Showing posts with label Sawerigading. Show all posts
Showing posts with label Sawerigading. Show all posts

October 4, 2022

I LA GALIGO : CERITA BUGIS KUNO

Cerita Galigo dimulai pada waktu dewa-dewa di Kayangan mufakat dalam satu pertemuan untuk mengisi waktu (dunia tengah = Peretiwi) dengan mengirim Batara Guru anak Patotoe di langit dan We Nyili'timo anak Guru ri Selleng di Peretiwi untuk menjadi suami istri. Dari perkawinan keduanya ini lahirlah putra mereka yang bernama Batara Lattu', yang kelak menggantikan ayahnya menjadi penguasa Luwu'. Dari perkawinan Batara Guru dengan beberapa pengiringnya dari Langit serta pengiring We Nyili'timo dari Peretiwi, lahirlah beberapa orang putra mereka yang kelak diangkat menjadi penguasa di daerah-daerah Luwu' sekaligus pembantu Batara Guru.

Setelah Batara Lattu' cukup dewasa, ia dikawinkan dengan We Datu Senngeng, anak La Urumpessi bersama We Padauleng di Tompo'tikka. Sesudah itu Batara Guru bersama istri kembali lagi ke Langit. Dari perkawinan keduanya itu lahirlah Sawerigading dan Tenriabeng sebagai anak kembar, seorang lelaki dan seorang perempuan. Berdasarkan pesan Batara Guru, kedua anak kembar itu harus dibesarkan terpisah agar kelak bila mereka berangkat remaja tidak akan saling jatuh cinta.

Namun demikian, suratan menentukan yang lain, sebab di rantau Sawerigading mendapat keterangan bahwa ia mempunyai seorang saudara kembar wanita yang sangat cantik, We Tenriabeng namanya. Sejak itu hatinya resah selalu hingga pada suatu waktu ia berhasil melihatnya dan langsung jatuh cinta serta ingin mengawininya. Maksudnya itu mendapat tantangan kedua orang tuanya bersama rakyat banyak, karena kawin bersaudara merupakan pantangan yang jika dilanggar akan terjadi bencana terhadap negeri, rakyat dan tumbuh-tumbuhan. Seluruh negeri bersedih kebingungan.

Melalui suatu dialog yang panjang, berhasil juga We Tenriabeng membujuk saudaranya untuk berangkat ke negeri Cina menemui jodohnya di sana, I We Cudai namanya. Wajah dan perawakannya sama benar dengan We Tenriabeng. Pada waktu Sawerigading berangkat ke Cina, We Tenriabeng sendiri naik ke Langit dan kawin dengan tunangannya di sana bernama Remmang ri Langi. Dengan mengatasi hambatan demi hambatan, akhirnya berhasil juga Sawerigading mengawini I We Cudai, yang tunangannya (Settia Bonga) sudah lebih dahulu ia kalahkan dalam satu pertempuran di tengah laut dalam perjalanannya menuju Cina. Mereka hidup rukun dan bahagia dan memperoleh tiga orang anak, yaitu I La Galigo, Tenridio dan Tenribalobo. Dari seorang selirnya (I We Cimpau) Sawerigading beroleh seorang anak yang diberinya nama We Tenriawaru.

Dalam pada itu La Galigo pun menjadi dewasa, merantau, menyabung, kawin, berperang dan memperoleh anak. Pada suatu ketika inginlah I We Cudai berkunjung ke negeri suaminya menjumpai mertua yang belum pernah dilihatnya. Sawerigading bimbang mengingat akan sumpahnya dahulu ketika hendak bertolak ke Cina, bahwa seumur hidupnya ia tidak akan menginjakkan kaki lagi di tanah Luwu'. Tetapi sayang akan istri, anak dan cucu dibiarkan berlayar sendiri tanpa ditemani, akhirnya ia pun menetapkan akan ikut serta. Mereka lalu berangkat. Tiba di. Cina, dengan alasan kasihan akan mertua ditinggalkan sendiri, ia lalu memutuskan untuk kembali ke Cina. Belum juga lama di Cina, ia pun merasa gelisah mengingat anak, istri, orang tua dan kampung halaman yang sudah lama ditinggalkan. Akhirnya dengan sembunyi-sembunyi ia berangkat menyusul istri dan anak cucunya. Tidak berapa lama setelah Sawerigading tiba di Luwu', Patotoe menetapkan akan menghimpun segenap keluarganya di Luwu'. Dalam pertemuan keluarga besar itulah ditetapkan bahwa keturunan dewa-dewa yang ada di Kawa (Bumi) harus segera kembali ke Langit atau Peretiwi, dengan meninggalkan masing-masing seorang wakil.

Tidak lama setelah para kaum keluarga pulang ke negerinya masing-masing, Sawerigading pun bersama anak, istri dan cucunya pulang ke Cina. Di tengah jalan tiba-tiba perahunya meluncur turun ke Peretiwi. Di sana ternyata ia disambut dengan gembira, karena memang sudah lama ia ditunggu untuk menggantikan neneknya sebagai penguasa di sana. Di Peretiwi ia masih memperoleh seorang anak yang kemudian kawin dengan anak We Tenriabeng di Langit, yang selanjutnya dikirim ke Luwu' untuk menjadi raja di sana. Akhirnya tibalah saatnya pintu Langit ditutup, sehingga penguasa yang ada di Peretiwi tidak lagi leluasa pulang pergi, dengan ketentuan sewaktu-waktu kelak akan dikirim utusan untuk membaharui darah mereka sebagai penguasa.

Mudah-mudahan penerbitan ini dapat mencapai sasarannya, sekurang-kurangnya mengundang hasrat yang lebih besar untuk membaca naskah cerita Galigo dan membangun citra yang lengkap mendekati yang sesungguhnya.

Buku I LA GALIGO merupakan cerita Bugis yang memiliki dua jenis tradisi tulis dan tradisi lisan. Penyebaran cerita Galigo dalam bentuk tradisi lisan tidak hanya didapati di kalangan masyarakat berbahasa Bugis saja, melainkan meluas pada beberapa daerah yang masyarakatnya menggunakan bahasa daerah yang berbeda-beda, seperti misalnya Toraja, Enrekang, Mandar, Wolio (Sulawesi Tenggara), Kaili (Sulawesi Tengah) dan Gorontalo (Sulawesi Utara). Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit, yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar.


I LA GALIGO
Penulis: R. A. Kern
Penerjemah: La Side, Sagimun
Penerbit: Gadjah Mada University Press
Tempat Terbit: Jakarta


August 22, 2022

MEMBONGKAR HALAMAN SEJARAH

Betapa sulitnya mengidentifikasi tokoh-tokoh ada pada silsilah dan buku La Galigo yang telah penulis lukiskan. Sama sulitnya untuk menetapkan pernah "ada" atau "tidak adanya" Sawerigading. Hanya satu hal yang perlu diketahui seperti dikemukakan oleh Gouvernuer van Celebes Couvreur-bahwa Raja-Raja dahulu di Sulawesi (sebenarnya juga di Bima dan Sumbawa) mengakui berasal dari satu nenek moyang yang sama yaitu Batara Guru.

