Showing posts with label La Galigo. Show all posts
Showing posts with label La Galigo. Show all posts

August 22, 2022

MEMBONGKAR HALAMAN SEJARAH

Betapa sulitnya mengidentifikasi tokoh-tokoh ada pada silsilah dan buku La Galigo yang telah penulis lukiskan. Sama sulitnya untuk menetapkan pernah "ada" atau "tidak adanya" Sawerigading. Hanya satu hal yang perlu diketahui seperti dikemukakan oleh Gouvernuer van Celebes Couvreur-bahwa Raja-Raja dahulu di Sulawesi (sebenarnya juga di Bima dan Sumbawa) mengakui berasal dari satu nenek moyang yang sama yaitu Batara Guru.

Buku MEMBONGKAR HALAMAN SEJARAH terdari dari dua bab. Bab pertama membahas tentang:

  • Perbandingan Silsilah Versi Wajo dengan La Galigo; 
  • Sejarah Cina ri Aja dan Cina Ri Lauq atau Tana Uniq Menurut Buku La Galigo; 
  • Hubungan Luwu, Cina, Tomoq Tikkaq dan Wadeng serta Kerajaan-Kerajaan Pubra di Sulawesi Tengah; 
  • Kedatuan Cina Menurut Lontaraq Attoriolongnge ri Pammana 
  • Berdasarkan Temuan arkeologis OXIS Project; 
  • Perbandingan Silisilah Versi Wajo dan Silisilah Versi Luwu; 
  • Silisalah Versi Wajo dam Tuhfat Al-Nafis

Bagian Kedua:
  • Kontroversi di Seputar Latar Cina Dalam Lagaligo
  • Teks La Galigo Antara Sakral dan Profan

Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang membahas tentang lontaraq Penguriseng (silsilah) yang isinya berbeda dengan daftar silsilah yang tergantung di Museum Batara Guru di Palopo, berbeda pula dengan cerita awal mula raja pertama di Luwu berdasarkan naskah di Luwu yang telah di pergunakan oleh Gilbert Harmonic (1983: 13-40). Sangat berbeda nama-nama raja yang terdapat di dalam buku Tuhfat al Nafis yang disusun oleh (Alm) Raja Ali Al-Haji Riau (Transfer. 1965), yang merupakan naskah paling penting dalam penulisan sejarah negeri-negeri Melayu (Zainal Abidin bin Wahid. Kata Pengantar. 1965).

Naskah silsilah ini disaling oleh (Alm) Andi Paramata, dari Lontaraq Panguriseng milik Andi Makkaraka, yang semasa hidupnya memangku jabatan sebagai Arung Bettempola Wajo, seorang ahli Lontaraq yang memiliki naskah-naskah berbagai kerajaan yang tidak dapat dijumpai di daerah asalnya.


MEMBONGKAR HALAMAN SEJARAH
Penulis: Zainal Abidin Farid, Nurhayati Rahman, Sudirman Sabang
Penerbit: Lampena Intimedia
Tempat Terbit: Sengkang
Tahun Terbit: 2010
ISBN: 978-602-8151-40-8


June 6, 2022

LA GALIGO


La Galigo merupakan sebuah kitab yang dianggap suci oleh masyarakat Luwu pada masa lampau. Bahkan kesakralannya hingga kini masih diyakini sebagian masyarakat. La Galigo atau biasa juga disebut sebagai Shureq Selleang, Shureq Galigo, atau Bicaranna (Pau-paunna) Sawerigading, menceritakan tentang diturunkannya manusia pertama (mula tau) dalam mitologi masyarakat bugis.

BUKU LA GALIGO dalam episode Turunnya Manusia Pertama ini bercerita tentang awal mula diturunkannya manusia pertama yakni putra penguasa langit, Patotoke (Penentu Nasib) yang bernama Latogeq Langiq atau Batara Guru, selain itu diceritakan pula tentang diciptakannya tumbuhan, hewan, gunung-gunung dan hampir semua isi bumi.

Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi di jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar, yang bercerita tentang La Galigo dan dikemas dalam bahasa yang filosofis, namun dengan gaya tutur yang ringan dan mengalir. Meski telah dilakukan berbagai penambahan cerita, namun alur cerita masih tetap dipertahankan. Karakter tokoh juga semakin kuat dengan gaya penulisan klasik (Luwu Kuno) dan populer sehingga membuat cerita dalam buku ini lebih hidup dan berkarakter.

Dengan adanya cerita La Galigo dalam bentuk novel ini, diharapkan gairah masyarakat, terutama kalangan remaja untuk lebih mengetahui warisan budayanya sendiri semakin bertambah. Buku ini merupakan jawaban dari kegelisahan masyarakat akan hilangnya roh masa lalu dari diri mereka.


LA GALIGO : Turunnya Manusia Pertama (jilid 1)

Penulis : Idwar Anwar

Penerbit : Pustaka Sawerigading

                 Arung Pustaka

Tahun Terbit : 2011

ISBN : 978-602-9248-08-1

March 30, 2022

SAWERIGADING

SAWERIGADING sebuah nama legendaris. Untuk masyarakat dan kelompok-kelompok etnik tertentu di Sulawesi, nama itu memiliki makna mitologik. Ia dihubungkan dengan peristiwa atau kejadian awal, sesuatu yang bertalian dengan benda alam, atau peralatan dalam kehidupan awal sesuatu peradaban. Sebagai tokoh legendaris Sawerigading diceritakan sebagai tokoh dari peristiwa-peristiwa kultural yang meliputi berbagai kejadian, dan yang selanjutnya diterima sebagai pola yang diikuti sebagai peristiwa normatif dalam kehidupan persekutuan atau kaum yang memandangnya sebagai cikal bakal kepemimpinan kaumnya.

Sawerigading menyampaikan kepada masa kini Sulawesi, tentang peradaban masa lalu. Masa lalu yang disampaikannya itu menyentuh kehidupan nyata kelompok-kelompok persekutuan hidup, kaum, kelompok etnik atau lapisan tertentu masyarakat di banyak wilayah persebaran, dan pada banyak waktu yang berbeda-beda. Sawerigading menyusup ke dalam peradaban, menindih atau memperkaya lapisan-lapisan yang telah ada sebelumnya dan membawanya ke dalam realitas kultur, atau kenyataan budaya. Kenyataan budaya itu apabila dihubungkan dengan realitas sosial dengan cara mengaktualisasikannya ke dalam kenyataan, maka menjadilah ia pangkalan rujukan bagi peristiwa-peristiwa atau silsilah sesuatu kaum.

Epos Galigo yang mengutarakan segala kejadian yang melibatkan Sawerigading sebagai tokoh legendaris, Culture hero, rujukan segenap kerabat penguasa dan kaum-kaum serta kelompok-kelompok persekutuan hidup di Sulawesi, maka simbol-simbol dari kejadian, keadaan dan lokasinya, serta waktunya, adalah simbol-simbol yang memerlukan kejelian dalam interpretasi, dengan menggunakan peralatan-peralatan disiplin ilmu pengetahuan yang relevan. 

Hal tersebut dapat dilihat pada bagian-bagian penting dari peristiwa, keadaan, tempat dan waktu yang menyertainya sebagai berikut :

