Showing posts with label To Manurung. Show all posts
Showing posts with label To Manurung. Show all posts

April 22, 2025

Sejarah SOPPENG, dari Tomanurung hingga Masa Penjajahan Belanda

 



Judul:                           Soppeng, Dari Tomanurung Hingga Penjajahan Belanda

Penulis:                        Syahrir Kila, Sahajuddin & Muhammad Amir

Editor:                         Andi Wanua Tangke

Penerbit:                     Pustaka Refleksi

Tahun Terbit:               2018

Jumlah Halaman:        xii + 238

ISBN:                            9786025887048

Penulis Resensi:          Suharman, S.S., MIM.

Topik utama pembahasan buku ini adalah sejarah Soppeng mulai masa Tomanurung, masa kerajaan, dan masa pasca kemerdekaan. Soppeng adalah salah satu kabupaten yang ada di Provinsi Sulawesi Selatan, dengan ibukotanya Watang Soppeng. Kabupaten Soppeng termasuk salah satu kabupaten di Sulawesi Selatan yang kaya akan artefak dan fosil peninggalan masa pra-sejarah.

Buku ini terbagi menjadi 3 bagian, yang masing masing bagian ditulis oleh orang yang berbeda. Penulisnya masing masing adalah : Syahrir Kila, Sahajuddin dan Muhammad Amir. Diawali dengan Pengantar dari Penerbit, dan Pengantar dari Editor. Kemudian bagian pertama di tulis oleh Syahrir Kila yang mengupas tentang berdirinya Kerajaan Soppeng hingga masuknya Agama Islam ke daerah tersebut.

Penulis pertama menguraikan berbagai fragmen sejarah Soppeng, mulai dari berdirinya Kerajaan Soppeng, masa Tomanurung, terbentuknya Kerajaan Soppeng, asal usul penamaan wilayah, terbentuknya Persekutuan Tellumpoccoe, sampai pada masuknya Agama Islam di Kerajaan Soppeng. Diuraikan oleh penulis bahwa sejak ratusan tahun silam, Soppeng telah dihuni oleh manusia purba, dengan bukti ditemukannya berbagai alat alat batu yang sederhana. Tentang Tomanurung, yang dalam hal ini dimaksudkan sebagai seorang dewa yang turun kebumi, yang kemudian menjadi raja pertama. Disebutkan bahwa ada dua Tomanurung di Soppeng yaitu, Tomanrurung Goarie dan Tomanurung di Sekkanyili.

Pergolakan dan perkembangan Kerajaan Soppeng pada masa pra- dan pasca perang Makassar adalah topik pembahasan kedua. Bagian ini ditulis oleh Sahajuddin. Pada bagian ini diuraikan secara ringkas tentang pergolakan sebelum Perang Makassar, keadaan Soppeng pada masa Perang Makassar, strategi Soppeng pada masa perang Makassar dan Soppeng pada masa VOC hingga Hindia Belanda. Perang Makassar yang dimaksud pada bagian ini adalah Perang yang terjadi antara 1666 – 1669. Disebutkan bahwa pasca Perang Makassar, Kerajaan Bone mengambil alih Supremasi Kerajaan Gowa Tallo dan mengubah tatanan sosial dan politik di daerah Soppeng.

Terakhir dibahas Soppeng dibawah kekuasaan Pemerintah Hindia Belanda 1905-1942. Pada bagian ini, kembali diulas tentang Kerajaan Soppeng secara ringkas, Soppeng dalam mata rantai ekspedisi militer Belanda, penataan Wilayah Kekuasaan Belanda dan pelaksanaan pemerintahan. Pada bagian terakhir ini, dibahas tentang bagaimana pemerintah kolonial Belanda berusaha memperluas wilayah kekuasaannya di Sulawesi Selatan, termasuk menguasai kerajaan Gowa, Bone, dan Soppeng.

Masing masing bagian buku ini ada daftar isi, sehingga pembaca dapat menambah daftar referensi yang digunakan penulis. Pembaca juga dapat membaca bagian mana saja yang dianggap perlu, karena ketiga bagian dalam buku masing masing membahas topik yang berbeda meskipun semua berkaitan dengan daerah Soppeng.

Buku ini cukup lengkap membahas tentang sejarah Soppeng, karena membahas Soppeng sejak masa Tomanurung, sampai masa kolonialisme Belanda. Pembaca yang ingin mengetahui lebih dalam tentang Soppeng dapat direkomendasikan buku ini.

Buku ini akan lebih baik jika dilengkapi dengan illustrasi menarik, baik berupa gambar, foto, maupun sketsa. Akan lebih baik lagi jika dilengkapi dengan indeks, sehinggap pembaca dapat dengan mudah menemukan topik apa yang dibutuhkannya dalam buku ini.

Secara umum, buku ini perlu dibaca khususnya warga kabupaten Soppeng, maupun warga lain secara umum. 




March 8, 2025

Asal Usul Raja Raja Pertama di Sulawesi Selatan

 


Judul:                          Asal Usul Raja Raja Pertama di Sulawesi Selatan

Penulis:                       Tim Aksara     

Editor:                        Drs. H. Nonci, S.P.

