Showing posts with label Luwu. Show all posts
Showing posts with label Luwu. Show all posts

May 22, 2025

Kisah Hidup dan Perjuangan Opu Daeng Risaju, Pahlawan Nasional Asal Luwu Sulawesi Selatan

 


Judul:                           Opu Daeng Risaju, Perintis Pergerakan Kebangsaan/Kemerdekaan Republik Indonesia

Penulis:                        Drs. Muhammad Arfah & Drs. Muhammad Amir

Editor:                        

Penerbit:                      Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Prov. Sulawesi Selatan

Tahun Terbit:                 1991

Jumlah Halaman:       xviii + 150

ISBN:                               -

Penulis Resensi:          Suharman, S.S., MIM.

Buku Biografi Pahlawan ini merupakan buku seri kedua dari 3 pahlawan yang di terbitkan kisah hidup dan perjuangannya oleh Bidang Sejarah dan Nilai Tradisional, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Sulawesi Selatan. Seri pertama adalah biografi Ibu Agung Andi Depu, dan yang ketiga adalah biografi Ranggong Deng Romo. Tujuan utama penulisan biografi pahlawan nasional dari Sulawesi Selatan ini adalah untuk menanamkan dan menumbuhkan semangat kebangsaan dan rasa cinta tanah air bagi bangsa Indonesia.

Opu Daeng Risaju adalah seorang Pahlawan Nasional asal Sulawesi Selatan, lahir di Palopo tahun 1880. Ayahnya adalah Muhammad Abdullah To bareseng dan ibunya Opu Daeng Mawellu. Dari hasil penelusuran silsilah keluarganya, Opu Daeng Risaju adalah keturunan dari Raja Bone ke-16 La Patau Matanna Tikka, dan Syekh Yusuf Tuanta Salamaka ri Gowa dan juga dari Datu Luwu Matinroe ri Tompotikka.

Buku ini dibagi menjadi 5 bagian, diawali dengan sambutan sambutan dari Gubernur Sulawesi Selatan, Kepala Kanwil Depdibud Sulawesi Selatan, dan dari Penulis. Selanjutnya setelah bagian pertama Pendahuluan, diuraikan secara lengkap keadaan daerah Luwu, baik sejarahnya, keadaan geografisnya dan kehidupan sosial budayanya.

Kisah hidup dan perjuangan tokoh utama pembahasan buku ini yaitu Opu Daeng Risaju pada bagian kedua. Diawali dengan asal usul orangtua dan nenek moyanya, kemudian status dan kedudukan Opu Daeng Risaju dalam masyarakat dan juga para bangsawan Luwu dan kepemimpinannya. Selanjutnya diulas tentang awal karir Opu Daeng Risaju dan organisasi Partai Syarekat Islam Indonesia (PSII) dan awal berdirinya di Luwu.

Pada bagian selanjutnya diuraikan tentang pasang surut perjuangan Opu Daeng Risaju. Karena aktif merekrut anggota PSII di daerah Luwu, pemerintah kolonial Belanda merasa terancam dan kemudian memerintahkan penangkapan Opu Daeng Risaju dan kawan kawan dan memenjarakan mereka. Opu Daeng Risaju dan aktifis pergerakan lainnya dipenjarakan lebih dari sekali oleh pemerintah kolonial Belanda selama masa perjuangannya, namun hal itu tidak mengurangi semangat perjuangan mereka.

Dijelaskan pula masa masa kedatangan bangsa Jepang di Indonesia termasuk di daerah Luwu, Sulawesi Selatan. Masa pendudukan Jepang ini, tidaklah lebih baik dari masa kolonial Belanda. Di masa pendudukan Jepang, bahkan salah seorang petinggi PSII disiksa dan dibunuh di penjara Masamba.

Masa pendudukan Jepang berakhir namun kembali datang Belanda dan sekutunya. Pasukan NICA ini yang kemudian menentang pergerakan PSII dan memburu Opu Daeng Risaju. Opu Daeng Risaju bahkan sempat dipenjarakan lagi di Bone dan Wajo meskipun beliau sudah sepuh. Pengaruhnya masih sangat kuat sehingga pemerintah yang berkuasa saat itu khawatir dan merasa terancam.

Buku ini dilengkapi dengan dokumentasi foto hitam putih yang sebagian sudah buram. Ada pula beberapa Peta dan daftar nama nama informan dalam penyusunan buku ini.

Sangat informatif mengisahkan sejarah hidup dan perjuangan Opu Daeng Risaju, seorang pahlawan perintis kemerdekaan Republik Indonesia dari daerah Luwu, Sulawesi Selatan. Meskipun buku ini belum terlalu tua karena terbit tahun 1991, namun karena penerbitannya oleh pemerintah daerah, maka masyarakat umum kesulitan mengakses buku ini. Hanya bisa ditemukan di Perpustakaan, itupun hanya pada sebagian perpustakaan saja. Tidak ada penerbitan ulang buku ini secara komersial, sehingga menyulitkan masyarakat yang ingin membeli atau memilikinya.

Buku ini koleksi Referensi, Layanan Perpustakaan Umum, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Sulawesi Selatan.



