Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Ujung Pandang melakukan tugas melaksanakan kajian kesejarahan dan nilai tradisional daerah Sulawesi Selatan yang tercermin dalam sistem sosial, sistem kepercayaan, lingkungan budaya dan tradisi lisan. Buku LAPORAN PENELITIAN SEJARAH DAN NILAI TRADISIONAL SULAWESI SELATAN sebagai salah satu usaha dalam rangka pembinaan dan pengembangan kebudayaan nasional.
Berikut dua laporan hasil penelitian yang di maksud:
- Peristiwa Perlawanan Rakyat Allu pada Masa Pendudukan Militer Jepang di Daerah Mandar pada Tahun 1945 oleh Darwas Rasjid
- Pengungkapan Nilai Budaya dari Naskah Kuno Bugis Seri Galigo "Pelayaran Sawerigading dari Cina ke Wadeng"
- Peristiwa Perlawanan Rakyat Allu pada Masa Pendudukan Militer Jepang di Daerah Mandar pada Tahun 1945 oleh Darwas Rasjid
Perlawanan yang dipelopori oleh Muhammad Saleh Puannal
Sudding, terjadi sekitar bulan Maret 1945 disebut sebagai “peristiwa Allu”
adalah merupakan suatu gerakan perlawanan yang bersifat sosial tradisional atau
lokal. Dan sebagai gerakan sosial perlawanan ini sama sekali tidak
memperlihatkan ciri-ciri modem, seperti adanya ideologi modem serta agitasi
yang meliputi seluruh negeri di kawasan Mandar dan khususnya Balanipa. Bagian
yang terbesar dari gerakan perlawanan ini sama sekali tidak mempunyai hubungan
dengan masyarakat Mandar lainnya dalam pengertian wawasan yang luas, tetapi
hanya digerakkan oleh beberapa pemuda Balanipa dan khususnya warga Allu dalam
menentang tindakan sewenang-wenang sang penguasa militer Jepang. Walaupun
gerakan perlawanan ini dicap sebagai pembangkang, perusuh, perampok, dan
sebagainya mereka tetap mendapat simpati dari rakyat Allu. Bahkan
berbulan-bulan lamanya bertahan di hutan tanpa sama sekali punya niat untuk
tunduk atau menyerah, hingga takluknya tentara Jepang kepada Sekutu pada
pertengahan bulan Agustus 1945.
Menyerahnya Jepang kepada Sekutu, maka dengan praktis
berakhir pulalah gerakan perlawanan ini. Akan tetapi pemimpin perlawanan dan
beberapa anggota-anggota lainnya kembali melibatkan diri dalam revolusi
perjuangan kemerdekaan ’45 di berbagai daerah dalam kawasan Mandar. Karena
itulah, khususnya tokoh perlawanan di Allu ini, Muhammad Saleh Puanna I Sudding
adalah merupakan salah satu tokoh atau pemimpin perlawanan dua jaman dari
daerah Mandar, yaitu sebagai pemimpin perlawanan pada masa pendudukan militer
Jepang dan sebagai tokoh atau pejuang revolusi kemerdekaan 1945.
- Pengungkapan Nilai Budaya dari Naskah Kuno Bugis Seri Galigo "Pelayaran Sawerigading dari Cina ke Wadeng" oleh Fausiah
Lontarak Galigo serial Pelayanan Sawerigading Opunna Ware ke
Wadeng termasuk salah satu arsip kebudayaan masyarakat Bugis si daerah Sulawesi
Selatan. Sebagai suatu dokumen dan arsip kebudayaan, naskah tersebut secara eksplisit
memuat sebahagian cerita rakyat yang pada zaman dahulu dituturkan dari mulut ke
mulut. Setelah dikenalnya aksara Bugis, cerita tersebut kemudian dituliskan di
atas lembaran kertas.
Dalam cerita rakyat yang terkandung dalam isi lontarak
tersebut tersirat aneka macam gagasan ideal dan jaringan sistem nilai-nilai
budaya, warisan leluhur dari zaman lampau yang dalam konteks penelitian ini
dapat disebut zaman Sawerigading. Jaringan sistem nilai-nilai yang termuat
didalam naskah lontarak itu secara implisit tercermin dalam berbagai ucapan dan
ungkapan, sikap dan tindakan yang pada hakikatnya diekspresikan oleh para tokoh
pelaku cerita.
Dalam hasil kajian interpretasi isi naskah maka ditemukan
adanya enam nilai budaya pokok, terdiri atas: nilai religi, nilai seni, nilai
ilmu, nilai solidaritas, nilai ekonomi, serta nilai kuasa. Tiap unsur nilai
pokok tersebut terbagi dalam beberapa elemen nilai-nilai luhur yang paling
tidak dianggap ideal warga masyarakat Bugis dimasa lampau.
Nilai solidaritas termasuk nilai utama yang cukup banyak
ditemukan dalam lontarak Galigo. Nilai ini mencakup nilai kesetiakawanan
sosial, sikap berbagi suka dan duka antara sesama kerabat, salin memberi dan
menerima saran, sikap konsekuen dalam ucapan , sikap dan tindakan serta sikap
saling menghormati rasa persaudaraan dan persahabatan.
Nilai kuasa berorientasi kepada kebajikan dan keputusan
raja. Namun demikian, raja di dalam menjalankan roda pemerintahan berpedoman
pada kerangka acuan berupa : sikap lebih mengutamakan kepentingan dan keamanan
negeri daripada kepentingan pribadi , keluarga dan golongan; sikap sadar rasa
tanggung jawab untuk kepentingan dan keselamatan jiwa para pribadi; serta
setiap memberi peluang bagi pertumbuhan watak dan kepribadian generasi penerus,
melalui pengalaman, baik dalam pelayanan maupun dalam arena kehidupan lainnya.
Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar.
Penerbit: Direktorat Jenderal Kebudayaan,
Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Ujung Pandang
Tempat Terbit: Ujung Pandang
Tahun Terbit: 1996
ISSN: 0852-2685
No comments:
Post a Comment