Showing posts with label Tomakaka. Show all posts
Showing posts with label Tomakaka. Show all posts

November 22, 2021

SEJARAH SOSIAL MASYARAKAT RONGKONG

Asal usul Rongkong menurut tuturan dari orang-orang tua Rongkong juga berasal dari bagian dari kisah Sawerigading, yang dipercayai memiliki 40 orang sepupu sekali. Seluruh saudara sepupu Sawerigading ini kemudian menyebar untuk mendiami berbagai wilayah di tanah Luwu. 

Sepupu tertua Sawerigading La Marancina dengan gelar Tomakaka (orang yang dituakan) yang diutus kedataran tinggi dibagian barat, atau di kaki gunung Berada, yang sangat kaya dengan potensi alam, tanahnya mengandung elemen-elemen penting yang menyebabkannya menjadi sangat subur (yang sekarang dikenal dengan biji besi, nikel, uranium dan sebagainya. Sebuah dataran yang sangat indah dan mengagumkan. Setelah melihat situasi itu, La Marancina berkata (kepada Sawerigading) sukku' rongko'na tondokku (sungguh sempurna kemuliaan tanahku). Sehingga tanah ini disebut Rongkong yang diambil dari kata marongko (mulia, dirahmati). Sejak itulah La Marancina mendiami dan berkuasa di Rongkong.

Sejarah Luwu menyebutkan bahwa orang-orang Rongkong memiliki peran yang cukup besar dalam dinamika politik Luwu khususnya di bidang pertahanan (peperangan). Orang Rongkong memiliki peran yang cukup besar dalam dinamika politik Luwu khususnya di bidang pertahanan (peperangan). Orang Rongkong yang dikenal berani dan kebal senjata menjadi garda terdepan dalam pasukan bersenjata Luwu.

Orang Rongkong yang sering dipersamakan dengan suku Toraja diperlakukan istimewa (oleh Datu). Kelompok masyarakat itu dijadikan "barisan berani mati" pembela datu (raja) Luwu. Nilai seorang anggota masyarakat Rongkong dipersamakan dengan 15 penduduk biasa. Artinya bila seorang Rongkong dibunuh maka gantinya adalah 15 orang, yakni si pembunuh dan 14 orang lainnya.

Kepercayaan lokal orang disebut aluk toyolo, dimana devata disembah melalui pararuk. Mereka juga mengenal penyembahan tengkorak manusia pada saat panen padi dan kematian tomakaka. Ada juga tradisi pokorren yang berarti bekerja dua hari untuk tomakaka.

Sistem kebudayaan Rongkong bermuara pada ritual pertanian. Ini karena mata pencaharian penduduk Rongkong adalah pertanian. Tanah pegunungan yang subur sangat memungkinkan untuk hal itu. Karena itulah, peran pangngarong (tetua adat yang membidani pertanian) sangat fungsional sampai sekarang. Sistem sanksi dalam masyarakat Rongkong bersifat denda. Denda yang paling tinggi adalah kerbau. Jumlah kerbau tergantung pada tosiaja (tertua adat yang membidani hukum) kecuali yang tertera dalam sapa sangpulo pitu.

Perubahan kebudayaan adalah sesuatu yang wajar karena masyarakat memang dinamis. Pergeseran yang terjadi karena pergeseran dan pusat kuasa budaya. Otoritas budaya melemah karena adanya pengaruh kuasa-kuasa (kolonial, kristenisasi, DI/TII dan Islamisasi) dan modernitas (negara dan pasar).

Kebudayaan orang Rongkong terpusat pada kehadiran tomakaka. Selama tomakaka ada maka kebudayaan dapat direkonstruksi. Diaspora warga Rongkong di Seko dan Palopo menunjukkan orang Rongkong ke Seko adalah turunan tomakaka, begitu pula para pengungsi di Kota Palopo. Sedangkan, diasporan orang Rongkong ke Malangke yang tidak dipimpin oleh tomakaka, tidak bisa membangun adat berdasarkan adat Rongkong tetapi tetap bisa membangun komunalitas.

Buku SEJARAH SOSIAL MASYARAKAT RONGKONG membahas tentang sejarah dan kebudayaan Rongkong yang berbeda dengan konstruksi kebudayaan dominan di Luwu, seperti motif kain, besi Porreo, hutan adat yang luas dan masih mempertahankan adat yang diwariskan oleh nenek moyang mereka hingga sekarang. Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin KM. 7 Tala'salapang-Makassar.