Penerbit:                     CV Aksara

Tahun Terbit:               -

Jumlah Halaman:        iv + 76

ISBN:                            -

Penulis Resensi:          Suharman, S.S., MIM.

Tujuan utama penulisan buku ini adalah untuk menambah koleksi perpustakaan sekolah sehingga perpustakaan sekolah dapat diberdayakan dalam rangka peningkatan pemahaman anak sekolah terhadap koleksi muatan lokal. Penulis buku ini adalah Tim Aksara dan editornya adalah Drs. H. Nonci, S.P., yang juga banyak menulis buku bermuatan lokal Sulawesi Selatan.

Buku ini disusun dalam 4 bab diawali dengan Pendahuluan dimana berbagai topik diulas dengan ringkas. Topik pertama adalah ‘Sianre Bale’ yang merujuk pada istilah hukum rimba dalam bahasa Bugis, dimana yang kuat yang berkuasa. Keadaan ini terjadi dimasa silam dalam kehidupan orang Bugis. Diungkapkan pula pada bagian ini, hasil penelitian H.R. Von Heekeren mengenai fosil vertebrata di Lilirilau, Soppeng pada tahun 1968 dan 1970.

Selanjutnya diuraikan tentang asal usul raja raja di Sulawesi Selatan yang berasal dari To Manurung. Meskipun judulnya Asal Usul Raja Pertama di Sulawesi Selatan, namun dalam buku ini hanya mengulas tiga daerah yaitu asal usul raja pertama di Gowa, Bone dan Soppeng.

Bagian kedua atau bab kedua membahas tentang ‘To Manurung’ di Gowa. To Manurung adalah istilah untuk manusia titisan dewa atau manusia setengah dewa dimasa lampau yang kemudian oleh masyarakat setempat, diwakili oleh dewan adat, dijadikan pemimpin atau raja. Diuraikan pula disini keadaan Gowa pada masa sebelum datangnya To Manurung, kemudian masa datangnya To Manurung dan tentang Batara Manurung. Pada bagian ini juga di uraikan secara lengkap silsilah raja Gowa mulai dari To Manurung sampai Sultan Hasanuddin,  lengkap dengan nama nama anak dan istri mereka.

Selanjutnya bagian yang membahas To Manurung di Bone. Diawali dengan pembahasan masa masa sebelum datangnya To Manurung. Pada masa itu dibagi dalam 2 periode atau zaman yaitu zaman La Galigo dan zaman Peralihan. Masa masa datangnya To Manurung, dan terbentuknya 7 kelompok atau wanua yaitu: Wanua Ujung, Wanua Tibojong, Wanua Ta’, Wanua Tanete Riattang, Wanua Tenete Riawang, Wanua Ponceng dan Wanua Macege. Ketujuh pemimpin kelompok ini tergabung dalam Dewan Ade Pitue.

Diuraikan pula struktur pemerintahan kerajaan Bone dimana ada Raja yang disebut juga MangkauE (raja yang berkuasa dan duduk di atas tahta kerjaan), ada To Marilalang atau orang dalam atau sama dengan Perdana Menteri diera moderen sekarang ini. Setelah To Marilalang, berturut turut ada Anggota Hadat, Jemma Tongeng, Anrong Guru Anak Karaeng, Tomalompona Towangke, Anrong Guru Pukalawing Epu, Suro (Suro SeppuloEdua), Parennung, Juru Bahasa, dan terakhir Juru Tulis.

Bagian terakhir adalah To Manurung di Soppeng. Sama seperti bagian bagian sebelumnya, diawali dengan masa masa sebelum datangnya To Manurung, dan masa datangnya To Manurung. Ada yang menarik disini, menurut penulis buku, bahwa kata Soppeng berasal dari penggabungan dua kata yaitu Sosso dan Lappeng yang akhirnya menjadi Soppeng.

Buku ini cukup informatif menguraikan tentang asal usul raja pertama di 3 kerajaan di Sulawesi Selatan yaitu Bone, Soppeng dan Wajo. Masa datangnya To Manurung dan masa pemerintahan raja setelahnya.

Namun ada juga kekurangannya yaitu, meskipun disebutkan Sulawesi Selatan, namun hanya 3 daerah yang diulas. Bahkan kerajaan Wajo, Luwu, dan kerajaan lainnya tidak dibahas sama sekali. Mungkin karena kerajaan lain tidak mengawali kepemimpinannya dengan To Manurung?

Buku ini koleksi Layanan Perpustakaan Umum, UPT Layanan Perpustakaan, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Sulawesi Selatan. 




July 1, 2022

LONTARA'NA SOPPENG : Dari Kerajaan-Kembar Menuju Kabupaten


Pengertian Lontara secara luas yaitu "setiap karya tulis", baik berupa sejarah, ceritera, dongeng, mitos dan lain-lain. Maka judul buku Lontara'-na Soppeng dari Kerajaan-Kembar menuju Kabupaten ini dapat diartikan sebagai: "Suatu karya- tulis yang berhubungan dengan kisah-kisah atau sejarah yang disebut pattoriolong atau attoriolong dari suatu wilayah yang bernama Soppeng dan hal-hal lain yang melatarbelakanginya. Isinya ditulis dalam bahasa Indonesia dengan aksara Latin". Penggunaan aksara berhubungan dengan kisah, sejarah dan budaya orang Bugis, khususnya Soppeng, di masa akhir.