  1. Penghuni atau katakanlah para penguasa di Botillang' (satu tempat di luar dunia) di bawah pimpinan PatotoE (yang menentukan nasib) dengan istrinya Datu Palinge memusyawarahkan tentang kehendak memberikan kepada dunia (bumi) penghuni dari keturunan mereka.
  2. Ditetapkanlah Latoge' langi Batara Guru (putera PatotoE-Datu Palinge) melambangkan aspek langit dan partiwi (dunia di bawah Bumi) menjadi penghuni dan penguasa pertama bumi Batara Guru kawin dengan sepupu-sekalinya We Nyili' Timo, Puteri Guru riselleng dan Sinaw Tojang penguasa urilliu (pertiwi), sebagai penekanan bagi penyatuan aspek langit dan pertiwi menjadi esensi dunia.
  3. Perkawinan Batara Guru dengan We Nyili' Timo', menurunkan Batara Lattu yang memperistrikan Opu Sangiang, menjadi ayah dan ibu Sawerigading. Sawerigading lahir dengan saudara kembarnya puteri We Tenriabeng.
  4. Pada waktu masih kecil, tempat tinggal Sawerigading dipisahkan dari tempat tinggal saudaranya, We Tenriabeng. Pada waktu dewasa Sawerigading jatuh cinta kepada We Tenriabeng. We Tenriabeng membujuk Sawerigading untuk ke Cina, memperistri We Cudai.
  5. Sawerigading dengan istrinya We Cudai, melahirkan putera bernama La Galigo, yang menjadi lambang keilmuan susastra I la Galigo, satu karya sastra klasik dunia yang besar.
  6. Perjalanan berperahu Sewerigading ke seluruh wilayah Sulawesi dan sekitarnya meninggalkan berbagai kejadian dan peristiwa yang dilukiskan sebagai realitas kultural setempat sampai pada hari ini.
  7. Suatu ketika dalam perjalanan berperahu Walenrenge. Sawerigading dan We Cudai di tarik turun bersama perahunya ke bawah (Pertiwi) maka berakhirlah dinasti Batara Guru di atas bumi ini.
    Tujuh cuplikan kejadian atau peristiwa tersebut di atas secara ringkas menggambarkan peristiwa awal, bersifat mitologik. Suatu awal mengenai penciptaan masyarakat dunia. Pandangan Cosmogoni, tentang dunia atas (langit) dunia tengah (bumi) dan dunia di bawah bumi (pertiwi).
    Buku SAWERIGADING menceritakan tentang seorang tokoh legendaris yang dikenal oleh hampir seluruh kelompok etnik di Sulawesi. Persebaran cerita Sawerigading merata di seluruh Sulawesi (Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Sulawesi Utara (Gorontalo) dan di Sulawesi Tenggara). Di Gorontalo. Sawerigading dipandang sebagai tokoh yang menghubungkan mata rantai tali kekerabatan di antara kelompok-kelompok etnik di Sulawesi, dan sebagai peletak dasar peradaban (culture hero). Di Sulawesi Selatan, dia dikenal sebagai cikal bakal para penguasa negeri-negeri Bugis, Makasar, Mandar. Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar.


    SAWERIGADING 
    Tim Penulis/Pengkaji: Matulada, dkk (ed)
    Penerbit: Direktorat Sejarah dan Nilai Budaya Tradisional
    Tempat Terbit: Jakarta
    Tahun Terbit: 1990



    September 29, 2021

    SAWERIGADING SEBAGAI PAHLAWAN BUDAYA


    Tokoh yang populer dalam sure' Galigo, adalah PatotoE, Batara Guru, Batara Luwu', Sawerigading We Nyili Timo dan We Datu Senggeng, namun yang paling populer adalah Sawerigading ia generasi ketiga dalam "Penciptaan" manusia dan alam.

    Naskah La Galigo dan lebih khusus naskah episode Sawerigading, ditinjau dari segi pencerminan masyarakat dan budaya masyarakat Bugis, skenario cerita memang tergambar sifat-sifat asli orang Bugis, sistem kekerabatan, sistem perkawinan, lapisan sosial dan pandangan kosmogonynya. Sistem kepercayaan yang terlukis dalam cerita, berada pada Stadia berpikir kedewaan, tanpa adanya tanda-tanda pengaruh agama-agama prophetis.

    Peranan skenario cerita dari keseluruhan tokoh-tokoh naskah La Galigo, Sawerigading diangkat sebagai pusat tempat berbesarnya sebuah cerita yang menampilkan wujud kebudayaan dan isi (struktur) kebudayaan masyarakat Bugis. Karakter dan watak seorang pri, terutama di kalangan elit sosial, tergambar pada perilaku dan kepribadian Sawerigading, sebagai seorang raja muda dan duta keliling serta seorang pengembara di lautan. Ia berupaya bermitra dengan kerajaan tetangganya sebagai usaha konsolidasi yang bertujuan membesarkan kerajaan LUWU. 