Buku MEMBONGKAR HALAMAN SEJARAH terdari dari dua bab. Bab pertama membahas tentang:

  • Perbandingan Silsilah Versi Wajo dengan La Galigo; 
  • Sejarah Cina ri Aja dan Cina Ri Lauq atau Tana Uniq Menurut Buku La Galigo; 
  • Hubungan Luwu, Cina, Tomoq Tikkaq dan Wadeng serta Kerajaan-Kerajaan Pubra di Sulawesi Tengah; 
  • Kedatuan Cina Menurut Lontaraq Attoriolongnge ri Pammana 
  • Berdasarkan Temuan arkeologis OXIS Project; 
  • Perbandingan Silisilah Versi Wajo dan Silisilah Versi Luwu; 
  • Silisalah Versi Wajo dam Tuhfat Al-Nafis

Bagian Kedua:
  • Kontroversi di Seputar Latar Cina Dalam Lagaligo
  • Teks La Galigo Antara Sakral dan Profan

Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang membahas tentang lontaraq Penguriseng (silsilah) yang isinya berbeda dengan daftar silsilah yang tergantung di Museum Batara Guru di Palopo, berbeda pula dengan cerita awal mula raja pertama di Luwu berdasarkan naskah di Luwu yang telah di pergunakan oleh Gilbert Harmonic (1983: 13-40). Sangat berbeda nama-nama raja yang terdapat di dalam buku Tuhfat al Nafis yang disusun oleh (Alm) Raja Ali Al-Haji Riau (Transfer. 1965), yang merupakan naskah paling penting dalam penulisan sejarah negeri-negeri Melayu (Zainal Abidin bin Wahid. Kata Pengantar. 1965).

Naskah silsilah ini disaling oleh (Alm) Andi Paramata, dari Lontaraq Panguriseng milik Andi Makkaraka, yang semasa hidupnya memangku jabatan sebagai Arung Bettempola Wajo, seorang ahli Lontaraq yang memiliki naskah-naskah berbagai kerajaan yang tidak dapat dijumpai di daerah asalnya.


MEMBONGKAR HALAMAN SEJARAH
Penulis: Zainal Abidin Farid, Nurhayati Rahman, Sudirman Sabang
Penerbit: Lampena Intimedia
Tempat Terbit: Sengkang
Tahun Terbit: 2010
ISBN: 978-602-8151-40-8


June 6, 2022

LA GALIGO


La Galigo merupakan sebuah kitab yang dianggap suci oleh masyarakat Luwu pada masa lampau. Bahkan kesakralannya hingga kini masih diyakini sebagian masyarakat. La Galigo atau biasa juga disebut sebagai Shureq Selleang, Shureq Galigo, atau Bicaranna (Pau-paunna) Sawerigading, menceritakan tentang diturunkannya manusia pertama (mula tau) dalam mitologi masyarakat bugis.

BUKU LA GALIGO dalam episode Turunnya Manusia Pertama ini bercerita tentang awal mula diturunkannya manusia pertama yakni putra penguasa langit, Patotoke (Penentu Nasib) yang bernama Latogeq Langiq atau Batara Guru, selain itu diceritakan pula tentang diciptakannya tumbuhan, hewan, gunung-gunung dan hampir semua isi bumi.

Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi di jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar, yang bercerita tentang La Galigo dan dikemas dalam bahasa yang filosofis, namun dengan gaya tutur yang ringan dan mengalir. Meski telah dilakukan berbagai penambahan cerita, namun alur cerita masih tetap dipertahankan. Karakter tokoh juga semakin kuat dengan gaya penulisan klasik (Luwu Kuno) dan populer sehingga membuat cerita dalam buku ini lebih hidup dan berkarakter.

Dengan adanya cerita La Galigo dalam bentuk novel ini, diharapkan gairah masyarakat, terutama kalangan remaja untuk lebih mengetahui warisan budayanya sendiri semakin bertambah. Buku ini merupakan jawaban dari kegelisahan masyarakat akan hilangnya roh masa lalu dari diri mereka.


LA GALIGO : Turunnya Manusia Pertama (jilid 1)

Penulis : Idwar Anwar

Penerbit : Pustaka Sawerigading

                 Arung Pustaka

Tahun Terbit : 2011

ISBN : 978-602-9248-08-1

June 2, 2022

KEBUDAYAAN BUGIS - MAKASSAR DALAM PERSPEKTIF SEJARAH NUSANTARA

To Manurung dikaitkan dengan mitologi I Lagaligo atau Sawerigading. Istilah ini adalah nama yang digunakan, untuk pertama kalinya pada I Lagaligo. Sedangkan I Lagaligo dapat dipahami sebagai gejala kebudayaan Nusantara, terutama Jawa.

Buku KEBUDAYAAN BUGIS - MAKASSAR DALAM PERSPEKTIF SEJARAH NUSANTARA merupakan hasil kumpulan artikel yang pernah dipresentasikan dalam berbagai seminar nasional yang dipadukan dengan berbagai materi pengajaran. Berikut kumpulan artikel tersebut:

  1. Awal mula Kebudayaan Maritim Sulawesi Selatan
  2. Dari Batara Guru hingga To Manurung
  3. Sulawesi Selatan dalam Konteks Nusantara
  4. Klaim Kedaulatan dan Konflik-Konflik antar Kerajaan di Sulawesi Selatan
  5. Konflik antar Kerajaan dan Dampaknya di Sulawesi Selatan
  6. Perempuan dalam Budaya Bugis dan Makassar

Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar, yang mencoba  memahami masa lalu Sulawesi Selatan bukan sebagai entitas sejarah budaya yang tertutup sebaliknya sebagai bagian dari Nusantara. Dalam perspektif ini sejarah Sulawesi Selatan ditempatkan sebagai bagian integral dari sejarah nasional.

Fokus pembahasan buku ini menjelaskan perkembangan umum di Makassar dan daerah sekitarnya (Sulawesi Selatan pada umumnya) pada abad 15 sampai abad 18, dari dimensi sosial dan kebudayaan dalam konteks multikulturalis, dengan melacak persamaan budaya berbagai etnis di Nusantara khususnya khususnya historiografi historiografi (historiografi tradisional). 

Karya historiografi diharapkan akan turut memperkaya pemahaman tentang Makassar, sejak awal perkembangan, jaman kebesarannya dan masa surutnya, yang meliputi abad 14 sampai abad 19. Meskipun multikultur, Makassar bahkan Sulawesi Selatan adalah khas dengan corak tersendiri. Pembahasan tentang perempuan juga dihadirkan dalam buku ini terutama karena kedudukan dan peranannya yang khas Sulawesi Selatan itu, yang berbeda dengan daerah lain. Memahami kebudayaan Sulawesi Selatan tidak lengkap tanpa memahami perempuannya.


KEBUDAYAAN BUGIS - MAKASSAR DALAM PERSPEKTIF SEJARAH NUSANTARA
Penulis: Bambang Sulistyo
Editor: Yusring Sanusi
Penerbit: Pusat Kajian Media dan Sumber Belajar LKPP Universitas Hasanuddin
Tempat Terbit: Makassar
Tahun Terbit: 2017
ISBN: 978-602-61186-5-3





March 30, 2022

SAWERIGADING

SAWERIGADING sebuah nama legendaris. Untuk masyarakat dan kelompok-kelompok etnik tertentu di Sulawesi, nama itu memiliki makna mitologik. Ia dihubungkan dengan peristiwa atau kejadian awal, sesuatu yang bertalian dengan benda alam, atau peralatan dalam kehidupan awal sesuatu peradaban. Sebagai tokoh legendaris Sawerigading diceritakan sebagai tokoh dari peristiwa-peristiwa kultural yang meliputi berbagai kejadian, dan yang selanjutnya diterima sebagai pola yang diikuti sebagai peristiwa normatif dalam kehidupan persekutuan atau kaum yang memandangnya sebagai cikal bakal kepemimpinan kaumnya.