December 7, 2022

OPU DAENG RISAJU

"JIKA hanya karena darah bangsawan mengalir dalam tubuhku, sehingga saya harus meninggalkan partaiku dan berhenti melakukan gerakanku (aktivitas), irislah dadaku dan keluarkanlah darah bangsawan itu dari dalam tubuhku, supaya Datu (Raja) dan Hadat tidak terhina kalau saya diperlakukan tidak sepantasnya."

Ini cetusan sikap Famajah (1880-1964), yang kenal dikenal dengan nama Opu Daeng Risaju dari Sulawesi Selatan. la wanita pertama di Indonesia yang dipenjara karena aktivitas politiknya melawan penjajah serta gelar kebangsawanannya di copot. Beliau berjuang hingga usia sepuh walau disiksa fisik dan batin, hingga harus berpisah dari suami.

Opu Daeng Risaju di usia di atas lima puluhan, ia pernah ditangkap dan dipaksa berjalan sejauh 40 kilometer, dari desa La Tonre hingga Watampone. Dalam usia tua, la pernah disiksa harus lari mengelilingi lapangan besar. Satu jam ia dipaksa berdiri menatap terik matahari.

Lalu di dekat telinganya, diledakkan senjata api. la pun terjatuh pingsan. Ketika terjaga, telinganya tuli.

Di tahun 1927, saat berusia 47 tahun, ia aktif di PSII (Partai Sarikat Islam Indonesia) di pare-pare. Tiga tahun kemudian, di tahun 1930, dalam usia 50 tahun, Ia menjadi ketua PSII di kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan.

Beliau sangat teguh dalam agama dengan melakukan perintah Tuhan, Amar Ma'ruf Nahi Munkar. Di tahun 1953, beliau dikirim Kahar Mudzakkar di Jawa Barat, menghadapi Kartosoewirjo di tahun 1949, empat tahun sebelumnya, mendeklarasikan berdirinya Negara Islam Indonesia.

Buku OPU DAENG RISAJU: Kisah Tragis Pejuang yang Pantang Menyerah dan Paling Dicari Belanda merupakan novel historiografi dalam memperkenalkan sosok perempuan tangguh yang di anugerahi pahlawan nasional tahun 2006.

Buku ini juga beberapa peristiwa penting yang terjadi di Tana Luwu sebelum dan sesudah Proklamasi Kemerdekaan R.I dan menjadi salah satu Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar.


OPU DAENG RISAJU
Kisah Tragis Pejuang yang Pantang Menyerah dan Paling Dicari Belanda
Penulis: Idwar Anwar
Penerbit: Pustaka Swerigading
Tahun Terbit: 2020
ISBN: 978-602-9248-58-6


July 21, 2022

MUSU MARANAKNA LA GALIGO

Trasliterasi Surek Galigo yang berjudul "Musu Maranakna I La Galigo" ini adalah transliterasi dari Surek Galigo yang berbahasa Galigo huruf Latin. Karena bahasa yang ada dalam Surek Galigo itu adalah sebahagian bahasa kuno yang tidak lagi merupakan bahasa sehari-hari, maka timbullah beberapa masalah kebahasaan dalam perlambangan bunyi dan pemisahan kata. Sure Galigo dijadikan bacaan mulia dan menjadi buku tuntunan hidup oleh sebagaian masyarakat Bugis karena mengandung nilai luhur, antara lain: nilai rasa kasih; nilai moral; nilai seni serta nilai kepemimpinan.

Berikut ringkasan Surek Galigo yang berjudul "Musu Maranakna I La Galigo": Sewaktu La Galigo pergi berlayar, dia singgah di Pujananti memperisterikan Karaeng Tompo anak raja To Rumpang Megga raja Pujananti. La Galigo meneruskan pelayarannya meninggalkan Karaéng Tompo dalam keadaan hamil tiga bulan. 

Waktu melahirkan, anaknya diberi nama La Mappanganro. La Mappanganro pergi berlayar menelusuri jejak orang tuanya. Dalam pelayarannya dia berperang tujuh kali di tengah laut. Dia selalu menang dalam peperangan. Peperangan yang terakhir melawan Guttu Patalo anak We Tenriabeng, sepupu sekali La Galigo. Peperagannya sangat seru, tetapi akhirnya saling mengenal sebagai seorang paman dan kemanakan. Sesampai di Cina, La Mappanganro melawan ayah dan paman-pamannya dan kemanakan. Sesampai di Cina, La Mappanganro melawan ayah dan paman pamannya menyabung ayam. 

Ayam La Mappanganro selalu menang, tetapi La Galigo yang tidak mengetahui anaknya, beserta sepupu sepupunya, yaitu anak datu tujuh puluh, curang dalam perjudian. Akhirnya perang besar terjadi antara La Mappanganro dengan ayahnya. Pasukan La Galigo terdesak mundur. Untung Sawerigading cepat mengetahui bahwa La Mappanganro itu adalah cucunya sendiri. Perang berkelanjutan sudah diberhentikan. La Mappanganro dijemput oleh ayahnya dan raja-raja Cina naik naik di istana.