Kerajaan Soppeng terbentuk berawal dari kehadiran sosok manusia yang disebut sebagai to- manurung yang artinya orang yang turun (dari langit), yang diangkat dan ditampilkan sebagai tokoh sentral dengan gelar "Datu"   (pemimpin, raja/ratu) dalam yang disebut kerajaan. Keunikan terbentuknya kerajaan Soppeng disebabkan karena sebelum kerajaan Soppeng terbentuk, kerajaan Marioriwawo telah ada dan dipimpin oleh seorang ratu ( Datu ) yang bergelar Datu Marioriwawo yaitu We Temmapuppu Manurung-e ri Goari-e tersebut berada di wilayah kekuasaan atau pemerintahan Arung (Matoa) Libureng. 

Ketika La Temmamala Manurung-e ri Sekkanyili diajak oleh para Matoa yang mewakili kelompok-kelompok anang (kaum yang berdasarkan genealogis) untuk diangkat menjadi pemimpin yang dapat mempersatukan kelompok-kelompok anang tersebut ke dalam suatu yang lebih besar, sebelum diangkat menjadi Datu (Raja/Pemimpin), pertama-tama harus dinikahkan dengan seorang wanita yang diakuinya sebagai sepupu satu-kalinya yang ada di Libureng yaitu We Temmapuppu Manurung-e ri Goari-e. Pada saat itu We Temmapuppu Manurung-e ri Goari-e telah berstatus sebagai Datu Marioriwawo (Ratu/Pemimpin) di kerajaan Marioriwawo, maka rakyat Marioriwawo merasa sangat menghargai bila Datu-nya tidak hanya sekedar diperisterikan oleh La Temmamala Manurung-e ri Sekkanyili tanpa hak dan kekuasaan yang sama dan setara dengan La Temmamala untuk memerintah, utamanya di kerajaan Marioriwawo. Sehingga pada akhirnya tercapai suatu kesepakatan bahwa kerajaan Soppeng harus dibentuk menjadi suatu sistem pemerintahan "Dwi Tunggal" yaitu  La Temmamala Manurung-e ri Sekkanyili diangkat menjadi Datu Soppeng-riaja dan We Temmapuppu Manurung-e ri Goari-e Datu Marioriwawo diangkat menjadi Datu Soppeng-rilau.

Sistem pemerintahan kerajaan kembar atau dwi-tunggal tersebut berlangsung aman dan damai hingga ke generasi-generasi atau periode-periode pemerintahan berikutnya. tetapi kemudian pada generasi atau periode ke-XII terjadi perang saudara  antara La Mataesso To Macora Puang Lipu-e selaku Datu Soppeng-riaja XII memerangi dan mengalahkan sepupunya La Makkarodda To Tenribali Mabbelua-e Datu Marioriwawo selaku Datu Soppeng-rilau untuk memperebutkan kekuasaan. Akibat dari perang saudara tersebut, sistem pemerintahan berubah total, yaitu dari sistem kerajaan kembar yang disebut Dua Arung Seddi Ata menjadi sistem pemerintahan kerajaan tunggal. dari sistem kerajaan tunggal inilah yang kemudian disebut sebagai kerajaan Soppeng, tidak ada lagi Soppeng-riaja dan Soppeng-rilau, dan sistem kerajaan tunggal ini berlangsung hingga akhir masa pemerintahan kerajaan-kerajaan Bugis yang disebut "Periode Lontara", yaitu setelah terbentuknya Kabupaten Soppeng sebagai suatu bagian dari wilayah NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia) pada tanggal 13 Maret 1957.

Buku LONTARA'NA SOPPENG : Dari Kerajaan-Kembar Menuju Kabupaten merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi di jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar. Isi buku ini sarat dengan nilai-nilai sejarah tentang Soppeng namun tidak menggunakan istilah "sejarah" pada judulnya karena ilmu sejarah sesungguhnya memiliki ketentuan-ketentuan untuk menjaga obyektivitas ilmiah ilmu itu. Sebagai sejarah, diperlukan data-data yang akurat untuk menentukan suatu kejadian itu diterima sebagai kejadian sejarah. oleh karena itu istilah "Lontara-na Soppeng" lebih tepat daripada "Sejarah Soppeng" karena sebagian data-datanya hanyalah bersumber dari kisah-kisah tutur. 

