Showing posts with label Nurhayati Rahman. Show all posts
Showing posts with label Nurhayati Rahman. Show all posts

December 14, 2021

Buku : Kamus Bugis - Indonesia

 



Buku : Kamus Bahasa Bugis – Indonesia

Penulis : Kuran Puasa

Penerbit : CV. Jejak

Tempat Terbit : Sukabumi, Jawa Barat

Tahun : 2019

Jumlah Halaman : xxiv + 983

ISBN : 978-602-474-505-9

 

Diantara sekian banyak buku Kamus Bugis – Indonesia yang ada, mungkin inilah kamus yang terlengkap. Dengan jumlah halaman lebih dari 1000, hampir sama dengan kamus Bugis – Belanda yang disusun oleh B.F. Matthess pada abad XIX silam, yang kini masih tersimpan di Perpustakaan Khusus, Unit Kearsipan, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan. 

Kamus Bugis – Indonesia ini diawali dengan ucapan terimakasih penulis atas penerbitannya, kemudian ada kata Pengantar dari Prof. Nurhayati Rahman, Guru Besar Fakultas Ilmu Budaya Universitas Hasanuddin. Selanjutnya ada Catatan dari Douglas Laskowske, seorang peneliti bahasa yang fasih berbahasa Bugis, Prakata dari penulis, Petunjuk pemakaian kamus, Isi kamus, lampiran, pustaka acuan, sumber gambar dan terakhir riwayat hidup singkat penyusun kamus. 

Salah satu bagian penting dari buku Kamus ini adalah pada bagian Petunjuk Pemakaian Kamus pada halaman xv. Ada penjelasan tentang Kata Kepala (kata entri), jenis kata, penulisan aksara lontaraq, arti kata, arti kata dan penomoran, penggunaan istilah ilmiah, ada gambar / illustrasi untuk memperjelas satu atau beberapa kata secara visual. Beberapa label yang sering kita jumpai pada kamus kamus terkini, misalnya; adj. untuk kata sifat (adjective), conj. untuk kata sambung, pref. untuk awalan (prefix) dan lain lain.  Selain itu ada beberapa singkatan yang digunakan misalnya dsb. dan sebagainya,  jg. juga, org. orang, lih. lihat dan sebagainya.  

Kamus ini selain ditulis dalam aksara Latin, juga dilengkapi dengan aksara Lontaraq baik pada setiap entri katanya, maupun pada penjelasan dan bagian bagian lainnya. Cara membaca aksara Lontaraq juga dibahas. Dalam aksara Lontaraq, ada perbedaan jelas antara huruf “e” pada kata ‘emas’ dan “ѐ” pada kata ‘enak’.  Ada uraian tentang inang sureq dan anaq sureq. Yang menarik juga di jelaskan tentang cara memasang Aksara Lontaraq Bugis di computer atau Laptop dan juga di telepon genggam. Buku kamus ini tak sekedar kamus biasa, tetapi juga buku tata bahasa Bugis. 

Bagi anda orang Bugis maupun yang bukan, yang tidak terlalu paham tentang penulisan Lontaraq Bugis, maka buku sangat direkomendasikan. Lembaga lembaga pemerintah maupun swasta yang memiliki naskah Lontaraq Bugis, yang dilayankan ke masyarakat umum, juga sangat tepat jika menyediakan buku kamus ini diruang baca naskahnya, karena akan sangat membantu para pemustaka, peneliti atau pembaca naskah lontaraq untuk lebih memahami arti kata kata Bugis, terutama kosa kata yang sudah jarang digunakan dalam percakapan sehari hari sekarang ini.







July 16, 2020

Suara Suara Lokalitas



Buku : Suara Suara dalam Lokalitas
Penulis : Nurhayati Rahman
Penerbit : La Galigo Press, Makassar 2012
Jumlah halaman : ix + 242
Ukuran : 14,5 x 21 cm
ISBN : 978-979-99115-5-1

Buku ini adalah kumpulan makalah, paper dan karya tulis ilmiah lainnya yang ditulis oleh Prof. Nurhayati Rahman, guru besar pada Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Hasanuddin, Makassar. Makalah makalah tersebut telah dipresentasikan dalam berbagai seminar, workshop, dan pertemuan ilmiah lainnya dimana penulisnya sebagai pembicara. Karya karya ilmiah dalam buku ini semua bertema lokal Sulawesi Selatan; kearifan lokal dan kebudayaan lokal. Karya tulis ini dikumpulkan sejak tahun 2000 sampai tahun penerbitannya yaitu 2012. 