Karaeng Tompo sudah rindu kepada anaknya, karena sudah tiga tahun tidak kembali. We Tenriabeng di langit menurunkan perahu keemasan kepada Karaeng Tompo supaya pergi ke Cina jemput anaknya, dengan cara ke semua pengiringnya harus bangsawan perempuan semua yang berpakaian laki-laki. Pesan We Tenriabeng supaya berperang dengan suami dan anaknya kalau La Galigo dan anaknya curang dalam mengadu ayam di Cina. Karaeng Tompo gembira sekali melihat anaknya. Tetapi dia menuruti pesan Wé Tenriabeng agar diri kepada anak, memperkenalkan diri kepada agar tidak suami dan Sawerigading sebelum mengadakan perang.

Buku TRANSLITERASI/TERJEMAHAN NASKAH KLASIK "MUSU MARANAKNA I LA GALIGO" berasal dari naskah foto copy koleksi pribadi Muhammad Salim dari naskah A. Masulon La Marauna keturunan Raja Banawa/Pujananti, Donggala Sulawesi Tengah, naskah Yayasan Kebudayaan Sulawesi Selatan, naskah Arsip Nasional. Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar.


TRANSLITERASI/TERJEMAHAN NASKAH KLASIK 
MUSU MARANAKNA I LA GALIGO
Penulis: Muhammad Salim, A. Anton Pangerang
Penerbit: Pemdan Kabupaten Luwu
Tahun Terbit: 2009


June 22, 2022

OPU DAENG RISAJU

Daerah Luwu adalah suatu daerah yang cukup memiliki latar belakang sejarah yang perlu diungkapkan, baik yang berhubungan dengan kehidupan sosial budaya, sosial keagamaan, maupun yang ada hubungannya dengan masalah perjuangan bangsa.

Opu Daeng Risaju adalah sosok pejuang, yang mengutamakan kepentingan dan kemerdekaan rakyat dan bangsanya, telah dibuktikan dengan perjuangan-perjuangannya semasa hidupnya. Opu Daeng Risaju yang ingin melihat rakyat dan bangsanya bebas dari penindasan dan penjajahan serta imperialisme menunjukkan keuletan dan kepahlawanannya mulai dari perjuangannya merintis kemerdekaan, merebut kemerdekaan, sampai mempertahankan kemerdekaan bangsanya. 

Cita-citanya mulai dibuktikan ketika beliau menjadi anggota Partai Serikat Islam Indonesia (PSII) cabang Pare-Pare. Kemudian membawanya dan mendirikannya cabang PSII di Palopo, tepatnya pada tanggal 14 Januari 1930, di saat rakyat hidup dalam penindasan dan penjajahan pemerintah kolonial Belanda. Sehingga organisasi tersebut dengan mudah memperoleh dukungan dalam masyarakat yang mayoritas beragama Islam karena tujuan dan sasarannya menginginkan persamaan derajat (didasarkan ajaran ajaran Islam). 

Untuk mewujudkan cita-cita tersebut, senantiasa diwarnai oleh hambatan-hambatan yang tidak sedikit; beberapa kali Opu Daeng Risaju harus meringkuk dalam penjara pemerintah kolonial Belanda, dicabut gelar kebangsawanannya bercerai dengan suaminya, disiksa dan dihina oleh NICA. Tetapi Opu Daeng Risaju pantang mundur dari keyakinan perjuangannya untuk menentang dan mengusir penjajahan demi tercapainya kemerdekaan dan tegaknya syariat Islam. 

Buku OPU DAENG RISAJU merupakan seorang tokoh wanita yang telah berperan aktif dalam dua zaman, masa kebangkitan nasional dan masa revolusi fisik serta pejuang dan pelopor berdirinya PSII di daerah Luwu, dengan segala daya upaya telah berusaha mengangkat derajat rakyat Luwu yang jauh ketinggalan dalam  bidang pendidikan. Sedangkan dalam bidang politik telah mampu menanamkan semangat kebangsaan dan patriotisme yang anti pada penjajahan. Ini dibuktikan dengan berkobarnya peristiwa 23 Januari 1946 di Palopo. 

Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar, disertai silsilah keturunan Opu Daeng Risaju, SK dan Lampiran SK Menteri Sosial, dokumentasi, dll. 


OPU DAENG RISAJU
PERINTIS PERGERAKAN KEBANGSAAN/KEMERDEKAAN RI
Penulis: Muhammad Arfah, Muhammad Amir
Penerbit: Pemerintah Daerah Tingkat I Provinsi Sulawesi Selatan
Tahun Terbit: 1991



March 24, 2022

JEJAK-JEJAK RADIKAL KAHAR MUZAKKAR: Saya Tetap Membangkang

Kahar Muzakkar adalah Letnan Kolonel pertama dari Tanah Bugis. Mungkin karena itu sejumlah 'teman-temannya' merasa cemburu dan berusaha menjatuhkannya. Kahar tahu tentang siasat itu. Tapi dia tak mau larut dengan kenyataan itu. Dia tetap melangkah. Puncaknya, ketika Kahar Muzakkar mendapat respons dari Jenderal Sudirman untuk membentuk Divisi Hasanuddin yang akan menjadikan anggota KGSS yang sebagian dari narapidana Nusakambangan, ternyata ditolak oleh Panglima TT VII Wirabuana, Kolonel TNI Alex Kawilarang. Penolakan itu membuat Kahar kecewa dan marah. Bentuk kemarahannya itu, seketika Kahar Muzakkar mencabut tanda-tanda pangkat militernya yang melekat di baju dinasnya, lalu 'melemparkannya' di meja Kolonel Alex Kawilarang. Setelah itu, tanpa sekata pun, Kahar Muzakkar keluar ruangan meninggalkan Kawilarang sendirian, Peristiwa yang menjadi akar 'pembelotan atau 'pemberontakan' Kahar Muzakkát ini terjadi pada 1950, awal masuknya. Kahar Muzakkar ke hutan.

Buku JEJAK-JEJAK RADIKAL KAHAR MUZAKKAR: Saya Tetap Membangkang, memakai gaya bahasa jurnalistik dengan nuansa investigasi, sehingga mirip dengan roman biografi, yang lebih mengutamakan langkah-langkah heroik Kahar Muzakkar yang lahir di tanah Bugis.

Perjalanan awal Kahar Muzakkar, di kampung kelahirannya, Lanipa dengar keberanian dan perlawanannya yang terukir dalam catatan sejarah. Soalnya, watak itu telah terbentuk sejak awal, ketika masa kanak-kanaknya, saat  melakukan permainan perang-perangan pasti Kahar kecil yang tampil sebagai pemimpin. Hobinya yang lain juga adalah suka berkelahi, memiliki watak tak mau menyerah, meskipun lawannya itu memiliki kekuatan berlebih dibandingkan dirinya. Kesenangan di waktu kecil yang hingga kini masih banyak orang mengenangnya adalah permainan domino. Begitu senangnya pada permainan ini, sehingga dia sering dipanggil dengan nama La Domeng.

Keberanian Kahar bukan hanya diperlihatkan pada anak-anak seusianya, tapi di sekolah pun, dia berani berdebat atau menentang gurunya. Kalau ada yang diyakininya sudah benar, maka di situlah Kahar kecil terlihat "mati-matian" mempertahankan pendapatnya.

Terobsesi dengan heroisme perjuangan, meski masih usia remaja, dia meninggalkan tanah Luwu, lalu 'merantau' ke Solo, Jawa Tengah. Di Solo dia terpikat dengan seorang gadis manis dan mendirikan usaha untuk menghidupi keluarganya dan mendanai perjuangannya.

Rindu akan tanah kelahirannya, sekaligus untuk memperkenalkan istrinya kepada kedua orang tuanya, dia pun bersama sang istri kembali ke tanah Luwu.

Melihat suasana perjuangan yang heroik, dia pun merasa terpanggil untuk mengambil peran. Di wilayah ini dia mencoba menerapkan strategi barunya dengan bersekutu tentara Jepang melawan kekuatan Belanda yang berusaha menguasai Indonesia. Sikapnya ini ditentang oleh kaum bangsawan Luwu. Soalnya, tentara Jepang dan tentara Belanda, di mata mereka, sama saja. Sama-sama penjajah.

Mendapat kecaman itu, dia tidak gentar. Soalnya, dia memang hanya sekadar memakai taktik bersekutu dengan Jepang. Dengan taktik itu, dia memenangkan pertempuran melawan Belanda. Setelah itu dia pun kembali menggempur tentara Jepang. Melihat kenyataan ini, rakyat tanah Luwu pun paham, dan dia mendapat pujian. Itulah sebuah strategi, menjadikan kekuatan lawan untuk memenangkan perjuangan.

Kahar Muzakkar, sejak usia masih muda, memang selalu memperlihatkan karakter perlawanannya. Bukan hanya kepada kaum penjajah, tetapi juga kepada tradisi-tradisi masyarakat di sekelilingnya, termasuk kaum bangsawan tanah Luwu. Tradisi kebangsawanan sebagai refleksi kebesaran rakyat tanah Luwu yang selalu dijaga dan ditaati oleh banyak rakyat itu, ternyata ditentang Kahar Muzakkar. Penentangan itu dilakukan secara berani dan transparan. Dia sangat tidak senang dengan adanya pemisahan kaum bangsawan dengan kaum tidak bangsawan atau rakyat biasa. Baginya, semua manusia sama di mata Tuhan. Akibat keberaniannya itu, dia akhirnya dijatuhi hukuman terberat oleh hukum adat. Kahar Muzakkar lalu diusir, dan tidak boleh lagi kembali lagi ke tanah kelahirannya, tanah Luwu. Kecewakah dia, ternyata tidak. Kahar Muzakkar adalah sosok yang sangat konsisten dengan perjuangannya, apa pun risikonya, dia tidak gentar menghadapi dan menjalaninya.

Buku ini membahas tentang perjuangan radikal seperti gerakan DI/TII (Darul Islam/Tentara Islam Indonesia) yang berjaya selama 15 tahun di hutan. Padahal jauh sebelum 'pemberontakan' itu, Kahar Muzakkar adalah seorang prajurit kesatria yang dikenal sangat berani melawan penjajah. Begitu beraninya, dia pernah menjadi pengawal Presiden Soekarno menggelar rapat akbar di Jakarta. Kahar Muzakkar adalah Letnan Kolonel pertama di tanah Bugis. Buku tersebut merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar.