LONTARA'NA SOPPENG : Dari Kerajaan-Kembar Menuju Kabupaten

Penulis : M. Rafiuddin Nur

Editor : A. Saiful Haq

Penerbit : Rumah Ide

Tempat Terbit : Makassar

Tahun Terbit : 2007

ISBN : 978-979-980-761-8


June 7, 2022

SOPPENG : Dari Tomanurung Hingga Penjajahan Belanda


 

Soppeng adalah sebuah kota dimana dalam buku-buku lontara terdapat catatan tentang raja-raja yang pernah memerintah sampai berakhirnya status daerah Swapraja. Proses lahirnya kerajaan kembar Soppeng Riaja dan Soppeng Rilau dikenal dengan adanya Dua Datu Seddi Ata yang artinya dua pemimpin namun satu raja.

Buku SOPPENG : Dari Tomanurung Hingga Penjajahan Belanda Menjelaskan konsepsi raja pertama kabupaten Soppeng yaitu Latemmamala yang diutus untuk memerintah dikerajaan Soppeng yang dihuni masyarakat bugis asli yang memiliki sosial-kultural yang begitu unik hingga pemerintah Hindia Belanda melancarkan ekspedisi militer untuk menguasai secara langsung kerajaan-kerajaan lokal di Sulawesi Selatan pada tahun 1905.

Keunikan proses lahirnya Kerajaan Soppeng bermula dengan kedatangan Tomanurung Sekkanyili yang bernama Latemmamala yang kemudian para pemuka masyarakat sepakat menikahkannya dengan Tomanurung Goarie bernama La Temmapuppu. Soppeng yang sebelumnya dipimpin oleh 60 matoa atau pemuka masyarakat yang berdiri sendiri, kemudian perkawinan antar kedua Tomanurung tersebut telah mengakhiri kekuasaan dari para matoa. Meskipun Datu Latemmamala dan permaisurinya Datu Latemmapuppu hidup sebagai suami istri namun keduanya tetap menjabat jabatannya semula, Latemmamala sebagai Datu di kerajaan Soppeng Riaja dan Latemmapuppu sebagai Datu di kerajaan Soppeng Rilau. 

Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi di jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar.


SOPPENG : Dari Tomanurung Hingga Penjajahan Belanda

Penulis : Syahrir Kila

                 Sahajuddin

                 Muhammad Amir

Editor : Andi Wanua Tangke

Penerbit : Pustaka Refleksi

Tempat Terbit : Makassar

Tahun Terbit : 2018

ISBN : 978-602-5887-04-8

June 2, 2022

KEBUDAYAAN BUGIS - MAKASSAR DALAM PERSPEKTIF SEJARAH NUSANTARA

To Manurung dikaitkan dengan mitologi I Lagaligo atau Sawerigading. Istilah ini adalah nama yang digunakan, untuk pertama kalinya pada I Lagaligo. Sedangkan I Lagaligo dapat dipahami sebagai gejala kebudayaan Nusantara, terutama Jawa.

Buku KEBUDAYAAN BUGIS - MAKASSAR DALAM PERSPEKTIF SEJARAH NUSANTARA merupakan hasil kumpulan artikel yang pernah dipresentasikan dalam berbagai seminar nasional yang dipadukan dengan berbagai materi pengajaran. Berikut kumpulan artikel tersebut:

  1. Awal mula Kebudayaan Maritim Sulawesi Selatan
  2. Dari Batara Guru hingga To Manurung
  3. Sulawesi Selatan dalam Konteks Nusantara
  4. Klaim Kedaulatan dan Konflik-Konflik antar Kerajaan di Sulawesi Selatan
  5. Konflik antar Kerajaan dan Dampaknya di Sulawesi Selatan
  6. Perempuan dalam Budaya Bugis dan Makassar

Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar, yang mencoba  memahami masa lalu Sulawesi Selatan bukan sebagai entitas sejarah budaya yang tertutup sebaliknya sebagai bagian dari Nusantara. Dalam perspektif ini sejarah Sulawesi Selatan ditempatkan sebagai bagian integral dari sejarah nasional.

Fokus pembahasan buku ini menjelaskan perkembangan umum di Makassar dan daerah sekitarnya (Sulawesi Selatan pada umumnya) pada abad 15 sampai abad 18, dari dimensi sosial dan kebudayaan dalam konteks multikulturalis, dengan melacak persamaan budaya berbagai etnis di Nusantara khususnya khususnya historiografi historiografi (historiografi tradisional). 

Karya historiografi diharapkan akan turut memperkaya pemahaman tentang Makassar, sejak awal perkembangan, jaman kebesarannya dan masa surutnya, yang meliputi abad 14 sampai abad 19. Meskipun multikultur, Makassar bahkan Sulawesi Selatan adalah khas dengan corak tersendiri. Pembahasan tentang perempuan juga dihadirkan dalam buku ini terutama karena kedudukan dan peranannya yang khas Sulawesi Selatan itu, yang berbeda dengan daerah lain. Memahami kebudayaan Sulawesi Selatan tidak lengkap tanpa memahami perempuannya.