Sawerigading menyampaikan kepada masa kini Sulawesi, tentang peradaban masa lalu. Masa lalu yang disampaikannya itu menyentuh kehidupan nyata kelompok-kelompok persekutuan hidup, kaum, kelompok etnik atau lapisan tertentu masyarakat di banyak wilayah persebaran, dan pada banyak waktu yang berbeda-beda. Sawerigading menyusup ke dalam peradaban, menindih atau memperkaya lapisan-lapisan yang telah ada sebelumnya dan membawanya ke dalam realitas kultur, atau kenyataan budaya. Kenyataan budaya itu apabila dihubungkan dengan realitas sosial dengan cara mengaktualisasikannya ke dalam kenyataan, maka menjadilah ia pangkalan rujukan bagi peristiwa-peristiwa atau silsilah sesuatu kaum.

Epos Galigo yang mengutarakan segala kejadian yang melibatkan Sawerigading sebagai tokoh legendaris, Culture hero, rujukan segenap kerabat penguasa dan kaum-kaum serta kelompok-kelompok persekutuan hidup di Sulawesi, maka simbol-simbol dari kejadian, keadaan dan lokasinya, serta waktunya, adalah simbol-simbol yang memerlukan kejelian dalam interpretasi, dengan menggunakan peralatan-peralatan disiplin ilmu pengetahuan yang relevan. 

Hal tersebut dapat dilihat pada bagian-bagian penting dari peristiwa, keadaan, tempat dan waktu yang menyertainya sebagai berikut :

  1. Penghuni atau katakanlah para penguasa di Botillang' (satu tempat di luar dunia) di bawah pimpinan PatotoE (yang menentukan nasib) dengan istrinya Datu Palinge memusyawarahkan tentang kehendak memberikan kepada dunia (bumi) penghuni dari keturunan mereka.
  2. Ditetapkanlah Latoge' langi Batara Guru (putera PatotoE-Datu Palinge) melambangkan aspek langit dan partiwi (dunia di bawah Bumi) menjadi penghuni dan penguasa pertama bumi Batara Guru kawin dengan sepupu-sekalinya We Nyili' Timo, Puteri Guru riselleng dan Sinaw Tojang penguasa urilliu (pertiwi), sebagai penekanan bagi penyatuan aspek langit dan pertiwi menjadi esensi dunia.
  3. Perkawinan Batara Guru dengan We Nyili' Timo', menurunkan Batara Lattu yang memperistrikan Opu Sangiang, menjadi ayah dan ibu Sawerigading. Sawerigading lahir dengan saudara kembarnya puteri We Tenriabeng.
  4. Pada waktu masih kecil, tempat tinggal Sawerigading dipisahkan dari tempat tinggal saudaranya, We Tenriabeng. Pada waktu dewasa Sawerigading jatuh cinta kepada We Tenriabeng. We Tenriabeng membujuk Sawerigading untuk ke Cina, memperistri We Cudai.
  5. Sawerigading dengan istrinya We Cudai, melahirkan putera bernama La Galigo, yang menjadi lambang keilmuan susastra I la Galigo, satu karya sastra klasik dunia yang besar.
  6. Perjalanan berperahu Sewerigading ke seluruh wilayah Sulawesi dan sekitarnya meninggalkan berbagai kejadian dan peristiwa yang dilukiskan sebagai realitas kultural setempat sampai pada hari ini.
  7. Suatu ketika dalam perjalanan berperahu Walenrenge. Sawerigading dan We Cudai di tarik turun bersama perahunya ke bawah (Pertiwi) maka berakhirlah dinasti Batara Guru di atas bumi ini.
    Tujuh cuplikan kejadian atau peristiwa tersebut di atas secara ringkas menggambarkan peristiwa awal, bersifat mitologik. Suatu awal mengenai penciptaan masyarakat dunia. Pandangan Cosmogoni, tentang dunia atas (langit) dunia tengah (bumi) dan dunia di bawah bumi (pertiwi).
    Buku SAWERIGADING menceritakan tentang seorang tokoh legendaris yang dikenal oleh hampir seluruh kelompok etnik di Sulawesi. Persebaran cerita Sawerigading merata di seluruh Sulawesi (Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Sulawesi Utara (Gorontalo) dan di Sulawesi Tenggara). Di Gorontalo. Sawerigading dipandang sebagai tokoh yang menghubungkan mata rantai tali kekerabatan di antara kelompok-kelompok etnik di Sulawesi, dan sebagai peletak dasar peradaban (culture hero). Di Sulawesi Selatan, dia dikenal sebagai cikal bakal para penguasa negeri-negeri Bugis, Makasar, Mandar. Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar.


    SAWERIGADING 
    Tim Penulis/Pengkaji: Matulada, dkk (ed)
    Penerbit: Direktorat Sejarah dan Nilai Budaya Tradisional
    Tempat Terbit: Jakarta
    Tahun Terbit: 1990



    March 8, 2022

    KEDATUAN LUWU: Catatan tentang Sawerigading, Sistem Pemerintahan dan Masuknya Islam

    Kerajaan Luwu sejak dulu menyimpan banyak peristiwa sejarah dan tokoh-tokoh yang fantastis. Salah satunya tokoh Sawerigading yang telah melanglang buana menebarkan pesona dan kekuatan yang membuat namanya termaktub dalam alam pikiran masyarakat yang mengenalnya. Sosoknya selalu dihubungkan dengan benda dan asal mula kerajaan atau daerah di berbagai wilayah dan dikenal sebagai manusia perkasa keturunan dewa yang memiliki kemampuan yang luar biasa. Namanya termaktub jelas dalam Sureq Galigo. 

    Meski nama Sawerigading sebagai sosok yang menyejarah sangat dikenal, namun masih banyak yang belum mengetahui nama lain dari tokoh heroik ini. Nama-nama Sawerigading dan artinya ini dijelaskan dalam Sureq Galigo. Pemberian nama/gelar kepada Sawerigading disebabkan kesaktian dan kepribadian yang dimilikinya. Ada pun beberapa nama/gelar yang dimilikinya yaitu:

    1. Pati Ware pemberian nama pada waktu lahirnya.
    2. La Maddukkelleng namanya di Wariwangeng. 
    3. Sawerigading namanya di Luwu. 
    4. La Tenritappu namanya di Toddattoja. 
    5. La Tenriwerru namanya di Peretiwi. 
    6. Langi Paewa namanya di Boroliu. 
    7. Pamadalette namanya di Angkasa. 
    8. Opunna Ware namanya di Watampare. 
    9. To Appanyompa namanya di Bone.

    Arti nama tersebut di atas adalah sebagai berikut:

    1. Pati Ware artinya Walikota.
    2. La Maddukkelleng artinya sungguh mulia. 
    3. Sawerigading artinya mengembangkan kemuliaan.
    4. La Tenritappu artinya mulia asli.
    5. La Tenriwerru artinya mulia sempurna
    6. Langi Paewa artinya maha perkasa.
    7. Pamadallette artinya mengatasi sesamanya pahlawan.
    8. Opunna Ware pemberian gelar kehormatan di pusat kerajaan Luwu.
    9. To Appanyompa artinya menundukkan setiap pribadi dalam kebenaran.
    Buku KEDATUAN LUWU: Catatan tentang Sawerigading, Sistem Pemerintahan dan Masuknya Islam membahas Sawerigading serta menguraikan berbagai hal mengenai konsep Pemerintahan Kerajaan Luwu. Bagaimana tata cara pemilihan Pajung/Datu Luwu dan berbagai unsur-unsur yang mendukung jalannya pemerintahan. 

    Buku ini juga membahas tentang masuknya Islam dan Perkembangan Islam, misalnya cerita versi tulisan Sejarah Masuknya Islam, mengungkapkan hubungan sejarah dengan garis keturunan dari Suku Minangkabau serta Kerajaan Malaysia dahulu kala, serta raja di Sulawesi Selatan yang pertama memeluk agama Islam adalah Raja Luwu, Pati Arase. 