JEJAK-JEJAK RADIKAL KAHAR MUZAKKAR: Saya Tetap Membangkang
Prolog: A. Wanua Tangke
Editor: Anwar Nasyaruddin- Moh. Yahya Mustafa
Penerbit: Pustaka Refleksi
Tempat Terbit: Makassar
Tahun Terbit: 2004
ISBN: 979-3570-06-7





March 8, 2022

KEDATUAN LUWU: Catatan tentang Sawerigading, Sistem Pemerintahan dan Masuknya Islam

Kerajaan Luwu sejak dulu menyimpan banyak peristiwa sejarah dan tokoh-tokoh yang fantastis. Salah satunya tokoh Sawerigading yang telah melanglang buana menebarkan pesona dan kekuatan yang membuat namanya termaktub dalam alam pikiran masyarakat yang mengenalnya. Sosoknya selalu dihubungkan dengan benda dan asal mula kerajaan atau daerah di berbagai wilayah dan dikenal sebagai manusia perkasa keturunan dewa yang memiliki kemampuan yang luar biasa. Namanya termaktub jelas dalam Sureq Galigo. 

Meski nama Sawerigading sebagai sosok yang menyejarah sangat dikenal, namun masih banyak yang belum mengetahui nama lain dari tokoh heroik ini. Nama-nama Sawerigading dan artinya ini dijelaskan dalam Sureq Galigo. Pemberian nama/gelar kepada Sawerigading disebabkan kesaktian dan kepribadian yang dimilikinya. Ada pun beberapa nama/gelar yang dimilikinya yaitu:

  1. Pati Ware pemberian nama pada waktu lahirnya.
  2. La Maddukkelleng namanya di Wariwangeng. 
  3. Sawerigading namanya di Luwu. 
  4. La Tenritappu namanya di Toddattoja. 
  5. La Tenriwerru namanya di Peretiwi. 
  6. Langi Paewa namanya di Boroliu. 
  7. Pamadalette namanya di Angkasa. 
  8. Opunna Ware namanya di Watampare. 
  9. To Appanyompa namanya di Bone.

Arti nama tersebut di atas adalah sebagai berikut:

  1. Pati Ware artinya Walikota.
  2. La Maddukkelleng artinya sungguh mulia. 
  3. Sawerigading artinya mengembangkan kemuliaan.
  4. La Tenritappu artinya mulia asli.
  5. La Tenriwerru artinya mulia sempurna
  6. Langi Paewa artinya maha perkasa.
  7. Pamadallette artinya mengatasi sesamanya pahlawan.
  8. Opunna Ware pemberian gelar kehormatan di pusat kerajaan Luwu.
  9. To Appanyompa artinya menundukkan setiap pribadi dalam kebenaran.
Buku KEDATUAN LUWU: Catatan tentang Sawerigading, Sistem Pemerintahan dan Masuknya Islam membahas Sawerigading serta menguraikan berbagai hal mengenai konsep Pemerintahan Kerajaan Luwu. Bagaimana tata cara pemilihan Pajung/Datu Luwu dan berbagai unsur-unsur yang mendukung jalannya pemerintahan. 

Buku ini juga membahas tentang masuknya Islam dan Perkembangan Islam, misalnya cerita versi tulisan Sejarah Masuknya Islam, mengungkapkan hubungan sejarah dengan garis keturunan dari Suku Minangkabau serta Kerajaan Malaysia dahulu kala, serta raja di Sulawesi Selatan yang pertama memeluk agama Islam adalah Raja Luwu, Pati Arase. 

Selanjutnya, sejarah kedatangan Datuk Suleman di Lapandoso Kecamatan Bua, sangat berpegaruh pada pembangunan mesjid (rumah ibadah) yang ada di Bua khususnya dan di Sulawesi Selatan pada umumnya. Rumah ibadah yang pertama kali terbuat dari bahan kayu pada saat itu dibangun karena segera akan ditempati untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW. Bangunan mesjid ini memilki artistik empat tingkat, terletak tidak jauh dari mesjid Jami' yang berdiri hingga sekarang yang ada di Desa Tana Rigella, Kecamatan Bua.

Selain itu, dalam ajaran dan budaya Islam terdapat aneka macam syariat dan hakekat, serta gagasan yang memiliki sistem nilai yang perlu mendapat perhatian untuk dikaji dan disumbang-kan dalam rangka pembinaan dan pengembangan budaya Islam di daerah Luwu khususnya dan Sulawesi Selatan pada umumnya. Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar


KEDATUAN LUWU
Catatan tentang Sawerigading, Sistem Pemerintahan dan Masuknya Islam
Penulis: Siodja Daeng Mallondjo
Penerbit: Komunitas Sawerigading bekerjasama Pmerintahan Palopo
Tempat Terbit: PAlopo
Tahun Terbit: 2003
ISBN: 979-98372-0-0