Membaca buku ini membuat kita yakin akan pentingnya penguatan budaya lokal di tengah serbuan budaya asing. Prof. Nurhayati Rahman dalam Kata Pengantar mengatakan, “…bukan semata mata karena selera dan pilihan hidup, tetapi yang sesungguhnya adalah tanggung jawab moral untuk berdiri di garda paling depan dalam membela satu-satunya yang kita miliki dari sekian banyak kekayaan kita yang telah habis terkuras dan dirampas orang akibat keangkuhan dan keserakahan manusia.”

Ada 30 karya tulis dalam buku ini, dan semua kearifan lokal Sulawesi Selatan. Semua karya tulis ini dibagi menjadi 3 bagian. Adapun rincian judul karya tulis dan pembagiannya adalah sebagai berikut :

1.      Sastra, Pengarang dan Karyanya
a.      Retna Kencana Colliq Pujie Arung Pancana Toa; Sastrawan dan Sejarawan  di Gerbang Abad XX
b.      Raja Ali Haji; Penegak Tiang Agung Peradaban di Asia Tenggara
c.       Syair Perang Mengkasar Karya Encik Amin; Pusat Jaringan Ilmu dan Kebudayaan nusantara
d.      Husni Djamaluddin; Kusapa Kau Lewat Sajakmu
e.      Mengungkap Misteri I-Lolo Bayo dalam Novel Sukma Angin karya Arena Wati (Sastrawan Negara Malaysia)
f.        Rahman Arge; Dari Reso ke Lego-Lego Kehidupan
g.      Memahami Dunia Tiga Penyair Makassar lewat Puisi-Puisi Pengembaraannya
h.      Pencitraan Laut Dalam Kelong Makassar
i.        Seni Tradisi Massureq; Menggapai-gapai di Tengah Budaya Pop
j.        Interlok; Persembahan Agung untuk 1 Malaysia

2.      Suara Suara dalam Lokalitas
a.      Gerakan Revitalisasi kebudayaan Menuju Indonesia yang Dicita-citakan
b.      Tanggapan Kritis Terhadap Dinamika Perkembangan Huruf Lontaraq
c.       Tegaknya Syariat Islam dalam Sistem Pangngadereng di Sulawesi Selatan
d.      Aceh di Antara Tangisan dan Harapan (Berkaca pada Pengalaman di Hiroshima)
e.      Mengembalikan DDI ke Pangkuan Ulama
f.        Membagun UNHAS dengan Hati Nurani
g.      Memperdengarkan Suara-Suara Perbedaan dan Kebersamaan dalam Tradisi Padungku di Malili
h.      Religi, Tradisi dan Seni dalam Naskah La Galigo
i.        Kayu Lapuk
j.        Karebosi dan Global Warming
k.       Pilkada Korea Selatan; Identik dengan Bunga dan Cinta

3.      Makna Lokalitas dalam Kekinian
a.      Oposisi dan Harmoni dalam Kebudayaan Bugis/Makassar
b.      Pangngadereng/Pangngadakkang; Sistem Hukum Dalam Pemerintahan Tradisional di Sulawesi Selatan
c.       Sawerigading; Sumber Inspirasi dan Integrasi antar Etnis di Nusantara
d.      Harmonisasi  Lingkungan Hidup Manusia Bugis berdasarkan Naskah Meong Mpalo Bolongnge
e.      Pengaruh La Galigo dalam Pembentukan Karakter Orang Bugis Menuju Minda Kelas Pertama
f.        Hubungan Antara Melayu dan Bugis berdasarkan Kesaksian Manuskrip Tua
g.      Transformasi La Galigo ke Dalam Dunia Melayu
h.      Keaslian, Kelokalan dan Keuniversalan Kebudayaan Nusantara.
 Buku ini ditutup dengan informasi tentang Daftar Pustaka yang digunakan, Daftar Informan dan Indeks yang memudahkan pembaca mencari topik atau tema tertentu dalam buku ini.