    Walasuji, Jurnal Kebudayaan Sulselra dan Barat, dengan terbitan khusus SAWERIGADING SEBAGAI PAHLAWAN BUDAYA berisi kumpulan tujuh artikel, kesemuanya merupakan makalah yang dibawakan pada Seminar Internasional La Galigo di Masamba. Ketujuh artikel tersebut adalah:

    1. Sebuah Tinjaun Reflektif terhadap Epos Lagaligo dan Tantangan Nilai Budaya Masa Depan, oleh: Ishak Ngeljaratan
    2. Sawerigading dan La Galigo dalam Perspektif Kontemporer, oleh: Nurdin Yatim
    3. Kedatuan Cina Menurut I Lagaligo, Lontarak dan Hasil Penelitian Oxia, oleh Prof. Andi Zainal Abidin
    4. Sawerigading sebagai Pahlawan Budaya: Simbol Maritim di Sulawesi Selatan, oleh Abu Hamid
    5. Refleksi Wanita dalam Sastra Bugis (Mitos Galigo dan Lagenda Pau-pau), oleh Muhammad Rapi Tang
    6. Sawerigading dan Masyarakat Cina - Makassar, oleh Shaifuddin Bahrum
    7. La Galigo: Milik Siapa? (Analisis atas Keterkaitannya dengan Saujana Budaya), oleh: Widya Nayati.
    Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km.7 Tala'salapang-Makassar untuk menyebarluaskan hasil-hasil penelitian dalam bentuk karya ilmiah.


    SAWERIGADING SEBAGAI PAHLAWAN BUDAYA
    Walasuji, Jurnal Kebudayaan Sulselra dan Barat
    Penerbit: Departemen Kebudayaan dan Pariwisata, Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Makassar
    Tempat Terbit: Makassar
    Tahun Terbit: 2008
    ISSN: 1907-3038


    November 16, 2020

    LA GALIGO TURUNNYA MANUSIA PERTAMA



    LA GALIGO merupakan sebuah kitab yang dianggap suci oleh masyarkat Bugis pada masa lampau. Bahkan kesakralannya hingga kini masih diyakini oleh sebagian masyarakat. La Galigo atau bisa juga disebut Sureq Selleang, Sureq Galigo, atau Bicaranna (Pau-Paunna) Sawerigading, menceritakan tentang awal mula diturunkannya manusia pertama (mula tau) dalam mitologi masyarakat Bugis, sepak-terjang manusia keturunan dewata di Ale Lino (Dunia Tengah), hingga berakhir saat ditutupnya pintu Langit. Dengan ditutunya pintu langit, maka penghuni di Boting Langiq (Dunia Atas) dan Peritiwi (Dunia Bawah) tidak leluasa lagi pulang pergi ke Ale Lino atau Kawaq.

    Naskah Galigo ini pada awalnya merupakan tradisi lisan yang kemudian dituliskan. Dan dalam perjalanan waktu, naskah-naskah ini kemudian dikumpulkan oleh Retna Kencana, Colliq Pujie, Arung Pancana Toa, Mationroe ri Tucue atas permintaan Benyamin Frederik Matthes, seorang misionaris Belanda yang dikirim untuk menerjemahkan Bibel dalam Bahasa Bugis dan Makassar. Naskah ini kemudian dibawa ke Belanda dan disimpan diPerpustakaan Universitas Leiden, Belanda, dengan kode Nederlands Bijbelgenootschap (NBG), 188.

    Buku LA GALIGO TURUNNYA MANUSIA PERTAMA ini, bercerita tentang awal mula diturunkkannya bercerita tentang awal mula diturunkannya manusia pertama, yakni putra penguasa langit, Patotoqe (Penentu Nasib) yang bernama La Togeq Langiq atau Batara Guru. Selain itu, diceritakan pula tentang diciptakannya tumbuhan, hewan, gunung-gunung dan hampir semua isi bumi.

    Novel ini merupakan episode awal (Jilid 1) dari 12 Jilid naskah yang dikumpulkan Colliq Pujie (NBG 188). Naskah yang berjumlah 12 jilid ini mengandung kurang lebih 300.000 bait syair yang menurut pengumpulnya diperkirakan baru sepertiga dari seluruh isi cerita.

