad ini kemudian diaktualisasikan dalam bentuk tiga tingkatan pokok ajaran yaitu Takhalli, Tahalli dan Tajalli. Takhalli adalah mengosongkan jiwa dengan cara membersihkan diri dari sifat sifat angkuh, sombong, tamak, merasa lebih dari orang lain, merasa lebih mampu, merasa lebih pintar. Tahalli adalah sifat sesorang yang telah mampu menghilangkan prasangka buruk orang lain, seperti iri, dengki, tamak, yang dapat menghalangi untuk berbuat benar. Tajalli adalah tahapan atau tingkatan tertinggi karena para tingkatan ini manusia sudah mampu melepas seluruh penghalang dalam melakukan hubungannya sebagai hamba kepada penciptanya. Tingkat tertinggi ini hanya dimiliki oleh orang yang sudah masuk kategori “waliullah” atau Wali Allah.

Buku ini sangat informatif tentang kehidupan dan ajaran Imam Lapeo, meskipun ringkas namun informasinya cukup lengkap. Hanya saja, buku ini agak susah diakses dan dimiliki oleh masyarakat umum, karena diterbitkan oleh penerbit lokal 20 tahun lalu dan mungkin sekarang ini tidak ditemukan lagi di toko buku lokal.

Buku ini koleksi Layanan Umum Perpustakaan, UPT Layanan Perpustakaan, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Sulawesi Selatan.



June 8, 2022

SYEKH YUSUF : SEORANG ULAMA, SUFI DAN PEJUANG

 

Syekh Yusuf adalah sosok yang sering terdengar di masyarakat Sulawesi Selatan khususnya Kabupaten Gowa dan kota Makassar. Namun secara nasional, sosok Syekh Yusuf masih jarang terdengar karena tenggelam di antara ragam legenda yang bersifat mitologis. Syekh Yusuf Al-Makassari Al-Bantani lahir pada masa kerajaan Gowa di bawah pemerintahan Sultan Alauddin pada tanggal 3 Juli 1626 Masehi. Beliau adalah seorang ulama syariat, sufi dan khalifah tarekat. 

Pada usia 18 tahun pasca kekalahan kerajaan Gowa oleh Belanda, Syekh Yusuf pindah ke Banten dan menjadi Mufti kesultanan disana. Dalam perjalanan hidupnya, Syekh Yusuf pernah dianggap sebagai “duri dalam daging” oleh pemerintah Hindia Belanda, menjadikan Syekh Yusuf sebagai sosok yang dimusuhi pada saat itu. Syekh Yusuf kemudian diasingkan ke Ceylon atau yang kini disebut Sri Lanka, lalu dipindahkan ke Afrika Selatan. Berkat dakwahnya yang tidak pernah berhenti, Beliau menjadi peletak dasar lahirnya komunitas muslim di Afrika Selatan dan Ceylon. Nelson Mandela, mantan Presiden Afrika Selatan, menyebutnya sebagai salah seorang putra terbaik Afrika.

Tarekat yang dianut oleh murid-murid Syekh Yusuf adalah tarekat Khalwatiyah, tarekat ini tentu saja tersebar luas di Banten, Sri Lanka, Cape Town (Afrika Selatan) dan Sulawesi Selatan utamanya Makassar dan masyarakat Bugis. Namun, bukan hanya tarekat Khalwatiyah saja, Syekh Yusuf juga mengajarkan Naqsyabandiyah, Syattariyah, Ba’alawiyah dan Qadiriyah, sesuai dengan ijazahnya. Syekh Yusuf berguru kepada ulama terkemuka yang ada di Mekkah dan Madinah. Beliau berdakwah dengan damai  tanpa ada pertikaian meskipun ajaran yang diajarkannya berbeda dengan ajaran beberapa ulama yang ada pada saat itu.

Bersama dengan sahabatnya- Sultan Ageng Tirtayasa, Syekh Yusuf melakukan perlawan terhadap Kompeni. Bahkan, setelah wafatnya Sultan Ageng Tirtayasa dan berada di perasingan, Beliau juga tidak pernah gentar dalam menghadapi penindasan dan perbudakan. Setelah perjuangan dan dakwah yang panjang, Syekh Yusuf wafat pada tanggal 23 Mei 1699 Masehi di Cape Town (Afrika Selatan).

Karya ini berjudul “Syekh Yusuf : Seorang Ulama dan Pejuang” yang disusun oleh Abu Hamid, di dalamnya memaparkan perkenalan singkat hingga sejarah suku dan bangsa Makassar, tempat  Syekh Yusuf berasal. Karya ini juga memuat rangkuman naskah-naskah yang menjelaskan bagaimana perjalan hidup, ajaran yang diajarkan dan bagaimana pandangan hidup seorang Syekh Yusuf. Tak lupa, pengaruh ajaran Syekh Yusuf khususnya tarekat pada kehidupan para pengikutnya juga dijelaskan dalam buku ini. Menurut penulis, ajaran Syekh Yusuf kepada para pengikutnya termasuk jalan yang moderat, yakni pengendalian indera dan hawa nafsu.

Karya ini juga membahas konsepsi tasawuf Syekh Yusuf melalui pengkajian risalah-risalahnya dan menunjukkan bagaimana kehadirannya  dalam sejarah penyebaran ajaran tarekat sangat berpengaruh khususnya Sulawesi Selatan. Karya ini bisa dibaca secara fisik dan lengkap di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan pada Layanan Deposit yang berlokasi di jalan Sultan Alauddin Km.7 Tala'salapang Kota Makassar. 


SYEKH YUSUF : SEORANG ULAMA, SUFI DAN PEJUANG

Penulis : Abu Hamid

Penerbit : Yayasan Obor Indonesia

Tempat Terbit : Jakarta

Tahun Terbit : 1994

ISBN : 979-461-175-1