May 18, 2020

Syekh Yusuf dalam Persfektif Lontaraq Gowa


Buku : Syekh Yusuf dalam Persfektif Lontaraq Gowa

Penulis : Prof. Dr. H. Abdul Kadir Manyambeang

Editor : Nurhayati Rahman

Penerbit : La Galigo Press bekerjasama dengan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Sulawesi Selatan, Makassar 2014

Jumlah halaman : x + 368

Ukuran : 16,5 x 21,5 cm

ISBN : 978-979-99115-7-5

Buku ini merupakan karya adaptasi dari Disertasi H. Abdul Kadir Manyambeang, dosen Fakultas Ilmu Budaya (Sastra) Univeristas Hasanuddin, Makassar. Judul aslinya pada disertasi adalah “Lontaraq Riwayaqna Tuanta Salamaka Ri Gowa” yang kemudian disederhanakan dalam penerbitan buku ini menjadi “Syekh Yusuf dalam Persfektif Lontaraq Gowa”.  Buku ini adalah yang pertama membahas tentang Syekh Yusuf dalam persfektif Lontaraq Gowa, tempat asal Syekh Yusuf sendiri.

Tokoh Syekh Yusuf, adalah tokoh lokal Sulawesi Selatan yang menjadi pahlawan nasional. Ketokohannya bukan hanya lokal atau nasional, tapi sudah mendunia, sudah Internasional. Bahkan beliau juga dijadikan pahlawan nasional Republik Afrika Selatan. Mantan Presiden Afrika Selatan, Nelson Mandela mengaku bahwa perjuangannya melawan sistem Apartheid di negaranya diilhami oleh perjuangan Syekh Yusuf.

Banyak buku tentang Syekh Yusuf yang telah ditulis dengan berbagai sumber informasi. Ada yang fokus kajiannya pada ajaran ajaran serta karya Syekh Yusuf. Ada juga yang berdasarkan bahan pustaka lainnya, ada juga berdasarkan arsip arsip yang ada dibeberapa negara. Buku ini adalah yang pertama mengkaji tokoh Syekh Yusuf berdasarkan Lontara Gowa.

Buku ini terdiri dari 8 bab dan diawali dengan Kata Pengantar dari Gubernur Sulawesi Selatan, dan Kata Pengantar dari Editor.

Bab satu adalah pendahuluan yang terdiri atas latar belakang, obyek penelitian, masalah, dan tujuan dan manfaat penelitian.

Bab kedua adalah Tinjauan Pustaka yang menjelaskan tentang, filologi, linguistik, karya karya ilmiah yang membahas tentang Syekh Yusuf sebelumnya antara lain karya A. A. Cense, Sahib (1982), Abu Hamid (1994), Ruslan Abdul Ghani (1994), Mangemba (1994), A. Zainal Abidin Farid (1994), Harifuddin Cawidu (1994), Puang Ramma (1994), Ahmad Makkarausu Amansyah (1975), dan Nabila Lubis (1991). Pada bab ini juga dibahas tentang aksara bahasa Makassar, dan kitab lontara. Pada bagian jenis lontara ini ada dibahas tentang Lontaraq Patturioloang, Lontaraq Bilang, Lontara Pitika, dan Lontaraq Rapang.

Bab ketiga adalah Kerangka Pikir. Pada bagian ini dibahas tentang keaslian suatu naskah lontaraq, lontaraq salinan, perbandingan antara lontaraq lainnya, ahli bahasa yang mampu mengalih-bahasakan, mengalih aksarakan, menafsirkan dan menyunting suatu naskah lontaraq dan lain lain sebagainya.

Bab keempat adalah metode penelitian. Pada bagian ini dibahas tentang kritik teks dan bagaimana membuat perbandingan antar naskah naskah yang ada.

Bagian kelima adalah Definisi Operasional. Pada bagian ini dijelaskan tentang apa itu Lontaraq, Lontaraq Tuanta Salamaka ri Gowa, apa itu naskah, Filolinguistik, dan lain lain. 