February 8, 2022

KOTA KUNO PALOPO

Bukti arkeologis menunjukkan bahwa pada masa paling awal pertumbuhan dan perkembangan kota kuno Palopo, diidentifikasi tiga kampung utama berdasarkan frekwensi dan kualitas artefak yang ditemukan. Identifikasi diperoleh dari telaah distribusi artefak pada situs kota kuno Palopo. Kecenderungan distribusi temuan khususnya keramik dapat menunjukkan kelompok (cluster) situs pemukiman di kota Palopo. Berikut ruang kota dan warisan budaya arkeologisnya di kota Palopo:

  • Pusat Kota dan Kampung Pinggiran, ada tiga kelompok situs pemukiman utama dari awal masa pertumbuhan kota kuno Palopo

  1. Lalebbata dan lingkungan sekitarnya, ditemukan berupa keramik, tembikar dan monumental (masjid, bekas lokasi alun-alun, bekas lokasi istana); dan pohon beringin.
  2. Surutanga: kampung rakyat, ditemukan keramik, tembikar, kuburan La Maggu To Ciung (seorang intelektual Luwu) yang sangat dihormati pada zamannya serta sumur makam.
  3. Benturu: kampung dalam benteng, ditemukan Benteng Tompotikka. Tompo artinya uncul, Tikka artinya matahari atau panas. Gabungan kedua kata itu (tompotikka) mengandung arti “tempat matahari terbit”.

  • Daerah sakral kota. Selain di pusat kota dan kampung-kampung, kota kuno Palopo memiliki daerah sakral. Yang penting dalam sejarah Kerajaan Luwu, yaitu:

  1. Tana Bangkala. Situs pelantikan raja (Pajung) terdiri dari tiga bagian (a) salekkoe (sekko datu); (b) pancai dan (c) mattirowalie
  2. Kompleks makam Raja Luwu, Lokkoe. Di dalam bagunan lolloe dimakamkan sejumlah raja (pajung) Luwu antara lain Sultan Abdullah Pattiware Petta Matinro-E ri Sabbamparu (raja XXVII); Daeng Mabaro-E (putra mahkota, raja XXVIII); dan Andi Jelling (raja XXXV). Selain raja (pajung), di dalam bangunan Lokkoe terdapat pula beberapa makam canning (orang kesayangan) dan permaisuri raja.

Temuan Artefak 

  • Mesjid Tua Palopo (Masjid Jami’ Palopo) yang didirikan abad XVII, masa pemerintahan Sultan Abdullah. Struktur dan bentuk asli kelihatan dari atap yang tidak menyerupai masjid-masid di Arab dan Persia. Atap asli berbentuk tumpang sebagaimana bentuk nyiru yang berkembang di pura-pura Bali. Ciri lain yang menunjukkan unsur lokal adalah masjid ini memiliki satu soko guru di tengah bangunan yang menopang puncak atap tumpang paling atas. Jenis arsitektur semacam ini ditemukan pada candi Wisnuwardhana, candi Jago.
  • Istana Kerajaan Terakhir
  • Alun-alun
  • Pohon Beringin
  • Bagunan peninggalan Belanda: rumah sakit, kantor, barak militer, gereja, lapangan olah raga, rumah jabatan, penjara, makam malimongan, pasar, gudang, bioskop dan pelabuhan.

Buku KOTA KUNO PALOPO membahas konsep kota kuno dengan memperlihatkan tiga wajah: fisik, sosial dan kosmologi. Ketiga dimensi tersebut pada Kota Kuno Palopo yang memperlihatkan kekhasan cara berfikir timur, khususnya bangsa Bugis, yang berbeda sama sekali dengan konsep dualisme barat. Bugis sebagaimana dunia timur lainnya cenderung monistik. 

Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala’salapang-Makassar yang berupaya mengungkap kosmologi Bugis bersifat religius – magis, tetapi mengandung logika sosial dan lingkungan yang khas. Parmanensi konsep lokal dalam mendesain kota kuno pada zaman pemerintahan Islam Kerajaan Luwumembuktikan pula bahwa kehadiran agama Islam pada awalnya tidak menciptakan kolonialisme, melainkan hanya mendekonstruksi kubudaya lokal, baik simbol maupun adat (panngadareng). 


KOTA KUNO PALOPO: Dimensi Fisik, Sosial dan Kosmologi
Penulis: M. Irfan Mahmud
Penerbit: Masagena Press
Tempat Terbit: Makassar
Tahun Terbit: 2003
ISBN: 979.97977-0-5


December 8, 2021

BATARA GURU MANURUNGE RI LUWU

Hampir seluruh kisah tentang proses alam dan manusia selalu diawali dengan penciptaan langit, bumi dan manusia. Hal ini bisa dilihat dalam kitab-kitab kepercayaan, baik kitab suci agama Samawi maupun kitab kepercayaan yang disucikan lainnya.

Sementara dalam kisah kepercayaan Bugis Makassar yang tertuang dalam naskah La Galigo juga tidak ketinggalan mengisahkan tentang proses awal kehidupan manusia di daratan Sulawesi, tepatnya di Luwu. Kisahnya bermula ketika abdi dewa yang bertakhta di kerajaan langit, sepulang dari permainan taruhan adu petir, sepulang dari permainan taruhan adu petir dan halilintar di pinggir bumi.