    Kisah dalam buku ini merupakan perjalanan kesadaran manusia Sulawesi Selatan akan dunia makro dan mikrokosmos yang termaktub dalam Kitab Galigo, sebuah kitab yang dianggap suci, khususnya oleh masyarakat di Sulawesi Selatan masih mempercayainya hingga kini. Dalam buku ini, diceritakan tentang awal mula turunnya manusia pertama dalam alam kesadaran masyarakat Luwu. Batara Guru atau La Togeq Langiq diturunkan  untuk menyelamatkan bumi dengan keturunannya yang akan menyeru ke langit dan menadahkan tangan ke Pertiwi.

    La Togeq Langiq kemudian ditempatkan di Luwu, sebuah wilayah yang akan menjadi cikal bakal dimulainya peradaban manusia, khususnya di Sulawesi Selatan. Kemudian dipertautkan jodohnya dengan putri dari Peretiwi bernama We Nyiliq Timoq. Disinilah bermula perjalanan manusia-manusia dewa yang ditempatkan di bumi, dan berakhir dengan ditutupnya pintu langit.

    Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Perpustakaan Umum yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang, Makassar, untuk lebih masyarakat Luwu (Sulawesi Selatan) pada masa lampau dan berbagai perspektif hingga pemahamannya tentang makrokosmos dan mikrokosmos.


    LA GALIGO TURUNNYA MANUSIA PERTAMA
    Penulis: Idwar Anwar
    Penerbit: Pustaka Sawerigading atas kerjasama BPDA Prov. Sulawesi Selatan
    Tempat Terbit: Makassar
    Tahun Terbit: 2015
    ISBN: 978-602-9248-08-1



    March 31, 2020

    La Galigo, Menelusuri Jejak Warisan Sastra Dunia




    Buku : La Galigo, Menelusuri Jejak Warisan Sastra Dunia
    Editor : Nurhayati Rahman, Anil Hukma, Idwar Anwar
    Penerbit : Pusat Studi La Galigo Universitas Hasanuddin berkerjasama dengan Pemerintah daerah Kabupaten Barru, Makassar 2003
    Jumlah Halaman : xxvii + 558
    ISBN : 979-97666-0-5

    La Galigo adalah sebuah karya sastra yang sarat makna dan bernuansa kearifan budaya masa lalu dari Sulawesi Selatan. Karya sastra yang konon terpanjang didunia. Karya sastra yang telah mendunia dan telah menjadi obyek pembahasan dalam berbagai seminar, workshop, konferensi, dan pertemuan ilmiah lainnya. Banyak penulis dan peneliti baik dari dalam negeri sendiri maupun dari luar negeri yang telah mengkaji dan menulis tentang La Galigo. Karya karya mereka sudah banyak tersebar diberbagai forum, lembaga perndidikan, perpustakaan, lembaga penelitian dan pusat pusta informasi lainnya di berbagai negara. 

    Buku ini adalah kumpulan makalah yang dipresentasikan pada Seminar Internasional  La Galigo yang dilaksanakan pada tanggal 15- 18 Maret 2002 di Desa Pancana, Kabupaten Barru. Diawali dengan “Sekapur Sirih” dari Andi Muhammad Rum (Bupati Barru waktu itu), “Catatan Editor” , “Pengantar” oleh Anhar Gongngong, dan “Pendahuluan” oleh Nurhayati Rahman. 

    Ada 4 bagian dan masing masing bagian terdiri dari beberapa Sub-bagian lagi. Sub-bagian ini adalah Makalah makalah yang dipresentasikan dalam Seminar Internasional ini. 

    Berikut ini saya uraikan masing masing bagian dan makalah makalah yang dibahas dan nama penulis makalah. 

    Bagian I. Di Cengkeram La Galigo 

    1.      The ‘La Galigo’ A Bugis Encynclopedia and its Growth  (Sirtjo Koolhof)
    2.      Transliterasi dan Terjemahan Sureq Galigo (Muhammad Salim)
    3.      Ibuku Magali-Gali, maka Aku Dinamai I La Galigo (Muhammad Salim)
    4.      Pengembaraan La Galigo ke Washington DC. – Memperkenalkan Husin bin Ismail, Seorang Bugis Terpelajar di Singapura (Roger Tol)
    5.      Seduced By La Galigo, - A Film Maker Journey (Rhoda Grauer) 