KEBUDAYAAN BUGIS - MAKASSAR DALAM PERSPEKTIF SEJARAH NUSANTARA
Penulis: Bambang Sulistyo
Editor: Yusring Sanusi
Penerbit: Pusat Kajian Media dan Sumber Belajar LKPP Universitas Hasanuddin
Tempat Terbit: Makassar
Tahun Terbit: 2017
ISBN: 978-602-61186-5-3





May 25, 2021

KARAMPUANG DAN BUNGA RAMPAI SINJAI

Karampuang adalah nama sebuah kampung yang terletak sekitar 31 km arah barat Ibu Kota Kabupaten Sinjai yang memiliki sejarah panjang serta beberapa keunikan yang disandangnya. Kehadiran Karampuang berawal dari adanya suatu peristiwa besar yakni dengan munculnya seseorang yang tak dikenal, dan dikenal sebagai To Manurung.

To Manurung ini muncul di atas sebuah bukit yang saat ini dikenal dengan nama Batu Lappa. Dalam Lontara Karampuang dikisahkan bahwa asal mula adanya daratan di Sinjai, berawal di Karampuang. Dahulu daerah ini adalah merupakan wilayah lautan sehingga yang muncul tempurung yang tersembul di atas permukaan air. Di puncak Cimbolo inilah muncul To Manurung yang akhirnya digelar Manurung KrampuluE (seseorang yang karena kehadirannya menjadi bulu kuduk warga berdiri). Kata KrampuluE tadi akhirnya berubah menjadi Kampuang.

Penamaan selanjutnya adalah perpaduan antara karaeng dan puang akibat dijadikannya lokasi itu sebagai pertemuan antara orang-orang Gowa yang bergelar karaeng dan orang-orang Bone yang bergelar puang. Setelah Manurung KarampuluE diangkat oleh warga untuk menjadi raja, maka dia memimpin warga untuk membuka lahan-lahan baru. Tak lama kemudian dia mengumpulkan warganya dan berpesan, eloka tua, tea mate, eloka madeceng, tea maja: ungkapan ini adalah suatu pesan yang mengisyaratkan kepada warga pendukungnya untuk tetap melestarikan segala tradisinya.

Setelah berpesan maka tiba-tiba lenyap. Tak lama kemudian terjadi lagi peristiwa yang besar yakni dengan hadirnya tujuh to manurung baru yang awalnya muncul cahaya terang  di atas busa-busa air. Setelah warga mendatangi busa-busa itu, maka telah muncul tujuh to manurung tadi dan diangkat sebagai pemimpin baru. Pemimpin yang diangkat adalah seorang perempuan sedangkan saudara laki-lakinya diperintahkan untuk menjadi raja di tempat lain dan menjadi to manurung-to manurung baru. Dalam lontara dikatakan, "laocimbolona, monrocapengna". Pada saat melepaskan saudara-saudaranya, di berpesan, "nonnono makkale lembang, numaloppo kuallinrungi, numatanre kuaccinaungi, makkelo kuakkelori, ualai lisu". (Turunlah kedaratan, namun kebesaranmu kelak harus mampu melindungi Karampuang, raihlah kehormatan namun kehormatan itu kelak turut menaungi leluhurmu. Meskipun demikian segala kehendakmu atas kehendakku juga, kalau tidak, maka kebesaranmmu akan aku ambil kembali).

Akhirnya mereka menjadi raja di Ellung Mangenre, Bonglangi, Bontona Barua, Carimba, Lante Amuru dan Tassese. Dalam perjalanan masing-masing diamanahkan untuk membentuk dua gella. Dengan demikian maka terciptalah 12 gella baru, yaitu Bulu Biccu, Salohe, Tanete, Maroanging, Anakarung, Munte, Siung, Sulewatang Bulo, Sulewatang Salohe, Satengnga, Pangepena Satengna. Setelah saudaranya telah menjadi raja, saudara tertuanya yang tinggal di Karampuang pun lenyap dan meninggalkan sebuah benda. Kelak benda inilah yang dijadikan sebagai arajang dan sampai saat ini disimpan di rumah adat. Sedangkan untuk menghormati to manurung tertua ini, maka rumah adatnya, semua dilambangkan dengan simbol perempaun.

Buku KARAMPUANG DAN BUNGA RAMPAI SINJAI membahas tentang kampung tradisional Karampuang yang ditinjau dari pola hidup pendukungnya serta keberadaan lembaga adatnya. Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar.


KARAMPUANG DAN BUNGA RAMPAI SINJAI
Penulis: Muhannis
Editor: Zainal Abidin Ridwan
Penerbit: Ombak Yogyakarta
Tempat Terbit: Yogyakarta
Tahun Terbit: 2009
ISBN: 978-979-3837-28-4


April 27, 2021

PERISTIWA TAHUN TAHUN BERSEJARAH DAERAH SULAWESI SELATAN DARI ABAD KE XIV s/d XIX

Kerajaan-kerajaan di Sulwesi Selatan terbagi atas kerajaan sebelum masa lontara dan kerajaan-kerajaan sesudah masa lontara. Kerajaan sebelum masa lontara di sebut Kerajaan Bugis Makassar Purba, masing-masing Kerajaan Ussu’ (kemudian dikenal dengan nama kerajaan Luwu) dan Kerajaan Siang (sekarang Pangkajene Kepulauan). Abad berdirinya kerajaan ini tidak dapat diketahui secara pasti. Namun beberapa ahli sejarawan di daerah ini sepakat mengatakan, bahwa Kerajaan Ussu’ atau Luwulah merupakan sebuah kerajaan tua yang yang kekuasaannya sangat besar di Sulawesi Selatan sebelum abad ke-XIV, dan juga merupakan cikal-bakal bagi adanya kerajaan-kerajaan Bugis-Makassar di Sulawesi Selatan yang baru berdiri sekitar abad ke-XIV.