Diturunkannya Batara guru adalah untuk memakmur kehidupan di Ale Lino, periode kejadian sebagai manusia pertama yang diturunkan dari langit ini dijelmakan melalui bambu Betung.

Selanjutnya ketika Batara Guru resmi menjadi manusia biasa, dan menetap dibumi ia tidak lagi menjadi seperti dewa lainnya yang memiliki hak-hak istimewa, hal ini bisa dilihat ketika PatotoE sang dewa penentu berkata bahwa engkau adalah manusia dan aku adalah dewa (To linono le kudewata) bahkan dikatakan kalau dewa-dewa tidak tahan mencium bau manusia, olehnya itu setelah Batara Guru mendapatkan segala warisan yang menjadi haknya maka pintu langit pun ditutup dimana tak lagi ada makhluk yang bebas lalu lalang ke langit tanpa restu dari dewa penentu.

Sejak saat itu Batara Guru menjalani nasibnya sebagai manusia yang harus bekerja keras dan harus menghadapi berbagai cobaan untuk kehidupan dunia tengah (ale lino). Berkat keteguhan dan ketahanan sang Manurung melewati segala tantangan akhirnya mendatangkan berkah tersendiri, bahkan segala penderitaan yang ia rasakan justru terasa lebih indah dibandingkan dengan keadaan di kerajaan langit yang tanpa tantangan.

Batara Guru akhirnya dapat melupakan segala keadaan di kerajaan langit termasuk keluarganya setelah perkawinannya dengan "We Nyiliq Timo" adik sepupunya anak dari penguasa dasar laut (Uri Liu) terlebih lagi ketika pasangan Batara Guru dan permaisuri dikaruniai seorang putra calon pemegang tahta di kerajaan Luwu bernama "Batara Lattu".

Buku BATARA GURU MANURUNGE RI LUWU merupakan terjemahan dari naskah klasik "SureQ La Galigo" yang merupakan hasil dari karya kolektif untuk melestarikan cerita rakyat dari kepunahan, cerita ini diketahui banyak mengandung nilai-nilai kemanusiaan. Buku ini termasuk cerita rakyat yang mengandung nilai sejarah - masyarakat Bugis sebagai warisan budaya masyarakat Sulawesi Selatan, yang dapat diakses di Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang 


BATARA GURU MANURUNGE RI LUWU
Penulis: M. Akil AS
Penerbit: Pustaka Refleksi
Tempat Terbit: Makassar
Tahun Terbit: 2008
ISBN: 979-3570-75-x

December 1, 2021

PERANG KOTA: Perlawanan Rakyat Luwu 23 Januari 1946

Perlawanan semesta rakyat Luwu pada tanggal 23 Januari 1946 merupakan sebuah heroisme perjuangan rakyat Luwu yang akan selalu dikenang sebagai titik tonggak kebangkitan rakyat Luwu dalam melawan dan mengusir penjajah dari Tana Luwu. Perlawanan yang melibatkan hampir semua elemen masyarakat Luwu menjadi pertanda sebuah kebangkitan yang sekian lama dirasakan oleh masyarakat.

Peristiwa heroik yang terjadi di ibu kota Luwu yang puncaknya dipicu oleh kelancangan tentara NICA/KNIL yang masuk ke dalam masjid Bua tanpa adab dan ketika menggeledah di rumah Opu Gawe. Di masjid Bua para tentara menganiaya seorang penjaga masjid (doja) yang bernama Tomanjawani yang berusaha menghalangi tentara KNIL yang ingin merobek-robek dan menginjak-injak al-Qur'an. 

Adapun insiden di rumah Andi Gau Opu Gawe yang merupakan Kepala Distrik/Madika Bua dan juga saudara kandung Andi Kambo, Datu Luwu yang digantikan oleh Andi Jemma. Dalam penggeledahan, KNIL melakukan pemukulan terhadap beberapa orang yang ada di rumah Opu Gawe dan mengancam rumah Opu Gawe akan di bakar dan daerah Bua akan dihancurkan jika dalam 3 hari senjata-senjata yang dirampas tidak diserahkan, Opu Gawa bahkan dianggap melindungi para pejuang.

Peristiwa penggeledahan terjadi akibat beberapa peristiwa perampasan senjata yang menyebabkan pasukan Australia bersama NICA/KNIL sejak bulan November 1945, sering melakukan operasi ke berbagai daerah, khususnya daerah Bua yang dicurigai sebagai pusat penyimpanan senjata hasil rampasan.

Buku PERANG KOTA: Perlawanan Rakyat Luwu 23 Januari 1946 berusaha menelusuri dan mengungkapkan faktor-faktor yang mendasari terjadinya peristiwa 23 Januari 1946 hingga pertempuran gerilya yang dilakukan para pejuang Tana Luwu setelah peristiwa 23 Januari. Perlawanan rakyat Luwu disebabkan perbuatan NICA/KNIL yang merusak dua tatanan adat dan adab yang selama ini dipegang teguh masyarakat Luwu. Simbol sosio-religius-kultural yang sangat berakar di hati masyarakat Luwu telah diinjak-injak. Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar.