    Selanjutnya, sejarah kedatangan Datuk Suleman di Lapandoso Kecamatan Bua, sangat berpegaruh pada pembangunan mesjid (rumah ibadah) yang ada di Bua khususnya dan di Sulawesi Selatan pada umumnya. Rumah ibadah yang pertama kali terbuat dari bahan kayu pada saat itu dibangun karena segera akan ditempati untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW. Bangunan mesjid ini memilki artistik empat tingkat, terletak tidak jauh dari mesjid Jami' yang berdiri hingga sekarang yang ada di Desa Tana Rigella, Kecamatan Bua.

    Selain itu, dalam ajaran dan budaya Islam terdapat aneka macam syariat dan hakekat, serta gagasan yang memiliki sistem nilai yang perlu mendapat perhatian untuk dikaji dan disumbang-kan dalam rangka pembinaan dan pengembangan budaya Islam di daerah Luwu khususnya dan Sulawesi Selatan pada umumnya. Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar


    KEDATUAN LUWU
    Catatan tentang Sawerigading, Sistem Pemerintahan dan Masuknya Islam
    Penulis: Siodja Daeng Mallondjo
    Penerbit: Komunitas Sawerigading bekerjasama Pmerintahan Palopo
    Tempat Terbit: PAlopo
    Tahun Terbit: 2003
    ISBN: 979-98372-0-0



    January 5, 2022

    LAPORAN PENELITIAN SEJARAH DAN NILAI TRADISIONAL SULAWESI SELATAN


    Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Ujung Pandang melakukan tugas melaksanakan kajian kesejarahan dan nilai tradisional daerah Sulawesi Selatan yang tercermin dalam sistem sosial, sistem kepercayaan, lingkungan budaya dan tradisi lisan. Buku LAPORAN PENELITIAN SEJARAH DAN NILAI TRADISIONAL SULAWESI SELATAN sebagai salah satu usaha dalam rangka pembinaan dan pengembangan kebudayaan nasional.

    Berikut dua laporan hasil penelitian yang di maksud:

    1. Peristiwa Perlawanan Rakyat Allu pada Masa Pendudukan Militer Jepang di Daerah Mandar pada Tahun 1945 oleh Darwas Rasjid
    2. Pengungkapan Nilai Budaya dari Naskah Kuno Bugis Seri Galigo "Pelayaran Sawerigading dari Cina ke Wadeng"

    • Peristiwa Perlawanan Rakyat Allu pada Masa Pendudukan Militer Jepang di Daerah Mandar pada Tahun 1945 oleh Darwas Rasjid

    Perlawanan yang dipelopori oleh Muhammad Saleh Puannal Sudding, terjadi sekitar bulan Maret 1945 disebut sebagai “peristiwa Allu” adalah merupakan suatu gerakan perlawanan yang bersifat sosial tradisional atau lokal. Dan sebagai gerakan sosial perlawanan ini sama sekali tidak memperlihatkan ciri-ciri modem, seperti adanya ideologi modem serta agitasi yang meliputi seluruh negeri di kawasan Mandar dan khususnya Balanipa. Bagian yang terbesar dari gerakan perlawanan ini sama sekali tidak mempunyai hubungan dengan masyarakat Mandar lainnya dalam pengertian wawasan yang luas, tetapi hanya digerakkan oleh beberapa pemuda Balanipa dan khususnya warga Allu dalam menentang tindakan sewenang-wenang sang penguasa militer Jepang. Walaupun gerakan perlawanan ini dicap sebagai pembangkang, perusuh, perampok, dan sebagainya mereka tetap mendapat simpati dari rakyat Allu. Bahkan berbulan-bulan lamanya bertahan di hutan tanpa sama sekali punya niat untuk tunduk atau menyerah, hingga takluknya tentara Jepang kepada Sekutu pada pertengahan bulan Agustus 1945.

    Menyerahnya Jepang kepada Sekutu, maka dengan praktis berakhir pulalah gerakan perlawanan ini. Akan tetapi pemimpin perlawanan dan beberapa anggota-anggota lainnya kembali melibatkan diri dalam revolusi perjuangan kemerdekaan ’45 di berbagai daerah dalam kawasan Mandar. Karena itulah, khususnya tokoh perlawanan di Allu ini, Muhammad Saleh Puanna I Sudding adalah merupakan salah satu tokoh atau pemimpin perlawanan dua jaman dari daerah Mandar, yaitu sebagai pemimpin perlawanan pada masa pendudukan militer Jepang dan sebagai tokoh atau pejuang revolusi kemerdekaan 1945.

    • Pengungkapan Nilai Budaya dari Naskah Kuno Bugis Seri Galigo "Pelayaran Sawerigading dari Cina ke Wadeng" oleh Fausiah

    Lontarak Galigo serial Pelayanan Sawerigading Opunna Ware ke Wadeng termasuk salah satu arsip kebudayaan masyarakat Bugis si daerah Sulawesi Selatan. Sebagai suatu dokumen dan arsip kebudayaan, naskah tersebut secara eksplisit memuat sebahagian cerita rakyat yang pada zaman dahulu dituturkan dari mulut ke mulut. Setelah dikenalnya aksara Bugis, cerita tersebut kemudian dituliskan di atas lembaran kertas.

    Dalam cerita rakyat yang terkandung dalam isi lontarak tersebut tersirat aneka macam gagasan ideal dan jaringan sistem nilai-nilai budaya, warisan leluhur dari zaman lampau yang dalam konteks penelitian ini dapat disebut zaman Sawerigading. Jaringan sistem nilai-nilai yang termuat didalam naskah lontarak itu secara implisit tercermin dalam berbagai ucapan dan ungkapan, sikap dan tindakan yang pada hakikatnya diekspresikan oleh para tokoh pelaku cerita.

    Dalam hasil kajian interpretasi isi naskah maka ditemukan adanya enam nilai budaya pokok, terdiri atas: nilai religi, nilai seni, nilai ilmu, nilai solidaritas, nilai ekonomi, serta nilai kuasa. Tiap unsur nilai pokok tersebut terbagi dalam beberapa elemen nilai-nilai luhur yang paling tidak dianggap ideal warga masyarakat Bugis dimasa lampau.

    Nilai solidaritas termasuk nilai utama yang cukup banyak ditemukan dalam lontarak Galigo. Nilai ini mencakup nilai kesetiakawanan sosial, sikap berbagi suka dan duka antara sesama kerabat, salin memberi dan menerima saran, sikap konsekuen dalam ucapan , sikap dan tindakan serta sikap saling menghormati rasa persaudaraan dan persahabatan.

    Nilai kuasa berorientasi kepada kebajikan dan keputusan raja. Namun demikian, raja di dalam menjalankan roda pemerintahan berpedoman pada kerangka acuan berupa : sikap lebih mengutamakan kepentingan dan keamanan negeri daripada kepentingan pribadi , keluarga dan golongan; sikap sadar rasa tanggung jawab untuk kepentingan dan keselamatan jiwa para pribadi; serta setiap memberi peluang bagi pertumbuhan watak dan kepribadian generasi penerus, melalui pengalaman, baik dalam pelayanan maupun dalam arena kehidupan lainnya.

    Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar.


    SEJARAH DAN NILAI TRADISIONAL SULAWESI SELATAN
    Penerbit: Direktorat Jenderal Kebudayaan,
    Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Ujung Pandang
    Tempat Terbit: Ujung Pandang
    Tahun Terbit: 1996
    ISSN: 0852-2685


    November 29, 2021

    KOLEKSI NASKAH LA GALIGO DI DPK SULSEL


    Naskah-naskah La Galigo yang ada sekarang tersebar diberbagai tempat, antara lain pada perpustakaan (dalam dan luar negeri), museum-museum dan koleksi-koleksi pribadi.

