SAWERIGADING sebuah nama legendaris. Untuk masyarakat dan kelompok-kelompok etnik tertentu di Sulawesi, nama itu memiliki makna mitologik. Ia dihubungkan dengan peristiwa atau kejadian awal, sesuatu yang bertalian dengan benda alam, atau peralatan dalam kehidupan awal sesuatu peradaban. Sebagai tokoh legendaris Sawerigading diceritakan sebagai tokoh dari peristiwa-peristiwa kultural yang meliputi berbagai kejadian, dan yang selanjutnya diterima sebagai pola yang diikuti sebagai peristiwa normatif dalam kehidupan persekutuan atau kaum yang memandangnya sebagai cikal bakal kepemimpinan kaumnya.
Sawerigading menyampaikan kepada masa kini Sulawesi, tentang peradaban masa lalu. Masa lalu yang disampaikannya itu menyentuh kehidupan nyata kelompok-kelompok persekutuan hidup, kaum, kelompok etnik atau lapisan tertentu masyarakat di banyak wilayah persebaran, dan pada banyak waktu yang berbeda-beda. Sawerigading menyusup ke dalam peradaban, menindih atau memperkaya lapisan-lapisan yang telah ada sebelumnya dan membawanya ke dalam realitas kultur, atau kenyataan budaya. Kenyataan budaya itu apabila dihubungkan dengan realitas sosial dengan cara mengaktualisasikannya ke dalam kenyataan, maka menjadilah ia pangkalan rujukan bagi peristiwa-peristiwa atau silsilah sesuatu kaum.
Epos Galigo yang mengutarakan segala kejadian yang melibatkan Sawerigading sebagai tokoh legendaris, Culture hero, rujukan segenap kerabat penguasa dan kaum-kaum serta kelompok-kelompok persekutuan hidup di Sulawesi, maka simbol-simbol dari kejadian, keadaan dan lokasinya, serta waktunya, adalah simbol-simbol yang memerlukan kejelian dalam interpretasi, dengan menggunakan peralatan-peralatan disiplin ilmu pengetahuan yang relevan.
Hal tersebut dapat dilihat pada bagian-bagian penting dari peristiwa, keadaan, tempat dan waktu yang menyertainya sebagai berikut :
- Penghuni atau katakanlah para penguasa di Botillang' (satu tempat di luar dunia) di bawah pimpinan PatotoE (yang menentukan nasib) dengan istrinya Datu Palinge memusyawarahkan tentang kehendak memberikan kepada dunia (bumi) penghuni dari keturunan mereka.
- Ditetapkanlah Latoge' langi Batara Guru (putera PatotoE-Datu Palinge) melambangkan aspek langit dan partiwi (dunia di bawah Bumi) menjadi penghuni dan penguasa pertama bumi Batara Guru kawin dengan sepupu-sekalinya We Nyili' Timo, Puteri Guru riselleng dan Sinaw Tojang penguasa urilliu (pertiwi), sebagai penekanan bagi penyatuan aspek langit dan pertiwi menjadi esensi dunia.
- Perkawinan Batara Guru dengan We Nyili' Timo', menurunkan Batara Lattu yang memperistrikan Opu Sangiang, menjadi ayah dan ibu Sawerigading. Sawerigading lahir dengan saudara kembarnya puteri We Tenriabeng.
- Pada waktu masih kecil, tempat tinggal Sawerigading dipisahkan dari tempat tinggal saudaranya, We Tenriabeng. Pada waktu dewasa Sawerigading jatuh cinta kepada We Tenriabeng. We Tenriabeng membujuk Sawerigading untuk ke Cina, memperistri We Cudai.
- Sawerigading dengan istrinya We Cudai, melahirkan putera bernama La Galigo, yang menjadi lambang keilmuan susastra I la Galigo, satu karya sastra klasik dunia yang besar.
- Perjalanan berperahu Sewerigading ke seluruh wilayah Sulawesi dan sekitarnya meninggalkan berbagai kejadian dan peristiwa yang dilukiskan sebagai realitas kultural setempat sampai pada hari ini.
- Suatu ketika dalam perjalanan berperahu Walenrenge. Sawerigading dan We Cudai di tarik turun bersama perahunya ke bawah (Pertiwi) maka berakhirlah dinasti Batara Guru di atas bumi ini.

No comments:
Post a Comment