Kerajaan Ussu' berpusat disekitar Kota Palopo, meliputi sebahagian tanah Bugis (termasuk Toraja), Luwu-Banggai, Gorontalo, serta sebagian wilayah daerah Sulawesi Tenggara yang kemudian daerah-daerah itu bernama: Tompotikka. Sedangkan Kerajaan Siang berpusat di sekitar Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep) dengan peta wilayah dari Maros sampai ke Tanete (Barru) termasuk seluruh kepulauan Spormondes.

Ketika Batara Guru, La Toge'tana naik takhta disekitar tahun 800 Masehi, Kerajaan Ussu' dirubah namanya menjadi Kerajaan Luwu. Beliau memperanakkan Batara Lattu yang kemudian melahirkan Sawerigading, tetapi ia tidak pernah menjadi raja dikerajaannya, walaupun Saweringading itu sebenarnya adalah seorang putera mahkota yang amat besar dan lagi terkenal. Hal ini karena beliau mempunyai kegemaran merantau atau berlayar dari satu pelabuhan ke pelabuhan yang lain di dalam wilayah kepulauan Nusantara., bahkan sampai ke Semenanjung Melayu dan Tiongkok. Dari beliau ini (Saweringading) lahirlah I La Galigo yang kemudian namanya ditabalkan sebagai judul dari buku karya sastra yang terbesar di dunia pada jamannya, "Sure I La Galigo".

Masa I La Galigo kemudian digantikan oleh La Tenri Tatta dan masa terakhir dari zaman kekuasaan raja-raja lagendaris atau periode dewa-dewa. Setelah masa La Tenri berakhir maka Kerajaan Luwu memasuki zaman kegelapan, yaitu di mana tidak adanya pusat kekuasaan yang dapat mempersatukan rakyat Luwu. Masa ini dikenal dengan istilah "Sianre Baleni Tauwe" (maksudnya= siapa yang kuat itulah yang dapat bertahan hidup atau berkuasa). Masa kegelapan di Kerajaan Luwu ini berlangsung selama tujuhbelas generasi dan baru berakhir disekitar abad ke-XIV yakni ketika munculnya seorang tokoh atau penguasa baru yang dikenal "To Manurrung" (orang yang turun dari langit) "Simpuru Siang". Tokoh inilah yang diduga sebagai penyelamat dan pelanjut atau peletak dasar dari pemerintahan Luwu setalah melewati masa kegelapan/kekacauan selama 17 tahun lamanya. Periode To Manurrung Simpuru Siang disebut masa/periode lontara dalam sejarah Kerajaan Luwu.

Dari buku I La Galigo maupun dalam lontara Gowa menyebutkan, bahwa nenek moyang Sawerigading dari Kerajaan Luwu itu bersaudara dengan Sriwijaya. Sedangkan menurut sumber-sumber Portugis, bahwa sekitar tahun 1100 Masehi salah seorang Ratu dalam Kerajaan Siang yang bernama Gadimaro diperistrikan oleh Raja Ussu' Kerajaan Gowa disekitar abad ke-XIV, yakni pada zaman pemerintahan Raja Gowa ke-IX, Daeng Matanre Karaeng Mangutungi dengan gelar anumerta Tumapa'risi Kallonna. Akhirnya penaklukan itu Kerajaan Siang ke,mudian melebur diri secara integratif ke dalam wilayah kekuasaan Kerajaan Gowa, seperti malalui kawin-kawin antara kedua keluarga dan bangsawan itu.

Buku PERISTIWA TAHUN TAHUN BERSEJARAH DAERAH SULAWESI SELATAN DARI ABAD KE XIV s/d XIX menyajikan berbagai peristiwa serta tahun-tahun bersejarah yang membuktikan Sulawesi Selatan sejak dari dahulu telah memahami hak dan tanggung jawabnya sebagai suatu bangsa, karena menentang setiap unsur yang berusaha merebut hak dan kedaulatannya. Buku ini salah satu kolekasi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar.


PERISTIWA TAHUN TAHUN BERSEJARAH DAERAH SULAWESI SELATAN DARI ABAD KE XIV s/d XIX
Penerbit: Rachmah, L. T. Tangdilintin, Aminah Pabittei, Ridwan Borahima
Penerbit: Kantor Wilayah Depdikbud Prov. Sulawesi Selatan
Tempat Terbit: Ujung Pandang
Tahun Terbit: 1985

 

March 19, 2021

LONTARAK TELLUMPOCCOE

Naskah kuno lontarak Tellumpoccoe memuat informasi kesejarahan yang bersangkut paut dengan perkembangan pemerintahan dalam berbagai kerajaan lokal, mulai zaman kedatangan to-manurung lokal sekitar tahun 1326 sampai jatuhnya Kerajaan Gowa oleh kekuatan Kompeni Belanda pada tahun 1667.