Bab keenam, adalah Hasil Penelitian dan Pembahasan. Inilah inti dari buku ini. Ada pembahasan tentang telaah intrinsic dan telaah ekstrinsik

Selanjutnya adalah bab ketujuh, yaitu Teks dan Terjemahan. Pada bagian ini dibahas teks lontaraq Syekh Yusuf dan terjemahannya dalam bahasa Indonesia. Ada pendahuluan teks, orang tua Syekh Yusuf, undangan raja Gowa kepada Syekh Yusuf, kelahiran Syekh Yusuf, masa remaja Syekh Yusuf, mencari Ilmu di Makassar, mengail di Danau Mawang, peminangan putri raja, perjalanan ke Mekkah, tindakan supernatural dalam perjalanan, belajar pada imam empat, berguru pada Syekh Abdul Kadir Jailani dan seterusnya sampai masa pembuangan ke Seilon (Sailan, Ceylon atau Sri Langka sekarang) sampai meninggalnya Syekh Yusuf.

Bab terakhir adalah Penutup yang berisi Kesimpulan dan Saran saran. Juga pada bagian akhir ada daftar pustaka yang digunakan dalam penyusunan Disertasi ini.

Pada bagian sampul belakang dicantumkan riwayat ringkas Prof. Abdul Kadir Manyambeang.

Buku koleksi Dinas Perpustakaan Dan Kearsipan Sulawesi Selatan.

 


March 31, 2020

La Galigo, Menelusuri Jejak Warisan Sastra Dunia




Buku : La Galigo, Menelusuri Jejak Warisan Sastra Dunia
Editor : Nurhayati Rahman, Anil Hukma, Idwar Anwar
Penerbit : Pusat Studi La Galigo Universitas Hasanuddin berkerjasama dengan Pemerintah daerah Kabupaten Barru, Makassar 2003
Jumlah Halaman : xxvii + 558
ISBN : 979-97666-0-5

La Galigo adalah sebuah karya sastra yang sarat makna dan bernuansa kearifan budaya masa lalu dari Sulawesi Selatan. Karya sastra yang konon terpanjang didunia. Karya sastra yang telah mendunia dan telah menjadi obyek pembahasan dalam berbagai seminar, workshop, konferensi, dan pertemuan ilmiah lainnya. Banyak penulis dan peneliti baik dari dalam negeri sendiri maupun dari luar negeri yang telah mengkaji dan menulis tentang La Galigo. Karya karya mereka sudah banyak tersebar diberbagai forum, lembaga perndidikan, perpustakaan, lembaga penelitian dan pusat pusta informasi lainnya di berbagai negara. 

Buku ini adalah kumpulan makalah yang dipresentasikan pada Seminar Internasional  La Galigo yang dilaksanakan pada tanggal 15- 18 Maret 2002 di Desa Pancana, Kabupaten Barru. Diawali dengan “Sekapur Sirih” dari Andi Muhammad Rum (Bupati Barru waktu itu), “Catatan Editor” , “Pengantar” oleh Anhar Gongngong, dan “Pendahuluan” oleh Nurhayati Rahman. 

Ada 4 bagian dan masing masing bagian terdiri dari beberapa Sub-bagian lagi. Sub-bagian ini adalah Makalah makalah yang dipresentasikan dalam Seminar Internasional ini. 

Berikut ini saya uraikan masing masing bagian dan makalah makalah yang dibahas dan nama penulis makalah. 

Bagian I. Di Cengkeram La Galigo 

1.      The ‘La Galigo’ A Bugis Encynclopedia and its Growth  (Sirtjo Koolhof)
2.      Transliterasi dan Terjemahan Sureq Galigo (Muhammad Salim)
3.      Ibuku Magali-Gali, maka Aku Dinamai I La Galigo (Muhammad Salim)
4.      Pengembaraan La Galigo ke Washington DC. – Memperkenalkan Husin bin Ismail, Seorang Bugis Terpelajar di Singapura (Roger Tol)
5.      Seduced By La Galigo, - A Film Maker Journey (Rhoda Grauer) 