    Koleksi Matthes dan Jonker, tersimpan pada Universiteits Biblioheek Leiden, koleksi Cense tersimpan pada perpustakaan Yayasan Kebudayaan Sulawesi Selatan Makassar, Koleksi Schoeman pada Staatsbibliothek Preussischer Kulturbesit, Berlin. 

    Berdasarkan hasil penelusuran literatur dari buku Cinta, Laut dan Kekuasaan dalam Epos La Galigo mengenai episode Pelayaran Sawerigading ke Tanah Cina: Perspektif Filologi dan Semiotik) oleh Nurhayati Rahman. Pada tahun 1992, DR. Mukhlis PaEni dari Fakultas Sastra Universitas Hasanuddin Makassar, dipercaya oleh The Ford Foundation untuk memimpin Proyek Pemikrofilman Naskah-Naskah Sulawesi Selatan. Proyek ini telah berhasil mengumpulkan sekitar 5000 lebih naskah, termasuk beberapa naskah La Galigo. Semua hasil mikrofilm ini tersimpan pada Arsip Nasional Makassar sekarang Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan (DPK SulSel) dan Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI).

    DPK SulSel merupakan tempat penyimpanan teks terbanyak, yakni 8 naskah. Khususnya episode  Sompeqna  Sawerigading Lao Ri Tana Cina (Pelayaran Sawerigading  ke Tanah Cina) adalah salah satu episode yang menceritakan kegagalan cinta Sawerigading untuk mempersunting adik kembarnya We Tenriabeng. Yang menyebabkan ia berlayar menuju tanah Cina untuk mewarnai We Cundai putri raja Cina.

    Episode ini sarat dengan nuansa pencitraan laut, yang memantulkan budaya Bugis seutuhnya, sebagai suku bangsa di Indonesia yang selama ini dikenal akrab dengan laut, walaupun ternyata yang dimaksud dalam naskah tidak selalu laut dalam arti harfiah, tetapi terkadang sebagai simbol kehidupan dengan segala tantangan dan harapan hidup yang dinamis.

    Naskah-naskah koleksi DPK Sulsel, yang merupakan hasil mikro film dari proyek naskah, naskah tersebut bernomor:

    1. rol 60, nomor naskah 25
    2. rol 48, nomor naskah 4
    3. rol 40, nomor naskah 3
    4. rol 63, nomor naskah 20
    5. rol 66, nomor naskah 37
    6. rol 66, nomor naskah 39
    7. rol 26, nomor naskah 24
    8. rol 44, nomor naskah 12


    CINTA, LAUT DAN KEKUASAAN: Dalam Epos La Galigo

    Karya La Galigo merupakan satu-satunya dokumen tertulis yang dimiliki oleh orang Bugis jauh sebelum Islam datang ke Sulawesi Selatan. Karena itu, La Galigo merupakan bukti peninggalan kebudayaan orang Bugis yang paling tua dan lama, mendahului peradaban Islam di Sulawesi Selatan. Hampir semua ahli pernah meneliti La Galigo mengatakan bahwa La Galigo pertama kali ditulis sebelum Islam datang di Sulawesi Selatan, Mattulada memperkirakan sekitar abad ke 7 - 9 M, Fachruddin abad ke-13 dan Pelras abad ke-14 M. 

    Di dalamnya menggambarkan kepercayaan lama orang Bugis yang mengisahkan tentang kehidupan para dewa-dewi di langit dan di bawah laut. Perkawinan dewa di langit dan dewi di bawah itulah yang melahirkan bumi, tempat manusia beranak-pinang yang sekarang dikenal sebagai manusia Bugis. Hampir semua episode La Galigo  diwarnai oleh kehidupan dan kejayaan di laut. Karena itu, tidak benar kalau orang Bugis bukan pelaut. Pelayaran dan perantauan bagi orang Bugis adalah sebuah peninggalan kebudayaan yang paling tua dan sekarang ini tidak mendapatkan tempat yang baku dalam kebudayaan orang Bugis.

    Melalui peradaban laut itulah manusia Bugis memaknai kehidupan dengan sumangeq dan ininnawa yaitu "sukma" dan "hati nurani" yang diwariskan dari La Galigo. Itulah yang melahirkan sifat warani (keberanian), lempuq (kejujuran) dan getteng (keteguhan pendirian) yang menjadi modal dan bekal bagi mereka dalam mengarungi seribu dunia dan menerjemahkannya ke dalam kehidupan dunia kekinian.

    Buku CINTA, LAUT DAN KEKUASAAN: Dalam Epos La Galigo memberikan gambaran hidup tentang tokoh Sawerigading tokoh utama yang eksentrik dan kontroversial dalam epik kuno La Galigo. Ia merupakan generasi ke tiga dari pasangan dewi di Boting Langiq (kerajaan langit) dan dewi di Buri Liu (kerajaan bawah laut). Ketika lahir, Sawerigading kembar emas dengan seorang perempuan cantik yang bernama We Tenriabeng. Dikhawatirkan akan saling jatuh cinta bila kelak dewasa, maka ia pun dipisahkan dewan adat sejak kecil. Namun apa daya, sekali waktu, ketika telah sama-sama dewasa tanpa sengaja dalam sebuah pesta di istana ia bertemu dan saling pandang dengan adiknya. Sawerigading tidak bisa mengendalikan diri dalam memandang kecantikan sang putri, tak kuasa menolak cinta yang tiba-tiba saja menyerukan masuk dalam kehidupannya, tak kuasa menolak apa kata hatinya, tak peduli larangan dan pantangan adat, tak peduli dengan sanksi adat yang akan menimpanya. Itulah awal petaka yang mengawali kisah Episode Pelayaran Sawerigading ke Tanah Cina (PSTC). Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar yang membahas tentang dahsyatnya kekuatan cinta, gemerincing senjata dalam tujuh kali perang di laut yang mengukuhkan kekuasaan Sawerigading sebagai penguasa laut yang tak tertandingi.


    CINTA, LAUT DAN KEKUASAAN: Dalam Epos La Galigo
    Perspektif Filologi dan Semiotik

    Penulis: Nurhayati Rahman
    Penerbit: La Galigo Press
    Tempat Terbit: Makassar
    Tahun Terbit: 2006
    ISBN: 979-15492-0-6




    November 26, 2021

    SAWERIGADING JATUH CINTA

    Sawerigading yang lahir dengan nama "La Madukelleng To Appanyompa". Tanda-tanda kebesarannya sudah terlihat sedari masa kandungan. Sawerigading berada dalam kandungan selama 10 bulan dan pada saat menjelang proses kelahirannya, Ibunda "sang permaisuri kerajaan di Luwu" We Datu Sengeng, menghadapi masa kritis selama sembilan hari, sembilan malam. Karena kritisnya tersebut, sampai-sampai Batara Guru turun tangan, memanggil sang Tunas keluar dengan nama "langi Paewang" disertai nazar.

    Kisah Sawerigading memiliki banyak episode kisah perjalanan, baik yang tercantum dalam Sureq Lagaligo maupun dalam serpihan kitab-kitab Bugis Kuno yang tersimpan di tengah masyarakat. Bila dibaca sepintas terkesan, banyak menampilkan cerita keglamouran super heroik nyaris tak masuk akal, akan tetapi jika diperhatikan secara seksama, maka di sana termaktub hikmah dan nilai karakter orang Bugis.