Dalam lontarak tersebut tercatat beberapa kerajaan lokal yang terhitung cukup besar pengaruhnya di kawasan jazirah Sulawesi Selatan pada masa itu, antara lain Kerajaan Bone, Wajo, Soppeng, Luwu dan Kerajaan Gowa. Masing-masing kerjaan saling berhubungan antara satu sama lain, baik dalam bentuk hubungan damai maupun peperangan.

Dalam lontarak (transliterasi dan terjemahan No. 03 sd N0. 25) termuat keterangan bahwa sejak berakhirnya masa pemerintahan raja-raja yang tercatat namanya dalam epos Galigo maka di kawasan Tanah Bone dan sekitarnya tidak ada lagi kedamaian. Tidak ada bentuk pemerintahan apa pun. Tidak ada ketertiban. Tidak ada hukum. Tidak ada keadilan dan peradilan.

Kalau ada hukum, maka satu-satunya hukum yang berlaku ketika itu hanya "hukum rimba", hukum kekerasan yang halalkan semua cara untuk mencapai tujuan tertentu. Keadaan ini tercermin secara nyata dalam lontarak (transliterasi/terjemahan No. 03 s/d 04).

Pemberitaan lontarak menunjukkan secara nyata, bahwa sejak berakhirnya masa pemerintahan raja-raja yang tercatat namanya dalam epos Galigo, maka di kawasan Tanah Bugis dan sekitarnya tidak ada lagi bentuk pemerintahan sama sekali. Selaku konsekuensi logis, masyarakat ketika itu tidak mengenal lagi kata mufakat dan musyawarah. Bahkan, mereka saling memangsa antara sesamanya. Mereka saling mengkhianati. Tidak lagi aturan dan peraturan, apalagi yang dinamakan keadilan dan peradilan. Jelas mereka hidup dalam masa kekacau-balauan di situ manusia saling memangsa bagaikan ikan. Keadaan seperti ini berlanjut selama tujuh angkatan, tujuh generasi yang dalam istilah lontarak disebut pitutureng (tujuh musim).

Setelah berlalu tujuh musim, keadaan yang serba kacau balau tersebut mengalami perubahan dengan datangnya tokoh to manurung yang kemudian disepakati oleh penduduk untuk dinobatkan menjadi pimpinan, sekaligus raja berdaulat di kawasan Tanah Bone. Dalam pengistilahan bahasa daerah Bugis to manurung merupakan kata jadian, berasal dari kata kerja; dan "turung" artinya turun. To-ma-nurung berarti orang yang turun (dari kahyangan: langit).

Pemahaman anggota masyarakat tentang to manurung merupakan cerita khayalan yang beralih secara turun-temurun dari satu generasi ke lain generasi. Kendati pun demikian terbentuknya pemerintahan kerajaan lokal di daerah Sulawesi Selatan tidak dapat dipisahkan dari kehadiran to manurung sebagai tokoh pemimpin yang kemudian menjadi raja dengan kekuasaan penuh di wilayah pemerintahannya.

Gambaran tentang tokoh pemimpin yang disebut to manurung tercermin pula dalam lontarak Tellupoccoe yang menyatakan negeri Bone ketika itu sedang bertikai untuk memperoleh pengaruh, sekiligus pendukung dan pengikut. Dalam keadaan seperti itu, muncul tokoh pemimpin yang disebut Mata Silompok e Manurungnge ri Matajang. Tokoh ini disebut Manurungnge ri Matajang, karena muncul pertama kalinya di suatu tempat yang bernama Matajang (negeri Bone). 

Kedatangan sang to manurung (Mata Silompok e) ketika itu telah menimbulkan harapan baru bagi anggota masyarakat setempat, sehingga mereka sepakat mengangkat dan menobatkannya menjadi raja.

Dalam sejarah pemerintahan Kerajaan Bone dikenal adanya 34 raja dan 2 (dua) jennang yang pernah memegang tampuk pemerintahan, namun dalam lontarak Tellupoccoe hanya terdapat 15 raja dan 2 jennang. Jennang adalalah perwakilan raja Gowa yang ditempatkan di daerah Bone. Silsilah raja dan jennang tersebut:

