March 19, 2021

LONTARAK TELLUMPOCCOE

Naskah kuno lontarak Tellumpoccoe memuat informasi kesejarahan yang bersangkut paut dengan perkembangan pemerintahan dalam berbagai kerajaan lokal, mulai zaman kedatangan to-manurung lokal sekitar tahun 1326 sampai jatuhnya Kerajaan Gowa oleh kekuatan Kompeni Belanda pada tahun 1667.

Dalam lontarak tersebut tercatat beberapa kerajaan lokal yang terhitung cukup besar pengaruhnya di kawasan jazirah Sulawesi Selatan pada masa itu, antara lain Kerajaan Bone, Wajo, Soppeng, Luwu dan Kerajaan Gowa. Masing-masing kerjaan saling berhubungan antara satu sama lain, baik dalam bentuk hubungan damai maupun peperangan.

Dalam lontarak (transliterasi dan terjemahan No. 03 sd N0. 25) termuat keterangan bahwa sejak berakhirnya masa pemerintahan raja-raja yang tercatat namanya dalam epos Galigo maka di kawasan Tanah Bone dan sekitarnya tidak ada lagi kedamaian. Tidak ada bentuk pemerintahan apa pun. Tidak ada ketertiban. Tidak ada hukum. Tidak ada keadilan dan peradilan.

Kalau ada hukum, maka satu-satunya hukum yang berlaku ketika itu hanya "hukum rimba", hukum kekerasan yang halalkan semua cara untuk mencapai tujuan tertentu. Keadaan ini tercermin secara nyata dalam lontarak (transliterasi/terjemahan No. 03 s/d 04).

Pemberitaan lontarak menunjukkan secara nyata, bahwa sejak berakhirnya masa pemerintahan raja-raja yang tercatat namanya dalam epos Galigo, maka di kawasan Tanah Bugis dan sekitarnya tidak ada lagi bentuk pemerintahan sama sekali. Selaku konsekuensi logis, masyarakat ketika itu tidak mengenal lagi kata mufakat dan musyawarah. Bahkan, mereka saling memangsa antara sesamanya. Mereka saling mengkhianati. Tidak lagi aturan dan peraturan, apalagi yang dinamakan keadilan dan peradilan. Jelas mereka hidup dalam masa kekacau-balauan di situ manusia saling memangsa bagaikan ikan. Keadaan seperti ini berlanjut selama tujuh angkatan, tujuh generasi yang dalam istilah lontarak disebut pitutureng (tujuh musim).

Setelah berlalu tujuh musim, keadaan yang serba kacau balau tersebut mengalami perubahan dengan datangnya tokoh to manurung yang kemudian disepakati oleh penduduk untuk dinobatkan menjadi pimpinan, sekaligus raja berdaulat di kawasan Tanah Bone. Dalam pengistilahan bahasa daerah Bugis to manurung merupakan kata jadian, berasal dari kata kerja; dan "turung" artinya turun. To-ma-nurung berarti orang yang turun (dari kahyangan: langit).

Pemahaman anggota masyarakat tentang to manurung merupakan cerita khayalan yang beralih secara turun-temurun dari satu generasi ke lain generasi. Kendati pun demikian terbentuknya pemerintahan kerajaan lokal di daerah Sulawesi Selatan tidak dapat dipisahkan dari kehadiran to manurung sebagai tokoh pemimpin yang kemudian menjadi raja dengan kekuasaan penuh di wilayah pemerintahannya.

Gambaran tentang tokoh pemimpin yang disebut to manurung tercermin pula dalam lontarak Tellupoccoe yang menyatakan negeri Bone ketika itu sedang bertikai untuk memperoleh pengaruh, sekiligus pendukung dan pengikut. Dalam keadaan seperti itu, muncul tokoh pemimpin yang disebut Mata Silompok e Manurungnge ri Matajang. Tokoh ini disebut Manurungnge ri Matajang, karena muncul pertama kalinya di suatu tempat yang bernama Matajang (negeri Bone). 

Kedatangan sang to manurung (Mata Silompok e) ketika itu telah menimbulkan harapan baru bagi anggota masyarakat setempat, sehingga mereka sepakat mengangkat dan menobatkannya menjadi raja.

Dalam sejarah pemerintahan Kerajaan Bone dikenal adanya 34 raja dan 2 (dua) jennang yang pernah memegang tampuk pemerintahan, namun dalam lontarak Tellupoccoe hanya terdapat 15 raja dan 2 jennang. Jennang adalalah perwakilan raja Gowa yang ditempatkan di daerah Bone. Silsilah raja dan jennang tersebut:

  1. Manurungnge ri Matajang (Raja Bone - I)
  2. La Ummassa (Raja Bone - II)
  3. La Saliwu Kerampeluwak (Raja Bone - III)
  4. We Benrigau Makkaleppie (Raja Bone - IV)
  5. La Tenrisukki (Raja Bone - V)
  6. La Wulio Botek e ((Raja Bone - VI)
  7. La Tenrirawe Bongkae (Raja Bone - VII)
  8. La Iccak (Raja Bone - VIII)
  9. We Tenrituppu (Raja Bone - IX)
  10. La Tenriruwa Sultan Adam Matiroe ri Bantaeng (Raja Bone - X)
  11. La Tenripale Toakkeppeang (Raja Bone - XI)
  12. La Maddaremmeng Sultan M. Shaleh Matinroe ri Bukaka (Raja Bone - XII)
  13. Tosenrima Matinroe ri Siang (Raja Bone - XIII)
  14. Jenang Toballa dan Jenang Arung Amali
  15. La Tenritata To Unru Arung Palakka Sultan Sa'aduddin To Risompae Metinroe Ri Bontoala
Selain sebagai sumber sejarah berdirinya kerjaan Bone, naskah kuno lontarak memuat informasi yang bertalian dengan pembentukan Trialiansi Tellupoccoe. Trialiansi melibatkan tiga kerajaan Bugis (Bone, Wajo dan Soppeng). Gagasan untuk melakukan trialiansi antara ketiga kerajaan itu pertamakali timbul dari pihak Kerajaan Bone. Trialiansi Tellupoccoe adalah suatu perjanjian persahabatan yang disebut Mallamumpatu e ri Timurung (Penanaman batu di Timurng).

Buku  LONTARAK TELLUMPOCCOE membahas tentang terbentuknya Kerajaan Bone, Biografi Raja-Raja Bone, Lahirnya Trialiansi Tellupoccoe serta pecahnya Trialiansi Tellupoccoe. Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar.


LONTARAK TELLUMPOCCOE
Penulis: Pananrangi Hamid, Tatiek Kartikasari
Penyunting: S. Sumardi, Sri Mintosih
Penerbit: Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Nusantara
Tempat Terbit: Jakarta
Tahun Terbit: 1992



No comments:

Post a Comment