    Adapun gaya sastra dalam cerita tersebut tidak lepas dari sang penulis yang dipengaruhi zaman yang berkembang pada saat itu. Hal ini bisa dimaklumi lantaran kisah Sawerigading adalah milik masyarakat yang berkembang secara lisan dari masa ke masa.

    Buku SAWERIGADING JATUH CINTA mengisahkan cinta tragis sosok Sawerigading yang jatuh cinta ke pada We Tenriabeng, saudara kembarnya sendiri. Isi cerita memberikan hikmah pembelajaran pada peradaban naluri manusia dan ketaatan hukum universal sebagai makhluk yang memiliki tata-aturan atau pedoman hidup bagi manusia di dunia. Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar.


    SAWERIGADING JATUH CINTA 
    Penulis: M. Akil AS
    Penerbit: Pustaka Refleksi
    Tempat Terbit: Makassar
    Tahun Terbit: 2008
    ISBN: 979-3570-65-3                                                    





    November 22, 2021

    SEJARAH SOSIAL MASYARAKAT RONGKONG

    Asal usul Rongkong menurut tuturan dari orang-orang tua Rongkong juga berasal dari bagian dari kisah Sawerigading, yang dipercayai memiliki 40 orang sepupu sekali. Seluruh saudara sepupu Sawerigading ini kemudian menyebar untuk mendiami berbagai wilayah di tanah Luwu. 

    Sepupu tertua Sawerigading La Marancina dengan gelar Tomakaka (orang yang dituakan) yang diutus kedataran tinggi dibagian barat, atau di kaki gunung Berada, yang sangat kaya dengan potensi alam, tanahnya mengandung elemen-elemen penting yang menyebabkannya menjadi sangat subur (yang sekarang dikenal dengan biji besi, nikel, uranium dan sebagainya. Sebuah dataran yang sangat indah dan mengagumkan. Setelah melihat situasi itu, La Marancina berkata (kepada Sawerigading) sukku' rongko'na tondokku (sungguh sempurna kemuliaan tanahku). Sehingga tanah ini disebut Rongkong yang diambil dari kata marongko (mulia, dirahmati). Sejak itulah La Marancina mendiami dan berkuasa di Rongkong.

    Sejarah Luwu menyebutkan bahwa orang-orang Rongkong memiliki peran yang cukup besar dalam dinamika politik Luwu khususnya di bidang pertahanan (peperangan). Orang Rongkong memiliki peran yang cukup besar dalam dinamika politik Luwu khususnya di bidang pertahanan (peperangan). Orang Rongkong yang dikenal berani dan kebal senjata menjadi garda terdepan dalam pasukan bersenjata Luwu.

    Orang Rongkong yang sering dipersamakan dengan suku Toraja diperlakukan istimewa (oleh Datu). Kelompok masyarakat itu dijadikan "barisan berani mati" pembela datu (raja) Luwu. Nilai seorang anggota masyarakat Rongkong dipersamakan dengan 15 penduduk biasa. Artinya bila seorang Rongkong dibunuh maka gantinya adalah 15 orang, yakni si pembunuh dan 14 orang lainnya.

    Kepercayaan lokal orang disebut aluk toyolo, dimana devata disembah melalui pararuk. Mereka juga mengenal penyembahan tengkorak manusia pada saat panen padi dan kematian tomakaka. Ada juga tradisi pokorren yang berarti bekerja dua hari untuk tomakaka.

    Sistem kebudayaan Rongkong bermuara pada ritual pertanian. Ini karena mata pencaharian penduduk Rongkong adalah pertanian. Tanah pegunungan yang subur sangat memungkinkan untuk hal itu. Karena itulah, peran pangngarong (tetua adat yang membidani pertanian) sangat fungsional sampai sekarang. Sistem sanksi dalam masyarakat Rongkong bersifat denda. Denda yang paling tinggi adalah kerbau. Jumlah kerbau tergantung pada tosiaja (tertua adat yang membidani hukum) kecuali yang tertera dalam sapa sangpulo pitu.

    Perubahan kebudayaan adalah sesuatu yang wajar karena masyarakat memang dinamis. Pergeseran yang terjadi karena pergeseran dan pusat kuasa budaya. Otoritas budaya melemah karena adanya pengaruh kuasa-kuasa (kolonial, kristenisasi, DI/TII dan Islamisasi) dan modernitas (negara dan pasar).

    Kebudayaan orang Rongkong terpusat pada kehadiran tomakaka. Selama tomakaka ada maka kebudayaan dapat direkonstruksi. Diaspora warga Rongkong di Seko dan Palopo menunjukkan orang Rongkong ke Seko adalah turunan tomakaka, begitu pula para pengungsi di Kota Palopo. Sedangkan, diasporan orang Rongkong ke Malangke yang tidak dipimpin oleh tomakaka, tidak bisa membangun adat berdasarkan adat Rongkong tetapi tetap bisa membangun komunalitas.

    Buku SEJARAH SOSIAL MASYARAKAT RONGKONG membahas tentang sejarah dan kebudayaan Rongkong yang berbeda dengan konstruksi kebudayaan dominan di Luwu, seperti motif kain, besi Porreo, hutan adat yang luas dan masih mempertahankan adat yang diwariskan oleh nenek moyang mereka hingga sekarang. Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin KM. 7 Tala'salapang-Makassar.


    SEJARAH SOSIAL MASYARAKAT RONGKONG
    Penulis: Saprillah, Muh, Idrus, Risla, Munandar
    Penerbit: Balai Pelestarian Nilai Budaya Makassar
    Tempat Terbit: Makassar
    Tahun Terbit: 2021
    ISBN: 978 979 3897 66 0


    October 21, 2021

    SAWERIGADING SEBUAH VERSI LISAN BAHASA TORAJA


    Cerita lisan Sawerigading di Kandora, Mengkendek, dicatat pertama kali oleh penulis dari Puang Mangatta alias Puang To'lamba' pada tahun 1957. Versi tersebut adalah sebuah mitos yang memuat data-data sejarah lokal. Jamallomo, anak Sawerigading adalah "pangngala tondok" 'pendiri desa' Kandora. Tradisi dalam desa Kandora tersebut menunjukkan titik peralihan dari sejarah kekuatan "tomakaka" (semacam 'Urdemokratie')  kepada kekuasaan "kapuangan" (semacam 'Aristokratis') di daerah maqkale, Tana Toraja dan di daerah Duri, Enrekang dahulu kala. Pemimpin daerah Tallu Batupapan (Allaq, Sangngallaq, Mengkendek) di Duri, Enrekang dahulu kala menganggap dirinya Puang Pindakati (dalam cyclus Bugis disebut We Pinrakati) di Kandora, Tana Toraja. 

    Versi lisan Saweringading di Kandora, Tana Toraja itu bagaimanapun juga menunjukkan hubungan prasejarah Tana Toraja dengan prasejarah suku Bugis dahulu kala. Prasejarah suku Toraja, khususnya sejarah "pangngala tondok", 'pendiri desa yang pertama' dahulu kala di daerah ini, antara lain pendirian desa Kandora di Kecamatan Mengkendek Tana Toraja. Pokok pikiran orang Toraja yang melatar belakangi kepercayaan mereka terhadap arwah yang ditemukan dalam "kada tomaqkayo" 'mada petugas upacara kematian' pada mengantarkan arwah jenazah orang mati ke dunia puya tersebut, dan juga dalam "badong ossoran" 'mada dukacita' yang dilagukan pada upacara kematian di daerah ini.