SEJARAH SOSIAL MASYARAKAT RONGKONG
Penulis: Saprillah, Muh, Idrus, Risla, Munandar
Penerbit: Balai Pelestarian Nilai Budaya Makassar
Tempat Terbit: Makassar
Tahun Terbit: 2021
ISBN: 978 979 3897 66 0


February 11, 2020

Perlawanan Rakyat Balanipa - Mandar




Buku : Perlawanan Rakyat Balanipa – Mandar
Penulis : Muhammad Yusuf Naim
Penerbit : Yayasan Pendidikan Muhammad Natsir, Makassar 2013
Jumlah Halaman : xi + 117
ISBN : 978-602-17316-6-6

Mungkin tidak banyak diantara kita yang mengetahui tentang perjuangan yang terjadi di Balanipa Mandar dimasa-masa perjuangan. Buku ini yang mengulas tentang perjuangan rakyat Balanipa Mandar ini bisa dijadikan sumber informasi tentang sejarah perjuangan di Sulawesi Barat. Balanipa adalah satu kerajaan yang pernah ada di wilayah Mandar (Sulawesi Barat sekarang). 

Terdiri dari 5 bagian, buku ini diawali dengan kata kata pengantar dari penerbit dan penulis, serta daftar isi dan daftar singkatan. Bagian pertama mengupas banyak hal tentang sejarah Balanipa Mandar. Mulai dari asal usul nama Balanipa, masa masa sebelum berdirinya kerajaan atau disebut juga masa Tomakaka, serta masa kerajaan hingga masuknya masa penjajahan Belanda. Juga disebutkan wilayah yang masuk kerajaan (Amaraq’dian) Balanipa sekarang ini, serta strata sosial dan budaya masyarakat Balanipa. 

Bagian kedua masa pendudukan Jepang. Ternyata masyarakat kerajaan Balanipa, awalnya menyambut gembira kedatangan bangsa Jepang yang dianggapnya sebagai “sang pembebas” dari penjajahan Belanda. Propaganda tentara Jepang yang selalu menganggap Indonesia sebagai saudara karena sama sama Asia, juga menarik simpati masyarakat Balanipa. Namun lama kelamaan, mulai timbul konflik antara rakyat dan tentara Jepang. Banyak kisah perlawanan rakyat Balanipa didalam buku ini. 

Masa Proklamasi Kemerdekaan dibahas dibagian ketiga, dimana tentara Belanda masih tetap ingin berkuasa di berbagai daerah di Indonesia, termasuk daerah Balanipa. Ada kisah yang menarik pada bagian ini, yaitu kisah “Robin Hood” dari Mandar, yang bernama Uak Ase’ Anggacong, yang merampas semua kain hasil kerja Jepang yang disimpan di Istana kerajaan, lalu membagikannya kepada rakyat Balanipa. Dan kisah kisah menarik lainnya.

Kedatangan sekutu/NICA (Tentara Belanda) yang masih ingin berkuasa di Indonesia. Di Balanipa, terbentuk organisasi yang namanya KRIS MUDA yang bertujuan untuk berjuang membebaskan Indonesia dari penjajahan Belanda (sekutu) kembali. Dua tokoh KRIS MUDA adalah Riri Amin Daud dan A.R. Tamma. Selain KRIS MUDA ada juga lasykar GAPRI 531. KRIS MUDA adalah Kebaktian Rahasia Islam Muda. Sedangkan GAPRI 531 adalah Gabungan Pemberontak Rakyat Indonesia Kode 531. Satu lagi kelasykaran yang juga berjuang mempertahankan kemerdekaan adalah ALRI PS. Ketiga organisasi kelasykaran inilah yang bersatu padu mengusir tentara NICA yang hendak menjajah kembali Indonesia, sehingga pada akhirnya kemerdekaan benar benar dirasakan oleh rakyat Indonesia. 

Terakhir adalah epilog, daftar pustaka, tentang penulis.
Buku ini sumber sejarah perjuangan raktyat Balanipa – Mandar yang bisa dijadikan referensi dan catatan sejarah perjuangan bangsa, khususnya Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat. 

Koleksi Perpustakaan Abdurrasyid Daeng Lurang, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan.