November 26, 2021

SAWERIGADING JATUH CINTA

Sawerigading yang lahir dengan nama "La Madukelleng To Appanyompa". Tanda-tanda kebesarannya sudah terlihat sedari masa kandungan. Sawerigading berada dalam kandungan selama 10 bulan dan pada saat menjelang proses kelahirannya, Ibunda "sang permaisuri kerajaan di Luwu" We Datu Sengeng, menghadapi masa kritis selama sembilan hari, sembilan malam. Karena kritisnya tersebut, sampai-sampai Batara Guru turun tangan, memanggil sang Tunas keluar dengan nama "langi Paewang" disertai nazar.

Kisah Sawerigading memiliki banyak episode kisah perjalanan, baik yang tercantum dalam Sureq Lagaligo maupun dalam serpihan kitab-kitab Bugis Kuno yang tersimpan di tengah masyarakat. Bila dibaca sepintas terkesan, banyak menampilkan cerita keglamouran super heroik nyaris tak masuk akal, akan tetapi jika diperhatikan secara seksama, maka di sana termaktub hikmah dan nilai karakter orang Bugis.

Adapun gaya sastra dalam cerita tersebut tidak lepas dari sang penulis yang dipengaruhi zaman yang berkembang pada saat itu. Hal ini bisa dimaklumi lantaran kisah Sawerigading adalah milik masyarakat yang berkembang secara lisan dari masa ke masa.

Buku SAWERIGADING JATUH CINTA mengisahkan cinta tragis sosok Sawerigading yang jatuh cinta ke pada We Tenriabeng, saudara kembarnya sendiri. Isi cerita memberikan hikmah pembelajaran pada peradaban naluri manusia dan ketaatan hukum universal sebagai makhluk yang memiliki tata-aturan atau pedoman hidup bagi manusia di dunia. Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar.


SAWERIGADING JATUH CINTA 
Penulis: M. Akil AS
Penerbit: Pustaka Refleksi
Tempat Terbit: Makassar
Tahun Terbit: 2008
ISBN: 979-3570-65-3                                                    





No comments:

Post a Comment