    Versi lisan Sawerigading diceritakan pada upacara syukuran "merok", terkenal dengan sebutan "merok Sawerigading". Tradisi ini berbeda dengan upacara "merok" yang berlaku umum di seluruh Tana Toraja. Upacara merok yang berlaku umum di Tana Toraja acaranya dilaksanakan berhari-hari, bahkan harus didahului oleh acara-acara tertentu yang dilaksanakan setahun dua tahuna atau lebih sebelumnya. Upacara "merok Saweringading" tersebut acaranya dilakukan hanya sehari semalam saja, tanpa didahului acara-acara lainnya.

    Upacara ini dilaksanakan dengan mempersembahkan seekor kerbau hitam, putih bulu ekornya, putih warna kuku kedua kaki belangnya. Dalam bahasa Toraja kerbau seperti itu disebut "tedong samara". Upacara itu dipusatkan pada kediaman Puang Parranan. Dalam melaksanakan upacara itu, beberapa buah batu keramat yang bergelar " Puang Parranan" penjelmahan "Puang Pindakati", istri pertama Sawerigading, diturunkan dari atas rumah, lalu dimandikan dan diberi pakaian baru (maksudnya diberi bungkusan yang baru). Persembahan, dalam bahasa Toraja disebut "pesung" diletakkan oleh petugas di depan rumah kediaman Puang Parranan, di depan 3 buah batu. Sebuah batu itu berbentuk seekor angsa yang sedang duduk menengadah ke langit. Dua buah yang lain terletak bersusun dalam bentuk lingga-yoni, lambang kekuasaan dan kesuburan, semacam phallus cultus. Upacara "merok Saweringading" tersebut dimeriahkan dengan tari-tarian kesukaan seperti: maqgellunq, maqdandan, manimbong dan maqbugiq yang dilaksanakan pada malam mendahului upacara. Sepanjang malam itu juga, "tominaa' 'ahli dan petugas' upacara menyanyikan hymne "passomba tedong" pujaan pada kerbau. Versi Sawerigading dicaritakan malam itu juga.

    Bahagian cylus I La Galigo versi Bugis tersebut menunjukkan persejajaran antara kepercayaan suku Toraja dan suku Bugis dahulu kala terhadap alam arwah orang mati yang disebut "pamasareng" dalam bahasa Bugis dan dalam bahasa Toraja tersebut "punya". Kepercayaan inilah yang menjadi latar belakang pemotongan hewan, terutama kerbau, pada upacara penguburan jenazah orang mati di Tana Toraja.

    Buku SAWERIGADING SEBUAH VERSI LISAN BAHASA TORAJA, DI KANDORA, MENGKENDEK, TANA TORAJA membahas tentang versi lisan Sawerigading di Kandora, Mengkendek, Tana Toraja dan terjemahannya serta prasejarah Tana Toraja dan beberapa aspek sosio-religio-kultural versi lisan Sawerigading Tana Toraja. Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar.


    SAWERIGADING SEBUAH VERSILISAN BAHASA TORAJA, 
    DI KANDORA, MENGKENDEK, TANA TORAJA

    Penyusun: C. Salombe




    September 29, 2021

    SAWERIGADING SEBAGAI PAHLAWAN BUDAYA


    Tokoh yang populer dalam sure' Galigo, adalah PatotoE, Batara Guru, Batara Luwu', Sawerigading We Nyili Timo dan We Datu Senggeng, namun yang paling populer adalah Sawerigading ia generasi ketiga dalam "Penciptaan" manusia dan alam.

    Naskah La Galigo dan lebih khusus naskah episode Sawerigading, ditinjau dari segi pencerminan masyarakat dan budaya masyarakat Bugis, skenario cerita memang tergambar sifat-sifat asli orang Bugis, sistem kekerabatan, sistem perkawinan, lapisan sosial dan pandangan kosmogonynya. Sistem kepercayaan yang terlukis dalam cerita, berada pada Stadia berpikir kedewaan, tanpa adanya tanda-tanda pengaruh agama-agama prophetis.

    Peranan skenario cerita dari keseluruhan tokoh-tokoh naskah La Galigo, Sawerigading diangkat sebagai pusat tempat berbesarnya sebuah cerita yang menampilkan wujud kebudayaan dan isi (struktur) kebudayaan masyarakat Bugis. Karakter dan watak seorang pri, terutama di kalangan elit sosial, tergambar pada perilaku dan kepribadian Sawerigading, sebagai seorang raja muda dan duta keliling serta seorang pengembara di lautan. Ia berupaya bermitra dengan kerajaan tetangganya sebagai usaha konsolidasi yang bertujuan membesarkan kerajaan LUWU. 

    Walasuji, Jurnal Kebudayaan Sulselra dan Barat, dengan terbitan khusus SAWERIGADING SEBAGAI PAHLAWAN BUDAYA berisi kumpulan tujuh artikel, kesemuanya merupakan makalah yang dibawakan pada Seminar Internasional La Galigo di Masamba. Ketujuh artikel tersebut adalah:

    1. Sebuah Tinjaun Reflektif terhadap Epos Lagaligo dan Tantangan Nilai Budaya Masa Depan, oleh: Ishak Ngeljaratan
    2. Sawerigading dan La Galigo dalam Perspektif Kontemporer, oleh: Nurdin Yatim
    3. Kedatuan Cina Menurut I Lagaligo, Lontarak dan Hasil Penelitian Oxia, oleh Prof. Andi Zainal Abidin
    4. Sawerigading sebagai Pahlawan Budaya: Simbol Maritim di Sulawesi Selatan, oleh Abu Hamid
    5. Refleksi Wanita dalam Sastra Bugis (Mitos Galigo dan Lagenda Pau-pau), oleh Muhammad Rapi Tang
    6. Sawerigading dan Masyarakat Cina - Makassar, oleh Shaifuddin Bahrum
    7. La Galigo: Milik Siapa? (Analisis atas Keterkaitannya dengan Saujana Budaya), oleh: Widya Nayati.
    Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km.7 Tala'salapang-Makassar untuk menyebarluaskan hasil-hasil penelitian dalam bentuk karya ilmiah.


    SAWERIGADING SEBAGAI PAHLAWAN BUDAYA
    Walasuji, Jurnal Kebudayaan Sulselra dan Barat
    Penerbit: Departemen Kebudayaan dan Pariwisata, Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Makassar
    Tempat Terbit: Makassar
    Tahun Terbit: 2008
    ISSN: 1907-3038


    December 22, 2020

    PERKAWINAN SAWERIGADING DENGAN WE CUDAI


    Sawerigading salah tokoh hero karena membawa pesan moral sehingga dianggap perwakilan dan ditinggikan dari sejarah suatu peradaban, seperti masyarakat Bugis tokoh. Tokoh hero dalam epos I La Galigo seperti Sawerigading, We’Cudai, La Galigo, We’ Tenriabeng, We’ Opu Sengngeng, dll. 

    Kisah Sawerigading untuk menikahi adiknya We’ Tenriabeng, membuat Sawerigading harus keluar untuk mendapatkan perempuan lain dalam hal ini telah ditentukan bernama I we’ Cudai yang juga merupakan sepupunya yang merupakan keturunan dewa. I We’ Cudai bertempat di negeri Cina yang mana harus di tempuh dengan pelayaran yang jauh. Kisah perjalanan tersebut diwarnai dengan kisah heroik tokoh Sawerigading dengan memenangkan tujuh kali peperangan dalam pelayarannya belum lagi ketika sampai di negeri Cina. Sawerigading harus menaklukkan negeri tersebut untuk mendapatkan cinta I We’ Cudai.