PERANG KOTA: Perlawanan Rakyat Luwu 23 Januari 1946 
Penulis: Idwar Anwar
Editor: M. Thamrin Mattulada
Penerbit: Pustaka Sawerigading
Tahun Terbit: 2017
ISBN: 978-602-9248-40-1






Insiden ini benar-benar melukai hati umat Islam, khususnya di Tana Luwu.


Berbicara mengenai Luwu, ada sebuah perjalanan sejarah yang panjang dan begitu heroik. Salah satunya yakni pertempuran 23 Januari 1946 yang merupakan titik balik dari kebangkitan rakyat Luwu yang tak ingin harga dirinya terinjak-injak oleh penjajah.


November 22, 2021

SEJARAH SOSIAL MASYARAKAT RONGKONG

Asal usul Rongkong menurut tuturan dari orang-orang tua Rongkong juga berasal dari bagian dari kisah Sawerigading, yang dipercayai memiliki 40 orang sepupu sekali. Seluruh saudara sepupu Sawerigading ini kemudian menyebar untuk mendiami berbagai wilayah di tanah Luwu. 

Sepupu tertua Sawerigading La Marancina dengan gelar Tomakaka (orang yang dituakan) yang diutus kedataran tinggi dibagian barat, atau di kaki gunung Berada, yang sangat kaya dengan potensi alam, tanahnya mengandung elemen-elemen penting yang menyebabkannya menjadi sangat subur (yang sekarang dikenal dengan biji besi, nikel, uranium dan sebagainya. Sebuah dataran yang sangat indah dan mengagumkan. Setelah melihat situasi itu, La Marancina berkata (kepada Sawerigading) sukku' rongko'na tondokku (sungguh sempurna kemuliaan tanahku). Sehingga tanah ini disebut Rongkong yang diambil dari kata marongko (mulia, dirahmati). Sejak itulah La Marancina mendiami dan berkuasa di Rongkong.

Sejarah Luwu menyebutkan bahwa orang-orang Rongkong memiliki peran yang cukup besar dalam dinamika politik Luwu khususnya di bidang pertahanan (peperangan). Orang Rongkong memiliki peran yang cukup besar dalam dinamika politik Luwu khususnya di bidang pertahanan (peperangan). Orang Rongkong yang dikenal berani dan kebal senjata menjadi garda terdepan dalam pasukan bersenjata Luwu.

Orang Rongkong yang sering dipersamakan dengan suku Toraja diperlakukan istimewa (oleh Datu). Kelompok masyarakat itu dijadikan "barisan berani mati" pembela datu (raja) Luwu. Nilai seorang anggota masyarakat Rongkong dipersamakan dengan 15 penduduk biasa. Artinya bila seorang Rongkong dibunuh maka gantinya adalah 15 orang, yakni si pembunuh dan 14 orang lainnya.

Kepercayaan lokal orang disebut aluk toyolo, dimana devata disembah melalui pararuk. Mereka juga mengenal penyembahan tengkorak manusia pada saat panen padi dan kematian tomakaka. Ada juga tradisi pokorren yang berarti bekerja dua hari untuk tomakaka.

Sistem kebudayaan Rongkong bermuara pada ritual pertanian. Ini karena mata pencaharian penduduk Rongkong adalah pertanian. Tanah pegunungan yang subur sangat memungkinkan untuk hal itu. Karena itulah, peran pangngarong (tetua adat yang membidani pertanian) sangat fungsional sampai sekarang. Sistem sanksi dalam masyarakat Rongkong bersifat denda. Denda yang paling tinggi adalah kerbau. Jumlah kerbau tergantung pada tosiaja (tertua adat yang membidani hukum) kecuali yang tertera dalam sapa sangpulo pitu.

Perubahan kebudayaan adalah sesuatu yang wajar karena masyarakat memang dinamis. Pergeseran yang terjadi karena pergeseran dan pusat kuasa budaya. Otoritas budaya melemah karena adanya pengaruh kuasa-kuasa (kolonial, kristenisasi, DI/TII dan Islamisasi) dan modernitas (negara dan pasar).

Kebudayaan orang Rongkong terpusat pada kehadiran tomakaka. Selama tomakaka ada maka kebudayaan dapat direkonstruksi. Diaspora warga Rongkong di Seko dan Palopo menunjukkan orang Rongkong ke Seko adalah turunan tomakaka, begitu pula para pengungsi di Kota Palopo. Sedangkan, diasporan orang Rongkong ke Malangke yang tidak dipimpin oleh tomakaka, tidak bisa membangun adat berdasarkan adat Rongkong tetapi tetap bisa membangun komunalitas.

Buku SEJARAH SOSIAL MASYARAKAT RONGKONG membahas tentang sejarah dan kebudayaan Rongkong yang berbeda dengan konstruksi kebudayaan dominan di Luwu, seperti motif kain, besi Porreo, hutan adat yang luas dan masih mempertahankan adat yang diwariskan oleh nenek moyang mereka hingga sekarang. Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin KM. 7 Tala'salapang-Makassar.


SEJARAH SOSIAL MASYARAKAT RONGKONG
Penulis: Saprillah, Muh, Idrus, Risla, Munandar
Penerbit: Balai Pelestarian Nilai Budaya Makassar
Tempat Terbit: Makassar
Tahun Terbit: 2021
ISBN: 978 979 3897 66 0