November 29, 2021

CINTA, LAUT DAN KEKUASAAN: Dalam Epos La Galigo

Karya La Galigo merupakan satu-satunya dokumen tertulis yang dimiliki oleh orang Bugis jauh sebelum Islam datang ke Sulawesi Selatan. Karena itu, La Galigo merupakan bukti peninggalan kebudayaan orang Bugis yang paling tua dan lama, mendahului peradaban Islam di Sulawesi Selatan. Hampir semua ahli pernah meneliti La Galigo mengatakan bahwa La Galigo pertama kali ditulis sebelum Islam datang di Sulawesi Selatan, Mattulada memperkirakan sekitar abad ke 7 - 9 M, Fachruddin abad ke-13 dan Pelras abad ke-14 M. 

Di dalamnya menggambarkan kepercayaan lama orang Bugis yang mengisahkan tentang kehidupan para dewa-dewi di langit dan di bawah laut. Perkawinan dewa di langit dan dewi di bawah itulah yang melahirkan bumi, tempat manusia beranak-pinang yang sekarang dikenal sebagai manusia Bugis. Hampir semua episode La Galigo  diwarnai oleh kehidupan dan kejayaan di laut. Karena itu, tidak benar kalau orang Bugis bukan pelaut. Pelayaran dan perantauan bagi orang Bugis adalah sebuah peninggalan kebudayaan yang paling tua dan sekarang ini tidak mendapatkan tempat yang baku dalam kebudayaan orang Bugis.

Melalui peradaban laut itulah manusia Bugis memaknai kehidupan dengan sumangeq dan ininnawa yaitu "sukma" dan "hati nurani" yang diwariskan dari La Galigo. Itulah yang melahirkan sifat warani (keberanian), lempuq (kejujuran) dan getteng (keteguhan pendirian) yang menjadi modal dan bekal bagi mereka dalam mengarungi seribu dunia dan menerjemahkannya ke dalam kehidupan dunia kekinian.

Buku CINTA, LAUT DAN KEKUASAAN: Dalam Epos La Galigo memberikan gambaran hidup tentang tokoh Sawerigading tokoh utama yang eksentrik dan kontroversial dalam epik kuno La Galigo. Ia merupakan generasi ke tiga dari pasangan dewi di Boting Langiq (kerajaan langit) dan dewi di Buri Liu (kerajaan bawah laut). Ketika lahir, Sawerigading kembar emas dengan seorang perempuan cantik yang bernama We Tenriabeng. Dikhawatirkan akan saling jatuh cinta bila kelak dewasa, maka ia pun dipisahkan dewan adat sejak kecil. Namun apa daya, sekali waktu, ketika telah sama-sama dewasa tanpa sengaja dalam sebuah pesta di istana ia bertemu dan saling pandang dengan adiknya. Sawerigading tidak bisa mengendalikan diri dalam memandang kecantikan sang putri, tak kuasa menolak cinta yang tiba-tiba saja menyerukan masuk dalam kehidupannya, tak kuasa menolak apa kata hatinya, tak peduli larangan dan pantangan adat, tak peduli dengan sanksi adat yang akan menimpanya. Itulah awal petaka yang mengawali kisah Episode Pelayaran Sawerigading ke Tanah Cina (PSTC). Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar yang membahas tentang dahsyatnya kekuatan cinta, gemerincing senjata dalam tujuh kali perang di laut yang mengukuhkan kekuasaan Sawerigading sebagai penguasa laut yang tak tertandingi.


CINTA, LAUT DAN KEKUASAAN: Dalam Epos La Galigo
Perspektif Filologi dan Semiotik

Penulis: Nurhayati Rahman
Penerbit: La Galigo Press
Tempat Terbit: Makassar
Tahun Terbit: 2006
ISBN: 979-15492-0-6




No comments:

Post a Comment