    Akhirnya, Sawerigading menikahi We Cudai. Dari perkawinannya, melahirkan anak pria bernama I La Galigo yang bergelar Datunna Kelling. Anak inilah, yang akhirnya menjadi penerus Kerajaan Luwu. Dan dari masa kejayaan I La Galigo, ia membuat karya sastra monumentar tentang silsilah keluarganya sendiri. 

    Buku PERKAWINAN SAWERIGADING DENGAN WE CUDAI menceritakan kisah peminangan, penyerahan mahar, acara pernikahan, perkawinan Sawerigading dengan We Cimpau, I We Cudai melakukan I La Galigo, usia I La Galigo genap tiga tahun, I La Galigo menerima payung kebesaran atas kekuasaan Cina, serta We Cudai hamil lagi. 


    PERKAWINAN SAWERIGADING DENGAN WE CUDAI 
    Penyusun: Drs. Nonci, S. Pd
    Penerbit: CV. Aksara
    Tempat Terbit: Makassar



    March 31, 2020

    La Galigo, Menelusuri Jejak Warisan Sastra Dunia




    Buku : La Galigo, Menelusuri Jejak Warisan Sastra Dunia
    Editor : Nurhayati Rahman, Anil Hukma, Idwar Anwar
    Penerbit : Pusat Studi La Galigo Universitas Hasanuddin berkerjasama dengan Pemerintah daerah Kabupaten Barru, Makassar 2003
    Jumlah Halaman : xxvii + 558
    ISBN : 979-97666-0-5

    La Galigo adalah sebuah karya sastra yang sarat makna dan bernuansa kearifan budaya masa lalu dari Sulawesi Selatan. Karya sastra yang konon terpanjang didunia. Karya sastra yang telah mendunia dan telah menjadi obyek pembahasan dalam berbagai seminar, workshop, konferensi, dan pertemuan ilmiah lainnya. Banyak penulis dan peneliti baik dari dalam negeri sendiri maupun dari luar negeri yang telah mengkaji dan menulis tentang La Galigo. Karya karya mereka sudah banyak tersebar diberbagai forum, lembaga perndidikan, perpustakaan, lembaga penelitian dan pusat pusta informasi lainnya di berbagai negara. 

    Buku ini adalah kumpulan makalah yang dipresentasikan pada Seminar Internasional  La Galigo yang dilaksanakan pada tanggal 15- 18 Maret 2002 di Desa Pancana, Kabupaten Barru. Diawali dengan “Sekapur Sirih” dari Andi Muhammad Rum (Bupati Barru waktu itu), “Catatan Editor” , “Pengantar” oleh Anhar Gongngong, dan “Pendahuluan” oleh Nurhayati Rahman. 

    Ada 4 bagian dan masing masing bagian terdiri dari beberapa Sub-bagian lagi. Sub-bagian ini adalah Makalah makalah yang dipresentasikan dalam Seminar Internasional ini. 

    Berikut ini saya uraikan masing masing bagian dan makalah makalah yang dibahas dan nama penulis makalah. 

    Bagian I. Di Cengkeram La Galigo 

    1.      The ‘La Galigo’ A Bugis Encynclopedia and its Growth  (Sirtjo Koolhof)
    2.      Transliterasi dan Terjemahan Sureq Galigo (Muhammad Salim)
    3.      Ibuku Magali-Gali, maka Aku Dinamai I La Galigo (Muhammad Salim)
    4.      Pengembaraan La Galigo ke Washington DC. – Memperkenalkan Husin bin Ismail, Seorang Bugis Terpelajar di Singapura (Roger Tol)
    5.      Seduced By La Galigo, - A Film Maker Journey (Rhoda Grauer) 

    Bagian II.  Pengembangan Tradisi Lisan La Galigo di Nusantara

    1.      La Galigo Versi Lisan Gorontalo (Nani Tuloli)
    2.      Sawerigading Versi Sulawesi Tengah (Hasan Basri dan Baso Siodjang)
    3.      Sawerigading dan Haluoleo di Sulawesi Tenggara, - Ingatan Masa Lalu dan Tafsir Masa Kini (Susanto Zuhdi)
    4.      La Galigo dan Kejayaan Bugis di Tanah (Riau); Seperti Tergambar dalam Sastra Melayu (Mu’jizah dan Dewaki Kramadibrata)
    5.      Sawerigading dalam Peradaban Suku Toraja, Sulawesi Selatan. (Cornelis Salombe)
    6.      Misi Perjalanan Sawerigading (Lasaeo) di Poso (Juraid Abdul Latief)
    7.      Sawerigading dalam La Galigo – Catatannya dalam Versi Kelantan dan Trengganu serta Hubungannya dengan Yuwana di Semenanjung Indocina. (Abdul Rahman Al Ahmady)

    Bagian III. Teks La Galigo dalam Kepungan Makna dan Interpretasi

    1.      La Galigo dan Kanon Sastra Dunia: Penciptaan dan “Penemuan” Manusia. (Nirwan Ahmad Arsuka)
    2.      La Galigo, Odesei, Trah Buendia (Nirwan Ahmad Arsuka)
    3.      Pendahuluan Siklus La Galigo yang Tak Dikenal (Christian Pelras)
    4.      La Galigo Sebagai Sumber Kajian Sejarah (Teuku Ibrahim Alfian)
    5.      Kegunaan Cerita Rakyat Sawerigading sebagai Sumber Sejarah Lokal Daerah-Daerah di Sulawesi  (James Danandjaja)
    6.      Nature and Culture – Studi Awal tentang Konsep Lingkungan dalam Epos Galigo. (Darmawan Mas’ud dan Gufran D. Dirawan)
    7.      Pemanfaatan Lingkungan Alam Bagi Pemenuhan Kebutuhan Hidup Masa Lalu di Sulawesi: Refleksi Mitos La Galigo. (Widya Nayati)
    8.      Budidaya Padi Berdasarkan Naskah La Galigo (Fahruddin Ambo Enre)
    9.      Persfektif Gender Dalam Naskah Galigo (Nurnaningsih)
    10.  Keterbacaan (Intelligibilitas) Sureq Galigo bagi Penutur Makassar (Nurdin Yatim)
    11.  La Galigo in Comparative Perspectives (Campbell Macknight)
    12.  Berlayar ke Tompoq Tikkaq: sebuah Episode La Galigo (Horst H. Liebner)
    13.  Solusi Konflik dalam La Galigo (Muhammad Tang)
    14.  Nilai Nilai Utama Kebudayaan Bugis dalam La Galigo (Rahman Rahim)

    Bagian IV. Dunia Dalam La Galigo dan Realitas Masyarakat Kekinian

    1.      Sawerigading dalam Identitas dan analisis (Mattulada)
    2.      Persepsi dan Pemahaman Tokoh Adat tentang La Galigo  (A. Anton Pangerang)
    3.      “Kenyataan, Anakrotisme dan Fiksi”: Arkeologi Bersejarah dan Pusat Pusat Kerajaan dalam La Galigo (Ian Caldwell)
    4.      The Archaeology of The Major Sites in Ussu/ Cerekang (David Bulbeck)
    5.      Kepercayaan dan Upacara dai Budaya Bugis Kuno: Pujaan Pendeta Bissu dalam Mitos La Galigo (Gilbert Albert Hamonic)
    6.      Bissu in La Galigo (Sharyn Graham)
    7.      Bissu: Imam yang Menghibur (Halilintar Latief)

    Pada bagian akhir buku ini ada Biodata para penulis makalah, kemudian Indeks (untuk memudahkan pembaca dalam menemukan topik tertentu dalam buku ini) dan lampiran foto foto kegiatan selama berlangsungnya Seminar Internasional tersebut. 

    Buku Koleksi Perpustakaan Abdurrasyid Daeng Lurang, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Sulawesi Selatan.