  1. Manurungnge ri Matajang (Raja Bone - I)
  2. La Ummassa (Raja Bone - II)
  3. La Saliwu Kerampeluwak (Raja Bone - III)
  4. We Benrigau Makkaleppie (Raja Bone - IV)
  5. La Tenrisukki (Raja Bone - V)
  6. La Wulio Botek e ((Raja Bone - VI)
  7. La Tenrirawe Bongkae (Raja Bone - VII)
  8. La Iccak (Raja Bone - VIII)
  9. We Tenrituppu (Raja Bone - IX)
  10. La Tenriruwa Sultan Adam Matiroe ri Bantaeng (Raja Bone - X)
  11. La Tenripale Toakkeppeang (Raja Bone - XI)
  12. La Maddaremmeng Sultan M. Shaleh Matinroe ri Bukaka (Raja Bone - XII)
  13. Tosenrima Matinroe ri Siang (Raja Bone - XIII)
  14. Jenang Toballa dan Jenang Arung Amali
  15. La Tenritata To Unru Arung Palakka Sultan Sa'aduddin To Risompae Metinroe Ri Bontoala
Selain sebagai sumber sejarah berdirinya kerjaan Bone, naskah kuno lontarak memuat informasi yang bertalian dengan pembentukan Trialiansi Tellupoccoe. Trialiansi melibatkan tiga kerajaan Bugis (Bone, Wajo dan Soppeng). Gagasan untuk melakukan trialiansi antara ketiga kerajaan itu pertamakali timbul dari pihak Kerajaan Bone. Trialiansi Tellupoccoe adalah suatu perjanjian persahabatan yang disebut Mallamumpatu e ri Timurung (Penanaman batu di Timurng).

Buku  LONTARAK TELLUMPOCCOE membahas tentang terbentuknya Kerajaan Bone, Biografi Raja-Raja Bone, Lahirnya Trialiansi Tellupoccoe serta pecahnya Trialiansi Tellupoccoe. Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar.


LONTARAK TELLUMPOCCOE
Penulis: Pananrangi Hamid, Tatiek Kartikasari
Penyunting: S. Sumardi, Sri Mintosih
Penerbit: Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Nusantara
Tempat Terbit: Jakarta
Tahun Terbit: 1992



July 30, 2020

ZAMAN SEBELUM MASUKNYA AGAMA ISLAM DAN ZAMAN MASUKNYA AGAMA ISLAM (DI SOPPENG, SIDENRENG, WAJO DAN BONE)



Dalam sejarah kehidupan suku-suku bangsa di Sulawesi Selatan, termasuk Soppeng, datangnya suatu masa yang dikenal zaman To Manurung, umumnya dipandang sebagai fase dari peletakan dasar-dasar hidup berpemerintahan, bahkan juga kehidupan sosiokultural. Dasar-dasar kehidupan tersebut kemudian menjadi tradisi yang secara estafet diwariskan turun temurun dari suatu generasi ke generasi berikutnya sampai generasi sekarang.

Buku ZAMAN SEBELUM MASUKNYA AGAMA ISLAM DAN ZAMAN MASUKNYA AGAMA ISLAM (DI SOPPENG, SIDENRENG, WAJO DAN BONE) membahas tentang zaman sebelum masuknya agama Islam yang di tandai dengan kedatangan To Manurung; perjanjian politik antara Bone, Wajo dan Soppeng;  perjanjian politik antara Soppeng dan Wajo; perjanjian antara Soppeng dan Luwu; pertempuran melawan Kerajaan Lamuru; pertempuran melawan Kerajaan Ajattappareng; pertempuran melawan Kerajaan Cenrana; pertempuran melawan pasukan Kerajaan Gowa di Suppa; pertempuran melawan pasukan Kerajaan Gowa di Maroanging; Pertempuran melawan pasukan Kerajaan Gowa di Pare-pare; pertempuran melawan pasukan Kerajaan Gowa di Rappang; pertempuran melawan pasukan Kerajaan Gowa di Soppeng; pertempuran melawan pasukan Kerajaan Wajo; dan pertempuran melawan pasukan Kerajaan Bone.

Sedangkan zaman masuknya agama Islam di Soppeng, Sidenreng, Wajo dan Bone mengenai pengembangan Islam dapat diterima orang, terutama karena sebelum Islam menjadi agama resmi Kerajaan Gowa pernah raja-raja mengadakan suatu perjanjian yang merupakan “ikrar bersama” yang berbunyi Bahwa barang siapa (diantara raja-raja itu) ada menemukan sesuatu jalan yang lebih baik, maka berkewajibanlah yang menemukan jalan itu memberitahukan pula kepada raja-raja lainnya yang turut berikrar pada perjanjian tersebut.

Berdasarkan perjanjian yang telah diikrarkan bersama itu, Sultan kerajaan Gowa lalu mengajak raja-raja lain itu, supaya menempuh pula jalan yang lebih baik, ialah “memasuki Islam”. Seruan Sultan Gowa itu segera mendapat sambutan beberapa raja-raja kecil, sehingga penyiaran Agama Islam di daerah raja-raja itu diterima dengan damai dan rela.

Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Perpustakaan Abdurrasyid Daeng Lurang yang berlokasi di jalan Kenanga No. 7A Sungguminasa, Kabupaten Gowa mengenai sejarah Soppeng, Sidenreng, Wajo dan Bone.


ZAMAN SEBELUM MASUKNYA AGAMA ISLAM DAN
ZAMAN MASUKNYA AGAMA ISLAM
(DI SOPPENG, SIDENRENG, WAJO DAN BONE) JILID 1
Penulis : Tim Aksara
Editor: H. Nonci
Penerbit: Aksara
Tempat Terbit: Makassar