Bagian II.  Pengembangan Tradisi Lisan La Galigo di Nusantara

1.      La Galigo Versi Lisan Gorontalo (Nani Tuloli)
2.      Sawerigading Versi Sulawesi Tengah (Hasan Basri dan Baso Siodjang)
3.      Sawerigading dan Haluoleo di Sulawesi Tenggara, - Ingatan Masa Lalu dan Tafsir Masa Kini (Susanto Zuhdi)
4.      La Galigo dan Kejayaan Bugis di Tanah (Riau); Seperti Tergambar dalam Sastra Melayu (Mu’jizah dan Dewaki Kramadibrata)
5.      Sawerigading dalam Peradaban Suku Toraja, Sulawesi Selatan. (Cornelis Salombe)
6.      Misi Perjalanan Sawerigading (Lasaeo) di Poso (Juraid Abdul Latief)
7.      Sawerigading dalam La Galigo – Catatannya dalam Versi Kelantan dan Trengganu serta Hubungannya dengan Yuwana di Semenanjung Indocina. (Abdul Rahman Al Ahmady)

Bagian III. Teks La Galigo dalam Kepungan Makna dan Interpretasi

1.      La Galigo dan Kanon Sastra Dunia: Penciptaan dan “Penemuan” Manusia. (Nirwan Ahmad Arsuka)
2.      La Galigo, Odesei, Trah Buendia (Nirwan Ahmad Arsuka)
3.      Pendahuluan Siklus La Galigo yang Tak Dikenal (Christian Pelras)
4.      La Galigo Sebagai Sumber Kajian Sejarah (Teuku Ibrahim Alfian)
5.      Kegunaan Cerita Rakyat Sawerigading sebagai Sumber Sejarah Lokal Daerah-Daerah di Sulawesi  (James Danandjaja)
6.      Nature and Culture – Studi Awal tentang Konsep Lingkungan dalam Epos Galigo. (Darmawan Mas’ud dan Gufran D. Dirawan)
7.      Pemanfaatan Lingkungan Alam Bagi Pemenuhan Kebutuhan Hidup Masa Lalu di Sulawesi: Refleksi Mitos La Galigo. (Widya Nayati)
8.      Budidaya Padi Berdasarkan Naskah La Galigo (Fahruddin Ambo Enre)
9.      Persfektif Gender Dalam Naskah Galigo (Nurnaningsih)
10.  Keterbacaan (Intelligibilitas) Sureq Galigo bagi Penutur Makassar (Nurdin Yatim)
11.  La Galigo in Comparative Perspectives (Campbell Macknight)
12.  Berlayar ke Tompoq Tikkaq: sebuah Episode La Galigo (Horst H. Liebner)
13.  Solusi Konflik dalam La Galigo (Muhammad Tang)
14.  Nilai Nilai Utama Kebudayaan Bugis dalam La Galigo (Rahman Rahim)

Bagian IV. Dunia Dalam La Galigo dan Realitas Masyarakat Kekinian

1.      Sawerigading dalam Identitas dan analisis (Mattulada)
2.      Persepsi dan Pemahaman Tokoh Adat tentang La Galigo  (A. Anton Pangerang)
3.      “Kenyataan, Anakrotisme dan Fiksi”: Arkeologi Bersejarah dan Pusat Pusat Kerajaan dalam La Galigo (Ian Caldwell)
4.      The Archaeology of The Major Sites in Ussu/ Cerekang (David Bulbeck)
5.      Kepercayaan dan Upacara dai Budaya Bugis Kuno: Pujaan Pendeta Bissu dalam Mitos La Galigo (Gilbert Albert Hamonic)
6.      Bissu in La Galigo (Sharyn Graham)
7.      Bissu: Imam yang Menghibur (Halilintar Latief)

Pada bagian akhir buku ini ada Biodata para penulis makalah, kemudian Indeks (untuk memudahkan pembaca dalam menemukan topik tertentu dalam buku ini) dan lampiran foto foto kegiatan selama berlangsungnya Seminar Internasional tersebut. 

Buku Koleksi Perpustakaan Abdurrasyid Daeng Lurang, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Sulawesi Selatan.