    Bagian II.  Pengembangan Tradisi Lisan La Galigo di Nusantara

    1.      La Galigo Versi Lisan Gorontalo (Nani Tuloli)
    2.      Sawerigading Versi Sulawesi Tengah (Hasan Basri dan Baso Siodjang)
    3.      Sawerigading dan Haluoleo di Sulawesi Tenggara, - Ingatan Masa Lalu dan Tafsir Masa Kini (Susanto Zuhdi)
    4.      La Galigo dan Kejayaan Bugis di Tanah (Riau); Seperti Tergambar dalam Sastra Melayu (Mu’jizah dan Dewaki Kramadibrata)
    5.      Sawerigading dalam Peradaban Suku Toraja, Sulawesi Selatan. (Cornelis Salombe)
    6.      Misi Perjalanan Sawerigading (Lasaeo) di Poso (Juraid Abdul Latief)
    7.      Sawerigading dalam La Galigo – Catatannya dalam Versi Kelantan dan Trengganu serta Hubungannya dengan Yuwana di Semenanjung Indocina. (Abdul Rahman Al Ahmady)

    Bagian III. Teks La Galigo dalam Kepungan Makna dan Interpretasi

    1.      La Galigo dan Kanon Sastra Dunia: Penciptaan dan “Penemuan” Manusia. (Nirwan Ahmad Arsuka)
    2.      La Galigo, Odesei, Trah Buendia (Nirwan Ahmad Arsuka)
    3.      Pendahuluan Siklus La Galigo yang Tak Dikenal (Christian Pelras)
    4.      La Galigo Sebagai Sumber Kajian Sejarah (Teuku Ibrahim Alfian)
    5.      Kegunaan Cerita Rakyat Sawerigading sebagai Sumber Sejarah Lokal Daerah-Daerah di Sulawesi  (James Danandjaja)
    6.      Nature and Culture – Studi Awal tentang Konsep Lingkungan dalam Epos Galigo. (Darmawan Mas’ud dan Gufran D. Dirawan)
    7.      Pemanfaatan Lingkungan Alam Bagi Pemenuhan Kebutuhan Hidup Masa Lalu di Sulawesi: Refleksi Mitos La Galigo. (Widya Nayati)
    8.      Budidaya Padi Berdasarkan Naskah La Galigo (Fahruddin Ambo Enre)
    9.      Persfektif Gender Dalam Naskah Galigo (Nurnaningsih)
    10.  Keterbacaan (Intelligibilitas) Sureq Galigo bagi Penutur Makassar (Nurdin Yatim)
    11.  La Galigo in Comparative Perspectives (Campbell Macknight)
    12.  Berlayar ke Tompoq Tikkaq: sebuah Episode La Galigo (Horst H. Liebner)
    13.  Solusi Konflik dalam La Galigo (Muhammad Tang)
    14.  Nilai Nilai Utama Kebudayaan Bugis dalam La Galigo (Rahman Rahim)

    Bagian IV. Dunia Dalam La Galigo dan Realitas Masyarakat Kekinian

    1.      Sawerigading dalam Identitas dan analisis (Mattulada)
    2.      Persepsi dan Pemahaman Tokoh Adat tentang La Galigo  (A. Anton Pangerang)
    3.      “Kenyataan, Anakrotisme dan Fiksi”: Arkeologi Bersejarah dan Pusat Pusat Kerajaan dalam La Galigo (Ian Caldwell)
    4.      The Archaeology of The Major Sites in Ussu/ Cerekang (David Bulbeck)
    5.      Kepercayaan dan Upacara dai Budaya Bugis Kuno: Pujaan Pendeta Bissu dalam Mitos La Galigo (Gilbert Albert Hamonic)
    6.      Bissu in La Galigo (Sharyn Graham)
    7.      Bissu: Imam yang Menghibur (Halilintar Latief)

    Pada bagian akhir buku ini ada Biodata para penulis makalah, kemudian Indeks (untuk memudahkan pembaca dalam menemukan topik tertentu dalam buku ini) dan lampiran foto foto kegiatan selama berlangsungnya Seminar Internasional tersebut. 

    Buku Koleksi Perpustakaan Abdurrasyid Daeng Lurang, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Sulawesi Selatan.